• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENYELESAIKAN SENGKETA PERTANAHAN

B. Kelembagaan yang Menangani Sengketa Pertanahan

Dengan adanya perhatian Pemerintah untuk menangani sengketa pertanahan yang timbul di masyarakat, bahkan dengan terus meningkatnya permasalahan yang muncul di bidang pertanahan, maka Pemerintah juga mengambil kebijakan strategis yakni instansi yang menangani bidang keagrariaan/pertanahan tersebut ditingkatkan status kelembagaannya.

Bila selama ini instansi yang menangani masalah pertanahan hanya setingkat Direktorat Jenderal Agraria pada Kementerian Dalam Negeri sehingga terkendala dalam melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait terutama dalam penanganan sengketa pertanahan, maka Pemerintah Orde Baru mengambil kebijakan dengan meningkatkan statusnya menjadi Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) yang berkedudukan dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden yang disebut dengan Badan Pertanahan Nasional, yang dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional .

Dalam konsideran Menimbang dari Keputusan Presiden tersebut dinyatakan bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional, adanya kebutuhan, penguasaan dan penggunaan tanah pada umumnya termasuk untuk kepentingan pembangunan dirasakan makin meningkat, yang diikuti pula meningkatnya permasalahan yang timbul di bidang pertanahan. Untuk dapat menyelesaikan permasalahan di bidang pertanahan secara tuntas, maka dipandang perlu meninjau kembali kedudukan, tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri dan

meningkatkannya menjadi suatu lembaga yang menangani bidang pertanahan secara nasional.

Dalam Keputusan Presiden tersebut, ditegaskan bahwa Badan Pertanahan Nasional bertugas membantu Presiden dalam mengelola dan mengembangkan administrasi pertanahan, baik berdasarkan Undang Undang Pokok Agraria maupun peraturan perundang-undangan lain yang meliputi pengaturan, penggunaan, penguasaan dan pemilikan tanah, pengurusan hak-hak atas tanah dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah pertanahan berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Presiden.

Ditetapkan juga dalam Kuputusan Presiden tersebut bahwa struktur organisasi Badan Pertanahan Nasional, yakni terdapat satu orang Kepala dan lima Kedeputian, salah satu Kedeputian diberi nama Deputi Bidang Hak-Hak Tanah.

Pada Pasal 16 Keputusan Presiden tersebut ditentukan bahwa Deputi Bidang Hak Hak Tanah menyelenggarakan fungsi antara lain menyelesaikan sengketa hukum di bidang pertanahan serta kegiatan penerbitan hak atas tanah.

Ditentukan juga bahwa sebagai perpanjangan tangan Badan Pertanahan Nasional di daerah, dibentuk Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi dan Kantor Pertanahan di Kabupaten/Kota dengan kedudukan sebagai instansi vertikal.

Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 tahun 1989 tanggal 31 Januari 1989 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi dan Kantor Pertanahan di

Kabupaten/Kotamadya ditentukan bahwa struktur organisasi Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi terdiri dari satu Kepala, satu Bagian Tata Usaha dan 4 (empat) Bidang.

Salah satunya adalah Bidang Hak Hak Atas Tanah yang mempunyai fungsi antara lain menyiapkan telaahan penyelesaian masalah pertanahan. Kemudian Bidang Hak Hak Tanah tersebut membawahi 4 (empat) seksi, yakni Seksi Pengurusan Hak Tanah Perorangan, Seksi Pengurusan Hak Badan Hukum, Seksi Pengadaan Tanah Instansi Pemerintah dan Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan.

Adapun Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan tersebut mempunyai tugas menyiapkan telaahan dan melakukan kegiatan penyelesaian masalah pertanahan.

Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 tahun 1989 tersebut ditindaklanjuti dengan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 tahun 1993 tentang Uraian Tugas Sub Bagian dan Seksi pada Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional di Provinsi dan Uraian Tugas Sub Bagian, Seksi dan Urusan serta Sub Seksi pada Kantor Pertanahan di Kabupaten/Kotamadya.

Dalam Pasal 20 Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 tahun 1993 tersebut, uraian tugas Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan adalah sebagai berikut :

a. Membantu Kepala Bidang Hak-hak atas tanah dalam melaksanakan tugas di bidang penelahaan dan penyelesaian masalah pertanahan;

b. Menyampaikan saran-saran dan atau pertimbangan-pertimbangan kepada Kepala Bidang Hak hak atas Tanah tentang langkah-langkah atau tindakan yang perlu diambil di bidang penyelesaian masalah pertanahan;

c. Menghimpun dan mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijaksanaan, pedoman dan petunjuk teknis serta bahan-bahan lainnya yang berhubungan dengan bidang tugasnya sebagai pedoman dan landasan kerja;

d. Membuat rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan sebagai pedoman pelaksanaan tugas serta melaksanakan monitoring pelaksanaannya;

e. Mempersiapkan bahan-bahan dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan, pedoman dan petunjuk teknis di bidang penyelesaian masalah pertanahan; f. Mengumpulkan, menghimpun dan mensistematisasikan / mengolah data dan

informasi yang berhubungan dengan bidang penyelesaian masalah pertanahan; g. Melakukan invetarisasi permasalahan dan mengumpulkan bahan-bahan dalam

rangka pemecahan masalah di bidang penyelesaian masalah pertanahan; h. Melakukan hubungan kerja dalam rangka kelancaran pelakanaan tugasnya

dengan Seksi di lingkungan Bidang Hak hak atas Tanah Kantor Wilayah BPN dan unit kerja yang terkait di lingkungan Kantor Wilayah BPN;

i. Menerima laporan-laporan, gugatan-gugatan, menyiapkan bahan, memori jawaban dan memori kasasi, memori banding dan peninjauan kembali atas perkara yang diajukan melalui pengadilan terhadap perorangan dan badan hukum yang merugikan negara, serta menyiapkan konsep surat penyelesaian sengketa tanah;

j. Menyiapkan telaahan dan mengolah data untuk penyelesaian perkara di bidang pertanahan;

k. Menyiapkan konsep surat keputusan, jawaban, duplik, bukti-bukti, kesimpulan dan memori / kontra memori banding, kasasi dan peninjauan kembali atas gugatan yang diajukan melalui pengadilan umum dan Pengadilan Tata Usaha Negara oleh perorangan atau badan hukum swasta / pemerintah yang merasa haknya / kepentingannya dirugikan;

l. Melakukan pengumpulan data sengketa tanah dan menelaah serta menyiapkan konsep surat keputusan mengenai penyelesaian sengketa tanah;

m. Melakukan pengumpulan data dan mengolah masalah atas tanah yang belum ada haknya dalam rangka pemberian atau penguasaan atas tanah;

n. Menyimpan dan memelihara serta menyajikan data di bidang pengurusan hak atas tanah;

o. Menghadiri sidang-sidang di pengadilan sehubungan dengan permasalahan pertanahan sesuai dengan panggilan yang diterima dari pihak pengadilan apabila BPN digugat atau sebagai saksi ahli;

p. Melaksanakan evaluasi dan menyusun laporan pelaksanaan pekerjaan di bidang penyelesaian masalah pertanahan;

q. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Hak hak atas Tanah sesuai dengan bidang tugasnya.

Namun dengan makin banyaknya sengketa pertanahan, maka untuk penanganannya, Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional menerbitkan Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 tahun 1999 tanggal 29 Januari 1999 tentang Tata Cara Penanganan Sengketa Pertanahan, yakni dengan membentuk unit kerja prosedural yang keanggotaannya berasal dari unit kerja struktural di lingkungan Kantor Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Khusus di Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi ditugaskan kepada Kepala Bidang Hak Atas Tanah yang dibantu oleh beberapa tim sesuai dengan klasifikasi masalah pertanahan yang ditanganinya.

Keadaan adanya sub-unit berupa Seksi yang menangani masalah/sengketa pertanahan yang berada di bawah unit Hak hak atas Tanah sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1988 dan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 tahun 1989 dan Nomor 6 tahun 1993 serta Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 tahun 1999 tersebut, berlanjut dengan diterbitkannya beberapa peraturan berkaitan dengan tuntutan otonomi daerah terutama setelah berlakunya Undang Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang dalam Pasal 11 ayat (2) dinyatakan bahwa urusan pertanahan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah. Artinya urusan pertanahan yang selama ini dilaksanakan oleh instansi BPN wajib dilimpahkan wewenangnya kepada Pemerintah Kabupaten/Kota.

Berkaitan dengan diterbitkannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut maka terjadi kebingungan di lingkungan Badan Peranahan Nasional, sehingga Pemerintah mengambil kebijakan dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 10 tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang Pertanahan, yang menegaskan bahwa sebelum ditetapkan peraturan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, pelaksanaan otonomi daerah di bidang pertanahan, berlaku peraturan, keputusan, instruksi dan surat edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional yang telah ada.

Selanjutnya dengan Keputusan Presiden Nomor 95 tahun 2000 tentang Badan Pertanahan Nasional yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pertanahan Nasional, diadakan perombakan dari nomenkalur Badan Pertanahan Nasional, misalnya Deputi Bidang Hak hak atas Tanah diganti menjadi Deputi Bidang Pengkajian dan Hukum Pertanahan yang membawahi Direktorat Pengurusan Hak hak Atas Tanah, Direktorat Pengadaaan Tanah Instansi Pemerintah dan Direktorat Hukum Pertanahan. Dalam Direktorat Hukum Pertanahan inilah diberikan tugas dalam penyelesaian masalah pertanahan.

Oleh karena tuntutan otonomi daerah tidak dapat dibendung lagi serta dengan memperhatikan perkembangan kondisi yang ada pada saat itu, maka diterbitkanlah

Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan.53

Perkembangan selanjutnya, diterbitkanlah Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan revisi dari Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999. Pada Pasal 14 ayat (1) huruf k Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 diatur bahwa urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah untuk Kabupaten/Kota merupakan urusan yang berskala Kabupaten/Kota antara lain meliputi pelayanan pertanahan. Apabila pelayanan pertanahan tersebut termasuk lintas Kabupaten/Kota atau merupakan urusan dalam skala provinsi maka berdasarkan Pasal 13 ayat (1) huruf k menjadi urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi.

Sekalipun telah diatur dalam undang-undang, namun bidang pertanahan tetap belum dapat diotonomkan, hal ini berkaitan dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional, yang dengan tegas menyatakan bahwa Badan Pertanahan Nasional adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden yang

53 Ketentuan dalam Pasal 2 Keputusan Presiden tersebut menayatakan bahwa sebagian kewenangan Pemerintah di bidang pertanahan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, yaitu kewenangan yang berkaitan dengan : 1) pemberian ijin lokasi; 2) penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan; 3) penyelesaian sengketa tanah garapan; 4) penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; 5) penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee; 6) penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat; 7) pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong; 8) pemberian ijin membuka tanah dan ; 9) perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota.

bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral.

Dalam aturan peralihannya antara lain dinyatakan bahwa seluruh satuan organisasi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional, Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi, Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota tetap melaksanakan tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional.

Dengan demikian, pada struktur organisasi Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi terdapat satu sub unit kerja yang berada di bawah unit Hak hak atas Tanah yang diberi nama Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan yang diberikan kewenangan untuk melakukan telaahan dan melakukan kegiatan penyelesaian masalah pertanahan, artinya selain melakukan pengkajian dari sudut hukum atas masalah pertanahan yang ada, kewenangan yang diberikan juga dalam hal melakukan aksi nyata dalam mencari penyelesaian atas permasalahan tanah yang timbul.