• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III Pembahasan Analisi Proses Transisi Pemerintahan Desa

3.3. Menganalisis kelembagaan dan administrasi dalam

3.3.1. Lembaga-Lembaga dalam Pemerintahan Kampung

negara. Dikatakan berkaitan dengan negara karena negara sebagai suatu organisasi pemerintahan dalam ruang lingkup lebih luas yang juga mencakup mengenai sistem serta kelembagan. Negara sebagai lembaga atau institusi memiliki tiga

komponen atau unsur penting dari pendapat Webber. Unsur pertama yaitu mengenai struktur, unsur kedua adalah kekuasaan dan unsur ketiga adalah kewenangan. Lembaga-lembaga dalam suatu organisasi pemerintahan menjadi sangat penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Lembaga-lembaga seperti yang dikatakan oleh webber harus mempunyai 3 unsur seperti yang dijelaskan dalam penjelasan diatas. Adapun lembaga-lembaga didalam pemerintahan Kampung Buatan Baru adalah;

1. Penghulu (eksekutif)

Penghulu adalah puncak kepemimpinan dalam pemerintahan Kampung di Kampung Buatan Baru. Penghulu sebagai pemimpin bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Kampung, Melaksanakan Pembangunan Kampung, pembinaan kemasyarakatan Kampung, dan pemberdayaan Masyarakat Kampung. Penghulu Kampung sebagai pemerintah Kampung adalah yang memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Warga Negara Indonesia

b. Bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa

c. Memegang teguh dan mengamalkan pancasila dan undang-undang Dasar 1945 serta memelihara keutuhan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika

d. Berpendidikan paling rendah SLTP/Sederajat

e. Berusia paling rendah 25 (Dua Puluh Lima) tahun pada saat mendaftar f. Bersedia dicalonkan sebagai penghulu

g. Terdaftar sebagai penduduk dan bertempat tinggal diKampung setempat kurang 1 (satu) tahun sebelum pendaftaran.

h. Tidak sedang mengalami hokum pidana penjara

i. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hokum tetap paling singkat 5 (lima) tahun

j. Tidak sedang dicabut hak pilihnya sesuai dengai putusan pengadilan k. Berbadan sehat dan

l. Tidak pernah menjabat sebagai penghulu selama 3(tiga) kali masa jabatan.

Penghulu sebagai kepala Kampung dalam penyelenggaraan kewenangan didasarkan pada UU No. 6 Tahun 2014 tentang desa karena secara khusus kewenangan Penghulu Kampung tidak diatur dalam Perda No 1 Tahun 2015.

adapun kewenangan penghulu Kampung yang didasarkan oleh Undang-Undang tersebut yaitu:

a. Memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa;

b. Mengangkat dan memberhentikan perangkat Desa;

c. Memegang kekuasaan pengelolaan Keuangan dan Aset Desa;

d. Menetapkan Peraturan Desa;

e. Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;

f. Membina kehidupan masyarakat Desa;

g. Membina ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa;

h. Membina dan meningkatkan perekonomian Desa serta mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat Desa;

i. mengembangkan sumber pendapatan Desa;

j. mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa;

k. mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat Desa;

l. memanfaatkan teknologi tepat guna;

m. mengoordinasikan Pembangunan Desa secara partisipatif;

n. mewakili Desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

dan

o. melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kewenangan penghulu berdasarkan UU No 6 Tahun 2014 diatas menjadi landasan atau aturan yang mengikat dalam penyelenggaraaan pemerintahan Kampung Buatan Baru. Disamping kewenangan yang telah diuraikan diatas penghulu bertanggung jawab terhadap Bupati seperti dalam wawancara dengan Bapak Suprianto yang menyatakan :

“Pemerintahan Kampung dalam hal ini adalah penghulu Bertanggung jawab secara vertikal kepada struktur diatasnya yaitu kepada bupati”71

71 Wawancara bapak Suprianto ( Kabid Pemerintahan Kampung Kabupaten Siak) pada tanggal 14 Desember 2016 pukul 12.30

Berdasarkan pernyataan bapak suprianto, pemerintahan Kampung dalam penyelenggaraan pemerintahan bertanggung jawab kepada struktur yang diatasnya. Hal ini menjelaskan bahwa penghulu sebagai pemimpin Kampung tetap berkoordinasi dengan pemerintahan kabupaten dalam hal ini yaitu bertanggung jawab kepada Bupati.

2. Badan Permusyawaratan Kampung ( Legislatif)

Penyelenggaraan pemerintahan Kampung selain penghulu sebagai eksekutif terdapat juga lembaga lainnya yaitu Badan Permusyawaratan Kampung.

BAPEKAM adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Kampung sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Kampung.72 Badan permusyawaratan Kampung berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintah Kampung.

Keanggotaan badan permusyawaratan Kampung ditetapkan dengan jumlah gasal, paling sedikit 5 (lima) orang dan paling banyak 9 (sembilan) orang, dengan memperhatikan luas wilayah, perempuan, penduduk dan kemampuan keuangan Kampung.73 Keanggotaan BAPEKAM ditentukan berdasarkan kriteria kuantitas jumlah penduduk dengan tingkat keterwakilan dengan jumlah gasal, ketentuan kriteria yang dimaksud yaitu:

a. jumlah penduduk sampai dengan 1000 jiwa, 5 orang anggota;

b. jumlah penduduk 1.001 jiwa sampai dengan 1.500 jiwa, 7 orang anggota; dan

72 Peraturan Daerah No 5 Tahun 2015 tentang Badan Permusyawaratan Kampung. Pasal 9 ayat 2

73 Ibid. pasal 9 ayat 1

c. jumlah penduduk lebih dari 1.501 jiwa, 9 orang anggota.74 A. Fungsi Badan Permusyawaratan Kampung

Fungsi BAPEKAM terbagi kedalam 3 fungsi, yaitu:

a. membahas dan menyepakati rancangan peraturan Kampung bersama penghulu;

b. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Kampung; dan melakukan pengawasan kinerja Penghulu.75

B. Tugas dan wewenang Badan Permusyawaratan Kampung

Berdasarkan fungsinya sebagai penyelenggara pemerintahan Kampung bersama penghulu, Badan Permusyawaratan Kampung mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:

a. membahas rancangan Peraturan Kampung bersama Penghulu;

b. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Kampung dan Peraturan Penghulu;

c. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Penghulu;

d. membentuk panitia pemilihan Penghulu;

e. menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat;

f. mengadakan perubahan Peraturan Kampung bersama Penghulu;

g. menyusun tata tertib BAPEKAM;

h. menetapkan calon Penghulu terpilih.76

74 Ibid, pasal 9 ayat 2

75 Ibid, pasal 3

C. Hak dan kewajiban Badan Permusyawaratan Kampung Badan Permusyawaratan Kampung juga memiliki hak:

a. mengawasi dan meminta keterangan tentang Penyelenggaran Pemerintahan Kampung kepada Pemerintah Kampung;

b. menyatakan pendapat atas penyelenggaraan pemerintahan Kampung, pelaksanaan pembangunan Kampung, pembinaan kemasyarakatan Kampung, dan pemberdayaan masyarakat Kampung;dan

c. mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung.77

Badan permusyawaratan Kampung secara keanggotaan mempunyai hak:

a. mengajukan usul Rancangan Peraturan Kampung;

b. mengajukan pertanyaan;

c. menyampaikan usul dan/atau pendapat;

d. memilih dan dipilih; dan

e. mendapat tunjangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung.78

Anggota BAPEKAM wajib:

a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, Melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.

76 Ibid, Pasal 4

77 Ibid, Pasal 5

78 Ibid, pasal 6

b. melaksanakan kehidupan demokrasi yang berkeadilan gender dalam penyelenggaraan Pemerintahan Kampung;

c. menyerap, menampung, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat Kampung;

d. mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan;

e. memproses pemilihan Penghulu;

f. menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga kemasyarakatan Kampung;

g. menghormati nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat;

h. membina ketentraman dan ketertiban masyarakat;

i. menjaga nama baik institusi BAPEKAM; dan

j. mematuhi dan melaksanakan sumpah janji pelantikan.79

Selain itu Badan Permusyawaratan Kampung juga berkewajiban untuk melaporkan hasil kinerja kepada Bupati melalui Camat secara tertulis paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun. (2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hasil kinerja BAPEKAM dan bantuan keuangan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah.80

79 Ibid, pasal 7

80 Ibid, pasal 8 ayat 1 dan 2

3.1.2. Mekanisme Perekrutan Lembaga-lembaga di Kampung

Proses pemilihan Badan Permusyawaratan Kampung dan Penghulu menggunakan proses yang demokratis. Sistem Pemerintahan Kampung menerapkan sistem demokrasi langsung yaitu pemilihan langsung Penghulu oleh masyarakat melalui pemungutan suara. Pemilihan penghulu dilaksanakan melalui 4 tahapan yaitu:

1. Persiapan 2. Pencalonan

3. Pemungutan Suara dan 4. Penetapan

Pada tahapan persiapaan pemilihan penghulu dilakukan diKampung terdiri atas kegiatan:

a. Pemberitahuan BAPEKAM kepada penghulu tentang akhir masa jabatan yang disampaikan 6 (enam) bulan sebelum berakhir masa jabatan;

b. Pembentukan panitia pemilihan penghulu oleh BAPEKAM ditetapkan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari setelah pemberitahuan akhir masa jabatan;

c. Laporan akhir masa jabatan penghulu kepada bupati disampaikan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah pemberitahuan akhir masa jabatan;

d. Perencanaan biaya pemilihan diajukan oleh panitia kepada bupati melalui camat dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah terbentuknya panitia pemilihan;

dan

e. Persetujuan biaya pemilihan dari bupati dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diajukan oleh panitia.81

Selanjutnya panitia pemilihan melakukan pembukaan pendaftaran bakal calon dan penjaringan bakal calon kemudian menetapkannya sebagai calon penghulu. Sebelum proses pemilihan penghulu panitia memberikan kesempatan kepada calon untuk berkampanye. Pada masa pemilihan panitia pemilihan memfasilitasi peralatan dan perlengkapan dan tempat pemungutan suara. Setelah itu menetapkan rekapitulasi penghitungan suara serta mengumumkan hasil penetapan. Dan menetapkan calon penghulu terpilih. penetapan calon penghulu terpilih adalah berdasarkan suara terbanyak. Penetapan penghulu didasarkan atas surat keputusan dari Bupati. Pelantikan dan pengukuhan penghulu juga dilakukan oleh Bupati.

Badan Permusyawaratan Kampung ditetapkan dengan jumlah gasal, paling sedikit 5 (lima) orang dan paling banyak 9 (sembilan) orang dengan memperhatikan luas wilayah, perempuan, penduduk dan kemampuan keuangan Kampung.82 Kriteria penetapan selanjutnya juga ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. jumlah penduduk sampai dengan 1000 jiwa, 5 orang anggota;

b. jumlah penduduk 1.001 jiwa sampai dengan 1.500 jiwa, 7 orang anggota; dan c. jumlah penduduk lebih dari 1.501 jiwa, 9 orang anggota.83

81 Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2015 tentang Proses Pemilihan Dan Penetapan Penghulu Pasal 6 Ayat 2

82 Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2015 Tentang Badan Permusyawaratan Kampung Pasal 9 Ayat 1

83 Ibid. pasal 9 ayat 2

Kriteria ketentuan diatas menjelaskan bahwa kuantitas keanggotaan badan permusyawaratan Kampung didasarkan dan disesuaikan dengan kuantitas jumlah penduduk. Anggota Badan Permusyawaratan Kampung merupakan wakil penduduk Kampung bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah yang pengisiannya dilakukan secara demokratis melalui proses pemilihan secara langsung atau musyawarah mufakat dengan menjamin keterwakilan perempuan.84 Anggota BAPEKAM yang didasarkan pada keterwakilan wilayah melalui proses yang demokratis dengan cara pemilihan langsung maupun musyawarah mufakat dengan menjamin keterwakilan perempuan terdiri dari tokoh masyarakat, Tokoh Pemuda dan Tokoh perempuan.85

Calon anggota BAPEKAM harus memenuhi beberapa syarat diantaranya:

Persyaratan untuk calon Anggota BAPEKAM adalah : a. Bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

b. Memegang Teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika;

c. Berpendidikan paling rendah berijazah sekolah lanjutan tingkat pertama/sederajat, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Instansi yang berwenang;

d. Bertempat tinggal di Kampung minimal 6 (enam) bulan berturut-turut;

84 Peraturan Daerah No. 5 tahun 2015 tentang Badan Permusyawaratan Kampung pasal 10 ayat 1

85 Ibid. pasal 10 ayat 2

e. Berumur paling rendah minimal 20 (dua puluh) tahun atau sudah/pernah menikah;

f. Sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan Dokter;

g. Bersedia dicalonkan menjadi anggota BAPEKAM;

h. Tidak sedang menjalani hukuman atau terdakwa;

i. Mengenal Kampungnya dan dikenal oleh masyarakat setempat;

j. Khusus Ketua Rukun Kampung dan Ketua Rukun Tetangga minimal memangku jabatan tersebut selama 6 (enam) bulan sebelum pemilihan k. Wakil penduduk Kampung yang terpilih secara demokratis;

l. Pegawai negeri sipil, honorer dan pegawai swasta harus mendapat izin tertulis dari atasannya;

m. Bukan sebagai perangkat Pemerintah Kampung;86

Calon anggota BAPEKAM harus memenuhi syarat dan ketentuan yang telah diuraikan diatas agar dapat menjadi kandidat calon BAPEKAM. Masa jabatan anggota BAPEKAM adalah selama 6 (enam) tahun terhitung sejak tanggal pengucapan sumpah/janji dan dapat diangkat/diusulkan kembali untuk 2 (dua) kali masa jabatan berikutnya.87Pimpinan dalam Badan Permusyawarakatan Kampung terdiri dari 1 ( satu) orang Ketua , 1 (satu) orang wakil ketua dan 1 ( satu) orang sekretaris. Pemilihan pimpinan dipilih dari dan oleh anggota BAPEKAM secara langsung dalam rapat BAPEKAM yang diadakan secara khusus. Rapat pemilihan

86 Ibid Pasal 14

87 Ibid Pasal 15

pimpinan BAPEKAM untuk pertama kali dipimpin oleh anggota tertua dan dibantu oleh anggota termuda.

Alur pemilihan anggota BAPEKAM diawali dengan pembentukan panitia pengisian keanggotaan BAPEKAM dan ditetapkan dengan keputusan Penghulu.

Panitia Pengisian anggota BAPEKAM terdiri dari unsure perangkat Kampung dan unsure masyarakat lainnya dengan jumlah anggota dan komposisi yang proporsional. panitia bertugas untuk: Memilih peserta musyawarah yang terdiri dari keterwakilan Rukun Kampung, Rukun Tetangga dan Tokoh masyarakat;

menjaring calon anggota BAPEKAM yang merupakan wakil penduduk Kampung bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah; dan peserta musyawarah dan calon anggota BAPEKAM diumumkan selama 7 (tujuh) hari. Calon anggota terpilih yang ditetapkan berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat disesuaikan dengan ketentuan jumlah keanggotaan BAPEKAM. Hasil musyawarah dan mufakat yang telah menetapkan Anggota BAPEKAM terpilih dituangkan dalam Berita Acara dan disampaikan kepada Bupati untuk mendapatkan pengesahan dengan menerbitkan Surat Keputusan Bupati. Kemudian pengesahan anggota BAPEKAM ditetapkan dengan keputusan Bupati dan dilantik oleh pejabat yang berwenang.

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dinamika pengaturan desa atau pengaturan sub-pemerintahan terendah menjadi satu hal yang menarik dalam pembahasan terkait dengan system pemerintahan dalam konteks demokrasi lokal. Sub pemerintahan terendah dibeberapa daerah di Indonesia seperti nagari di Minang Kabau, Nagori di Simalungun, Gampong di Aceh dan Kampung atau kepenghuluan yang ada di daerah siak menjadi ke istimewaan tersendiri, akan tetapi seiring perkembangan terdapat sedikit pergeseran-pergeseran yang timbul akibat dinamika pengaturan tersebut.

Dinamika pengaturan desa atau dengan sebutan lainnya dalam hal ini adalah perubahan penamaan desa menjadi Kampung di Kampung Buatan Baru Kabupaten Siak menjadi salah satu fenomena yang sangat menarik.

Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan penelitian ini adalah:

1. Dinamika pengaturan desa menjadi salah satu hal yang menarik dalam konteks politik. bongkar pasang kebijakan berdampak bagi pengaturan sub pemerintahan terendah tersebut. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan menimbulkan pergeseran-pergeseran dan melunturnya adat istiadat dan kearifan lokal. Pelaksanaan UU No. 6

tahun 2014 tentang Desa di Indonesia telah melahirkan penerapan kembali pengaturan sistem pemerintahan terendah maupun penggunaan nomenklatur dalam pengaturan pemerintahan terendah seperti yang tertuang dalam Peraturan Daerah No. 1 tahun 2015 Tentang perubahan penamaan desa menjadi Kampung di Kabupaten Siak yang salah satu daerah menerapkan kebijakan tersebut adalah Kampung Buatan Baru.

2. Perubahan Desa menjadi Kampung di Kampung Buatan Baru tidak signifikan bergeser dalam konteks sistem pemerintahan, kelembagaan dan kewenangan serta proses dan mekanisme perekrutan melainkan pergeseran terjadi hanya pada nomenklatur. Pergeseran itu diantaranya adalah perubahan penamaan desa menjadi Kampung dan perangkat pemerintahan Kampung serta lembaga pemerintahan diruang lingkup Kampung.

3. Dampak yang dirasakan masyarakat diKampung Buatan Baru dalam penerapan regulasi ini adalah perubahan nomenklatur desa menjadi Kampung dan yang berkaitan lainnya yang berdampak pada pelayanan dibidang administrasi seperti surat menyurat yang harus menyesuaikan dengan peraturan baru.

4. Kendala-kendala yang dialami dalam perubahan ini adalah ada kontra dimasyarakat yang menginginkan tetap kepada desa, dan kurangnnya pemahaman aparatur desa mengenai perubahan ini serta kurangnya

sosialisasi kepada masyarakat. Kendala lainnya yaitu perlunya melakukan peralihan baik itu surat menyurat maupun palng-plang pemerintahan yang memerlukan dana tidak sedikit.

4.2. Saran

Adapun saran yang dapat penulis berikan setelah melakukan penelitian terhadap Proses Transisi pemerintahan desa menjadi Kampung di Kampung Buatan Baru , yaitu :

1. Pemerintahan Kabupaten Siak harus melakukan riset lebih mendalam mengenai sistem pemerintahan Kampung yang sesuai dengan nilai, norma dan adat istiadat dan melibatkan seluruh pihak untuk membahas lebih komprehensif tentang tata system pemerintahan Kampung yang dinilai masih mengambang serta bias karena kurangnya informasi mengenai tata system pemerintahan Kampung yang baku guna terbangunnya system pemerintahan Kampung yang penerapannya sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang masih melekat di masyarakat.

2. Terkait dengan akan diterapkannya Peraturan Daerah No 1 Tahun 2015 Tentang Perubahan penamaan desa. Pemerintahan kabupaten maupun pemerintahan desa harus melakukan sosialisasi yang intens secara bertahap kepada elemen masyarakat guna menunjang berjalannya roda pemerintahan yang meliputi pembangunan dan pelayanan publik.

3. Pemerintahan Kampung Buatan Baru perlu menerapkan strategi dan langkah-langkah khusus untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut serta meminimalisir dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari perubahan penamaan desa menjadi Kampung.

DAFTAR PUSTAKA

Anatomi UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO)

Creswell. John W. 2014. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Eko, Sutoro dan Ari Dwipayana. 2003. Membangun Good Governance di Desa.

Yogyakarta : IRE Press.

Hanif, Nurkhollis.2011. Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

Jakarta : Erlangga.

Himawan. Pambudi. 2001. Politik Pemberdayaan, Jalan Mewujudkan Otonomi Desa . Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.

Koentjaraningrat. 1999. Metode-metode Panelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia.

Maschab, Mashuri.2013. Politik Pemerintahan Desa Di Indonesia. PolGov, Yogyakarta.

Moleong.Lexy J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nawawi.Hadari. 1987.Metodologi Penelitian Bidang Sosial.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Nogroho, Riant. 2008. Public Policy. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Rahardjo, Adisasmita. 2006. Membangun Desa Partisipatif. Makassar : Graha Ilmu.

Ramlan Surbakti. 2007. Memahami Ilmu Politik. Jakarta : PT. Grasindo

Surasih. Maria Eni Surasih. 2006. Pemerintah Desa dan Implementasinya.

Jakarta: Erlangga.

Taliziduhu Ndraha. Taliziduhu. 1997. Metodologi Ilmu Pemerintahan, Jakarta : Rineka Cipta.

Widjaja. HAW. 2003. Otonomi Desa Merupakan Otonomi Yang Asli, Bulat Dan Utuh . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Winarno.Budi. 2004.Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta : Media Pressindo.

Zulkifli, Afni. 2011. Aku Untuk Siak “Setapak Langkah Menoreh Sejarah”.

Jakarta: PT. Bintang Sempurna.

Perundang-Undangan

Peraturan Daearah No 3 tahun 2015 tentang pemilihan Penghulu

Peraturan Daerah No 5 Tentang Proses pemilihan dan pengangkatan Badan permusyawaratan Kampung

Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2015 tentang perubahan penamaan desa menjadi Kampung.

Peraturan No. 43 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan pemerintah desa

Undang- Undang No. 53 Tahun I999 Tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, Dan Kota Batam

Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen.

Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

Sumber Penelitian

Sistem Pemerintahan Nagari ( Studi Kasus : Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Nagari Di Nagari Cingkariang Kabupaten Agam Menurut Perda No 12 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Nagari.”

Sumber Situs Internet

http//Repository.usu.ac.id/Handle/123456789/17737 Diakses pada tanggal 29 Maret pukul 20.00 WIB

“Sejarah raja-raja kerajaan Siak” tersedia di

http://w4n-paradiseofindonesia.blogspot.co.id/ dipublikasikan pada tanggal 23 November 2010. di akses pada tanggal 29 Maret 2016 pukul 18.00 WIB.

Kesultanan siak sri indrapurahttp://melayuonline.com

/ind/history/dig/360/kesultanan-siak-sri-indrapura diakses pada tanggal 29 Maret 2016 pukul 18.10.

Dokumen terkait