• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Deskripsi Lokasi Penelitian

2.3. Deskripsi Kampung Buatan Baru

2.3.4. Kelembagaan Kampung

Struktur Organisasi pemerintahan Kampung

Adapun Struktur Organisasi Pemerintahan Kampung Buatan Baru mengacu kepada Perda No. 1 Tahun 2015 tentang perubahan penamaan desa menjadi Kampung serta beberapa regulasi yang berkaitan lainnya. Unsur-unsur didalam struktur pemerintahan Kampung adalah sebagai berikut:

1. Penghulu

2. Sekretariat Kampung;

3. Pelaksana kewilayahan; dan 4. Pelaksana teknis.

Sekretariat Kampung terdiri dari :

a. Kerani sebagai pimpinan sekretariat; dan b. Juru tulis, staf, atau unsur pembantu kerani.

Struktur Organisasi Kampung Buatan Baru Penghulu Kampung : Tuginen S.H Kerani Kampung : Gan Margana S.E

Bendahara : Yuono Efendi

Staff : Liza Faiza

Juru Tulis 1 (Pemerintahan) : Subakrie

Staff : Sopia S.Pd

Juru Tulis 2 (Pembangunan) : Jumari

Staff : Aris Sunandar

Juru Tulis 3 (Umum) : Yulianto

Staff : Puji Rianto

BAGAN 1

STRUKTUR PEMERINTAHAN KAMPUNG BUATAN BARU.

Sumber: Pemerintahan Kampung Buatan Baru 2016 A. Penghulu dan Perangkat Kampung lainnya

Pemerintah Kampung dalam penyelenggaraan pemerintahannya dipimpin oleh penghulu Kampung. Penghulu Kampung adalah kepala Kampung sebagai

PENGHULU

penyelenggara pemerintahan.35Penghulu sebagai kepala Kampung memiliki wewenang sebagai berikut:

1. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan Kampung.

2. Mengangkat dan memberhentikan perangkat Kampung

3. Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan dan asset Kampung 4. Menetapkan peraturan Kampung

5. Menetapkan anggaran pendapatan dan Belanja Kampung 6. Membina kehidupan masyarakat Kampung

7. Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat Kampung

8. Membina dan meningkatkan perekonomian desa serta mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat Kampung

9. Mengembangkan sumberdaya Kampung

10. Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan Negara guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kampung

11. Mengembangkan kehidupan social budaya masyarakat Kampung 12. Memanfaatkan teknologi tepat guna

13. Mengordinasikan pembangunan Kampung secara parsitipatif

14. Mewakili Kampung didalam dan diluar pengadilan atau menunjuk kuasa hokum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan

35 Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2015 Tentang Perubahan Penamaan Desa Menjadi Kampung Pasal 1

15. Melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penghulu bertugas menyelenggarakan pemerintahan Kampung, melaksanakan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat.

Perangkat Kampung; kerani berkedudukan sebagai unsur pimpinan secretariat Kampung, yang bertugas membantu penghulu dalam bidang administrasi pemerintahan. Fungsi yang dimiliki oleh kerani adalah; pertama, melaksanakan urusan ketatausahaan seperti surat menyurat,arsip, dan ekspedisi. Kedua, melaksanakan urusan umum seperti penataan administrasi perangkat Kampung, penyediaan prasarana perangkat Kampung dan kantor, penyiapan rapat, pengadministrasian asset,inventarisasi, perjalanan dinas dan pelayanan umum.

Ketiga, Melaksanakan urusan keuangan seperti pengurusan administrasi keuangan, administrasi sumber-sumber pendapatan dan pengeluaran, verifikasi administrasi keuangan, dan admnistrasi penghasilan Kepala Kampung, Perangkat Kampung, BAPEKAM, dan lembaga pemerintahan Kampung lainnya. Keempat, Melaksanakan urusan perencanaan seperti menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja Kampung, menginventarisir data-data dalam rangka pembangunan, melakukan monitoring dan evaluasi program, serta penyusunan laporan

Kerani sebagai pimpinan dibantu oleh Juru Tulis yang bertugas untuk membantu pekerjaan kerani sebagai pimpinan secretariat . terdapat juga perangkat Kampung

yang membantu berjalannya pemerintahan yang diantaranya adalah: juru tulis pemerintahan, juru tulis umum, juru tulis Pembangunan.

B. Badan Permusyawaratan Kampung ( BAPEKAM)

Unsur penyelenggaraan pemerintahan Kampung selain Penghulu sebagai eksekutif terdapat pula usur lainnya yaitu BAPEKAM ( Badan Permusyawaratan Kampung) yang berperan sebagai legislatif. Kedudukan BAPEKAM ini seperti halnya yang tercantum dalam PERDA No. 5 Tahun 2015 Tentang Badan Permusyawaratan Kampung yang Menyatakan “BAPEKAM berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Kampung”.36Badan Permusyawaratan Kampung sebagai unsure penyelenggaraan pemerintahan Kampung tentunya memiliki struktur organisasinya sendiri. Berikut adalah bagan struktur Badan Permusyawaratan Kampung.

a. Ketua : H. Bambang Paeran b. Wakil Ketua : Nyono

b. Sekretaris : Mustain

c. Anggota : 1. Haryono 6. Abdul Jalil 2. Tugiono 7. Herman Suhendri 3. Sukidi 8. Jerliman Banjar Nahor 4. Tutiyanti 9. Rustam

5. Haryono 10. Turkono

36 Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2015 Tentang Badan Permusyawaratan Kampung Pasal 2 ayat 1

Sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Kampung, Badan Permusyawaratan Kampung memiliki fungsi tersendiri diantaranya adalah:

a. membahas dan menyepakati rancangan peraturan Kampung bersama penghulu;

b. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Kampung; dan c. melakukan pengawasan kinerja Penghulu.

Badan Permusyawaratan Kampung mempunyai tugas dan wewenang : a. membahas rancangan Peraturan Kampung bersama Penghulu;

b. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Kampung dan Peraturan Penghulu;

c. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Penghulu;

d. membentuk panitia pemilihan Penghulu;

e. menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat;

f. mengadakan perubahan Peraturan Kampung bersama Penghulu;

g. menyusun tata tertib BAPEKAM;

h. menetapkan calon Penghulu terpilih.

Badan Permusyawaratan Kampung memiliki hak sebagai Berikut:

a. mengajukan usul Rancangan Peraturan Kampung;

b. mengajukan pertanyaan;

c. menyampaikan usul dan/atau pendapat;

d. memilih dan dipilih; dan

e. mendapat tunjangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung

BAB III PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan analisis mengenai transisi pemerintahan desa menjadi Kampung di Kampung Buatan Baru Kabupaten Siak yang meliputi aspek proses perumusan kebijakan dan implementasi kebijakan, Menganalisis Sistem Pemerintahan Kampung, kelembagaan dan administrasi dalam Pemerintahan Kampung di Kampung Buatan Baru Kabupaten Siak. Data-data yang diperoleh dari lapangan diperoleh dari hasil wawancara dengan berbagai narasumber. Proses Perubahan ini didasarkan pada Peraturan daerah No 1 Tahun 2015 Tentang Perubahan Penamaan Desa Menjadi Kampung serta beberapa Peraturan Daerah No 3 tahun 2015, Peraturan Daerah No 4 Tahun 2015 dan peraturan Daerah No 5 Tahun 2015.

Pemerintahan Kampung merupakan dampak yang ditimbulkan karena respon dari pemerintahan Kabupaten Siak menanggapi diberlakukakannya UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa yang memperbolehkan diberlakukannya pengaturan desa sesuai dengan adat istiadat dan sesuai dengan kearifan lokal sesuai dengan asas rekognisi.

Budi Winarno dalam bukunya teori dan proses kebijakan Publik menjelaskan Perumusan kebijakan meliputi empat tahapan yang dilaksanakan

secara sistematis,37 yaitu: “Tahap pertama, perumusan masalah. Tahap kedua, agenda kebijakan. Tahap ketiga, pemilihan alternatif kebijakan untuk memecahkan masalah. Tahap keempat, penetapan kebijakan.”

Selain perumusan kebijakan, didalam analisis kebijakan dapat juga dilihat dalam sudut pandang Implementasi Kebijakan. Implementasi Kebijakan dalam arti luas, implementasi juga sering dianggap sebagai bentuk pengoperasionalisasi atau penyelenggaraan aktivitas yang telah ditetapkan berdasarkan undang–

undang dan menjadi kesepakatan bersama diantara beragam pemangku kepentingan (stakeholders), aktor, organisasi (publikatau privat), prosedur, dan teknik secara sinergistis yang digerakkan untuk bekerjasama guna menerapkan kebijakan ke arah tertentu yang dikehendaki.Selain itu, perlu kita sadari bahwa apa yang telah terjadi saat implementasi akan mempengaruhi hasil akhir kebijakan. Sebaliknya, peluang keberhasilan dalam mewujudkan hasil akhir yang diinginkan akan semakin besar jika sejak tahap merancang bangun kebijakan (the policy design stage) tersebut telah dipikirkan secara matang berbagai kendala yang mungkin muncul pada saat implementasinya.

Selanjutnya, Webber menyimpulkan tiga aspek sebagai ciri negara yaitu:38

1. Berbagai struktur yang mempunyai fungsi yang berbeda, seperti jabatan, peranan dan lembaga-lembaga, yang semuanya memiliki tugas yang jelas batasnya, yang bersifat kompleks, formal dan permanen;

37 Budi Winarno. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Jogjakarta: Media Presindo. Hal.82

38Ibid Hal.3-4.

2. Kekuasaan untuk menggunakan paksaan dimonopoli oleh negara negara yang memiliki kewenangan yang sah untuk membuat putusan yang final dan mengikat seluruh warga negara

3. Kewenangan untuk menggunakan paksaan fisik hanya berlaku dalam batas-batas wilayah negara tersebut.

Pada skripsi ini data yang diperoleh akan dipadukan dengan menggunakan teori perumusan dan implementasi kebijakan dan teori kelembagaan serta otonomi desa yang ditawarkan oleh Budi winarno, Webber dan Talidzudu Ndraha yang digunakan untuk menganalisis proses transisi pemerintahan desa menjadi Kampung di Kampung Buatan Baru yang meliputi aspek kebijakan, kelembagaan dan administrasi.

3.1. Dinamika Regulasi Pengaturan Desa

3.1.1. Zaman Pra-kemerdekaan – Paska kemerdekaan

Pengaturan Desa pada masa pra kemerdekaan atau lebih tepatnya pada masa kolonial Hindia Belanda hingga awal kemerdekaan Indonesia dapat ditelusuri jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Kumpulan masyarakat yang terikat pada adat tertentu hidup di desa-desa atau nama lain yang sesuai dengan karakteristik setempat. Dalam organisasi pemerintahan Hindia Belanda, Desa diakui sebagai suatu kesatuan hukum yang berdasar pada adat. Hakim-hakim desa diakui secara resmi pada tahun 1935.39 sejarah perjalanan tata pengaturan desa yang meliputi tata pemerintahan desa selama ini banyak terjadi perubahan-perubahan mengikuti

39 Mr. R. Tresna. Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad. Amsterdam-Jakarta: NV. W.

Versluys, 1957, hal.67-68. Dalam Muhammad Yasin dkk. Anatomi UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO)

kondisi dan juga konstalasi situasi politik nasional. Pasca kemerdekaan Indonesia , pemerintahan desa berlandaskan pada pasal 18 UUD 1945 yang menyebutkan:

“Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa”.40

Penjelasan UUD 1945 pasal 18 UUD 1945 diatas menegaskan bahwa pemerintah Indonesia menghendaki dan menghormati adanya tata pemerintahan desa yang memiliki karakteristik dan memiliki hak asal usul serta bersifat istimewa. hal ini juga didukung oleh pernyataan berikut:

“Dalam territoir Indonesia terdapat lebih kurang 250 Zelϔbesturende landschappen dan Volksgemeenshappen, seperti Desa di Jawa dan Bali, nageri di Minangkabau, dusun, dan marga di Palembang, dan sebagainya. Daerah-daerah itu mem- punyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa. Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah-daerah itu akan men- gingati hak-hak asal usul daerah tersebut”.41

Pengertian dari zelϔbesturende landschappen adalah daerah swapraja, yaitu wilayah yang dikuasai raja yang mengakui kekuasaan dan kedaulatan pemerintah Belanda melalui perjanjian politik (verklaring). Sedangkan volksgemeen schappen tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Penjelasan UUD 1945. Hanya diberikan contoh Desa di Jawa dan Bali, Nagari di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang.42 zelϔbesturende landschappen dan volksgemeen schappen pada masa itu diperlakukan secara sama. Akan tetapi secara mendasar terdapat perbedaan yang mendasar. Hal ini seperti pendapat Yando “Ada perbedaan mendasar keduanya.

40 Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18

41 Ibid, Hal 2

42 Ibid. hal 2

Tidak ada landschappen (swapraja) yang berada dalam wilayah volksgemeen schappen. Secara hierarkis, kedudukan Zelfbesturende land- schappen berada di atas Volksgemeenschappen”.43

Berdasarkan argumen diatas yang dimaksudkan dengan perbedaan mendasar dari Zelfbesturende landschappen dengan Volksgemeenschappen didasarkan pada kedudukan hierarki. Kedudukan hierarki ini menjelaskan bahwa secara ruang ringkup wilayah dan wewenang Zelfbesturende landchappen lebih luas dibandingkan dengan Volksgemeenschappen. Hal ini terlihat ketika melihat perbandingan antara Zelfbesturende landschap yang dicontohkan oleh Yogyakarta yag memiliki landschappen (swapraja) dan Volksgemeenschappen dalam hal ini adalah pemerintahan Nagari yang tidak memiliki landschappen (swapraja).44 Kedudukan Desa telah diatur sejak awal kemerdekaan melalui UU No. 1 Tahun 1945 tentang Peraturan Mengenai Kedudukan Komite Nasional Daerah yang mengakui kewenangan otonom Desa. Penjelasan Otonomi Desa Termaktub dalam penjelasan regulasi tersebut yang berbunyi :

“Tentang perkataan "di lain-lain daerah jang dianggap perlu oleh Menteri Dalam Negeri". Ini tambahan diadakan berhubung dengan perkataan "mengatur rumah tangga daerahnja" dalam fatsal 2. Ketika kita merundingkan ini, kita menggambarkan daerah tersebut, tersusun menurut faham decentralisatie - wetgeving jang dulu, dengan mempunjai harta benda dan penghatsilan sendiri (eigen middelen). Dengan kefahaman itu nistjaya sukar sekali untuk merentjanakan budgetnya, djika andaikata daerah di bawahnya kabupaten, umpama assistenan atau desa djuga dijadikan badan jang berautonomie dengan mempunyai "eigen middelen". Nistjaja buat ketamsilan: djika desa telah memungaut padjak kendaraan dan rooiver gunningen dalam desa itu nistjaja saja

43 Zakaria, R. Yando. Abih Tandeh, 2000. Masyarakat Desa di Bawah Rejim Orde Baru. Jakarta:

ELSAM,. Dalam buku Anatomi UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO)

44 Op, Cit Hal 2

Kabupaten tidak akan dapat memungut lagi padjak-padjak itu dari object dan subject yang sama.45

Selain UU. No. 1 Tahun 1945 tentang Peraturan Mengenai Kedudukan Komite Nasional Daerah pemerintah juga mengeluarkan regulasi yaitu UU No. 22 Tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah yang terdapat pengaturan lebih lanjut mengenai daerah otonom, yang dibagi ke dalam kelompok Daerah Otonom Biasa dan Daerah Otonom Istimewa 46. Diatur pula mengenai bentuk dan susunan serta wewenang dan tugas Pemerintahan Desa sebagai suatu daerah otonom yang ber- hak mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri. Sejarah regulasi yang mengatur tentang desa juga diwarnai dinamika hubungan pusat dan daerah seperti pemberontakan PRRI/Permesta, sehingga lahirlah sejumlah regulasi lain yang mengatur tentang Desa, antara lain sebagai berikut:

1. UU No. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah 2. UU No. 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah; dan 3. UU No. 19 Tahun 1965 tentang Desapraja.

Desapraja adalah kesatuan masyarakat hukum yang tertentu batas-batas daerahnya, berhak mengurus rumah tangganya sendiri, memilih penguasanya, dan mempunyai harta benda sendiri. Aturan ini dimaksudkan untuk mempercepat terwujudnya Daerah Tingkat III di seluruh wilayah Indonesia.

46 Undang-Undang No. 1 Tahun 1945 tentang Peraturan Mengenai Kedudukan Komite Nasional Daerah Penjelasan Bab B Poin C

3.1.2. Era Orde Baru

Selama periode pemerintahan Orde Baru yang berjalan selama 32 Tahun regulasi tentang pengatuan desa diawali dengan lahirnya UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah kemudian selanjutnya diundangkan UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Regulasi Undang-Undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa menimbulkan banyak persoalan dan pro kontra. Pro kontra ini merupakan dampak dari di undangkannya regulasi tersebut yang melakukan unikasi bentuk-bentuk dan susunan Pemerintahan Desa dengan cara melemahkan atau menghapuskan banyak unsur demokrasi lokal.

HAW Widjaja menyatakan apa yang terjadi sebagai “Demokrasi tidak lebih dari sekadar impian dan slogan dalam retorika pelipur lara”.47 Undang-Undang No. 5 Tahun 1979 telah memberikan “cek kosong” kepada masyarakat Desa, karena dalam UU ini Desa tidak lagi diposisikan sebagai daerah otonom. Desa adalah unit administrasi pemerintahan yang berada pada tingkatan paling bawah, yang

‘dikoordinasikan’ oleh pemerintahan kecamatan. Kepala Desa sebagai penguasa tunggal Desa adalah bawahan atau anak buah camat.

Desa hanya mempunyai hak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri.

Penyeragaman pemerintahan desa diseluruh Indonesia ini berdampak pada pergeseran-pergeseran yang terjadi dimasyarakat. Pergeseran terjadi karena tergerusnya nilai-nilai dan kearifan lokal sehingga meluluhlantakkan struktur masyarakat desa yang berbasis kearifan lokal akibat dipaksakannyaa pengaturan

47 HAW Widjaja, Op.cit

sistem pemerintahan desa yang tidak berbasis kepada kearifan lokal melalui regulasi tersebut. Contoh dari permasalaha ini adalah tergerusnya nilai-nilai adat dalam struktur pemerintahan Nagari di daerah Sumatera Barat yang memaksa masyarakat untuk beralih kepada sistem pemerintahan desa yang berimplikasi kepada melemahnya peran-peran tokoh adat, ulama dan nilai-nilai adat serta kearifan lokal lainnya dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan yang mulanya dallah sistem pemerintahan nagari.

3.1.3. Era Reformasi

Pada era Pemerintahan BJ Habibie lahir UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, disusul UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kedua undang-undang ini adalah undang-undang-undang-undang terakhir yang didasarkan pada Pasal 18 UUD 1945 sebelum pasal ini diamandemen.48 Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 menegaskan bahwa Desa bukan lagi sebagai wilayah administratif, bahkan tidak lagi menjadi bawahan atau unsur pelaksana daerah, tetapi menjadi daerah yang istimewa dan bersifat mandiri yang berada dalam wilayah kabupaten, sehingga setiap warga Desa berhak berbicara atas kepentingan sendiri sesuai kondisi sosial budaya yang hidup di lingkungan masyarakatnya.

Tahun 2004 resmi di undangkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah. UU No. 32 Tahun 2004 terdapat Bab khusus

48 HAW Widjaja, Op.cit

mengenai desa yang tertuang dalam bab XI tentang Desa. Aturan tentang Desa dalam regulasi ini menyatakan bahwa “Dalam pemerintahan daerah kabupaten/kota dibentuk pemerintahan desa yang terdiri dari pemerintah desa dan badan permusyawatan desa”.49 Regulasi tersebut menjelaskan bahwa pemerintah desa pada dasarnya adalah dibentuk oleh pemerintahan daerah. Pembentukan Pemerintah Desa tentunya dipimpin oleh seorang kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa berperan sangat penting demi mewujudkan tatanan pemerintahan yang baik dan transparan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Pengaturan mengenai keuangan Daerah tidak diatur didalam UU. No. 32 Tahun 2004 sehingga dikeluarkan UU.

No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah.

Perkembangan Wacana di parlemen baik itu DPR atau DPD melakukan Kritik terhadap Undang-Undang lama saat memberikan tanggapan atas RUU Desa.

Pembahasan mengenai RUU Desa Secara khusus DPD menyinggung UU No. 5 Tahun 1979 yang bertahan sekitar 34 tahun dan “telah berhasil menyeragamkan Desa dan praktek pemerintahan yang sangat otoriter terhadap masyarakat Desa sendiri. Undang-Undang tersebut oleh kebanyakan warga di luar Jawa dianggap sebagai bentuk Jawanisasi yang membunuh keragaman berbagai kesatuan masyarakat hukum adat yang hidup di Nusantara, dan karena itu dinilai bertentangan dengan UUD 1945.

49 Undang-Undang No. 6 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. BAB XI pasal 200 ayat 1.

Lahirnya UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa (selanjutnya disebut sebagai UU Desa) yang disahkan dan diundangkan pada 15 Januari 2014 lalu lahir melalui proses:

a) Urgensi dan Tujuan Hampir semua fraksi di DPR dan Pemerintah dalam proses pembahasan telah menyinggung kegagalan perundang-undangan lama dan perlunya peraturan baru tentang Desa. Peraturan baru ini menjadi koreksi terhadap kesalahan-kesalahan aturan lama sekaligus menjadi antisipasi untuk perubahan di masa mendatang. Rancangan UU Desa sebenarnya lahir dari proses rapat kerja Komisi II DPR RI periode 2004-2009 dengan jajaran Kementerian Dalam Negeri. Rapat kerja telah menyepakati UU No. 32 Tahun 2004 dipecah menjadi tiga Undang-Undang, yaitu UU tentang Pemerintahan Daerah, UU tentang Pemilihan Kepala Daerah, dan UU tentang Desa. Untuk menindaklanjuti rapat kerja tersebut Menteri Dalam Negeri menerbitkan Surat Keputusan No.

180.05458 tanggal 1 September 2006 tentang Penyusunan Undang-Undang di Lingkungan Departemen Dalam Negeri, termasuk di dalamnya Undang-Undang tentang Desa.

Berkaitan dengan eksistensi desa termasuk masyarakat adat di dalamnya terhadap perkembangan zaman sehingga menimbul- kan kesenjangan sosial, pada akhirnya akan mengancam persa- tuan dan kesatuan bangsa. Pembentuk Undang-Undang Desa merasa perlu untuk mencantumkan poin penting yang perlu dijelaskan selain dasar Pemikiran, asas pengaturan, dan materi muatan. Tujuan ini sebenarnya

berhubungan dengan pentingnya pengaturan Desa dengan undang-undang tersendiri. Tujuan ini dilandasi Pemikiran pembentuk undang-undang agar UU Desa diselaraskan dengan konstitusi, yaitu ‘penjabaran lebih lanjut Pasal 18 ayat (7) dan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Ketika menyampaikan “pendapat mini”

atas RUU Desa, Fraksi PPP secara khusus juga menyinggung tujuan tersebut.

Menurut Fraksi PPP ada lima tujuan UU Desa, yaitu (i) pengakuan, penghormatan dan perlindungan terhadap otonomi asli yang bersumber dari hak asal usul sehingga Desa terdiri atas Desa dan Desa adat; (ii) keinginan membentuk Pemerintahan Desa yang modern, yaitu professional, efisien dan efektif, terbuka dan bertanggung jawab. Namun Desa juga tetap memelihara nilai- nilai lokal sekaligus bisa mengikuti perkembangan zaman; (iii) adanya semangat meningkatkan pelayanan publik agar lebih“...pengaturan mengenai Desa tersebut belum dapat mewadahi segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat Desa yang hingga saat ini sudah berjumlah sekitar 73.000 (tujuh puluh tiga ribu) Desa dan sekitar 8.000 (delapan ribu) kelurahan. Selain itu, pelaksanaan pengaturan Desa yang selama ini berlaku sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, terutama antara lain menyangkut kedudukan masyarakat hukum adat, demokratisasi, keberagaman, partisipasi masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan pembangunan sehingga menimbulkan kesenjangan antarwilayah, kemiskinan, dan masalah sosial budaya yang dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.” (Penjelasan Umum, bagian Dasar Pemikiran UU Desa).

3.2. Regulasi Pemerintah Daerah Tentang Perubahan Desa Menjadi Kampung

Pasca reformasi pemerintah daerah memiliki wewenang untuk mengatur rumah tangganya sendiri selama tidak bertentangan dengan undang-undang hal ini senada dengan konsep Otonomi daerah yang mengedepankan aspek Desentralisasi. Pemerintah daerah dianggap sebagai yang paling memahami permasalah diruang lingkup wilayah pemerintahannya. Begitu juga dengan pengaturan desa menjadi wewenang dari pemerintah daerah, terlebih lagi dengan di terbitkannya UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa yang memperbolehkan untuk melakukan pengaturan Desa sesuai dengan adat dan istiadat serta kearifan masyarakat lokal.

UU No 6 tahun 2014 tentang Desa membawa harapan untuk mengembalikan pengaturan desa kepada pengaturan desa atau sebutan lain yang sesuai dengan adat istiadat dan kearifan lokal yang pernah ada didaerah Kabupaten Siak.

3.2.1. Proses perumusan kebijakan PERDA Kabupaten Siak No. 1 Tahun 2015 tentang perubahan penamaan desa menjadi Kampung.

Diundangkannya UU No. 6 tahun 2014 merupakan suatu peluang bagi kembalinya tatanan pengaturan desa atau dalam sebutan lain yang sesuai dengan adat dan kearifan lokal. Tata pengaturan desa menurut UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa ini memberikan keleluasaan dan menghormati sistem pemerintahan terendah seperti halnya Nagari di Sumatera Barat dan Gampong di Aceh.

Perundang-undangan ini secara khusus membahas tentang desa dan kemudian

menjadi acuan bagi kembalinya tatanan pemerintahan terendah yang sesuai

menjadi acuan bagi kembalinya tatanan pemerintahan terendah yang sesuai

Dokumen terkait