GAMBARAN UMUM PENELITIAN
KEMANDIRIAN MASYARAKAT PESERTA PROGRAM POSDAYA Kemandirian Masyarakat dalam Program Posdaya
Menurut Sumodiningrat (1999), kemandirian diartikan sebagai proses pembangunan yang diciptakan dari, oleh, dan untuk setiap anggota masyarakat. Hal tersebut selaras dengan konsep Posdaya yaitu sebagai suatu program dari bawah atau “bottom up program” yang menggunakan kemandirian dan pemanfaatan sumberdaya serta potensi lokal sebagai sumber segala solusi (Muljono et al. 2009). Seperti yang diungkapkan Sumodiningrat (1999) bahwa kemandirian dikategorikan menjadi tiga yaitu kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen. Dalam penelitian ini, kemandirian akan dilihat dari ketiga aspek tersebut.
Kemandirian Intelektual Masyarakat dalam Program Posdaya
Kemandirian intelektual merupakan suatu kemampuan sebagai pembentukan dasar pengetahuan yang memungkinkan untuk mengatasi dominasi dan permasalahan dari pihak lain. Kemandirian intelektual dalam penelitian ini meliputi kemampuan berkaitan dengan memanfaatkan waktu, memanfaatkan jenis kegiatan dan kemampuan mengatasi masalah kegiatan Posdaya.
Tabel 8 Jumlah dan persentase kemandirian intelektual masyarakat peserta program poasdaya Kemandirian Intelektual Jumlah Persentase (%) Tinggi 45 62.5 Rendah 27 37.5 Total 72 100
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 8 di atas terlihat bahwa kemandirian intelektual masyarakat sudah tergolong tinggi yaitu dengan persentase 62.5%. Hal ini artinya masyarakat sudah mempunyai kemandirian intelektual yang cukup tinggi karena intelektualitas berkaitan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masyarakat. Pengetahuan dan pengalaman berkaitan dengan cara berpikir masyarakat terhadap hal-hal baru khususnya pada kegiatan Posdaya yang dalam hal ini merupakan program yang mungkin masih baru serta belum begitu diketahui oleh masyarakat pedesaan.
Kemandirian Material Masyarakat dalam Program Posdaya
Kemandirian material merupakan kemampuan produktif yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat secara maksimal. Kemandirian material dalam penelitian ini meliputi kemampuan berkaitan menyediakan dan menggunakan peralatan, menyediakan dan menggunakan modal, serta menyediakan bahan-bahan kegiatan Posdaya.
Tabel 9 Jumlah dan persentase kemandirian material masyarakat peserta program Posdaya
Kemandirian Material Jumlah Persentase (%)
Tinggi 43 59.7
Rendah 29 40.3
Total 72 100
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 9 di atas terlihat bahwa kemandirian material masyarakat tergolong tinggi dengan persentase 59.7%. Hal ini berarti masyarakat sudah mempunyai kemandirian material yang memadai berkaitan dengan kemampuan mereka dalam menyediakan dan menggunakan peralatan, menyediakan dan menggunakan modal, serta penyediaan bahan-bahan kegiatan Posdaya.
Kemandirian Manajemen Masyarakat dalam Program Posdaya
Kemandirian manajemen adalah kemampuan untuk membina diri dan menjalani serta mengelola kegiatan secara bersama dengan orang lain. Kemandiran manajemen dalam penelitian ini berkaitan dengan pembinaan diri peserta Posdaya, pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan Posdaya bersama dengan peserta Posdaya lain.
Tabel 10 Jumlah dan persentase kemandirian manajemen masyarakat peserta progam program Posdaya
Kemandirian Manajemen Jumlah Persentase (%) Tinggi 67 93.1 Rendah 5 6.9 Total 72 100
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 10 di atas terlihat bahwa kemandirian manajemen masyarakat tergolong sangat tinggi dengan persentase 93.1%. Hal ini berarti masyarakat sudah mempunyai kemandirian manajemen yang sangat memadai berkaitan dengan kemampuan mereka dalam melakukan pembinaa diri, mengatur kegiatan baik di luar maupun dalam program Posdaya, serta mampu melaksanakan dan mengelola kegiatan bersama-sama dengan peserta Posdaya lainnya.
Hubungan Faktor Internal dan Eksternal Masyarakat dengan Kemandirian dalam Program Posdaya
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan kemandirian masyarakat peserta program Posdaya. Faktor internal atau faktor dari dalam diri masyarakat antara lain umur, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, pengalaman individu, motivasi berusaha, dan tingkat kekosmopolitan. Sedangkan faktor eksternal atau faktor dari luar yang
berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat adalah peran media massa, peran tokoh masyarakat, dan peran pendamping.
Hubungan Antara Faktor Internal dengan Kemandirian Masyarakat dalam Program Posdaya
Analisis hubungan antara faktor internal dengan kemandirian masyarakat dalam program Posdaya digunakan untuk meliat sejauhmana faktor internal berhubungan nyata positif dengan tingkat kemandirian. Hasil analisis yang diperoleh akan menunjukkan hubungan nyata (p<0.05) dan sangat nyata (p<0.01) dengan menggunakan uji Rank Spearman. Selain itu juga akan didapatkan beberapa indikator ynag berhubungan antara faktor internal dengan kemandirian masyarakat.
Tabel 11 Hubungan faktor internal dengan tingkat kemandirian masyarakat Faktor Internal Kemandirian (s )
Intelektual Material Manajemen
Umur -0.152 -0.289* -0.047 Tingkat pendidikan -0.020 -0.119 -0.182 Tingkat penghasilan 0.048 0.020 0.210 Pengalaman berposdaya 0.381** 0.020 0.243* Motivasi berposdaya -0.083 -0.242* -0.084 Kekosmopolitan 0.211 -0.156 -0.111
Keterangan : s = koefisien Rank Spearman, *hubungan nyata pada (p<0.05), dan **hubungan
sangat nyata pada (p<0.01)
Umur
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara umur dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa umur berhubungan nyata negatif (p<0.05) dengan kemandirian material pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s= -0.289). Hal ini
berarti umur dewasa awal belum mampu menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam aspek material. Salah satu penyebabnya adalah kesibukkan responden dalam bekerja mencari uang, sehingga tidak bisa berperan serta dalam kegiatan Posdaya. Sedangkan pada kemandirian intelektual dan manajemen umur tidak berhubungan nyata. Hal tersebut berarti umur responden rendah belum mampu menumbuhkan kemandirian yang tinggi baik dalam kemandirian intelektual maupun kemandirian manajemen.
Tingkat Pendidikan
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan kemandirian baik dalam kemandirian intelektual, material dan manajemen. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak bisa menciptakan kemandirian masyarakat dalam program Posdaya. Data hasil penelitian juga menunjukkan
hubungan negatif yang berlawanan arah yaitu semakin rendah tingkat pendidikan semakin tinggi kemandirian masyarakat. Dalam penelitian ini tingkat pendidikan responden tergolong rendah yaitu dari responden yang tidak sekolah sampai dengan SD. Meskipun dengan pendidikan yang rendah tetapi masyarakat masih dapat mengembangkan kemampuan mereka, sehingga dapat menumbuhkan kemandirian dalam diri mereka. Berbeda dengan penelitian Kurniawati (2010) dikemukan bahwa pendidikan formal dapat menciptakan kemandirian masyarakat. Perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan karakteristik responden dalam tingkat pendidikan yang ada di lapangan.
Tingkat Penghasilan
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara tingkat penghasilan dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat penghasilan tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan kemandirian intelektual, material dan manajemen. Hal ini berarti penghasilan responden tidak dapat menciptakan kemandirian masyarakat karena tidak semua kegiatan Posdaya membutuhkan uang yang banyak, karena pada dasarnya Posdaya adalah wadah yang hanya digunakan masyarakat untuk berkumpul. Dengan demikian Posdaya lebih mengutamakan kegotongroyongan dari masyarakat dan inovasi masyarakat agar dapat mengembangkan kehidupan mereka. Data di lapang menunjukkan bahwa sebagian responden termasuk kategori berpenghasilan sedang. Tetapi kegiatan yang dilakukan dalam Posdaya pendanaan dilakukan dengan cara mencari donatur sehingga masyarakat yang kurang mampu juga tidak merasa diberatkan dalam hal pendanaan program.
Pengalaman Berposdaya
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara pengalaman berposdaya dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa pengalaman individu berhubungan sangat nyata positif (p<0.01) dengan kemandirian intelektual pada tignkat keeratan cukup tinggi (s=
0.381). Pengalaman berposdaya responden juga berhubungan nyata positif (p<0.05) dengan kemandirian manajemen pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s= 0.243). Sedangkan pada kemandirian material, pengalaman individu
responden tidak berhubungan nyata. Artinya kemandirian material responden tidak bergantung pada pengalaman berposdaya. Sedangkan pada kemandirian intelektual dan manajemen sangat tergantung dengan pengalaman individu. Hal tersebut karena pengalaman berposdaya dapat memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kepada masyarakat sehingga dapat mempengaruhi kemandirian mereka.
Motivasi Berposdaya
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara motivasi berposdaya dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa motivasi berposdaya tidak berhubungan nyata negatif dengan kemandirian intelektual dan manajemen. Sedangkan pada kemandirian
material, motivasi berposdaya berhubungan nyata negatif (p<0.05) dengan kemandirian material pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s= -0.242). Hal ini
menggambarkan bahwa motivasi berposdaya tidak dapat menumbuhkan baik kemandirian intelektual dan manajemen. Pada kemandirian material terlihat bahwa motivasi berhubungan namun cenderung sedikit dengan kemandirian, karena motivasi responden untuk ikut dalam Posdaya adalah mengikuti ajakan teman dan hanya untuk mengisi waktu luang.
Kekosmopolitan
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara kekosmopolitan dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa kekosmopolitan tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan kemandirian intelektual, material dan manajemen. Hal ini berarti kekosmopolitan atau keterbukaan masyarakat akan informasi tidak berhubungan dengan kemandirian baik kemandirian intelektual, material dan manajemen.
Pada keseluruhan hubungan antara faktor internal dengan kemandirian masyarakat terlihat bahwa hubungan sangat nyata positif (p<0.01) terdapat pada pengalaman individu dan berhubungan nyata (p<0.05) pada umur dan motivasi berusaha. Hipotesis kedua (H3) mengenai hubungan nyata positif antara faktor internal dengan partisipasi diterima.
Hubungan Antara Faktor Eksternal dengan Kemandirian masyarakat dalam Program Posdaya
Analisis hubungan antara faktor eksternal dengan kemandirian masyarakat dalam program Posdaya digunakan untuk meliat sejauhmana faktor eksternal berhubungan nyata positif dengan tingkat kemandirian. Hasil analisis yang diperoleh akan menunjukkan hubungan nyata (p<0.05) dan sangat nyata (p<0.01) dengan menggunakan uji Rank Spearman. Selain itu juga akan didapatkan beberapa indikator ynag berhubungan antara faktor eksternal dengan kemandirian masyarakat.
Tabel 12 Hubungan faktor eksternal dengan tingkat kemandirian masyarakat
Faktor eksternal Kemandirian (s)
Intelektual Material Manajemen
Peran media massa 0.106 0.041 0.019
Peran tokoh masyarakat 0.058 0.286* 0.099
Peran pendamping 0.165 -0.041 -0.013
Keterangan : s = koefisien Rank Spearman, *hubungan nyata pada (p<0.05)
Peran Media Massa
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara peran media massa dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa peran media massa tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan kemandirian intelektual, material dan manajemen. Hal ini artinya
kemandirian masyarakat tidak tergantung pada peran media massa. Kemandirian masyarakat bisa tumbuh dari berbagai faktor, selain itu pada peran media massa tidak berpengaruh kuat karena masyarakat dapat memperoleh informasi tidak hanya melalui media massa.
Peran Tokoh Masyarakat
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara peran tokoh masyarakat dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa peran tokoh masyarakat berhubungan nyata positif (p<0.05) dengan kemandirian material pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s= 0.286).
Sedangkan peran tokoh masyarakat tidak berhubungan nyata dalam kemandirian intelektual dan manajemen program. Artinya peran tokoh masyarakat dapat menciptakan kemandirian material karena sebagian besar kegiatan Posdaya melibatkan para tokoh masyarakat dan mereka pula yang banyak memberikan sumbangan baik dari tenaga maupun materi dalam pelaksanaan kegiatan. Akan tetapi peran tokoh masyarakat tidak mampu meciptakan kemandirian manajemen dan intelektual karena masyarakat sudah mampu dalam mengatur kegiatan dan bekerjasama dengan peserta Posdaya lainnya.
Peran Pendamping
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara peran pendamping dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan peran pendamping tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan kemandirian intelektual, material dan manajemen program Posdaya. Artinya peran pendamping tidak mampu menumbuhkan kemandirian baik kemandirian intelektual, material dan manajemen. Hal ini disebabkan kurangnya pendampingan kepada masyarakat peserta Posdaya, sehingga masyarakat sudah merasa bisa menjalankan kegiatannya sendiri tanpa adanya pendampingan.
“Disini mah gak ada pendampingnya neng, kita berusaha
sendiri berinovasi buat ngembangin Posdaya. Pendamping ada mah di awal aja, tapi sekarang tidak ada lagi pendampingan. Jadi ya gini masyarakat juga agak kendor semangatnya buat ikut Posdaya.”(NHP, 42 tahun).
Menurut penuturan beberapa informan dapat diketahui bahwa pada Posdaya ini peran pendamping sedikit berkurang karena masyarakat tidak merasakan adanya manfaat dengan adanya pendamping. Namun, warga sangat mengharapkan adanya perhatian dari pendamping baik dari mahasiswa maupun pihak P2SDM agar Posdaya Sauyunan dapat berkembang dengan baik.
Pada keseluruhan hubungan antara faktor eksternal dengan kemandirian masyarakat terlihat bahwa ada hubungan nyata pada peran tokoh masyarakat dengan kemandirian material. Hipotesis keempat (H4) mengenai hubungan nyata positif antara faktor eksternal dengan partisipasi diterima.
Hubungan Antara Tingkat Partisipasi dengan Kemandirian Masyarakat dalam Program Posdaya
Analisis hubungan antara tingkat partisipasi dengan kemandirian masyarakat dalam program Posdaya digunakan untuk meliat sejauhmana tingkat partisipasi berhubungan nyata positif dengan tingkat kemandirian. Hasil analisis yang diperoleh akan menunjukkan hubungan nyata (p<0.05) dan sangat nyata (p<0.01) dengan menggunakan uji Rank Spearman. Selain itu juga akan didapatkan beberapa indikator yang berhubungan antara tingkat partisipasi dengan kemandirian masyarakat.
Tabel 13 Hubungan tingkat partisipasi dengan kemandirian masyarakat
Partisipasi Kemandirian (s)
Intelektual Material Manajemen
Perencanaan 0.346** 0.215 0.122
Pelaksanaan 0.543** 0.201 0.093
Evaluasi 0.269* 0.215 0.122
Keterangan : s = koefisien Rank Spearman, *hubungan nyata pada (p<0.05), dan **hubungan
sangat nyata pada (p<0.01)
Hubungan antara tingkat Partisipasi dan Kemandirian Masyarakat dalam Perencanaan Program Posdaya
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara tingakat partisipasi dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden dalam perencanaan program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan tingkat partisipasi berhubungan sangat nyata positif (p<0.01) dengan kemandirian intelektual pada tingkat keeratan cukup berarti (s= 0.346). Sedangkan tingkat partisipasi tidak berhubungan nyata dengan
kemandirian material dan manajemen. Hal ini berarti tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan berhubungan dengan kemandirian intelektual. Namun, tingkat partisipasi tidak berhubungan dengan kemandirian material dan manajemen. Meskipun tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan tinggi maka kemandirian material dan manajemen mereka belum tentu tinggi juga.
Hubungan antara tingkat Partisipasi dan Kemandirian Masyarakat dalam Pelaksanaan Program Posdaya
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara tingakat partisipasi dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden dalam pelaksanaan program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan tingkat partisipasi berhubungan sangat nyata positif (p<0.01) dengan kemandirian intelektual pada tingkat keeratan cukup berarti (s= 0.543). Sedangkan tingkat partisipasi tidak berhubungan nyata dengan
kemandirian material dan manajemen. Hampir sama dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, dalam hal ini berarti tingkat partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan berhubungan dengan kemandirian intelektual. Namun, tingkat partisipasi tidak berhubungan dengan kemandirian material dan manajemen.
Hubungan antara tingkat Partisipasi dan Kemandirian Masyarakat dalam Evaluasi Program Posdaya
Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara tingkat partisipasi dengan kemandirian intelektual, kemandirian material dan kemandirian manajemen responden dalam evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan tingkat partisipasi berhubungan nyata positif (p>0.05) dengan kemandirian intelektual pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s= 0.296). Sedangkan tingkat partisipasi tidak berhubungan nyata
dengan kemandirian material dan manajemen. Hal ini berarti tingkat partisipasi masyarakat dalam evaluasi berhubungan dengan kemandirian intelektual. Namun, tingkat partisipasi tidak berhubungan dengan kemandirian material dan manajemen. Meskipun tingkat partisipasi masyarakat dalam evaluasi tinggi maka kemandirian material dan manajemen mereka belum tentu tinggi.
Keseluruhan dalam hubungan antara tingkat partisipasi dengan kemandirian masyarakat dalam program Posdaya terlihat bahwa hubungan sangat nyata positif (p<0.01) terdapat pada kemandirian intelektual. Sedangkan tingkat partisipasi tidak berhubungan nyata terhadap kemandirian material dan manajemen. Hipotesis kelima (H5) mengenai hubungan nyata positif antara tingkat partisipasi dengan kemandirian diterima.
Partisipasi responden baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program terjadi proses belajar yang dapat menumbuhkan kemandirian dalam diri mereka. Slamet (2003) mengemukakan bahwa ada tiga faktor yang berhubungan atau mendukung partisipasi yaitu (1) kemauan, (2) kemampuan dan (3) kesempatan. Dalam penelitian ini dapat terlihat bahwa kemauan responden dalam penerimaannya terhadap adanya program Posdaya sudah baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang ikut dalam awal pembentukan Posdaya dan saat proses Lokakarya Mini yang diikuti oleh para tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda dan beberapa masyarakat RW 08 Desa Ciherang. Faktor yang berikutnya adalah kemampuan. Kemampuan disini merupakan kemampuan responden dalam mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh responden pada kegiatan Posdaya. Dalam mengaplikasikan pengetahuan tersebut terlihat pada kemampuan responden dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan Posdaya. Kesempatan merupakan faktor terakhir yang berhubungan dengan partisipasi responden. Kesempatan ditunjukkan dengan adanya sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya kegiatan. Selain itu juga dengan adanya dukungan baik dari keluarga, tokoh masyarakat dan pendamping.
Menurut penelitian Kurniawati (2010) mengungkapkan bahwa semakin tinggi partisipasi maka akan semakin tinggi pula kemandirian. Hal tersebut sesuai dengan penelitian ini, tetapi dari data yang didapatkan seperti yang terlihat pada Tabel 13 terlihat bahwa partispasi hanya berhubungan sangat nyata positif (p<0.01) dengan kemandirian intelektual. Sedangkan partisipasi baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi tidak berhubungan nyata dengan kemandirian material dan kemandirian manajemen. Hal ini disebabkan karena partisipasi responden akan tinggi ketika terdapat permasalahan dalam melaksanakan kegiatan Posdaya. Sedangkan dalam penyediaan modal dan peralatan Posdaya biasanya dilakukan oleh kader Posdaya saja. Sedangkan dalam hal pembina diri sehubungan dengan kemandirian manajemen untuk mengelola
kegiatan bersama dengan peserta lain dapat dilakukan masyarakat diluar kegiatan Posdaya. Sebagian besar responden berasal dari lingkup yang tidak besar yaitu dalam RT 01 dan RT 04 sehingga masyarakat sudah terbiasa dalam berinteraksi dengan tetangga sekitar yang tidak lain juga merupakan anggota Posdaya Sauyunan.