MENYELESAIKAN SENGKETA PERTANAHAN
C. Penguatan kelembagaan yang Menangani Sengketa Pertanahan
Kedudukan satu sub unit kerja yang menangani sengketa atau masalah pertanahan tersebut dengan berada di dalam struktur unit yang menangani hak-hak atas tanah berjalan hingga diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional.
Sejak penerbitan Keputusan Presiden Nomor 26 tahun 1988 dan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 tahun 1989, maka telah diformalkan satu sub unit kerja yang dicantolkan pada unit yang menangani hak-hak atas tanah yang melakukan tugas dan kewenangan dalam menyelesaikan masalah pertanahan,
walaupun dengan tingkatan Kepala Seksi pada Kantor Wilayah BPN Provinsi atau pejabatnya setingkat eselon-IV,54namun dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 tersebut, diambil kebijakan untuk penguatan unit kerja yang berdiri sendiri yang menangani sengketa dan konflik pertanahan dan tidak lagi berada di bawah unit kerja bidang lain.
Dalam konsideran Menimbang Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 tersebut antara lain ditentukan bahwa pengaturan dan pengelolaan pertanahan tidak hanya ditujukan untuk menciptakan ketertiban hukum, tetapi juga untuk menyelesaikan masalah, sengketa dan konflik pertanahan yang timbul.
Selanjutnya dalam Pasal 3 Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 ditentukan bahwa Badan Pertanahan Nasional menjalankan fungsi antara lain melakukan pengkajian dan penanganan masalah, sengketa, perkara dan konflik di bidang pertanahan.
Untuk menjalankan fungsi tersebut, maka pada Pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 ditetapkan susunan organisasi Badan Pertanahan Nasional, terdiri dari Kepala, Sekrataris Utama, lima Kedeputian, dan inspektorat Utama.
Hal yang baru antara lain adalah diadakannya Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan (Deputi V), sedang 4 (empat)
54 Sungguhpun sebenarnya adanya Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan tersebut pada dasarnya merupakan kelanjutan dari Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 tahun 1981 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Agraria Provinsi dan Kantor Agraria Kabupaten/Kotamadya, yakni Pasal 35 khususnya mengenai pembentukan Seksi Bimbingan Teknis dan Penyelesaian Sengketa Hukum yang bertugas memberikan bimbingan teknis di bidang pengurusan hak-hak tanah dan menyelesaikan sengketa hukum yang berhubungan dengan hak-hak tanah. (Rusmadi Murad,Op.cit., hal. 22)
kedeputian lagi adalah Deputi Bidang Survey, Pengukuran dan Pemetaan (Deputi-I), Deputi Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah (Deputi-II), Deputi Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan (Deputi-III) dan Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat (Deputi-IV).
Dengan diadakannya Deputi-V tersebut, maka terjadi peningkatan status unit yang bertugas dalam penanganan sengketa pertanahan tersebut yakni menjadi unit/kedeputian tersendiri, tidak lagi dicantolkan ke dalam unit yang menangani hak-hak atas tanah dan penadaftaran tanah.
Menurut Joyo Winoto, Kepala Badan Pertanahan Nasional RI, dulu kita tidak punya perangkat untuk menangani sengketa dan konflik pertanahan, kini sudah punya pejabat eselon-1 yang menanganinya, juga yang menangani hal tersebut ada di Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan.55
Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 21 Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 tersebut adalah unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional di bidang pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala.
Pasal 22 Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 lebih lanjut ditentukan bahwa Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan
55 Pidato Joyo Winoto pada Sarasehan Nasional Bidang Pertanahan di Hotel Tiara Medan, tanggal 13 Nopember 2006
mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan.
Selanjutnya Pasal 23 Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 lebih jelas diuraikan bahwa dalam melaksanakan tugas tersebut, Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijakan teknis di bidang pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan;
b. pengkajian dan pemetaan secara sistematis berbagai masalah, sengketa dan konflik pertanahan;
c. penanganan masalah sengketa dan konflik pertanahan secara hukum dan non-hukum;
d. penanganan perkara pertanahan
e. pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah, sengketa dan konflik pertanahan melalui bentuk mediasi, fasilitasi dan lainnya;
f. pelaksanaan putusan-putusan lembaga peradilan yang berkaitan dengan pertanahan;
g. penyiapan pembatalan dan penghentian hubungan hukum antara orang, dan / atau badan hukum dengan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perudang-undangan yang berlaku.
Berikutnya diterbitkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan.
Dalam Pasal 4 dan 54 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 tahun 2006 tersebut ditentukan bahwa unit yang menangani Sengketa dan konflik Pertanahan adalah Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan di Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan Seksi Sengketa, Konflik dan Perkara di Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.
Selanjutnya pada Pasal 25 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 tahun 2006 ditentukan bahwa Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan mempunyai tugas mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan teknis penanganan sengketa, konflik, dan perkara pertanahan.
Dalam menyelenggarakan tugas dimaksud, maka Pasal 26 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 tahun 2006 diatur bahwa Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan mempunyai fungsi:
a. penyusunan rencana dan program di bidang penanganan sengketa, konflik, dan perkara pertanahan;
b. pelaksanaan penanganan sengketa, konflik, dan perkara pertanahan;
c. pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penanganan sengketa, konflik, dan perkara pertanahan;
d. penyiapan bahan dan penanganan masalah, sengketa, dan konflik pertanahan secara hukum dan non hukum; mediasi dan fasilitasi penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan; penanganan perkara di pengadilan;
e. penyiapan usulan dan rekomendasi pelaksanaan putusan-putusan lembaga peradilan;
f. penelitian data dan penyiapan pembatalan serta penyiapan usulan rekomendasi dan penghentian hubungan hukum antara orang, dan/atau badan hukum dengan tanah;
g. pengkoordinasian dan bimbingan teknis penanganan sengketa, konflik, dan perkara pertanahan.
Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan terdiri dari 2 (dua) seksi, yakni :
a. Seksi Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan b. Seksi Pengkajian dan Penanganan Perkara Pertanahan.
Seksi Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan mempunyai tugas menyiapkan bahan pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik, pembatalan, dan penghentian, usulan rekomendasi pembatalan dan
penghentian hubungan hukum antara orang dan/atau badan hukum dengan tanah; pelaksanaan alternatif penyelesaian sengketa melalui mediasi, fasilitasi, koordinasi dan pembinaan teknis.
Sedangkan Seksi Pengkajian dan Penanganan Perkara Pertanahan mempunyai tugas menyiapkan bahan pengkajian, dan penyelesaian perkara, pembatalan, dan penghentian, usulan rekomendasi pembatalan dan penghentian hubungan hukum antara orang dan/atau badan hukum dengan tanah sebagai pelaksanaan putusan lembaga peradilan serta koordinasi dan bimbingan teknis.
Dengan adanya ketentuan tersebut, maka sudah sangat jelas kewenangan dari instansi Badan Pertanahan Nasional khususnya unit yang menangani sengketa pertanahan, yang juga diberi kewenangan untuk melakukan aksi nyata berupa pelaksanaan penanganan sengketa, konflik, dan perkara pertanahan, baik secara hukum dan non hukum; mediasi dan fasilitasi penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan, termasuk penanganan perkara di pengadilan.
Maksud dari kewenangan menyelesaikan sengketa pertanahan tersebut adalah dengan melakukan fungsi pelayanan kepada masyarakat atas laporan atau pengaduan pihak-pihak yang bersengketa, lalu diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat, apabila ada kata sepakat di antara para pihak, maka Badan Pertanahan Nasional akan menindaklanjuti kesepakatan tersebut dengan melakukan penyesuaian atas data pendaftaran tanah yang ada.
Tentunya sebagaimana disebutkan di atas bahwa penanganan sengketa pertanahan dengan membentuk Tim atau penguatan kelembagaan dan memberikan
kewenangan yang lebih luas serta diikuti oleh aksi nyata sehingga ada peningkatan yang diperoleh dari hasil kerja dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, maka dapat dinilai cukup untuk menyelesaikan sengketa pertanahan, sebab penyelesaian tersebut tidak hanya sebatas bersifat prosedural tetapi mempertimbangkan faktor substansinya yang diuapayakan penyelesaiannya secara tuntas.
Sungguhpun sebenarnya disadari bahwa penyelesaian sengketa pertanahan tidaklah semudah yang dibayangkan, banyak faktor-faktor yang mempengaruhi, sehingga penanganan sengketa yang dilakukan oleh lembaga Badan Pertanahan Nasional melalui berbagai metoda seperti melakukan musyawarah, mediasi dan memfasilitasi tidak selalu diterima oleh para pihak yang bersangketa, sehingga dapat dianggap tanah tersebut masih tetap dalam keadaan sengketa.
Bahkan apabila ada salah satu pihak yang tidak puas dengan cara kerja Badan Pertanahan Nasional, dengan kata lain tetap tidak dapat dicapai kata sepakat dalam musyawarah tersebut, karena masing-masing pihak merasa punya dasar hukum dalam penguasaan atas tanah, sehingga harus hadir pihak ketiga yang menguji kekuatan bukti haknya, maka akan disarankan untuk diselesaikan melalui lembaga peradilan sesuai dengan ketentuan Undang Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman sebagai perubahan dari Undang Undang Nomor 4 tahun 2004 yang dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara dan oleh sebuah
mahkamah konstitusi yang merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
Penyelesaian melalui lembaga peradilan tersebut dilakukan melalui proses memeriksa, mengadili dan memutus perkaranya serta melaksanakan (eksekusi) putusannya, sehingga pelaksanaan putusan pengadilan tersebut dijadikan sebagai dasar penyelesaian secara tuntas dari sengketa tersebut.
Setelah ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap dan telah dilakukan pelaksanaan putusan (eksekusi), barulah pihak yang dimenangkan oleh pengadilan menindaklanjutinya dengan mengajukan permohonan untuk penyesuaian data pendaftaran tanahnya ke instansi Badan Pertanahan Nasional sepanjang bidang tanah tersebut telah terdaftar, atau mengajukan permohonan hak atas tanah untuk didaftar kepada atas namanya apabila tanahnya belum terdaftar.
Selain penyelesaian melalui lembaga peradilan, maka penanganan dan penyelesaian sengketa pertanahan dimungkinkan di luar pengadilan dan untuk itu telah diterbitkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 34 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penanganan dan Penyelesaian Masalah Pertanahan, yang kemudian disempurnakan dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan.
Penyelesaian sengketa pertanahan sering mengalami kesulitan antara lain karena masyarakat menganggap bahwa keberadaan tanah merupakan aset pribadi yang wajib dipertahankan terhadap siapa saja, dan apabila terjadi sengketa dengan
pihak lain maka sering dianggap sebagai pertarungan harga diri yang harus dimenangkan sekalipun dengan menghabiskan sumber dana dan sumber daya yang melebihi dari nilai tanahnya, oleh karena itu setiap sengketa tanah harus dimenangkan dan tidak ada peluang untuk memberikan toleransi terhadap pihak lain.
Oleh karena sulitnya melaksanakan penanganan sengketa di bidang pertanahan dan metode penyelesaian yang ditempuh oleh Badan Pertanahan Nasional selalu tidak dapat memuaskan para pihak yang bersengketa sehingga selamanya obyek tanah yang disengketakan tetap dalam status bermasalah, maka sesuai dengan kewenangan yang ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan, maka upaya penanganan sengketa pertanahan tersebut dibuat tolak ukur penyelesaiannya, artinya sengketa pertanahan yang ditangani oleh Badan Pertanahan Nasional dibuat kriteria penyelesaiannya, apabila kriteria tersebut dipenuhi, maka sengketa pertanahan tersebut dapat dianggap selesai.
Kriteria penyelesaian sengketa pertanahan tersebut, sebelum tahun 2011 pada dasarnya belum diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan, namun telah dilembagakan dalam praktek dan telah dimasukkan dalam Sistem Informasi Sengketa, Konflik, Perkara Pertanahan mulai tahun 2010 yang dapat diaplikasi melalui jaringan internet. Dengan mempedomani 5 (lima) kriteria tersebut Badan Pertanahan Nasional melaksanakan tugas dan kewenanganannya dalam penyelesaian sengketa pertanahan dan membuat pelaporan Aplikasi Sistem Informasi Sengketa
Konflik dan Perkara Pertanahan dengan akses aplikasi yang menggunakan browser : http://skp.bpn.go.id.56
Namun saat ini kriteria penyelesaian sengketa pertanahan tersebut telah diatur dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan.
Dalam peraturan tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 72 diatur kriteria dan bentuk penyelesaian, dalam hal ini kasus pertanahan yang dalam penanganan BPN RI dinyatakan selesai dengan kriteria penyelesaian yang ditetapkan dalam 5 (lima) kriteria sebagai berikut :
a. Kriteria Satu (K.1) berupa penerbitan Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan dan pemberitahuan kepada semua pihak yang bersengketa; b. Kriteria Dua (K.2) berupa penerbitan Surat Keputusan tentang pemberian hak
atas tanah, pembatalan sertipikat hak atas tanah, pencatatan dalam buku tanah, atau perbuatan hukum lainnya sesuai Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan;
c. Kriteria Tiga (K.3) berupa Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan yang ditindaklanjuti mediasi oleh BPN sampai pada kesepakatan berdamai atau kesepakatan yang lain yang disetujui oleh para pihak;
d. Kriteria Empat (K.4) berupa Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan yang intinya menyatakan bahwa penyelesaian kasus pertanahan akan melalui proses perkara di pengadilan, karena tidak adanya kesepakatan untuk berdamai;
e. Kriteria Lima (K.5) berupa Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan yang menyatakan bahwa penyelesaian kasus pertanahan yang telah ditangani bukan termasuk kewenangan BPN dan dipersilahkan untuk diselesaikan melalui instansi lain.
56
Penjelasan Ijen Pol Aryanto Sutadi, Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan Badan Pertanahan Nasional RI di Kanwil BPN Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 6 Mei 2010, yang mengungkapkan adanya 5 kriteria penyelesaian masalah pertanahan dan
Dengan adanya kriteria tersebut, maka dengan sangat jelas dapat diukur hasil dari upaya-upaya penyelesaian penanganan pertanahan yang selama ini hal tersebut tidak ada diatur, sehingga terkesan sengketa pertanahan menumpuk di Badan Pertanahan Nasional dan ada anggapan Badan Pertanahan Nasional tidak dapat menyelesaikan sengketa pertanahan di tanah air.
D. Sengketa yang Diselesaikah oleh Kanwil BPN Provinsi Sumatera Utara