• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMAMPUAN PERSEPSI GERAK (PERCEPTUAL MOTOR SKILLS)

Petunjuk Pengisian

Berilah Tanda Checklis (√√√√) pada Kolom Berangka Sebagai Berikut. Angka 4 jika anak dapat melakukan sendiri

Angka 3 jika anak dapat melakukan dengan bantuan secara verbal/ lisan Angka 2 jika anak dapat melakukan dengan bantuan secara fisik Angka 1 jika anak dapat melakukan dengan bantuan verbal dan fisik Angka 0 jika anak tidak dapat melakukan.

Kegiatan Langkah 2 Menganalisis Hasil Skrining

Analisis hasil skrining dari GPI I, GPI II (Gross motor, Fine motor dan persepsi gerak) diperoleh data sebagai berikut.

2. Re-rata Fine Motor = 2,75 3. Re-rata Gross Motor = 2,50 4. Re-rata Persepsi Gerak = 2,56.

5. Jumlah re-rata keseluruhan = 10,56. Re-rata hasil skrining = 2,64

Dari hasil re-rata hasil skrining diperoleh angka sebesar 2,64, ini berarti bahwa siswa contoh diperlukan pembelajaran klinis terlebih dahulu sebelum pembelajaran dengan mengaplikasikan gerak irama.

Kegiatan Langkah 3

Membuat Skematis dan Bagan Pola Gerak

Dari hasil skrining tersebut, ternyata siswa contoh mempunyai hambatan belajar. Hambatan-hambatan itu disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan keterampilan gerak gross dan fine motor (dengan re-rata hasilnya 2,75 dan 2,50), dan pada faktor persepsi-gerak (rata-ratanya 2,56). Ini berarti bahwa siswa contoh tersebut masih memerlukan bantuan secara verbal dan fisik dalam melakukan kegiatan berkaitan dengan keterampilan gerak, dan persepsi geraknya.

Faktor-faktor yang sangat memerlukan layanan khusus berkaitan dengan keterampilan persepsi dan pola gerak dalam pembelajaran individual berbasis gerak irama, berkaitan dengan:

a. persepsi pandang, persepsi raba, persepsi penglihatan jarak jauh; b. orientasi ruang, memanipulasi tubuh;

c. fungsi gerak, gerak lurus/ menyamping/ sejajar; dan d. memahami posisi tempat.

Informasi hasil skrining tersebut sangat membantu guru kelas dalam penyusunan suatu program pembelajaran yang mengaplikasikan pola gerak irama. Berdasarkan informasi hasil skrining dan silabi atau kurikulum maka disusunlah skema pola gerak dan bagan pola gerak yang akan diterapkan dalam program pembelajaran dengan mengaplikasikan gerak irama, yaitu sebagai berikut.

Tabel 7.1 Skematis Pola Gerak untuk Anak dengan Hendaya Kesulitan Belajar Bagan 7.1 Pola Gerak untuk Siswa dengan Hendaya

Kesulitan Belajar Usia 7 Tahun Keterangan Bagan 7.1

PA = Posisi awal siswa melakukan kegiatan

A/B/C/D/E = Lokasi untuk melakukan kegiatan akademik (dalam hal ini menghitung penjumlahan dengan deret hitung ke bawah). Dalam kegiatan di masing-masing lokasi diiringi dengan kegiatan intervensi guru untuk melakukan treatmen terhadap hambatan-hambatan dari faktor gerak, persepsi dan keseimbangan.

Di lokasi A siswa melakukan penjumlahan deret hitung lurus sambil menya-nyikan lagu "Satu-satu aku sayang Ibu …dst.nya"

Di lokasi B siswa melakukan penjumlahan angka dengan deret hitung ke bawah dalam ukuran satuan, siswa yang mampu menyelesaikan tugasnya diperkenankan untuk melempar bola ke arah sasaran yang ditentukan.

Di lokasi C siswa melakukan kegiatan penjumlahan dengan deret hitung ke bawah dalam bentuk angka puluhan, setelah selesai siswa menyanyikan lagu "Pelangi".

Di lokasi D siswa melakukan kegiatan mencari angka-angka yang ada di kotak, kemudian menjumlahkan seluruh angka hasil perolehan dari kotak.

Di lokasi E siswa diberikan waktu 10 menit untuk menjumlahkan bilangan dengan deret hitung ke bawah. Siswa yang benar diberikan hadiah yang telah disediakan guru.

Kegiatan dari PA ke Lokasi A adalah berjalan secepat-cepatnya secara ber-pasangan dengan teman, beberapa langkah sebelum sampai di lokasi A siswa melompat dengan sepenuh tenaga.

Kegiatan dari A ke B siswa melakukan gerakan lari sambil memutari tonggak/ batas yang ada sepanjang jalur lokasi A ke B. Kegiatan ini dilakukan sambil bergandengan tangan dengan temannya.

Kegiatan dari B ke C, siswa melakukan gerakan melompat sampai batas yang telah ditentukan kemudian sambil berjalan saling lempar-tangkap bola dengan pasangannya hingga sampai di lokasi C.

Kegiatan dari C ke D, siswa berlomba jalan cepat menuju lokasi D.

Kegiatan dari D ke E, siswa berjalan sambil mengambil potongan-potongan kertas yang tersebar di kiri dan kanan jalur D - E (potongan-potongan kertas tersebut terdapat angka-angka). Sesampainya di lokasi E siswa menjumlahkan angka-angka tersebut dalam waktu 10 menit. Siswa yang penjumlahannya benar diberikan reinforcement positif. Sedangkan siswa yang belum, diberikan reinforcement negatif.

Kegiatan dari lokasi E ke PA semua siswa berjalan santai sambil menyanyikan lagu "Gelang sipaku gelang … dst.nya"

Langkah ke-4

Membuat Rancangan Pembelajaran untuk Siswa dengan Hendaya Kesulitan Belajar, dalam mata pelajaran Matematika.

CONTOH

RANCANGAN PEMBELAJARAN

UNTUK SISWA DENGAN HENDAYA KESULITAN BELAJAR

Mata Pelajaran : Matematika

Pokok Bahasan : Bilangan 1 sampai 100

Sub -Pokok Bahasan : Penjumlahan Bilangan puluhan

dengan Deret Hitung ke Bawah. Kelas/Semester : I / II (Dua)

Waktu : 2 X 35 menit per satu pertemuan. I. Standar Kompetensi

Menggunakan bilangan dalam memecahkan masalah II. Kompetensi Dasar

Mengenal dan menggunakan bilangan dalam pemecahan masalah III. Hasil Belajar

-Menjumlahkan dan mengurang bilangan.

-Menggunakan nilai tempat dalam penjumlahan dan pengurangan

-Menjumlahkan angka puluhan dengan teknik menyimpan melalui deret angka hitung ke bawah. IV. Indikator

Menuliskan bilangan dua angka dalam bentuk penjumlahan puluhan dan satuan. V. Materi Pokok

Operasi hitung bilangan VI. Alokasi Waktu

2 X 35 menit per satu pertemuan. VII. Pengalaman Belajar

1. Apersepsi/ Motivasi:

a. Mengarahkan siswa dengan hendaya kesulitan belajar untuk menjumlahkan

bilangan puluhan melalui deret hitung ke bawah.

b. Menjumlah dua bilangan puluhan, dengan teknik menyimpan angka

penjumlahan melalui deret hitung ke bawah.

2. Kegiatan Inti:

a. Siswa berada di ruangan bangsal sekolah. Kegiatan di awali dan di akhiri

pada lokasi PA, dengan posisi berteman. Kegiatan- kegiatan

akademik dilakukan pada lokasi A sampai E. Kegiatan akademik adalah:

menjumlahkan angka puluhan melalui deret hitung ke bawah.

b. Kegiatan-kegiatan inti dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. VIII. Sumber/ Bahan /Alat

Sumber : GBPP dan Silabi, KBK, dan Buku Matematika untuk Kelas I Bahan : Meliputi angka satuan dan puluhan sampai angka seratus.

Alat : Kertas bertuliskan angka satuan dan puluhan, bola karet, tongkat pembatas, tali plastik sebagai jalur kegiatan, dan papan sasaran bola tembak, beberapa hadiah ringan. IX. Evaluasi

A. Prosedur Pre Test dan Post Test B. Jenis Test: Pernbuatan

C. Alat Test: GPI. X. Kriteria Penilaian

Nilai sangat baik : Jika siswa mampu menjumlahkan dan melakukan kegiatannya sendiri tanpa bantuan guru.

Nilai baik : Jika siswa mampu melaksanakan tugas menjumlahkan dengan

ada petunjuk lisan dan fisik dari guru. Petunjuk lisan berupa suruhan dan arahan, sedangkan bentuk fisik misalnya dengan memegang siswa untuk melakukan

kegiatan.

Nilai kurang : Jika siswa tidak mampu menyelesaikan tugas dan tidak mau

bergerak dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.

Bandung, ………200..

Mengetahui, Guru Kelas,

Kepala Sekolah ……….

_________________________ ________________________

Langkah Ke-5

Melakukan Ealuasi Akhir

Untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan perilaku psikomotor dan peningkatan prestasi akademiknya, diperlukan adanya post test. Instrumen GPI Profile I dan II diterapkan kembali, hasilnya diperbandingkan dengan hasil skrining atau pre test. Bila terjadi peningkatan angka rata-ratanya hingga mencapai angka 4, maka program pembelajarannya berhasil. Jika di bawah angka 3 maka dianggap tidak berhasil, dan diperlukan pembelajaran klinis.

Bila guru kelas ingin mengetahui mengenai tingkat perkembangan stabilitas siswanya, dapat dibuat suatu program tersendiri berupa penerapan metode subjek tunggal. Dalam sistem ini jumlah pertemuan minimal 12 kali pertemuan. Tiga pertemuan awal sebagai Baseline 1, enam kali pertemuan berikutnya disebut dengan Treatment, dan tiga pertemuan akhir dianggap Baseline 2. Pada pertemuan Treatment diberikan intervensi guru untuk mengaplikasikan gerak irama, pada Baseline 1 dan 2 tidak diberikan intervensi guru. Mengenai cara penghitungan statistika secara rinci dapat dilihat pada model single subject research.

RANGKUMAN

1. Anak dengan hendaya kesulitan belajar (learning disability), adalah anak yang mempunyai kekurangan atau terhambatnya satu atau beberapa bagian dari proses belajar. Kesulitan belajar mungkin terjadi dalam satu atau lebih dari proses-proses dasar dalam pemahaman atau penggunaan bahasa lisan dan tulis. Misalnya membaca, menulis, menghitung bilangan dan angka, mengeja huruf, mendengarkan, berpikir, dan mengingat-ingat. Kekurangan dalam pengalaman proses belajar berkaitan erat dengan perilaku psikomotor. Beberapa dari anak dengan hendaya kesulitan belajar mempunyai masalah sosial emosial. 2. Para ahli klinis menyebut anak dengan hendaya kesulitan belajar adalah "anak yang mempunyai

ketidakberfungsian cerebral secara minimal atau adanya cedera otak" (minimal cerebral dysfunction or brain injured)," ketidakberfungsian otak secara minimal (minimal brain dysfunction), dislek-sia (dyslexia), dan "ketidakmampuan perseptual (perceptual disability).

3. Para ahli pendidikan menyebut anak dengan hendaya kesulitan belajar dengan istilah "anak dengan hambatan pendidikan" (educationally handi-capped), atau "anak dengan hambatan persepsi (perceptually handicapped), dan "anak dengan hambatan belajar khusus" (specific learning disability).

4. Konsep-konsep dasar berkaitan dengan definisi dari anak dengan hendaya kesulitan belajar, antara lain: a. mempunyai hambatan proses psikologis, yaitu proses yang meng- acu pada kemampuan hakiki sebagai prasyarat penguasaan kete- rampilan gerak dan persepsi,

b. hambatan khususnya berkaitan dengan membaca, menulis dan matematika, c. masalahnya bukan berasal dari kasus-kasus utama,

d. permasalahan yang ada saling berbeda-beda,

e. Hendaya kesulitan belajar tertuju pada ketidakberfungsian sistem saraf pusat, dan

f. hendaya kesulitan belajar selalu diikuti dengan hendaya penyerta, seperti kelainan emosional.

5. Faktor-faktor lingkungan anak, nutrisi, dan kesehatan merupakan hal yang penting bagi perkembangan dan pertumbuhan terhadap bayi dan anak-anak.

6. Prevalensi anak dengan hendaya kesulitan belajar berkisar 3 hingga 15 persen dari seluruh populasi anak-anak usia sekolah. Penyebabnya yaitu:

a. faktor organik dan biologis, b. faktor genetika, dan c. faktor lingkungan.

Faktor genetika merupakan faktor dominan sebagai penyebab terjadinya hendaya kesulitan belajar membaca.

7. Faktor keterampilan gerak, pola gerak, keseimbangan, dan persepsi (persepsi dengar dan visual) berkaitan erat dengan perilaku psikomotor. Oleh karena itu fokus pembelajaran terhadap anak dengan hendaya kesulitan belajar ditujukan pada peningkatan gerak sensori dan gerak-persepsi. Menurut Piaget (1970) pembelajaran gerak sensori sejak usia dini menjadi landasan utama untuk membangun perkembangan kognitif dan persepsi yang kompleks.

8. Sebelum dilakukan pembelajaran individual yang bersifat umum, maka guru kelas membuat program pembelajaran klinis apabila anak mempunyai kesalahan dalam tugas akademik.

C. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK HIPERAKTIF (HYPERACTIVE STUDENT)

Hyperactive bukan merupakan penyakit tetapi suatu gejala atau symptoms. (Batshaw & Perret, 1986: 261). Symptoms terjadi disebabkan oleh faktor-faktor brain damage, an emotional disturbance, a hearing deficit, or mental retardation. Hal ini dimungkinkan terjadi bahwa seorang anak mempunyai kelainan in-atensi disorder dengan hiperaktif (Attention Deficit Disorder- with Hyperactivity) atau in-atensi disorder tanpa hiperaktif (Attention Deficit Disorder).

Dewasa ini banyak kalangan medis masih menyebut anak hiperaktif dengan istilah attention deficit disorder (ADHD) (Solek, P. 2004:4).

Banyak sebutan nama atau istilah hiperaktif atau ADDH, antara lain minimal cerebral dysfunction, minimal brain damage (sekarang istilah ini tidak mempunyai nilai atau tidak digunakan lagi bagi pendidik dan psikologis), minimal cerebral palsy, hyperactive child syndrome, dan attention deficit disorder with hyperactivity (Batshaw & Perret, 1986:262). Gejala-gejala "kelainan" dari anak hiperaktif antara lain in-atensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Anak-anak hiperaktif memerlukan suatu layanan dengan cara pemberian intervensi dengan terapi farmakologi dikombinasikan dengan terapi perilaku (behavior modification). Jika anak hiperaktif tidak mendapatkan layanan terapi, maka yang bersangkutan di kemudian hari akan berkembang ke arah "kriminal", suka mengutil barang, mencuri, mencoba-coba narkoba, merusak properti dan cenderung berkembang ke arah problem yang lain, yaitu conduct disorder (CD)(Solek, P. 2004:5).

Ciri yang paling mudah dikenal bagi anak hiperaktif adalah anak akan selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, Selain itu yang bersangkutan sangat jarang untuk berdiam selama kurang lebih 5 hingga 10 menit guna melakukan suatu tugas kegiatan yang diberikan gurunya. Oleh karenanya, di sekolah anak hiperaktif mendapatkan kesulitan untuk berkonsentrasi dalam tugas-tugas kerjanya. Ia selalu mudah bingung atau kacau pikirannya, tidak suka memperhatikan perintah atau penjelasan dari gurunya, dan selalu tidak berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas pekerjaan sekolah, sangat sedikit kemampuan mengeja huruf, tidak mampu untuk meniru huruf-huruf (Rapport & Ismond, 1984 dalam Betshaw & Perret, 1986:263).

Definisi mengenai hiperaktif, menurut Stewart (1970: 94) sebagai berikut.

"... Hyperactive child syndrome, typically a child with this syndrome is continually in motion, cannot concentrate for more than a moment, acts and speaks on impulse, is impatient and easily upset. At home he is constanly in trouble of his restlessness, noisiness, and disobedience. In school he is readly distracted, rarely finishes his work, tends to clown and talk out of turn in class and becomes labeled a discipline problems" (dalam Kauffman, J. M., 1985:174).

Ciri-ciri yang sangat nyata berdasarkan definisi tersebut bagi peserta didik hiperaktif adalah sebagai berikut. a. Selalu berjalan-jalan memutari ruang kelas dan tidak mau diam.

b. Sering mengganggu teman-teman di kelasnya.

c. Suka berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya dan sangat jarang untuk tinggal diam menyelesaikan tugas sekolah, paling lama bisa tinggal diam di tempat duduknya sekitar 5 sampai 10 menit.

d. Mempunyai kesulitan untuk berkonsentrasi dalam tugas-tugas di sekolah. e. Sangat mudah berperilaku untuk mengacau atau mengganggu.

f. Kurang memberi perhatian untuk mendengarkan orang lain berbicara. g. Selalu mengalami kegagalan dalam melaksanakan tugas-tugas di sekolah, h. Sulit mengikuti perintah atau suruhan lebih dari satu pada saat yang bersamaan. i. Mempunyai masalah belajar hampir di seluruh bidang studi.

j. Tidak mampu menulis surat, mengeja huruf dan berkesulitan dalam surat-menyurat.

k. Sering gagal di sekolah disebabkan oleh adanya in-atensi dan masalah belajar karena persepsi visual dan auditory yang lemah.

l. Karena sering menurutkan kata hati (impulsiveness), mereka sering mendapat kecelakaan dan luka. (Rapport & Ismond, 1984 dalam Batshaw & Perret, 1986:263).

Kesulitan belajar anak hiperaktif disebabkan pula adanya kontrol diri yang kurang dan sering impulsif dalam setiap kegiatan yang ia lakukan, sangat mudah untuk marah dan seringkali suka berkelahi. Dari adanya impulsif ini, umumnya anak hiperaktif sering mendapatkan "kecelakaan" dan mendapatkan luka. Ada di antara mereka tidak suka berolahraga karena adanya kecanggungan atau kekakuan gerak. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua anak dengan hiperaktif atau kesulitan belajar mempunyai attention deficit disorder (ADD).

Hubungan antara attention deficit disorder, learning disability dan hyperactive dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut.

Gambar 3.1

Hubungan antara Kesulitan Belajar, In-atensi dan hiperaktif (Batshaw & Perret, 1986:263).

Anak dengan ADD atau ADD-H selalu mendapat kesulitan di sekolah. Mereka selalu gagal untuk melakukan hubungan sosial dalam pelajaran berolahraga, sedangkan di rumah mereka juga sedikit mendapatkan dorongan untuk menghilangkan kesulitannya. Anak hiperaktif tersebut dapat dipastikan mempunyai kesulitan untuk memahami konsep, dan selalu gagal untuk segala kegiatan yang ia coba lakukan.

Kasus lainnya berkaitan dengan hiperaktif, antara lain sebagai berikut.

1. Anak tunagrahita dapat juga mempunyai kelainan atau hendaya penyerta hiperaktif, seperti adanya in-atensi, perilaku impulsif, frustasi, dan rendahnya kemampuan dalam bidang kognitif. Pendekatan secara medis dalam kasus semacam ini, pengobatannya kurang efektif.

2. Sifat in-atensi dan hiperaktif terdapat juga pada anak yang mempunyai seizure disorder, terhadapnya terdapat problem perilaku disebabkan oleh adanya reaksi terhadap toxic levels of phenobarbital atau anticonvulsant lainnya.

3. Anak dengan hendaya pendengaran dapat juga mempunyai sifat hiperaktif atau problem perilaku lainnya. Problem ini disebabkan oleh kerusakan pada sebagian sel-sel saraf pada otak, atau adanya kesalahan mendiagnosis.

4. Pada anak dengan kesulitan psikiatrik dapat dimungkinkan mempunyai hiperaktif disebabkan oleh adanya perasaan tidak aman pada dirinya atau salah mengenai tanggapan dirinya dan kurang responsivitas terhadap orang lain.

Pengobatan terhadap anak ADD umumnya dilakukan dengan berbagai pendekatan termasuk program pendidikan khusus, modifikasi perilaku, pengobatan melalui obat-obatan, dan konseling. Di samping pendekatan yang kontroversial antara lain dengan melakukan diet khusus, dan penggunaan obat-obatan serta vitamin-vitamin tertentu.

Pendekatan secara pendidikan, umumnya diberikan suatu penempatan sekolah yang tepat dalam suatu program khusus. Penempatan itu dianggap sangat penting diterapkan guna "penyembuhan" anak dengan ADD. Pada anak ADD umumnya mempunyai kesulitan belajar disebabkan adanya hiperaktif, sifat impulsif, dan menurunnya daya atensi saat mengikuti pelajaran (Straus & Lehtinen, 1955 dalam Batshaw & Perret, 1986:266). Untuk perkembangan dan pertumbuhan diri anak bersangkutan, diperlukan suatu bentuk program pembelajaran spesifik dalam sebuah kelas khusus dengan didampingi seorang asisten yang dapat membantu kegiatan selama layanan pembelajaran berlangsung.

Pada anak dengan ADD-H pendekatan yang efektif adalah dengan menerapkan modifikasi perilaku saat pelaksanaan pembelajaran. Metode yang digunakan akan melibatkan tata cara pengaturan program. Lingkungan yang terstruktur, dan bentuk re-inforcement terhadap perilaku dianggap hal yang penting. Alasan utama digunakannya modifikasi perilaku disebabkan bahwa perilaku dapat dikontrol melalui konsekuensi-konsekuensi yang diperlakukan akibat adanya perilaku sasaran pembelajaran tersebut. Jadi apabila hasil peri-laku sasaran tertentu mendapatkan reward, maka akan memperoleh manfaat dengan berulangkalinya periperi-laku tertentu di masa yang akan datang. Jika perilaku tidak mendapat reward, maka tidak akan muncul lagi. Anggapan ini berdasarkan atas tiga landasan utama dari suatu metode pengontrolan terhadap perilaku, yaitu reinforcement, punishment, dan extinction. Dengan menggunakan modifikasi perilaku, maka saat mencatat semua hasil perilaku sasaran yang kemunculannya diharapkan, model evaluasi terhadap subjek tunggal sangat memegang peranan penting (single-case design: A-B; A-B-A; atau A-B-A-B).

Suatu program untuk layanan pembelajaran atau bimbingan konseling terhadap anak ADD-H diperlukan suatu model tersendiri bersifat spesifik dengan berlandaskan pada pola Input - Process - Output. Dalam input, diperlukan kegiatan-kegiatan berkaitan dengan (a) skrining atau asesmen guna mengetahui informasi berkaitan dengan karakteristik khusus dari anak bersangkutan, (b) masukan informasi berkaitan dengan program yang lalu, keadaan dan keberadaan guru, therapist, konselor setempat, sarana dan prasarana, serta tahapan kegiatan yang pernah dilakukan atau diterapkan pada anak bersangkutan. Masukan lingkungan berkaitan dengan norma, tuntutan, tujuan suatu kegiatan, serta keadaan lingkungan anak merupakan informasi yang sangat berguna dan sangat memegang peranan penting bagi kegiatan input.

Selanjutnya proses kegiatan layanan spesifik diperlukan suatu program pembelajaran/konseling/terapi yang bersifat individu dan dibuat secara khusus. Tentunya dengan melihat kurikulum yang berlaku, perilaku nonadaptif atau mal-adjustment tertentu, cara melaksanakan kegiatan intervensi, dan bagaimana melakukan refleksi kegiatan pembelajaran.

Selama proses kegiatan untuk "penyembuhan" terahadap anak ADD-H diperlukan program tertentu yang lebih menitikberatkan pada model modifikasi perilaku. Siklus kegiatannya diperlukan adanya tindakan (act), perencanaan (plan), pengamatan (observation), refleksi hasil kegiatan pembelajaran (reflextion), dan perencanaan kembali (re-plan) dan seterusnya, sampai ditemukan kesempurnaan perilaku sasaran tertentu pada sasaran akhir (annual goals).

Dalam out put atau keluaran, program hendaknya berfokus pada perilaku sasaran yang telah ditentukan, dan merupakan konsekuensi berikutnya. Semua hasil yang berkaitan dengan tingkat kestabilan perkembangan perilaku tertentu perlu dicatat dalam sebuah formulir pencatatan khusus (disebut dengan recording sheet for rate data). Semua hasil catatan itu kemudian di rekapitulasi dan dipetakan dalam sebuah grafik single-case design. Penghitungan stabilitas perkembangan (trend stability) merupakan analisis untuk menghitung kadar perkembangannya, apakah masih labil (disebut: Variable) atau sudah tetap (disebut dengan Constant). Disebut dengan constant apabila nilai trend stability berada pada 85% ke atas.

D. KARAKTERISTIK ANAK TUNALARAS