• Tidak ada hasil yang ditemukan

JALUR GEMPA DI DUNIA

KEMANDIRIAN BANGSA

20. Umum.

Setelah kita melihat kondisi kontribusi teknologi dalam zoning wilayah ataupun penataan ruang yang masih kurang, sehingga kondisi penataan ruang yang belum sepenuhnya dipenuhi dalam bentuk rencana tata ruang wilayah, masih besarnya pengalihan fungsi ruang atau lahan untuk sawah maupun ruang terbuka hijau. Kondisi masih kurangnya ini juga kita dapat lihat dari gambaran ketahanan pangan masih mengkhawatirkan, dimana kondisi tersebut setidaknya ditunjukkan masih besarnya ketergantungan Indonesia kepada sumber pangan dari import maupun peta data kerawanan pangan yang masih cukup luas dan memprihatinkan, kemudian melihat perkembangan lingkungan strategis baik global, regional maupun nasional, yang memberikan peluang sekaligus tantangan, maka perlu digambarkan postur kontribusi teknologi dalam zoning wilayah yang diharapkan.

21. Kontribusi Teknologi Dalam Zoning WIlayah yang Diharapkan.

Pada BAB III di atas telah diuraikan pokok permasalahan dan beberapa pokok-pokok persoalan sebagai permasalahan yang dipilih dalam tulisan KKK ini. Pada prinsifnya tidak hanya masalah tehnologi saja yang berkaitan dengan zoning wilayah atau penataan ruang, tetapi juga masalah kapasitas SDM, sinergitas dan lain-lain. Oleh karena itu, berdasarkan permasalahan yang ada, kondisi yang diharapkan antara lain :

a. Adanya Kebijakan penggunaan teknologi dari pemerintah yang terintegrasi antar pemangku kepentingan yang digunakan untuk zoning wilayah maupun dalam pengelolaan perencanaan tata ruang wilayah. Para stakeholder ini misalnya Kemdagri, Bappenas, Kementerian PU, Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Metereologi dan Geofisika (BMG), BNPB, BASARNAS, TNI dan Polri, Pemda baik Provinsi dan Kabupaten/ Kota.

b. Meningkatnya kapasitas sumber daya manusia (SDM) khusus yang mengelola teknologi zoning wilayah ataupun penataan ruang maupun SDM yang menyusun rencana tata ruang wilayah pada tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota serta pemahaman dan operasional teknologi pertanian oleh petani.

c. Meningkatnya sinergitas antara Kementerian terkait, Pemda Provinsi, Kabupaten/ Kota dalam penggunaan zoning wilayah maupun penyusunan dan revisi rencana tata ruang wilayah dan pemamfaatannya dalam pembangunan yang dilaksanakan oleh Kementerian/ Lembaga maupun Pemerintah Daerah. Mewujudkan sinergitas dalam kerangka pengembangan wilayah dengan melakukan upaya untuk mendorong penataan, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang dengan prinsip harmonisasi kepentingan nasional dan kebutuhan daerah serta keserasian antardaerah untuk kepentingan masyarakat.

d. Berjalannya fungsi pengawasan secara struktural yang berjenjang dari pemerintah pusat sampai pemerintah Kabupaten/ Kota dalam pengelolaan teknologi zoning wilayah dan penyusunan rencana tata ruang wilayah. Bersamaan dengan berfungsinya pengawasan ini adalah berfungsinya proses penegakan hukum dalam penataan ruang baik oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kementerian PU, Pemda Provinsi, Kabupaten/ Kota maupun Penyidik Polri. Dalam penegakan hukum ini tentu dilihat dari substansi hukum yang ada menyangkut masalah tata ruang, aparat yang menegakkan maupun budaya masyarakat dalam mendukung proses penagakan hukum itu sendiri.

e. Meningkatnya kesadaran geografi (Geographical Awareness) bagi seluruh masyarakat khususnya untuk wilayah-wilayah yang secara geografis berada dekat atau digaris lempeng tektonik dan rawan bencana baik gunung berapi, banjir, longsor dan angin topan. Kesadaran ini juga ditunjukkan pada setiap penyusunan rencana tata ruang wilayah maupun

pembangunan suatu ruang atau kawasan tertentu yang berbasiskan pada mitigasi bencana.

22. Kontribusi Teknologi Dalam Zoning Wilayah Terhadap Perwujudan Ketahanan Pangan dan Kontribusi Perwujudan Ketahan Pangan Terhadap Kemandirian Bangsa.

Apabila gambaran beberapa kontribusi teknologi dalam zoning wilayah dan penataan ruang yang diharapkan di atas dapat terwujud, maka dengan sendirinya akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan ketahanan pangan maupun kemandirian bangsa. Beberapa hal kontribusi dari penggunaan teknologi diuraikan sebagai berikut :

a. Kontribusi Teknologi Dalam Zoning Wilayah Terhadap Peningkatan Ketahanan Pangan.

1) Secara keseluruhan akan terpenuhinya pangan bagi seluruh warga negara sampai pada tingkat individu yang cukup baik jumlahnya, mutunya, aman, bergizi, merata, terjangkau, sesuai dengan keyakian dan dapat untuk hidup sehat, aktif, produkstif dan berkelanjutan.

2) Negara dapat menentukan kebijakan pangan sendiri tanpa terpengaruh oleh upaya-upaya tekanan dari pihak luar dalam bentuk negara maupun non negara/ pengusaha besar.

3) Dapat menjamin hak atas pangan rakyat dan memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem usaha pangannya sesuai dengan potensi sumberdaya lokal.

4) Terjaminnya ketersediaan lahan pertanian pangan berkelanjutan yang cukup untuk merealisaikan program pencapaian surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014, dikarenakan para stakeholder dan aparat penegak hukum sudah bersinergi dengan baik dalam menegakkan hukum zoning wilayah atau penataan ruang. 5) Digunakannya berbagai hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi dalam pengolahan pertanian pangan seperti penggunaan pupuk yang baik, bibit unggul, peralatan yang semakin baik untuk meningkatkan produksi pangan maupun peningkatan produksi pangan yang berbasis sumber daya pangan lokal.

6) Adanya penanganan yang sinergis terhadap kemungkinan kegagalan produksi yang disebabkan oleh faktor iklim ataupun bencana seperti misalnya El-Nino yang mengakibatkan kekeringan ataupun kebanjiran.

7) Tersedianya infrastruktur, sarana dan prasarana untuk distribusi pangan baik darat, laut antar pulau yang dapat menjangkau serta terkoneksi seluruh wilayah produsen maupun konsumen serta terjaminnya keamanan.

8) Adanya kemudahan akses bagi para petani untuk mendapatkan permodalan melalui lembaga perbankan maupun lembaga keuangan lainnya dengan bunga yang ringan tanpa tergantung dari tengkulak yang memberatkan serta adanya akses untuk mendapatkan tehnologi, informasi pasar serta sarana prasarana lainnya untuk penumbuhan dan pengembangan usaha pertanian pangan.

b. Kontribusi Terwujudnya Ketahanan Pangan Terhadap Kemandirian Bangsa.

Seperti dikemukakan di atas bahwa kemandirian bangsa tidaklah berarti bahwa segala upaya pembangunan diprogramkan dan dianggarkan sendiri tanpa bantuan dari negara lain. Kebutuhan pangan nasional tidaklah mungkin dipenuhi dari dalam negeri saja, tetapi impor pangan tetap dibutuhkan tanpa mengorbankan produk-produk pangan nasional. Tetapi sesuatu yang prinsif bahwa kemandirian pangan haruslah diupayakan yaitu kemampuan negara memproduksi pangan dalam negeri untuk mewujudkan ketahanan pangan dengan memamfaatkan sebesar-besarnya potensi sumberdaya alam, manusia, sosial, ekonomi dan kearifan lokal secara bermartabat tanpa menggantungkan diri dari import.

Dalam konteks kebangsaan, bangsa yang mandiri itu artinya bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dengan segala sumberdaya yang dimiliki, mampu memecahkan persoalan yang dihadapi dan mampu mengembangkan inovasi dan riset di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya memiliki keunggulan dan daya saing.

Ketahanan pangan dalam kaitan dengan kemandirian bangsa berbanding lurus, artinya semakin tinggi ketahanan pangan suatu

bangsa, maka semakin mandiri bangsa tersebut. Pemaknaan lainnya adalah untuk mewujudkan kemandirian bangsa, maka salah satu prasyarat yang harus dipenuhi adalah ketahanan pangan.

23. Indikator Keberhasilan.

Kontribusi teknologi dalam zoning wilayah maupun penataan ruang dapat dikatakan terujud atau berhasil dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan dan kemandirian bangsa, jika beberapa indikator dibawah ini dapat dilihat akan keberadaan-nya, yaitu diantaranya :

a. Pemerintah telah mampu mengeluarkan kebijakan atau adanya kebijakan penggunaan teknologi yang terintegrasi antar stake holder atau pemangku kepentingan dalam zoning wilayah atau penataan ruang secara efektif dan efisien.

b. Kualitas SDM yang menangani teknologi untuk zoning wilayah/ penataan ruang maupun SDM penyusunan/ revisi RTRW pada level Provinsi, Kabupaten/ Kota semakin membaik dengan ditandai terealisasinya penyusunan/ revisi RTRW tepat pada waktunya serta semakin berkurangnya alih fungsi suatu ruang atau lahan seperti lahan sawah, kawasan hutan baik hutan kayu maupun mangrove dan ruang terbuka hijau dan lain-lain sesuai dengan zoning wilayah yang sudah ditentukan. Meningkatnya pemahaman dan penggunaan teknologi pertanain oleh petani dalam upaya meningkatkan produksi pertanian. c. Tidak adanya keterlambatan pembuatan maupun revisi RTRW Provinsi, Kabupaten/ Kota yang disebabkan oleh tidak sinerginya para stake holder seperti antara pemerintah Provinsi dengan Kabupaten/ Kota yang ada dibawahnya atau dengan Kementerian terkait yang ada dipusat seperti Kementerian Kehutanan, Pertanian dan lain-lain. Tidak adanya konflik yang meluas baik antar pemerintah maupun pemerintah dengan masyarakat karena permasalahan penyimpangan fungsi lahan atau ruang yang sudah ditentukan sesaui zoning wilayah atau RTRW yang ada.

d. Adanya pelaporan fungsi pengawasan secara berjenjang, khususnya yang menyangkut masalah zoning wilayah/ penataan ruang dari setiap provinsi, Kabupaten/ Kota serta adanya penyelesaian kasus pelanggaran hukum penataan ruang baik oleh PPNS pada level provinsi, Kabupaten/ Kota dan Kementerian PU maupun oleh penyidik Polri.

e. Berkurangnya kerugian materiil maupun immateriil setiap kali ada bencana alam dan proses rehabilitasi pasca bencana relatif lebih cepat serta tidak ada kasus-kasus KKN pada penggunaan teknologi dalam zoning wilayah/ penataan ruang yang tidak tepat guna maupun pasca penanganan bencana yang penuh dengan manipulasi dan korupsi.

BAB VI

KONSEPSI KONTRIBUSI TEKNOLOGI DALAM ZONING WILAYAH YANG