BAB II TINJAUAN PUSTAKA
H. Pola Pemasaran Komiditi Kelapa Sawit
I. Kemitraan dalam Pembangunan dan Pengelolaan
Untuk meminimalkan potensi konflik antara masyarakat dan pengusaha perkebunan serta untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, pengusaha perkebunan harus mau dan mampu menjalankan program pengembangan masyarakat (community development/ CD). Salah satu program pengembangan masyarakat adalah melalui pola kemitraan dengan masyarakat sekitar dan membangun kebun untuk masyarakat sekitar minimal seluas 20 persen dari luas areal kebun yang diusahakan oleh perusahaan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 Permentan/OT.140/2/2007 Tahun 2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan (Pandamean, 2011).
Setiap pengembangan usaha perkebunan harus mengikutsertakan masyarakat petani pekebun. Pengembangan usaha perkebunan dapat dilakukan dalam berbagai pola, antara lain sebagai berikut:
1. Pola koperasi usaha perkebunan, yaitu pola pengembangan perkebunan yang modal usahanya 100 persen dimiliki oleh koperasi.
2. Pola patungan koperasi dengan investor, yaitu pola pengembangan yang sahamnya 65 persen dimiliki koperasi dan 35 persen dimiliki oleh investor/ perusahaan.
3. Pola patungan investor koperasi, yaitu pola pengembangan yang 80 persen sahamnya dimiliki investor/perusahaan dan minimal 20 persen dimiliki koperasi yang ditingkatkan secara bertahap.
4. Pola BOT (Build, Operate and Transfer), yaitu pola pengembangan yang pembangunan dan pengoperasian dilakukan oleh investor/ perusahaan yang kemudian pada waktu tertentu seluruhnya dialihkan pada koperasi.
5. Pola BTN (Bank Tabungan Negara), yaitu pola pengembangan dengan investor/perusahaan membangun kebun dan atau pabrik pengolahan hasil perkebunan yang kemudian akan dialihkan kepada peminat/pemilik yang tergabung dalam koperasi.
6. Pola-pola pengembangan lainnya yang saling menguntungkan, memperkuat, dan membutuhkan antara petani pekebun dengan perusahaan perkebunan. 7. Pola pengembangan dapat dilaksanakan dengan cara kombinasi dan
disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.
Pada pola kemitraan, seluruh biaya yang menyangkut pengembangan unit kebun mitra menjadi hutang dari masing-masing peserta mitra yang memperolehnya, dan harus dibayar kembali (dicicil dari pendapatan yang diperoleh dari hasil perkebunannya/penjualan TBS) dengan masa tenggang yang cukup panjang serta menurut jadwal dan persyaratan-persyaratan yang cukup ringan.
Ketentuan harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit produksi petani diatur melalui keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 627/Kpts-II/1990 tentang Ketentuan Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit produksi petani. Rumus harga pembelian TBS oleh perusahaan ditetapkan sebagai berikut (Pandamean, 2011):
Keterangan:
HTBS : Harga TBS acuan yang diterima oleh petani di tingkat pabrik, dinyatakan dalam Rp/kg.
K : Indeks proporsi yang menunjukkan bagian
yang diterima oleh petani dinyatakan dalam persentase (persen) H cpo : Harga rata-rata minyak sawit kasar (CPO)
tertimbang realisi penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada bulan sebelumnya, dinyatakan dalam Rp/kg.
R cpo : Rendemen minyak sawit kasar, dinyatakan dalam persentase. H is : Harga rata-rata inti sawit tertimbang realisi
penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada bulan sebelumnya, dinyatakan dalam Rp/kg.
R is : Rendemen inti sawit, dinyatakan dalam persentase (persen).
Harga pembelian TBS ditetapkan setiap bulan berdasarkan harga riil rata-rata tertimbang minyak sawit kasar (CPO) dan inti sawit sesuai realisasi penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada bulan sebelumnya. Harga TBS tersebut merupakan harga pabrik pengolahan kelapa sawit. Besarnya indeks “K” ditetapkan setiap bulan oleh gubernur sebagai kepala daerah tingkat I
berdasarkan usulan tim penetapan harga pembelian TBS. Gubernur menetapkan tim tersebut yang keanggotaannya terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut (Pandamean, 2011):
1. Pemerintah Daerah Tingkat I.
2. Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 3. Dinas Perkebunan Provinsi Daerah Tingkat I.
4. Perusahaan.
5. Pusat Penelitian Kelapa Sawit dan pihak lain yang dipandang perlu. Tim penetapan harga pembelian TBS mempunyai tugas berikut:
1. Merumuskan dan mengusulkan besarnya indeks “K” kepada gubernur kepala daerah tingkat I.
2. Memantau penerapan besarnya indeks “K” serta komponen lainnya yang terkait dalam rumus harga pembelian TBS.
3. Memantau pelaksanaan penerapan penetapan rendemen minyak sawit kasar dan inti sawit.
4. Memantau pelaksanaan ketentuan dan penetapan harga pembelian TBS. 5. Menyampaikan harga rata-rata penjualan minyak sawit mentah dan inti sawit
kepada perusahaan dan petani/kelembagaan petani secara periodik.
6. Menyelesaikan masalah-masalah yang timbul antara perusahaan dan petani/kelembagaan petani.
Dalam perkembangannya, pemerintah mengembangkan pola sistem satu manajemen dalam pengelolaan kebun untuk perkebunan rakyat yang ada di
sekitar perkebunan besar. Sistem satu manajemen terjaga, perusahaan mitra juga akan menjamin pasokan bahan baku dari petani peserta, dan sumber pendapatan petani peserta akan terjamin.
Dari hasil kebun, petani juga memperoleh pendapatan sebagai tenaga kerja dan pengembalian kredit investasi akan lebih terjamin karena penjualan hasil tidak keluar dari perusahaan. Sistem satu manajemen yang akan dilakukan pemerintah bertujuan untuk meningkatkan mutu dan produksinya serta meningkatkan kesejahteraan petani kebun sawit tersebut. Apabila sistem ini dilaksanakan, manajemen yang dilakukan harus terbuka. Hal ini karena petani harus mengetahui segala sesuatu yang dilakukan oleh perkebunan inti dalam mengelola manajemen perkebunan agar petani percaya dan tidak saling curiga. Hal ini karena selama ini perkebunan inti kurang terbuka dalam hal manajemen sehingga petani selalu curiga kepada perkebunan inti (perusahaan perkebunan).
Kemitraan bisa terwujud jika terdapat dukungan dari berbagai pihak seperti pemkab (pemerintah kabupaten) dan perbankan serta kerja sama pihak-pihak yang terkait, yaitu masyarakat melalui koperasi dan perusahaan inti yang mengelola perkebunan kelapa sawit. Pemkab berperan membantu kelancaran penyerahan lahan, pembangunan insfrastrktur jalan dan jembatan jalur provinsi dan kabupaten, mendukung pengamanan pembangunan kebun, serta pembentukan tim sosialisasi antara dinas terkait (TP3D2) dengan perusahaan hingga dilakukan sosialisasi kepada masyarakat. Pemerintah daerah diharapkan juga tidak akan
mengeluarkan izin pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit tanpa kebun di sekitar kebun mitra kepada pihak-pihak lain.
Bank merupakan pemberi pinjaman pembangunan kebun kemitraan. Besarnya plafon, jangka waktu kredit, serta besarnya bunga akan ditentukan oleh bank. Sementara koperasi sawit induk (Kopsa Induk) yang berbadan hukum sebagai wadah untuk bermitra dengan perusahaan. Koperasi merupakan milik perkebunan kelapa sawit kemitraan. Perusahaan (manajemen) berperan dalam mengelola kebun mitra secara penuh dalam satu manajemen. Pengertian satu manajemen adalah pengelolaan seluruh kebun baik milik mitra usaha maupun milik pekebun yang dilakukan oleh mitra usaha mulai dari persiapan, pengelolaan kebun, pengolahan, dan pemasaran yang ditujukan untuk tetap menjaga kualitas dan kesinambungan usaha.