• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Tambahan

3. Kematangan karir ditinjau dari usia

Hasil uji statistik ditinjau dari usia dapat dilihat pada tabel 23. Tabel 23

Kematangan karir ditinjau dari usia

Usia N M SL F P

18 5 75,20 2,626 0,830 0,481 19 22 74,64

20 20 72,70 21 33 75,45

Berdasarkan uji homogenitas diperoleh nilai statistik levene sebesar 2,626 (p > 0,05) yang menunjukkan sampel bersifat homogen. Berdasarkan uji ANOVA diperoleh nilai p sebesar 0,830 (p > 0,05) yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kematangan karir jika ditinjau dari usia. Dari tabel 24 dapat dilihat bahwa nilai mean subjek tertinggi berada pada subjek yang berusia 21 tahun, kemudian diikuti nilai mean subjek yang berusia 18 tahun, nilai mean subjek yang berusia 19 tahun, dan nilai mean subjek yang berusia 20 tahun.

5. Dimensi kecerdasan adversitas

Tabel 25

Kategorisasi nilai kecerdasan adversitas subjek berdasarkan dimensi Dimensi Rentang nilai Kategori Jumlah Persentase

Control X < 26 Rendah 0 0 26 ≤ X < 39 Sedang 29 36,25 39 ≤ X Tinggi 51 63,75 Origin X < 10 Rendah 0 0 10 ≤ X < 15 Sedang 10 12,5 15 ≤ X Tinggi 70 87,5 Ownership X < 14 Rendah 0 0 14 ≤ X < 21 Sedang 23 28,75 21 ≤ X Tinggi 57 71,25 Reach X < 16 Rendah 0 0 16 ≤ X < 24 Sedang 23 28,75 24 ≤ X Tinggi 57 71,25 Endurance X < 8 Rendah 0 0

8 ≤ X < 12 Sedang 10 12,5

12 ≤ X Tinggi 70 87,5

Berdasarkan tabel 25 dapat diketahui bahwa tidak ada subjek yang termasuk dalam kategori rendah dan secara garis besar semua subjek berada dalam kategori tinggi. Hal ini dapat dilihat bahwa 70 subjek (87,5%) berada dalam kategori tinggi dan 10 subjek (12,5%) berada dalam kategori sedang pada dimensi origin dan endurance. Pada dimensi ownership dan reach terdapat 57 subjek (71,25%) berada dalam kategori tinggi dan 23 subjek (28,75%) berada dalam kategori sedang. Pada dimensi control terdapat 51 subjek (63,75%) termasuk dalam kategori tinggi, dan 29 subjek termasuk dalam kategori sedang (36,25%).

6. Dimensi kematangan karir

Tabel 26

Kategorisasi nilai kematangan karir subjek berdasarkan dimensi Dimensi Rentang nilai Kategori Jumlah Persentase Career planning X < 10 Rendah 0 0 10 ≤ X < 15 Sedang 32 40 15 ≤ X Tinggi 48 60 Career exploration X < 10 Rendah 0 0 10 ≤ X < 15 Sedang 10 12,5 15 ≤ X Tinggi 70 87,5 Career decision making X < 3 Rendah 0 0 3 ≤ X < 15 Sedang 2 2,5 15 ≤ X Tinggi 78 97,5

World of work information

X < 16 Rendah 0 0

16 ≤ X < 24 Sedang 16 20

24 ≤ X Tinggi 64 80

Berdasarkan tabel 26 dapat diketahui bahwa tidak ada subjek penelitian yang termasuk dalam kategori rendah dan secara garis besar semua subjek berada dalam kategori tinggi. Hal ini dapat dilihat bahwa 78 subjek (97,5%) termasuk dalam kategori tinggi dan 2 subjek (2,5%) termasuk dalam kategori sedang pada dimensi carer decision making. Pada dimensi career

exploration terdapat 70 subjek (87,5%) termasuk dalam kategori tinggi dan 10 subjek (12,5%)

termasuk dalam kategori sedang.

Berdasarkan tabel 26 dapat diketahui bahwa terdapat 64 subjek (80%) termasuk dalam kategori tinggi dan 16 subjek (20%) termasuk dalam kategori sedang pada dimensi world of work

information. Pada dimensi career planning terdapat 48 subjek (60%) termasuk dalam kategori

tinggi dan 32 subjek (40%) termasuk dalam kategori sedang.

E. Pembahasan

Hasil pengujian hipotesa menyatakan bahwa Ha diterima. Hasil pengujian korelasi sebesar r = 0,579 dengan p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara kecerdasan adversitas dengan kematangan karir pada mahasiswa bekerja. Kualitas keterkaitan antara kecerdasan adversitas terhadap kematangan karir pada mahasiswa bekerja sebesar 0,579. Menurut Hadi (2000), jika nilai r sebesar 0,579 maka dapat dinyatakan bahwa hubungan kecerdasan adversitas dengan kematangan karir pada mahasiswa bekerja memiliki korelasi sedang atau cukup. Sumbangan efektif kecerdasan adversitas terhadap kematangan karir

pada mahasiswa bekerja sebesar 33,5%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 66,5% sumbangan faktor lain yang dapat mempengaruhi kematangan karir mahasiswa bekerja.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kecerdasan adversitas yang tinggi maka akan diikuti dengan kematangan karir yang tinggi juga. Begitu pula sebaliknya dengan kecerdasan adveristas yang rendah juga akan diikuti dengan kematangan karir yang rendah pula. Sehingga dapat dikatakan mahasiswa bekerja yang memiliki kematangan karir tinggi dan kecerdasan adversitas yang tinggi akan dapat menentukan pilihan karirnya dengan baik.

Menurut Seligman (dalam Hawadi & Komandyahrini, 2008) menyebutkan beberapa ciri yang dapat menandai kematangan karir yang positif, yaitu meningkatnya selfawareness, meningkatnya pengetahuan mengenai pilihan yang relevan, meningkatnya kongruensi antara

self-image (kemampuan, minat, nilai -nilai, kepribadian) dan tujuan karir, dan tujuan karir yang

semakin realistis. Selain itu, juga ditandai dengan meningkatnya kompetensi untuk membuat perencanaan terkait karir dan kesuksesan karir, mengembangkan sikap positif terkait karir (orientasi terhadap pencapaian, kemandirian, penuh pertimbangan, komitmen, motivasi dan

self-efficacy), serta bertambahnya kesuksesan dan kepuasan terhadap perkembangan karir dalam

hidupnya. Sehingga dalam melaksanakan tugas perkembangan karir tentu para mahasiswa bekerja menghadapi hambatan. Kematangan karir mengandung makna bahwa mahasiswa mampu menyelesaikan tugas perkembangannya saat ini yaitu bekerja sambilan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan Singg (2005) bahwa mahasiswa yang kuliah sambil bekerja memiliki kematangan karir dan tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab adalah kesadaran individu tentang tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tangung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban (Adhika, 2004). Menurut Stoltz (2000) tanggung jawab termasuk dalam salah satu

dimensi kecerdasan adversitas yaitu ownership yang merupakan pengakuan terhadap akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan dan tanggung jawab, selain control, origin, reach dan

endurance.

Subjek yang berada dalam kategori tinggi pada kecerdasan adversitas berjumlah 59 orang (73,75%). Hal ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi adalah individu yang optimis, berpikir, bertindak secara tepat dan bijaksana, mampu memotivasi diri sendiri, berani mengambil resiko, berorientasi pada masa depan, serta disiplin. Individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversitas tinggi termasuk dalam tipe climber. Climbers merupakan individu yang selalu melakukan usaha, tanpa memperhitungkan keuntungan atau kerugian, dan nasib buruk atau baik. Tipe ini benar-benar memahami tujuan atas apa yang akan dikerjakan, tahu bahwa terdapat manfaat jangka panjang dan usaha yang dilakukan sekarang ini akan memberikan keuntungan di kemudian hari (Stotlz, 2000).

Climbers selalu menerima tantangan yang diberikan dan yakin bahwa segala hal dapat

dan akan terlaksana, meskipun individu lain bersikap negatif dan sudah memutuskan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Climbers juga merupakan individu yang gigih, ulet, tabah, introspeksi diri dan terus bertahan sehingga dapat menghadapi kesulitan dengan keberanian dan disiplin. Tipe ini juga menyambut baik kesempatan untuk bergerak maju dalam setiap usaha, terbiasa menghadapi situasi sulit karena mengerti bahwa kesulitan adalah bagian dari hidup sehingga menghindari kesulitan sama saja dengan menghindari kehidupan. Climbers dapat memotivasi diri sendiri, memiliki semangat tinggi, berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dari hidup dan cenderung membuat segala hal terwujud. Tipe ini bersedia mengambil resiko, menghadapi tantangan, mengatasi rasa takut, mempertahankan visi, memimpin, dan bekerja keras hingga pekerjaan tersebut selesai (Stotlz, 2000).

Subjek yang berada dalam kategori sedang pada kecerdasan adversitas berjumlah 21 orang (26,25%). Individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversitas sedang termasuk dalam tipe campers. Campers merupakan tipe individu yang menunjukkan sejumlah usaha dan inisiatif tetapi cepat puas dalam mencapai kesuksesan sehingga mengakhiri usaha yang telah dilakukan. Tipe ini akan bekerja keras dalam hal apa pun agar merasa aman hingga mencapai tingkat tertentu tetapi tidak mau mengembangkan diri dan mempunyai kemampuan terbatas dalam menghadapi kesulitan (Stotlz, 2000).

Campers menjalani kehidupan yang tidak menyenangkan karena sudah merasa cukup

puas dengan apa yang telah dicapai dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami apa yang masih mungkin terjadi. Campers melepaskan kesempatan untuk maju, yang sebenarnya dapat dicapai jika usaha yang dimiliki mampu diarahkan dengan semestinya dan tidak memanfaatkan potensi yang dimiliki sehingga kurang berhasil dalam berprestasi. Motivasi tipe ini adalah rasa takut dan kenyamanan (Stotlz, 2000).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua dimensi kecerdasan adversitas berada pada kategori tinggi. Dimensi origin dan endurance berada pada urutan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa setiap individu termasuk mahasiswa bekerja pernah mengalami masa-masa sulit, menganggap kesulitan berasal dari pihak luar dan belajar dari kesalahan yang telah dilakukan. Mahasiswa bekerja juga optimis, menganggap kesulitan dan penyebab kesulitan sebagai hal yang bersifat sementara, cepat berlalu, dan kecil kemungkinan akan terjadi lagi serta memandang kesuksesan sebagai hal yang berlangsung terus menerus atau bahkan permanen (Stotlz, 2000).

Dimensi ownership dan reach berada pada urutan kedua yang menunjukkan bahwa mahasiswa bekerja bersedia bertanggung jawab dan mengakui akibat dari tindakan yang

dilakukan dan kesulitan yang dihadapi tidak akan mempengaruhi sisi lain kehidupan, merespon peristiwa buruk sebagai hal yang khusus dan terbatas. Dimensi control berada pada urutan akhir. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa bekerja mampu mengendalikan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, menemukan cara untuk menghadapi kesulitan, pantang menyerah, dan cepat tanggap dalam mencari penyelesaian (Stotlz, 2000).

Hasil penelitian ini juga menunjukkan tidak ada perbedaan kecerdasan adversitas antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tidak sesuai dengan penyataan (Stotlz, 2000) yang menyatakan bahwa perempuan memiliki tingkat kecerdasan adversitas yang lebih rendah daripada laki-laki. Subjek yang berada dalam kategori tinggi pada kematangan karir berjumlah 58 orang (72,5%). Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kematangan karir yang tinggi memiliki kemandirian, mampu membuat pilihan pekerjann yang sesuai dengan minat dan kemampuan; mampu memperoleh informasi mengenai dunia kerja, menggunakan kesempatan dan informasi yang berpotensial seperti orangtua, teman, dosen, dan konselor; memiliki pengetahuan tentang jenis pekerjaan, cara memperoleh dan sukses dalam pekerjaan serta peran dalam dunia kerja; dan memiliki kepercayaan diri, serta ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan yang diinginkan (Super dalam Watkins & Campbell, 2000).

Subjek yang berada dalam kategori sedang pada kematangan karir berjumlah 22 orang (27,5%). Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kematangan karir yang sedang masih kurang memiliki kemandirian, belum cukup mampu membuat pilihan pekerjann yang sesuai dengan minat dan kemampuan; merasa cukup memiliki informasi mengenai dunia kerja, kurang memanfaatkan kesepatan dan informasi yang berpotensial seperti orangtua, teman, dosen, dan konselor; merasa cukup memiliki pengetahuan tentang jenis pekerjaan, kurang mengetahui cara memperoleh dan sukses dalam pekerjaan serta peran dalam dunia kerja; dan kurang

memiliki kepercayaan diri, serta kurang ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan yang diinginkan (Super dalam Watkins & Campbell, 2000).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua dimensi kematangan karir berada pada kategori tinggi. Dimensi career decision making berada pada urutan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa bekerja memiliki kemandirian, membuat pilihan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan, kemampuan untuk menggunakan metode dan prinsip pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah termasuk memilih pendidikan dan pekerjaan serta juga menunjukkan bahwa mahasiswa bekerja siap mengambil keputusan. Dimensi career exploration berada pada urutan kedua. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiwa bekerja berusaha untuk memperoleh informasi mengenai dunia kerja serta menggunakan kesempatan dan sumber informasi yang berpotensial seperti orangtua, teman, guru, dan konselor Super (dalam Watkins & Campbell, 2000).

Dimensi world of word information berada pada urutan ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa bekerja tahu cara untuk memperoleh dan sukses dalam pekerjaan serta peran-peran dalam dunia pekerjaan serta dengan wawasan yang luas dapat menggunakan informasi pekerjaan untuk diri sendiri dan mulai menetapkan bidang serta tingkat pekerjaan. Dimensi career planning berada pada urutan terakhir yang menunjukkan bahwa mahasiswa bekerja memiliki kepercayaan diri, menyadari bahwa dirinya harus membuat pilihan pendidikan dan pekerjaan, dan mempersiapkan diri untuk membuat pilihan tersebut dan ikut berpartisipasi dalam aktivitas perencanaan karir yaitu belajar tentang informasi karir, berbicara dengan orang dewasa tentang rencana karir, mengikuti kursus dan pelatihan yang akan membantu dalam menentukan karir, berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler dan bekerja paruh waktu (Super, dalam Watkins & Campbell, 2000).

Hasil penelitian ini menemukan bahwa tidak ada perbedaan kematangan karir laki-laki dan perempuan. Hal ini tidak sesuai dengan penyataan Naidoo (1998) yang menyatakan bahwa perempuan memiliki nilai kematangan karir yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini disebabkan karena wanita lebih rentan dalam memandang konflik peran sebagai hambatan dalam proses perkembangan karir, dan kurang mampu untuk membuat keputusan karir yang tepat dibandingkan dengan laki-laki. Namun, hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hawadi dan Komandyahrini (2008) yang mengungkapkan bahwa pada tingkat SMA, tidak ditemukan perbedaan kematangan karir yang berarti antara laki -laki dan perempuan. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh Ciptarini (2004) yang melakukam penelitian pada mahasiswa UI, yaitu laki-laki dan perempuan tidak memperlihatkan perbedaan kematangan karir yang berarti walaupun perempuan mempunyai nilai yang lebih tinggi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan kematangan karir jika dilihat dari tingkat pendidikan. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan hasil penelitian yang dilakukan oleh McCaffrey, Miller, dan Winstoa (dalam Naidoo, 1998) pada siswa junior, senior, dan alumni terdapat perbedaan dalam hal kematangan karir. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula kematangan karir yang dimiliki.

Berdasarkan hasil matriks kategorisasi dalam penelitian ini yang menunjukkan kebanyakan mahasiswa bekerja memiliki kecerdasan adversitas dalam kategori tinggi dengan kematangan karir yang dicapai berada pada kategori tinggi yaitu 72,5%. Hal ini menunjukkan bahwa ketika kecerdasan adversitas berada pada kategori tinggi, mahasiswa bekerja juga memiliki kematangan karir pada kategori tinggi.

BAB V

Dokumen terkait