• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TANGGUNGJAWAB KELUARGA KATOLIK TERHADAP

C. Urgensi Tanggungjawab Keluarga Katolik terhadap

Perlu diakui bersama bahwa bangunan hidup serta jati diri seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Dalam keluarga, seseorang mengalami pendasaran hidup serta proses pembentukan dalam segala segi. Melalui kebiasaan dan pembiasaan yang baik, anak akan bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang sehat dalam badan, matang dalam iman, kuat dalam kepribadian, dan luas dalam wawasan dan sebaliknya (Komisi Kitab Suci KAS, 2014: 1). Atas dasar itu maka menjadi tanggungjawab keluarga Katolik dan semua pihak secara bersama-sama untuk membangun tekad dan berjuang agar keluarga-keluarga Katolik semakin menampakkan jati diri sebagai keluarga Kristiani yang baik.

Menjadi persoalan bahwa dalam zaman yang terus berkembang, persoalan dan tantangan juga terus berkembang. Nilai-nilai baik dalam keluarga bisa tergerus oleh perkembangan zaman. Iman dapat luntur dengan aneka tawaran yang menggiurkan dan merusak keseluruhan kepribadian anak-anak zaman sekarang. Mereka mengalami pengaruh dan keadaan yang melingkupinya. Entah di lingkup kota, desa, mereka dikelilingi oleh berbagai pengaruh dari orang tua, saudara-saudari, nenek, kakek, teman-teman, dan oleh siapa saja yang mempengaruhi mereka (Gorreti, 1999: 7). Anak-anak mengalami pengaruh- pengaruh dari orang tua, saudara-saudari, nenek, kakek, teman-teman, dan lain- lain. Anak-anak juga dipengaruhi oleh pandangan-pandangan serta sikap hidup mereka, seperti dalam cara hidup mereka, hubungan dengan masyarakat

sekeliling, hubungan dengan Tuhan, dalam menghadapi diri sendiri dan dunia lingkungannya. Semuanya membawa dampak dan pengaruh yang berbeda-beda.

Menurut Soerjanto dan Widiastoeti (2007: 18) kemajuan zaman membawa beberapa dampak negatif seperti individualisme. Orang zaman ini cenderung bersikap acuh dengan keadaan orang lain. Karena itu orang tua bertanggungjawab membantu anak-anaknya agar mampu mengatasi sifat egois serta persaingan dan sifat-sifat negatif lainnya. Orang tua hendaknya mengingatkan anak-anak bahwa mereka dipanggil Tuhan untuk hidup dalam semangat kesetiakawanan bukan dengan mental yang lembek. Dengan mental yang lembek orang cenderung kehilangan daya juang, maka dari itu orang tua hendaknya melatih anak-anaknya agar tahan banting dan punya daya juang yang tinggi.

Paham negatif lainnya yakni sekularisme. Sikap ini membuat orang cenderung melupakan Tuhan dalam hidupnya. Karena itu orang tua hendaknya menyadarkan anak-anak bahwa Tuhan selalu hadir dan penuh perhatian kepada manusia dan sebagai balasan manusia hendaknya menyertakan Tuhan dalam hidupnya.

Maka sudah semestinya bahwa keluarga Katolik dapat melaksanakan tanggungjawabnya dengan menjadi tempat yang dapat melindungi anak-anaknya yang mendambakan kehangatan dan kedamaian. Di dalam keluarga, setiap anggotanya dapat merasakan betapa senangnya makan bersama, bercakap-cakap, gembira, bersenda gurau di dalam perjumpaan satu dengan lainnya.

Kebanyakan orang Katolik percaya bahwa keluarga merupakan tempat pendidikan iman yang pertama dan utama bagi semua anak, terutama mereka yang

mempunyai orang tua sendiri (Pudjiono dan Oetomo: 2007: 1). Sayang, kepercayaan tersebut sering kali tidak diimbangi dan ditindaklanjuti dengan usaha mereka dalam mendidik anak-anak mereka di rumah. Tidak sedikitlah kiranya orang tua yang hanya mampu memberikan pendidikan jasmani dan intelektual kepada anak-anak. Mereka tidak mampu memberikan pendidikan rohani maupun moral dan sosial kepada anak-anak mereka sendiri.

Alasan yang barangkali mendorong mereka berbuat demikian ialah kurang tahu tentang cara yang tepat untuk mewariskan iman kepada anak-anak disebabkan pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri tentang iman juga kurang memadai (Pudjiono dan Oetomo: 2007: 6). Beberapa orang tua terlalu memberi kepercayaan kepada para guru di sekolah dan kepada para pemimpin Gereja di paroki. Mereka mengira anak-anak mereka akan menjadi lebih baik asal saja anak-anak itu belajar di sekolah Katolik dan cukup aktif di lingkungan Katolik, entah di tingkat wilayah maupun di paroki.

Tanggungjawab yang diemban oleh keluarga terutama orang tua sangatlah besar. Mereka harus membantu perkembangan anak-anaknya. Perkembangan psikis, mental serta iman anak perlu diperhatikan dengan baik. Karena bagaimana pun juga, perkembangan psikis, mental serta iman anak tidak akan tumbuh dengan baik tanpa adanya peran serta tanggungjawab dari kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, orang tua dituntut supaya bertanggungjawab atas perkembangan anak. Orang tua harus memberikan pendidikan iman anak sejak mereka masih berusia dini. Pendidikan iman tidak hanya dilakukan di sekolah, namun di dalam keluarga sangat diperlukan. Justru tugas orang tualah yang utama dan pertama bertanggungjawab dalam memberikan pendidikan iman kepada anak.

Maka dari itu, keluarga Katolik diharapkan sadar akan tanggungjawabnya dalam mengasuh anak terutama dalam mengajarkan nilai-nilai keutamaan hidup. Jika mereka sudah tidak memiliki kesadaran akan tanggungjawabnya sebagai orang tua, maka nasib keluarga pun akan menjadi tidak jelas. Karena kehidupan anak masih tergantung pada orang tua mendidik dan memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Maka dari itu keluarga Katolik harus memperhatikan pendidikan iman anak-anak mereka.

Melihat kenyataan yang terjadi dengan pendidikan iman anak zaman sekarang yang semakin memprihatinkan maka Gereja tidak tinggal diam begitu saja. Gereja terus mengingatkan (KWI, 2011: 29) bahwa:

a. Orang tua tetap bertanggungjawab dan berkewajiban untuk memberikan pendidikan iman dan moral kepada anak-anaknya.

b. Mengingat keterbatasan mereka, perlulah keluarga Katolik membangun kerjasama dengan lembaga pendidikan lainnya seperti sekolah, Gereja, dan masyarakat, demi perkembangan kemampuan anak.

c. Gereja mengharapkan keluarga Katolik memilih Lembaga Pendidikan Katolik sebagai lembaga yang dipercaya untuk pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak. Karena di dalam lembaga pendidikan itu, pendewasaan pribadi dan penghayatan hidup sebagai manusia baru yang dibangun atas nilai-nilai Katolik diupayakan dengan sungguh- sungguh.

Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa pendidikan iman anak yang dilaksanakan dalam keluarga merupakan tanggungjawab utama orang tua dan tak tergantikan. Namun melihat perubahan zaman yang begitu cepat dengan berbagai macam aktifitasnya maka pentinglah orang tua mulai menjalin relasi dengan sekolah-sekolah Katolik yang memang menjamin kedewasaan pribadi anak akan nilai-nilai Katolik sangat dijunjung tinggi. Ini artinya orang tua/keluarga, sekolah, Gereja, dan masyarakat ikut ambil bagian dalam membentuk perkembangan iman anak tersebut.

Dokumen terkait