• Tidak ada hasil yang ditemukan

kelenjar periferal endokrin

Dalam dokumen Fisiologi hewan KoMPaRaTiF (Halaman 161-167)

sisteM enDOkRin

B. kLasifikasi hORMOn

3. kelenjar periferal endokrin

a. kelenjar tiroid

Kelenjar tiroid terletak di bawah laring. Kelenjar ini terdiri atas dua lobus, lobus kiri dan lobus kanan, yang dihubungkan oleh ismus. Kelenjar ini dibangun oleh lobus­lobus yang disebut folikel, dibangun oleh epitel kubus berlapis tunggal. Ukuran folikel tidak beraturan. Di antara sel epitel folikel atau di antara folikel ditemu­

kan selain yang disebut sel­sel parafolikel. Sel yang membangun folikel menyekresikan dan menimbun hasilnya didalam lumen fo­

likel sebagai substansi mirip gelatin disebut koloid. Koloid terdiri dari tiroglobulin, suatu senyawa protein yang teriodinasi. Hormon yang dihasilkan tiroid tersimpan dalam koloid dalam bentuk ter­

ikat pada tiroglobin. Adapun hormon yang dihasilkan tiroid.

1). Tiroid termasuk, triodotironin (T3) dan tiroksin (T4). T4 akan diubah menjadi T3. T3 berfungsi dalam konsumsi oksigen, produksi panas dan mempertahankan proses metabolik.

2). Calcitonin berfungsi menurunkan kadar kalsium darah de ngan menghambat pelepasan kalsium tulang. Di sekitar folikel ter­

dapat banyak pembuluh darah sehingga memudahkan pen­

curahan hormon ke dalam aliran darah. Hormon tiroid pada Amfibia berfungsi merangsang metamorfsa larva. Hormon

ini menyebabkan deposisi melanin pada bulu burung dan kristal guanin pada kulit ikan. Jika tidak dibutuhkan hormon ini akan mengalami deiodinasi, di mana iodium akan disim­

pan kembali dalam koloid. Pada kondisi kekurangan maupun kelebihan iodium akan menyebabkan terjadi gangguan pada tiroid yang disebut goiter.

gaMbaR 5.6. Kelenjar tiroid (Gunstream, 2010: 206).

b. kelenjar paratiroid

Paratiroid merupakan kelenjar yang terletak sangat dekat de­

ngan tiroid. Kelenjar ini berbentuk oval. Pada manusia terdapat dua pasang, satu pasang terdapat di permukaan belakang kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid bekerja memproduksi hormon paratiroid hor­

mon (parathormon) yang berfungsi mengatur kalsium darah dan kadar fosfat. Hormon parathormon meningkatkan kadar kalsim da­

rah dengan cara:

1). Pengaruh langsung pada tulang, menyebabkan meningkatnya kecepatan refraktur dan merangsang hancurnya matriks tulang.

2). Pengaruh langsung pada ginjal, dengan cara meningkatnya reabsorpsi ion kalsium pada tubulus ginjal dan menghalangi reabsorpsi ion fosfat dari filtrat glomerulus ginjal.

3). Merangsang absorpsi kalsium pada usus kecil. Efek ini meli­

batkan vitamin D.

Sekresi hormon paratiroid distimulasi oleh penurunan jumlah kalsium darah.

gaMbaR 5.7. Kelenjar paratiroid (Gunstream, 2010: 207).

c. kelenjar adrenal

Adrenal merupakan sepasang organ yang terletak dekat kutup anterior ginjal, berbentuk gepeng bulan sabit. Adrenal terdiri dari dua daerah yaitu korteks, merupakan daerah perifer dan medula, merupakan lapisan tengah yang berwarna coklat kemerahan.

Korteks adrenal menghasilkan hormon:

1). Glokokortikoid, berfungsi meningkatkan gula darah, dengan ca­

ra memengaruhi metabolisme karbohidrat. Contohnya kortisol.

2). Mineralokortikoid, berfungsi merangsang reabsopsi sodium dan eksresi kalsium pada ginjal. Contohnya aldosteron. Kedua hormon ini disebut juga catecolamin. Pengeluaran hormon ini di bawah kontrol langsung susunan saraf otonom.

Daerah medula menghasilkan hormon:

1). Epinefrin, dikenal juga dengan adrenalin. Bekerja meningkat­

kan gula darah, penyempitan pembuluh darah di kulit dan ginjal.

2). Norepinefrin atau disebut juga norepinefrin, bekerja mening­

katkan denyut jantung, penyempitan pembuluh darah seluruh tubuh.

d. kelenjar pankreas

Pankreas tidak hanya bekerja sebagai kelenjar eksokrin, juga sebagai kelenjar endokrin. Pulau Langerhans, yang terdiri dari kumpulan sel yang berperan menghasilkan hormon yang penting dalam metabolisme karbohidrat yaitu:

1). Insulin merangsang pemakaian gula oleh sel hati, otot dan sel lemak yang menyebabkan turunnya kadar gula.

2). Glukagon mempunyai fungsi yang berlawan dengan insulin, selain itu juga mempunyai pengaruh pada metabolisme, tum­

buh dan perkembangan.

gaMbaR 5.8. Kelenjar pankreas (Gunstream, 2010: 208).

3). Somatostatin mempunyai pengaruh pada fungsi lambung dan usus.

Pelepasan insulin dan glukagon sangat dipengaruhi oleh ka­

dar gula darah, namun pada kondisi yang berlawanan.

e. kelenjar gonad Gonad betina

Gonad betina disebut ovari, terdiri dari sepasang kelenjar buntu, terletak dalam rongga panggul (pelvis). Di dalam ovari ini tedapat bakal telur (ovum) pada berbagai tahap perkembangan dan sel soma yang beperan menyokong perkembangan bakal telur dan mengatur fungsi sistem reproduksi. Sebagai kelenjar endokrin sel soma ovarium berfungsi menghasikan hormon di antaranya hormon pada tabel berikut:

Tabel 5.3. Hormon dan fungsinya yang dihasilkan oleh kelenjar gonad Ovari – Estrogen

– Progesteron – Testosteron – Inhibin

– Efek ganda terhadap saluran reproduksi, buah dada, lemak, dan pertumbuhan tulang.

– Efek ganda terhadap saluran reproduksi dan perkembangan buah dada.

– Bahan biosintesa estrogen merangsang atre-sia folikel.

– Menghambat sekresi FSH.

Plasenta – Estrogen

– Efek ganda terhadap saluran reproduksi, buah dada, lemak, dan pertumbuhan tulang.

– Efek ganda terhadap saluran reproduksi &

perkembangan buah dada.

– Mempertahankan aktivitas korpus luteum.

– Merangsang pertumbuhan mamae & korpus luteum selama hamil.

Gonad jantan

Testis terdapat sepasang, tertanam dalam kantung skrotum.

Di dalam gonad ditemukan dua macam sel seperti halnya pada ovarium, yaitu sel yang akan berkembang jadi sperma dan sel so­

ma penyokong. Sel soma ditemukan dua macam yaitu: sel Ley dig, tempat sintesa hormon testostreron dan sel sertoli, bukan merupa­

kan tempat sintesa hormon, namum hormon yang sampai kini akan diubah menjadi dihidrotestostreron dan etradiol yang akhirnya akan masuk dalam peredaran darah.

f. Beberapa kelenjar dan Jaringan tubuh yang Lainnya Beberapa kelenjar dan jaringan tubuh lainnya yang mengelu­

arkan hormon dan merupakan bagian dari sistem endokrin. Kelen­

jar tersebut adalah pineal, timus kelenjar, dan kelenjar kecil ter­

tentu di lapisan lambung dan usus kecil. Selain itu, plasenta adalah organ endokrin sementara yang penting selama kehamilan.

Kelenjar pineal berbentuk kerucut nodul jaring an endokrin yang terletak di otak antara belahan otak dekat atap ventrikel keti­

ga. Kelenjar ini mengeluarkan hormon melatonin yang tampaknya menghambat sekresi hormon gonad otropik dan dapat membantu mengendalikan permulaan pubertas. Melatonin tampaknya men­

gatur siklus tidur dan bioritme lain yang terkait dengan pergantian siang dan malam. Sekresi melatonin diatur oleh paparan cahaya dan kegelapan. Saat terkena cahaya, impuls dari retina mata se­

dang dikirim ke kelenjar pineal, menyebabkan penurunan pro­

duksi melatonin. Sekresi paling hebat di malam hari dan terendah dalam sehari.

Kelenjar timus terletak di mediastinum jantung. Ukurannya besar pada bayi dan anak­anak tetapi sangat berkurang pada orang dewasa. Kelenjar memainkan peran penting dalam pengembangan imunitas. Timus menghasilkan hormon thymosin yang terlibat da­

lam pematangan limfosit T.

e. MekanisMe keRJa hORMOn

Jenis hormon apa pun untuk menimbulkan efek biologi harus berinteraksi dengan reseptor spesifiknya. Reseptor biasanya ada­

lah sebuah molekul protein panjang yang memiliki bentuk khas yaitu tiga dimensi dan hanya akan mengikat sebuah hormon khu­

sus atau analog dari hormon itu. Tempat­tempat reseptor untuk hormon berada pada salah satu dari membran sel atau sitoplas­

ma. Kerja spesifik dari hormon sangat jelas di mana hanya sel­sel khusus yang akan dipengaruhi oleh hormon­hormon khusus. Jika

reesptor tidak ada dari suatu sel maka sel tidak berespons terhadap hormon. Hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di dalam sel. Ikatan antara hormon dan reseptor akan memper­

cepat, memperlambat atau mengubah fungsi sel. Pada akhirnya hormon mengendalikan fungsi dari organ secara keseluruhan mi­

salnya mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkem­

bangbiakan dan ciri­ciri seksual, hormon memengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan energi dan lain­lain.

1. Mekanisme kerja hormon dengan Reseptor yang

Dalam dokumen Fisiologi hewan KoMPaRaTiF (Halaman 161-167)