• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelembagaan dan kelompok .1 Kelembagaan .1 Kelembagaan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Modal Sosial

2.2.4 Kelembagaan dan kelompok .1 Kelembagaan .1 Kelembagaan

tidak tergantung pada bantuan dari luar, yang juga akan menjadi dasar menuju kemandirian; dan (8) dalam proses ini akan dibangun hubungan yang erat dan integratif diantara anggota masyarakat (P3P Unram, 2001).

Partisipasi dapat membangun kapasitas masyarakat dan modal sosial. Pendekatan partisipatif akan meningkatkan pengetahuan dari tiap stakeholders tentang kegiatan / aksi yang dilakukan oleh stakholders lain. Pengetahuan ini dan ditambah dengan peningkatan interaksi antar sesama stakeholders akan meningkatkan kepercayaan diantara para stakeholders dan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan modal sosial.

Sedangkan jenis-jenis partisipasi menurut Sulaiman (1998) adalah: (1) Partisipasi pikiran (psychological participation); (2) Partisipasi tenaga (physical participation); (3) Partisipasi pikiran dan tenaga (psychological and

physical participation); (4) Partisipasi keahlian (participation with skill); (5) Partisipasi barang (material participation); (6) Partisipasi Uang/Dana (money

participation).

2.2.4 Kelembagaan dan kelompok 2.2.4.1 Kelembagaan

Pengertian lembaga sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan yang sengit di kalangan ilmuan sosial. Terdapat kebelumsepahaman tentang arti “kelembagaan” di kalangan ahli. Dalam literatur, istilah “kelembagaan”(social institution) disandingkan dengan “organisasi” (social organization).

Sementara itu, Koentjaraningrat (1997) mengemukakan bahwa belum terdapat istilah yang mendapat pengakuan umum dalam kalangan para sarjana

sosiologi untuk menterjemahkan istilah Inggris‘social institution’. Ada yang menterjemahkannya dengan istilah ‘pranata’ ada pula yang ‘bangunan sosial’.

Istilah lembaga dan organisasi secara umum penggunaannya dapat dipertukarkan dan hal tersebut menyebabkan keambiguan dan kebingungan diantara keduanya. Pembedaan antara lembaga dan organisasi masih sangat kabur. Organisasi yang telah mendapatkan kedudukan khusus dan legitimasi dari masyarakat karena keberhasilannya memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat dalam waktu yang panjang dapat dikatakan bahwa organisasi tersebut telah “melembaga”. Namun demikian, menurut para ahli setidaknya ada empat cara

membedakan kelembagaan dengan organisasi, yaitu (Syahyuti, 2006): 1) Kelembagaan adalah tradisional, organisasi modern; 2) Kelembagaan dari

masyarakat itu sendiri, organisasi datang dari atas; 3) Kelembagaan dan organisasi berada dalam satu kontinuum. Organisasi adalah kelembagaan yang belum melembaga. Organisasi yang sempurna adalah organisasi yang melembaga; dan 4) Organisasi merupakan bagian dari kelembagaan. Organisasi sebagai organ kelembagaan (Koentjaraningrat, 1997).

Komponen kelembagaan mencakup hal-hal berikut. (1) Person (=orang). Orang-orang yang terlibat di dalam satu kelembagaan dapat diidentifikasi dengan jelas, (2) Kepentingan. Orang-orang tersebut sedang diikat oleh satu kepentingan/ tujuan, sehingga mereka terpaksa harus saling berinteraksi, (3) Aturan. Setiap kelembagaan mengembangkan seperangkat kesepakatan yang dipegang secara bersama, sehingga seseorang dapat menduga apa perilaku orang lain dalam lembaga tersebut, dan (4) Struktur. Setiap orang memiliki posisi dan peran, yang

harus dijalankannya secara benar. Orang tidak bisa merubah-rubah posisinya dengan kemauan sendiri (Syahyuti, 2006).

Inti dari kelembagaan adalah interaksi. Untuk mempelajari kelembagaan adalah dengan memperhatikan interaksi yang terjadi : Apakah interaksi tersebut berbentuk formal ataukah nonformal? Apakah berpola horizontal atau vertikal? Apakah berbasiskan ekonomi atau bukan (biasanya disebut ”sosial”)? Apakah hanya sesaat atau berlangsung lama? Apakah merupakan hal yang biasa atau hal baru? Apakah berpola atau acak? Apakah karena perintah atau bukan?. Dari interaksi yang terjadi dalam kelembagaan, maka ada sepuluh prinsip dalam

pengembangan kelembagaan yakni : (1) bertolak atas existing, (2) kebutuhan, (3) berpikir dalam kesisteman, (4) partisipatif, (5) efektifitas, (6) efisiensi, (7) fleksibilitas, (8) nilai tambah dan keuntungan, (9) desentralisasi, dan (10) keberlanjutan (Syahyuti, 2006).

2.2.4.2 Kelompok

Dalam perspektif pembangunan, kelompok dianggap sangat strategis dalam meningkatkan partisipasi sosial, memfasilitasi proses belajar, dan bahkan sebagai wadah bersama dalam penyaluran aspirasi. Sejalan dengan pandangan ini, kenyataan menunjukkan bahwa di setiap desa terdapat banyak jenis dan jumlah kelompok, seperti kelompok tani, kelompencapir, kelompok masyarakat – Inpres Desa Tertinggal (pokmas IDT), dan perkumpulan petani pemakai air (P3A). Selain itu ada lagi yang disebut sebagai kelompok petani kecil melalui Proyek Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K) dan lain-lainnya.

Kelompok adalah kumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi yang intensif dan mempunyai tujuan bersama. Menurut DeVito (1997) kelompok merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apa yang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggotanya.

Kelompok mempunyai karakteristik sebagai berikut: (1) terdiri dari dua orang atau lebih, (2) berinteraksi satu sama lain, (3) saling membagi beberapa tujuan yang sama, (4) melihat dirinya sebagai suatu kelompok. Berdasarkan berbagai pendapat ahli tentang pengertian kelompok adalah persekutuan minimal dua orang yang melakukan aktivitas bersama, interaksi, dan menjadikan kelompok sebagai bagian dari dirinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Kelompok tidak sekedar instrumen untuk implementasi kebijakan, tetapi merupakan wadah pemberdayaan masyarakat pedesaan. Menilik pada konsep Ife (1995) dimana pemberdayaan sebagai suatu proses untuk meningkatkan kekuatan pihak-pihak yang kurang beruntung, hanya dapat dilakukan melalui pendekatan-pendekatan yang mampu melibatkan mereka dalam proses pengembangan kebijakan, perencanaan, aksi sosial politik, dan proses pendidikan.

Esensi proses pemberdayaan yang digarikan oleh Ife (1995) tersebut menjadi argumentasi bahwa upaya revitalisasi peran kelompok hanya dapat dilakukan melalui proses-proses yang partisipatif, dari tahap pembentukan atau

inisiasi, perencanaan, aksi, pengawasan atau evaluasi, hingga pada berbagi hasil yang diperoleh kelompok.

Chamala (1995) dengan konsepnya tentang Participative Action Management (PAM) menggarisbawahi bahwa suatu kelompok yang efektif terbentuk minimal dalam waktu enam bulan, sejak tahap inisiasi hingga tahap pengembangan fungsi kelompok. Pada tahap inisiasi misalnya, diperlukan suatu kesadaran bersama akan eksistensi masalah dan kebutuhan.

Melibatkan anggota dan pengurus kelompok dalam proses inisiasi hingga pengembangan fungsi kelompok, menurut Chamala (1995) menjadi bagian sentral dari proses pemberdayaan kelompok, yang pada gilirannya munculnya keperca-yaan akan kemampuan diri (self-empowerment), tanggung jawab, dan komitmen. Fase-fase berikut memberikan satu ilustrasi praktis tentang proses pembentukan kelompok dalam pemberdayaan masyarakat (Chamala, 1995).

Fase 1: Inisiasi dengan tahap berikut. Tahap 1: Kesadaran tentang adanya masalah internal dan external (oleh pemimpin lokal, warga, petugas atau pihak-pihak lainnya); Tahap 2: Penyatuan perhatian terhadap masalah (diskusi informal diantara pihak-pihak yang sadar akan adanya masalah); Tahap 3: Testing tentang adanya perhatian yang lebih luas (diskusi informal dengan tokoh masyarakat atau instansi terkait); dan Tahap 4: Mencari dukungan lebih lanjut (khususnya dari tokoh masyarakat, agen pembaharu, dinas, dan lain-lain).

Fase 2 : Pembentukan mencakup tahap berikut. Tahap 1: Undang untuk pertemuan (meliputi staf dari instansi terkait dan tokoh masyarakat. Hal pokok yang ingin dicapai adalah pemilihan panitia pengarah, kemudian bertugas

menyusun draf rencana umum dan struktur kelompok); Tahap 2: Mengembangkan struktur kelompok sementara dan rencana umum (dengan mempertimbangkan kebijakan pemerintah, dan mencari informasi serta bantuan dari pihak-pihak terkait); dan Tahap 3: Pengesahan struktur dan rencana umum kelompok dalam suatu rapat umum (biasanya panitia pengarah terpilih sebagai pengurus kelompok).

Fase 3 : Aksi terdiri atas tahapan berikut. Tahap 1: Memeriksa rencana umum guna merumuskan tujuan jangka pendek (fokuskan pada satu proyek yang viable); Tahap 2: Mengembangkan rencana kerja dan menetapkan program kerja (misalnya memutuskan apa yang perlu dilakukan, sumberdaya, waktu, koordinasi, dan lain-lain); Tahap 3: Implementasi rencana kerja (pelatihan, demonstrasi); dan Tahap 4: Evaluasi dan dokumentasi kemajuan.

Fase 4: Pengembangan/ pembubaran atau restrukturisasi dengan cakupan tahapan berikut. Tahap 1: Mengembangkan fungsi yang sudah ada (tangani lebih banyak masalah, capai sasaran atau target yang lebih luas, perbanyak inisitif. Dalam hal kelompok tani, tingkatkan jumlah penyaluran saprodi, kurangi kredit macet, dan lain-lain); Tahap 2: Kembangkan fungsi baru (tidak saja memperbanyak pelayanan buat anggota, tetapi juga kembangkan fungsi "berperan ke atas dan atau ke samping", menjalin hubungan dengan pihak-pihak yang lebih luas; dan Tahap 3: Perluasan kelompok dengan mengembangkan jangkauan lokasi atau membentuk subkelompok baru yang sesuai (Hadi, 2002).

Model atau konsep dan pendekatan berikut, serta membaca berbagai definisi dan uraian tentang modal sosial maka sesungguhnya hubungan antara modal sosial dengan pengembangan agroekowisata adalah hubungan yang

langsung atau sebab akibat. Ketika modal sosial tersedia, kuat dan memfasilitasi kerjasama yang menguntungkan, maka akan terjadi peningkatan kinerja agroekowisata melalui peningkatan atraksi wisata, jumlah kunjungan wisatawan, dan pada gilirannya ikut menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan orang-orang atau petani dan masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Pretty (1999) dan Pretty dan Ward (2001) mengemukakan modal sosial adalah “kekompakan orang-orang dalam suatu masyarakat, terbentuk dari hubungan saling percaya, memberi dan menerima, dan mempertukarkan antar individu, yang memfasilitasi kerjasama; terikat oleh kesamaan aturan, norma, dan sanksi yang disepakati bersama dan diturunkan dari generasi ke generasi; keterhubungan, jaringan dan kelompok, baik formal maupun informal, horizontal atau vertikal, dan antar individu atau organisasi; dan akses pada lingkup kelembagaan yang lebih luas dari suatu masyarakat di luar dari rumah tangganya atau masyarakatnya”. Untuk itu pola hubungan antara petani atau masyarakat dengan agroekowisata dapat digambarkan sebagai berikut. (1) Kelompok atau gabungan kelompok atau bentuk modal sosial lainnya memiliki anggota yang masing-masing memiliki kepercayaan, nilai dan perilakunya/ partisipasi dalam kelompok diatur melalui norma atau aturan dalam berinteraksi di dalam dan di luar kelompok. Ketika semua unsur ini positif (saling percaya tinggi diantara anggota dan anggota dengan pengurus, memegang nilai kebersamaan yang kuat, aturan dan norma kelompok efektif, terjadi saling memberi dan menerima), maka modal sosial akan memiliki kekuatan untuk melakukan kegiatan dan perubahan, dan sebaliknya jika semua unsur modal sosial ini lemah, maka modal sosial lemah dan tidak

mendukung kegiatan yang terkait dengan pengembangan agroekowisata. Kelompok yang Kohesif (ada saling percaya, memiliki nilai tentang pentingnya kerjasama, diatur interaksinya melalui norma/aturan yang efektif dan dikembangkan bersama). Kelompok yang Rapuh (interaksi terbatas, tidak ada saling bertukar/ reciprocity, karena tidak saling percaya dan terbatasnya nilai kebersamaan serta aturan tidak mendukung); (2) Agroekowisata adalah sebuah pendekatan dalam meningkatkan pendapatan petani melalui penawaran jasa dan barang yang ada di lingkungan usahatani seperti atraksi wisata, home-stay dan produk-produk pertanian. Rancangan dan impelemntasi program pengembangan agroekowisata yang baik idealnya melibatkan masyarakat (melalui kelompok sebagai modal sosial dan stakeholder lainnya yang ada di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten Ende. Partisipasi petani melalui kelompok dapat diakomodir dengan baik ketika kelompok atau gapoktan sebagai bentuk modal sosial aktif karena unsur-unsurnya mendukung; dan (3) Apabila kelompok sebagai sebuah modal sosial yang ada di tingkat desa memiliki kohesifitas yang tinggi, maka kelompok dapat memfasilitasi terbentuknya jaringan kerjasama yang lebih luas dengan stakeholder lainnya dalam pengembangan agroekowisata. Pemetaan stakeholder seharusnya dilakukan dalam rangka mengetahui semua pihak yang terkait seperti terlihat pada ilustrasi berikut ini. Dalam konteks ini, maka modal sosial pada lingkup yang lebih luar akan terbentuk, seperti gabungan kelompok tani, asosiasi pemerhati agroekowisata, komisi pengembangan agroekowisata Kabupaten Ende, dan lainnya. Pada tataran ini maka relevan membahas tentang unsur-unsur modal sosial yang lebih luas yang mempengaruhi interaksi petani dan kelompok tani

dengan pihak lainnya (kepercayaan, nilai, norma, aturan yang mempengaruhi interaksi antar stakeholders).

Stakeholder kunci pengembangan agroekowisata Kabupaten Ende mencakup beberapa level dan jenis stakeholder. (1) Aparat kabupaten terdiri atas hotel dan travel, dinas pariwisata, dinas pertanian, dan BP4K; (2) Aparat kecamatan yakni UPTD, dan BP3K; dan (3) Level aparat desa yakni PPL, kelompok tani, petani, dan P3A.

Fakta pada masyarakat desa, banyak program pembangunan, pemerintah dan lembaga pemrakarsa pembangunan lainnya sering menggunakan kelompok atau organisasi sosial lainnya untuk melancarkan atau melaksanakan program -program mereka. Ada yang membentuk kelompok baru dan ada yang menggunaan kelompok yang sudah ada sebagai bagian dari modal sosial. Kelompok-kelompok ini diperankan dalam merubah perilaku anggota dan masyarakat di sekitarnya (peran ke bawah), membangun kerjasama dan koordinasi dengan kelompok atau lembaga lainnya (peran ke samping), dan bahkan memberikan masukkan kepada pemerintah dalam pengembangan dan impelementasi kebijakan (peran ke atas).

2.2.5 Model modal sosial dalam pengembangan agroekowisata di Kabupaten