HASIL DAN PEMBAHASAN
KELAS KECAMATAN CA NUMP MPS MSI PSSD
KELAS 4 NARINGGUL 2857.43 2399 1.2 1.6 3.2 CIDAUN 2734.69 2142 1.3 1.6 5.0 CIKADU 1969.18 1845 1.1 1.6 2.5 KADUPANDAK 2764.36 1716 1.6 1.8 4.2 CIBINONG 2267.01 1678 1.4 1.8 2.5 RATA-RATA 2518.53 1956
Berdasarkan Tabel 10 diketahui Kecamatan Naringgul memiliki luas area (CA) 2857.43 ha dan jumlah poligon (NumP) 2399 poligon, sedangkan Kecamatan Kadupandak memiliki nilai CA seluas 2764.36 ha dan NumP sejumlah 1716 poligon. Rendahnya Nilai NumP pada Kecamatan Kadupandak menyebabkan rata-rata ukuran poligon MPS pada kecamatan tersebut tinggi, sedangkan pada Kecamatan Naringgul memiliki nilai NumP yang tinggi sehingga memiliki nilai MPS yang lebih redah. Tingginya luas lahan sawah tadah hujan (CA) dan jumlah poligon (NumP) pada Kecamatan Naringgul dan Cidaun disebabkan terdapatnya lahan sawah pada daerah perbukitan, lebah terisi dan daerah pesisir pantai. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil di lapang pada Gambar 20.
Gambar 20 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Naringgul (a) dan Cidaun (b)
Nilai variabilitas (PSSD) yang terdapat pada Kecamatan Naringgul sebesar 3.2. Rendahnya nilai variabilitas atau PSSD pada Kecamatan Naringgul diketahui luas poligon tertinggi seluas 67.57 ha dan terendah seluas 0.04 ha
(b) Kecamatan Cidaun (a) Kecamatan Naringgul
33 menandakan ukuran poligonnya lebih homogen dan dapat dilihat secara spasial pada Gambar 21. Kecamatan Kadupandak memiliki ukuran poligonnya lebih Homogen dengan nilai PSSD terkecil seluas 4.2 ha dengan luas poligon tertinggi seluas 19.94 ha dan terendah seluas 0.04 ha yang dapat dilihat secara spasial pada Gambar 21. Kecamatan pada tipologi kelas 4 memiliki kecenderungan bentuk poligon yang sama, sehingga menghasilkan nilai MSI yang sama yaitu sebesar 1.6 dan 1.8. Kecamatan yang memiliki nilai MSI yang sama dapat dilihat secara spasial seperti ditunjukan pada Kecamatan Naringgul memiliki nilai MSI 1.6 dan Kadupandak memiliki nilai 1.8. Tingginya nilai MSI kedua kecamatan ini menandakan kompleksitas bentuk poligon lahan sawah yang tinggi dan dapat dilihat secara spasial pada Gambar 21.
Gambar 21 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Naringgul (a) dan Kadupandak (b)
Kecamatan Cidaun termasuk ke dalam tingkat fragmentasi kedua tertinggi dengan nilai NumP sebanyak 2142 poligon dan memiliki variabilitas ukuran poligon (PSSD) tertinggi seluas 5.0 ha, kemudian disusul oleh Kecamatan Kadupandak dengan nilai PSSD seluas 4.2 ha. Nilai PSSD terkecil terdapat pada
19.94 ha 67.57 ha 0.04 ha 19.94 ha CA : 2857.43 ha NUMP : 2399 poligon MPS : 1.2 ha MSI : 1.6 PSSD : 3.2
(a) Kecamatan Naringgul
(b) Kecamatan Kadupandak Skala 1: 180.000 Skala 1: 180.000 Skala 1: 15.000 CA : 2764.36 ha NUMP : 1716 poligon MPS : 1.6 ha MSI : 1.8 PSSD : 4.2 Skala 1: 1000 Skala 1: 1000 Skala 1: 15.000
34
Kecamatan Cibinong dan Cikadu, yaitu seluas 2.5 ha. Tingginya nilai PSSD pada Kecamatan Cidaun disebabkan oleh ukuran poligon yang lebih beragam atau heterogen.
Gambar 22 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Cidaun
Apabila dilihat spasial (Gambar 22), Kecamatan Cidaun memiliki keragaman ukuran poligon paling tinggi dibandingkan Kecamatan lainnya. Lahan pertanian yang semakin menyebar menurut Niroula dan Thapa (2005) menyebabkan pertanian menjadi tidak efisien. Lahan sawah yang menyebar menyebabkan biaya produksi dan tenaga kerja semakin meningkat dan berakibat pada penurunan laba bersih bagi petani. Lahan pertanian yang semakin menyebar juga menyebabkan tingginya biaya untuk pengembangan infrastruktur pertanian seperti pompanisasi dan jalan pertanian.
Keterkaitan Antara Fragmentasi Lahan Sawah Tadah Hujan Dengan Kemiringan Lereng
Salah satu indeks fragmentasi yang dapat diamati untuk melihat karakteristik tingkat petak sawah di dalam poligon hamparan lahan sawah tadah hujan yaitu rata-rata bentuk poligon (MSI). Selanjutnya Indeks fragmentasi yang berpengaruh besar terhadap persebaran lahan sawah tadah hujan adalah jumlah poligon (NumP). Sehingga dalam analisis keterkaitan fragmentasi lahan sawah tadah hujan dengan kemiringan lereng dapat dilihat dengan menggunakan nilai MSI dan NumP.
Rata-rata bentuk poligon (MSI)
Dari Tabel 11 diketahui nilai rata-rata bentuk poligon (MSI) pada tingkat petak pada semua sampel Kecamatan berkisar antara 1,4 sampai 1,8 dengan letak lahan sawah pada kemiringan lereng yang bervariasi. Pada Tabel 11 diketahui dominan nilai MSI tidak terdapat pada kemiringan lereng 3-8%, namun hanya Kecamatan Bojongpicung yang memiliki nilai MSI pada seluruh kelas kemiringan lereng. Nilai MSI pada Kecamatan Haurwangi hanya didapatkan pada kemiringan
0.1 ha 54 ha 157,4 ha 125,2 ha Skala : 1:200.000 Skala 1:1000 CA : 2764.36 ha NUMP : 1716 poligon MPS : 1.6 ha MSI : 1.8 PSSD : 4.2
35 lereng 0-3% dan 15-25%. Secara spasial, rata-rata kompleksitas bentuk poligon (MSI) dapat dilihat selengkapya pada Lampiran 15.
Tabel 11 Sampel Uji Analisis Tingkat Detil
KECAMATAN
KEMIRINGAN LERENG (%) MSI
0-3 3-8 8-15 15-25 25-45 >45 RATA-RATA HAMPARAN HAURWANGI 1.5 - - 1.3 - - 1.4 1.5 BOJONGPICUNG 1.2 1.6 1.5 2.0 1.7 1.5 1.6 1.5 CIBEBER 1.9 - 1.2 1.5 2.2 1.5 1.6 1.6 CIPANAS 1.2 - 1.2 1.4 1.8 1.6 1.5 2.0 CAMPAKAMULYA 1.3 - 1.5 1.3 1.6 1.8 1.5 2.5 LELES 1.4 - 1.6 1.5 1.6 1.8 1.6 1.6 TANGGEUNG 1.5 - 1.5 2.0 1.6 1.8 1.7 1.8 CIDAUN 1.5 - 1.7 1.7 1.9 2.4 1.8 1.6 KADUPANDAK 1.4 - 1.7 1.3 1.4 1.5 1.4 1.8 PAGELARAN 1.4 - 1.4 1.3 1.7 1.6 1.5 1.8
Gambar 23 Kenampakan nilai MSI pada kemiringan lereng <45% (a) dan 0-3% (b) (Kecamatan Cidaun dan Bojongpicung)
Pada Kecamatan Cibeber dan Leles memiliki nilai MSI tingkat petak sama dengan tingkat hamparan sebesar 1,6. Kondisi lainnya terdapat nilai MSI pada tingkat petak yang mendekati nilai MSI pada tingkat hamparan lahan sawah, yaitu pada Kecamatan Haurwangi, Bojongpicung, Leles, Tanggeung, dan Cidaun yang selisih nilai MSI-nya 0,1, sedangkan pada Kecamatan Pagelaran selisih nilai MSI tingkat petak dengan hamparan sebesar 0,2. Hal ini menunjukkan hasil uji analisis nilai indeks MSI secara umum pada tingkat petak cocok atau mendekati dengan nilai MSI pada tingkat hamparan. Perbedaan nilai MSI yang nyata terlihat pada Kecamatan Cipanas dan Campakamulya yang nilai MSI-nya pada tingkat petak berbeda apabila dibandingkan pada tingkat hamparan. Tingginya nilai MSI pada tingkat hamparan dan rendahnya nilai MSI pada tingkat petak dipengaruhi oleh kondisi topografi pada Kecamatan Cipanas yang lahan sawahnya berada pada punggung lereng Gunung Gede-Pangrango, sedangkan Kecamatan Campakamulya lahan sawahnya cenderung berada pada daerah perbukitan dan lembah terisi di zona tengah. Pada Kecamatan Cidaun diketahui memiliki nilai
36
MSI yang tinggi pada kemiringan lereng <45% sebesar 2,4 dan Kecamatan Bojongpicung memiliki nilai MSI rendah pada lereng 0-3% sebesar 0,2. Tingginya nilai MSI pada Kecamatan Cidaun mengambarkan semakin tingginya lereng maka kompleksitas bentuk poligon petak sawah semakin tinggi yang dapat dilihat secara spasial pada Gambar 23, begitu pula sebaliknya yang terjadi ada Kecamatan Bojongpicung pada lereng 0-3%. Nilai indeks MSI yang tinggi tidak lepas dari pengaruh topografi, yaitu keberadaan pegunungan di wilayah Kabupaten Cianjur. Pegunungan atau gunung api yang cenderung berbentuk kerucut menyebabkan kelas lereng bervariasi. Semakin tinggi kelas lereng, lahan sawah yang ada umumnya semakin kecil karena sawah selalu membutuhkan air. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar sawah hanya berada di sekitar sungai yang masih dapat dijangkau sehingga bentuk poligon mengikuti bentuk saluran irigasi yang cenderung berkelok-kelok.
Jumlah Poligon (NumP)
Hasil patch analyst didapatkan bahwa jumlah poligon (nilai NumP) pada setiap kemiringan lereng dapat dipilah berdasarkan zona wilayah pem- bangunannya seperti yang disajikan pada Gambar 24. Dari ketiga grafik dibawah (Gambar 24, 25, dan 26), terlihat jumlah poligon lahan sawah tadah hujan semakin banyak pada kemiringan lereng 0-15%, sedangkan pada kemiringan >15% jumlah poligon lahan sawah tadah hujan semakin sedikit. Rendahnya jumlah poligon lahan sawah tadah hujan pada lereng 3-8% disebabkan kelas kemiringan lereng tersebut hanya seluas 17.051.91 ha, sehingga luas lahan sawah yang tercangkup pada kemiringan tersebut juga sedikit.
Gambar 24 Tingkat fragmentasi lahan sawah tadah hujan pada berbagai kemiringan lereng di zona selatan
Jumlah poligon (NumP) pada lereng 0-3% cenderung sedikit dikarenakan pada zona utara didominasi oleh jenis sawah irigasi dibandingkan tadah hujan. Pada Gambar 24 terlihat bahwa kemiringan lereng 8-45% memiliki tingkat fragmentasi yang tinggi dibandingkan pada kemiringan lereng 0-8%. Tingkat fragmentasi tertinggi terdapat pada Kecamatan Cikalongkulon sebesar 822 poligon pada lereng agak curam atau 15-25%. Jumlah NumP di lereng 0-3% tertinggi terdapat pada Kecamatan Mande, yaitu sejumlah 79 poligon. Hal ini dikarenakan pada Kecamatan Mande lahan sawah tadah hujan dominan berada pada kemiringan lereng 0-3%. Secara umumnya di zona utara tingkat fragmentasi
0 150 300 450 600 750 900 0-3 3-8 8-15 15-25 25-45 >45 N il ai N u mP Kemiringan Lereng (%) BOJONGPICUNG CIANJUR CIBEBER CIKALONGKULON CIPANAS CUGENANG GEKBRONG HAURWANGI MANDE PACET SUKARESMI
37 yang tinggi dominan terdapat pada lereng yang landai (8-15%) hingga curam (25- 45%). Pada zona utara jumlah poligon lahan sawah tadah hujan lebih sedikit sehingga tingkat fragmentasinya cukup rendah.
Gambar 25 Tingkat fragmentasi lahan sawah tadah hujan pada berbagai kemiringan lereng di zona tengah
Berdasarkan Gambar 25 terlihat bahwa fragmentasi lahan sawah tadah hujan dominan terdapat pada lereng 8-15% di Kecamatan Kadupandak sejumlah 945 poligon. Tingginya fragmentasi yang terjadi pada Kecamatan Kadupandak selain kondisi topografi yang bervariasi, juga disebabkan luasnya lahan sawah tadah hujan pada Kecamatan tersebut. Pada zona tengah kemiringan lereng 8-45% memiliki tingkat fragmentasi yang tinggi dibandingkan pada kemiringan lereng 0- 8% dan >45%. Jumlah NumP di lereng 0-3% tertinggi terdapat pada Kecamatan Cijati, yaitu sejumlah 285 poligon. Hal ini dikarenakan pada Kecamatan Cijati lahan sawah tadah hujan dominan berada pada kemiringan lereng 0-3%. Secara umumnya di zona tengah tingkat fragmentasi yang tinggi dominan terdapat pada lereng yang landai (8-15%) hingga curam (25-45%). Secara umum tingkat fragmentasi pada seluruh Kecamatan di zona tengah lebih tinggi dibandingkan pada zona utara. Hal ini karena Kecamatan pada zona tengah memiliki topografi berupa perbukitan yang menyebar sehingga fragmentasi yang disebabkan oleh kemiringan lereng cukup tinggi.
Gambar 26 Tingkat fragmentasi lahan sawah tadah hujan pada berbagai kemiringan lereng di zona selatan
0 200 400 600 800 1000 0-3 3-8 8-15 15-25 25-45 >45 N il ai N u mP Kemiringan Lereng (%) CAMPAKA CAMPAKAMULYA CIJATI KADUPANDAK PAGELARAN PASIRKUDA SUKANAGARA TAKOKAK TANGGEUNG 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 0-3 3-8 8-15 15-25 25-45 >45 N il ai N u mP Kemiringan Lereng (%) AGRABINTA CIBINONG CIDAUN CIKADU LELES NARINGGUL SINDANGBARANG
38
Secara umum, pada zona selatan semakin tinggi tingkat kemiringan lereng, maka jumlah poligon akan semakin tinggi. Berdasarkan Gambar 26 tampak bahwa fragmentasi lahan sawah tadah hujan didominasi oleh kemiringan lereng >45% pada Kecamatan Naringgul, yaitu sejumlah 1234 poligon. Jumlah poligon (NumP) pada seluruh kecamatan di zona selatan cenderung lebih tinggi dibandingkan pada zona tengah maupun utara. Hal ini dipengaruhi oleh luasan lahan sawah tadah hujan yang besar dan topografi berbukit hingga pesisir pantai yang terdapat pada zona selatan. Secara umumnya di zona selatan tingkat fragmentasi yang tinggi dominan terdapat pada lereng yang landai (8-15%) hingga sangat curam (>45%). Pada Kecamatan Agrabinta tingkat fragmentasi yang tinggi terdapat pada lereng landai (8-15%) sejumlah 749 poligon dan datar (0-3%) sejumlah 634 poligon. Hal ini disebabkan terdapatnya topografi berupa perbukitan dan pesisir pantai pada Kecamatan Agrabinta yang cenderung datar hingga landai.