• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP KOMIK, SOSIOLOGI

2.3 Kehidupan Pekerja Pasca Perang Dunia II

2.3.7 Keluarga Kelas Pekerja

Sejak zaman Tokugawa sampai akhir Perang Dunia II, sistem keluarga Jepang diatur oleh konsepsi tentang ie (rumah atau keluarga) yang mengikuti cita-cita samurai dan bahkan mendapat pengakuan secara hukum dalam kode hukum sipil Meiji. Ie tersebut diwarisi oleh anak laki-laki sulung yang setelah menikah tetap tinggal serumah dengan ayah, kepala ie, dan ibunya. Anak-anak yang karena pekerjaannya pergi meninggalkan tempat kelahiran terpaksa hidup terpisah dari rumah nenek moyang mereka. Tetapi, kebanyakan anak sulung tinggal di rumah sehingga sering kali terdapat dua atau tiga generasi yang hidup di rumah yang sama. Bila anak laki-laki rumah tangga “cabang” sendiri, maka itu merupakan keluarga inti dalam bentuk lahirnya tetapi masih terikat melalui garis keturunan dengan keluarga induk yang telah ditinggalkannya dan akhirnya ini pun menjadi keluarga besar baru. Rata-rata rumah tangga mempunyai lima anggota. Jumlah ini diharapkan menurun setelah terjadinya perubahan kode hukum sipil sehabis perang yang berusaha membangun landasan hukum bagi keluarga inti sebagai norma. Dalam kenyataan, jumlah itu untuk waktu sementara meningkat sedikit dan besarnya keluarga tidak juga menurun selama masa pemulihan kembali ekonomi (Tadashi Fukutake, 1988: 37).

Meskipun keluarga inti berjumlah lebih dari 60%, namun tidak dapat dikatakan bahwa semua keluarga itu benar-benar “inti” sejati/hanya terdiri dari

suami-istri dengan anak-anak yang belum menikah. Banyak yang baru merupakan keluarga inti dalam peralihan dan akhirnya menjadi keluarga keturunan langsung dengan anak-anak yang sudah menikah, tetap tinggal di bawah satu atap dengan orang tua mereka.

Tabel 3.4 Keluarga-keluarga Berdasarkan Tipe Struktur Keluarga (%)

1955 1960 1965 1970 1975 1980

1. Rumah tangga kerabat Keluarga inti

Hanya keluarga inti Suami, istri dan anak-anak Ayah dan anak-anak Ibu dan anak-anak

96.1 59.6 6.8 43.1 1.6 8.1 94.9 60.2 8.3 43.4 1.3 7.3 91.8 62.6 9.9 45.4 1.0 6.3 88.8 63.4 10.9 46.0 1.0 5.5 86.2 64.0 12.5 45.7 0.8 4.0 84.0 53.4 13.1 44.3 0.9 5.1 2. Rumah tangga kerabat bentuk

lain

Keluarga bukan saudara Keluarga beranggota tunggal

36.5 0.5 3.4 34.7 0.4 4.7 29.2 0.4 7.8 25.2 0.4 10.8 22.2 0.2 13.7 20.7 0.2 15.8 Sumber: Fukutake, hlm. 40

Meskipun demikian, menurunnya jumlah anggota dalam setiap rumah tangga dan hubungan yang menjadi lebih sederhana dalam keluarga telah mengalami perubahan besar dalam tahun-tahun belakangan ini. Perubahan itu diungkapkan dengan istilah “keluarga inti” atau “kaku kazoku” (berarti perubahan menuju “keluarga inti”) dalam bahasa Jepang.

Revisi terhadap kode hukum sipil setelah perang menolak dominasi ie secara hukum atas individu. Pasal 24 dalam Undang-Undang Dasar dengan tegas menyatakan pentingnya martabat individu dan kesamaan derajat pria dan wanita di dalam kehidupan keluarga. Perkawinan dilaksanakan berdasarkan kesediaan

kedua pihak yang bersangkutan. Ini berarti asas-asas baru keluarga modern dalam pembentukan kode hukum sipil. Runtuhnya posisi patriarkat, yang berorientasi kepada ayah dan anak laki-laki digantikan dengan hubungan suami-istri dengan kesamaan derajat antara pria dan wanita sebagai patokan dasar, maka kedudukan wanita umumnya meningkat. Wanita belum mencapai kedudukan yang sama seperti pria, tetapi di dalam keluarga kedudukan wanita jauh lebih kuat daripada sebelum perang. Perkawinan juga mengalami perubahan, sebelum perang perkawinan dilaksanakan demi kepentingan ie dan wanita lebih merupakan anak menantu bagi ie daripada istri bagi suami. Undang-undang baru melambangkan suatu revolusi dalam kehidupan keluarga Jepang. Kode hukum sipil yang telah mengalami perubahan itu merupakan suatu tantangan terhadap sistem ie yang sudah berabad-abad usianya dan merupakan ciri khas masyarakat Jepang. Tantangan tersebut tidak menimbulkan kehancuran yang langsung terhadap sistem tersebut. Suatu revolusi dalam perundang-undangan tidak dapat menghasilkan revolusi dalam praktek dan sistem ie masih akan hidup terus dalam kehidupan adat, tetapi perubahan sikap-sikap resmi terhadap keluarga tentulah berpengaruh terhadap kehidupan sesungguhnya. Meskipun sistem garis keturunan langsung ie terus hidup sebagai adat, namun sistem itu sedikit demi sedikit mulai buyar (Tadashi Fukutake, 1988: 41-42).

Suatu faktor yang rupanya penting dalam terjadinya disintegrasi ie tersebut adalah menurunnya “kesadaran terhadap ie”. Kesadaran akan status keluarga mulai luntur di masyarakat perkotaan, karena di masyarakat perkotaan bila kedudukan ekonomi seseorang meningkat, status keluarga juga dapat meningkat dengan mudah. Di zaman pasca Perang Dunia II, kesadaran akan hierarki status

masih berlangsung dengan kuat sementara batas-batas antara kelas terus-menerus menjadi lemah dan meningkatnya tingkatan di bidang ekonomi langsung berkaitan dengan meningkatnya status keluarga dan kedudukan sosial seseorang. Pasangan suami-istri yang baru saja menikah di kota-kota lebih suka hidup terpisah dari orang tua mereka. Keluarga kelas atas, meskipun mempunyai ruangan di rumah orangtuanya, mereka lebih suka membangun rumah baru. Atau karena tingginya harga tanah, orangtua pada umumnya mendirikan rumah baru di tanah mereka sendiri untuk anaknya yang baru menikah. Pria dan wanita dari golongan menengah dan bawah yang baru menikah biasanya tidak mempunyai dana untuk menjamin kemandirian mereka, tetapi kerap hidup terpisah dari orang tua mereka dalam kamar sewaan dengan bantuan dana dari orang tua. Perubahan-perubahan semacam itu telah memacu kecenderungan orang untuk membuat keluarga ini menjadi sebuah norma.

Setelah Perang Dunia II, keluarga pekerja yang paling cepat menggulirkan sistem keluarga inti. Keluarga pekerja biasanya hanya mencakup pekerja itu sendiri, istri dan anak-anaknya yang merupakan suatu unit yang tidak bisa dianggap sebagai ie lagi, tetapi semata-mata sebagai keluarga. Peranan lembaga ie sebagai unit yang khas dalam masyarakat pramodern sekarang berlaku bagi perusahaan. Menurut Soerjono Soekanto (1983: 78), industrialisasi cenderung mengubah struktur keluarga. Secara umum, proses industrialisasi cenderung untuk mengubah ikatan-ikatan keluarga luas. Sebagai akibat terjadinya mobilitas secara geografis, maka peranan keluarga kecil menjadi lebih penting daripada peranan keluarga luas.

Dokumen terkait