• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Keinginan untuk mengelola sumberdaya ikan sebenarnya telah muncul sejak lama. Pengelolaan sumberdaya ikan dahulu telah dikaitkan dengan dua isu pokok yaitu upaya mengurangi dampak buruk akibat kekurangan pangan dan keinginan mengkonservasi sumberdaya ikan, yaitu dengan memberikan kesempatan pada populasi ikan untuk bereproduksi (Nikolskii 1980 in Widodo & Suadi 2006). Selain karena penangkapan, ada faktor lain penyebab menurunnya populasi sumberdaya ikan seperti migrasi, hubungan predator-prey, dan faktor abiotik (Huxley 1983 in Widodo & Suadi 2006).

Berbagai hasil kajian yang berkembang terutama di berbagai lokasi perikanan, menunjukkan bahwa upaya pengelolaan semakin dirasakan meningkat kebutuhannya. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa intensitas pemanfaatan sumberdaya ikan yang terus meningkat dan sedikit upaya pengelolaan telah menyebabkan kehilangan keanekaragaman sumberdaya ikan dan habitatnya yang cukup besar. Sumberdaya ikan di laut ialah milik bersama (common property) dan dapat dimanfaatkan oleh semua orang (open access) sehingga dapat terjadi persaingan dalam memanfaatkannya. Persaingan oleh para pelaku perikanan ialah dengan berusaha mendapatkan sumberdaya perikanan sebanyak-banyaknya. Hal

tersebut memungkinkan sumberdaya perikanan yang ada di laut akan semakin menipis (Widodo & Suardi 2006).

Sumberdaya perikanan bukan tidak terbatas dan bukan tidak bisa terusakkan.

Sumberdaya perikanan yang memiliki daya reproduksi akan dapat tetap terjaga bila dikelola dengan baik secara berkesinambungan dan bertanggung jawab.

Pertimbangan pengelolaan perikanan dibatasi oleh sejumlah faktor seperti pertimbangan biologi, ekologi dan lingkungan, sosial, teknologi, kultural, dan ekonomi (Widodo & Suardi 2006).

III. METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun Kepulauan Seribu (Gambar 2). Lokasi pengambilan contoh dilakukan di perairan yang merupakan daerah penangkapan (fishing ground) cumi-cumi sirip besar oleh nelayan Pulau Panggang. Waktu penelitian dilakukan selama 3 bulan (Maret 2011 hingga Mei 2011).

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan terdiri dari alat tangkap, alat tulis, timbangan digital, GPS (Global Positioning System), kamera digital, dan tissue. Bahan yang digunakan ialah cumi-cumi sirip besar (Tabel 1).

Tabel 1. Alat dan bahan serta kegunaannya

Jenis Kegunaan

Alat

1. Jaring lingkar dengan mata jaring 1 inch

Menangkap cumi-cumi

Tabel 1. (lanjutan) 3. Penggaris dengan ketelitian

0.5 mm

Mengukur panjang cumi-cumi 4. Timbangan digital dengan

ketelitian 0.01 g

Menimbang berat cumi-cumi

5. Alat tulis Mencatat hasil pengamatan

6. Tissue Pembersih

7. Kamera Dokumentasi

8. GPS Penentuan titik koordinat sampling

Bahan

1. Cumi-cumi sirip besar Objek penelitian

3.3. Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan untuk keperluan penelitian ini adalah data primer. Data primer terdiri dari pengambilan cumi-cumi sirip besar contoh dengan ikut melakukan trip penangkapan bersama nelayan dan wawancara terhadap nelayan. Nelayan cumi-cumi sirip besar di Pulau Panggang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu nelayan permanen dan nelayan temporal. Nelayan permanen yaitu nelayan yang sehari-harinya mencari cumi-cumi sirip besar, sedangkan nelayan temporer adalah nelayan yang hanya menangkap cumi-cumi pada saat kelimpahan cumi-cumi sirip besar tinggi. Terdapat 4 nelayan di Pulau Panggang yang kegiatan kesehariannya menangkap cumi-cumi dan 1 nelayan dipilih untuk ikut melaut berdasarkan pengalamannya, metode ini disebut purposive sampling method.

Adapun alat tangkap yang dapat digunakan untuk menangkap cumi-cumi sirip besar ialah trawls, purse seine, dan jigs (Roper et al 1984 in Hamzah 1998). Dalam penelitian ini digunakan alat tangkap yang biasa digunakan oleh nelayan Pulau Panggang yaitu pancing dan jaring insang dengan mesh size 1 inch. Alat tangkap tersebut dianggap sudah mewakili karena dapat menangkap dari ukuran kecil hingga besar.

Cumi-cumi sirip besar contoh diidentifikasi dengan cara mengamati morfologinya yaitu bentuk tubuh, sirip, warna, dan ciri khusus lainnya, kemudian dihitung jumlah dan diukur panjang dan bobot. Panjang yang diukur adalah panjang

15

mantel dan bobot yang diukur ialah bobot tubuh (Gambar 3). Cumi-cumi sirip besar yang telah diukur panjang mantelnya dipisahkan untuk dilakukan pengukuran bobot.

Gambar 3. Metode pengukuran panjang mantel cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana)

Sumber: Roper and Voss (1983) in Andy Omar (2002)

Pengambilan contoh responden dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling atau pemilihan responden dengan sengaja berdasarkan kesediaan anggota populasi. Metode pengambilan contoh secara purposive adalah penarikan contoh yang dilakukan berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh peneliti.

Pengambilan contoh dilakukan terhadap nelayan yang dianggap mewakili sifat-sifat dari keseluruhan nelayan yang menangkap cumi-cumi sirip besar di Perairan Kepulauan Seribu. Jenis data yang dikumpulkan melalui wawwancara adalah sebagai berikut :

(1) Ukuran, komposisi, dan produksi cumi-cumi sirip besar; seluruh hasil tangkapan akan dikumpulkan dan diamati.

(2) Jumlah dan kategori (tipe) kapal; seluruh kapal yang menangkap cumi-cumi sirip besar di perairan tersebut.

(3) Alat tangkap; jenis data ini meliputi jenis, kategori dan jumlah alat tangkap yang beroperasi.

(4) Lokasi penangkapan; karena setiap nelayan memiliki lokasi penangkapan (fishing ground) yang berbeda-beda, oleh karena itu akan dilakukan inventarisasi lokasi penangkapan setiap cumi-cumi sirip besar yang ditangkap.

(5) Musim penangkapan; data ini meliputi waktu-waktu penangkapan cumi-cumi sirip besar di laut, yaitu musim panen dan paceklik.

(6) Nelayan; data nelayan yang relevan untuk dikumpulkan meliputi jumlah dan kategori nelayan.

Pengambilan lokasi dan sub area penelitian juga dilakukan dengan mengunakan metode pusposive sampling. Karakteristik nelayan dalam melakukan kegiatan penangkapan di daerah tertentu dijadikan penentuan dalam metode ini.

3.4. Analisis Data 3.4.1. Distribusi

3.4.1.1. Distribusi spasial

Data yang digunakan dalam penentuan distribusi spasial ialah data hasil tangkapan per sub area. Sub area pada masing-masing perairan dipisahkan menjadi 3 yaitu perairan dangkal hingga pinggir goba (yang selanjutnya akan disebut sebagai hamparan dangkal), perairan yang lebih dalam di goba namun terletak di pinggir goba atau lebih sering disebut dengan terumbu goba (yang selanjutnya akan disebut goba), dan tubir.

Pada masing-masing sub area dibuat rata-rata jumlah tangkapannya sehingga dapat dibandingkan satu sama lain. Untuk membandingkan rata-rata jumlah tangkapan pada masing-masing sub area dilakukan uji z kecuali pada perbandingan antara hamparan dangkal dengan tubir di perairan Karang Lebar dan Semak Daun karena contoh yang digunakan kurang dari 30 sehingga digunakan uji t. Adapun sub are yang dibandingkan antara lain ialah hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir pada masing-masing lokasi penelitian.

Berikut ini disajikan analisis data uji z dengan menggunakan Microsoft Excel dengan menggunakan data yang telah diperoleh:

1. Dipilih Data pada Tool Bar 2. Dipilih Data Analysis

3. Dipilih z-Test: Two Sample for Means, lalu klik OK

4. Dimasukkan data yang ingin diuji pada varible 1 dan variable 2

5. Dimasukkan data Sample Variance data yang diuji pada Variable 1 Variance dan Variable 2 Variance

6. Dipilih Output Range, lalu klik OK

7. Diperoleh hasil nilai zhitung ialah z, sedangkan ztabel ialah z critical two tail, karena uji yang dilakukan ialah 2 arah dengan hipotesis sebagai berikut:

17

Adapun analisis data uji t untuk perbandingan jumlah tangkapan antara hamparan dangkal dengan tubir di perairan Karang Lebar dan Semak Daun dengan menggunakan Microsoft Excel dengan menggunakan data yang telah diperoleh, yaitu sebagai berikut:

1. Dipilih Data pada Tool Bar 2. Dipilih Data Analysis

3. Dipilih t-Test: Two Sample Assuming Unequal Variance, lalu klik OK

4. Dimasukan data yang ingin diuji pada Variable 1 Range dan Variable 2 Range

5. Dipilih Output Range, lalu pilih OK

6. Diperoleh hasil nilai thitung ialah t Stat, sedangkan ttabel ialah t Critical two-tail karena uji yang dilakukan ialah 2 arah

- Adapun hipotesis yang digunakan ialah sebagai berikut:

H0 : Rata-rata jumlah tangkapan di hamparan dangkal = Rata-rata jumlah tangkapan di tubir

H1 : Rata-rata jumlah tangkapan di hamparan dangkal ≠ Rata-rata jumlah tangkapan di tubir

Selanjutnya, nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel pada selang kepercayaan 95%. Apabila:

thitung > ttabel : tolak hipotesis nol (H0) thitung < ttabel : gagal tolak hipotesis nol (H0)

Hal yang sama juga dilakukan pada pengujian masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian yaitu rata-rata jumlah tangkapan antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun, goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun, dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun. Adapun langkah dalam analisis data sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya pada masing-masing sub area. Adapun salah satu hipotesis yang digunakan ialah sebagai berikut, contoh yang digunakan di hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun:

H0 : Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Congkak = Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun H1 : Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal

perairan Karang Congkak = Rata-rata jumlah tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun

Selain itu data jumlah tangkapan pada masing-masing sub area juga dapat dibedakan berdasarkan panjang mantel rata-ratanya sehingga dapat diketahui perbedaan ukuran pada masing-masing sub area. Untuk membandingkan panjang mantel rata-rata pada masing-masing sub area dilakukan uji z kecuali pada perbandingan antara hamparan dangkal dengan tubir di perairan Karang Lebar dan Semak Daun karena contoh yang digunakan kurang dari 30 sehingga digunakan uji t. Adapun sub are yang dibandingkan antara lain ialah hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir pada masing-masing lokasi penelitian. Untuk analisis data yang digunakan sama seperti yang sebelumnya telah dijelaskan seperti pada uji z dan uji t pada data jumlah tangkapan pada masing-masing sub area. Adapun perbedaannya terletak pada hipotesis yang digunakan, karena yang diuji ialah panjang mantel rata-rata. Berikut disajikan hipotesis yang digunakan dengan contoh yang diuji ialah panjang mantel rata-rata di goba dan tubir di perairan Karang Congkak yaitu sebagai berikut:

H0 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di goba = Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di tubir

H1 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di goba ≠ Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di tubir

19

Hal yang sama juga dilakukan pada pengujian masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian yaitu panjang mantel rata-rata antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun, goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun, dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun. Adapun langkah dalam analisis data sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya pada masing-masing sub area. Adapun salah satu hipotesis yang digunakan ialah sebagai berikut, contoh yang digunakan di hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun:

H0 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Congkak = Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun H1 : Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal

perairan Karang Congkak ≠ Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun

3.4.1.2. Distribusi temporal

Data yang digunakan untuk distribusi temporal ialah data hasil tangkapan per periode penangkapannya. Adapun periode penangkapan dibagi menjadi 5 sesuai dengan pengambilan contoh yaitu 02–10 Maret 2011, 20–27 Maret 2011, 28 Maret – 04 April 2011, 15–21 April 2011, dan 06 Mei–12 Mei 2011. Pada masing-masing periode penangkapan dibuat data jumlah hasil tangkapan dan didukung dengan jumlah biomassa sehingga dapat dibandingkan satu sama lain.

3.4.2. Distribusi frekuensi panjang mantel

Menurut King (1995) data yang digunakan dalam penentuan distribusi frekuensi panjang adalah data panjang mantel dari cumi-cumi sirip besar yang ditangkap oleh nelayan Pulau Panggang di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun. Tahap untuk menganalisis data frekuensi panjang mantel cumi-cumi yaitu :

(a) Menentukan jumlah selang kelas yang diperlukan

(b) Menentukan lebar selang kelas, untuk melihat sebaran data yang lebih rinci penggunaan lebar kelas dalam penelitian ini diperkecil dengan cara membagi dua lebar kelas yang diperoleh berdasarkan persamaan sebelumnya.

(c) Menentukan kelas frekuensi dan memasukkan frekuensi masing-masing kelas dengan memasukkan panjang mantel masing-masing cumi-cumi sirip besar pada selang kelas yang telah ditentukan

Distribusi frekuensi panjang mantel yang telah ditentukan dalam masing-masing kelas, diplotkan dalam sebuah grafik untuk melihat jumlah distribusi normalnya. Grafik tersebut menggambarkan pergeseran sebaran kelas panjang mantel setiap pengambilan contohnya.

3.4.3. Identifikasi kelompok ukuran

Pendugaan kelompok ukuran dilakukan dengan menganalisis frekuensi panjang mantel cumi-cumi sirip besar. Data frekuensi panjang mantel dianalisis dengan mengunakan metode NORMSEP (Normal Separation) yang terdapat dalam program FISAT II (FAO-ICLARM Stock Assesment Tool). Sebaran frekuensi panjang mantel dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok ukuran yang diasumsikan menyebar normal, masing-masing dicirikan oleh rata-rata dan simpangan baku. Dalam memisahkan kelompok ukuran perlu diperhatikan nilai indeks separasi karena sangat diperhatikan dalam penggunaan metode NORMSEP (Hasselblad 1996, Mc New & Summeffelt 1978, serta Clark 1981 in Sparre &

Venema 1999). Apabila indeks separasi kurang dari dua (<2) maka tidak mungkin dilakukan pemisahan kelompok ukuran karena terjadi tumpang tindih antara kedua kelompok ukuran yang dipisahkan. Apabila nilai indeks separasi lebih dari dua (>2) maka hasil pemisahan kelompok ukuran dapat diterima dan digunakan untuk analisis selanjutnya.

3.4.4. Pola pertumbuhan

Pola pertumbuhan dapat dilihat dari hubungan panjang dan bobot yang digambarkan dalam dua bentuk yaitu isometrik dan alometrik (Effendi 2002).

Menurut Bagenal & Tesch (1978) dan Ricker (1975) in Shivashantini et al. (2009)

21 seimbang dengan pertumbuhan bobot) atau (b≠3, pertumbuhan panjang mantel tidak seimbang dengan pertumbuhan bobot) dilakukan uji-t, dengan hipotesis :

H0 : b = 3, hubungan panjang mantel dengan bobot adalah isometrik H1 : b ≠ 3, hubungan panjang mantel dengan bobot adalah allometrik

thitung =

Setelah itu apabila hasil uji diperoleh allometrik, maka dapat ditentukan bentuk allometriknya dari nilai b yang diperoleh dimana allometrik positif, jika b>3 (pertumbuhan bobot lebih dominan daripada pertumbuhan panjang mantel) dan allometrik negatif, jika b<3 (pertumbuhan panjang mantel lebih dominan daripada pertumbuhan bobot) (Effendie 2002).

3.4.5. Pendugaan parameter pertumbuhan

Pertumbuhan panjang sumberdaya ikan dapat dinyatakan dengan model Von Bertalanffy sebagai berikut (Sparre & Venema 1999).

Lt = L (1-e-K(t- t0)) Keterangan:

Lt = panjang cumi-cumi pada saat umur ke-t

L = panjang maksimum yang tidak mungkin dicapai (panjang asimtotik) (mm) K = koefisien pertumbuhan (per tahun)

t0 = umur teoritis saat panjang sama dengan nol (tahun)

Nilai L dan K diperoleh dari hasil perhitungan dengan metode Non Parametrik Scoring of Von Bertalanffy Growth Function melalui bantuan software ELEFAN 1 (Electronic Length Frequencys Análisis) yang terintegrasi dalam program FiSAT II. Umur teoritis (t0) saat panjang sama dengan nol dapat diduga secara terpisah dengan menggunakan persamaan empiris (Pauly 1984 in Sparre dan Venema 1999) sebagai berikut:

Log (-t0) = 0.3922 – 0.2752 (Log L ) – 1.0380 (Log K) Keterangan:

Lt = panjang cumi-cumi pada saat umur ke-t

L = panjang maksimum yang tidak mungkin dicapai (panjang asimtotik) (mm) K = koefisien pertumbuhan (per tahun)

t0 = umur teoritis saat panjang sama dengan nol (tahun)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Distribusi Cumi-Cumi Sirip Besar 4.1.1. Distribusi spasial

Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun yang tertangkap tersebar di perairan dangkal hingga dalam.

Penangkapan cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun lebih banyak dilakukan di wilayah yang lebih dalam seperti tubir dan goba (Gambar 2). Nelayan cenderung menangkap cumi-cumi sirip besar di perairan yang lebih dalam karena pengaruh pasang surut laut. Nelayan Pulau Panggang melakukan aktivitas penangkapan cumi-cumi sirip besar pada pagi hingga sore hari, dan selama penelitian berlangsung terjadi surut pada siang hari yang mengakibatkan nelayan lebih sering melakukan penangkapan pada daerah yang lebih dalam.

Kondisi pasang surut juga mempengaruhi jalan kapal nelayan dalam melakukan penangkapan cumi-cumi sirip besar karena saat pasang kapal nelayan dapat masuk ke dalam perairan dangkal, sedangkan saat kondisi surut kapal nelayan tidak dapat masuk ke perairan dangkal sehingga lebih banyak melakukan aktivitas penangkapan di daerah yang lebih dalam seperti tubir, goba, dan hamparan dangkal yang lebih dalam.

Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak, Karang Lebar, dan Semak Daun dibedakan menjadi tiga sub area yaitu hamparan dangkal, goba, dan tubir. Pada perairan Karang Congkak rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar yang paling banyak terdapat di tubir sebesar 5 + 15 ekor, sedangkan di perairan Karang Lebar dan Semak Daun rata-rata tangkapan paling banyak di daerah goba sebanyak 3 + 2 ekor (Gambar 4 dan Tabel 2). Rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar pada masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian bervariasi nilainya (Gambar 4 dan Tabel 2).

Gambar 4. Distribusi spasial cumi-cumi sirip besar berdasarkan hasil rata-rata tangkapan nelayan: (a) perairan Karang Congkak, (b) perairan Karang Lebar dan Semak Daun

Tabel 2. Rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi spasial Sub Area

Setelah dilakukan uji z (p<0.05), diperoleh bahwa rata-rata tangkapan cumi-cumi sirip besar di hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir di perairan Karang Congkak tidak menunjukkan adanya perbedaan. Hal yang sama juga terjadi di perairan Karang Lebar dan Semak Daun di mana tidak ditunjukkan adanya perbedaan rata-rata tangkapan di hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir (Lampiran 3).

Hal tersebut dapat menunjukkan cumi-cumi sirip besar tersebar merata masing sub area. Selain itu juga dilakukan uji z rata-rata tangkapan pada masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian dan diperoleh hasil yang menunjukkan tidak adanya perbedaan antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun, goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun, dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun (Lampiran 3). Hal tersebut menunjukkan bahwa rata-rata tangkapan pada masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian ialah sama dan didukung oleh pernyataan Roper et al. (1984) in Prasetyo (2007) yang menyatakan bahwa cumi-cumi sirip besar hidup

25

pada perairan pantai dengan daerah sebaran mulai dari permukaan hingga kedalaman 100 m. Salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan jumlah tangkapan pada kedua lokasi penelitian diduga karena kegiatan penangkapan yang lebih sering dilakukan di perairan Karang Congkak dibandingkan perairan Karang Lebar dan Semak Daun.

Ukuran terkecil cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak terdapat di tubir dengan panjang mantel 26 mm, sedangkan ukuran terbesar terdapat di hamparan dangkal dengan panjang mantel 257 mm (Tabel 3). Pada perairan Karang Lebar dan Semak Daun cumi-cumi sirip besar dengan ukuran terkecil dan terbesar juga terdapat pada tubir dan hamparan dangkal dengan panjang mantel berturut-turut 71 mm dan 285 mm. Adapun panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak yang terkecil terdapat di tubir sebesar 79.60 + 58.24 mm dan yang terbesar terdapat di goba sebesar 129.08 + 40.72 mm. Sementara itu di perairan Karang Lebar dan Semak Daun panjang mantel rata-rata terkecil terdapat di goba sebesar 126.81 + 39.74 mm dan terbesar di hamparan dangkal sebesar 179.73 + 68.55 mm (Tabel 4).

Tabel 3. Kisaran panjang mantel cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi spasial

Hamparan Dangkal 41-257 90-285

Goba 71-240 81-250

Tubir 26-217 71-256

Tabel 4. Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar berdasarkan distribusi spasial

Sub Area

Panjang Mantel Rata-Rata + SD (mm) Perairan Karang

Panjang mantel rata-rata cumi-cumi sirip besar di perairan Karang Congkak menunjukkan adanya perbedaan pada masing-masing sub area setelah dilakukan uji z (p>0.05) yaitu antara hamparan dangkal dengan goba, hamparan dangkal dengan tubir, dan goba dengan tubir. Hal yang sama juga terjadi di perairan Karang Lebar dan Semak Daun di mana ditunjukkan adanya perbedaan panjang mantel rata-rata pada hamparan dangkal dengan goba dan hamparan dangkal dengan tubir, kecuali antara goba dengan tubir di mana terdapat perbedaan (p<0.05) (Lampiran 3). Hal tersebut menunjukkan bahwa ukuran cumi-cumi sirip besar pada masing-masing sub area berbeda satu sama lain. Selain itu juga dilakukan uji z panjang mantel rata-rata pada masing-masing sub area pada kedua lokasi penelitian dan diperoleh hasil yang menunjukkan adanya perbedaan (p>0.05) antara hamparan dangkal perairan Karang Congkak dengan hamparan dangkal perairan Karang Lebar dan Semak Daun dan tubir perairan Karang Congkak dengan tubir perairan Karang Lebar dan Semak Daun, kecuali goba perairan Karang Congkak dengan goba perairan Karang Lebar dan Semak Daun yang menunjukkan tidak adanya perbedaan (p<0.05) (Lampiran 3).

Salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan panjang mantel rata-rata pada kedua lokasi penelitian diduga karena intensitas penggunaan alat tangkap yang

Salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan panjang mantel rata-rata pada kedua lokasi penelitian diduga karena intensitas penggunaan alat tangkap yang

Dokumen terkait