• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Derah Penelitian

5.5. Kelompok Acuan

5.5.2. Keluarga Menyarankan Pijat Bayi Ke Dukun Bayi

Hasil penelitian pada tabel 4.17. dapat diperoleh bahwa sebanyak 55 orang responden (68,75%) menyatakan bahwa keluarga ibu menyarankan untuk melakukan pijat bayi ke dukun bayi, dan sebanyak 25 orang.

Menurut Notosoedirjo dalam Apriadi (2012) bahwa keluarga merupakan lingkungan sosial yang sangat dekat hubungannya dengan seseorang. Didalam keluarga itu seseorang dibesarkan, bertempat tinggal, berinteraksi satu dengan yang lain, dibentuknya nilai-nilai, pola pemikiran, dan kebiasaannya. Keluarga yang lengkap dan fungsional serta mampu membentuk homeostatis akan dapat meningkatkan kesehatan para anggota keluarganya, dan kemungkinan dapat meningkatkan ketahanan para anggota keluarganya dari adanya permasalahan kesehatan yang didapatkan para setiap anggotanya. Untuk ini memang tidak lepas dari kemampuan setiap anggota keluarga dan khususnya orangtuanya menciptakan iklim yang dapat mengembangkan kondisi homeostatis agar keluarganya melakukan hal yang sama dilakukanya yaitu melakukan pijat bayi ke dukun bayi. Hal ini juga sejalan dengan Teori Reason Action yang menyatakan bahwa kelompok referensi yang didalamnya termasuk keluarga dapat mempengaruhi niat individu dalam melakukan suatu hal.

Penulis berasumsi bahwa dengan banyaknya keluarga responden yang menyarankan responden untuk melakukan pijat bayi kepada dukun bayi akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kepercayaan responden daam

melakukan pijat bayi kepada dukun bayi sehingga niat responden akan semakin besar untuk melakukan pijat bayi ke dukun bayi.

5.6. Sarana dan Prasaran. 5.6.1. Waktu

Hasil penelitian pada tabel 4.18 dapat diperoleh bahwa sebanyak 52 orang responden (55,0%) menyatakan bahwa waktu untuk melakukan pijat bayi ke dukun bayi tidak mempengaruhi responden dalam memilih pijat bayi ke dukun bayi, sedangkan 28 orang responden (35,0%) menyatakan waktu untuk melakukan pijat bayi ke dukun bayi mempengaruhi responden dalam memilih pijat bayi ke dukun bayi. Sebanyak 62 orang responden (77,5%) menyatakan bahwa ketersediaan waktu dukun bayi mempengaruhi responden dalam melakukan pijat bayi, sedangkan 18 orang responden (22,5%) menyatakan ketersediaan waktu dukun bayi tidak mempengaruhi responden untuk melakukan pijat bayi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden tidak terpengaruh pada waktu untuk melakukan pijat bayi ke dukun bayi karena responden telah memiliki kepercayaan yang baik kepada dukun bayi sehingga responden lebih merasakan manfaat yang akan diterimanya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan salah satu hambatan yang akan dilaluinya yaitu waktu untuk melakukan pijat bayi ke dukun bayi ditambah dengan dukun bayi yang dapat dengan fleksibelnya datang kerumah mereka jika memang sangat diperlukan sehingga semakin membuat responden percaya kepada dukun bayi.

5.6.2. Biaya

Hasil penelitian pada tabel 4.18 dapat diperoleh bahwa sebanyak 72 orang responden (90,0%) menyatakan biaya yang dikeluarkan untuk pijat bayi ke dukun bayi lebih murah dibandingkan ke tenaga kesehatan, sedangkan 8 orang responden (10,0%) menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pijat bayi ke dukun bayi lebih lebih murah dibandingkan ke tenaga kesehatan. 72 orang responden (90,0%) menyatakan biaya mempengaruhi dalam melakukan pijat bayi ke dukun bayi, dan sebanyak 8 orang responden (10,0) menyatakan biaya tidak mempengaruhi dalam melakukan pijat bayi ke dukun bayi

Teori Reason Action dalam Edberg (2009) menyatakan bahwa terdapat variable yang dapat mempengaruhi niat responden dalam melakukan suatu tindakan yaitu variable sarana dan prasarana yang salah satunya adalah biaya, hal ini juga dinyatakan oleh Green dalam Notoadmodjo yang menyatakan bahwa faktor pendukung yang berupa fasilitas kesehatan dapat mempengaruhi perilaku seseorang, yaitu biaya yang dikeluarkan dalam melakukan pelayanan kesehatan

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pijat bayi yang dilakukan kepada dukun bayi dinilai lebih murah jika dibandingkan dengan pelayanan kesehatan lainnya. Selain biayanya yang murah, masyarakat yang datang ke dukun bayi dapat mengganti upah dukun bayi bukan dengan uang, tetapi dengan kebutuhan pokok seperti kelapa dan beras, sehingga membuat responden cenderung memilih pijat bayi kepada dukun bayi dibandingkan jika melakukannya di pelayanan kesehatan .

5.6.3. Tempat

Hasil penelitian pada tabel 4.18 dapat diperoleh bahwa sebanyak 43 orang responden (3,75%) menyatakan tempat yang disediakan oleh dukun bayi untuk pemijatan membuat si bayi merasa nyaman, sedangkan 37 orang responden (46,25%) menyatakan tempat yang disediakan oleh dukun bayi untuk pemijatan tidak membuat si bayi merasa nyaman. 80 orang responden (100%) menyatakan bahwa dukun bayi bersedia dipanggil kerumah jika ibu ingin melakukan pemijatan bayi.bayi tidak mempengaruhi responden dalam memilih pemijaatan ke dukun bayi.

Teori Reason Action dalam Edberg (2009) menyatakan bahwa variable tempat dapat mempengaruhi niat responden dalam melakukan suatu tindakan yaitu tempat melakukan pijat bayi , hal ini dapat dilihat dari mayoritas responden yang menyatakan membuat tempat yang disediakan oleh dukun bayi untuk pemijatan tidak membuat si bayi merasa nyaman, tetapi disamping itu dukun bayi bersedia dipanggil kerumah jika ibu ingin melakukan pemijatan bayi yang membuat responden semakin yakin dengan pemilihan pengobatan yang akan dilakukannya.

5.6.4. Jarak

Hasil penelitian pada tabel 4.18 dapat diperoleh bahwa sebanyak 54 orang responden (67,5%) menyatakan bahwa responden merasa jarak menuju tempat pijat bayi terlalu jauh, dan 26 orang responden (32,5%) menyatakan jarak menuju tempat pijat bayi tidak terlalu jauh. 50 orang responden (62,5%) menyatakan jarak dari rumah ke tempat pemijatan bayi akan mempengaruhi responden dalam memilih pemijaatan ke dukun bayi, sedangkan 30 orang responden (37,5%) menyatakan jarak

dari rumah ke tempat pemijatan bayi tidak mempengaruhi responden dalam memilih pemijaatan ke dukun bayi.

Teori Reason Action dalam Edberg (2009) menyatakan bahwa variable jarak dapat mempengaruhi niat responden dalam melakukan suatu tindakan yaitu tempat melakukan pijat bayi. Hal ini juga sejalan menurut Green didalam Notoatmodjo (2003), faktor penyebab masalah kesehatan adalah faktor perilaku dan non perilaku, faktor pemungkin atau enabling faktor merupakan salah satu faktor non perilaku yang dapat mendukung permasalahan kesehatan yang dapat terwujud dalam lingkungan fisik yang didalamnya jarak tempat dukun bayi dengan rumah responden

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak yang tidak terlalu jauh antara rumah responden dengan tempat pijat bayi ternyata tidak mempengaruhi responden dalam memilih pemijaatan ke dukun bayi, hal ini dapat terjadi karena responden telah memiliki kepercayaan dan keyakinan yang tinggi terhadap pijat bayi yang dilakukan dukun bayi.

5.7. Tindakan Responden Dalam Melakukan Pijat Bayi Kepada Dukun Bayi. 5.7.1. Tindakan Ibu Dalam Memberikan Pijat Pada Bayi Dalam Keadan Sakit

Dari hasil penelitian, pada tabel 4.19 dapat dilihat bahwa sikap responden terhadap tindakan pijat bayi adalah buruk yaitu sebanyak 52 orang (65%) menyatakan akan memberikan pijat pada bayi dalam keadaan sakit , dan sebagian kecil dari responden yaitu sebanyak 28 orang (35%) menyatakan tidak akan memberikan memberikan pijat pada bayi dalam keadaan sakit.

Menurut Roesli (2001), pijat bayi merupakan sentuhan pijat yang dilakukan pada bayi dan balita dapat memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak. Untuk

medapatkan manfaat yang maksimal dari pijat bayi maka pemijatan yang dilakukan harus sesuai dengan pedoman pijat bayi secaa kesehatan.Hal ini sejalan dengan pernyataan Rakhmawati (2007) yang menyatakan bahwa terdapat hal yang tidak dianjurkan dalam pemijatan bayi yaitu pemijatan pada saat bayi dalam keadaan sakit sebagai upaya untuk memberikan hasil maksimal dalam pemijatan , bahkan menurut Roesli dalam Ameilia (2010) bahwa sebelum melakukan pijat bayi dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu agar tidak terjadi efek samping dari pijat bayi tersebut.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden melakukan tindakan yang salah dan tidak sesuai dengan anjuran dari pedoman pijat menurut kesehatan . Hal ini sejalan dengan pandangan Notoadmodjo (2003) yang menyatakan bahwa tindakan terbagi atas beberapa tingkatan dan salah satu tingkatan dalam tindakan yaitu respon terpimpin yang data diartikan bahwa tindakan yang dilakukan sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh. Dalam hal ini contoh yang dimaksud adalah pedoman pijat bayi menurut kesehatan.

Peneliti berasumsi jika tindakan ini tidak diperbaiki maka akan dapat menimbulkan efek samping dari pijat bayi dan juga responden tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal dari pijat bayi yang dilakukannya sehingga perlunya informasi yang baik mengenai tindakan yang benar dalam melakukan pijat bayi

Dokumen terkait