• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme kerja hormon yang Memiliki Reseptor sitosolik (di sitoplasma)

Dalam dokumen Fisiologi hewan KoMPaRaTiF (Halaman 169-175)

sisteM enDOkRin

B. kLasifikasi hORMOn

2. Mekanisme kerja hormon yang Memiliki Reseptor sitosolik (di sitoplasma)

Hormon steroid dan beberapa hormon derivat asam amino (seperti thyroxin dihasilkan dari kelenjar tyroid pada mamalia) memiliki reseptor yang terletak di sitoplasma atau disebut reseptor sitosolik. Hormon dalam kelompok ini memiliki kemampuan yang tinggi untuk larut dalam lemak dan sangat mudah untuk melintasi membran plasma dari sel target. Ada beberapa perdebatan menge­

nai bagaimana hormon menghasilkan respons biologi, tetapi yang lebih dahulu bahwa hormon tiba di sel target dengan perantara

beberapa molekul pembawa (karier) tertentu. Jika suatu hormon bersifat larut dalam lemak, maka akan sulit untuk terlarut dalam cairan tubuh yang mengandung air sehingga keberadaan molekul karier memang diperlukan. Hormon akan terlepas dari molekul pembawanya dan akan masuk dengan bebas ke dalam sel target.

Di sitoplasma sel target, hormon akan berkombinasi dengan resep­

tor spesifik dan interaksi ini akan membentuk kompleks hormon dan reseptor. Kompleks hormon dan reseptor yang teraktivasi sangat afinitif terhadap DNA. Kompleks tersebut akan masuk ke nukleus dan berkombinasi dengan reseptor yang berasosiasi de­

ngan DNA sehingga akan menginisiasi perubahan pada transkripsi DNA. Posisi spesifik dari reseptor diDNA belum diketahui secara pasti akan tetapi diduga kuat bahwa reseptor tersebut berada pada daerah yang disebut promotor region. Melalui ikatan dengan tem­

pat tersebut pada DNA, maka kerjanya sangat memungkinkan un­

tuk mengubah gen­gen tertentu menjadi aktif atau non­aktif.

gaMbaR 5.10. Rangkaian mekanisme kerja hormon steroid yang memiliki reseptor di sitoplasma dan di DNA sel target yang akhirnya menimbulkan res-pons biologis.

Secara keseluruhan, fungsi hormon steroid adalah menstimu­

lasi atau menekan produksi protein. Hormon­hormon tersebut mampu untuk mengaktifkan gen atau menonaktifkannya. Protein

yang dihasilkan akan memodifikasi proses­proses biokimiadi da­

lam sel, dan akan menghasilkan efek biologis hormon. Sebagai contoh, protein yang dihasilkan adalah enzim yang akan meme­

ngaruhi metabolisme sel. Hal ini berarti salah satu dari jalur meta­

boisme sel akan mengalami peningkatan atau terhenti sama sekali.

Kendati prosesnya untuk menghasilkan efek biologis lebih seder­

hana dari pada hormon peptida, aksi hormon steroid cenderung lebih lamban.

f. Ringkasan

1. Endokrin atau hormon merupakan suatu zat kimia khusus, disintesis oleh sel­sel hidup di dalam kelenjar, disekresikan langsung ke dalam darah untuk ditransportasikan menuju or­

gan sasaran, berfungsi sebagai regulasi fisiologis dan sudah efektif dalam jumlah yang sedikit.

2. Kelenjar penghasil hormon pada vertebrata adalah hipotal­

amus, kelenjar pineal, pituitari, tiroid, paratiroid, timus, ad­

renal pankreas, ovari, dan testis. Kelenjar penghasil hormon pada invertebrata berupa korpus kardiakum.

3. Hormon diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar yaitu peptida atau protein, derivat asam amino dan kelompok ste­

roid.

4. Hewan invertebrata mengandalkan sistem kontrol neuroen­

dokrin dalam meregulasi fisiologi tubuhnya. Kelompok inver­

tebrata yang lebih tinggi seperti moluska memiliki sistem sir­

kulasi yang lebih berkembang dibandingkan dengan hewan invertebrata yang lebih rendah seperti pada cacing pipih, oleh karena itu mereka memiliki lebih banyak mekanisme untuk mendistribusikan hormon­hormon yang diperlukannya. Sel­

sel neurosekresi terdapat pada terutama hewan rendah ke­

cuali hewan bersel satu.

5. Insekta memiliki hormon juvenile, PTTH dan ekdison. JH yang dihasilkan di corpora allata berperan mempertahankan fase larva. Hormon Prothoraciotropic (PTTH) yang dihasilkan oleh dua pasang massa sel di bagian otak larva dan berfungsi pem­

bentukan pupa dan molting. Ekdison dihasilkan oleh protorak, berperan dalam proses molting.

6. Vertebrata memiliki organ endokrin yang lengkap. Tipe sis­

tem endokrin pada vertebrata terdiri dari tiga kelenjar utama yaitu: hipotalamus, kelenjar pituitari dan kelenjar periferal endokrin.

7. Hipotalamus berperan dalam mengendalikan kelenjar pitui­

tari, sementara pituitari berperan dalam mengendalikan ke­

lenjar endokrin lainnya. Oleh karena itu, hipotalamus disebut kelenjar induk (master of gland).

8. Kelenjar pituitari terbagi tiga yaitu lobus anterior, posterior, dan intermediet.

9. Kelenjar periferal terdiri dari tiroid, paratiroid, adrenal, testis, ovari, pineal, plasenta.

10. Hormon yang tergolong kelompok peptida dan protein dan sebagian besar kombinasi derivat asam amino akan beker­

ja pada sel target dengan terlebih dahulu berikatan dengan reseptor yang ada di membran sel target. Mekanisme ikatan tersebut akan menginisiasi serangkaian reaksi biokimia yang pada akhirnya akan menimbulkan respons biologis.

11. Hormon steroid dan beberapa hormon derivat asam amino (seperti thyroxin dihasilkandari kelenjar tiroid pada mamalia) memiliki reseptor yang terletak di sitoplasma atau disebut reseptor sitosolik. Hormon akan terlepas dari molekul pem­

bawanya dan akan masuk dengan bebas ke dalam sel target.

Di sitoplasma sel target, hormon akan berkombinasi dengan reseptor spesifik dan interaksi ini akan membentuk kompleks hormon dan reseptor. Kompleks hormon dan reseptor yang teraktivasi sangat afinitif terhadap DNA. Kompleks tersebut akan masuk ke nukleus dan berkombinasi dengan reseptor yang berasosiasi dengan DNA sehingga akan menginisiasi per ubahan pada transkripsi DNA. Posisi spesifik dari reseptor diDNA belum diketahui secara pasti akan tetapi diduga kuat bahwa reseptor tersebut berada pada daerah yang disebut promotor region. Melalui ikatan dengan tempat tersebut pada

DNA, maka kerjanya sangat memungkinkan untuk mengubah gen­gen tertentu menjadi aktif atau non­aktif.

g. Latihan

1. Jelaskan pengertian hormon dan ciri­cirinya!

2. Jelaskan klasifikasi hormon berdasarkan strukturnya dan ber­

dasarkan pengaruhnya beserta contohnya masing­nasing!

3. Jelaskan dua macam mekanisme kerja hormon!

4. Jelaskan maksud dari second messenger!

5. Tuliskan hormon yang disekresikan oleh hipotalamus!

6. Jelaskan perbedaan antara adenohipofisis dan neurohipo fisis!

7. Jelaskan hormon pada serangga dan peranan masing­masing hormon tersebut!

h. RefeRensi

Faria, S. C., Provete, D. B., Thurman, C. L., & Mcnamara, C. (2017).

Phylogenetic patterns and the adaptive evolution of osmore­

gulation in fiddler crabs, 1–19. https://doi.org/10.1371/jour­

nal.pone.0171870

Gunstream, S. (2010). Anatomy dan Physiology with Integrated Study Guide (Fourth Edi). New York: McGraw­Hill.

Kay, I. (1998). Introduction to Animal Physiology. USA: Bios Scien­

tific Publisher Limited.

Randall, D, Burggren, French, K. (1997). Eckert Animal Physiolo-gy: Mechanism and Adaptation. New York: W. H. Freeman and Company.

Rastogi, S. (2007). Essentials of Animal Physiology (Fourth Edi).

New Delhi: New Age International (P) Ltd.

Schmidt­Nielsen, K. (1980). Animal Physiology: Adaptation and en-vironment (Second Edi). USA: Cambridge University Press.

Sherwood, L, Klandrof, H, Yancey, P. (2013). Animal Physiology From Genes to Organisms (Second Edi). USA: Yolanda Cossio.

Reproduksi merupakan salah satu karakter kunci dari makh­

luk hidup untuk mempertahankan eksistensi spesies dari waktu ke waktu. Kemampuan hewan untuk menghasilkan keturunan yang viabel terkait erat dengan kemajuan evolusinya. Penyusunan kem­

bali gen­gen, yang mungkin terjadi selama reproduksi, telah mem­

berikan peluang untuk munculnya variasi­variasi dari berbagai karakter yang dimiliki oleh hewan. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa proses reproduksi berhubungan erat dengan genetik dan perkembangan. Dua proses fisiologi reproduksi adalah reproduksi aseksual dan reproduksi seksual.

a. MekanisMe RepRODUksi

1. Reproduksi aseksual (Vegetatif)

Reproduksi aseksual berlangsung dengan tanpa adanya in­

teraksi sel­sel gamet. Secara esensial, proses reproduksi aseksual merupakan manifestasi dari proses mitosis yang hanya melibatkan satu individu parental saja. Reproduksi aseksual dapat menghasil­

kan keturunan dalam jumlah yang banyak dan tidak memerlukan pasangan individu sehingga hambatan­hambatan reproduksi lebih Pada Bab VI ini pembelajar diharapkan mampu memahami sistem reproduksi hewan, peranan sistem reproduksi, mekanisme reproduksi, organ reproduksi jantan dan betina, spermatogenesisi dan oogenesis, hormon yang mengontrol reproduksi, siklus menstruasi dan proses kehamilan dan proses melahirkan.

Vi BaB

Dalam dokumen Fisiologi hewan KoMPaRaTiF (Halaman 169-175)