BAB II TINJAUAN TEORETIS
D. Kemampuan Kognitif
Istilah “ cognitive” berasal dari kata cognition yang berarti mengetahui.
Dalam ari yang luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubung dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. 32 Kognitif adalah suatu proses berpikir. Yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa.
Menurut Gagne kemampuan kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan syaraf pada waktu manusia sedang berpikir.
Kemampuan kognitif ini berkembang secara bertahap, sejalan dengan perkembangan fisik dan syarat-syarat yang berada di pusat susunan syaraf.33
Menurut Piaget pertumbuhan mental mengandung dua proses yaitu perkembangan dan belajar. Perkembangan adalah perubahan struktur dan belajar perubahan isi. Perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan melainkan interaksi antara keduanya. Jadi proses perkembangan kognitif dipengaruhi oleh empat factor yaitu:
32 Muhibbin, Syah. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya: 2010), Cetakan ke 15. H. 65
33 Singgih D. Gunarsah, Dasar dan teori Perkembangan Amak (Jakarta: Gunung Mulia:2003), h. 140
a. Kematangan, kematangan ini merupakan perkembangan dari susunan syaraf, misalnya kemampuan melihat atau mendengar disebabkan oleh kematangan yang sudah dicapai oleh susunan syaraf yang bersangkutan.
b. Pengalaman. Yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya.
c. Transmisi sosial. Yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial, misalnya cara pengasuhan dan Pendidikan dari orang lain yang diberikan kepada anak.
d. Ekuilibrasi. Yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak, agar ia selalu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungan.34
Sebagian psikologis kognitivis, Wilhelm Wundt (ahli psikologi kognitif) berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia dimulai berlangsung sejak ia baru lahir.35 Pendayagunaan kapasitas ranah kognitif manusia sudah mulai berjalan sejak manusia itu mulai mendayagunakan kapasitas motorik dan sensoriknya.
2. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologi yang berkaitan tentang bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
34 Singgih D. Gunarsah, Dasar dan teori Perkembangan Amak (Jakarta: Gunung Mulia:2003), h. 141
35 Muhibbin, Syah. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya: 2010), Cetakan ke 15. H. 66
24
Perkembangan kognitif adalah perkembangan yang berkenaan dengan perilaku mental seseorang yang meliputi: Pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, dan pemecahan masalah.
Dalam ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang tersebut adalah (1) Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension), (3) penerapan (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), (6) penilaian (evaluation).
a. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali pengetahuan yang pernah diterimanya.
Contohnya: siswa dapat menyebutkan kembali nama-nama lain AL-Qur‟an b. Pemahaman (Comp)
Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Pemahaman disini juga dapat diartikan sebagai kemauan seseorang dalam mengartikan, menafsirkan, menterjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.
Contohnya: siswa dapat menjelaskan tentang cara turun wahyu kepada Nabi Muhammad SAW
c. Penerapan (Application)
Penerapan disini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan pengetahuan untuk memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya: siswa dapat mendemonstrasikan cara berwudu dengan baik dan benar.
d. Analisis (Analysis)
Sebagai kemampuan seseorang merinci dan membandingkan pengetahuan atau data yang begitu rumit serta mengklasifikasikannya menjadi beberapa kategori dengan tujuan agar dapat mengenal hubungan dan kedudukan masing-masing data terhadap data lain.
Contohnya: siswa dapat menginventarisir sifat-sifat terpuji e. Sintesis (synthesis)
Kemampuan seseorang dalam mengartikan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh.
Contohnya: siswa dapat menyusun rencana belajar masing-masing f. Evaluasi (Evaluation)
Kemampuan seseorang dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan kriteria atau pengetahuan yang dimilikinya.
Contohnya: siswa dapat mengoreksi bacaan ayat suci Al-Quran berdasarkan tajwid yang benar.
Dalam proses pembelajaran, keenam tingkat tersebut dapat terlaksana dengan baik atau efekti jika peserta didik dapat memahami tehadap materi atau
26
bahan pelajaran. Sebab keenam tingkatan tersebut berkaitan antara satu dengan lainnya. Dengan siswa memahami materi maka tujuan pembelajaran khususnya terhadap kognitif siswa dapat tercapai secara optimal.
Keenam jenjang berpikir pada ranah kognitif ini bersifat kontinum dan overlap (tumpeng tindi), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada di bawahnya.
3. Karakteristik Perkembangan Kognitif Peserta Didik Usia Sekolah Dasar Pada teori kognitif Piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar masuk dalam tahap pemikiran konkret-operasional (concrete operational thought), yaitu masa dimana aktivitas mental anak terfokus pada objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang dialaminya.
Pada tahap kongkret-operasional ditandai adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satu langkah berpikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasi pemikirannya. Pada periode ini anak baru mampu berpikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang kongkrit.36
Kemampuan kognitif menggambarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tiap-tiap orang. Pada dasarnya pengetahuan kognitif merupakan hasil belajar. Faktor dasar yang berpengaruh menonjol pada kemampuan kognitif dapat
36 Ratna Yudhawati dan Dany Haryanto. Teori-Teori Dasar Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya. 2011), h.194
dibedakan dalam bentuk lingkungan alamiyah dan lingkungan yang dibuat.
Tingkat kemampuan kognitif tergambar pada hasil belajar yang diukur dengan tes hasil belajar. Tes hasil belajar menghasilkan nilai kemampuan kognitif yang bervariasi. Variasi nilai tersebut menggambarkan perbedaan kemampuan kognitif tiap individu. Inteligensi (kecerdasan) sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Dikatakan bahwa antara kecerdasan dan nilai kognitif berkorelasi tinggi dan positif, semakin tinggi nilai kecerdasan seseorang semakin tinggi kemampuan kognitifnya.37
Indikator dari kemampuan kognitif yaitu:
1) Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge), (2) pemahaman (comprehension),
(3) penerapan (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), (6) penilaian (evaluation).
37 Ratna Yudhawati dan Dany Haryanto. Teori-Teori Dasar Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya. 2011), h.195
28
Tabel 2.2
Variabel, Aspek, Dan Indikator Kemampuan Kognitif
Variabel Aspek Indikator Psikomotor (Keterampilan) 1. Membuat poster
Pendekatan saintifik 1. Mengamati
2. Menanya 3.Mengolah 4.Menalar
5. Mengkomunikasikan
E. Pendidikan Agama Islam