• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KINERJA PERUSAHAAN TAHUN 2012

2.10 Kemitraan

Penyaluran Program Kemitraan yang dilaksanakan Audit tahun 2012 sebesar Rp. 786.000.000,- atau sebesar 125,76 % dari Anggaran sebesar Rp.

625.000.000,-. Penyaluran Program Bina Lingkuangan Audit tahun 2012 sebesar Rp. 13.500.000,- atau 43,07 % dari Anggaran sebesar Rp.

31.345.509,-. Tingkat Efektifitas Penyaluran Dana Program Kemitraan sebesar 73,90 % atau Skor 0 dan Tingkat Kolektibilitas Penyaluran Dana Program Kemitraan sebesar 98,83 % atau skor 3.

BAB III

KERJASAMA DAN ANAK PERUSAHAAN

Sebagai sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara, PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) dalam perjalanan usahanya telah melaksanakan kerjasama baik sesama BUMN maupun dengan perusahaan lainnya, adapun kerjasama yang dijalankan diantaranya :

3.1. KERJASAMA SESAMA BUMN DAN INSTANSI PEMERINTAH

Sangat disadari bahwa kerjasama antara sesama BUMN harus terus ditingkatkan untuk meningkatkan perekonomian Indonesia yang berada dalam ketidakpastian, adapun kerjasama sesama BUMN yang telah teralisir antara lain:

3.1.1. PEMERINTAH KOTA ( PEMKO ) BATAM DAN BP KAWASAN BATAM Kerjasama yang dilakukan untuk menunjang Peraturan Daerah Kependudukan dalam rangka mengendalikan arus Migrasi ke Batam dan kerjasama Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.

3.1.2 PT JAMSOSTEK (Persero)

Kerjasama yang dilakukan dalam bidang Asuransi/Jaminan untuk : a. Kesehatan & Kematian

b. Hari Tua

3.1.3 PT BANK MANDIRI (Persero)

Kerjasama yang dilakukan dalam bidang : a. Pembayaran gaji karyawan

b. Jasa Inkaso, Kliring dan Pemindah bukuan c. Rekening Koran, Deposito dan Bank Garansi

3.1.4 PT. BANK BNI (Persero)

Kerjasama yang dilakukan dalam bidang : a. Rekening Koran

b. Kliring dan Pemindahbukuan

3.1.5 PT. BANK MUAMALAT

Kerjasama dalam rangka sumber pendanaan Investasi untuk pengadaan alat berat PT Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) sebagai penunjang kegiatan Operasional terutama di unit Bongkar Muat.

3.1.6 PT. ASURANSI BERDIKARI

Kerjasama yang dilakukan dalam penutupan jasa asuransi untuk : a. Kendaraan Operasional ( Truck, Primeover, Crane, Forklift )

b. Kendaraan Non Operasional ( Pick Up dan sedan ) c. Gudang dan Gedung Kantor

d. Kegiatan Bongkar Muat di Pelabuhan.

3.2. KERJASAMA DENGAN MITRA USAHA LAIN

Menyadari tentang kondisi perekonomian Indonesia yang mulai membaik dan sulitnya iklim usaha dengan semakin tingginya tingkat persaingan diantara sesama perusahaan sejenis, sangat memungkinkan diadakannya kerjasama dengan pihak ketiga. Sesuai dengan jenis usahanya PT (Persero) Batam telah banyak melakukan kerjasama dengan perusahaan dengan berbagai bidang, diantaranya :

3.2.1. BAYSWATER SHIPPING & FORWARDING

Sebagai perusahaan dengan usaha yang dibidang kepelabuhanan sangat dimungkinkan untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan shipping dan forwarding. Kerjasama ini terwujud dengan baik antara PT (Persero) Batam dengan Bayswater Shipping & Forwarding yang diakui mempunyai pangsa pasar cukup besar di Pulau Batam.

3.2.2. PT. Alexindo – Perusahaan Shipping and Forwading

Kerjasama dibidang jasa kepelabuhan, yaitu penanganan bongkar muat barang dan distribusi barang domestik, kebutuhan untuk konsumsi di Pulau Batam.

Sebagai perusahaan shipping and forwading PT. Alexindo mempunyai pasar yang cukup potensial di Pulau Batam dan kerjasama dengan PT.

Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) terlah terjalin cukup lama.

3.2.3. PT. Holcim Indonesia Tbk

Kerjasama jangka panjang dibidang property management yaitu penggunaan tanah serta gudang di sekupang yang dipergunakan untuk pendirian fasilitas SILO dan pengantongan semen untuk kebutuhan domestic (khususnya pulau Batam) yang pendistribusiannya akan menggunakan jasa transportasi PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero).

3.3. KERJASAMA LUAR NEGERI

Belum ada

.

3.4. ANAK PERUSAHAAN & AFILIASI

Dalam perjalanan usahanya PT (Persero) Batam telah melakukan berbagai kebijaksanaan diantaranya dengan mengadakan kerjasama-kerjasama dan pembentukan anak perusahaan.

 PT Putra Permata Batam

Dalam upaya untuk mengembangkan usaha, perusahaan telah membentuk anak perusahaan (pada tahun 1993) yang bergerak dalam bidang pengelolaan pembangunan lapangan Golf, Resort dan Pariwisata diatas lahan seluas 105 Ha. Pelaksanaannya di kerjasamakan dengan PT Surindo Dana Perkasa (Sebelumnya bekerjasama dengan PT Panca Permata Harapan yang merupakan anak perusahaan Humpuss Grup).

Kondisi terakhir telah mendapatkan persetujuan prinsip dari Menteri Negara BUMN melalui surat No.S-566/MBU/2009 tanggal 10 Agustus 2009 tentang Penyertaan Modal PT. PDIP Batam (Persero Batam) pada PT. Putra Permata Batam Development, berupa tanah seluas 105 Ha. Dari hasil perkembangan terakhir sesuai dengan Surat Dari Menteri Negara BUMN nomor S-566/MBU/2009 tanggal 10 Desember 2009 yang antara lain menyebutkan menyetujui tindak lanjut pendirian PT Putra Permata Batam Development dengan mitra PT Surindo Dana Perkasa sebagai pemegang saham lainnya. Dan dalam BUtir 6 juga disebutkan “Persetujuan ini berlaku 1 (satu) tahun sejak tanggal diterbitkan. Untuk itu diminta segera menuntaskan proses pendirian usaha patungan tersebut. Sekiranya tidak terjadi kesepakatan mengenai nilai inbreng lahan yang akan dijadikan penyertaan PT (Persero) Batam, agar mempertimbangkan adanya investor lain untuk merealisasikan pengelolaan/pemanfaatan lahan dimaksud”. Sesuai dengan surat Direksi kepada Dewan Komisaris Nomor S-DIR/036/XII/2010 tanggal 13 Desember 2010 perihal Laporan Perkembangan lahan Tanjung Pinggir 105 Ha, yang antara lain menyebutkan karena batas waktu yang telah ditentukan oleh Menteri Negara BUMN yaitu tanggal 10 Agustus 2010, mitra pemegang saham lainnya tidak menyetorkan kas, meka penyertaan modal PT (Persero) Batam berupa inbreng juga tidak terjadi. PT Surindo Dana Perkasa bersedia melepaskan kepemilikan saham pada PT Putra Permata Batam Development untuk digantikan posisinya sebagai pemegang saham oleh investor lain. Sementara belum memperoleh investor lain untuk mengelola lahan tersebut manajemen melakukan reklasifikasi terhadap akun tanah tanjung pinggir dari aset lainnya ke dalam aset tetap.

BAB IV

RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI

Implikasi strategi PT (Persero) Batam yang memiliki beberapa unit usaha (Strategic Business Unit) adalah restrukturisasi bisnis dan asset serta organisasi.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan sehubungan dengan pencanangan strategi tersebut adalah:

4.1. Restrukturisasi

 Rasionalisasi struktur dan penyempurnaan organisasi. Stategi ini sejalan dengan peningkatan efisiensi, mencakup biaya karyawan, dimana seiring dengan menurunnya produktifitas perusahaan, maka beban tetap ( biaya pegawai ) harus ditekan. Bidang lainnya adalah utilisasi komputerisasi on-line untuk mempercepat pengambilan keputusan dan pengelolaan data yang lebih akurat dan tepat waktu.

 Investasi untuk meningkatkan produktifitas dan pendapatan unit usaha yang memberikan kontribusi positif yang secara tekhnis manajerial paling dikuasai ( Core Business ). Strategi ini mencanangkan peningkatan pelayanan, memperbaiki sistem atau proses produksi dan peningkatan mutu jasa yang diberikan. Untuk hal tersebut dibutuhkan permodalan yang kuat.

 Investasi yang bersifat diversifikasi konsentrik seperti stock yard, depo kontainer, dan dermaga cargo dimana kegiatannya mendukung usaha jasa pokok dan investasi pada aset yang dapat ditingkatkan produktifitasnya bisa dilakukan oleh PT (Persero) Batam maupun bekerjasama dengan pihak ketiga.

4.2. Privatisasi

Divestasi unit usaha yang kontribusinya negatif dan pengalihan fungsi aset yang kurang produktif. Unit usaha yang mengalami kerugian, kekurangan modal kerja maupun modal investasi serta memiliki omzet penjualan yang relatif kecil perlu segera ditentukan rancangan kerjasamanya atau rencana penjualan asset tersebut. Untuk kondisi saat ini PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) belum waktunya diprivatisasi.

BAB V

No HAL-HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN

No HAL-HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN

BAB VI PENUTUP

6.1. KESIMPULAN

1. Total Asset atau Aktiva Audit tahun 2012 tercatat sebesar Rp.

97.120.900.432,- menunjukkan kenaikan 7,02 % dibandingkan Neraca RKAP tahun 2012 yakni sebesar Rp. 90.753.681.213,-

2. Total Kewajiban meningkat bila dibandingkan dengan RKAP tahun 2012, hal tersebut terutama disebabkan oleh realisasi investasi

3. Rasio Keuangan penting pada Audit tahun 2012 antara lain rasio rentabilitas, likuiditas (current ratio), solvabilitas (assets to debt ratio) menunjukkan trend yang relatif membaik dibandingkan tahun sebelumnya.

6.2. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI

1. Untuk memperkokoh eksistensi PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) di Pulau Batam, aktiva tanah yang sebagian besar berstatus HPL dan memiliki kewajiban membayar UWTO ke BP Kawasan Batam dan sebagiannya lagi bebas UWTO, agar dapat diubah menjadi penyertaan modal negara (PMN). Hal ini akan berdampak positif dalam pengembangan usaha dan kerjasama dengan investor.

Manajemen telah berupaya untuk merealisasikan usulan Penyertaan Modal Negara tersebut, progress terakhir dari upaya tersebut adalah sesuai dengan Notulen Rapat antara Departemen Keuangan, BP Kawasan Batam dan PT.

Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) pada tanggal 3 Maret 2008 di Ruang Rapat Direktorat BMN II, dimana Departemen Keuangan yang diwakili Direktur BMN II menunda keputusan karena akan mengklarifikasi status dan prosedur PMN tersebut ke BPKP, BPN dan Menko Ekuin.

Selanjutnya berdasarkan rekomendasi dari BP Kawasan Batam kepada Departemen Keuangan agar proses PMN dapat dilanjutkan. Terkait dengan surat Ketua BP Kawasan Batam no : B/717/KA/10/2009 tanggal 13 Oktober

rencana PMN.

Berdasarkan rapat tanggal 8 Februari 2010 Direktorat BMN II akan meneruskan permohonan penambahan PMN PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) kepada Direktorat BMN I dengan menyerahkan dokumen terkait.

BP Kawasan Batam / BP Batam akan menyampaikan kajian penambahan PMN dan daftar BMN yang akan dijadikan penambahan PMN di PT.

Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) dengan merujuk surat no : B/717/KA/10/2009 tanggal 13 Oktober 2009 perihal Permohonan Penyertaan Modal Negara (PMN) PT. (Persero) Batam.

Pembentukan Tim Pengkajian PMN oleh BP Kawasan Batam / BP Batam dan PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) nomor : 29 tahun 2010 tanggal 9 Mei 2010.

Direktur BMN I meminta agar kajian atas rencana PMN dapat disampaikan paling lambat tanggal 30 September 2010 sesuai surat nomor : S-285/KN.2/2010 tanggal 30 Juli 2010.

Penyampaian draft kajian oleh Kepala Biro Umum BP Kawasan Batam / BP Batam nomor : B/75/UM/9/2010 tanggal 29 September 2010 perihal Penyampaian Data/Dokumen Pendukung PMN.

Undangan Rapat dari Dir. BMN I nomor : Und-186/KN.2.2/2010 tanggal 6 Oktober 2010 dengan agenda Klarifikasi atas hasil kajian rencana PMN kepada PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) (vide surat BP Batam nomor : B/75/UM/9/2010 tanggal 29 September 2010).

Keputusan Rapat point 6. Tanggal 7 Oktober 2010 yang dipimpin oleh Direktur BMN I telah dihasilkan Kesepakatan.

- BP Batam akan meneliti kembali alternative penyelesaian PMN dan menyampaikan kepada Kementerian Keuangan secara resmi melalui surat tertulis Kepala BP Batam selaku pengguna barang.

- Hasil penelitian alternatif penyelesaian PMN tersebut pada butir a.

Agar segera disampaikan BP Batam kepada DKJN.

- Masing –masing pihak melaporkan hasil dan kesepakatan rapat

Tim PMN mengadakan rapat tanggal 27 Oktober 2010 yang intinya sepakat untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada Deputi Perundang – undangan Sekertaris Negara.

Sebagai rujukan bahwa PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero) sudah pernah mendapatkan PMN yang berlokasi di Tanjung Pinggir seluas 105 Ha dan Sekupang seluas 2,7 Ha sesuai dengan PP nomor : 43 tahun 1990 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam (Persero).

2. Pencapaian omzet / pendapatan perusahaan Audit masih dibawah RKAP 2012 dikarenakan masih minimnya customer potensial yang dihandle oleh perusahaan, sehingga menghasilkan omzet yang belum dapat tercapai sesuai dengan RKAP 2012.

Dokumen terkait