LAPISAN BACKING
4.6 Kemampuan Penetrasi Natrium Diklofenak
Persentase kumulatif difusi natrium diklofenak melalui membran gusi sapi diuji secara in vitro dengan menggunakan Franz diffusion cell dengan luas area difusi sebesar 2 cm2 dengan volume kompartemen reseptor sebanyak 22,5 ml.
UIN Syarif Hidayatullah
Tabel 4.7. Persentase kumulatif difusi zat aktif melewati membran gusi sapi
Waktu (s) % Kumulatif Difusi Zat Aktif
A1 A2 A3 0 0 ± 0 0 ± 0 0 ± 0 15 18 ± 5 16 ± 2 17 ± 0 30 18 ± 5 17 ± 1 13 ± 0 45 20 ± 5 20 ± 1 12 ± 0 60 22 ± 4 19 ± 3 12 ± 1 90 26 ± 3 19 ± 2 13 ± 1 120 28 ± 8 23 ± 2 15 ± 2 180 31 ± 3 22 ± 0 18 ± 3 240 33 ± 1 22 ± 2 20 ± 1 300 32 ± 1 21 ± 1 22 ± 1 360 34 ± 0 21 ± 0 24 ± 1
Tabel 4.8. Jumlah kumulatif zat aktif yang terdifusi melewati membran gusi sapi
Waktu (s) Kumulatif Difusi Zat Aktif (µg)
A1 A2 A3 0 0 ± 0 0 ± 0 0 ± 0 15 181 ± 50 175 ± 18 172 ± 4 30 180 ± 55 185 ± 12 125 ± 2 45 202 ± 47 213 ± 14 116 ± 4 60 224 ± 42 206 ± 34 124 ± 13 90 265 ± 34 201 ± 21 129 ± 5 120 283 ± 78 245 ± 20 152 ± 23 180 319 ± 31 232 ± 4 177 ± 32 240 339 ± 6 230 ± 24 203 ± 10 300 328 ± 12 219 ± 10 217 ± 10 360 347 ± 1 222 ± 4 237 ± 10
Dari hasil pengujian tersebut diketahui difusi zat aktif yang terbanyak dihasilkan oleh formula A1 yang diikuti oleh A3 dan difusi terendah diperoleh dari patch dengan formula A2, jika diurutkan maka difusi zat aktif dari masing-masing formula yaitu A1>A3>A2. Persen natrium diklofenak yang terdifusi pada masing-masing formula dapat dilihat pada gambar 4.5, sedangkan gambar 4.6 menunjukkan jumlah zat aktif yang terdifusi.
UIN Syarif Hidayatullah
Gambar 4.7. Grafik persentase difusi zat aktif melalui membran gusi sapi dari masing-masing formula
Gambar 4.8. Grafik jumlah difusi zat aktif melalui membran gusi sapi dari masing-masing formula
Dari hasil pengamatan persentase difusi natrium diklofenak dari matriks polimer pada formula A1 menunjukkan persentase difusi zat aktif yang terbesar, Sedangkan persentase difusi natrium diklofenak dari formula A2 tidak menunjukkan adanya peningkatan difusi zat aktif selama pengamatan. Persentase difusi natrium diklofenak pada formula A2 menunjukkan persentase difusi yang terendah. Pengolahan data secara statistik dilakukan untuk mengetahui pengaruh formula terhadap persentase difusi natrium diklofenak dapat dilihat dalam tabel 4.9 dan 4.10.
UIN Syarif Hidayatullah
Tabel 4.9. Analisis statistik Kruskal-Wallis test dari data persentase difusi natrium diklofenak
difusi
Chi-Square 17.171
df 2
Asymp. Sig. .000
Tabel 4.10. Statistik persentase difusi natrium diklofenak
(I) formula
(J) formula
Mean Difference
(I-J) Std. Error Sig.
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
A1 A2 .049091* .024178 .047 .00078 .09741 A3 .092318* .024178 .000 .04400 .14063 A2 A1 -.049091* .024178 .047 -.09741 -.00078 A3 .043227 .024178 .079 -.00509 .09154 A3 A1 -.092318* .024178 .000 -.14063 -.04400 A2 -.043227 .024178 .079 -.09154 .00509
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
Dari hasil pengolahan data menggunakan statistik menunjukkan bahwa hasil uji difusi natrium diklofenak dari masing-masing formula menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan yang dapat diamati dari nilai signifikansi yang dihasilkan pada pengujian. Persentase difusi natrium diklofenak dari formula A2 dan A3 menunjukkan adanya perbedaan tetapi perbedaan yang dihasilkan tidak signifikan.
Hasil uji difusi natrium diklofenak melalui membran gusi sapi pada penelitian ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi difusi natrium diklofenak adalah membran gusi yang digunakan dalam pengujian (Martin et al., 1993). Adanya perbedaan ketebalan dari membran yang digunakan dari masing-masing pengujian akan menyebabkan perbedaan laju difusi natrium diklofenak melewati membran sehingga dapat mempengaruhi jumlah zat aktif yang terdifusi. Laju difusi natrium diklofenak dapat dilihat pada tabel 4.11. Hasil pengujian fluks diketahui bahwa nilai fluks natrium diklofenak terbesar dihasilkan oleh
UIN Syarif Hidayatullah
formula A1 yang mengandung konsentrasi larutan polimer terendah yaitu 1% diikuti oleh A3 yang mengandung konsentrasi larutan polimer 2% dan nilai fluks terkecil ditunjukkan oleh formula A2 yang mengandung konsentrasi larutan HPMC 1,5%. Tingginya nilai fluks natrium diklofenak pada formula A3 dibandingkan dengan formula A2 disebabkan adanya perbedaan ketebalan membran yang digunakan, ketebalan membran yang digunakan pada formula A2 lebih tebal dibandingkan dengan membran yang digunakan pada pengujian formula lainnya. Pengaruh perbedaan ketebalan membran gusi yang digunakan terhadap laju difusi zat aktif dari masing-masing formula dapat dilihat pada tabel 4.11.
Tabel 4.11. Fluks natrium diklofenak dari masing-masing formula Formula Ketebalan (mm) Fluks (µgcm-2jam-1)
A1 1,78 ± 0,02 28,917 ± 0,094 A2 2,16 ± 0,01 18,468 ± 0,340 A3 1,88 ± 0,00 19,746 ± 0,869
Gambar 4.9. Fluks natrium diklofenak
Berdasarkan pengolahan data melalui statistik diketahui bahwa terdapat perbedaan fluks difusi dari masing-masing formula. Hasil ini dapat dilihat pada tabel 4.12. Perbedaan fluks difusi natrium diklofenak dari formula A2 dan A3 terlihat berbeda secara tidak signifikan. Perbedaan fluks dari masing-masing formula dapat dilihat pada tabel 4.13.
UIN Syarif Hidayatullah
Tabel 4.12. Pengolahan data fluks secara statistik menggunakan ANOVA
Tabel 4.13. Statistik fluks natrium diklofenak
4. 7 Kebocoran Backing Membran
Untuk meningkatkan jumlah natrium diklofenak yang difusi melalui membran gusi maka sediaan patch diberikan suatu lapisan backing. Lapisan
backing ini tidak hanya berfungsi untuk menghambat difusi natrium diklofenak ke arah rongga mulut sehingga dapat masuk ke saluran pencernaan fungsi lain dari lapisan backing ini untuk mengoptimalkan difusi natrium diklofenak dengan cara memberikan difusi yang searah (Yogananda & Rakesh, 2012).
Lapisan etil selulosa dibuat dengan melarutkan etil selulosa dalam campuran etanol 96% dan kloroform dengan perbandingan 10:15. Penggunaan campuran pelarut organik tersebut mengikuti formula yang telah dicobakan oleh Manoj, Prabhushankar & Sathes tahun 2010. Penelitian tersebut memformulasikan Metronidazol sebagai sediaan film periodontal. Etil selulosa yang dilarutkan dalam pelarut organik atau campuran pelarut organik digunakan untuk menghasilkan film yang tidak larut dalam air
fluks
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 123.809 2 61.904 12.568 .007 Within Groups 29.554 6 4.926 Total 153.363 8 (I) patch (J) patch Mean Difference
(I-J) Std. Error Sig.
95% Confidence Interval
Lower Bound Upper Bound
A1 A2 8.598667* 1.812132 .003 4.16454 13.03279 A3 6.839333* 1.812132 .009 2.40521 11.27346 A2 A1 -8.598667* 1.812132 .003 -13.03279 -4.16454 A3 -1.759333 1.812132 .369 -6.19346 2.67479 A3 A1 -6.839333* 1.812132 .009 -11.27346 -2.40521 A2 1.759333 1.812132 .369 -2.67479 6.19346
UIN Syarif Hidayatullah
sehingga diharapkan lapisan tersebut dapat memberikan aliran zat aktif yang searah dengan sangat baik (Rowe, Paul and Marian, 2009). Hasil pengujian kebocoran backing dapat dilihat pada tabel 4.10. Difusi natrium diklofenak dari membran etil selulosa berkisar antara 0 - 2,5%, hal ini menunjukkan bahwa membran etil selulosa dapat menahan difusi zat aktif ke saliva dan memberikan difusi zat aktif yang searah sehingga dapat mengoptilmalkan difusi natrium diklofenak melewati membran.
Tabel 4.14. Persentase Kumulatif Kebocoran backing
Waktu (s) % Kumulatif Kebocoran Backing
0 0,00 ± 0 15 0,65 ± 0 30 1,14 ± 1 45 1,37 ± 1 60 1,67 ± 1 90 1,82 ± 1 120 1,89 ± 1 180 2,10 ± 1 240 2,51 ± 1 300 2,27 ± 1 360 2,16 ± 0
Pengujian kebocoran backing dengan menggunakan Franz diffusion cell ini terdapat kelemahan. Hasil kebocoran yang dapat diamati hanya kebocoran zat aktif dari permukaan atas saja, sedangkan kebocoran zat aktif dari sisi samping patch tidak dapat terukur, sehingga diperlukan metode lain yang dapat mengukur kebocoran zat aktif dari semua sisi sediaan.
Penggunaan etil selulosa sebagai lapisan backing memiliki kelemahan. Pada proses pembentukan lapisan backing dari etil selulosa menggunakan campuran etanol 96% dan kloroform. Penggunaan kloroform dalam formulasi sediaan mukoadhesif dikhawatirkan keamanannya, adanya sisa kloroform dalam sediaan dikhawatirkan dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan seperti hepatotoksik dan reaksi neprotoksik. Produk kesehatan tidak boleh mengandung kloroform lebih dari 0,5% (w/w atau v/v) (Martindal ed 35). Untuk memastikan keamanan dari lapisan backing perlu dilakukannya pengujian residu pelarut dalam sediaan.
UIN Syarif Hidayatullah
BAB V