• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Sistem Ekskresi pada Hewan 1. Invertebrata

5. Kelenjar pankreas

Pankreas merupakan kelenjar yang unik karena gabungan antara kelenjar endokrin dan eksokrin. Kelenjar endokrinnya berupa pulau-pulau Langerhan yang menghasilkan hormon insulin, bertanggung jawab terhadap pengubahan glukosa menjadi glikogen yang disimpan di hati. Hiposekresi kelenjar ini menyebabkan diabetes mellitus/penyakit gula/kadar gula darah tinggi.

f. Alat indera

Alat indera adalah suatu struktur khusus yang terdapat pada tubuh organisme , berfungsi untuk menangkap rangsang tertentu dan menterjemahkan dalam bentuk sensasi tertentu. Alat indera mempunyai bagian utama berupa sel-sel saraf khusus, berfungsi sebagai reseptor yang hanya peka terhadap jenis rangsang tertentu, dan jaringan-jaringan lain yang menyusun struktur indera tersebut menjadi suatu struktur yang kompak. Pada hakekatnya alat indera berfungsi untuk mengenali lingkungan di sekitar mahluk hidup. Reseptor-reseptor tersebut dapat terletak di dalam (interoseptor) atau di permukaan tubuh (eksterseptor). Dalam kajian struktural, alat indera dapat berupa otot (kinestesis; proprioreseptor) yang berfungsi membantu koordinasi sikap tubuh., mata dan telinga yang peka terhadap stimulus fisik (cahaya/fotoreseptor dan gelombang bunyi/fonoreseptor; khusus telinga juga terdapat

organ keseimbangan) hidung dan lidah yang peka terhadap rangsang kimiawi (kemoreseptor), kulit yang peka terhadap rangsang fisik / tangoreseptor(sentuhan, tekanan, suhu) dan stimulus kimia.

d.1. Kinestesis

Kinestesis merupakan proprioreseptor karena reseptor-resptornya terletak di dalam otot, fungsinya adalah untuk membantu koordinasi sikap tubuh sehingga kita dapat berdiri dengan baik, memakai sesuatu dengan mata tertutup dan sebagainya.

d.2. Mata

Mata merupakan struktur yang berbentuk bola disesuaikan untuk menangkap dan mengolah rangsang cahaya. Fotoreseptor yang terletak dalam retina ada dua macam, cahaya tidak berwarna/gelap ditangkap oleh fotoreseptor bentuk batang (basilus) karena sel batang ini banyak mengandung pigmen rodopsin yang akan terurai jika terkena cahaya dan jika tidak ada cahaya akan terbentuk kembali. Waktu yang diperlukan untuk pembentukan kembali rodopsin ini disebut waktu adaptasi dimana pada saat pembentukan tersebut fungsi melihat menjadi tidak sempurna. Cahaya berwarna/terang ditangkap oleh fotoreseptor bentuk kerucut (konus) yang banyak mengandung pigmen iodopsin, terdapat tiga macam sel konos yakni yang peka terhadap warna biru, hijau dan merah, sehingga dengan demikian spektrum warna yang dapat ditangkap adalah dari biru hingga merah.. Benda yang terkena cahaya akan memantulkan cahaya, pantulan ini akan ditangkap oleh reseptor dalam mata. Reseptor-reseptor ini menerima dan mengubah rangsang menjadi bentuk impuls yang selanjutnya dikirim ke otak untuk diolah menjadi sensasi penglihatan (bentuk, warna).

Banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke mata diatur oleh struktur pupil mata yang kerjanya seperti diafragma pada kamera. Lensa mata yang berbentuk bikonkaf akan memfokuskan berkas cahaya yang masuk dengan memipih atau menebal dengan bantuan otot siliaris, sehingga berkas cahaya jatuh tepat pada retina. Secara struktural mata dapat dibagi lapisan; sklera, lapisan terluar dan berwarna putih, tepat di depannya terdapat lapisan transparan yang disebut kornea, koroid; lapisan tengah yang berfungsi memberi nutrisi karena banyak mengandung pembuluh darah, Retina, lapisan paling dalam mengandung banyak neuroepitel yang berfungsi sebagai fotoreseptor. Bola mata berisi cairan, cairan yang mengisi ruang di antara lensa dan kornea disebut viterous humor, sedangkan yang mengisi ruang di antara lensa dan retina disebut vitrous humor.

Warna mata ditentukan oleh pigmen yang terdapat pada iris (selaput pelangi) d.3. Telinga

Reseptor pada telinga adalah sel sel rambut yang peka terhadap getaran/frekuensi bunyi dan mengubahnya ke dalam bentuk impuls yang akan diolah dalam sistem saraf pusat menjadi sensasi bunyi, baik dalam tinggi rendahnya, amplitudo ataupun warna bunyinya.

Secara struktural telinga terbagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar yang terdiri atas daun telinga dan saluran telinga, strukturnya disesuaikan untuk menangkap getaran dan menyalurkan ke bagian berikutnya. Telinga tengah (rongga timphany) terdiri atas selaput pendengaran (membran timphany), tulang-tulang pendengaran (maleus/martil, inkus/landasan

dan stapes/sanggurdi), saluran eustachius (penghubung ruang telinga dengan farink)dan ruang timphany (terdapat dua buah tingkap: tingkap bulat dan tingkap oval). Telinga dalam atau Labyrinth yang terdiri atas: koklea (rumah siput) sebagai organ pendengaran dan organ keseimbangan yang tersusun atas: kanalis semisirkularis, sakulus dan utrikulus. Sebagai organ pendengaran, koklea mempunyai struktur melingkar seperti siput terbagai menjadi tiga wilayah, yaitu:

bagian dorsal (skala vestibuli), bagian tengah (skala media) dan bagian ventral (skala timfani) di antara ketiganya dipisahkan oleh selaput/membran: m.

vestibularis memisahkan skala vestibuli dengan skala media; m. tektoral memisahkan skala media dengan skala timfani dan m. basilaris memisahkan skala timfani dengan skala vestibuli. Pada skala media terdapat organ korti yang mengandung saraf-saraf pendengaran

d.4. Hidung

Hidung merupakan struktur yang berfungsi sebagai pintu gerbang saluran respirasi. Kemoreseptor terletak pada membran mukosa atap hidung, berupa sel epitel kolumnar dengan 6 – 8 silia di ujungnya, permukaan rongganya dipenuhi dengan pembuluh kapiler yang berfungsi untuk menghangatkan udara yang akan masuk ke saluran respirasi berikutnya. Terdapat bulu/rambut yang berfungsi untuk filter udara respirasi.

d.5. Lidah

Lidah merupakan struktur yang cukup kompleks sebagian besar tersusun atas berkas otot yang arahnya saling silang, sehingga memungkinkan untuk digerakkan pada berbagai arah. Sehubungan dengan fungsinya sebagai organ indera, pada lidah terdapat papilla-papila pengecap dengan putting pengecap yang berhubungan dengan sel-sel saraf yang peka terhadap stimulus kimiawi. Berdasarkan strukturnya terdapat berbagai jenis/tipe putting pengecap yang pada lidah letaknya tersebar, yaitu filiformis yang berbentuk seperti kerucut, jumlahnya paling banyak, namun tidak mengandung puting pengecap.

Fungiformis, berbentuk seperti jamur, mengandung putting pengecap pada bagian atasnya, tersebar di antara papilla filiformis. Foliate, seperti lembaran, mengandung banyak putting pengecap, tersebat pada bagian lateral posterior lidah. Circumvallate, seperti jamur besar dengan saluran/parit ditepinya, tersebar pada pangkal lidah (posterior), mengandung banyak putting pengecap pada tepi salurannya. Putting pengecap juga ditemukan pada bagian lain rongga mulut seperti palatum, farink, epiglottis dsb. Bagian-bagian lidah mempunyai kepekaan terhadap kualitas rasa yang berbeda-beda. Rasa manis lebih cepat dirasa oleh bagian depan lidah, rasa asin oleh bagian tepi depan lidah (latero-anterior), pada bagian tepi tengah lidah peka terhadap rasa asam dan rasa pahit peka pada bagian pangkal lidah

d.6. Kulit

Kulit, sebagai indera peraba mengandung reseptor berupa ujung-ujung saraf bebas yang strukturnya bias berkapsul atau tidak berkapsul. Untuk rasa

raba direspon oleh badan Meissner yang tersebar pada papilla dermis di dekap epidermis. Rasa tekan reseptornya adalah badan Meissner, badan Paccini dan badan Ruffini. Rangsang suhu (panas dan dingin) serta nyeri/sakit reseptornya adalah ujung saraf bebas tak bermielin dan tak berkapsul.

g. Kelainan dan gangguan pada alat indera

Kelainan dan gangguan pada alat indera dapat disebabkan oleh banyak hal, baik bersifat morfologis, struktural, kelainan perkembangan/genetis ataupun masuknya agen fdisik dan biologis dalam organ indera. Kelainan dan gangguan tadi dapat menyebabkan penurunan fungsi alat indera atau bahkan dapat menghilangkan fungsi alat indera tersebut. Kelainan dan gangguan ada yang bersifat permanen atau bersifat dapat diperbaiki.