BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAHj Jumlah Persentase Pekerja Anak
12. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
Keluarga Berencana merupakan program utama pemerintah untuk menurunkan angka pertumbuhan penduduk nasional sejak masa orde baru sampai saat ini. Ketika itu, pertumbuhan penduduk secara nasional mencapai angka 2,34% pertahun. program KB telah berhasil menurunkan angka pertumbuhan penduduk secara nasional sehingga pada saat sekarang mencapai 1,49 persen per tahun.
Data untuk menghitung angka kelahiran kasar penduduk adalah jumlah kelahiran dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun kali 1000. Data jumlah kelahiran untuk tahun 2015 tidak tersedia. Dengan demikian angka kelahiran kasar penduduk saja tidak bisa dihitung. Walaupun demikian,jika diambil jumlah kelahiran di Distrik Anggi dalam tahun 2015 adalah 10 peristiwa, jumlah kelahiran di distrik Didohu sebanyak 7 peristiwa, maka angka kelahiran kasar Pegaf dapat dihitung dengan data sample tersebut sehingga diperoleh 17 peristiwa dibagi 4.654 x 1.000 adalah 3,65 perseribu penduduk. Artinya tiap seribu penduduk PEGAF dalam tahun 2015 terdapat kelahiran sebesar 3,65 peristiwa atau 0,365 persen per tahun.
13. Sosial
Mencegah timbulnya masalah kesejahteraan sosial dan memberikan pelayanan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), melalui sistem panti dan luar panti atau berbasiskan masyarakat atau komunitas, serta bantuan kepada korban bencana dalam meningkatkan keberfungsian sosialnya. Arahnya meningkatkan pelayanan dan rehabilitasi
BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
sosial, pemberdayaan dan penghargaan diberikan kepada masyarakat yang berjasa dibidang ini, meningkatkan peran dan fungsi potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS) dalam penangan PMKS) melalui pendayagunaan dan pemberdayaan potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS) dalam penanganan PKMS dan pembangunan kesejateraan sosial.
Analisis cakupan Dinas Sosial utama antara lain adalah :
1. Cakupan Pembinaan Gelandangan, Pengemis, PMKS, Anak Jalanan Dan Anak Cacat.
Cakupan pembinaan ini belum dilaksanakan, karena data-data mengenai pengemis, penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), anak jalanan dan anak cacat tidak ada, sesuai dengan statistik yang tersaji pada pegaf dalam angka maupun distrik dalam angka.
2. Akses kepada pelayanan sosial dasar bagi masyarakat miskin.
Di Kabupaten Pegunungan Arfak, akses kepada pelayanan sosial dasar bagi rakyat miskin belum ada sesuai dengan data yang ada.
3. Jumlah Tenaga Pelayanan Sosial Untuk Berbagai Jenis Kecacatan
Jumlah tenaga pelayanaan sosial yang melaksanakan kegiatan dan bekerja mengurus berbagai jenis kecacatan di kabupaten pegunungan arfak tidak, ini dapat dilihat sesuai dengan informasi data yang ada pada pegaf dalam angka maupun distrik dalam angka.
4. Peluang Mengakses Pelayanan Umum.
Peluang masyarakat untuk mengakses pelayanan umum belum tercapai sesuai dengan data yang ada.
5. Persentase Penurunan Jumlah Fakir Miskin dan Keluarga Rentan Sosial. Dalam kurun waktu tahun 2013 sampai dengan tahun 2015, prosentase mengenai penurunan jumlah fakir miskin, keluarga rentan sosial belum ada dan tidak tersaji pada data-data statistik yang ada.
Kehadiran Dinas Sosial di Kabupaten Pegunungan Arfak adalah untuk melindungi dan atau merehabilitasi sosial, tuna sosial dan penderita cacat dan lain-lain.
Jumlah anak yatim piatu, anak cacat, orang lanjut usia,anak tuna susila dan anak DO yang menjadi tanggungjawab Dinas Sosial Kabupaten Pegungan Arfak secara berturut-turut adalah 20,170, 261, 40 dan 70 orang (Pegaf Dalam Angka, 2013).
BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Masalah yang dihadapi Dinas sosial untuk melaksanakan pelayanan sosial di Kabupaten Pegunungan Arfak adalah:
1. Terbatasnya dana 2. Belum ada panti asuhan
3. Belum ada tenaga pembina yang cukup memadai. 4. Belum ada perumahan bagi petugas
5. Pendataan fakir miskin belum dilakukan
Kebutuhan program yang mengatasi kelima masalah tersebut, masing- masing adalah:
1. Meningkatkan jumlah dana pada APBD atau sumber dana lainnya; 2. Membangun panti asuhan
3. Mengangkat tenaga pembina sesuai kebutuhan 4. Membangun perumahan bagi petugas
5. Melakukan pendataan fakir miskin.
14. Ketenagakerjaan
Secara teoritis bahwa pengangguran terbuka merupakan penduduk usia kerja yang sedang mempersiapkan usaha atau telah bekerja tapi dalam seminggu yang lalu sementara tidak bekerja, misal karena sakit, cuti, dan sebagainya.
Data BPS Kabupaten Pegaf menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun) sebanyak 18.077 jiwa, sedangkan jumlah penduduk usia non-produktif sebanyak 8.625 jiwa. Namun belum ada data yang bersumber dari Dinas Kependudukan dan Catatatan Sipil maupun instansi lain yang memungkinkan dilakukan analisis sesuai definisi, yakni banyaknya penduduk yang sedang memperisapkan usaha atau telah bekerja tetapi dalam seminggu yang lalu sementara tidak bekerja, misal karena sakit, cuti, dan sebagainya.
Jumlah pekerja formal pedesaan/perkotaan, yakni setiap pekerja baik pada sektor formal maupun non-formal, dimana dari output yang dihasilkan oleh setiap pekerja pada unit kerja tertentu yang memberikan sumbangsih kepada PDRB. Berdasarkan definisi tersebut, tidak ada data dan informasi dari instansi terkait yang dapat memungkinkan tim untuk dapat menganalisisnya.
BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Jumlah pekerja pada lapangan kerja kurang produktif di sini berkaitan dengan kontribusinya terhadap PDRB maupun terhadap pendapatan per kapita. Berdasarkan defini tersebut, dapat dikatakan bahwa tidak ada data mengenai pekerja pada sektor formal, namun dari sisi besar penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, berdasarkan hasil analisis, ± 82,26% penduduk Kabupaten Pegaf menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, dengan demikian 14.870 jiwa penduduk usia produktif yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, dapat diklaim sebagai bekerja pada lapangan kerja kurang produktif.
Tingkat kesempatan kerja, merupakan tingkat ketersediaan jenis pekerjaan (baik sektor formal maupun informal) tingkat tersedianya kesempatan bagi para pencari kerja pada usia kerja untuk terlibat secara penuh dalam pekerjaan-perkerjaan tersebut. Lagi-lagi tidak tersedia data yang diperlukan untuk keperluan analisis tingkat kesempatan kerja.
Kapasitas balai latihan kerja, proporsi tenaga kerja Indonesia terdidik di Kabupaten Pegaf, dan jumlah kasus pelanggaran/penyimpangan regulasi ketenagakerjaan juga tidak ada data. Oleh karena Pegaf merupakan kabupaten baru, sehingga belum mempunyai balai latihan kerja (baik bangunan/instalasi fisik maupun kelembagaannya), demikian pula data mengenai proporsi tenaga kerja terdidik, dan jumlah kasus pelanggaran/penyimpangan regulasi ketenagakerjaan juga belum ada.