• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di dalam ekosistem terdapat suatu dinamika yang disebut rantai makanan, jarring makanan, dan piramida makanan. Pada sebuah jaring makanan tiap organisme mempunyai fungsi tertentu dan terdapat pada tingkatan trofik sebagai produsen, konsumen, atau pengurai. Peran tiap konsumen dalam ekosistem ialah memangsa dan dimangsa. Pada suatu ekosistem yang seimbang, setiap jenis konsumen jumlahnya akan dibatasi oleh pemangsa (konsumen II atau konsumen III). Jumlah karnivor akan dibatasi oleh jumlah hewan yang akan dimangsa dan yang akan memangsa. Demikian juga herbivor jumlahnya akan dibatasi oleh jumlah produsen dan oleh karnivor.

Pada suatu lingkungan yang sudah tidak seimbang / terganggu maka kan terjadi perkembangan atau penurunan suatu jenis secara drastic. Contohnya serangan

serangga yang menjadi hama tanaman, seperti hama wereng coklat.. Pada lingkungan yang masih seimbang serangga hama tanaman ditekan perkembangannya karena ada predator dan parasitoid. Parasitoid ialah serangga parasit pada serangga lain terutama serangga hama yang menyebabkan inangnya mati. Tiap jenis serangga hama mempunyai parasitoid dan predator tertentu. Serangga hama bertambah karena migrasi dari kawasan hutan yang ditebang. Hama tanaman ini biasanya dibasmi dengan insektisida. Dengan insektisida parasitoid dan predator yang bermanfaat ikut musnah. Tanaman hortikultura saat ini akan musnah tanpa insektisida. Akibat pemakaian insektisida akan terbasmi pula hewan-hewan lain seperti jenis-jenis ikan di sungai, burung-burung yang biasa hidup dan mencari makan di sawah atau daerah pertanian.

Faktor-faktor penyebab gangguan keseimbangan lingkunganantara lain akibat pembukaan lahan untuk pemukiman, pertanian dan industri; pengelolaan tanah yang kurang baik yang menyebabkan erosi sehingga tanah akan menjadi kritis; pemanenan organisme tingkatan trofik tertentu yang berlwebihan yang mempengaruhi organisme tingkatan trofik lainnya.

B. Polusi (Pencemaran)

Pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi , dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh prose alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (UU RI no 4 tahun 1982).

Polutan dapat berupa bahan kimia, debu, sedimen, makhluk hidup atau yang dihasilkan makhluk hidup, panas, suara atau radiasi yang dilepaskan ke dalam lingkungan yang dapat mengganggu atau merugikan manusia dan spesies makhluk hidup lain.

1. Polusi Air

Polusi di lingkungan perairan berasal dari limbah industri, limbah rumah tangga, pasar, atau daerah pertanian. Ada beberapa tipe tipe polutan yang dapat memasuki perairan yaitu : bahan yang mengandung bibit penyakit, bahan-bahan yang membutuhkan banyak oksigen untuk penguraiannya, bahan-bahan-bahan-bahan kimia anorganik dari industri atau limbah pupuk pertanian, bahan-bahan yang tidak larut, sedimen(endapan), bahan-bahan yang mengandung radiokatif dan panas.Untuk mengetahui perairan terpolusi atau tidak dapat dilakukan dengan cara mengukur jumlah bakteri dan kandungan oksigen di dalam air, kandungan bahan organic, anorganik, dan kekeruhannya.

Bibit-bibit penyakit, berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif dapat merugikan manusia. Ikan dan berbagai hewan air akan terganggu dan mungkin musnah. Berbagai polutan memerlukan banyak oksigen untuk

penguraiannya. Jika jumlah oksigen kurang, penguraiannya tidak sempurna dan menyebabkan air berubah warnanya dan berbau busuk.

Jika air yang tercemar masuk ke sungai, danau atau laut, konsentrasi polutannya akan berkurang karena terjadinya pengenceran, penguraian, atau pengendapan dan irnya akan menjadi bersih kembali. Pembersihan air secara lami

dapat terjadi pada sungai yang mengalir deras atau di laut. Masalah lain akan terjadi apabila perairan tercemar dengan bahan atau logam berbahaya seperti arsenat, kadmium, air raksa, krom , timah, benzen, tetra kloroda karbon, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut dapat merusak organ tubuh manusia atau dapat menyebabkan kanker. Pada sungai-sungai yang alirannya lambat dan pada danau, karena banyak polutan terurai dan juga terdapat bahan-bahan anorganik yang menyuburkan, airnya akan menjadi subur sekali untuk pertumbuhan ganggang dan tumbuhan air lainnya. Keadaan ini disebut eutrofikasi. Jika tumbuhan dan ganggang mati mati akan terjadi pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan terjadi pengendapan bahan-bahan yang dapat menyebabkan pendangkalan danau atau waduk buatan.

Sejumlah besar limbah dari sungai akan masuk ke laut. Polutan ini dapat merusak kehidupan air di sekitar muara sungai dan sebagian kacil laut dekat muara. Bahan-bahan yang berbahaya masuk ke laut atau samudra mempunyai akibat jangka panjang yang belum diketahui. Banyak jenis kerang-kerangan yang mungkin mengandung zat yang berbahaya untuk dimakan. Laut dapat pula tercemar oleh minyak yang asalnya mungkin dari pemukiman, pabrik-pabrik melalui sungai atau dari kapal tanker yang rusak. Minyak dapat mematikan ikan, burung, dan hewan laut lainnya.

Polusi air yang berat dapat menyebabkan polutan meresap ke dalam air tanah yang menjadi sumber air untuk mencuci, mandi, dan untuk air minum. Air tanah yang tercemar sukar sekali untuk dikembalikan menjadi air bersih.

Pengenceran dan penguraian polutan pada air tanah sulit terjadi karena airnya tidak mengalir dan tidak mengandung bakteri pengurai yang aerob. Jadi, air tanah yang tercemar akan tetap tercemar dalam waktu yang sangat lama, walau tidak ada lagi pencemar baru yang masuk. Karena itu, banyak usaha yang dilakukan untuk menjaga air tanah tetap bersih, misalnya dengan membuat septic tank yang baik dan setiap pabrik harus mempunyai pengolah limbah agar bahan pencemar tidak merembes ke tanah di sekitarnya atau ke sungai.

2. Polusi Udara

Bahan-bahan pencemar di udara dapat berupa oksida karbon (CO, CO2), oksida nitrogen (NO,NOx), oksida sulfur (SO2, SO3), persenyawaan hodrokarbon (CH4, C4H10), bahan organic, partikel padat seperti tanah, karbon, asbes, timbal, partikel cair seperti asam sulfat asam nitart, minyak dan pestisida. Meskipun banyak polutan yang bersifat alami, tapi kebanyakan polutan berasal dari pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara. Pembakaran minyak bumi dan batubara terjadi di pabrik-pabrik atau berasal dari kendaraan bermotor.

Sejumlah oksida nitrat dan oksida belerang sebagai polutan di udara dapat membentuk persenyawaan asam nitrat dan asam sulfat. Dalam jumlah banyak

bahan ini akan menimbulkan hujan asam yang akan merusak tumbuh-tumbuhan, mikroorganisme tanah, dan hewan-hewan air tawar. Polutan di udara dalam waktu lama dapat mnegganggu kesehatan manusia, merusak bahan bangunan karena lapuk, menyebabkan korosi pada logam, karet menjadi rapuh, kulit warnanya pudar dan rapuh, dan banyak lagi kerusakan lain yang sangat merugikan.

Penggunaan CFCs (Chlorofluorocarbons) sebagai gas pendingin pada lemari es, pendingin ruangan (air conditining) dan gas penyemprot macam-macam kosmetik, menyebabkan gas tersebut menjadi polutan udara yang tak dapat terurai dalam jangka waktu yang lama (_± 100 tahun). Gas ini masuk ke dalam stratosfer dan akan merusak lapisan ozon yang berfubngsi sebagai penyaring radiasi sinar ultra violet dari cahaya matahari. Radiasi sinar ultra violet jika intensitasnya bertambah akan berbahaya bagi kesehatan manusia yaitu dapat menyebabkan kanker kulit. Pembakaran bahan bakar minyak bumi, batubara, dan pembakaran hutan menyebabkan bertambahnya CO2 dan gas lain di atmosfer. Gas-gas nin membuat lapisan di atmosfer yang menghalangi pantulan panas dari permukaaan bumi untuk lepas ke angkasa. Panas ini justru akan dipantulkan kembali ke bumi sehingga permukaaan bumi panasnya bertambah. Peristiwa ini biasa disebut efek rumah kaca. Efek rumah kaca dapat menaikkan suhu secara global dan dapat mengubah pola cuaca di seluruh dunia.