• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Pemecahan Masalah

mereka mengalami proses pembelajaran menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah?

D. Batasan Masalah

Agar masalah dapat dikaji lebih dalam dan penelitian dapat terarah serta tidak terjadi perluasan masalah, maka perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut:

1. Materi Trigonometri dalam penelitian ini hanya dibatasi pada materi Aturan Sinus dan Cosinus

2. Peneliti hanya akan meneliti siswa kelas X MIPA SMA Sedes Sapientiae Jambu tahun ajaran 2019/2020 yang berjumlah 10 siswa setelah mereka mengalami proses pembelajaran menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan bagaimana merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk materi Aturan Sinus dan Cosinus bagi siswa kelas X MIPA SMA Sedes Sapientiae Jambu.

2. Mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas X MIPA SMA Sedes Sapientiae Jambu pada materi Aturan Sinus dan Cosinus setelah mereka mengalami proses pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah.

F. Batasan Istilah

Untuk menghindari kesalahan persepsi dalam memahami hasil penelitian ini, maka perlu adanya batasan istilah sebagai berikut:

1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu kegiatan pembelajaran yang berangkat dari permasalahan yang nyata dimana masalah tersebut menjadi pusat atau fokus utama dalam belajar dengan maksud agar siswa mampu untuk menyusun atau membangun pengetahuan mereka

sendiri serta memperoleh pengetahuan yang mendasar dari materi yang telah diajarkan.

2. Kemampuan Pemecahan Masalah

Kemampuan pemecahan masalah merupakan suatu strategi yang ditempuh atau dilakukan oleh seseorang untuk menyelesaikan masalah sehingga masalah tersebut tidak lagi menjadi masalah lagi baginya. G. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini antara lain: 1. Bagi Peneliti

Melalui penelitian ini dapat menambah pengalaman peneliti dan menambah wawasan sebagai calon guru serta dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan.

2. Bagi Guru

a. Guru dapat menerapkan model pembelajaran berbasis masalah unruk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. b. Guru dapat mengembangkan kreatifitas untuk menciptakan sebuah

inovasi strategi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.

c. Guru dapat mengetahui letak kesalahan dan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal terkait materi aturan sinus dan cosinus.

a. Siswa memperoleh pengalaman baru belajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah untuk materi aturan sinus dan cosinus.

b. Siswa dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. 4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Melalui penelitian ini diharapkan dapat mendukung penelitian-penelitian sejenis dalam mengkaji ilmu di dalam bidang pendidikan.

13 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Pemecahan Masalah

Menurut Bell (1978) dalam Wahyudi dan Indri (2017: 2) masalah merupakan situasi yang disadari, ada kemauan dan merasa perlu melakukan tindakan untuk mengatasinya, serta tidak segera dapat ditemukan cara mengatasi situasi tersebut. Sebuah masalah yang dihadapi seseorang belum tentu menjadi masalah bagi yang lainnya. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya dengan caranya masing-masing (Hudoyo, 1990, dalam Wahyudi dan Indri, 2017: 2).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa masalah dalam matematika merupakan sebuah situasi dapat berupa pertanyaan atau soal mengenai suatu konsep dalam matematika yang disadari penuh oleh peserta didik dan menjadi sebuah tantangan yang di dalamnya tidak terdapat prosedur rutin tertentu. Masalah juga merupakan suatu keadaan yang menunjukkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang terjadi. Situasi yang menjadi masalah bagi seseorang belum tentu menjadi masalah bagi yang lainnya dan setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam menyelesaikan masalah.

Menurut Slavin (1994) dalam Wahyudi dan Indri (2017: 15) pemecahan masalah merupakan penerapan dari pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai tujuan dengan tepat. Sedangkan menurut

Hudoyo (1988) dalam Wahyudi dan Indri (2017: 15) pemecahan masalah pada dasarnya adalah proses yang ditempuh oleh seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sampai masalah itu tidak lagi menjadi masalah baginya.

Menurut Polya (1973) dalam Wahyudi dan Indri (2017: 15) pemecahan masalah merupakan suatu usaha untuk menemukan jalan keluar dari suatu kesulitan dan mencapai tujuan yang dapat dicapai dengan segera. Atau dengan kata lain pemecahan masalah merupakan proses bagaimana mengatasi suatu persoalan atau pertanyaan yang bersifat menantang yang tidak dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang sudah biasa dilakukan atau diketahui.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah matematika meruapkan usaha seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.

Kemampuan pemecahan masalah menurut Polya (dalam Guntara dkk, 2014) merupakan proses yang ditempuh oleh seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sampai masalah itu tidak lagi menjadi masalah baginya. Sedangkan menurut Gagne (dalam Guntara dkk, 2014) kemampuan pemecahan masalah merupakan seperangkat prosedur atau strategi yang memungkinkan seseorang dapat meningkatkan kemandirian dalam berpikir.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan suatu strategi yang ditempuh atau dilakukan oleh seseorang untuk menyelesaikan masalah sehingga masalah tersebut tidak lagi menjadi masalah lagi baginya. Selain itu suatu proses dan strategi yang ditempuh seseorang untuk menyelesaikan masalah memungkinkan dapat meningkatkan kemandirian dalam berpikir. Menurut Polya (dalam Wahyudi dan Indri 2017: 16) terdapat empat langkah dalam proses pemecahan masalah yaitu

a. Memahami Masalah (Understanding the problem)

Pada proses ini siswa tidak hanya mengetahui apa yang harus ditemukan, tetapi juga menemukan bagian-bagian yang menjadi kunci penting dalam masalah yang harus disatukan untuk mendapatkan jawaban atau penyelesaiannya.

b. Merencanakan Pemecahan Masalah (Devising a plan)

Pada proses ini dapat diartikan sebagai proses memikirkan strategi perencanaan pemecahan yang tepat. Pada proses ini siswa mungkin merasa perlu untuk mengeksplorasi data dan informasi sebelum mereka dapat memikirkan atau merencanakan pemecahan masalah untuk mendapatkan solusi.

c. Melaksanakan Rencana Penyelesaian Masalah (Carrying out the plan)

Pada proses ini alangkah baiknya memeriksa setiap langkah demi langkah dengan baik untuk memastikan bahwa cara atau langkah penyelesaian sudah tepat.

d. Memeriksa Kembali Hasil Penyelesaian (Looking back)

Pada proses ini siswa sudah mendapat atau menemukan penyelesaian dari masalahnya dan dapat menuliskan dengan baik alasannya, lalu memeriksa Kembali langkah-langkah penyelesaian masalah yang telah disusun.

Sedangkan Gagne (dalam Wahyudi dan Indri 2017: 16) menyatakan bahwa terdapat lima tahapan dalam pemecahan masalah yaitu

a. Menyiapkan masalah dalam bentuk yang lebih jelas

b. Menyatakan masalah dalam bentuk yang operasional (dapat dipecahkan)

c. Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik untuk dipergunakan dalam memecahkan masalah itu

d. Menguji hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya

e. Memeriksa kembali apakah hasil yang diperoleh itu benar Menurut Karunia Eka dan Mohammad Ridwan (2015:85) indikator kemampuan penyelesaian masalah matematika meliputi

a. Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan dan kecukupan unsur yang diperlukan

b. Merumuskan masalah matematis atau menyusun model matematis

c. Menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah

d. Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil penyelesaian masalah

Menurut NCTM (2000:52) indikator kemampuan pemecahan masalah matematika meliputi

a. Siswa mampu mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui dan ditanyakan

b. Siswa mampu merancang dan menyusun model matematika c. Siswa mampu menerapkan dan menyesuaikan berbagai strategi

yang tepat untuk menyelesaikan masalah

d. Siswa mampu memaknai dan menjelaskan hasil dari penyelesaian masalah

Dari beberapa pendapat para ahli mengenai indikator kemampuan pemecahan masalah, pada penelitian ini indikator kemampuan pemecahan masalah yang digunakan yaitu:

a. Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanya dan kecukupan unsur yang diperlukan

b. Merumuskan masalah matematis atau menyusun model matematis

d. Menjelaskan hasil penyelesaian masalah sesuai dengan permasalahan awal.

Dokumen terkait