• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TANGGUNGJAWAB KELUARGA KATOLIK TERHADAP

A. Tanggungjawab Keluarga Katolik

2. Keluarga Katolik

“Dalam abad atom ini, keluarga modern dapat dikategorikan sebagai ‘nuclear’ (inti), yang berarti bagian yang paling dasar. Itu berarti bahwa keluarga

seperti atom, mudah terbelah dan disertai dengan penghancuran dan perubahan besar” (Eminyan, 2001: 7). Artinya keluarga merupakan dasar tumbuhkembangnya suatu peradaban manusia serta mempunyai peran penting dalam membawa perubahan hidup dalam masyarakat.

“Gereja sadar akan luar biasa pentingnya keluarga bagi masyarakat pada umumnya serta bagi kesejahteraan komunitas Kristiani” (Eminyan, 2001: 9). Sebab di dalam keluarga ada ikatan kasih paling unggul, tempat lahir manusia baru dan berkembang dalam kemanusiaan serta iman. Keluarga adalah komunitas pertama dan utama yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak, karena di dalam keluargalah anak-anak lahir, hidup dan bertumbuh dewasa (GE, a. 3). Dalam keluarga, anak menemukan pengalaman pertama mengenai masyarakat manusia yang sehat dan Gereja. Melalui keluarga itu pula, secara perlahan anak dihantar masuk ke dalam pergaulan masyarakat dan Gereja.

Dalam rangka pembukaan Konvensi Tahunan Gerejani Keuskupan Roma, Paus Fransiskus, mengatakan “hendaknya suami dan istri saling melengkapi dalam keluarga sehingga anak tumbuh dewasa dalam jati diri mereka sendiri ketika membandingkan berbagai cara berbeda ayah dan ibu mereka mengasihi” (Warta Iman, 27-28 Juni 2015: 28). Kutipan di atas mengartikan bahwa di dalam keluarga anak dapat meniru dan meneladani segala sikap dan tindakan baik dan buruk dari orang tua. Terlebih khusus segala sikap baiknya dan anak mampu merealisasikan panggilan hidupnya sebagai manusia dan orang beriman Kristiani dalam keluarga. Dengan demikian, peranan keluarga dalam kehidupan Gereja dan masyarakat semakin diakui dan dirasakan oleh semua pihak.

a. Pengertian Keluarga Katolik

Syamsu Yusuf (2010: 35-36) mengemukakan pendapat M.I. Soelaeman mengenai pengertian keluarga. Ditinjau dari sudut pandang sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan “clan” atau marga; dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak. Dari pengertian keluarga di atas dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan keluarga adalah meliputi orang tua serta anak-anak yang telah dipersatukan oleh ikatan perkawinan.

Konsili Vatikan II mengatakan: “karena Pencipta alam semesta telah menetapkan persekutuan suami-istri menjadi asal-mula dan dasar masyarakat manusia, maka keluarga merupakan sel terkecil dan sangat penting bagi masyarakat” (AA, a. 11). Sebagai sel terkecil dalam masyarakat, keluarga mempunyai hubungan-hubungan yang amat penting dan organik dengan masyarakat, karena di dalam keluarga seluruh jaringan hubungan sosial dibangun (Paus Yohanes Paulus II, 1994: 8). Melalui kehadiran dan peran anggota- anggotanya, keluarga menjadi tempat asal dan upaya efektif untuk membangun masyarakat yang manusiawi dan rukun (FC, a. 43).

Sebagai suatu satuan kekerabatan, keluarga memiliki hubungan kedekatan atau relasi antar anggota-anggotanya. Kata kekerabatan sendiri memiliki arti perihal berkerabat. Sedangkan berkerabat artinya mempunyai hubungan keluarga. Dalam perkawinan dan keluarga terjalin serangkaian hubungan antar pribadi (FC, a. 15). Setiap anggota keluarga dijalin oleh relasi yang bersifat personal dan

fungsional. Yang dimaksud dengan relasi personal adalah relasi antar pribadi, yang tidak didasarkan pada kedudukan atau fungsi seseorang. Dalam relasi personal ini, anggota-anggota yang ada di dalam keluarga memiliki martabat yang sama, tidak ada hubungan orang tua dan anak, melainkan hubungan antar pribadi yang ada di dalam keluarga. Sedangkan, relasi fungsional adalah relasi yang muncul dari kedudukan atau fungsi seseorang dalam keluarga. Contoh dari relasi fungsional seperti relasi antara orang tua dan anak. Dalam keluarga, kedua relasi ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena hubungan fungsional dalam keluarga harus selalu personal juga, artinya harus selalu dalam semangat menerima yang lain sebagai pribadi yang bermartabat sama karena memiliki hak yang sama pula.

Pandangan mengenai keluarga di atas sejalan dengan padangan Gereja dalam Katekismus Gereja Katolik yang mengartikan keluarga Katolik sebagai persekutuan kodrati, di mana pria dan wanita dipanggil untuk menyerahkan diri dalam cinta kasih dan melanjutkan kehidupan (KGK No. 2207). Artinya persekutuan pribadi-pribadi ini terjadi atas dasar pilihan dan keputusan sadar dan bebas antara seorang pria dan seorang wanita, serta diungkapkan dalam kesepakatan nikah. Mereka bersedia meninggalkan segalanya, termasuk orang tua dan sanak saudaranya untuk membangun persekutuan hidup dengan pasangannya.

Pria dan wanita dipanggil untuk senantiasa menumbuhkembangkan persatuan mereka dengan selalu setia pada janji perkawinan. Berkat janji perkawinan yang diucapkan, mereka tidak lagi dua melainkan satu daging. Dalam Mat 19:6 dikatakan “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena

itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Sabda Yesus ini mengatakan bahwa suami-istri merupakan dua pribadi yang telah disatukan oleh Allah. Surat Santo Paulus kepada jemaat di Efesus (5:22-33) mengatakan suatu perkawinan dapat dikatakan sebagai sakramen, sebagai tanda dan rahmat hubungan antara Allah dan jemaat-Nya, bila perkawinan tersebut dilakukan secara sah oleh dua pribadi yang telah dibaptis dalam nama Yesus.

Sejak dibaptis, suami bersatu dengan Kristus. Tuhan hadir dalam dirinya. Demikian pula istri, sejak dibaptis ia pun bersatu dengan Kristus. Tuhan hadir dalam dirinya. Oleh karena itu, ketika kedua orang Katolik menikah, Kristus semakin hadir dalam diri mereka. Menurut keyakinan Gereja, kehadiran Kristus membawa rahmat, yang semakin menyatukan mereka berdua. Sebab kasih ilahi- Nya menyempurnakan kasih manusiawi mereka berdua lewat kekuatan dan bantuan rahmat sehingga dapat melaksanakan segala tugas yang berkaitan dengan status mereka sebagai suami-istri dan sebagai orang tua bagi anak-anak mereka (Gilarso, 1996: 158).

Konsili Vatikan II menegaskan sakramentalitas perkawinan tersebut dalam Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini dengan menyatakan bahwa cinta kasih suami-istri dengan segala dimensinya dilimpahi anugerah- anugerah yang mengalir dari sumber kasih ilahi dan dibangun oleh Kristus menurut teladan persatuan cinta kasih-Nya dengan Gereja (GS, a. 48). Melalui sakramen, suami-istri mengambil bagian dalam karya keselamatan. Sebagai perwujudan, Sakramen Perkawinan memberi mereka rahmat dan tugas untuk melaksanakan atau mewujudnyatakan tuntutan-tuntutan kasih yang mengampuni

dan menebus pada masa sekarang ini. Sebagai nubuat, Sakramen Perkawinan memberi mereka rahmat dan tugas untuk hidup dan menjadi saksi tentang pengharapan perjumpaan dengan Kristus pada masa yang akan datang (FC, a. 13). Kehadiran Kristus membawa rahmat yang membantu suami-istri dalam mengasuh dan mendidik anak-anak. Karena rahmat ilahi itu, mereka tidak hanya mengasihi anak-anak dengan kasih manusiawi yang serba terbatas, tetapi juga dengan kasih ilahi. Sebagai sakramen, perkawinan memiliki berbagai tujuan, yakni kesejahteraan suami-istri dan kesejahteraan anak-anak (GS, a. 48). Menurut sifat kodratinya, perkawinan dan cinta kasih suami-istri tertuju kepada lahirnya keturunan serta pendidikannya (KHK, kan. 1055 § 1).

b. Ciri-ciri Keluarga Katolik

Selain merupakan sel terkecil dalam masyarakat luas, keluarga Katolik juga merupakan bagian utuh dari Gereja. Sebagai bagian dari Gereja, keluarga ikut ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yakni mewartakan dan menyebarluaskan Injil. Maka dari itu, keluarga juga sering disebut Gereja kecil (FC, a. 21).

Paus Yohanes Paulus II, yang mendapat gelar sebagai Paus Keluarga, melalui Anjuran Apostolik Familiaris Consortio (22 November 1981), menegaskan keyakinannya bahwa keluarga Kristiani sebagai Gereja rumah tangga atau Gereja kecil (LG, a. 11; FC, a. 21, 86; KGK). Menurut Kristianto dalam buku “Teologi Moral Masa Kini” sebagai Gereja kecil, keluarga Katolik memiliki ciri- ciri yang khas, yakni kesatuan iman yang dimiliki oleh anggota-anggotanya;

monogam dan tak terceraikan, keluarga adalah Gereja mini (Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 63-65).

1) Kesatuan Iman yang Dimiliki oleh Anggota-anggotanya.

Hidup keluarga didasarkan pada kesatuan iman antar anggotanya. Sebagai suatu komunitas iman, antar anggota keluarga diharapkan dapat saling membantu dalam memperkembangkan iman yang dimiliki. Sharing atau dialog mengenai pengalaman akan Allah merupakan sarana yang dapat dilakukan untuk saling memperkembangkan iman yang telah dimiliki masing-masing anggota keluarga. Misalnya sharing pengalaman iman bagaimana menerapkan cara hidup beriman Katolik dalam masyarakat atau bagaimana membangun komunikasi yang baik dalam keluarga. Pesan Paus Fransiskus untuk hari komunikasi sedunia ke-49 mengajak keluarga untuk menimba ilham sederhana dari Injil Lukas 1:39-56 berkaitan dengan membangun komunikasi yang baik dalam keluarga. (Warta Iman, 16-17 Mei 2015: 23) “dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (ay. 41-42). Kisah dari perikop ini memperlihatkan bagaimana komunikasi tersebut pada dasarnya juga melibatkan bahasa tubuh. Ada perasaan gembira dan sukacita ketika berjumpa dengan sesama dan ini merupakan pengalaman personal yang sering dialami oleh setiap orang (Warta Iman, 16-17 Mei 2015: 24).

Pengalaman tentang relasi yang “mendahului” kita memungkinkan keluarga untuk menjadi latar di mana bentuk komunikasi yang paling dasar, yaitu doa, diwariskan (Warta Iman, 16-17 Mei 2015: 24). Artinya bahwa melalui doa yang sering diucapkan orang tua pada saat menidurkan anak-anaknya itulah letak dimensi rohani komunikasi, yang di dalam orang Kristiani diresapi sebagai kasih, yaitu kasih yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia dan kemudian ditawarkan kepada orang lain. Di dalam keluarga itulah setiap anggota belajar untuk saling berbagi dan mendukung, belajar mengartikan dengan tepat ekspresi wajah orang dan membaca isi hatinya sekalipun diam tanpa kata-kata. Realitas ini tentu saja sangat membantu setiap anggotanya untuk memahami makna komunikasi sebagai kedekatan pertalian batin yang saling meneguhkan dan mempertautkan (Warta Iman, 16-17 Mei 2015: 26).

Lewat cara-cara sederhana ini, hubungan antar anggotanya menjadi lebih harmonis. Cara-cara sederhana ini diperlukan agar kehidupan iman anak dan orang tua dapat berjalan bersama-sama dengan demikian komunikasi iman dapat mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sahati-sejiwa (1 Yoh 1:7).

2) Monogam dan Tak Terceraikan

“Pernikahan adalah persekutuan hidup yang dibangun oleh seorang pria dan seorang wanita (monogami). Terbentuknya persekutuan itu pertama kali dijalin dan berkembang oleh persekutuan suami-istri melalui janji perkawinan. Mereka ini ‘bukan lagi dua melainkan satu’ (Mat 19:6)”, lihat pula pendapat Kristianto dalam buku “Teologi Moral Masa Kini” (Rukiyanto dan Esti Sumarah

2014: 64). Kutipan ini memberi gambaran bahwa pasangan suami-istri senantiasa menjaga keutuhan hubungan mereka berdua. Kesatuan cinta yang mereka bina sepenuhnya hanya dapat terwujud dalam ikatan satu pria dan satu wanita dan berlangsung sepanjang hidup (kekal tak terceraikan). Maka sifat poligami (memiliki istri lebih dari satu), dengan berbagai alasan apapun sangat bertentangan dengan kehendak Allah (GS, a. 49).

Persekutuan suami-istri menjadikan mereka dipanggil oleh Allah untuk tumbuh dan berkembang dalam persekutuan yang mereka bina lewat kesetiaan dalam janji pernikahan untuk saling menyerahkan diri seutuhnya (FC, a. 19). Persekutan suami-istri ini tidak hanya ada ciri kesatuan melainkan tak terceraikan. Kesatuan yang tak terceraikan ini sekaligus menuntut kesetiaan yang utuh dari kedua belah pihak baik dari suami maupun dari istri dan demi kepentingan anak- anak (GS, a. 48).

Demi kepenuhan cinta menuju kesempurnaannya, dan demi kesejahteraan anak serta tuntutan sakramental, bahwa cinta suami-istri merupakan lambang cinta Allah dan Kristus kepada jemaat-Nya yang bersifat kekal, maka perceraian secara tegas ditolak oleh Kristus sendiri (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 65). Sebuah pernikahan tentu membawa sebuah konsekuensi atasnya. Janji nikah yang diikrarkan oleh kedua mempelai membuktikan bahwa cinta mereka pun dituntut menuju pada kesempurnaan serta kesejahteraan anak. Hubungan cinta keduanya juga merupakan gambaran hubungan cinta Allah dan Kristus kepada Gereja yang mana Kristus sebagai kepalanya dan manusia menjadi anggota-anggotanya. Oleh karena itu sebuah pernikahan yang telah dilakukan

secara sah dan diikat oleh rahmat sakramen perkawinan tidak dapat diceraikan atau dipisahkan lagi.

Demikian juga segala bentuk perbedaan maupun perpecahan yang menyangkut apapun itu merupakan sebuah penyimpangan dari makna kesatuan yang sesungguhnya. Walaupun suami-istri memiliki berbagai perbedaan, hendaknya jangan sampai hal tersebut menjadi sumber perceraian tetapi justru didayagunakan secara sinergis, agar tercipta kesejahteraan bersama (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 65).

3) Keluarga adalah “Gereja Mini”

“Identitas kekristenan keluarga Kristiani mengandung makna bahwa keluarga tersebut terpanggil untuk turut serta dalam hidup dan perutusan Gereja. Keluarga Kristiani wajib mewujudkan dirinya menjadi ‘Gereja Mini” (Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 65). Dalam arti terpanggil untuk turut serta dalam tugas perutusan Gereja maka keluarga Kristiani dituntut untuk senantiasa menampilkan kehidupan keluarganya dengan meneladani cara hidup Jemaat Perdana dalam persatuan dengan Yesus Kristus (Kis 2:41-47).

Konsekuensi keluarga Kristiani untuk hidup supaya dapat diteladani masyarakat yang diteladani bukan hanya bentuk kerukunan dalam hidup berkeluarga, melainkan sekaligus membentuk kerukunan dalam hal iman. Dimensi iman inilah yang justru harus mewarnai seluruh aspek hidup keluarga Kristiani sebab kata “Kristiani” itu sendiri sudah menunjukkan ciri khas iman Katolik.

“Sebagaimana cara hidup Jemaat Perdana, keluarga Kristiani perlu memiliki komitmen yang tinggi terhadap segi iman itu” (Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 66). Artinya dalam membangun keluarga Kristiani dimensi iman tersebut hendaknya betul-betul dipraktekkan dan dihayati dalam tindakan konkret melalui hubungan kasih persaudaraan, pewartaan yang menggembirakan kepada siapa saja, dirayakan dalam doa, diwujudnyatakan dalam bentuk pelayanan bagi sesama sebagai bentuk kesaksian akan iman tersebut sehingga mendatangkan suka cita yang luar biasa bagi segala ciptaan di muka bumi. Bentuk penghayatan iman seperti inilah merupakan gambaran yang cocok dengan tugas perutusan Gereja yang harus terus menerus dihidupi oleh keluarga-keluarga Kristiani di manapun berada.

c. Tugas Keluarga Katolik

Wignyasumarta (2000: 13-17) mengungkapkan kembali isi dari Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Peranan Keluarga Kristen dalam Dunia Modern (Familiaris Consortio) bahwa sesuai dengan rencana Allah, keluarga Katolik mengemban empat tugas penting, yakni:

1) Membentuk Komunitas antarpribadi

“Cinta merupakan dasar kehidupan keluarga Kristiani” (Wignyasumarta, 2000: 13). Artinya keluarga Kristiani harus memperkembangkan cinta itu agar tumbuh menjadi komunitas antarpribadi. Sebab cinta yang mempersatukan suami-istri adalah cinta yang eksklusif. Roh Kudus mencurahkan cinta sejati kepada mereka lewat sakramen perkawinan, sebagaimana cinta Yesus Kristus

kepada Gereja-Nya (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 65). Cinta suami-istri juga bersifat tak terceraikan, karena dilandaskan pada cinta yang total, dituntut demi kesejahteraan anak, serta dikehendaki Allah yang menjadi lambang cinta Allah dan Kristus bagi umat-Nya (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 65). Perempuan dan laki-laki berperan sebagai suami dan istri dan juga sebagai ayah dan ibu terhadap anak-anak mereka. Kehadiran anak dalam keluarga mereka memang patut dilindungi, dihargai, dan dicintai. Martabat pribadi anak-anak mereka diakui, dijadikan pusat perhatian orang tuanya. Sedangkan para orang tua perlu tetap dihargai perannya dalam keluarga, dalam Gereja dan dalam masyarakat karena pengalaman dan kebijaksanaannya.

2) Mengabdi Kehidupan

Rukiyanto dan Esti Sumarah (2014: 66) mengungkapkan pendapat Kristianto bahwa “peranan keluarga Kristiani yang juga sangat penting adalah mengabdi kehidupan. Ini pertama-tama demi penyaluran kehidupan melalui keturunan.” Tentu pengadaan keturunan didasari oleh cinta suami-istri yang bersifat subur, baik dalam arti menurunkan anak maupun dalam membuahkan kekayaan moral dan spiritual. Hubungan seks dan hidup berkeluarga terarah kepada penerusan penciptaan manusia (Kej 1) dan pendidikan anak-anak. Prokreasi juga meliputi pendidikan anak-anak. Tugas dan kewajiban orang tua untuk mendidik anak ini merupakan hak esensial, orisinil dan primer, tak

tergantikan dan tak terpindahkan oleh siapapun. Semua itu didasarkan atas dasar cinta sebagai prinsipnya. Anak-anak perlu dididik dalam nilai-nilai dasar: tidak lekat pada harta, adil karena cinta meluap, dan murni dalam seksualitas. Dan masih banyak hal lain, seperti pendidikan iman, pendidikan mengenal arah hidup atau panggilan, dan sebagainya, karena orang tua adalah ibu dan guru, seperti Gereja, dalam bidang iman.

3) Ikut Serta Membangun Masyarakat

Keluarga Katolik bukanlah suatu pulau yang terpisah dari pulau yang satu dengan yang lainnya, tetapi mereka saling berkaitan antar keluarga yang ada dalam masyarakat (Wignyasumarta, 2000: 15). Sebagaimana keluarga-keluarga lainnya, keluarga juga merupakan sel masyarakat yang pertama, yang menjadi dasar dan faktor penumbuh masyarakat, terutama lewat pelayanan yang berdasarkan cinta kepada sesama. “Keluarga merupakan sekolah hidup bermasyarakat” (Wignyasumarta, 2000: 15). Artinya di situ ditumbuhkan semangat berkorban dan dialog di mana manusia dimanusiawikan.

Hubungan erat antara keluarga dan masyarakat menuntut sikap terbuka dari keluarga dan masyarakat untuk bekerjasama membela dan mengembangkan kesejahteraan setiap orang. Suasana kesatuan yang akrab keluarga sebagai sekolah hidup bermasyarakat dapat menumbuhkan semangat berkorban dan dialog untuk dapat membina dan mengembangkan sikap sosial dan rasa tanggungjawab. Maka orang tua mampu mengajak anak belajar memperhatikan orang lain (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 68).

4) Ikut Serta dalam Hidup dan Perutusan Gereja

“Keluarga Katolik harus menjadi “Gereja mini”, yang mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja dalam mewartakan Injil” (FC, a. 49). Artinya Keluarga sebagai komunitas kecil dan paling mendasar dalam masyarakat senantiasa menjadi pelopor utama untuk menjalankan tugas perutusan Gereja.

“Melalui kegiatan merayakan sakramen-sakramen Gereja diharapkan dapat semakin memperkaya dan memperkuat keluarga Kristiani dengan rahmat Kristus, supaya keluarga dikuduskan demi kemuliaan Bapa” (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 68). Ini berarti kehadiran Gereja juga ikut memberi warna akan cinta kasih terus menerus kepada keluarga Kristiani dengan demikian akan semakin mendorong dan membina keluarga Kristiani untuk melaksanakan pelayanannya dalam cinta kasih. Di mana pelayanan cinta kasih tersebut berpola pada Kristus yang penuh pengorbanan. Maka dari itu, keluarga juga diharapkan dapat menyalurkan cinta kasih Kristus kepada saudara-saudari mereka.

“Yesus Kristus menjadi teladan dan sumber hidup keluarga Kristiani maka keluarga Kristiani juga mempunyai tugas pokok dalam mengembangkan misi Gereja yang mengacu pada hidup Yesus sebagai Nabi, Imam, dan Raja” (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 69). Bentuk kenabiannya adalah menyambut dan mewartakan sabda, menjalankan fungsi kritis di dalam masyarakat serta membela kebenaran (Wignyasumarta, 2000: 16). Dengan sakramen baptis, penguatan, dan perkawinan, keluarga Katolik mempunyai tugas misioner, yakni mewartakan Injil kepada keluarga-keluarga yang kurang beriman

dan kepada dunia, baik secara eksplisit maupun implisit melalui tingkah laku, kesetiaan dalam perkawinan, dan contoh hidup berkeluarga yang baik (Wignyasumarta, 2000: 16).

Berdasarkan tugas imamatnya, keluarga Katolik bersatu dengan Allah lewat sakramen-sakramen, ibadat, dan doa. Keluarga dipanggil menuju kepada kesucian dan ikut membantu menyucikan Gereja dan dunia seluruhnya (Wignyasumarta, 2000: 16). Tugas imamat keluarga Kristiani juga dilaksanakan lewat pertobatan dan saling mengampuni, yang memuncak dalam penyambutan sakramen Tobat. Tugas pengudusan itu juga dilaksanakan dalam doa, yang berciri kebersamaan. Dalam doa diungkapkan suka duka hidup keluarga sehingga terjadi sharing. Orang tua wajib mendidik anak-anak mereka untuk berdoa, tahap demi tahap membangun jalinan hati dengan Allah secara pribadi. Itu harus dilakukan lewat teladan, dan doa bersama. Doa keluarga menyiapkan anggota keluarga untuk ibadat Gereja. Keluarga perlu pergi bersama-sama ke Gereja pada Minggu, mempersiapkan penerimaan sakramen-sakramen secara memadai, merenungkan sabda Allah, dan berdoa rosario secara bersama (Wignyasumarta, 2000: 17).

“Keluarga juga mepunyai tugas rajawi, yakni memberi arah dan kepemimpinan dengan melayani sesama manusia seperti Kristus Raja (Rm 6:12)” (Kristianto dalam Rukiyanto dan Esti Sumarah, 2014: 70). Dalam tugas rajawi ini keluarga harus mampu melihat setiap orang khususnya anak-anak sebagai citra Allah dan terutama pada mereka yang menderita, yang mana semuanya itu harus dilaksanakan dan didasarkan dengan cinta kasih.

3. Tanggungjawab Keluarga Katolik

Berdasarkan uraian mengenai pengertian tanggungjawab dan keluarga Katolik di atas, maka dapat dikatakan bahwa tanggungjawab keluarga Katolik merupakan segala keputusan maupun tindakan yang dilakukan secara bebas dan penuh kesadaran. Hal ini berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh ayah, ibu maupun anak dalam membangun sebuah keluarga dengan dasar cinta kasih Kristus.

Tanggungjawab keluarga Katolik yang diberikan oleh Gereja dan negara menurut Gilarso (1996: 14-15) ada empat yaitu: pertama, tanggungjawab keluarga Katolik untuk membangun keluarga penuh cinta kasih terutama dalam keluarganya sendiri. Kedua, keluarga Katolik memiliki tanggungjawab mendidik generasi muda terutama anak-anak mereka sendiri. Ketiga, keluarga Katolik ikut membangun masyarakat dengan membentuk pribadi-pribadi yang baik, bertindak jujur, adil, berke-Tuhanan dan berkeprimanusiaan. Keempat, keluarga Katolik ikut membangun Gereja dengan membina hidup rohani keluarganya sendiri (doa bersama, mengikuti ibadah di gereja, dan sebagainya), serta mendidik anak-anak mereka dalam sikap dan cara-cara beriman yang benar. Keluarga Katolik juga menjadi saksi Kristus, dengan aktif ikut ambil bagian dalam kegiatan umat beriman, khususnya di lingkungan dan paroki. Inilah merupakan wujud keputusan maupun tindakan yang dilakukan oleh keluarga dengan penuh tanggungjawab.

Wejangan Paus Fransiskus dalam pembukaan Konvensi Tahunan Gerejani Keuskupan Roma mengatakan demikian “para orang tua adalah orang-orang pertama yang bertanggungjawab untuk pendidikan anak-anak mereka, dan harus

Dokumen terkait