• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V TRANSFORMASI KELEMBAGAAN DAN DINAMIKA PENETRASI

5.3. Penetrasi Negara dalam Nagari Pariangan Pasca Reformasi

5.5.1. Kemunculan dan Perubahan Nagari masa Reformasi

Asal usul munculnya perda kembali ber-nagari pada dasarnya adalah kepentingan Gamawan Fauzi sebagai Gubernur Sumatera Barat yang ingin kembali menghidupkan pemerintahan terendah berbasis kearifan lokal sesuai dengan ketentuan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang desentralisasi. Gamawan Fauzi yang saat itu menjabat sebagai gubernur Sumatera Barat juga memiliki keinginan untuk mendapatkan gelar sako tinggi sebagai gelar kehormatan untuk melegitimasi karir politik Gamawan Fauzi selanjutnya. Akhirnya proses politik yang terjadi menghasilkan keputusan dan mendapatkan dukungan dari DPRD Provinsi saat itu untuk mengembalikan bentuk pemerintahan terendah ke bentuk nagari beserta hak sako dan pusako yang melekat di nagari. Dalih menghidupkan kembali pemerintahan berbasis kearifan lokal dan merespon ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tercermin dalam agenda kembali ber-nagari. Padahal hal yang mendasar dibalik keinginan mengembalikan pemerintahan terendah ke bentuk nagari adalah menghadirkan kembali harta kekayaan adat (ulayat) untuk kepentingan elit lokal di era reformasi untuk mendapatkan sumber daya beserta gelar adat yang disebut sebagai gelar sako adat.

Ketentuan-ketentuan perda kembali ber-nagari akhirnya dirumuskan oleh DPRD Provinsi Sumatera Barat dengan menyeragamkan seluruh bentuk kelembagaan dan segala konten di setiap nagari tanpa melibatkan unsur-unsur adat untuk memberikan masukan terhadap ketentuan pemerintahan nagari yang

sebenarnya. Banyak terjadi perubahan orientasi kelembagaan pada kebijakan kembali ber-nagari akibat anggota DPRD yang terlibat dalam perumusan regulasi kembali ber-nagari tidak memahami pranata adat salingka nagari serta tidak melibatkan tokoh adat untuk memberikan pandangan tentang nagari sesuai ketentuan undang nan 20 sebagai landasan adat-istiadat Minangkabau. Regulasi nagari yang berubah-ubah baik dalam konteks kewenangan, tugas dan fungsi karena berusaha untuk disederhanakan dengan berpedoman pada desa-desa pada umumnya berdampak terhadap kehadiran nagari di era reformasi merupakan nagari yang telah mengalami proses modernisasi struktur dan menjadi alat mewujudkan pembangunan daerah dan tidak di dasari dengan agenda menghidupkan kembali pranata-pranata adat yang pada saat Orde Baru di bumi hanguskan oleh rezim.

Merespon hasil keputusan tersebut, Bupati Kabupaten Tanah Datar aktif mempromosikan proses kembali ke nagari. Mereka memulai kegiatan ekonomi kolaboratif dengan pemerintah-pemerintah nagari khususnya Wali Nagari Pariangan dan mendorong munculnya tokoh adat baru dengan pendidikan yang baik serta mengerti bagaimana ekonomi modern bekerja, dalam upaya untuk menciptakan pemerintahan nagari yang handal. Jadi, saat lembaga-lembaga tradisional dipulihkan kembali, pada saat yang sama berbagai upaya terus dilakukan untuk membatasi kekuasaan dari para tokoh adat yang kurang kapasitasnya dan dianggap menghambat produktivitas pembangunan.

Untuk tahap awal pendirian nagari, sebanyak 250 nagari termasuk pariangan menyatakan siap untuk mendirikan kembali pemerintahan sesuai sistem adat Minangkabau. Dalam proses ini muncul pola ketergantungan dengan

supra-struktur formal dan elit lokal tertentu dalam tititk kritis pembentukan institusi nagari. Nagari yang dapat berdiri adalah nagari yang memiliki jaringan dengan pemerintah atau aktor-aktor politik lainnya. Legalitas pendirian nagari menjadi kewenangan pemerintah dan menjadi project baru bagi aktor-aktor pemerintah di era reformasi. Dampaknya jorong dibawah nagari yang memiliki akses jaringan ke aktor-aktor pemerintahan tertentu berlomba-lomba memisahkan diri dan mendirikan nagari baru. Orientasi untuk melepaskan diri dan mendirikan nagari baru tidak didasari dengan keinginan menjalankan adat sesuai adat salingka nagari melainkan kepentingan ekonomis oknum tertentu untuk mendapatkan harta sako dan pusako beserta anggaran yang turun dari pemerintah.

Berdasarkan proses politik di atas, penulis menemukan critical juncture atau titik kiritis pada perubahan orientasi formal nagari yang turut mempengaruhi kemunculannya di era reformasi seperti yang dijelaskan di bawah ini;

1. Wali Nagari sebagai pemimpin nagari dalam hal administratif dan pembangunan nagari. Era nagari sebelum kolonial, sebutan Wali Nagari adalah angku palo. Lembaga ini bertanggung jawab kepada KAN sebagai pemimpin nagari yang bertugas membantu para ninik mamak mengontrol para suku yang ada di nagari. Orientasi angku palo berubah sejak masa kolonial sampai pada Orde Lama menjadi Wali Nagari serta hilang saat era Orde Baru digantikan oleh kepala desa. Muncul kembali di era reformasi dan dipertegas fungsi serta tugas Wali Nagari sebagai pemimpin administratif didalam nagari melalui ketentuan perda kembali ber-nagari.

2. Wali Nagari bertanggung jawab kepada pemerintah dan disahkan oleh pemerintah kabupaten. Era nagari sebelum kolonial sampai pada Orde Lama, Wali Nagari bertanggung jawab terhadap KAN serta disahkan oleh KAN sebagai pelaksana tugas didalam nagari. Di era reformasi melalui ketentuan Perda Nomor 9 Tahun 2000, orientasi Wali Nagari dirubah menjadi bertanggung jawab kepada pemerintah dan bertugas menjalankan agenda pembangunan selaras dengan kepentingan daerah.

3. Nagari sebagai pemerintahan terendah. Stigma nagari sebagai pemerintahan terendah menyebabkan tanggung jawab kelembagaan bukan pada nagari lagi, melainkan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dengan berpedoman kepada teknis pelaksanaan pemerintahan nagari diatur oleh pemerintah masing-masing kabupaten. Secara otentisitas menurut tambo sejarah, nagari merupakan kesatuan genealogis yang dipimpin oleh unsur tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan, hidup dengan ketentuan adat salingka nagari dan bertanggung jawab terhadap suku atau kemenakan didalam nagari. Di era reformasi, orientasi adat tersebut dirubah menyesuaikan kepentingan daerah.

4. Dualisme kelembagaan dalam nagari. Era reformasi, KAN diwajibkan membagi kewenangannya kepada Wali Nagari dalam menjalankan roda pemerintahan. Dari sebelumnya KAN menjadi pemimpin tunggal bersama unsur tali tigo sapilin, tungku tigo sajarangan, melalui kebijakan kembali ber-nagari kewenangan KAN di batasi hanya terfokus mengurusi keberlangsungan adat-istiadat didalam nagari.

Implementasi hasil regulasi Perda Nomor 9 Tahun 2000 sebagai hasil kebijakan dari jalan panjang proses politik pembentukan kembali nagari tersebut dianggap tidak sedang mengembalikan bentuk nagari secara substansial seperti keadaan sebelum era kolonial. Nagari yang hadir di era reformasi dipandang oleh tokoh intelektual Minangkabau sebagai nagari yang telah mengalami banyak perubahan dasar orientasi nagari yang menentukan perubahan-perubahan selanjutnya terhadap kelembagaan adat beserta kewenangannya. Ragam perubahan yang dihasilkan oleh Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 9 Tahun 2000, dipandang sebagai bentuk penyederhanaan sistem pemerintahan nagari dan bentuk penataan birokrasi modern.

Pembagian sumber daya alam dalam masyarakat juga merupakan persoalan penting bagi masyarakat nagari pariangan. Di awal pembentukan nagari, banyak kalangan masyarakat juga menuntut untuk melakukan reklaiming terhadap hak ulayat mereka yang dirampas oleh negara masa orde baru. Akhirnya reformasi menjadi angin segar untuk melegitimasi perjuangan reklaiming atas sumber daya adat masyarakat Minangkabau. Peran tokoh adat seperti Penghulu dan Ninik mamak menguat di era reformasi karena selain kewenangan mengontrol anak kemenakan dan pemerintahan adat nagari, para tokoh adat juga memiliki kewenangan dalam membagikan sumber daya seperti hutan, tanah, sawah dan menentukan gelar sako kepada anak kemenakan dalam nagari. Munculnya krisis ekonomi pada tahun 1997 nilai tanah naik dengan cepat karena meningkatnya harga tanaman ekspor yang didapatkan dari pasar dunia akibat depresiasi nilai rupiah. Hal ini tentu berpengaruh banyak terhadap cara pandang tokoh-tokoh adat terhadap sumber daya yang

kewenangan pembagiannya menjadi otoritas mereka kepada anak kemenakan.

Kerapkali tokoh adat diunifikasi oleh rezim dan aktor-aktor tertentu yang berkepentingan merebut kontrol sumber daya dalam nagari, sehingga era reformasi Ninik mamak maupun Penghulu sukar untuk menjual sepihak sumber daya kepada pemerintah, aktor dan korporasi.

Tidaklah mengherankan bila para pemimpin adat pada masa kembali ber-nagari mementingkan diri sendiri dalam eksploitasi tanah dan melupakan kebutuhan kelompok miskin di kalangan penduduk nagari. Ternyata pada akhirnya mereka mengklaim tanah bagi dirinya sendiri dan membenarkannya dengan mengatakan bahwa merekalah yang berjuang untuk tanah itu dan merekalah yang paling tepat untuk melakukan investasi dan memanfaatkan tanah itu. Hal ini semakin memperkuat kesimpulan yang menganggap bahwa kembali bernagari di era reformasi tidak terlalu terkait dengan adat itu sendiri, tetapi lebih kepada upaya mendapatkan keuntungan dari peluang baru yang tersedia dalam otonomi politik nagari dan merebut penguasaan sumber daya yang awalnya dengan daerah sehingga sekarang beralih kepada tokoh-tokoh adat di dalam nagari.

5.5.2. Keterlibatan Kekuatan-Kekuatan Politik dalam Penyempurnaan