sisteM saRaf
B. MekanisMe keRJa neUROn
Sel saraf adalah sel yang berfungsi menghantarkan rangsang
an. Pada dasarnya neuron bekerja dengan cara menghasilkan dan mengantarkan potensial aksi yang merupakan gelombang listrik (transmisi listrik) yang menjalar di neuron. Hal ini berlangsung karena kondisi listrik dari membran neuron dapat mengalami per
ubahanperubahan.
Potensial membran diukur dengan menggunakan voltmeter.
Besarnya potensial membran yang diukur saat sel istirahat dina
makan potensial istirahat atau membran potensial dasar (Resting potential membran-RMP). Besarnya potensial istirahat ini berbeda, tergantung kepada jenis selnya (100 sampai dengan 30 mV). Tan
da minus () menunjukkan bahwa keadaan di sisi dalam membran lebih negatif dari pada di sisi luar membran. Perbedaan potensial tersebut disebabkan oleh distribusi Na+ dan K+ yang tidak seim
bang di kedua sisi membran sel saraf. Resting potensial membran
(RMP) dapat dipahami dengan mudah dengan menganalisis ter
lebih dahulu distribusi ion melintasi membran bersama dengan permeabilitas yang berbedabeda dari membran sel neuron terha
dap berbagai ion.
Tabel 3.1. Distribusi dari ion-ion utama pada akson cumi-cumi (Rastogi, 2007:
316)
ion akson
Potensial equilibrium Konsentrasi di dalam
sitoplasma (mM) Konsentrasi di cairan ekstraseluler (mM)
K+ 400 20 -75
Na+ 50 440 +55
Cl- 52 560 -60
Dari tabel tersebut terlihat bahwa tidak ada distribusi ion yang sama di dalam dan di luar membran sel saraf (akson). Pada kondisi basal, membran sel neuron bersifat sangat permeabel terhadap ion K+ karena dalam kondisi basal tersebut, channel K+ di dalam mem
bran sel terbuka dan memungkinkan ionion tersebut untuk masuk ke dalam sel. Membran tersebut kurang permeabel terhadap ion Na+, hanya sekitar seper dua puluh lima dari ion K+. Permeabili
tas terhadap ion ditentukan oleh keberadaan saluran ion (channel) yang selektif di dalam membran sel (Squire et al., 2008: 111). Chan-nel tersebut berupa pori protein yang membentuk saluran di dalam membran yang dapat menutup dan membuka. Jika salah sa tu chan-nel terbuka, pergerakan ion melewati membran dapat berlangsung dan juga sebaliknya jika channel tersebut tertutup.
Adapun mekanisme kerja saraf meliputi fase istirahat (resting potensial), depolarisasi, repolarisasi, hiperpolarisasi (Willmer, P, Stone, G, Johnston; 2005, 227) sebagai berikut:
1. Fase Istirahat
Pada kondisi basal, membran sel neuron bersifat sangat per
meabel terhadap ion K+ karena pada kondisi basal channel K+di dalam membran sel terbuka dan memungkinkan pelaluan ionion tersebut, sedangkan ion Na+ kurang permeabel. Per
meabilitas terhadap ion ditentukan oleh keberadaan saluran
ion (channel) yang selektif di dalam membran sel yang hanya ionion tertentu saja yang dapat melewatinya. Pada kondisi istirahat, baik saluran natrium maupun saluran kalium berada dalam keadaan tertutup, namum tetap mempertahankan po
tensial istirahat membran.
2. Fase Depolarisasi
Selama fase depolarisasi itu, potensial aksi dibangkitkan ke
tika gerbang aktivitas saluran natrium membuka, saluran ka
lium tetap tertutup. Ion natrium masuk ke dalam sel dalam jumlah besar, sehingga bagian dalam sel menjadi lebih positif.
Potensial aksi adalah perubahan polaritas membran di mana bagian dalam neuron berubah dari muatan negatif men
jadi positif selama beberapa milisekon. Potensial aksi terjadi ketika neuron menyampaikan informasi. Potensial aksi ini ditransmisikan sepanjang akson dengan kecepatan mencapai 120m/s. Kecepatan konduksi ini hanya berlangsung di akson besar yang bermielin. Pada akson yang lebih kecil dan tidak bermielin, kecepatan konduksi hanya sekitar 2.5 m/s. Salah satu aspek penting dari potensial aksi adalah transmisi poten
sial aksinya tanpa mengalami pengurangan potensial sepan
jang akson sehingga ukuran potensial aksi pada hillock akson (sambungan antara akson dan badan sel) sama besar dengan potensial aksi yang terdapat di terminal akson.
Potensial aksi merefleksikan terbukanya channelchan-nel ion dan masuknya (influks) Na+ ke dalam sel mengikuti stimulus eksternal. Tidak semua stimulus akan menghasilkan potensial aksi, namun hanya stimulus yang mampu mening
katkan potensial dasar membran (RMP) ke level ambang ba
tas. Ambang batas potensial aksi membran berkisar antara 1015mV di atas RMP. Pada level ambang batas, mekanisme umpan balik positif dimulai yang memicu masuknya Na+ ke dalam sel diikuti oleh ion Na+ lainnya secara terusmenerus.
Perubahan awal dari potensial membran ini dikenal dengan depolarisasi. Selanjutnya akan tercapai tegangan puncak sela
ma potensial aksi berlangsung.
3. Rising Phase/Fase Transmisi Potensial Aksi Sepanjang Akson Potensial aksi, yang berasal dari hilloks akson harus melewa
ti terminal akson sebelum menimbulkan pengaruh terhadap neuron, otot, atau jaringan glandular lainnya. Ini juga ber
langsung dengan arus lokal. Hal yang terjadi selama poten
sial aksi adalah bahwa muatan postif di sebelah dalam mem
bran akson ditarik ke sisi sebelahnya yaitu ke bagian yang lebih negatif. Masuknya muatan positif cenderung untuk me
mindahkan potensial membran ke ambang batas (treshold).
Jika treshold tercapai, potensial aksi menjalar sepanjang akson. Alasan bahwa selubung mielin mempercepat transmi
si potensial aksi adalah bahwa seketika setelah membran di sebelahnya mengalami depolarisasi, potensial aksi meloncat dari satu nodus ranvier ke nodus ranvier lainnya. Ini dise
but dengan konduksi saltatoris. Akson perlu diselubungi oleh mielin karena pergerakan ionion yang diperlukan un
tuk menghasilkan potensial aksi terhalang pada bagian yang berselubung mielin tersebut sedangkan pada daerah yang ti
dak berselubung (naked region) di nodus ranvier, ionion akan bergerak. Oleh sebab itu, satusatunya tempat di mana ter
jadinya pergerakan ion adalah pada nodus ranvier yang tidak bermielin, yang akan bermanifestasi pada mekanisme pelon
catan aksi potensial dari satu nodus ke nodus ranvier lainnya di sepanjang akson. Dengan cara itu, kecepatan transmisi po
tensial aksi akan meningkat.
4. Fase Repolarisasi
Fase ini juga disebut fase refraktori. Pada fase ini, gerbang in
aktivasi menutup saluran natrium, dan saluran kalium terbu
ka. Ion kalium meninggalkan sel, dan bagian dalam sel men
jadi lebih negatif dibandingkan dengan bagian luar sel akibat kehilangan muatan positif. Hal ini menyebabkan potensial membran kembali ke kondisi dasar (RMP).
5. Fase Undershoot atau Hiperpolarisasi
Pada fase ini saluran natrium tertutup, tetapi saluran kalium tetap terbuka karena gerbangnya yang relatif lambat tertutup,
tidak mempunyai cukup waktu untuk merespons repolarisa
si membran. Kondisi ini disebut dengan fase hiperpolarisasi.
Dalam tempo satu atau dua milidetik berikutnya keadaan isti
rahat dipulihkan, dan sistem tersebut siap untuk merespons stimulus lain.
gaMbaR 3.5. Mekanisme kerja saraf (Chambell et al., 2008)