• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISTRIBUSI DAN PERTUMBUHAN CUMI-CUMI SIRIP BESAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DISTRIBUSI DAN PERTUMBUHAN CUMI-CUMI SIRIP BESAR"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

KARANG LEBAR, DAN SEMAK DAUN KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA

SANDI SETIAWANDI

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2011

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul

Distribusi Dan Pertumbuhan Cumi-Cumi Sirip Besar (Sepioteuthis lessoniana) Di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar, Dan Semak Daun Kepulauan Seribu, Jakarta

Adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain yang disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, 19 Desember 2011

Sandi Setiawandi C24070063

(3)

Sandi Setiawandi. C24070063. Distribusi dan Pertumbuhan Cumi-Cumi Sirip Besar (Sepioteuthis lessoniana) di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun Kepulauan Seribu, Jakarta. Dibawah bimbingan Fredinan Yulianda dan Zairion

Cumi-cumi sirip besar merupakan salah satu sumberdaya ikan ekonomis yang salah satu daerah penyebarannya di Indonesia terdapat Kepulauan Seribu. Nilai ekonomisnya yang tinggi disertai permintaan yang terus meningkat, menjadikan sumberdaya ini sebagai salah satu target utama penangkapan. Daerah penangkapan utama cumi-cumi ini di Kepulauan Seribu yaitu perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan di lokasi tersebut selama periode bulan Maret 2011 sampai Mei 2011, dengan tujuan untuk mengetahui distribusi dan pertumbuhan cumi-cumi sirip besar.

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer, terdiri dari pengambilan contoh (pengukuran panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi sirip besar) dan wawancara. Penangkapan cumi-cumi sirip besar dilakukan dengan melaut bersama nelayan yang biasa menangkap cumi-cumi sirip besar. Pengambilan contoh nelayan dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling atau pemilihan dengan sengaja berdasarkan kesediaan nelayan. Alat tangkap yang digunakan ialah pancing dengan umpan buatan dan jaring insang dengan mata jaring 1 inch.

Distribusi spasial cumi-cumi sirip baik di perairan Karang Congkak maupun perairan Karang Lebar dan Semak Daun tersebar di perairan dangkal hingga perairan dalam. Pada perairan Karang congkak rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar yang paling banyak tertangkap terdapat di tubir, yaitu sebanyak 5 + 15 ekor dengan ukuran panjang mantel rata-rata 79.60 + 58.24 mm. Pada perairan Karang Lebar dan Semak Daun cumi-cumi sirip besar paling banyak tertangkap di goba, yaitu sebanyak 3 + 2 ekor dengan ukuran panjang mantel rata-rata 126.81 + 39.74 mm.

Penempelan kapsul telur di daerah tubir dan goba diduga menjadi salah satu faktor melimpahnya cumi-cumi sirip besar di daerah tersebut. Selain itu kondisi pasang yang terjadi selama penelitian menyebabkan nelayan lebih sering melakukan penangkapan di daerah tersebut.

Distribusi temporal cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak berdasarkan jumlah tangkapannya terus mengalami peningkatan dari pengambilan contoh pertama hingga keempat, kemudian mengalami penurunan pada pengambilan contoh kelima. Hal tersebut diiringi dengan penurunan bobot tangkapan dari pengambilan contoh pertama hingga kedua kemudian mengalami peningkatan bobot tangkapan dari pengambilan contoh ketiga hingga kelima. Pada perairan Karang Lebar dan Semak Daun jumlah tangkapan mengalami peningkatan dari pengambilan contoh kedua hingga ketiga dan mengalami penurunan pada pengambilan contoh keempat hingga kelima. Hal tersebut diiringi dengan penurunan bobot dari pengambilan contoh kedua hingga kelima. Pertumbuhan cumi-cumi sirip besar pada setiap pengambilan contoh diduga memberikan pengaruh.

Hasil tangkapan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak memiliki kisaran sebaran panjang mantel 26-257 mm. Sementara itu di perairan Karang

(4)

Lebar dan Semak Daun sebaran panjang mantel berkisar 71-285 mm. Pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak dan perairan Karang Lebar dan Semak Daun bersifat allometrik negatif (pertumbuhan panjang mantel lebih dominan dibandingkan pertumbuhan bobot tubuhnya). Parameter pertumbuhan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak meliputi panjang asimtotik (L) sebesar 292.95 mm dan koefisien pertumbuhan (k) sebesar 0.27 per tahun, sedangkan untuk perairan Karang Lebar dan Semak Daun meliputi panjang asimtotik (L) sebesar 299.25 mm dan koefisien pertumbuhan sebesar 0.23 per tahun.

Cumi-cumi sirip besar yang tertangkap di perairan Karang Congkak maupun perairan Karang Lebar dan Semak Daun berukuran kecil hingga besar. Cumi-cumi sirip besar yang masih berukuran kecil terdapat di tubir sedangkan yang berukuran besar terdapat di hamparan dangkal. Beberapa implementasi pengelolaan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun diantaranya dengan menyesuaikan ukuran mata jaring agar cumi-cumi sirip besar yang masih berukuran kecil tidak tertangkap dan dapat terus berkembang hingga besar. Intensitas penggunaan alat tangkap jaring sebaiknya dikurangi di daerah tubir karena cumi-cumi sirip besar umumnya berukuran masih kecil. Selain itu juga dikurangi kegiatan penangkapan cumi-cumi sirip besar dengan menggunakan jaring pada akhir bulan Maret dan awal April di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun karena ada indikasi rekrutmen.

Kata kunci: distribusi, pertumbuhan, Sepioteuthis lessoniana.

(5)

KARANG LEBAR, DAN SEMA

K DAUN KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA

SANDI SETIAWANDI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2011

(6)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Distribusi dan Pertumbuhan Cumi-Cumi Sirip Besar (Sepioteuthis lessoniana) di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun Kepulauan Seribu, Jakarta

Nama : Sandi Setiawandi

NRP : C24070063

Menyetujui

Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc Ir. Zairion, M.Sc NIP. 19630731 198803 1 002 NIP. 19640703 199103 1 003

Mengetahui:

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc NIP. 19660728 199103 1 002

Tanggal Lulus : 10 November 2011

(7)

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Distribusi dan Pertumbuhan Cumi-Cumi Sirip Besar (Sepioteuthis lessoniana) di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun Kepulauan Seribu, Jakarta” di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum dikatakan baik. Oleh karena itu, penulis menantikan kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini pada masa yang akan datang.

Bogor, 19 Desember 2011

Sandi Setiawandi NRP. C24070063

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Ir. Fredinan Yulianda, M. Sc selaku dosen pembimbing I yang telah bayak memberikan bimbingan, masukan, dan saran selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi.

2. Ir. Zairion, M. Sc selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan, dan arahan selama pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi .

3. Dr. Ir. Isdradjad Setyobudiandi, M.Sc selaku dosen penguji dari departemen yang telah memberikan masukan dan saran yang sangat berarti bagi penulis.

4. Ir. Agustinus M Samosir, M. Phil selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji yang telah memberikan arahan selama penulis menempuh pendidikan, serta saran dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi.

5. Ir. Santoso Rahardjo, M.Sc (alm) selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan arahan selama penulis menempuh pendidikan.

6. Keluarga penulis Bapak (Damin), Ibu (Sunengsih), Paman (Ibrahim), Bibi (Siti Marifah), Kakak (Dahlia dan Dendi Sutendi), dan Adik (M. Rizki Ramadhan) serta saudara-saudara lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang selalu memberikan motivasi dan dukungan.

7. PKSPL-IPB atas bantuan finansial dalam penelitian ini.

8. Seluruh staf Tata Usaha Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan terutama Mba Widar, Mba Maria, dan Mba Yani yang telah membantu penulis untuk melancarkan penulisan skripsi ini.

9. Keluarga besar Dahlawi terutama Pak Lawi dan Ibu Maemanah dan yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, serta seluruh nelayan Pulau Panggang (Pak Lawi, Sail, Saiman, dan Ali) atas dukungan dan bantuan selama penulis melaksanakan penelitian.

10. Harun Al-Rasyid, Mega Dewi .A, Nugrah Khalifa, A. Ashari .A, Armaya Sevtiana, dan Annisa Novia .S atas kerja samanya selama penelitian.

11. Karlina yang telah membantu memberi motivasi penulis dalam proses penulisan skripsi.

(9)

langsung.

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tangerang pada tanggal 26 September 1989, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Damin dan Sunengsih. Penulis mengawali pendidikan di MIN 1 Ciputat (1994-2001).

Dilanjutkan dengan pendidikan di MTsN 2 Tangerang (2001- 2004). Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di MAN 4 Jakarta (2004-2007). Penulis diterima sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada tahun 2007.

Penulis memilih program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten mata kuliah Biologi Perikanan pada tahun ajaran 2009/2010. Penulis juga aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) periode 2008-2009 sebagai pengurus Divisi Human Resources Development, Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) periode 2009-2010 sebagai Ketua Divisi Minat dan Bakat. Selain aktif di organisasi penulis juga aktif di berbagai kegiatan kepanitiaan. Selama menempuh perkuliahan penulis pernah mendapat Beasiswa BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa) dari IPB.

Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis melaksanakan penelitian yang berjudul “Distribusi dan Pertumbuhan Cumi- Cumi Sirip Besar (Sepioteuthis lessoniana) di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun Kepulauan Seribu, Jakarta”.

(11)

x

Halaman

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 2

1.4. Manfaat Penelitian ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1. Biologi Cumi-Cumi Sirip Besar ... 3

2.2. Habitat dan Penyebaran ... 5

2.3. Pertumbuhan ... 8

2.3.1. Distribusi frakuensi panjang mantel ... 8

2.3.2. Pola pertumbuhan ... 9

2.3.3. Parameter pertumbuhan ... 9

2.4. Musim Pemijahan ... 10

2.5. Alat Tangkap ... 10

2.6. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan ... 11

III. METODE PENELITIAN ... 13

3.1. Lokasi dan Waktu ... 13

3.2. Alat dan Bahan ... 13

3.3. Pengumpulan Data ... 14

3.4. Analisis Data ... ... 16

3.4.1. Distribusi ... 16

3.4.1.1. Distribusi spasial ... 16

3.4.1.2. Distribusi temporal ... 19

3.4.2. Distribusi frekuensi panjang mantel ... 19

3.4.3. Identifikasi kelompok ukuran ... 20

3.4.4. Pola pertumbuhan ... 20

3.4.5. pendugaan parameter pertumbuhan ... 22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

4.1. Distribusi Cumi-Cumi Sirip Besar ... 23

4.1.1. Distribusi spasial ... 23

4.1.2. Distribusi temporal ... 27

4.2. Pertumbuhan ... 30

4.2.1. Distribusi frekuensi panjang mantel ... 30

4.2.2. Kelompok ukuran ... 34

4.2.3. Pola pertumbuhan ... 39

4.2.4. Pendugaan parameter pertumbuhan ... 44

(12)

xi

4.3. Implementasi untuk pengelolaan cumi-cumi sirip besar ... 46

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 48

5.1. Kesimpulan ... ... 48

5.2. Saran ... ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... ... 50

LAMPIRAN ... ... 53

(13)

xii

Halaman 1. Alat dan bahan serta kegunaannya ... 13 2. Rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi spasial

... 24 3. Kisaran panjang mantel cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi

spasial ... 25 4. Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi

spasial ... 25 5. Distribusi kelompok ukuran cumi-cumi sirip besar di perairan Karang

Congkak pada setiap pengambilan contoh ... 38 6. Distribusi kelompok ukuran cumi-cumi sirip besar di perairan Karang

Lebar dan Semak Daun pada setiap pengambilan contoh ... 38 7. Pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar di Perairan Karang Congkak

pada setiap pengambilan contoh ... 39 8. Pola pertumbuhan cumi-cumi sirip besar di Perairan Karang Lebar dan

Semak Daun pada setiap pengambilan contoh ... 39 9. Parameter pertumbuhan cumi-cumi sirip besar ... 44

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) ... 3 2. Peta lokasi penelitian ... 13 3. Metode pengukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar

(Sepioteuthis lessoniana) ... 15 4. Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar berdasarkan hasil rata-rata

tangkapan nelayan ... 24 5. Distribusi temporal cumi-cumi sirip besar pada setiap periode

pengambilan contoh ... 28 6. Distribusi frekuensi panjang mantel cumi-cumi sirip besar ... 31 7. Distribusi frekuensi panjang mantel cumi-cumi sirip besar yang

tertangkap dengan menggunakan pancing dan jaring ... 33 8. Distribusi kelompok ukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar di

perairan Karang Congkak per pengambilan contoh ... 35 9. Distribusi kelompok ukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar di

perairan Karang Lebar dan Semak Daun per pengambilan contoh ... 36 10. Hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi sirip besar ... 40 11. Hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi sirip besar pada

setiap periode pengambilan contoh ... 43 12. Pertumbuhan Von Bertalanffy cumi-cumi sirip besar ... 45

(15)

xiv

Halaman 1. Alat yang digunakan selama penelitian ... 54 2. Kegiatan penangkapan cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) 55 3. Uji z dan uji t di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan

Semak Daun ... 56 4. Kelompok ukuran cumi-cumi sirip besar di perairan Karang

Congkak yang dianalisis dengan menggunakan program NORMSEP (Normal Separation) yang terintegrasi dalam program FISAT II

(FAO-ICLARM Stock Assessment Tool) ... 63 5. Kelompok ukuran cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Lebar

dan Semak Daun yang dianalisis dengan menggunakan program NORMSEP (Normal Separation) yang terintegrasi dalam program

FISAT II (FAO-ICLARM Stock Assessment Tool) ... 66 6. Uji t nilai b hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi

sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) ... 68 7. Uji t nilai b hubungan panjang mantel dan bobot tubuh cumi-cumi

sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) pada setiap pengambilan contoh 70 8. Pendugaan parameter pertumbuhan (L, K, dan t0) dengan

menggunakan metode ELEFAN 1 cumi-cumi sirip besar

(Sepioteuthis lessoniana) ... 79

(16)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Cumi-cumi sirip besar merupakan salah satu sumberdaya ikan ekonomis yang menghuni daerah neritik dan bergerombol pada perairan pantai yang memiliki ekosistem karang dan lamun dengan daerah sebaran mulai dari permukaan hingga kedalaman 100 m (Roper et al. 1984 in Prasetyo 2007). Data FAO dan data Suku Dinas Perikanan Indonesia mengenai nilai ekonomis dari cumi-cumi sirip besar masih belum tersedia. Namun harga cumi-cumi sirip besar per 1 kg di Kepulauan Seribu berkisar antara Rp. 23.000,00 – 25.000,00. Salah satu daerah di Indonesia yang terdapat cumi-cumi sirip besar ialah Kepulauan Seribu. Kepulauan Seribu merupakan kawasan pelestarian alam bahari yang terletak di Jakarta Utara. Kawasan ini memiliki keunikan yang terletak pada ekosistem pesisir seperti terumbu karang dan lamun yang merupakan habitat bagi sumberdaya ikan seperti tempat mencari makan dan berkembang biak yang membuat wilayah tersebut memiliki keanekaragaman jenis biota laut yang melimpah (Hardianto et al. 1998 in Noor 2003). Salah satu daerah penangkapan utama sumberdaya tersebut di Kepulauan Seribu ialah perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun.

Cumi-cumi sirip besar di Kepulauan Seribu dimanfaatkan untuk kebutuhan komersial maupun konsumsi, sehingga penangkapan akan cumi-cumi sirip besar dilakukan secara terus-menerus. Aktivitas penangkapan cumi-cumi sirip besar dapat mempengaruhi populasi akan sumberdaya tersebut seperti dapat dilihat dari ukuran tubuh dan jumlah tangkapan yang semakin berkurang (Cushing 1970).

Pada dasarnya kemajuan yang dicapai dalam kegiatan usaha penangkapan di suatu daerah memerlukan adanya pengkajian secara meyeluruh, baik aspek biologi yaitu sumberdaya cumi-cumi sirip besar yang menjadi target penangkapan, aspek teknis seperti alat tangkap, dan aspek sosial yaitu nelayan maupun aspek ekonomi dalam hal ini pengumpul. Minimnya informasi tentang cumi-cumi sirip besar baik dari segi biologi, ekonomi, maupun sosial di Kepulauan Seribu menjadi kendala dalam pengelolaan sumberdaya itu sendiri. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan kajian informasi tentang aspek biologi populasi cumi-cumi sirip besar di Kepulauan Seribu.

(17)

1.2. Perumusan Masalah

Sifat dasar dari sumberdaya ikan adalah milik bersama (common property), yang pemanfaatannya dapat digunakan pada waktu yang bersamaan oleh lebih dari satu individu (open acces). Sifat dasar inilah yang memudahkan keluar masuknya individu atau pelaku usaha dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan. Mengingat sumberdaya ikan memiliki kemampuan yang terbatas untuk dapat pulih dan daya adaptasi yang berbeda-beda terhadap lingkungan, perlu dilakukan pengelolaan agar sumberdaya tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Kebutuhan manusia akan cumi-cumi sirip besar yang tinggi baik untuk konsumsi maupun kegiatan komersial menyebabkan penangkapan terhadap sumberdaya tersebut semakin meningkat di Kepulauan Seribu. Oleh karena itu diperlukan adanya studi tentang sumberdaya tersebut yang pada penelitian ini dibatasi pada distribusi dan pertumbuhannya agar kelestarian sumberdaya tersebut tetap terjaga di alam.

1.3. Tujuan

Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui distribusi dan pertumbuhan cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun. Adapun distribusi sumberdaya tersebut meliputi distribusi spasial dan temporal, sedangkan pertumbuhan sumberdaya tersebut meliputi distribusi frekuensi panjang mantel, pola pertumbuhan, dan parameter pertumbuhannya.

1.4. Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai cumi-cumi sirip besar di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar dan Semak Daun sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengelolaan cumi-cumi sirip besar di wilayah tersebut.

(18)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biologi Cumi-Cumi Sirip Besar

Klasifikasi cumi-cumi sirip besar (Gambar 1) menurut Voss (1963) adalah sebagai berikut:

Filum Moluska

Kelas Cephalopoda Subkelas Coleida Ordo Teuthida

Subordo Myopsida Famili Loliginidae

Subfamili Sepioteuthinae

Genus Sepioteuthis

Spesies Sepioteuthis lessoniana

Nama Indonesia : Cumi-cumi sirip besar Nama Lokal : Cumi-cumi karang Nama FAO : Big fin reef squid

Gambar 1. Cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) Sumber: Koleksi Pribadi

Cumi-cumi sirip besar memiliki mantel yang panjang dan berbentuk seperti tabung. Memiliki sirip yang besar dan membentang 1 mm hingga 2 mm dari mantel bagian anterior hingga posterior. Sirip tersebut bersatu pada bagian posterior.

Terdapat corong panjang pada permukaan kepala yang terhubung dengan saluran dalam tubuh. Memiliki kepala yang kokoh dengan mata yang menonjol. Memiliki 5

(19)

pasang lengan dengan satu pasang diantaranya lebih panjang daripada yang lain dan berfungsi untuk menangkap mangsanya dan disebut tentakel. Pada jantan, satu atau kedua dari lengan ketiga atau lengan keempat berubah bentuknya menjadi alat kopulasi dan disebut hektokotil untuk menyalurkan sperma. Memiliki kromatopor yang besar dan sangat banyak di dalam mantel bagian dorsal, sirip, kepala, dan lengan namun berjumlah sedikit pada bagian ventral (Voss 1963). Cumi-cumi sirip besar memiliki mantel yang sangat panjang dengan lebar 40% dari panjangnya, siripnya sangat besar yang panjangnya mencapai 90% dari panjang mantel, dan lebar siripnya lebih dari 75% lebar mantel (Karpenter & Niem 1998). Roper et al. (1984) in Prasetio (2007) menyatakan cumi-cumi sirip besar memiliki sirip yang sangat besar dengan ukuran sekitar 90 sampai 100% dari panjang mantel, lebarnya hampir mencapai 75% dari mantel, bagian terbesar terdapat pada bagian posterior sampai bagian pertengahan. Tentakel panjang dan besar serta memiliki alat penghisap (sucker) yang menyerupai cincin dengan 14–23 gigi tajam. Cincin penghisap (sucker ring) memiliki 18–29 gigi tajam dan berbentuk segitiga, tentakel panjang dan kuat.

Lengan kiri keempat pada individu jantan merupakan alat yang berfungsi sebagai hektokotil yaitu alat untuk memindahkan spermatofora.

Berbeda dengan kerabat-kerabat moluska lainnya, cephalopoda dilengkapi dengan cangkang dalam kecuali bangsa Nautiloida. Cangkang dalam cephalopoda berupa kepingan khitin atau kapur yang terletak pada rongga mantel di bawah kulit bagian punggung. Fungsi kepingan tersebut ialah sebagai rangka penguat tubuh.

Pada bangsa Teuthioida kepingan terdiri dari zat tanduk (chitine) (Djajasasmita et al.

1993).

Makanan utama cumi-cumi sirip besar ialah udang dan ikan (Karpenter &

Niem 1998). Menurut Andy Omar (2002) komposisi makanan cumi-cumi sirip besar berubah dengan semakin tumbuhnya tubuh mereka. Saat juvenil memakan udang yang berukuran kecil, saat lebih besar (young) memakan ikan dan udang, dan saat dewasa (adult) memakan udang, ikan, dan cephalopoda lainnya. Segawa (1993) in Andy Omar (2002) menyatakan bahwa terjadi kanibalisme antara cumi-cumi sirip besar itu sendiri. Menurutnya kanibalisme tidak terjadi jika ukuran pemangsa hanya berkisar antara 1 hingga 1.5 kali lebih besar daripada mangsanya. Menurut Hamsiah (1990) in Andy Omar (2002) di perairan Pulau Panikiang, Kabupaten Barru,

(20)

5

Sulawesi Selatan, makanan utama cumi-cumi sirip besar terdiri atas ikan dan krustasea, sedangkan makanan tambahan meliputi diatom, chlorophyceae, dan protozoa.

Tingkat pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi secara global dianggap masih relatif rendah dibandingkan dengan pemanfaatan sumberdaya ikan lainnya. Sebagian besar hasil tangkapan didominasi oleh cumi-cumi jenis neritik dan bentik yaitu jenis cumi-cumi yang berada di perairan paparan pantai dan paparan benua. Tingkat pemanfaatan cumi-cumi oseanik yang berada di lepas pantai yang banyak di antaranya jenis ekonomis penting diduga masih relatif rendah (Worms 1983 in Badrudin & Mubarak 1998). Cumi-cumi tertangkap hampir di seluruh perairan Indonesia mulai dari Paparan Sunda, Selat Makasar, Laut Flores, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda dan Laut Arafura. Beberapa perairan yang telah lama dikenal sebagai daerah penangkapan cumi-cumi adalah Selat Alas dan Selat Sape. Namun, akhir-akhir ini hasil tangkapan cumi-cumi di perairan Selat Malaka pun dilaporkan cukup dominan, yaitu sekitar 23 % dari rata-rata laju tangkap total (Sumiono et al. 1997 in Badrudin & Mubarak 1998). Produksi total cumi-cumi yang dilaporkan dalam statistik perikanan tahun 1995 adalah sekitar 27575 ton (Direktorat Jenderal Perikanan 1997 in Badrudin & Mubarak 1998).

Sebagian besar produksi cumi-cumi tersebut berasal dari hasil penangkapan dengan berbagai alat tangkap skala kecil dan sampai saat ini belum ada kegiatan perikanan cumi-cumi dalam skala besar yang diusahakan secara intensif. Adapun potensi dan tingkat pemanfaatan sumberdaya cumi-cumi pada Laut Jawa yaitu dengan potensi 5042 ton dan produksi 5099 ton (tahun 1997). Produksi cumi-cumi yang dicatat di kawasan perairan Sumatera Barat dan Laut Jawa sudah berada di sekitar MSY, sedangkan di Selatan Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Selat Malaka, Selat Makasar,dan Laut Flores tampak sudah melebihi MSY (Badrudin & Mubarak 1998).

2.2. Habitat dan Penyebaran

Menurut Nabithabhata (1996) cumi-cumi sirip besar hidup di daerah lepas pantai, terumbu karang, dekat daerah pantai dan estuaria. Roper et al. (1984) in Prasetio (2007) menyatakan bahwa cumi-cumi sirip besar merupakan hewan daerah neritik yang senang hidup bergerombol dan terkonsentrasi pada perairan dangkal

(21)

yang mempunyai ekosistem terumbu karang dan lamun dengan daerah sebaran dari permukaan hingga kedalaman 100 m. Sumberdaya ini tersedia sepanjang tahun, musim utama penangkapan terjadi pada bulan Desember hingga Maret (Shivashantini et al. 2009).

Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun merupakan salah satu wilayah perairan dangkal di gugusan Kepulauan Seribu yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Laut. Perairan dangkal merupakan wilayah yang terletak antara perairan rendah di pantai hingga kedalaman 10-20 m (Nybakken 1992).

Perairan dangkal memiliki goba (laguna) di mana terdapat ekosistem lamun dan ekosistem karang. Goba merupakan sebuah kawasan dangkal di pesisir lautan yang terpisah dari lautan terbuka yang dibatasi oleh suatu tepian atau karang, biasanya berupa terumbu karang. Dapat juga diartikan sebagai perairan terpisah yang memiliki kedalaman hingga 30 m seperti atol (Clapham 1973 in Wijaksana 2008).

Goba memiliki dua zona utama yaitu terumbu goba dan dasar goba. Terumbu goba ditemukan di sekeliling batas pinggir goba dan juga merupakan potongan karang yang muncul dari dasar goba ke permukaan. Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 m dan ini merupakan kedalaman untuk terumbu karang dapat hidup. Kondisi pertumbuhan terumbu karang di goba tidak sebaik di tubir. Hal tersebut disebabkan kondisi gelombang dan sirkulasi yang tidak besar, dan sedimentasi yang lebih besar di daerah goba. Terumbu karang yang mendominasi terumbu goba ialah Porites yang terpencil dan karang bercabang dari Acropora dengan kedalaman 15-20 m.

Sementara itu pada dasar goba tidak ada karang yang dapat tumbuh. Sedimentasi di daerah pasir membuat dasar goba dapat dijadikan hamparan yang luas bagi rumput laut (Thalassia dan Cymodocea) atau alga hijau (Caulerpa dan Halimeda) (Nybakken 1992). Adapun Wijaksana (2008) memperoleh kedalaman goba di perairan Pulau Pari berkisar antara 10.30–40.60 m dengan kedalaman rata-rata 30.60 m. Hal tersebut tidak sesuai Darsono (1977) in Wijaksana (2008) yang melakukan penelitian di lokasi yang sama, menyatakan bahwa kedalaman rata-rata goba adalah 6 m.

Pada tepi perairan suatu pulau terdapat lereng terluar yang menghadap ke laut atau sering disebut sebagai zona penopang (tubir), di mana kehidupan karang mulai melimpah pada kedalaman 50 m. Karang di daerah tersebut umumnya sedikit dan

(22)

7

bersifat lunak. Pada kedalaman 15 m terdapat lereng yang curam ke arah laut lepas, dari permukaan hingga kedalaman tersebut karang dapat tumbuh dengan subur karena kondisi lingkungan yang optimal. Pada daerah ini terdapat gelombang yang besar. Karang yang dominan hidup dan berkembang dengan cepat di daerah tersebut ialah Acropora (Nybakken 1992).

Daerah penyebarannya meliputi Indopasifik, Laut Merah, Laut Arab bagian timur, Australia bagian utara, serta perairan Jepang sampai Kepulauan Hawai.

Menurut Chikuni (1984) in Sulistyowati (2002) spesies ini terdapat di Laut Kuning dan Laut Cina Timur, perairan sekitar Filipina, Laut Cina Selatan, Laut Jawa hingga Laut Arafura, perairan sekitar Australia, Teluk Bengal dan Laut Arab bagian Barat.

Menurut Djajasasmita et al. (1993) daerah penyebaran cumi-cumi sirip besar meliputi Indonesia, Laut Merah, Teluk Persia, Laut Arab, perairan Pakistan, India, Srilangka, Bangladesh, Andaman dan Nikobar, Australia Utara dan Timur, sampai Selatan Jepang.

Studi tentang migrasi ialah hal dasar dalam biologi perikanan karena suatu sumberdaya ikan akan terus bergerak membentuk suatu putaran mulai dari spawning ground, nursery ground, hingga feeding ground. Migrasi dari suatu sumberdaya ikan akan menyebabkan bertambah atau berkurangnya suatu populasi sumberdaya tersebut (Cushing 1970).

Tulak (2000) in Andy Omar (2002) menemukan cumi-cumi sirip besar di perairan pantai sebelah selatan Pulau Kubur, Teluk Banten saat bulan Juni meletakkan kapsul telurnya di substrat bunga karang (sponge) di kedalaman 3 m.

Danakusumah et al. (1996) in Andy Omar (2002) menyatakan bahwa terjadi musim pemijahan cumi-cumi sirip besar di Perairan Bojo pada bulan Juni hingga Juli dan diperoleh kapsul telur cumi-cumi sirip besar yang dipasang pada kedalaman 5, 15, dan 18 m. Segawa (1993) in Andy Omar (2002) menyatakan bahwa di perairan Jepang, cumi-cumi sirip besar sering meletakkan kapsul telurnya pada karang- karang yang telah mati di ekosistem karang, khususnya jenis Acropora spp. Cumi- cumi sirip besar juga sering meletakkan kapsul telurnya pada substrat lamun Sargassum ringgoldianum, S. pattens, S. serratifolium, Padina arborescens, dan Zostera marina (Segawa 1987 in Andy Omar 2002).

(23)

2.3. Pertumbuhan

Petumbuhan secara sederhana dapat diartikan sebagai pertambahan ukuran panjang atau bobot dalam suatu kurun waktu. Di lain pihak pertumbuhan populasi diartikan sebagai pertambahan jumlah individu. Hubungan antara pertambahan ukuran dengan waktu dapat digambarkan dalam bentuk sistem koordinat yang dikenal sebagai “kurva pertumbuhan”, yaitu kurva dengan ukuran waktu yang digunakan diletakkan pada sumbu x dan ukuran dimensi lainnya (panjang atau bobot) pada sumbu y (Effendie 1997 in Andy Omar 2002). Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat selama periode waktu tertentu. Pertumbuhan populasi merupakan peningkatan biomassa suatu populasi yang dihasilkan oleh akumulasi bahan-bahan dari dalam lingkungannya (Effendie 2002).

Forsythe & Van Heukelem (1987) in Warsiati (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan dipengaruhi faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yang mempengaruhi pertumbuhan adalah umur, ukuran, jenis kelamin, kondisi makanan, aktivitas, dan pengaruh populasi. Sementara itu faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan adalah suhu, cahaya, salinitas, dan kualitas perairan. Menurut Effendie (2002) faktor-faktor yang sangat penting mempengaruhi pertumbuhan ialah suhu dan makanan, di mana pada perairan tropis makanan menjadi faktor yang lebih penting.

Pertumbuhan cephalopoda dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah fluktuasi suhu musiman, ketersediaan makanan, dan jenis kelamin.

Kebanyakan cumi-cumi memiliki masa hidup yang pendek, umur cumi-cumi sirip besar berdasarkan hasil studi dinamika populasi adalah 913 hari sampai 1278 hari (Roper et al. 1984 in Prasetio 2007).

Menurut Effendie (2002) untuk mengkaji pertumbuhan diperlukan beberapa analisis diantaranya distribusi frekuensi panjang, pola pertumbuhan, dan pendugaan parameter pertumbuhan.

2.3.1. Distribusi frekuensi panjang mantel

Mempelajari umur ikan (dalam hal ini cumi-cumi sirip besar) menggunakan metode frekuensi panjang digunakan anggapan bahwa ikan yang berada dalam satu kelompok umur yang mempunyai tendensi membentuk suatu distribusi normal

(24)

9

ukuran panjang di sekitar panjang rata-ratanya. Bila frekuensi ukuran panjang tersebut digambarkan dengan grafik akan membentuk beberapa puncak, di mana puncak-puncak tersebut yang kemudian digunakan sebagai kelompok umur ikan.

Adapun panjang yang digunakan pada cumi-cumi sirip besar ialah panjang mantel (Ricker 1975 in Sivashanthini et al. 2009).

2.3.2. Pola pertumbuhan

Pola pertumbuhan diperoleh dari analisis hubungan panjang dan bobot yang merupakan bagian dari sifat morfometrik yang berkaitan dengan sifat pertumbuhan.

Hasil studi hubungan panjang dan bobot memiliki nilai praktis yang memungkinkan berubah nilai panjang ke dalam bobot atau sebaliknya dan juga memberi keterangan mengenai pertumbuhan, kemontokan, dan perubahan lingkungan. Bobot dapat dinyatakan sebagai fungsi panjangnya di mana hubungan panjang bobot ini hampir mengikuti hukum kubik yaitu bobot sebagai pangkat tiga dari panjangnya (Effendie 2002). Adapun panjang yang digunakan dalam penelitian ini ialah panjang mantel dan bobot yang digunakan ialah bobot tubuh. Andy Omar (2002) menyatakan bahwa pertumbuhan dapat diketahui melalui hubungan panjang dan bobot, dalam hal ini bobot dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang.

Pengetahuan akan hubungan panjang dan bobot memiliki peran penting bagi biologi perikanan dan dinamika populasi suatu sumberdaya ikan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi stok atau biomassa yang ada di alam (Petrakis

& Stergiou 1995 in Shivashantini et al. 2009).

2.3.3. Parameter pertumbuhan

Persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy merupakan persamaan yang umumnya digunakan dalam studi pertumbuhan suatu populasi. Persamaan Von Bertalanffy didasarkan pada konsep fisiologis sehingga bisa digunakan untuk mengetahui beberapa masalah seperti variasi pertumbuhan karena ketersediaan makanan. Parameter-parameter yang digunakan untuk menduga pertumbuhan populasi ialah panjang asimtotik (L) yang merupakan panjang maksimum yang tidak mungkin dicapai, koefisien pertumbuhan (K), dan t0 yang merupakan umur teoritis saat panjang sama dengan nol. Segawa (1987) in Andy Omar (2002)

(25)

mengatakan bahwa laju pertumbuhan cumi-cumi sirip besar berkisar 0.7–0.9 mm/hari.

Penggunaan parameter pertumbuhan dapat memudahkan dalam penyusunan perencanaan pengelolaan (Sparre & Venema 1999). Cushing (1970) menyatakan bahwa variasi dari nilai panjang asimtotik (L) mungkin berhubungan dengan ketersediaan makanan di alam.

2.4. Musim Pemijahan

Informasi tentang musim pemijahan penting untuk penyusunan perencanaan pengelolaan suatu sumberdaya perikanan. Penelitian yang dilakukan oleh Andy Omar (2002) menunjukkan adanya dugaan terjadi pelepasan telur cumi-cumi sirip besar pada bulan Mei dan Juni 2001. Cumi-cumi betina yang telah mencapai TKG IV yang tertangkap dalam penelitian diperoleh mulai dari bulan November dan selesai pada bulan Februari dan Maret (Andy Omar 2002). Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa keadaan ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudjoko (1989) in Andy Omar (2002) yang menemukan bahwa cumi-cumi sirip besar yang hidup di perairan Teluk Banten mencapai 50% matang gonad pada bulan April dan Oktober, dan menyimpulkan bahwa pemijahan terjadi pada awal musim penghujan dan pada awal musim kemarau. Musim pemijahan cumi-cumi sirip besar di perairan Bojo, Sulawesi Selatan juga terjadi pada bulan Juni hingga Juli (Danakusumah et al. 1995 in Andy Omar 2002).

2.5. Alat Tangkap

Untuk menangkap cumi-cumi alat tangkap yang biasa digunakan ialah pancing, namun apabila jumlah cumi-cumi melimpah dapat digunakan jaring. Jenis- jenis teknik penangkapan ikan dengan menggunakan pancing biasa disebut line fishing atau hook and line atau angling yaitu alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing. Umumnya pada mata pancingnya dipasang umpan, baik umpan asli maupun umpan buatan yang berfungsi untuk menarik perhatian cumi- cumi. Umpan asli dapat berupa ikan, udang, atau organisme lain yang hidup ataupun mati, sedangkan umpan buatan dapat terbuat dari kayu, plastik, dan sebagainya yang menyerupai ikan, udang dan, sebagainya (Sudirman & Mallawa 2004).

(26)

11

Roper et al. (1984) in Hamzah (1998) menyatakan bahwa penangkapan cumi- cumi sirip besar dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis alat tangkap antara lain trawls, purse seine, dan khusus untuk nelayan tradisional kebanyakan menggunakan jigs (lambayan). Jigs merupakan salah satu jenis alat tangkap sederhana (perikanan skala kecil). Aplikasi alat ini ada dua cara yang disesuaikan dengan sifat dan daerah sebaran cumi-cumi itu sendiri (Yusuf & Hamzah 1996 in Hamzah 1998). Untuk penangkapan cumi-cumi sirip besar dipergunakan jigs yang dilengkapi dengan umpan buatan yang terbuat dari udang palsu dan dioperasikan di perairan pantai. Faktor yang merangsang cumi-cumi untuk menangkap jigs ialah warna dan bentuk udang palsu yang menyerupai warna dan bentuk udang alami.

Dalam hal ini, Koyama (1971) in Hamzah (1998) mengatakan bahwa pengaruh dari jigs akan lebih cepat memikat cumi-cumi bila jigs digerakkan atau disentak-sentak secara terus menerus, sehingga dapat menyerupai gerakan udang alami sebagai mangsanya.

2.6. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Keinginan untuk mengelola sumberdaya ikan sebenarnya telah muncul sejak lama. Pengelolaan sumberdaya ikan dahulu telah dikaitkan dengan dua isu pokok yaitu upaya mengurangi dampak buruk akibat kekurangan pangan dan keinginan mengkonservasi sumberdaya ikan, yaitu dengan memberikan kesempatan pada populasi ikan untuk bereproduksi (Nikolskii 1980 in Widodo & Suadi 2006). Selain karena penangkapan, ada faktor lain penyebab menurunnya populasi sumberdaya ikan seperti migrasi, hubungan predator-prey, dan faktor abiotik (Huxley 1983 in Widodo & Suadi 2006).

Berbagai hasil kajian yang berkembang terutama di berbagai lokasi perikanan, menunjukkan bahwa upaya pengelolaan semakin dirasakan meningkat kebutuhannya. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa intensitas pemanfaatan sumberdaya ikan yang terus meningkat dan sedikit upaya pengelolaan telah menyebabkan kehilangan keanekaragaman sumberdaya ikan dan habitatnya yang cukup besar. Sumberdaya ikan di laut ialah milik bersama (common property) dan dapat dimanfaatkan oleh semua orang (open access) sehingga dapat terjadi persaingan dalam memanfaatkannya. Persaingan oleh para pelaku perikanan ialah dengan berusaha mendapatkan sumberdaya perikanan sebanyak-banyaknya. Hal

(27)

tersebut memungkinkan sumberdaya perikanan yang ada di laut akan semakin menipis (Widodo & Suardi 2006).

Sumberdaya perikanan bukan tidak terbatas dan bukan tidak bisa terusakkan.

Sumberdaya perikanan yang memiliki daya reproduksi akan dapat tetap terjaga bila dikelola dengan baik secara berkesinambungan dan bertanggung jawab.

Pertimbangan pengelolaan perikanan dibatasi oleh sejumlah faktor seperti pertimbangan biologi, ekologi dan lingkungan, sosial, teknologi, kultural, dan ekonomi (Widodo & Suardi 2006).

(28)

III. METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun Kepulauan Seribu (Gambar 2). Lokasi pengambilan contoh dilakukan di perairan yang merupakan daerah penangkapan (fishing ground) cumi-cumi sirip besar oleh nelayan Pulau Panggang. Waktu penelitian dilakukan selama 3 bulan (Maret 2011 hingga Mei 2011).

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan terdiri dari alat tangkap, alat tulis, timbangan digital, GPS (Global Positioning System), kamera digital, dan tissue. Bahan yang digunakan ialah cumi-cumi sirip besar (Tabel 1).

Tabel 1. Alat dan bahan serta kegunaannya

Jenis Kegunaan

Alat

1. Jaring lingkar dengan mata jaring 1 inch

Menangkap cumi-cumi

(29)

Tabel 1. (lanjutan)

Jenis Kegunaan

Alat

2. Pancing cumi-cumi dengan umpan buatan

Menangkap cumi-cumi 3. Penggaris dengan ketelitian

0.5 mm

Mengukur panjang cumi-cumi 4. Timbangan digital dengan

ketelitian 0.01 g

Menimbang berat cumi-cumi

5. Alat tulis Mencatat hasil pengamatan

6. Tissue Pembersih

7. Kamera Dokumentasi

8. GPS Penentuan titik koordinat sampling

Bahan

1. Cumi-cumi sirip besar Objek penelitian

3.3. Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan untuk keperluan penelitian ini adalah data primer. Data primer terdiri dari pengambilan cumi-cumi sirip besar contoh dengan ikut melakukan trip penangkapan bersama nelayan dan wawancara terhadap nelayan. Nelayan cumi-cumi sirip besar di Pulau Panggang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu nelayan permanen dan nelayan temporal. Nelayan permanen yaitu nelayan yang sehari-harinya mencari cumi-cumi sirip besar, sedangkan nelayan temporer adalah nelayan yang hanya menangkap cumi-cumi pada saat kelimpahan cumi-cumi sirip besar tinggi. Terdapat 4 nelayan di Pulau Panggang yang kegiatan kesehariannya menangkap cumi-cumi dan 1 nelayan dipilih untuk ikut melaut berdasarkan pengalamannya, metode ini disebut purposive sampling method.

Adapun alat tangkap yang dapat digunakan untuk menangkap cumi-cumi sirip besar ialah trawls, purse seine, dan jigs (Roper et al 1984 in Hamzah 1998). Dalam penelitian ini digunakan alat tangkap yang biasa digunakan oleh nelayan Pulau Panggang yaitu pancing dan jaring insang dengan mesh size 1 inch. Alat tangkap tersebut dianggap sudah mewakili karena dapat menangkap dari ukuran kecil hingga besar.

Cumi-cumi sirip besar contoh diidentifikasi dengan cara mengamati morfologinya yaitu bentuk tubuh, sirip, warna, dan ciri khusus lainnya, kemudian dihitung jumlah dan diukur panjang dan bobot. Panjang yang diukur adalah panjang

(30)

15

mantel dan bobot yang diukur ialah bobot tubuh (Gambar 3). Cumi-cumi sirip besar yang telah diukur panjang mantelnya dipisahkan untuk dilakukan pengukuran bobot.

Gambar 3. Metode pengukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana)

Sumber: Roper and Voss (1983) in Andy Omar (2002)

Pengambilan contoh responden dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling atau pemilihan responden dengan sengaja berdasarkan kesediaan anggota populasi. Metode pengambilan contoh secara purposive adalah penarikan contoh yang dilakukan berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh peneliti.

Pengambilan contoh dilakukan terhadap nelayan yang dianggap mewakili sifat-sifat dari keseluruhan nelayan yang menangkap cumi-cumi sirip besar di Perairan Kepulauan Seribu. Jenis data yang dikumpulkan melalui wawwancara adalah sebagai berikut :

(1) Ukuran, komposisi, dan produksi cumi-cumi sirip besar; seluruh hasil tangkapan akan dikumpulkan dan diamati.

(2) Jumlah dan kategori (tipe) kapal; seluruh kapal yang menangkap cumi-cumi sirip besar di perairan tersebut.

(3) Alat tangkap; jenis data ini meliputi jenis, kategori dan jumlah alat tangkap yang beroperasi.

(4) Lokasi penangkapan; karena setiap nelayan memiliki lokasi penangkapan (fishing ground) yang berbeda-beda, oleh karena itu akan dilakukan inventarisasi lokasi penangkapan setiap cumi-cumi sirip besar yang ditangkap.

(5) Musim penangkapan; data ini meliputi waktu-waktu penangkapan cumi-cumi sirip besar di laut, yaitu musim panen dan paceklik.

(31)

(6) Nelayan; data nelayan yang relevan untuk dikumpulkan meliputi jumlah dan kategori nelayan.

Pengambilan lokasi dan sub area penelitian juga dilakukan dengan mengunakan metode pusposive sampling. Karakteristik nelayan dalam melakukan kegiatan penangkapan di daerah tertentu dijadikan penentuan dalam metode ini.

3.4. Analisis Data 3.4.1. Distribusi

3.4.1.1. Distribusi spasial

Data yang digunakan dalam penentuan distribusi spasial ialah data hasil tangkapan per sub area. Sub area pada masing-masing perairan dipisahkan menjadi 3 yaitu perairan dangkal hingga pinggir goba (yang selanjutnya akan disebut sebagai hamparan dangkal), perairan yang lebih dalam di goba namun terletak di pinggir goba atau lebih sering disebut dengan terumbu goba (yang selanjutnya akan disebut goba), dan tubir.

Pada masing-masing sub area dibuat rata-rata jumlah tangkapannya sehingga dapat dibandingkan satu sama lain. Untuk membandingkan rata-rata jumlah tangkapan pada masing-masing sub area dilakukan uji z kecuali pada perbandingan antara hamparan dangkal dengan tubir di perairan Karang Lebar dan Semak Daun karena contoh yang digunakan kurang dari 30 sehingga digunakan uji t. Adapun sub are yang dibandingkan antara lain ialah hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir pada masing-masing lokasi penelitian.

Berikut ini disajikan analisis data uji z dengan menggunakan Microsoft Excel dengan menggunakan data yang telah diperoleh:

1. Dipilih Data pada Tool Bar 2. Dipilih Data Analysis

3. Dipilih z-Test: Two Sample for Means, lalu klik OK

4. Dimasukkan data yang ingin diuji pada varible 1 dan variable 2

5. Dimasukkan data Sample Variance data yang diuji pada Variable 1 Variance dan Variable 2 Variance

6. Dipilih Output Range, lalu klik OK

7. Diperoleh hasil nilai zhitung ialah z, sedangkan ztabel ialah z critical two tail, karena uji yang dilakukan ialah 2 arah dengan hipotesis sebagai berikut:

(32)

17

- Misalnya yang diuji ialah hamparan dangkal dengan goba di perairan Karang Congkak

H0 : Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal = Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di goba

H1 : Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal ≠ Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di goba

Selanjutnya, nilai zhitung dibandingkan dengan nilai ttabel pada selang kepercayaan 95%. Apabila:

zhitung > ztabel : tolak hipotesis nol (H0)

zhitung < ztabel : gagal tolak hipotesis nol (H0)

Adapun analisis data uji t untuk perbandingan jumlah tangkapan antara hamparan dangkal dengan tubir di perairan Karang Lebar dan Semak Daun dengan menggunakan Microsoft Excel dengan menggunakan data yang telah diperoleh, yaitu sebagai berikut:

1. Dipilih Data pada Tool Bar 2. Dipilih Data Analysis

3. Dipilih t-Test: Two Sample Assuming Unequal Variance, lalu klik OK

4. Dimasukan data yang ingin diuji pada Variable 1 Range dan Variable 2 Range

5. Dipilih Output Range, lalu pilih OK

6. Diperoleh hasil nilai thitung ialah t Stat, sedangkan ttabel ialah t Critical two-tail karena uji yang dilakukan ialah 2 arah

- Adapun hipotesis yang digunakan ialah sebagai berikut:

H0 : Rata-rata jumlah tangkapan di hamparan dangkal = Rata-rata jumlah tangkapan di tubir

H1 : Rata-rata jumlah tangkapan di hamparan dangkal ≠ Rata-rata jumlah tangkapan di tubir

Selanjutnya, nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel pada selang kepercayaan 95%. Apabila:

thitung > ttabel : tolak hipotesis nol (H0) thitung < ttabel : gagal tolak hipotesis nol (H0)

(33)

Hal yang sama juga dilakukan pada pengujian masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian yaitu rata-rata jumlah tangkapan antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun, goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun, dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun. Adapun langkah dalam analisis data sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya pada masing-masing sub area. Adapun salah satu hipotesis yang digunakan ialah sebagai berikut, contoh yang digunakan di hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun:

H0 : Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Congkak = Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun H1 : Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal

perairan Karang Congkak = Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun

Selain itu data jumlah tangkapan pada masing-masing sub area juga dapat dibedakan berdasarkan panjang mantel rata-ratanya sehingga dapat diketahui perbedaan ukuran pada masing-masing sub area. Untuk membandingkan panjang mantel rata-rata pada masing-masing sub area dilakukan uji z kecuali pada perbandingan antara hamparan dangkal dengan tubir di perairan Karang Lebar dan Semak Daun karena contoh yang digunakan kurang dari 30 sehingga digunakan uji t. Adapun sub are yang dibandingkan antara lain ialah hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir pada masing-masing lokasi penelitian. Untuk analisis data yang digunakan sama seperti yang sebelumnya telah dijelaskan seperti pada uji z dan uji t pada data jumlah tangkapan pada masing- masing sub area. Adapun perbedaannya terletak pada hipotesis yang digunakan, karena yang diuji ialah panjang mantel rata-rata. Berikut disajikan hipotesis yang digunakan dengan contoh yang diuji ialah panjang mantel rata-rata di goba dan tubir di perairan Karang Congkak yaitu sebagai berikut:

H0 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di goba = Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di tubir

H1 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di goba ≠ Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di tubir

(34)

19

Hal yang sama juga dilakukan pada pengujian masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian yaitu panjang mantel rata-rata antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun, goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun, dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun. Adapun langkah dalam analisis data sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya pada masing-masing sub area. Adapun salah satu hipotesis yang digunakan ialah sebagai berikut, contoh yang digunakan di hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun:

H0 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Congkak = Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun H1 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal

perairan Karang Congkak ≠ Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun

3.4.1.2. Distribusi temporal

Data yang digunakan untuk distribusi temporal ialah data hasil tangkapan per periode penangkapannya. Adapun periode penangkapan dibagi menjadi 5 sesuai dengan pengambilan contoh yaitu 02–10 Maret 2011, 20–27 Maret 2011, 28 Maret – 04 April 2011, 15–21 April 2011, dan 06 Mei–12 Mei 2011. Pada masing-masing periode penangkapan dibuat data jumlah hasil tangkapan dan didukung dengan jumlah biomassa sehingga dapat dibandingkan satu sama lain.

3.4.2. Distribusi frekuensi panjang mantel

Menurut King (1995) data yang digunakan dalam penentuan distribusi frekuensi panjang adalah data panjang mantel dari cumi-cumi sirip besar yang ditangkap oleh nelayan Pulau Panggang di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun. Tahap untuk menganalisis data frekuensi panjang mantel cumi- cumi yaitu :

(35)

(a) Menentukan jumlah selang kelas yang diperlukan

(b) Menentukan lebar selang kelas, untuk melihat sebaran data yang lebih rinci penggunaan lebar kelas dalam penelitian ini diperkecil dengan cara membagi dua lebar kelas yang diperoleh berdasarkan persamaan sebelumnya.

(c) Menentukan kelas frekuensi dan memasukkan frekuensi masing-masing kelas dengan memasukkan panjang mantel masing-masing cumi-cumi sirip besar pada selang kelas yang telah ditentukan

Distribusi frekuensi panjang mantel yang telah ditentukan dalam masing- masing kelas, diplotkan dalam sebuah grafik untuk melihat jumlah distribusi normalnya. Grafik tersebut menggambarkan pergeseran sebaran kelas panjang mantel setiap pengambilan contohnya.

3.4.3. Identifikasi kelompok ukuran

Pendugaan kelompok ukuran dilakukan dengan menganalisis frekuensi panjang mantel cumi-cumi sirip besar. Data frekuensi panjang mantel dianalisis dengan mengunakan metode NORMSEP (Normal Separation) yang terdapat dalam program FISAT II (FAO-ICLARM Stock Assesment Tool). Sebaran frekuensi panjang mantel dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok ukuran yang diasumsikan menyebar normal, masing-masing dicirikan oleh rata-rata dan simpangan baku. Dalam memisahkan kelompok ukuran perlu diperhatikan nilai indeks separasi karena sangat diperhatikan dalam penggunaan metode NORMSEP (Hasselblad 1996, Mc New & Summeffelt 1978, serta Clark 1981 in Sparre &

Venema 1999). Apabila indeks separasi kurang dari dua (<2) maka tidak mungkin dilakukan pemisahan kelompok ukuran karena terjadi tumpang tindih antara kedua kelompok ukuran yang dipisahkan. Apabila nilai indeks separasi lebih dari dua (>2) maka hasil pemisahan kelompok ukuran dapat diterima dan digunakan untuk analisis selanjutnya.

3.4.4. Pola pertumbuhan

Pola pertumbuhan dapat dilihat dari hubungan panjang dan bobot yang digambarkan dalam dua bentuk yaitu isometrik dan alometrik (Effendi 2002).

Menurut Bagenal & Tesch (1978) dan Ricker (1975) in Shivashantini et al. (2009)

(36)

21

untuk cumi-cumi sirip besar hubungan panjang mantel dan bobot tubuh berlaku persamaan:

W = a L b Keterangan:

W = bobot tubuh (g) L = panjang mantel (mm) a & b = Konstanta hasil regresi

Untuk menguji nilai b=3 atau b≠3 (b=3, pertumbuhan panjang mantel seimbang dengan pertumbuhan bobot) atau (b≠3, pertumbuhan panjang mantel tidak seimbang dengan pertumbuhan bobot) dilakukan uji-t, dengan hipotesis :

H0 : b = 3, hubungan panjang mantel dengan bobot adalah isometrik H1 : b ≠ 3, hubungan panjang mantel dengan bobot adalah allometrik

thitung =

1 0 1

Sb b b

Keterangan :

b1 = nilai b (hubungan dari panjang mantel dan bobot tubuh) b0 = 3

Sb1 = simpangan koefisien b

Selanjutnya, nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel pada selang kepercayaan 95%. Apabila:

thitung > ttabel : tolak hipotesis nol (H0) thitung < ttabel : gagal tolak hipotesis nol (H0)

Setelah itu apabila hasil uji diperoleh allometrik, maka dapat ditentukan bentuk allometriknya dari nilai b yang diperoleh dimana allometrik positif, jika b>3 (pertumbuhan bobot lebih dominan daripada pertumbuhan panjang mantel) dan allometrik negatif, jika b<3 (pertumbuhan panjang mantel lebih dominan daripada pertumbuhan bobot) (Effendie 2002).

(37)

3.4.5. Pendugaan parameter pertumbuhan

Pertumbuhan panjang sumberdaya ikan dapat dinyatakan dengan model Von Bertalanffy sebagai berikut (Sparre & Venema 1999).

Lt = L (1-e-K(t- t0)) Keterangan:

Lt = panjang cumi-cumi pada saat umur ke-t

L = panjang maksimum yang tidak mungkin dicapai (panjang asimtotik) (mm) K = koefisien pertumbuhan (per tahun)

t0 = umur teoritis saat panjang sama dengan nol (tahun)

Nilai L dan K diperoleh dari hasil perhitungan dengan metode Non Parametrik Scoring of Von Bertalanffy Growth Function melalui bantuan software ELEFAN 1 (Electronic Length Frequencys Análisis) yang terintegrasi dalam program FiSAT II. Umur teoritis (t0) saat panjang sama dengan nol dapat diduga secara terpisah dengan menggunakan persamaan empiris (Pauly 1984 in Sparre dan Venema 1999) sebagai berikut:

Log (-t0) = 0.3922 – 0.2752 (Log L ) – 1.0380 (Log K) Keterangan:

Lt = panjang cumi-cumi pada saat umur ke-t

L = panjang maksimum yang tidak mungkin dicapai (panjang asimtotik) (mm) K = koefisien pertumbuhan (per tahun)

t0 = umur teoritis saat panjang sama dengan nol (tahun)

(38)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Distribusi Cumi-Cumi Sirip Besar 4.1.1. Distribusi spasial

Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun yang tertangkap tersebar di perairan dangkal hingga dalam.

Penangkapan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun lebih banyak dilakukan di wilayah yang lebih dalam seperti tubir dan goba (Gambar 2). Nelayan cenderung menangkap cumi-cumi sirip besar di perairan yang lebih dalam karena pengaruh pasang surut laut. Nelayan Pulau Panggang melakukan aktivitas penangkapan cumi-cumi sirip besar pada pagi hingga sore hari, dan selama penelitian berlangsung terjadi surut pada siang hari yang mengakibatkan nelayan lebih sering melakukan penangkapan pada daerah yang lebih dalam.

Kondisi pasang surut juga mempengaruhi jalan kapal nelayan dalam melakukan penangkapan cumi-cumi sirip besar karena saat pasang kapal nelayan dapat masuk ke dalam perairan dangkal, sedangkan saat kondisi surut kapal nelayan tidak dapat masuk ke perairan dangkal sehingga lebih banyak melakukan aktivitas penangkapan di daerah yang lebih dalam seperti tubir, goba, dan hamparan dangkal yang lebih dalam.

Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun dibedakan menjadi tiga sub area yaitu hamparan dangkal, goba, dan tubir. Pada perairan Karang Congkak rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar yang paling banyak terdapat di tubir sebesar 5 + 15 ekor, sedangkan di perairan Karang Lebar dan Semak Daun rata-rata tangkapan paling banyak di daerah goba sebanyak 3 + 2 ekor (Gambar 4 dan Tabel 2). Rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar pada masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian bervariasi nilainya (Gambar 4 dan Tabel 2).

(39)

Gambar 4. Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar berdasarkan hasil rata-rata tangkapan nelayan: (a) perairan Karang Congkak, (b) perairan Karang Lebar dan Semak Daun

Tabel 2. Rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi spasial Sub Area

Rata-Rata Tangkapan (ekor) Perairan Karang

Congkak

Perairan Karang Lebar dan Semak Daun

Hamparan Dangkal 4 + 8 2 + 2

Goba 2 + 2 3 + 2

Tubir 5 + 15 2 + 2

Setelah dilakukan uji z (p<0.05), diperoleh bahwa rata-rata tangkapan cumi- cumi sirip besar di hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir di perairan Karang Congkak tidak menunjukkan adanya perbedaan. Hal yang sama juga terjadi di perairan Karang Lebar dan Semak Daun di mana tidak ditunjukkan adanya perbedaan rata-rata tangkapan di hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir (Lampiran 3).

Hal tersebut dapat menunjukkan cumi-cumi sirip besar tersebar merata masing- masing sub area. Selain itu juga dilakukan uji z rata-rata tangkapan pada masing- masing sub area pada kedua lokasi penelitian dan diperoleh hasil yang menunjukkan tidak adanya perbedaan antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun, goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun, dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun (Lampiran 3). Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata tangkapan pada masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian ialah sama dan didukung oleh pernyataan Roper et al. (1984) in Prasetyo (2007) yang menyatakan bahwa cumi-cumi sirip besar hidup

(40)

25

pada perairan pantai dengan daerah sebaran mulai dari permukaan hingga kedalaman 100 m. Salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan jumlah tangkapan pada kedua lokasi penelitian diduga karena kegiatan penangkapan yang lebih sering dilakukan di perairan Karang Congkak dibandingkan perairan Karang Lebar dan Semak Daun.

Ukuran terkecil cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak terdapat di tubir dengan panjang mantel 26 mm, sedangkan ukuran terbesar terdapat di hamparan dangkal dengan panjang mantel 257 mm (Tabel 3). Pada perairan Karang Lebar dan Semak Daun cumi-cumi sirip besar dengan ukuran terkecil dan terbesar juga terdapat pada tubir dan hamparan dangkal dengan panjang mantel berturut-turut 71 mm dan 285 mm. Adapun panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak yang terkecil terdapat di tubir sebesar 79.60 + 58.24 mm dan yang terbesar terdapat di goba sebesar 129.08 + 40.72 mm. Sementara itu di perairan Karang Lebar dan Semak Daun panjang mantel rata-rata terkecil terdapat di goba sebesar 126.81 + 39.74 mm dan terbesar di hamparan dangkal sebesar 179.73 + 68.55 mm (Tabel 4).

Tabel 3. Kisaran panjang mantel cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi spasial

Sub Area

Kisaran Panjang Mantel (mm) Perairan Karang

Congkak

Perairan Karang Lebar dan Semak Daun

Hamparan Dangkal 41-257 90-285

Goba 71-240 81-250

Tubir 26-217 71-256

Tabel 4. Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi spasial

Sub Area

Panjang Mantel Rata-Rata + SD (mm) Perairan Karang

Congkak

Perairan Karang Lebar dan Semak Daun

Hamparan Dangkal 98.22 + 46.29 179.73 + 68.55

Goba 129.08 + 40.72 126.81 + 39.74

Tubir 79.60 + 58.24 128.17 + 45.41

(41)

Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak menunjukkan adanya perbedaan pada masing-masing sub area setelah dilakukan uji z (p>0.05) yaitu antara hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir. Hal yang sama juga terjadi di perairan Karang Lebar dan Semak Daun di mana ditunjukkan adanya perbedaan panjang mantel rata-rata pada hamparan dangkal dengan goba dan hamparan dangkal dengan tubir, kecuali antara goba dengan tubir di mana terdapat perbedaan (p<0.05) (Lampiran 3). Hal tersebut menunjukkan bahwa ukuran cumi-cumi sirip besar pada masing-masing sub area berbeda satu sama lain. Selain itu juga dilakukan uji z panjang mantel rata-rata pada masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian dan diperoleh hasil yang menunjukkan adanya perbedaan (p>0.05) antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun, kecuali goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun yang menunjukkan tidak adanya perbedaan (p<0.05) (Lampiran 3).

Salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan panjang mantel rata-rata pada kedua lokasi penelitian diduga karena intensitas penggunaan alat tangkap yang tidak seimbang pada kedua lokasi penelitian, selain itu kegiatan penangkapan yang lebih sering dilakukan di perairan Karang Congkak dibandingkan perairan Karang Lebar dan Semak Daun juga diduga memberikan pengaruh yang berbeda.

Cumi-cumi sirip besar menghuni daerah neritik dan hidup bergerombol pada perairan pantai yang memiliki ekosistem karang dan lamun dengan daerah sebaran mulai dari permukaan hingga kedalaman 100 m (Roper et al. 1984 in Prasetyo 2007). Hasil wawancara dengan nelayan menunjukkan bahwa cumi-cumi sirip besar banyak tertangkap pada daerah hamparan dangkal, goba, dan tubir namun rata-rata tangkapan selama penelitian paling banyak terdapat di daerah tubir karena aktivitas penangkapan yang dilakukan pada siang hari di mana terjadi kondisi surut (Tabel 2).

Hasil wawancara dengan nelayan juga menunjukkan umumnya cumi-cumi sirip besar yang berukuran besar terdapat di daerah goba namun selama penelitian selain ditemukan pada goba di perairan Karang Congkak, juga banyak ditemukan di hamparan dangkal seperti terdapat di perairan Karang Lebar dan Semak Daun (Tabel 4). Hal ini diduga cumi-cumi sirip besar melakukan aktivitas mencari makan. Hal

Gambar

Gambar 1. Cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana)  Sumber: Koleksi Pribadi
Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian
Gambar 3. Metode pengukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis  lessoniana)
Gambar 4.  Distribusi  spasial  cumi-cumi  sirip  besar  berdasarkan  hasil  rata-rata  tangkapan  nelayan:  (a)  perairan  Karang  Congkak,  (b)  perairan  Karang  Lebar dan Semak Daun
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan penelitian untuk membangun sebuah sistem informasi yang dapat mengatasi permasalahan usul kenaikan pangkat, usul kenaikan

Artinya Ho ditolak, yaitu tidak ada perbedaan antara penilaian terhadap realita dengan harapan dari pemohon pembuatan paspor, terkait aspek tangible dalam

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Harmi, PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MELALUI PERMAINAN DENGAN ALAT PERAGA KANTONG NILAI PADA SISWA KELAS 1 SD NEGERI 1 GLINTANG KECAMATAN

Standar kompetensi yang dikembangkan dalam teaching factory adalah pengetahuan dan keterampilan yang berorientasi pada produk agar sesuai kebutuhan industri sehingga lulusan

Minyak eucalyptus dari klon 77 memiliki nilai rendemen dan kadar sineol yang lebih tinggi dibandingkan lainnya.. 82 UCAPAN

timba yang tergeletak di lantai, atau jarak dengan sumber pencemaran yang terlalu dekat sehingga dikhawatirkan menjadi jalan untuk sumber-sumber pencemaran masuk

Analisis ragam statistik menunjukkan bahwa variasi asam sitrat dan asam tartrat memberikan pengaruh signifikan terhadap sudut diam dan kekerasan tablet, namun