• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

TIPOLOGI KECAMATAN CA NUMP MPS MSI PSSD

KELAS 1 CAMPAKA 1109.10 1340 0.8 1.9 2.3 CIKALONGKULON 1187.44 1151 1.0 1.7 2.7 PASIRKUDA 1799.67 1007 1.8 1.9 5.0 LELES 944.37 957 1.0 1.6 1.7 TAKOKAK 1314.94 943 1.4 2.5 3.3 CIJATI 1410.25 785 1.8 1.7 4.5 CAMPAKAMULYA 1439.80 708 2.0 2.5 5.8 CIBEBER 583.29 638 0.9 1.6 2.8 TANGGEUNG 1224.66 619 2.0 1.8 4.3 SUKANAGARA 318.07 471 0.7 1.9 1.3 SUKARESMI 630.22 380 1.7 1.8 4.5 BOJONGPICUNG 201.80 306 0.7 1.5 1.9 MANDE 360.14 267 1.3 1.9 2.5 PACET 807.82 187 4.3 1.7 14.1 CUGENANG 462.02 170 2.7 1.8 5.1 CIPANAS 537.42 125 4.3 2.0 14.2 CIANJUR 61.04 66 0.9 1.7 1.4 HAURWANGI 11.56 18 0.6 1.5 1.2 GEKBRONG 12.55 10 1.3 2.3 2.4 RATA-RATA 759.74 534

Lahan sawah tadah hujan yang tinggi pada kecamatan tersebut umumnya berada di zona tengah, sedangkan lahan sawah tadah hujan yang rendah umumnya

26

berada di zona utara. Hal tersebut disebabkan banyaknya luasan lahan sawah irigasi di zona utara dan adanya dukungan infrastuktur serta mudahnya akses ke sawah membuat luasan lahan sawah tadah hujan menjadi sedikit. Tingginya lahan sawah tadah hujan pada beberapa kecamatan di zona tengah disebabkan terdapatnya lahan sawah pada daerah perbukitan dan lebah terisi. Visual lapangan menunjukan lahan sawah pada daerah perbukitan atau lereng yang curam memiliki pola teras yang berstrata. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil di lapang pada Gambar 13.

Gambar 13 Kenampakan lahan sawah tadah hujan di zona utara (a) dan tengah (b)

Gambar 14 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Pasirkuda (a) dan Campaka (b)

(b) Zona Tengah (a) Zona Utara

Koordinat : X: 107.146 Y: -6,886 Koordinat : X: 107,149 Y: -6,973 0.08 ha 0.01 ha 57.33 ha 38.5 ha CA : 1799.67 ha NUMP : 1007 poligon MPS : 1.8 ha MSI : 1.9 PSSD : 5.0 CA : 1109.10 ha NUMP : 1340 poligon MPS : 0.8 ha MSI : 1.9 PSSD : 2.3 (b) Kecamatan Campaka (a) Kecamatan Pasirkuda

Skala 1:100.000

Skala 1:100.000

Skala 1:1000

27 Kecamatan dengan luas lahan sawah tadah hujan (CA) terendah dijumpai di zona tengah pada Kecamatan Campaka seluas 1109.10 ha, lebih rendah dibandingkan Kecamatan Pasirkuda yang memiliki nilai CA tertinggi seluas 1799.67 ha. Namun, Kecamatan Campaka memiliki jumlah poligon (NumP) tertinggi sebanyak 1340 poligon dibandingkan Kecamatan Pasirkuda yang hanya sebanyak 1007 poligon. Luas area (CA) yang tinggi dengan jumlah poligon (NumP) yang rendah menyebabkan rata-rata luas poligon (MPS) tinggi. Demikian sebaliknya, luas area (CA) yang rendah dengan jumlah poligon (NumP) yang tinggi menyebabkan rata-rata luas poligon (MPS) rendah. Hal ini ditunjukkan pada Kecamatan Pasirkuda memiliki rata-rata luas poligon (MPS) lebih tinggi seluas 1.8 ha, dibandingkan Kecamatan Campaka yang hanya seluas 0.8 ha. Tingginya nilai NumP dan rendahnya nilai MPS pada Kecamatan Campaka menyebabkan kecamatan tersebut lebih terfragmentasi dibandingkan Kecamatan Pasirkuda. Secara spasial kenampakan fragmentasi pada Kecamatan Pasirkuda dan Campaka disajikan pada Gambar14.

Nilai MPS berkorelasi kuat dengan nilai PSSD, sehingga tingginya nilai PSSD ditandai dengan tingginya nilai MPS. Hal ini dibuktikan seperti nilai MPS pada Kecamatan Cipanas dan Pacet seluas 4.3 ha memiliki nilai PSSD sebesar 14.2 dan 14.1. Begitu juga pada Kecamatan Campaka yang nilai MPS seluas 0.8 ha memiliki nilai PSSD sebesar 2.3. Nilai rata-rata bentuk poligon (MSI) menunjukan kompleksitas bentuk dari poligon hamparan lahan sawah. Nilai MSI memiliki korelasi negatif dengan CA dan NumP, sedangkan memiliki kekuatan hubungan yang lemah dengan dengan MPS dan NumP. Tingginya nilai MSI menunjukan kompleksitas bentuk poligon yang dimiliki oleh lahan sawah pada seluruh kecamatan rumit, begitu juga sebaliknya apabila nilai MSI rendah maka kompleksitas bentuk poligonnya rendah. Hal ini dibuktikan pada Kecamatan Gekbrong yang memiliki nilai MSI sebesar 2.3 apabila dilihat secara spasial memiliki kompleksitas bentuk poligon yang lebih rumit jika dibandingkan dengan Kecamatan Haurwangi yang kompleksitas bentuk poligonnya lebih rendah. Nilai MSI Kecamatan Pacet dan Cipanas memiliki rata-rata bentuk poligon (MSI) yang tidak berbeda jauh, yaitu sebesar 1.7 dan 2.0. Hal ini dapat diketahui secara spasial kompleksitas bentuk poligon kedua kecamatan tersebut yang hampir sama dan dapat dilihat pada Gambar16.

Kecamatan dengan luas lahan sawah tadah hujan (CA) terendah dijumpai di zona utara pada Kecamatan Haurwangi dengan luas hanya 11.56 ha dan Gekbrong dengan luas 12.55 ha. Kecamatan Gekbrong memiliki jumlah poligon (NumP) terendah sebanyak 10 poligon, sedangkan Kecamatan Haurwangi memiliki jumlah poligon (NumP) lebih tinggi sebanyak 18 poligon. Tingginya jumlah poligon pada Kecamatan Haurwangi membuat nilai MPS pada kecamatan tersebut rendah hanya seluas 0.6 ha, sedangkan nilai MPS pada Kecamatan Gekbrong lebih tinggi seluas 1.3 ha. Tingginya nilai NumP dan rendahnya nilai MPS pada Kecamatan Haurwangi menyebabkan kecamatan tersebut lebih terfragmentasi dibandingkan Kecamatan Gekbrong. Secara spasial kenampakan fragmentasi pada Kecamatan Haurwangi dan Gekbrong disajikan pada Gambar15.

28

Gambar 15 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Gekbrong (a) dan Haurwangi (b)

Nilai variabilitas (PSSD) tertinggi terdapat pada Kecamatan Cipanas sebesar 14.2 dan Pacet sebesar 14.1, sedangkan yang terendah terdapat pada Kecamatan Haurwangi sebesar 1.2. Tingginya nilai variabilitas (PSSD) pada Kecamatan Cipanas dan Pacet disebabkan luas poligon lebih heterogen dibandingkan dengan Kecamatan Haurwangi. Diketahui pada Kecamatan Cipanas memiliki luas poligon tertingginya 119.6 ha dan terendah 0.07 ha, sedangkan pada Kecamatan Haurwangi memiliki luas poligon tertingginya 5.3 ha dan terendah 0.03 ha. Hal ini dapat dilihat secara spasial pada Kecamatan Cipanas dalam Gambar 15 dan Kecamatan Haurwangi dalam Gambar 14.

Nilai MSI tertinggi terdapat pada Kecamatan Cipanas sebesar 2.0, sedangkan Kecamatan Bojongpicung memiliki nilai MSI terendah sebesar 1.5. Nilai indeks MSI yang tinggi dipengaruhi oleh kondisi topografinya yaitu keberadaan Gunung Gede-Pangrango. Gunung api yang cenderung berbentuk kerucut menyebabkan kelas lereng yang ada berbeda-beda. Semakin tinggi kelas lereng, lahan sawah yang ada umumnya semakin kecil karena sawah selalu membutuhkan air. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar sawah hanya berada di sekitar sungai yang masih dapat dijangkau sehingga bentuk poligon mengikuti bentuk sungai yang cenderung berkelok-kelok. Menurut Giraldo (2012) mengatakan bahwa dalam lanskap pertanian, campur tangan manusia dipandang sebagai perkembangan menuju geometris dan penyederhanaan struktur ekosistem.

CA : 12,55 ha NUMP : 10 poligon MPS : 1.3 ha MSI : 2.3 PSSD : 2.4 CA : 11.56 ha NUMP : 18 poligon MPS : 0.6 ha MSI : 1.5 PSSD : 1.2 (b) Kecamatan Haurwangi (a) Kecamatan Gekbrong

Skala 1:10.000 Skala 1:10.000 8,4 ha 0,02 ha 5,3 ha 0,03 ha Skala 1:1000 Skala 1:1000

29

Gambar 16 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Cipanas (a) dan Pacet (b)

Tipologi Kelas 2

Kelas pada Tabel 8 memiliki rata-rata luas area (CA) 2833.51 ha, lebih tinggi dari kelas 9, namun rata-rata jumlah poligon (NumP) sejumlah 1041 poligon lebih rendah dari kelas 9 dan lebih tinggi dari kelas pada Tabel 7 sehingga masuk ke dalam tipologi kelas 2. Tipologi kelas 2 terdiri dari Kecamatan Pagelaran dan Sindangbarang. Kecamatan Pagelaran berada di zona tengah dan Kecamatan Sindangbarang berada di zona selatan.

Tabel 8 Nilai indeks fragmentasi tipologi kelas 2

TIPOLOGI KECAMATAN CA NUMP MPS MSI PSSD

KELAS 2 PAGELARAN 2954.36 1115 2.6 1.8 10.2

SINDANGBARANG 2712.67 967 2.8 1.8 7.2

RATA-RATA 2833.51 1041

Kecamatan Pagelaran memiliki luas area (CA) 2954.36 ha dan jumlah poligon (NumP) 1115 poligon, lebih tinggi dibandingkan Kecamatan Sindangbarang yang hanya memiliki nilai CA seluas 2712.67 ha dan nilai NumP sejumlah 967 poligon. Lebih tingginya nilai NumP pada Kecamatan Pagelaran

119,6 ha 0,07 ha 142,5 ha 0,1 ha Skala 1: 180.000 Skala 1:180.000 Skala 1:1000 Skala 1:1000 CA : 537.42 ha NUMP : 125 poligon MPS : 4.3 ha MSI : 2.0 PSSD : 14.2 CA : 807.82 ha NUMP : 187 poligon MPS : 4.3 ha MSI : 1.7 PSSD : 14.1

(a) Kecamatan Cipanas

30

menyebabkan nilai MPS pada kecamatan tersebut lebih rendah dari Kecamatan Sindangbarang.

Nilai variabilitas (PSSD) tertinggi terdapat pada Kecamatan Pagelaran sebesar 10.2, sedangkan terendah terdapat pada Kecamatan Sindangbarang sebesar 7.2. Tingginya nilai variabilitas (PSSD) pada Kecamatan Pagelaran disebabkan luas poligon lebih heterogen dibandingkan dengan Kecamatan Sindangbarang. Diketahui pada Kecamatan Pagelaran memiliki luas poligon tertingginya 182.2 ha dan terendah 0.01 ha, sedangkan pada Kecamatan Sindangbarang memiliki luas poligon tertingginya 168.3 ha dan terendah 0.03 ha. Hal ini dapat dilihat secara spasial pada Gambar 17.

Apabila dilihat secara spasial (Gambar 17) Kecamatan Pagelaran memiliki keragaman ukuran poligon paling tinggi atau heterogen dibandingkan Kecamatan Sindangbarang. Hal ini dikarenakan Kecamatan Pagelaran berada pada zona tengah yang bentuk topografinya memiliki bukit-bukit kecil sehingga mempengaruhi ukuran hamparan lahan sawah yang menjadikan nilai PSSD kecamatan ini sangat tinggi. Jika dilihat secara spasial (Gambar 17), Kecamatan Pagelaran dan Sindangbarang memiliki nilai MSI yang sama yaitu sebesar 1.8 yang menggambarkan kompleksitas bentuk patch yang cukup tinggi.

Gambar 17 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Pagelaran (a) dan Sindangbarang (b)

0.01 ha 182.2 ha 0.01 ha 118.83 ha Skala 1:100.000 Skala 1:100.000 Skala 1:1000 Skala 1:1000 CA : 2712.67 ha NUMP : 967 poligon MPS : 2.8 ha MSI : 1.8 PSSD : 7.2

(a) Kecamatan Pagelaran

(b) Kecamatan Sindangbarang CA : 2954.36 ha NUMP : 1115 poligon MPS : 2.6 ha MSI : 1.8 PSSD : 10.2

31 Tipologi Kelas 3

Kelas pada Tabel 9 memiliki luas area (CA) paling tinggi diantara kelas lainnya seluas 3459.24 ha, namun rata-rata nilai jumlah poligon (NumP) sejumlah 1510 poligon lebih rendah dari kelas pada Tabel 10 dan lebih tinggi dari kelas pada Tabel 8 sehingga masuk ke dalam tipologi kelas 3. Kecamatan Agrabinta berada di zona selatan yang memiliki topografi perbukitan hingga pesisir pantai. Tabel 9 Nilai indeks fragmentasi tipologi kelas 3

TIPOLOGI KECAMATAN CA NUMP MPS MSI PSSD

KELAS 3 AGRABINTA 3459.24 1510 2.3 1.7 7.0

Tingginya nilai CA dan rendahnya nilai NumP pada Kecamatan Agrabinta menghasilkan nilai MPS pada kecamatan ini cukup tinggi sebesar 2.3 ha. Kecamatan Agrabinta memiliki ukuran poligonnya lebih heterogen dengan nilai PSSD sebesar 7.0 dengan luas poligon tertinggi 150.39 ha dan terendah seluas 0.1 ha yang dapat dilihat secara spasial pada Gambar 19. Luas hamparan sawah tertinggi pada Kecamatan Agrabinta terdapat di daerah pesisir pantai yang ditunjukan pada Gambar 18. Nilai (MSI) Kecamatan Agrabinta mencapai 1.7 yang menandakan tingkat kompleksitas cukup tinggi dan dapat dilihat secara spasial pada Gambar 19.

Gambar 18 Kenampakan lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Agrabinta

Gambar 19 Kenampakan fragmentasi lahan sawah tadah hujan di Kecamatan Agrabinta Koordinat : X: 107.164 Y: -7.031 Koordinat : X: 107.979 Y: -7.440 0,1 ha Skala 1:100.000 Skala 1:1000 150.39 ha CA : 3459.24 ha NUMP : 1510 poligon MPS : 2.3 ha MSI : 1.7 PSSD : 7.0

32

Tipologi Kelas 4

Kelas pada Tabel 10 memiliki rata-rata luas area (CA) 2518.53 ha, lebih rendah dari kelas 8 dan 9, namun rata-rata jumlah poligon (NumP) sejumlah 1956 poligon, paling tinggi diantara kelas lainnya sehingga masuk ke dalam tipologi kelas 4. Kecamatan pada tipologi kelas 4 tersebar di zona selatan disebabkan oleh kondisi topografis yang lebih bergelombang sehingga lahan sawah cenderung menyebar. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Gandasasmita (2001) yang menyatakan bahwa penggunaan lahan sawah membutuhkan teras yang benar- benar datar sehingga ketersediaannya dibatasi oleh kecuraman lereng. Dengan pola yang semakin menyebar dari lahan pertanian maka pengelolaan lahan menjadi sangat sulit.

Tabel 10 Nilai indeks fragmentasi tipologi kelas 4

Dokumen terkait