Kelayakan modul merupakan hal penting yang harus dimiliki modul pengembangan, untuk itu modul biologi berbasis Discovery learning pada materi bioteknologi terlebih dahulu di validasi oleh para ahli. Menurut Dharma (2008) validasi adalah proses atau pengesahan terhadap kesesuaian modul dengan kebutuhan. Lebih lanjut Daryanto (2013) mengemukan bahwa validasi dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan ahli yang menguasai kompetensi yang dipelajari. Syarat yang dijadikan validator adalah S1 atau S2 dibidangnya sesuai dengan kebutuhan.
commit to user
Jumlah validator yang memvalidasi modul hasil pengembangan 4 orang validasi ahli dan 3 orang validasi praktisi. Ahli materi yang menjadi validator meliputi ahli materi, ahli pengengembangan modul, ahli bahasa dan ahli instrumen pembelajaran. Dalam proses validasi, setiap ahli dan praktisi diberi modul kemudian diminta mengisi lembar penilaian modul. Sependapat dengan Sugiyono (2009) yang menyatakan bahwa dalam validasi produk pengembangan setiap pakar diminta untuk menilai desain tersebut, sehingga kemudian dapat diketahui kelemahan dan kekuatannya. Dalam validasi, Sutrisno (2008) menyatakan bahwa validator membaca ulang dengan cermat isi modul, memeriksa apakah tujuan belajar, uraian materi, bentuk kegiatan, tugas, latihan atau kegiatan lainnya yang ada diyakini dapat efektif untuk digunakan sebagai media mengasai kompetensi yang menjadi target belajar.
Validator materi dilakukan oleh dosen Bioteknologi. Aspek-aspek yang dinilai oleh ahli materi adalah keakuratan materi, kemutakhiran materi, materi mengembangkan kemampuan berfikir, materi mengikuti sistematika keilmuan, konsep dasar materi, konsep sub pokok bahasan, konsep gambar, sistematika penyampaian materi dan relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari. Depdiknas (2008) menyatakan bahwa dalam penyusunan materi harus memperhatikan kedalaman dan keluasan cakupan materi. Keluasan materi menggambarkan seberapa banyak materi-materi yang dimasukkan, sedangkan kedalaman materi menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di dalamnya yang harus dipelajari oleh siswa.
Revisi dari ahli materi secara umum meliputi penggantian gambar yang lebih menarik, sajikan materi dari umum kekhusus, peristilah asing diterjemahkan ke bahasa Indonesia supaya mudah dipahami siswa, gambar yang menampilkan proses lengkapi dengan angka yang menunjukkan urutan, gambar yang menunjukkan prosedur kerja harus jelas supaya mudah ditelaah siswa, dan sedapat mungkin gunakan gambar yang nyata atau mendekati nyata untuk mengurangi miskonsepsi siswa dan kebosanan siswa. Prastowo (2012 ) menyatakan bahwa gambar-gambar dapat mendukung dan memperjelas isi materi sehingga menimbulkan daya tarik dan mengurangi kebosanan bagi pembaca. Sependapat
commit to user
dengan Holliday (1990) yang menyatakan bahwa dalam memilih buku ajar sains harus dilengkapi dengan sejumlah gambar yang memerinci dan menyimpulkan. Gambar dan kerangka pelajaran dalam pembelajaran sains terutama biologi sangat penting (Kinchin, 2011).
Validasi ahli pengembangan modul biologi berbasis Discovery learning pada materi bioteknologi untuk SMA kelas XII IPA SMA Negeri 1 Magelang dilakukan oleh dosen media pembelajaran. Aspek penilaian yang dinilai meliputi aspek organisasi penyajian umum, aspek penyajian mempertimbangkan kebermaknaan dan kebermanfaatan, aspek keterlibatan siswa secara aktif, aspek tampilan umum, aspek variasi dalam cara penyampaian informasi, aspek anatomi modul pelajaran dan aspek memperhatikan kode etik dan hak cipta.
Saran revisi oleh ahli pengembangan media menyangkut ketegasan penggunakan kata buku atau modul, karena antara buku dan modul terdapat perbedaan yang sangat jauh. Perbedaan tersebut meliputi kepadatan materi, ada tidaknya umpan balik, gaya penulisan dan kegiatan yang terdapat didalam buku dan modul. Senada dengan pendapat Daryanto dan Dwicahyono (2013) yang menjelaskan perbedaan bahan ajar (modul) dan buku adalah: 1) Bahan ajar atau modul menimbulkan minat baca sedangkan buku mengasumsikan minat dari pembaca; 2) Bahan ajar atau modul ditulis dan dirancang untuk siswa sedangkan buku ditulis untuk pembaca (guru,dosen); 3) bahan ajar atau modul menjelaskan tujuan instruksional sedangkan buku belum tentu menjelaskan tujuan instruksional; 4) bahan ajar atau modul disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel sedangkan buku disusun secara linear; 5) bahan ajar atau modul memiliki struktur sesuai kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai sedangkan struktur buku berdasarkan logika bidang ilmu; 6) bahan ajar atau modul memberikan kepada siswa untuk berlatih sedangkan buku belem tentu; 7) bahan ajar atau modul mengakomodasi kesulitan siswa sedangkan buku tidak; 8) bahan ajar atau modul memberikan rangkuman sedangkan buku belum tentu terdapat rangkuman; 9) gaya penulisan bahan ajar atau modul komunikatif dan semiformal sedangkan gaya penulisan buku naratif tetapi tidak komunikatif; 10) bahan ajar atau modul kepadatan materi disesuaikan kebutuhan siswa sedangkan
commit to user
buku sangat padat; dan 11) bahan ajar atau modul mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa sedangkan buku tidak. Dari semua ciri-ciri yang dikemukakan oleh Daryanto dan Dwicahyono produk yang dikembangkan termasuk dalam katagori modul pembelajaran bukan buku.
Validasi keterbacaan atau validasi bahasa yang digunakan dalam modul dilakukan oleh dosen bahasa Indonesia. Aspek penilaian yang divalidasi meliputi aspek penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, aspek peristilahan, aspek kejelasan bahasa dan aspek kesesuaian bahasa. Berdasarkan hasil validasi terdapat beberapa kesalahan ketik, sepasi, ejaan, dan kaidah penulisan S-P-O-K. Selain itu, dalam penulisan soal pilihan ganda tanda „?‟ harus diganti dengan „…‟ dan obtion pilihan harus diperbanyak. Semua saran perbaikan dari ahli bahasa dilakukan revisi, hal ini didasarkan pada pendapat Rhonda (2011) bahwa analisis kesalahan ejaan diperlukan untuk membantu mengidentifikasi bacaan yang membutuhkan perbaikan, karena kesalahan ejaan dapat mempengaruhi pemahaman pembaca terutama siswa dan guru mata pelajaran.
Validasi ahli yang terakhir adalah validasi instrument pembelajaran yang mendukung modul biologi berbasis Discovery learning pada materi bioteknologi kelas XII IPA SMA Negeri 1 Magelang dilakukan oleh dosen mata kuliah kapita selekta selaku ahli perangkat pembelajaran. Saran revisi diberikan untuk penulisan KD dan Indikator pembelajaran, tujuan pembelajaran dihilangkan, materi di bagi 2 menjadi materi reguler dan materi pengayaan. Secara garis besar saran revisi mengacu pada lampiran Peraturan Menteri nomor 103 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Aspek penilaian perangkat pembelajaran meliputi aspek materi ajar, aspek proses pembelajaran, aspek penilaian, aspek kegiatan yang mendukung pembelajaran dan aspek materi dapat meningkatkan kompetensi siswa.
Dari hasil validasi ahli terhadap modul biologi berbasis Discovery learning didapatkan nilai rata-rata dari materi sebesar 80,95; dari ahli media mendapatkan nilai rata-rata 91,07; dari ahli bahasa mendapatkan nilai rata-rata 91,16; dan dari ahli instrumen pembelajaran mendapatkan nilai rata-rata 84,52. Kriteria hasil validasi masuk sangat baik dan layak digunakan. Hasil perolehan
commit to user
kriteria layak ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Zainuddin, Mustikawati dan Suyidno, 2012; Izzati, Hindarto, dan Pamelasari, 2013; dan Kurniawati, 2013; Septianu, Sudarmin, dan Widiyatmoko, 2014) yang menyatakan, bahwa setelah melakukan tahap validasi, modul yang dikembangkan layak sebagai media pembelajaran dalam hal konten, kebahasaan, dan penyajian.
Hasil validasi praktisi pembelajaran dari 3 praktisi pembelajaran memberikan penilaian rata-rata terhadap modul yang dikembangkan sebesar 85,42. Penilaian modul juga diberikan oleh siswa pada saat uji coba lapangan awal. Nilai rata-rata yang diberikan oleh 12 siswa terhadap modul yang dikembangkan sebesar 83,33. Kriteria pengambilan keputusan revisi menurut Suwastono (2011) jika modul hasil penilaian berada pada rentang 61-80 maka masuk dalam kriteria baik dan tidak perlu direvisi, dan apabila berada pada rentang nilai 81-100 maka masuk dalam kriteria sangat baik dan tidak perlu direvisi. Hasil penilaian modul oleh praktisi pembelajaran dan oleh siswa berada pada rentang 81-100 yang masuk kriteria sangat baik dan tidak perlu revisi, sehingga modul disimpulkan layak untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Hasil tanggapan guru dan siswa ini sesuai dengan hasil penelitian (Izzati, Hindarto, dan Pamelasari, 2013; Pradana dan Triyanto, 2013), yang menyatakan, bahwa rata-rata untuk setiap item penilaian angket tanggapan, responden merespon dengan sangat baik dan memperoleh kategori layak.
3. Keefektifan Modul Biologi Berbasis Discovery Learning Pada Materi