• Tidak ada hasil yang ditemukan

kematian tak kalah tinggi. Lantas apa solusinya?

b

anyak dari kita mengenali penyakit kar-diovaskular sebatas serangan jantung dan stroke yang ditengarai oleh ada-nya sumbatan pada jantung dan pem buluh darah arteri. padahal ada gangguan lain yang tak kalah menakutkan yang menyerang pembuluh darah atau vaskular. Gangguan ini umum dikenali sebagai aneurisma aorta.

h e A lt h | T e c h N o m e D i c

h e a lt h f i r s t • v o l u m e 4 6 |

53

dekatan segera dan harus diatasi karena komplikasinya cukup besar dan dapat me-nyebabkan kematian.

aneurisma aorta sendiri dibagi menjadi dua, yaitu aneurisma aorta abdominal dan aneurisma aorta torakal. aneurisma aorta ab-dominal merupakan kondisi pembesaran atau benjolan yang terjadi pada bagian bawah aorta (perut). Sementara itu, pada aneurisma aorta torakal pembesaran atau pelemahan terjadi pada aorta bagian atas (dada).

Dalam kasus pembesaran, pembuluh darah aorta yang membesar dicurigai dise-babkan oleh beberapa faktor, di antaranya pasien dengan kasus hipertensi yang tidak terkontrol, kebiasaan buruk seperti mero-kok, dan faktor usia (degeneratif). Gangguan pembuluh darah ini umumnya banyak terjadi pada kalangan usia lanjut.

ketika pembuluh darah membesar pada ukuran tertentu, umumnya ada sejumlah ge-jala atau keluhan yang dirasakan pasien. Meski demikian, pada kasus aneurisma (pembeng-kakan) ada pula yang nyaris tidak bergejala.

terkadang, hal ini ditemui secara kebetulan saat pasien melakukan pemeriksaan rontgen.

mengenal teVaR dan eVaR

Dahulu penanganan aneurisma aorta hanya dapat dilakukan dengan pendekatan bedah terbuka. Seiring perkembangan teknologi, para ahli berinovasi dengan memperbaiki bagian pembuluh darah yang pecah dengan bedah minim sayatan.

Thoracic endovascular aortic repair (tEVar) dan endovascular aneurysm repair (EVar) merupakan metode dalam bedah kar-diovaskular dengan sayatan minimal yang digunakan untuk menangani gangguan pem-buluh darah vaskular atau aneurisme aorta yang berlokasi di tempat yang berbeda.

tEVar biasanya dilakukan pada penanganan pasien dengan kondisi aneurisma aorta torakal karena pembesaran atau pelemahan, yang terjadi pada aorta bagian atas (daerah dada). Sementara itu, teknik EVar digunakan untuk penanganan aneurisma aorta abdo-men di bagian bawah (daerah perut).

Sebagai penanganan gangguan pembu-luh darah, tEVar dan EVar ini sebetulnya bukan teknologi yang baru. Seiring kemajuan teknologi, penerapannya semakin mudah, dan hasilnya menjadi lebih baik. Bahan materi pengganti (stent) yang digunakan pun lebih baik.

Meski demikian, perlu diketahui bahwa tEVar dan EVar umumnya dilakukan untuk tindakan yang terencana. Dalam kondisi

mendeteksi aneurisma aorta Deteksi awal untuk mengetahui adanya

gangguan pembuluh darah dan risiko aneurisma aorta atau bahkan kasus

pecahnya pembuluh darah sangat diperlukan. Pencegahan dini gangguan pembuluh darah dapat dilakukan melalui

pemeriksaan rontgen dan CT-Scan untuk menandai ada-tidaknya pembesaran

pembuluh darah.

Pasien juga perlu mengenali faktor risiko yang ada pada diri masing-masing, apalagi jika memiliki riwayat penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes,

kolesterol, kegemukan, juga kebiasaan buruk merokok, atau tidak berolahraga.

Faktor-faktor inilah yang harus dikenali dan dikendalikan, sehingga deteksi risiko secara lebih dini terhadap gangguan pembuluh

darah dapat dilakukan.

T e c h N o m e D i c | h e A lt h

54

| h e a lt h f i r s t • v o l u m e 4 6

pembuluh yang sudah pecah, metode tEVar dan EVar bisa saja dilakukan tetapi harus dalam waktu yang cepat karena perdarahan yang terjadi biasanya sangat deras. Sering sekali penderita sudah meninggal saat sampai di rumah sakit.

tatalaksana teVaR dan eVaR pada pasien Secara teknis, tindakan ini hanya membu-tuhkan sayatan kecil sekitar 3 sentimeter pada bagian paha. Setelah alat masuk ke dalam pembuluh darah, akan dia rahkan ke lokasi gangguan, dan baru kemudian dikem-bangkan di dalam.

Dari sini dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiologi intervensi akan melihat kondisi anatomi pembuluh darah dan memastikan diagnosis dan indikasi yang terjadi. Dokter juga akan memastikan ukuran-ukuran dan teknik pemasangan yang sesuai dengan kondisi pembuluh darah pasien. Hal ini perlu diperhatikan mengingat sejumlah teknik pemasangan menyesuaikan tingkat kerumitan pembuluh darah dan percabangannya.

kesulitannya umumnya ada pada fak-tor anatomi pembuluh darah pasien. tidak

Penanganan tEVar dan EVar di rs Pondok indah

RS Pondok Indah telah dilengkapi dengan fasilitas penanganan gangguan pembuluh darah dan jantung,

termasuk untuk kondisi aneursima aorta, yang mengusung teknologi terkini. Layanan paripurna, baik preventif, deteksi dini, penanganan, maupun

rehabilitasi, seluruhnya dapat dilakukan di RS Pondok Indah.

Ruangan, teknologi diagnostik, serta pemeriksaan penunjang terhadir dengan lengkap dan memadai serta beroperasi 24 jam. Dengan fasilitas ini, semua pasien dan dokter dapat mendeteksi dan menangani

dengan lebih cepat. RS Pondok Indah juga memiliki tenaga medis yang sudah sangat terlatih untuk penanganan dan tata laksana TEVAR dan EVAR mulai dari dokter spesialis anestesi, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dokter spesialis bedah vaskular,

hingga dokter spesialis bedah toraks.

dr. dr. doni Firman, Sp.JP (K), FIhA

Dokter spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi intervensi rs Pondok indah – Pondok indah

Dokter yang menamatkan studi doktoralnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Perubahan Fungsi Ventrikel Kiri Pasca-Intervensi Koroner Perkutan Primer: Fokus pada Indeks Resistensi Mikrovaskular. Beliau pernah meraih Best Case Presentation di Trans-catheter Cardiovascular Therapeutics Angioplasty (TCTAP) Summit di Seoul, Korea Selatan. Beliau menyelesaikan fellowship training di bidang kardiologi intervensi di RSJPD Harapan Kita, NTUH Taipei Taiwan, dan AMC Seoul Korea Selatan.

Menurut beliau, bidang kardiologi intervensi dinilai dapat memberi manfaat besar, di samping penyakit jantung koroner dan periferal, juga pada penyakit jantung struktural seperti Atrial Septal Defect (ASD), Ventricular Septal Defect ( VSD) dan Patent Ductus Arteriosus (PDA), serta penyakit jantung katup seperti tindakan Percutaneous Transvenous Mitral Commissurotomy (PTMC), Transcatheter Aortic Valve Replacement ( TAVR), dan MitraClip. Di tengah aktivitasnya, dr. Doni juga menjabat sebagai ketua Perhimpunan Intervensi Kardiovaskular Indonesia (PIKI) dan menjadi staf pengajar Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI.

semua kondisi anatomi pembuluh darah dapat ditangani dengan teknik tEVar dan EVar. Dalam kondisi pembuluh darah yang eks trem, dokter akan tetap menyarankan teknik bedah terbuka.

h e A lt h | T e c h N o m e D i c

h e a lt h f i r s t • v o l u m e 4 6 |

55

M

inggu, 14 april 2019 menjadi hari yang akan terus dikenang oleh Fajar lazuardhy (36 tahun). Setelah ber-sepeda sejauh 10 kilometer, dirinya mulai merasakan sesak napas seperti orang sedang tenggelam dan lelah luar biasa. padahal, su-dah satu tahun dirinya bersepeda ke kantor setiap hari, dan juga di akhir pekan.

Merasa ada yang salah dengan tubuhnya, setelah kondisi napasnya berangsur normal, Fajar pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, rasa lelah tersebut tak kunjung sirna. lengannya terasa sangat pegal. Bahkan ia merasa mual saat makan.

Melihat kondisi suaminya yang tak wajar tersebut, sang istri kemudian memaksanya untuk periksa ke dokter. Empat hari kemu-dian, Fajar pun memutuskan untuk pergi ke rS pondok indah - pondok indah. alasannya, tak seperti di rumah sakit lainnya, dokter spesialis di rS pondok indah - pondok indah pasti ada jadwal praktik di setiap waktu. Dia pun datang untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis paru dan pernapasan.

“Setelah menceritakan keluhan dan diperiksa, dokter kemudian merujuk saya un-tuk berkonsultasi dengan dokter spesialis jan-tung dan pembuluh darah. kebetulan waktu itu dr. Sari (dr. a. Sari Sri Mumpuni, Sp.Jp (k), FiHa) masih praktik. pas sudah mau pulang,”

katanya bercerita.

Meski saat itu hasil EkG dan uSG jantung-nya normal, dr. Sari mencurigai adajantung-nya