• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses perumusan kebijakan PERDA Kabupaten Siak No. 1

Bab III Pembahasan Analisi Proses Transisi Pemerintahan Desa

3.2. Regulasi Pemerintah Daerah Tentang Perubahan

3.2.1. Proses perumusan kebijakan PERDA Kabupaten Siak No. 1

Diundangkannya UU No. 6 tahun 2014 merupakan suatu peluang bagi kembalinya tatanan pengaturan desa atau dalam sebutan lain yang sesuai dengan adat dan kearifan lokal. Tata pengaturan desa menurut UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa ini memberikan keleluasaan dan menghormati sistem pemerintahan terendah seperti halnya Nagari di Sumatera Barat dan Gampong di Aceh.

Perundang-undangan ini secara khusus membahas tentang desa dan kemudian

menjadi acuan bagi kembalinya tatanan pemerintahan terendah yang sesuai dengan adat dan kearifan lokal disuatu wilayah. Regulasi ini juga yang menjadi salah satu landasan dari perubahan penamaan desa menjadi Kampung di wilayah Kabupaten Siak.

Regulasi berupa peraturan perundang-undangan menjadi dasar yang penting sebagai landasan berjalannya roda pemerintahan. Menanggapi peluang yang terkandung didalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa maka Pemerintahan Kabupaten Siak dalam hal ini telah mempersiapkan regulasi berupa Peraturan Daerah. Persiapan regulasi ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Bpk Suprianto yaitu:

“pemerintah daerah telah menyiapkan satu buah Regulasi, Berupa peraturan daerah No 1 Tahun 2015 tentang Perubahan Penamaan Desa menjadi Kampung dan proses penyusunan Pergub tentang hal yang Sama”.50

Berdasarkan pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah Kabupaten Siak telah menyiapkan sedemikian rupa demi perubahan tersebut.

Disamping itu juga dalam perkembangannya pemerintah daerah juga menerbitkan beberapa regulasi yang mendukung berjalannya perubahan tersebut diantaranya adalah berupa peraturan daerah dan peraturan Bupati yang secara teknis mengatur hal-hal yang terkait dengan perubahan tersebut.

Latar belakang lahirnya perubahan penamaan desa menjadi Kampung adalah untuk melestarikan kembali nama Kampung dimasa lalu.51 Hal ini senada

50 Wawancara dengan Bapak Suprianto (Kabid Pemerintahan Kampung) Siak pada tanggal 14 Desember 2016 Pukul 12.30 WIB

51Lihat Peraturan Daerah No. 1 tahun 2015 tentang perubahan penamaan desa menjadi Kampung.

dengan pernyataan berikut yang menyatakan bahwa yang menjadi latar belakang perubahan ini adalah:52

“yang menjadi motif dikeluarkan kebijakan tersebut adalah untuk melestarikan kembali sebutan Kampung sebelum, sejak Kabupaten dan semasa jayanya Kerajaan Siak”

Proses perumusan kebijakan ini tentunya bukan hal yang mudah. Proses dalam pembuatan kebijakan ini melalui pembahasan yang cukup panjang dan melibatkan banyak aktor. Secara toritis Perumusan kebijakan meliputi empat tahapan yang dilaksanakan secara sistematis,53 yaitu:

1. Tahap pertama, perumusan masalah.

2. Tahap kedua, agenda kebijakan.

3. Tahap ketiga, pemilihan alternatif kebijakan untuk memecahkan masalah 4. Tahap keempat, penetapan kebijakan

Berdasarkan tahapan-tahapan diatas dapat diklasifikasikan bagaimana alur proses perumusan kebijakan. Pada dasarnya yang melatar belakangi perumusan kebijakan ini adalah diakuinya pemerintahan daerah terendah serta diakuinya sebutan lain selain desa melalui UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa. Latar belakang lainnya yaitu telah melunturnya adat budaya dan kearifaan lokal di wilayah eks kerajaan siak yang kini berada diwilayah Kabupaten Siak. Kebijakan perubahan ini bukanlah berasal dari masyarakat melainkan berasal dari kepala

52Wawancara dengan bapak Suprianto (Kabid Pemerintahan Kampung) Siak pada Tanggal 14 Desember 2016 Pukul 12.30 WIB

53 Lihat Budi Winarno.2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Jogjakarta: Media Presindo. Hal.82

daerah yaitu bupati Siak yang bernama Bpk Drs. Syamsuar. M.Si seperti yang dikatakan oleh Suprianto:54

“Kebijakan ini berasal dari keinginan Bapak Bupati (Pemerintah Daerah) dan keinginan Tokoh-Tokoh Masyarakat”

Usulan kebijakan yang dilakukan oleh Bupati Siak ini timbul karena ia ingin mengembalikan kejayaan melayu seperti pada masa dahulu dengan merubah penamaan desa menjadi Kampung. Dalam proses penyusunan ini banyak aktor yang dilibatkan hal ini senada dengan pernyataan berikut bahwa:

“Perumusannya, kita melakukan kordinasi dengan tokoh-tokoh masyarakat di Kabupaten Siak maupun Tokoh masyarakat Siak yang ada Di Pekan Baru serta LAM Kabupaten Siak”55

Berdasarkan pernyataan diatas maka pengusulan rancangan peraturan daerah ini melibatkan banyak aktor yang dilibatkan yang memiliki kualifikasi yang sangat mumpuni. Disamping tokoh-tokoh tersebut beberapa aktor lain yang dilibatkan adalah: “Tokoh masyarakat, LAM Kabupaten Siak, BPMPD dan Akademisi dari Universitas Riau.”56

Perubahan desa menjadi Kampung mulai diimplementasikan sejak Peraturan Daerah No 1 tentang perubahan Penamaan Desa menjadi Kampung disahkan dalam sidang paripurna DPRD Siak.

“implementasi dimulai sejak ditetapkannya Perda No 1 Tahun 2015 tentang Perubahan Penamaan Desa menjadi Kampung yang dilandasi dengan

54 Wawancara dengan bapak Suprianto (kabid Pemerintahan Kampung Siak bertempat di hotel winaria pada Tanggal 14 Desember 2016 pukul 12.30

55 Ibid, Suprianto

56 Ibid, Suprianto pada tanggal 14 Desember 2016

ditetapkannya UU No. 6 tahun 2014 tentang desa yang bunyinya desa dan sebutan lain yang sesuai dengan daerah masing-masing. Seperti di padang nagari”.57 Berdasarkan pernyataan tersebut maka implementasi kebijakan tersebut dimulai sejak penetapan Perda tersebut yang bertepatan dengan tanggal 15 januari 2015.

Disetiap kebijakan tentunya terdapat pro dan kontra didalam masyarakat begitu juga dengan kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Daerah tersebut. Secara umum regulasi tersebut didukung oleh masyarakat dan pemerintahan Kampung yang terkait tidak ada kontra yang signifikan terjadi. Ini sesuai dengan penjelasan bapak suprianto yang mengatakan “Tidak ada kontra yang signifikan terjadi dalam implementasi kebijakan”. Berbeda dengan pendapat tersebut bapak Tuginen sebagai kepala penghulu Kampung Buatan Baru menegaskan bahwa:

“didalam implementasi kebijakan ini ada kontra atau penolakan dan kebingungan dari masyarakat mengenai perubahan desa menjadi Kampung, sehingga sebagian kecil masyarakat ada yang belum mengetahui informasi perubahan dan ada juga yang meminta untuk tetap pada desa”.58

Kontra dari masyarakat ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Kampung dan pemerintahan Kabupaten Siak sebagai pembuat kebijakan. Sebagai pembuat kebijakan pemerintah Kabupaten Siak tentunya berperan dalam mengawal dan mengawasi implementasi kebijakan tersebut. Pemerintahan Kabupaten Siak dalam hal ini melakukan perannya seperti yang diutarakan oleh bapak suprianto selaku dinas terkait yang mengatakan bahwa :

57 Wawancara pribadi dengan Bapak Tuginen bertempat di kantor penghulu kampung buatan Baru pada tanggal 21 Desember 2016 pukul 10.00

58 Wawancara bapak Tuginen (penghulu Kampung) bertempat di kantor penghulu Kampung Buatan Barupada tanggal 21 desember 2016

“Peran pemerintah Kabupaten Siak yaitu dengan memberikan sosialisasi kepada penghulu Kampung dan perangkat Kampung dan dalam penyelenggaraannya tetap diawasi oleh pemkab.”59

Peran pemerintah Kabupaten Siak seperti yang dijelaskan tersebut menegaskan bahwa pemerintah Kabupaten Siak berupaya untuk melakukan sosialisasi kepada aparatur pemerintahan Kampung guna memberikan pemahaman terkait perubahan tersebut. Selain sosialisasi pemerintahan Kabupaten Siak juga tetap melakukan pengawasan dan tetap selalu berkoordinasi dengan pemerintahan Kampung terkhusus Kampung Buatan Baru.

Dalam implementasi kebijakan tersebut beberapa instansi atau lembaga yang dilibatkan dalam proses mengawal dan implementasi kebijakan tersebut diantaranya adalah diruang lingkup Kampung yaitu Badan Permusyawaratan Kampung dalam ruang lingkup pemerintahan Kabupaten Siak adalah SKPD yang terkait. Selain itu tentunya masyarakat juga mengawal proses implementasi kebijakan tersebut.

Implementasi kebijakan perubahan desa menjadi Kampung tentunya terdapat kendala-kendala dalam prakteknya hal ini yang menjadi tantangan tersendiri baik itu oleh pemerintahan Kampung Buatan Baru sendiri maupun Pemerintah Kabupaten Siak. Kendala-kendala yang dialami oleh pemerintahan Kampung Buatan Baru seperti yang dikatakan oleh penghulu Kampung yaitu:

“ Dalam implementasi kebijakan ini kami selaku pemerintahan Kampung menghadapi kendala berupa kebingungan diawal apakah terdapat perubahan secara signifikan dalam perubahan desa menjadi Kampung karena pada mulanya kurang dilakukan sosialisasi kepada kami, setelah itu kendala selanjutnya juga

59 Op, Cit. Suprianto pada tanggal 14 Desember 2016

terjadi kebingungan yang dialami oleh masyarakat yang sedikit banyak mereka tidak tahu terjadi perubahan tersebut dan tidak jarang juga masyarakat yang berpendapat bahwa lebih cocok untuk tetap sebagai pemerintahan desa’’.60

Upaya yang dilakukan pemerintah Kampung Buatan Baru dalam menghadapi kendala-kendala tersebut adalah dengan selalu berkoordinasi dengan pemerintahan Kabupaten Siak dan bersinergi serta konsolidasi dengan lembaga diruang lingkup Kampung Buatan Baru seperti Badan Permusyawaratan Kampung (BAPEKAM). Selanjutnya adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai adanya kebijakan Peraturan daerah No 1 Tahun 2015 tentang Perubahan penamaan desa menjadi Kampung. Upaya selanjutnya yaitu dengan melakukan perubahan-perubahan secara administratif seperti perubahan kop surat, dan perubahan plang nama instansi pemerintahan Kampung Buatan Baru dan instansi terkait lainnya yang juga untuk memberinkan informasi kepada masyarakat bahwa telah terjadi perubahan.

3.3. Menganalisis Sistem Pemerintahan Kampung di Kampung Buatan

Dokumen terkait