• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM PENELITIAN

PARTISIPASI MASYARAKAT PESERTA PROGRAM POSDAYA

Partisipasi Masyarakat dalam Program Posdaya

Posdaya merupakan program pembangunan yang bersifat partisipatif yaitu dengan melibatkan masyarakat langsung dalam semua kegiatannya. Partisipasi dalam penelitian ini merupakan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan yang ada dalam Posdaya baik dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Menurut Slamet (2003) partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan adalah ikutsertanya masyarakat dalam perencanaan, ikutserta dalam pelaksanaan, ikutserta dalam memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan.

Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Program Posdaya

Perencanaan dalam penelitian ini merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk merancang, menentukan dan menyusun kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan program Posdaya dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap program tersebut. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan program Posdaya dilihat dari proses penentuan kegiatan, lokasi dan waktu kegiatan, penentuan modal dan perlengkapan yang diperlukan dalam kegiatan Posdaya.

Tabel 3 Jumlah dan persentase tingkat partisipasi masyarakat peserta Posdaya dalam perencanaan program

Tingkat partisipasi Jumlah(orang) Persentase (%)

Tinggi 12 16.7

Rendah 60 83.3

Total 72 100

Hasil penelitian pada Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam perencanaan program Posdaya masih tergolong rendah yaitu sebesar 83.3%. Artinya masyarakat belum terlibat secara aktif dalam perencanaan program, sehingga masyarakat kurang merasakan manfaat adanya program Posdaya. Hal tersebut disebabkan pada saat perencanaan maupun penentuan kegiatan seperti rapat maupun musyawarah bersama yang hadir kebanyakan adalah para tokoh masyarakat, pengurus RW/RT dan berserta keluarga dekat dari tokoh masyarakat tersebut. Sedangkan masyarakat yang hadir hanya datang dan diam saja karena mereka malu untuk memberikan pendapat. Saran dan ide untuk perencanaan kegiatan juga sebagian besar didominasi oleh para tokoh masyarakat.

Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Program Posdaya

Pelaksanaan dalam penelitian ini merupakan suatu kegiatan dimana masyarakat ikut membantu dan menyumbangkan tenaga, peralatan, dan modal yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan Posdaya. Masyarakat lebih menyukai pelaksanaan dibandingkan dengan perencanaan. Hal ini terbukti bahwa dalam semua kegiatan Posdaya, partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan adalah yang tertinggi. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program Posdaya

terlihat dari ikutsertanya masyarakat dalam melaksanakan kegiatan seperti ikut langsung pelaksanaan pada setiap kegiatan, ikut menyediakan tempat dan peralatan yang digunakan dalam proses pelaksanaan kegiatan.

Tabel 4 Jumlah dan persentase tingkat partisipasi masyarakat peserta Posdaya dalam pelaksanaan program

Tingkat partisipasi Jumlah(orang) Persentase (%)

Tinggi 41 56.9

Rendah 31 43.1

Total 72 100

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4 di atas terlihat bahwa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program Posdaya tergolong tinggi yaitu sebesar 56.9% jika dibandingkan dengan masyarakat yang partisipasinya rendah hanya 43.1%. Artinya masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan sudah aktif ikutserta di dalamnya. Walaupun dalam perencanaan partisipasi masyarakat masih rendah, tetapi dalam pelaksanaan kegiatan keikutsertaan masyarakat sudah cukup tingggi. Hal ini disebabkan masyarakat lebih tertarik untuk terlibat secara langsung dalam pelaksanaan kegiatannya seperti pada saat ada pelatihan, pameran, dan kunjungan tamu yang berasal dari luar daerah mereka serta kunjungan para pendamping. Masyarakat memperoleh pengetahun dan pengalaman ketika ikut dalam pelaksanaan kegiatan, jika dibandingkan dengan proses perencanaan yang hanya diikuti masyarakat secara pasif.

Partisipasi Masyarakat dalam Evaluasi Program Posdaya

Evaluasi merupakan suatu kegiatan dimana masyarakat dapat memberikan masukan untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan program Posdaya selanjutnya. kegiatan evaluasi juga bertujuan untuk mengetahui apakah program yang dilaksanakan berhasil atau tidak berhasil. Keterlibatan masyarakat dalam evaluasi program sangat penting dilakukan karena baik masyarakat sebagai anggota maupun kader Posdaya dapat saling memberikan masukan dan saran untuk kemajuan dari Posdaya tersebut.

Tabel 5 Jumlah dan persentase tingkat partisipasi masyarakat peserta Posdaya dalam evaluasi program

Tingkat partisipasi Jumlah Persentase (%)

Tinggi 12 83.3

Rendah 60 16.7

Total 72 100

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 5 di atas terlihat bahwa partisipasi masyarakat dalam evaluasi program tergolong rendah yaitu sebesar 83.3%. Jumlah ini sama dengan hasil yang di dapatkan pada partisipasi dalam perencanaan program. Hal ini berarti masyarakat masih belum terlibat secara aktif dalam dua tahapan partisipasi yaitu perencanaan dan evaluasi program.

Nasdian (2003) mengemukakan bahwa terdapat faktor yang mampu menghambat partisipasi masyarakat. Faktor tersebut adalah masalah struktural dan budaya. Dalam penelitian ini tingkat partisipasi masyarakat peserta Posdaya pada perencanaan dan evaluasi program tergolong sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh budaya yang tumbuh dalam masyarakat yaitu masyarakat yang pasrah terhadap nasib dan terlalu tergantung kepada pemimpin, sehingga masyarakat kurang kreatif.

“Saya tahu kegiatan Posdaya ya dari ketua Posdaya mbak,

semua pengumuman yang hubungannya sama Posdaya ya informasinya cuma dari ketuanya. Saya mah ngikut aja mbak, saya kan gak berpendidikan mana ngerti yang kayak begituan. Biar yang pinter-pinter aja yang ngurusin itu.”(IFN, 29 Tahun).

Hubungan Faktor Internal dan Eksternal Masyarakat dengan Tingkat Partisipasi dalam Program Posdaya

Tingkat partisipasi masyarakat dalam program Posdaya sangat ditentukan oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam diri masyarakat maupun faktor dari luar diri masyarakat. Faktor dari dalam diri masyarakat antara lain umur, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan, pengalaman individu, motivasi berusaha, dan tingkat kekosmopolitan. Sedangkan faktor dari luar yang berhubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat adalah peran media massa, peran tokoh masyarakat, dan peran pendamping.

Hubungan Antara Faktor Internal dengan Tingkat Partisipasi masyarakat Program Posdaya

Analisis hubungan antara faktor internal dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam program Posdaya digunakan untuk melihat sejauhmana faktor internal berhubungan nyata positif dengan tingkat partisipasi. Hasil analisis yang diperoleh akan menunjukkan hubungan nyata (p<0.05) dan sangat nyata (p<0.01) dengan menggunakan uji Rank Spearman. Selain itu juga akan didapatkan beberapa indikator yang berhubungan antara faktor internal dengan partisipasi masyarakat.

Tabel 6 Hubungan faktor internal dengan tingkat partisipasi masyarakat Faktor Internal Partisipasi (s )

Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi

Umur -0.157 -0.243* -0.250* Tingkat pendidikan 0.050 0.106 0.084 Tingkat penghasilan -0.012 0.006 -0.012 Pengalaman berposdaya 0.449** 0.323** 0.314** Motivasi berposdaya -0.222 0.073 -0.065 Kekosmopolitan 0.569** 0.149 0.360**

Keterangan : s = koefisien Rank Spearman, *hubungan nyata pada (p<0.05), dan **hubungan

Umur

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara faktor internal umur dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman di atas menunjukkan bahwa umur berhubungan nyata negatif (p<0.05) dengan tingkat partisipasi dalam pelaksanaan dan evaluasi program Posdaya pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s= -0.243

dan s= -0.250). Sedangkan umur juga berhubungan negatif walaupun tidak nyata

dengan perencanaan program Posdaya. Hal tersebut artinya umur sebagian besar responden masuk dalam kategori dewasa awal memiliki partisipasi dalam program Posdaya rendah. Penyebabnya yaitu dengan umur yang masih muda dan produktif mereka lebih memilih untuk mencari penghasilan atau bekerja. Selain itu, juga disebabkan karena masyarakat berusia muda lebih suka bersenang- senang atau bermain sehingga mereka kurang menyadari bahwa diumur mereka yang masih muda seharusnya di isi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Tingkat Pendidikan

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan partisipasi baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program Posdaya. Artinya walaupun tingkat pendidikan responden masih tergolong rendah, tetapi tidak secara nyata dapat berpengaruh terhadap partisipasinya. Dalam penelitian ini sebagian besar responden yaitu sebanyak 36 orang (50.0%) berpendidikan rendah dari yang tidak sekolah sampai dengan pendidikan SD. Terbukti pada partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program yang tergolong tinggi, meskipun tingkat pendidikan masyarakat masih rendah. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah dalam penelitian ini hanya pada tingkat pendidikan formal saja, tetapi pada kenyataannya pengetahuan, keterampilan dan pengalaman masyarakat juga didapatkan dari pendidikan non-formal di luar sekolah. Seperti yang diungkapkan warga sebagai berikut.

“Warga disini sedikit yang sekolah di negeri mbak, biasanya

sekolah cuma sampai SD habis itu kerja. Kalau gak kerja ya langsung nikah. Kalau sekolah juga cuma di madrasah atau di pondok. Ada juga yang ikut kursus sama pelatihan-pelatihan

gitu” (NPH, 42 tahun).

Tingkat Penghasilan

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara tingkat penghasilan dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat penghasilan tidak berhubungan nyata (p>0.05) dengan partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program Posdaya. Hal tersebut artinya tinggi penghasilan perbulan yang diterima responden tidak mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan Posdaya. Sebab dalam Posdaya ini kegiatannya tidak hanya pada bidang ekonomi, tetapi menyeluruh baik dari bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Masyarakat yang kurang mampu

juga bisa ikut dalam kegiatan Posdaya misalnya dalam bidang pendidikan yaitu dengan adanya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang biayanya lebih murah dibandingkan dengan sekolah kanak-kanak lain. Oleh karena itu, tingkat penghasilan tidak cukup berpengaruh dalam peningkatan partisipasi masyarkat dalam program Posdaya.

Pengalaman Berposdaya

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara pengalaman berposdaya dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa pengalaman individu berhubungan sangat nyata positif (p>0.01) dengan partisipasi baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program Posdaya pada tingkat keeratan yang tinggi (s= 0.449, s= 0.323 dan s= 0.314). Hal tersebut

artinya semakin tinggi pengalaman berposdaya dalam kegiatan Posdaya maka semakin tinggi pula tingkat partisipasinya. Penyebabnya adalah masyarakat yang lebih memahami dan semakin mengerti program Posdaya akan cenderung memperoleh manfaat dengan adanya kegiatan Posdaya. Oleh sebab itu, partisipasi masyarakat juga akan semakin meningkat apabila masyarakat lebih lama pengalamannya berada dalam program Posdaya. Menurut Mardikanto (1993) menyatakan bahwa pengalaman masa lalu akan mempengaruhi kecenderungan petani untuk merasa memerlukan dan siap menerima pengetahuan baru. Dengan demikian pengalaman individu dalam kegiatan Posdaya akan sangat mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat untuk kegiatan pembangunan selanjutnya.

Motivasi Berposdaya

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara motivasi berposdaya dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa motivasi berusaha tidak berhubungan nyata negatif (p>0.05) dengan partisipasi dalam perencanaan dan evaluasi program Posdaya. Sedangkan pada pelaksanaan program, motivasi berposdaya tidak behubungan nyata positif. Hal tersebut artinya masyarakat yang termotivasi dari luar diri maka partisipaisnya rendah karena mereka hanya mengikuti orang-orang disekitar mereka seperti teman, tetangga, maupun keluarga. Sedangkan motivasi yang berasal dari dalam diri masyarakat seharusnya dapat meningkatkan partisipasi, namun sebagian besar keinginan mengikuti Posdaya hanya karena ingin mengisi waktu luang sehingga motivasi tersebut kurang berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat. Sesuai dengan penelitian Kurniawati (2010) bahwa motivasi tergolong rendah maka partisipasinya rendah pula dalam kegiatan Posdaya. Masyarakat yang berpartisipasi bukan terdorong oleh diri masyarakat sendiri, tetapi terdorong dari luar dirinya.

Kekosmopolitan

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara kekosmopolitan dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Pada Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa kekosmopolitan berhubungan sangat nyata positif (p>0.01) dengan partisipasi

dalam perencanaan dan evaluasi program Posdaya pada tingkat keeratan yang tinggi (s= 0.569 dan s= 0.360). Hal tersebut artinya semakin tinggi

kekosmopolitan masyarakat terhadap informasi maka semkain tinggi pula partisipasinya dalam kegiatan Posdaya. Hal ini sesuai dengan Kurniawati (2010) bahwa semakin tinggi kekosmopolitan maka semakin tinggi dalam berpartisipasi. Kekosmopolitan disini seperti tukar informasi dengan orang lain, berhubungan dengan tokoh masyarakat dan memanfaatkan media massa sebagai sumber informasi, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan Posdaya. Sedangkan pada pelaksanaan program kekosmopolitan tidak berhubungan nyata. Dalam pelaksanaan program, kekosmopolitan tidak berhubungan nyata dengan partispasi karena dalam pelaksanaan program masyarakat hanya ikut saja dalam kegiatan untuk menyumbang tenaga, tetapi tidak saling tukur informasi sebab mereka saling tukar dan mencari informasi sebelum dilaksanakannya kegiatan.

Pada keseluruhan hasil pengujian hubungaan antara faktor internal dengan tingkat partisipasi masyarakat terlihat bahwa hubungan sangat nyata positif (p>0.01) dan hubungan nyata positif (p>0.05) terdapat pada umur, pengalaman individu, dan kekosmopolitan. Hal ini berarti hipotesis satu (Hı) yaitu terdapat hubungan nyata positif faktor internal dengan partisipasi diterima.

Hubungan Antara Faktor Eksternal dengan Tingkat Partisipasi masyarakat dalam Program Posdaya

Analisis hubungan antara faktor eksternal dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam program Posdaya digunakan untuk mengetahui sejauhmana faktor eksternal berhubungan nyata positif dengan tingkat partisipasi. Hasil analisis yang diperoleh akan menunjukkan hubungan nyata (p<0.05) dan sangat nyata (p<0.01) dengan menggunakan uji Rank Spearman. Selain itu juga akan didapatkan beberapa indikator yang berhubungan antara faktor eksternal dengan partisipasi masyarakat.

Tabel 7 Hubungan faktor eksternal dengan tingkat partisipasi masyarakat Faktor eksternal Partisipasi (s)

Perencanaan Pelaksanaan Evaluasi

Peran media massa 0.423** 0.296* 0.374**

Peran tokoh masyarakat 0.190 0.271* 0.252*

Peran pendamping 0.035 0.004 0.093

Keterangan : s = koefisien Rank Spearman, *hubungan nyata pada (p<0.05), dan **hubungan

sangat nyata pada (p<0.01)

Peran Media Massa

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara peran media massa dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa peran media massa berhubungan sangat nyata positif (p<0.01) dengan partisipasi baik dalam perencanaan dan evaluasi program Posdaya pada tingkat keeratan cukup tinggi (s= 0.423 dan s= 0.374). Peran media massa juga berhubungan

keeratan rendah tetapi pasti (s= 0.296). Artinya peran media massa yang tinggi

akan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Hal tersebut disebabkan dengan adanya informasi yang diberikan oleh media massa masyarakat akan lebih mengetahui dan tertarik untuk ikut dalam kegiatan. Selain itu, media massa merupakan media yang sangat efektif untuk menyebarluaskan program yang ada di masyarakat karena masyarakat sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah untuk menonton televisi dibandingkan pergi berkunjungan ke rumah tetangga maupun sanak saudara.

Peran Tokoh Masyarakat

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara peran tokoh masyarakat dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan bahwa peran tokoh masyarakat berhubungan nyata positif (p>0.05) dengan partisipasi baik dalam pelaksanaan dan evaluasi program Posdaya pada tingkat keeratan rendah tetapi pasti (s= 0.271 dan s= 0.252). Sedangkan peran tokoh masyarakat

tidak berhubungan nyata dalam perencanaan program. Hal tersebut artinya peran tokoh masyarakat dapat mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Penyebabnya yaitu tokoh masyarakat merupakan sosok yang dianggap memiliki pengetahuan yang lebih serta dijadikan sebagai tauladan dalam kehidupan bermasyarakat. Tokoh masyarakat dapat memberikan masukan, saran, ide dan pendapatnya sehingga dapat digunakan oleh masyarakat dalam program Posdaya. Namun, dalam perencanaan program disini tidak berhubungan nyata karena pada saat menjalankan kegiatan para tokoh masyarakat lebih aktif dalam pelaksanaan dan evaluasi program sebab dengan kesibukan sebagai aparat desa mereka tidak sempat untuk ikut dalam perencanaan program. Seperti yang diutarakan oleh tokoh masyarakat berikut.

“Saya biasanya ikut kalau pas lagi ada kegiatan kayak OST

atau pelatihan gitu aja. Soalnya saya jarang di rumah, banyak

kerjaan yang gak bisa ditinggal” (RIZ, ketua RT).

Peran Pendamping

Bagian ini memaparkan analisis hubungan antara peran pendamping dengan tingkat partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program. Berdasarkan uji analisis Rank Spearman pada tabel di atas menunjukkan peran pendamping tidak berhubungan nyata positif (p>0.05) dengan partisipasi baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program Posdaya. Hal tersebut artinya peran pendamping tinggi ataupun rendah tidak mendorong partisipasi masyarakat. Hal ini disebabkan karena pendampingan yang dilakukan hanya intensif pada saat awal pembentukan Posdaya. Semakin lama pendamping tidak rutin dalam memberikan pendampingan dalam kegiatan Posdaya. Oleh sebab itu, masyarakat merasakan bahwa baik dengan ada tidaknya pendamping, tidak akan berpengaruh dalam partisipasi masyarakat. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Kurniawati (2010) bahwa peran pendamping mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi baik aspek perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan evaluasi. Peran pendamping disini adalah untuk menyadarkan masyarakat akan kebutuhan

nyata menjadi kebutuhan yang dirasakan. Akan tetapi, hal tersebut hanya dilakukan pada saat awal pembentukan Posdaya, sehingga masyarakat kurang merasa manfaat adanya pendamping untuk sekarang ini.

Pada keseluruhan hubungan antara faktor eksternal dengan tingkat partisipasi masyarakat terlihat bahwa hubungan sangat nyata positif (p>0.01) dan hubungan nyata positif (p>0.05) terdapat pada peran media massa dan peran tokoh masyarakat. Hipotesis kedua (H2) mengenai terdapat hubungan nyata positif antara faktor internal dengan partisipasi diterima.

KEMANDIRIAN MASYARAKAT PESERTA PROGRAM POSDAYA

Dokumen terkait