IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Distribusi Cumi-Cumi Sirip Besar
4.2.2. Kelompok ukuran
Analisis kelompok ukuran dilakukan untuk setiap pengambilan contoh. Hal ini dilakukan untuk melihat perubahan rata-rata panjang mantel menurut waktu pengambilan contoh. Hasil analisis pemisahan kelompok ukuran panjang mantel diperoleh dari rata-rata dan indeks separasi masing-masing ukuran kelompok panjang mantel cumi-cumi sirip besar (Gambar 8 dan Gambar 9).
35
Gambar 8. Distribusi kelompok ukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak per pengambilan contoh
Gambar 9. Distribusi kelompok ukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Lebar dan Semak Daun per pengambilan contoh
Distribusi frekuensi panjang mantel di perairan Karang Congkak terdapat 2 modus pada pengambilan contoh pertama, 1 modus pada pengambilan contoh kedua, 3 modus pada pengambilan contoh ketiga, 3 modus pada pengambilan contoh
37
keempat, dan 2 modus pada pengambilan contoh kelima. Pada pengambilan contoh pertama hingga pengambilan contoh keempat terdapat pergeseran modus ke arah kanan yaitu sebesar 3.67 mm pada pengambilan contoh pertama hingga kedua, 4.77 mm pada pengambilan contoh kedua hingga ketiga, dan 2.72 pada pengambilan contoh ketiga hingga keempat. Kemudian terdapat pergeseran modus ke arah kiri pada pengambilan contoh ketiga, lalu modus tersebut bergeser ke arah kanan sebesar 16.25 mm pada pengambilan contoh ketiga hingga keempat (Gambar 8).
Pada perairan Karang Lebar dan Semak Daun terdapat 2 modus sebaran frakuensi panjang mantel pada pengambilan contoh kedua, 3 modus pada pengambilan contoh ketiga, 1 modus pada pengambilan contoh keempat, dan 1 modus pada pengambilan contoh kelima. Pada pengambialn contoh kedua hingga ketiga terjadi pergeseran modus ke arah kanan sebesar 42.94 mm. Kemudian pada pengambilan contoh ketiga terjadi pergeseran ke arah kiri, lalu modus tersebut bergeser ke arah kanan hingga pengambilan contoh kelima yaitu sebesar 41.15 mm pada pengambilan contoh ketiga hingga keempat dan 27.98 pada pengambilan contoh keempat hingga kelima (Gambar 9).
Pada perairan Karang Congkak maupun Karang Lebar dan Semak Daun terjadi pergeseran modus frekuensi panjang mantel ke arah kanan yang mengindikasikan adanya pertumbuhan. Selain itu juga pada pengambilan contoh ketiga pada kedua lokasi terdapat pergeseran modus ke arah kiri yang mengindikasikan adanya individu baru yang berukuran kecil masuk yang diduga akibat adanya rekrutmen ataupun terjadi pemijahan (Sparre & Venema 1999). Andy Omar (2002) menyatakan bahwa pelepasan telur cumi-cumi sirip besar di perairan Teluk Banten terjadi pada bulan Mei hingga Juni. Danakusumah et al. (1995) in Andy Omar (2002) menambahkan bahwa cumi-cumi sirip besar memijah pada bulan Juni hingga Juli. Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian yang terjadi penambahan individu baru pada bulan Maret dan April. Oleh karena itu untuk mendapatkan informasi mengenai pemijahan dan rekrutmen cumi-cumi sirip besar di wilayah tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Pada setiap pengambilan contoh terlihat bahwa pada setiap kelompok ukuran tertentu memiliki ukuran yang bervariasi dari masing-masing individunya. Effendie (2002) menyatakan bahwa keberhasilan mendapatkan makanan dari kelompok
ukuran yang sama akan menentukan pertumbuhan. Oleh karena itu dalam satu keturunan akan diperoleh ukuran yang bervariasi.
Indeks separasi sangat diperhatikan dalam penggunaan metode NORMSEP (Hasselblad 1996, Mc New & Summerfelt 1978, serta Clark 1981 in Sparre &
Venema 1999). Berikut disajikan nilai indeks separasi pada kedua perairan:
Tabel 5. Distribusi kelompok ukuran cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak pada setiap pengambilan contoh Lebar dan Semak Daun pada setiap pengambilan contoh
Tanggal Nilai (1981) in Sparre & Venema (1999) menjelaskan bahwa indeks separasi merupakan kuantitas yang relevan terhadap studi bila dilakukan kemungkinan bagi suatu pemisahan yang berhasil dari dua komponen yang berdekatan. Tidak ada indeks
39
separasi yang diperoleh kurang dari dua (<2) yang menunjukkan bahwa hasil pemisahan kelompok ukuran cumi-cumi sirip besar dapat diterima dan digunakan untuk analisis berikutnya (Tabel 5 dan Tabel 6).
4.2.3. Pola pertumbuhan
Pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar dapat diketahui dengan menganalisis hubungan panjang mantel dan bobot tubuhnya. Pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar pada setiap pengambilan contoh bersifat allometrik negatif baik di perairan Karang Congkak maupun perairan Karang Lebar dan Semak Daun, kecuali di perairan Karang Lebar dan Semak Daun pada pengambilan contoh kelima yang bersifat isometrik (Tabel 7 dan Tabel 8).
Tabel 7. Pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak pada setiap pengambilan contoh
Pengambilan
Contoh Waktu n b R Keterangan
1 2-10 Maret 2011 22 2.2901 0.89 Allometrik negatif 2 20-27 Maret 2011 20 2.6264 0.95 Allometrik negatif 3 28 Maret-4 April 2011 93 2.6596 0.97 Allometrik negatif 4 15-21 April 2011 94 2.4546 0.96 Allometrik negatif 5 06-12 Mei 2011 54 2.7191 0.96 Allometrik negatif
Tabel 8. Pola pertumbuhan tubuh cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Lebar dan Semak Daun pada setiap pengambilan contoh
Pengambilan
Contoh Waktu n b R Keterangan
2 20-27 Maret 2011 32 2.5280 0.93 Allometrik negatif 3 28 Maret-4 April 2011 26 2.5157 0.99 Allometrik negatif 4 15-21 April 2011 16 2.4439 0.97 Allometrik negatif 5 06-12 Mei 2011 9 2.4932 0.93 Isometrik
Cumi-cumi sirip besar contoh yang digunakan berasal dari hasil tangkapan yaitu sebanyak 366 ekor yang terdiri dari 283 ekor berasal dari perairan Karang Congkak dan 83 ekor berasal perairan Karang Lebar dan Semak Daun. Pertumbuhan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak memiliki nilai koefisien b yang kurang dari 3 yaitu 2.6361, setelah dilakukan uji t dengan selang kepercayaan 95%
diperoleh nilai t hitung lebih besar dari t tabel yang artinya pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar bersifat allometrik. Kemudian nilai b sebesar 2.6361 (b<3) menunjukkan bahwa pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar pada perairan Karang Congkak ialah allometrik negatif (pertumbuhan panjang mantel lebih dominan daripada pertumbuhan bobot). Hal tersebut didukung dengan koefisien determinasi yang tinggi sebesar 98.02% yang artinya data tersebut telah mewakili 98.02%
keadaan sebenarnya di alam. Hal yang sama terjadi pada pertumbuhan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Lebar dan Semak Daun yang memiliki nilai koefisien b kurang dari 3 yaitu 2.290 dan setelah dilakukan uji t dengan selang kepercayaan 95% diperoleh t hitung lebih besar daripada t tabel yang artinya pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar bersifat allometrik. Kemudian nilai b sebesar 2.290 (b<3) menunjukkan bahwa pola pertumbuhannya juga allometrik negatif. Nilai koefisien determinasinya pun mewakili keadaan sebenarnya di alam sebesar 85.2% (Gambar 10).
Gambar 10. Hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi sirip besar: (a) perairan Karang Congkak, (b) perairan Karang Lebar dan Semak Daun Segawa (1987) in Andy Omar (2002) memperoleh koefisien regresi (b) sebesar 2.675 untuk hasil tangkapan di alam dan 2.553 untuk hasil pemeliharaan.
41
Forsythe et al. (2001) in Andy Omar (2002) membandingkan cumi-cumi sirip besar yang berasal dari perairan Teluk Tokyo (temperate area) dengan cumi-cumi yang berasal dari perairan Pulau Okinawa (tropics area) dan memperoleh persamaan bobot tubuh berturut-turut yaitu 2.613 dan 2.524 dengan nilai koefisien relatif yang menunjukkan keeratan yang sangat erat. Shivashantini et al. (2009) memperoleh koefisien regresi sebesar 2.459 di goba Jaffna Sri Lanka. Hamzah & Manik (1991) memperoleh koefisien regresi untuk hasil tangkapan di alam sebesar 1.541 di perairan Kepulauan Kai, Maluku Tenggara. Berdasarkan data tersebut, maka tampak bahwa nilai koefisien regresi yang diperoleh selama penelitian (2.6361 dan 2.290) berada dalam kisaran hasil-hasil penelitian hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi sirip besar. Perbedaan nilai b dapat disebabkan oleh jebnis kelamin, kematangan gonad, dan intensitas makan (Hile 1936 in Shivashantini et al.
2009). Froese (2006) in Shivashantini et al. (2009) menambahkan perbedaan nilai b dapat disebabkan parameter lingkungan, kondisi biota saat diambil, jenis kelamin, perkembangan gonad, dan kesuburan perairan. Hal ini dapat diduga juga bahwa perbedaan nilai b dapat disebabkan oleh perbedaan jumlah dan variasi ukuran cumi-cumi sirip besar yang diamati, karena jumlah cumi-cumi-cumi-cumi sirip besar yang diamati tidak sama.
Hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi sirip besar pada setiap pengambilan contohnya dapat memberikan informasi yang penting dalam biologi perikanan dan dinamika populasi untuk mengestimasi suatu stok atau biomassa yang ada di alam (Petrakis & Stergiou 1995 in Shivashantini et al. 2009). Selain itu hubungan panjang dan bobot juga berguna bagi petani ikan untuk memprediksi panen budidaya ikan (Shivashantini et al. 2009). Nilai praktis yang diperoleh dari hubungan panjang dan bobot ialah dapat menduga berat dari panjang atau sebaliknya, keterangan mengenai pertumbuhan, kemontokan, dan perubahan dari lingkungan (Effendie 2002).
Cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak memiliki tren pertumbuhan yang terus meningkat. Pada pengambilan contoh pertama hingga ketiga tren pertumbuhannya tidak terlalu cepat dengan panjang mantel dan bobot berkisar antara 67-184 mm dan 32.0-373.0 g pada pengambilan contoh pertama, 71-148 mm dan 20.3-158.7 g pada pengambilan contoh kedua, dan 26-203 mm dan
1.4-280.0 g pada pengambilan contoh ketiga. Hal tersebut menunjukkan pada pengambilan contoh pertama hingga ketiga cumi-cumi sirip besar masih berukuran kecil. Pada pengambilan contoh keempat hingga kelima tren pertumbuhannya cepat dengan panjang mantel dan bobot berkisar 41-257 mm dan 6.9-797.4 g pada pengambilan contoh keempat serta 100-240 mm dan 47.7-634.0 g pada pengambilan contoh kelima yang menunjukkan pada saat tersebut cumi-cumi sirip besar telah berukuran besar (Gambar 11).
Cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Lebar dan Semak Daun memiliki tren pertumbuhan yang tidak jauh berbeda. Pada pengambilan contoh kedua panjang mantel dan bobot berkisar 71-256 mm dan 26.3-698.0 g. Pada pengambilan contoh ketiga panjang mantel dan bobot berkisar 84-281 mm dan 40.0-970.0 g. Pada pengambilan contoh keempat panjang mantel dan bobot berkisar 81-285 mm dan 41.7-946.0 g. Pada pengambilan contoh kelima panjang mantel dan bobot berkisar 126-210 mm dan 123.9-418.0 g (Gambar 11). Hal tersebut menunjukkan cumi-cumi sirip besar yang terdapat pada daerah Karang Lebar dan Semak Daun telah berukuran besar dari pengambilan contoh kedua hingga kelima.
Pertumbuhan sumberdaya ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi keturunan, sex, umur, parasit, dan penyakit sedangkan faktor eksternal meliputi ketersediaan makanan dan suhu perairan. Di iklim tropis ketersediaan makanan lebih berperan dibandingkan suhu perairan (Effendie 2002). Pada perairan Karang Congkak maupun perairan Karang Lebar dan Semak Daun diduga tidak memiliki sumber makanan yang mencukupi bagi pertumbuhan cumi-cumi sirip besar sehingga pertumbuhan panjang mantel lebih dominan dibandingkan berat tubuh. Perbedaan jumlah dan variasi ukuran cumi-cumi sirip besar yang diamati pada kedua perairan juga dapat diduga menjadi penyebab perbedaan nilai b pada kedua perairan.
43
Gambar 11. Hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi sirip besar pada setiap periode pengambilan contoh: (a) perairan Karang Congkak, (b) perairan Karang Lebar dan Semak Daun