• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Pengendalian hama dan penyakit

III. METODE PENELITIAN

5.2. Kemandirian Petani dalam budidaya padi 1 Kemandirian Petani

Petani yang mandiri adalah hal yang diinginkan sejak dahulu. Keinginan tersebut yang menjadikan dasar bagi pengembangan suatu sistem pendidikan pertanian untuk petani yang lazim disebut penyuluhan pertanian. Dalam perjalanan waktu penyelenggaraan penyuluhan pertanian belum dapat mempertahankan kemurniannya sebagai mitra petani untuk mengembangkan kemampuan sesuai keinginan dan kesempatannya menuju kemandirian. Untuk menunjang pengembangan potensi dan kemandirian petani maka perlu

49 perencanaan pembangunan yang terarah dan terpadu, termasuk membuat rencana kerja penyuluhan pertanian yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam melakasanakan penyuluhan pertanian, termasuk pula didalamnya meningkatkan efektivitas kerja setiap petaniyang berada didaerah tersebut.

Desa Boddia Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar merupakan salah satu daerah pengembangan agraris atau tanaman pangan yang diarahkan kepada upaya yang dapat ditempuh dalam rangka melakukan budidaya padi diantaranya intensifikasi pertanian yaitu pengolahan lahan yang ada dengan sebaik-baiknya seperti dalam rangka persiapan benih, persemaian, pengolahan tanah dan pemupukan dasar, penanaman, pemeliharaan, pemupukan susulan pengendalian hama dan penyakit dan yang terakhir panen. apakah dalam melakukan budidaya padi dengan sitem jajar legowo tersebut petani sudah mandiri atau belum. Mandiri diartikan sebagai suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk bertindak bebas, melakukan sesuau atas dorongan sendiri dan untuk kebutuhan sendiri tanpa bantuan dari orang lain, maupun berpikir dan bertindak orginal/kreatif, dan penuh inisiatif mampu mempengaruhi lingkungan mempunyai rasa percaya diri dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Adanya petani yang berperan aktif dalam setiap kegiatannya dapat menunjang kemandirian petani tersebut dalam membudidayakan padi disuatu lahan garapannya. Setelah dilakukannya penelitiaan bahwa petani yang ada di Desa Boddia Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar pada kenyataannya dapat dikatakan mandiri karena kemampuannya dalam mengambil keputusan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan para petani, kemudian bertindak sesuai

50 keadaan yang ada tanpa bantuan dari orang lain, dan yang terakhir melaksanakan atau melakukan atas dorongan diri sendiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 12Berikut ini.

Tabel 12. Identifikasi Responden Terhadap Kemandirian Petani Dalam Budidaya PadiDi Desa Boddia Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, 2015

No. Uraian Nilai Kategori

Rata-Rata 2,42 Mandiri

Sumber : Data Primer setelah diolah, 2015

Berdasarkan Tabel 12 diatas menunjukkan bahwa kemandirian petani dalam budidaya padi dengan sistem jajar legowo terkhusus dalam persiapan benih dari hasil pengamatan dilapangan sudah bisa dikategorikan sebagai petani yang mandiri dengan nilai yang telah diolah 2,53 masuk dalam kategori mandiri, hal ini disebabkan karena petani sendiri yang melakukan persiapan benih dengan cara menyiapakan benih padi setelah waktu panen. Petani biasanya menyimpan benih untuk penanaman padi berikutnya, kemudian petani itu sendiri yang menyediakan benih tanpa adanya kontribusi atau bantuan dari orang lain dalam melakukan persiapan benih. bibit Petani yang mandiri adalah petani yang mampu memilih mana benih yang berkualitas dan tidak berkualitas untuk dijadikan sebagai benih, sebelum persemaian petani melakukan perendaman benih padi dalam suatu wadah atau baskom. Perendaman berfungsi untuk mengetahui benih yang memiliki isi

51 dan tidak memiliki isi (kosong), perendaman benih ini dilakukan selama satu hari.

Setelah perendaman selama satu hari, benih ditiriskan dan dimasukkan ke dalam karung. Kegiatan ini dilakukan untuk mempermudah dalam proses perkecambahan benih. Berdasarkan hasil penelitian terhadap persiapan benih, petani tidak mengalami kendala dan dibantu oleh orang lain berarti petani tersebut bisa diklasifikasikan sebagai petani yang mandiri dalam hal persiapan benih.

Berdasarkan penelitian hasil olah data dalam hal budidaya padi khususnya ditahap persemaian benih pada tabel 12 dengan nilai 2,51 masuk dalam kategori mandiri, hal ini menunjukan bahwa tingkat kemandirian petani dalam bertindak, mengambil keputusan dan melakukan persemaian benih sudah dapat dikatakan mandiri karena sebelum disemaikan petani telah menyiapakan tempat atau lahan untuk persemaian dengan cara membuat lahan dalam bentuk petakan sesuai dengan luas lahan yang akan ditanami. Petakan yang sudah dibentuk diolah tanhnya hingga gembur, proses selanjutnya yaitu pemberian air ke dalam petakan agar tekstur tanahnya berlumpur. Hal ini dilakukan untuk mempermudah benih yang ditabur bisa langsung melekat pada permukaan tanah, kemudian juga untuk mempermudah dalam pencabutan apabila sudah siap untuk dicabut atau dipindahkan dalam bentuk siap tanam. Tahap ini dilakukan petani itu sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain begitupun dalam pengambilan keputusan alasanya karena petani itu yang bertindak melakukan persemaian atas dorongan sendiri serta tanpa bantuan orang lain seperti menentukan berapa banyak atau jumlah (kilo) benih yang akan disemaikan. Petani terkadang mengalami kendala dalam melakukan persemaian seperti serangan hama yaitu burung, tikus dan keong

52 masbiasanya datang memakan benih tersebut namun hal itu bisa ditangani oleh tingkat kemandirian petani itu sendiri dalam menangani suatu masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, kemandirian petani sangat bermanfaat terhadap kegiatan persemaian benih.

Berdasarkan hasil penelitian di Desa Boddia Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar dalam hal budidaya padi dengan sistem jajar legowo terkhusus tahapan pengolahan tanah dari hasil olah data pada tabel 12 dengan nilai 2,33 masuk dalam kategori sedang mandiri. Hal ini disebabkan para petani masih bergantung pada bantuan orang lain, dalam melakukan pengolahan tanah petani masih menggunakan tenaga kerja bantuan keluarga dan tenaga kerja bayaran.

Petani akan mengolah tanahnya apabila ada keputusan dari tenaga kerja bantuan dari keluarga dan tenaga kerja bayaran sehingga pengolahan tanah dapat terealisasikan sesuai dengan keinginan petani. Petani biasanya membutuhkan tenaga kerja bantuan dari keluarga dan tenaga kerja bayaran karena hal ini berhubungan dengan luas lahan petani yang relatif luas yang menyebakan petani belum mampu melakukan pengolahan tanah sendiri tanpa bantuan dari orang lain, kemudian kendala yang dialami petani dalam pengolahan tanah yaitu masih minimnya pengadaan traktor yang digunakan untuk mengolah tanah sehingga menyebabkan petani memakai atau menyewa traktor orang lain untuk mengolah lahan pertaniannya

Kemandirian petani dalam melakukan budidaya tanaman padi dengan tahapan penanaman tanaman padi, setelah melakukan penelitian di Desa Boddia dari hasil olah data pada tabel 12 dengan nilai 2,42 masuk dalam kategori mandiri.

53 Petani menanam padi atas dorongan diri sendiri dan untuk kebutuhan sendiri, petani dalam melakukan penanaman selalu mengambil keputusan sesuai dengan perkembangan para petani. Petani sebelum melakukan penanaman padi dengan sistem jajar legowo 2:1, petani merancang atau membuat suatu alat untuk mempermudah proses penanaman jajar legowo. Alat yang digunakan itu sudah diukur jarak dan lebarnya sehingga tanaman padi terlihat rapi pada saat penanaman. Penanaman padi dengan jajar legowo dilakukan petani dengan cara bekerjasama melalui bantuan tenaga kerja keluarga karena penanaman padi dengan jajar legowo relatif rumit, tingkat kesulitan menanam jajar legowo yaitu membutuhkan waktu yang lama dan alatnya dipindah-pindahkan setelah penanaman sampai pada pinggir pematangan sawah. Terkadang petani biasa mengalami kendala dalam proses penanaman tapi kendala yang dihadapi oleh petani harus dikemukenali dan diantisipasi sesuai dengan pengetahuan, pengalaman dan tingkat kemandirian petani itu sendiri dalam melakukan penanaman padi , petani yang mandiri mampu keluar dari suatu permasalahan tanpa adanya bantuan dari orang lain, bertindak dan berani mengambil keputusan sehingga suatu petani bisa dikategorikan sebagai petani yang mandiri dalam hal penanaman padi dengan sistem jajar legowo 2:1.

Petani di Desa Boddia setelah dilakukan penelitian pada budidaya padi pada tahapan pemupukan dasar dari hasil olah data tabel 12 dengan nilai 2,46 masuk dalam kategori mandiri. Petani bertindak melakukan pemupukan dasar serta mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan, pemupukan dasar direalisasikan setelah penanam 12 sampai 15 hari setelah tanam (Hst). Hal ini

54 disebabkan karena petani itu sendiri yang menyiapkan pupuk yang akan digunakan dalam pemupukan dasar tanpa dibantu orang lain, pemupukan dasar dilakukan oleh petani itu sendiri juga tanpa bantuan orang lain dan atas dorongan sendiri begitupun dalam mengambil keputusan responden tersebut yang menentukan jenis pupuk apa yang digunakan dalam pemupukan dasar serta menentukan waktu pemupukan. Hal ini ada kaitannya dengan tingkat pendidikan petani, mereka berpendapat bahwa menggunakan tenaga kerja orang lain dapat mengeluarkan biaya yang banyak kemudian cara kerjanya kurang maksimal jadi petani sendiri yang mengerjakan dan mengambil keputusan sendiri dalam melakukan pemupukan dasar. Terkadang petani menemukan suatu kendala dalam pemupukan dasar karena tidak tahu berapa jumlah pupuk yang akan dipakai dengan luas lahan relatif luas tapi kendala itu dapat dikemukenali petani melalui pengalaman dan tingkat kemandirian petani itu sendiri. pemupukan dasar dengan menggunakan sistem jajar legowo, petani lebih mudah dan leluasa melakukan pemupukan dasar karena memiliki jarak antar barisan yang relatif luas dibanding dengan jarak tanam biasa.

Berbagai tahapan yang dilakukan dalam budiaya padi salah satunya yaitu pemeliharaan tanaman padi, setelah melakukan penelitian di Desa Boddia berdasarkan hasil olah data dengan nilai 2,46 masuk dalam kategori mandiri.

Kategori mandiri baik dalam bertindak dalam pemeliharaan tanaman padi serta melakukan pemeliharaan tanaman padi terlebih lagi dalam pengambilan keputusan, alasannya karena petani itu sendiri yang melakukan pemeliharaan tanaman padi mulai dari penanggulangan hama dan penyakit, mengatur keluar

55 masuknya air pada tanaman padi, melakukan penyulaman terhadap padi yang tumbuh atau mati, membersihkan gulma sekitar area tanaman padi, serta melakukan pemupukan dan semua itu dilakukan sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Kemudian dalam pengambilan tindakan dan keputusan petani itu juga melakunnya sendiri dengan hal menentukan jenis pestisida yang digunakan untuk memberantas hama dan penyakit, kemudian jenis pupuk apa yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman padi serta menentukan kapan waktu dilakukannya pemberantasan hama, penyakit dan waktu pemupukan tanaman padi supaya produksi tanaman padi dapat meningkat secara signifikan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para petani. Hal ini berhubungan dengan pengalaman petani itu sendiri karena petani bisa karena biasa melakukan sendiri atau dalam bentuk kerjasama karena dari pengalaman-pengalaman yang telah dialaminya, petani juga pintar mencari informasi tentang pertanian dalam hal budidaya padi atau sesame petani yang lebih berpengalaman sehingga responden tersebut mampu melakukan sendiri tanpa bantuan dari orang lain sehingga mengurangi biaya dalam pemeliharaan tanaman padi.

Berdasarkan Tabel 12 menunjukkan bahwa kemandirian petani dalam budidaya padi dengan sistem jajar legowo tekhusus dalam panen dari hasil pengamatan dilapangan di Desa Boddia sudah bisa dikategorikan sebagai petani yang sedang mandiri dengan nilai yang telah diolah 2,24 masuk dalam kategori sedang mandiri baik dalam pengambilan keputusan, bertindak serta melakukan panen. Hal ini disebabkan para petani dalam pengambilan keputusan tidak bisa menentukan sendiri melaikan harus mendatangi tenaga kerja bantuan keluarga dan

56 tenaga kerja lainnya. Waktu panen petani memberitahukan kepada tenaga kerja yang melakukan panen agar sekiranya ada persetujuan antar dua belah pihak, antara pemilik lahan dan tenaga kerja yang bertindak melakukan panen. Alat yang digunakan petani biasa ditentukan oleh petani itu sendiri, pada saat panen petani mendatangkan mesin pemotong padi ketika tidak ada tenaga kerja bayaran dan petani yang ada di Desa boddia biasanya memanen padinya menggunakan tenaga bantuan keluarga dengan mengunakan alat secara tradisional yaitusabit untuk memotong batang padi .

57 V1. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat kemandirian petani khususnya dalam budidaya padi dengan sistem jajar legowo kategori tinggi, sedang dan rendah. Untuk kategori tingkat kemandirian yang sedang mandiri dalam hal budididaya padi yaitu diantaranya dalam tahapan pengolahan tanah 2,33, dan panen 2,24. Sedangkan untuk kategori dengan tingkat kemandirin masuk kategori tinggi atau mandiri dalam hal budidaya padi diantaranya yaitu dalam tahapan persiapan benih 2,53, persemaian 2,51, penanaman padi 2,42, pemupukan dasar 2,46, dan yang terakhir pemeliharaan tanaman padi 2,46.

Sehingga jika dirata-ratakan dari kategori rendah, sedang dan tinggi maka hasil yang didapatkan masuk kategori tinggi atau sudah mandiri dalam melakukan budidaya padi dengan sistem jajar legowo.

6.2. Saran

Dengan mandirinya seseorang petani di Desa Boddia Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar kiranya penyuluh datang memberikan informasi terkait dalam budidaya padi dengan sistem jajar sehingga kemandirian petani semakin meningkat, kepada pihak terkait baik intansi atau lembaga supaya memberikan materi-materi penyuluhan pertanian yang baik dan benar kepada petani, dan sebagai tambahan referensi terkait kemandirian petani dalam budidaya padi dengan sistem jajar legowo.

58 DAFTAR PUSTAKA

Aksi Agraris Kansius. 2003. Budidaya tanaman padi. Kanisius, Yogyakarta.

Anonim A,

2008.Metode-Meningkatkan-Produksi-Pertanianhttp://andreasdamanik14.wordpress.com/2012/12/04/.Diakses pa da tanggal 14 april 2014

B, 2008.Penerapan sistem tanam legowo pada tanaman padi. Direktorat tanaman pangan. Depeartemen pertanian. Jakarta

C. 2013.http:// petunjuk budidaya Padi. /2013/01/budidaya-tanaman padi sawah.html.Diakses tanggal 5 April 2014

D.2013.Tanaman padi sistem tanam jajar legowo. Diakses melalui http://sekarmadjapahit.wordpress.com/2012/01/30/tanaman-padi-sistem-jajar-legowo/ pada tanggal 13 oktober 2013

E. 2013. Teknik budidaya tanaman padi. Diakses melalui http://newfachrulislami.com/2013/10/teknik-budidaya-tanaman-padi.html pada tanggal 25 Mei 2015

Anantanyu, S. 2004. Gambaran kemiskinan petani dan alternatif pemecahan masalahnya. Alfabeta. Jakarta

Antonius 2002. Pengaruh Kemandirian Terhadap Interaksi Sosial Pada Remaja.

Skripsi (Tidak Terbit) Universitas Katolik Soegijapranata. Semarang.

BPS, 2012. Badan pusat statistik. Kabupaten takalar

BPS dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2013. Statistik pertanian2013.

Jakarta.

Balai pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian (BP2TP). Cara tanam jajar legowo. Bogor.2009. diakses melalui Http://www.pustakadeptan.go.id 10 september 2010, pukul 10.00 wib

Daniel, 2007. Analisis Strategi Pemberdayaan Petani Dalam Minapadi Lahan Sawah Irigasi.Balai pengkajian Teknologi Pertanian, Medan.

Danje T. Sembel, B. 2012. Dasar-dasar Perlindungan tanaman. Penerbit Andy Yogyakarta.

59 Landsberger, Henry A. dan Alexandrov, Yu.G. 2004. Pergolakan Petani Dan Perubahan Sosial. Diterjemahkan Oleh Aswab Mahsani. Jakarta:Cv.

Rajawali

Maharani Puspita, Nining Rahayu, Novialita Herlina, Novita Chrisna. 2013.

Pengolahan Tanah, Penanaman Dan Pemupukan Pada Tanaman Padi.

Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Marsuki S, 2001. Pengertian Kelembagaan Kemandirian Penyuluhan. Peneliti Hukum. Org/tag. Diakses pada Tanggal 5 November 2013

Mubyanto, 2005. Pola Pikir Dalam Berusahatani. PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta

Nazam M, 2007. Mina Padi Legowo. Rekomendasi Teknologi Pertanian, BPTPMataram.

Nurul Aisyah, 2008. Budidaya Tanaman Padi Sawah. Diakses MelaluiHttp://nurulaisyah2.mywapblog.com/Laporan-Budidaya-Tanaman-Padi-Sawah. pada tanggal 12 0tober 2015.

Patong, 2006. Pola Pikir Petani. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Pahruddin, A, Maripul dan Rido, P. 2004. Cara Tanam Padi Sistem Legowo Mendukung Usaha Tani di Desa Bojong, Cikembar Sukabumi. Buletin Teknik Pertanian 9 (1).

Puji Wibowo, 2010. Pertumbuhan Dan Produktivitas Galur Harapan Padi ( Oryza Sativa L.) Hibrida. Fakultas Pertanian, Jurusan Agronomi, Universitas Sebelas Maret.,Surakata.

Ratna, D. dan S.Wahyuni 2002.peningkatan produksi adopsi teknologi SU lebak tanaman pangan. Pusat pengembangan tanaman pangan, Bogor.

Rodjak, 2006. Manajemen Usaha Tani.Pustaka Gitaguna, Bandung Soekartawi, 2003. Agribisnis Dan Teori Aplikasinya. PT. Raja Grafindo

Persada.Jakarta

Sutopo, L. 2004. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.s

Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Penerbit Alfabeta, Bandung

Syawal. 2001 Proses Pembentukan Potensi Kemandirian Petani. jurnal Sosil Ekonomi Pertanian

60 Yusuf, Syamsu, 2008. Psikologi Perkembangan anak dan Remaja. PT Remaja

Rosdakarya. Bandung

61 LAMPIRAN I.

KUISIONER PENELITIAN

Dokumen terkait