BAB VI PENUTUP
Bagan 3.1. Langkah-langkah penelitian
Sumber: Diolah oleh penulis (2017)
BAB IV
GAMBARAN UMUM NAGARI TUO PARIANGAN 4.1. Nagari Pariangan dalam sejarah
Tambo sejarah Alam Minangkabau1 mengatakan bahwa nagari pertama tempat lahirnya Minangkabau adalah Nagari Pariangan di Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar, kabupaten ini disebut dalam tambo sebagai luhak nan tuo2 dibuktikan dalam aksara-aksara dan petata-petitih Minangkabau3 serta peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di pariangan. nagari Pariangan berada dibawah lereng gunung merapi Sumatera Barat, masyarakat mempercayai Datuak Sri Maharajo Dirajo sebagai raja Minangkabau turun dari gunung merapi dan mendirikan nagari pertama ialah Nagari Pariangan.4 Sebagaimana diungkapkan salah seorang Ninik mamak bahwa5 yang pertama kali menginjakkan kaki di Minangkabau adalah Datuak Sri Dirajo, Datuak Rajo Api, Datuak Basa, Datuak tarmijo, Datuak tunaro, Datuak jepang, Datuak kayo, Datuak basa dan Datuak Sinaro selanjutnya sekarang disebut dengan Ninik mamak nan salapan6,sebelum datang ke Pariangan mereka ke gunung merapi sekitar 600 tahun sebelum masehi dan turun ke pariangan sekitar 300 tahun sebelum masehi untuk membuat koto di nagari, akhirnya hadir luhak Tanah Datar, luhak agam dan luhak limah puluh koto
1Tambo sejarah Adat Alam Minangkabau merupakan kitab kisah-kisah berdirinya adat-istiadat Minangkabau
2Luhak nan tuo merupakan daerah yang pertama kali berdiri menurut Tambo sejarah Minangkabau, sebagai tempat lahirnya adat-istiadat Minangkabau.
3Petata-petitih merupakan aksara-aksara Minangkabau seperti pantun dan hikayat Minangkabau lainnya.
4 H. Datoek Toeah. (1965). Tambo Alam Minangkabau. Bukittinggi: Pustaka Indonesia
5 Hasil wawancara dengan ninik mamak pada tanggal 20 april 2017
6Ninik mamak nan salapan atau ninik mamak berdelapan merupakan ikatan genealogis keturunan raja-raja pendiri Minangkabau sehingga dalam adat keberadaan nya dibedakan dengan ninik mamak sebagai pemimpin suku/kemenakan
dan setelah itu mereka bermusyawarah bersama Sri Sutan Maharajo Dirajo untuk bersepakat mendirikan nagari pertama di luhak Tanah Datar untuk diikuti dengan luhak lainnya di alam Minangkabau.
Di Pariangan, terdapat dua model stratifikasi Ninik mamak. Pertama, Ninik mamak nan salapan merupakan Ninik mamak berdasarkan garis keturunan raja-raja pendiri Minangkabau. Kedua, Ninik mamak sebagai pemimpin suku/kaum yang ada. Dalam nagari pariangan, terdiri dari 22 Ninik mamak yang membawahi 8 suku yakni piliang, gadang, malayu, dalimo panjang, dalimo singkek, caniago, jambak dan mandailiang 7tersebar di wilayah pariangan yang terdiri dari ampek koto diateh dan ampek koto dibawah.8 Masyarakat Minangkabau khususnya di pariangan, mereka hidup berkaum-kaum. Sekaum itu ialah yang seperut, serumpun, seharta pusako, sependam pekuburan atau definisi sederhananya mereka yang setali darah, satu keturunan yang dahulu ditarik dari garis matrilineal (garis ibu).9 Pangkat Ninik mamak atau Penghulu bersifat turun-temurun dari orang yang memiliki unsur-unsur seperti dijelaskan sebelumnya dengan kata lain bertali darah dan memiliki garis sesuai keturunan harta.
4.1.2. Sistem Pemerintahan Nagari Pariangan (Sebelum masuk intervensi penjajahan Hindia Belanda)
Wafatnya Adityawarman sebagai raja pertama di Pagaruyung, pemerintahan nagari di seluruh minangkabau dijalankan dengan sistem
7 Hasanuddin. (2013). Adat dan Syarak. Padang: Pusat Studi Minangkabau Universitas Andalas
8Ampek koto diateh, ampek koto dibawah atau empat kota diatas dan empat kota dibawah merupakan kondisi wilayah Nagari Pariangan sebelum hadirnya negara yang memecah wilayah pariangan tersebut menjadi jorong-jorong dalam agenda pemekaran nagari.
9Matrilineal merupakan garis keturunan silsilah suku berdasarkan keturunan ibu. Di Minangkabau, Ninik mamak bertugas untuk terus mendata ranji/silisilah garis keturunan ini setiap lima tahun sekali.
desentralisasi. Dalam arti bahwa nagari-nagari di wilayah ini telah memiliki otonomi penuh dan yang langsung berhubungan dengan masyarakat nagari adalah para penghulu mereka sebagai pemimpin adat-istiadat.10 Pada dasarnya nagari masa itu diperintah oleh kumpulan para penghulu kaum/suku yang tergabung dalam sebuah kerapatan. Setiap keputusan yang menyangkut masalah nagari dimusyawarahkan dalam kerapatan nagari yang beragam namanya pada setiap nagari.
Pada zaman dahulu bila seseorang diangkat sebagai seorang penghulu, ia akan mendapat sebidang tanah dari kaumnya. Tanah tersebut dapat diolah dan hasilnya diambil oleh penghulu tersebut untuk keperluannya. Setelah ia meninggal tanah tersebut harus dikembalikan lagi ke kaumnya untuk selanjutnya diberikan kepada seorang yang menggantikan jabatannya sebagai penghulu.11 Lahir dua sistem pemerintahan tradisional minangkabau yang kemudian dikenal dengan istilah lareh nan duo yaitu Koto Piliang dan lareh Bodi Caniago yang dicetuskan oleh Datuk Ketemanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Nagari yang menganut lareh Koto Piliang berbeda dengan lareh Bodi Caniago. Antara dua lareh itu memiliki perbedaan yang cukup menonjol pada sistem pemerintahannya, yaitu antara lain dalam cara memutuskan perkara, pengambilan keputusan, penggantian gelar pusaka dan kedudukan penghulu.
10 de Jong, P. d. (1980). Minangkabau and Negeri Sembilan: Socio-Political Structure in Indonesia. Den Hag: Springer Netherlands.
11 von Benda-Beckmann, F. (1979). Property in Social Continuity: Continuity and Change in The Maintance Of Property Relationship Through Time In Minangkabau, West Sumatra. London: The Hague: Martinus Nijhoff
Pada nagari yang menganut lareh Koto Piliang pola pengambilan keputusan dalam musyawarah ditentukan oleh tingkatan kedudukan penghulu di nagari. Pengambilan keputusan dilakukan secara bertingkat yang disebut dalam fatwa adat; bajanjang naiak, batanggo turun atau berjenjang naik dan bertangga turun. Penggantian gelar sako pada Koto Piliang diwariskan berdasarkan karambia tumbuah di mato atau kelapa tumbuh pada matanya. Maksudnya penghulu baru diganti sesudah ia meninggal dunia dan diwariskan kepada kemenakan dekat atau kemenakan di bawah daguak.
Berbeda dengan nagari Koto Piliang, dalam nagari yang diperintah menurut lareh Bodi Caniago para penghulu memiliki kedudukan yang sama dalam pemerintahan nagari. Pemerintahannya bersifat demokratis, duduak samo randah, tegak samo tinggi; Duduak sahamparan, tagak sapamatang. Artinya jika ada persoalan di antara mereka, maka mereka menyelesaikan secara musyawarah di Balai Adat. Pada setiap suku dalam nagari pada umumnya terdapat perangkat lain yang bersama penghulu suku dikenal dengan istilah urang ampek jinih, mereka adalah Manti, Malin, dan dubalang. Posisi-posisi ini juga berdasarkan keturunan (geneologis).12 Manti berperan mengurus hal-hal yang berhubungan dengan adat istiadat. Malin mengurus hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan, sedangkan dubalang menjalankan putusan-putusan kerapatan nagari yang bersangkutan dengan masalah keamanan dalam nagari. Dalam sistem pemerintahan nagari yang demikian, pada prinsipnya pengawasan penyelenggaraan pemerintahan nagari
12 de Jong, P. d. (1980). Minangkabau and Negeri Sembilan: Socio-Political Structure in Indonesia.
Den Hag: Springer Netherlands.
bertumpu pada musyawarah mufakat pada kerapatan nagari. Setiap anggota masyarakat nagari terwakili oleh penghulu suku mereka yang duduk dalam kerapatan nagari. Sedangkan pada tingkat suku, aspirasi anggota suku diwakili oleh mamak kepala kaum mereka yang duduk bermusyawarah dalam kerapatan suku.
Dengan pola kepemimpinan yang demikian anak nagari tidak saja terikat secara politis kepada pimpinan dalam nagari tetapi juga mereka memiliki keterkaitan batin yang kuat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat minangkabau sejak dahulu kala telah memiliki sistem kemasyarakatan dan pemerintahan yang telah terstruktur dengan jelas, walau secara garis besar ada dua tipe pemerintahan yang berlaku, namun pada prinsipnya sistem pemerintahan tradisional di minangkabau menunjukkan sifat yang sangat egaliter, demokrasi dan otonomi.
4.1.3. Sistem Pemerintahan Nagari Pariangan Era Kolonial dan Orde Lama Sejak masuknya pengaruh kolonial Hindia Belanda di daerah minangkabau, begitu pula pada masa awal kemerdekaan Indonesia hingga sebelum diterapkannya sistem pemerintahan desa tahun 1983, sistem pemerintahan nagari di minangkabau seperti yang telah diuraikan di atas telah mengalami banyak perubahan. Pengaruh berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah supra-struktur yang berkuasa di wilayah minangkabau pada masa-masa tersebut. Pada masa kolonial belanda, sistem demokrasi dan egaliter yang sudah berkembang berurat dan berakar dalam sistem pemerintahan nagari berusaha dipengaruhi agar menjadi lebih bersifat otoriter aristokrasi.13 Demi kepentingannya kekuasaannya
13 von Benda-Beckmann, K., & von Benda-Beckmann, F. (1978). Residence in Minangkabau Nagari. Indonesia Circle. School of Oriental and African Studies , 6 (15), 6-17.
mereka membuat jabatan-jabatan baru yang tidak pernah ada dalam sistem adat minangkabau, seperti diangkatnya seorang penghulu kepala dari seluruh para penghulu suku yang ada, disamping itu diangkat pula penghulu-penghulu di luar suku yang ada, yang dikenal dengan penghulu basurek. Mereka jelas-jelas bukan penyalur aspirasi anak nagari, tetapi justru menjadi alat yang menindas anak nagari.
Seiring dengan itu musyawarah-musyawarah nagari pun tidak pernah diselenggarakan lagi.
Perubahan struktur dan tata kelola pemerintahan secara signifikan di minangkabau terjadi pada saat pemerintah kolonial memberlakukan sistem tanam paksa pada tahun 1848-1908 melalui perjanjian antara pemerintah lokal dengan kolonial yang lebih dengan sebutan Plakat Panjang pada tahun 1833. Pada awalnya, perjanjian tersebut memang menyebutkan bahwa Belanda tidak akan ikut campur tangan terhadap pemerintahan nagari. Pada kenyataannya Belanda dengan SROLWLNQ\D \DQJ WHUNHQDO \DLWX µSROLWLN HWLV¶ \DQJ GLWHUDSNDQ GLVHOXUXK SHQMXUX
Nusantara mengusik sistem pemerintahan nagari dengan memilih satu orang penghulu sebagai kepala kampung atau penghulu kepala. Sistem ini pada akhirnya digunakan Belanda untuk mempermudah mereka dalam mempraktekan sistem tanam paksa. Dampak setelah diberlakukannya sistem tersebut, maka semua komunikasi nagari akan hanya tertuju pada satu orang atau perwakilan saja. Ini yang kemudian memudahkan Belanda dalam mengontrol pemerintahan lokal di Sumatra Barat.14
14 Zed, M., Utama, E., & Chaniago, H. (1998). Sumatera Barat di Panggung Sejarah 1945-1995.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Upaya pelemahan di minangkabau oleh Belanda juga makin besar, hal tersebut ditandai dengan diberlakukannya Nagari Ordinate pada tahun 1915 sebagai cara untuk mempromosikan otonomi kampung yang lebih besar dalam kerangka politik etis.15 Dengan adanya pembuatan badan tersebut, maka yang terjadi adalah semakin tidak demokratisnya pemerintahan nagari karena Dewan nagari (nagari-raad) dibentuk sebagai pelaksana pemerintahan dalam pengambilan keputusan dengan pemerintahan kolonial. Adapun representasi dari badan tersebut hanya berisikan penghulu inti para penghulu yang berasal dari puak atau suku pendiri nagari saja. Artinya, ini makin mempersempit partisipasi masyarakat nagari dalam hal pengambilan keputusan, apalagi untuk suku atau puak yang lahir dengan keturunan bekas budak dan keturunan pendatang, seperti yang terkenal dengan ungkapan Benda-Beckmann yaitu kemenakan di bawah lutut (anak keturunan bekas budak) dan kemenakan di bawah pusek (untuk keturunan pendatang).
Awal kemerdekaan muncul resistensi terhadap keberadaan pemerintahan nagari, anggapan negara bahwa nagari merupakan produk kolonial. Sinisme negara terhadap pemerintahan nagari pada saat itu bukan tanpa alasan, ini disebabkan karena produk hukum yang digunakan oleh pemerintah nagari adalah produk hukum buatan zaman kolonial16 berikut dengan dengan pembentukan kelembagaan seperti pengadilan, aturan tata kelola tanah, dan lain sebagainya. Kemudian sesuai dengan maklumat Residen Sumatera Barat No 20 dan 21 tahun 1946 tanggal 21 Mei 1946 ditetapkan ketentuan yang intinya melakukan pemisahan antara
15 de Jong, P. d. (1980). Minangkabau and Negeri Sembilan: Socio-Political Structure in Indonesia. Den Hag: Springer Netherlands.
16 Biezeveld, R. (2010). Ragam Peran Adat di Sumatra Barat. In J. S. Davidson, D. Henley, & S.
Moniaga, Adat Dalam Politik Indonesia (pp. 221-244). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
kewenangan adat dan kewenangan pemerintahan, Kewenangan adat dipegang oleh kerapatan adat nagari, sedangkan struktur pemerintahan nagari terdiri dari ;
1. Wali Nagari sebagai pimpinan tertinggi nagari;
2. Dewan Perwakilan Nagari (DPN) selaku legislatif; dan
3. Dewan Harian Nagari (DHN) selaku pelaksana pemerintahan nagari.
Setelah beberapa tahun menerapkan sistem dan struktur DPN dan DHN, pemerintahan lokal Sumatra Barat kemudian mengeluarkan sebuah Peraturan Provinsi pada tahun 1963 untuk mengganti dan membentk beberapa badan baru, yaitu Kepala Nagari, Badan Musyawarah Nagari (BMN), dan badan Musyawarah Gabungan (BMG) yang berisikan seluruh anggota nagari di tiap-tiap daerah. Di satu sisi, upaya yang dilakukan oleh pemerintah lokal ini adalah untuk mengembalikan nuansa etnis dari sistem pengelolaan pemerintah lokal yang berbasis adat. Namun di sisi lain, dampak adanya pergantian struktur kelembagaan ini juga membuat masyarakat bingung karena harus mentaati aturan-aturan yang di buat oleh pemerintah daerah Sumatra Barat.17 Ini juga sejalan dengan apa yang di jelaskan oleh salah satu narasumber penelitian ini yang merupakan tokoh intelektual adat di Tanah Datar. Terjadinya proses pergeseran dan pergantian struktur pemerintahan nagari yang dilakukan baik oleh kolonial maupun pemerintah Indonesia pada masa awal kemerdekaan secara tidak langsung memberikan efek negatif terhadap masyarakat adat nagari yang ada di Sumatra Barat.
17 R.Siti Zuhro, d. (2009). Demokrasi Lokal: Perubahan dan Kesinambungan (Nilai-Nilai Budaya Politik Lokal di Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Bali). Yogyakarta: Ombak.
Dari beberapa contoh perjanjian, peraturan dan Undang-Undang yang telah dikeluarkan baik oleh pemerintah kolonial maupun oleh pemerintah awal kemerdekaan tersebut, maka disini terlihat jelas bahwa adanya penetrasi yang dilakukan oleh Negara atau pemerintah terhadap kehidupan masyarakat adat di Sumatra Barat yang sudah ada sejak abad ke-14. Gerakan penetrasi yang dilakukan oleh Negara ini juga didasarkan pada adanya hak dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada di wilayah Sumatra Barat yang merupakan hak ulayat masyarakat nagari yang sudah ada sejak nenek moyang mereka dan diturunkan dari silsilah atau garis keturunan ibu (matrilineal).
4.1.4. Sistem Pemerintahan Nagari Pariangan Orde Baru
Rezim Orde Baru mengubah sistem dan bentuk pemerintahan lokal level paling bawah di nagari. Penetrasi negara masa itu diperkuat melalui UU No. 5/1979 yang mengubah pemerintahan nagari menjadi pemerintahan desa. Perubahan nagari ke bentuk desa bukan hanya sekedar perubahan nama, melainkan merubah sistem, orientasi dan filosofi nagari. Unsur Orde Lama dibersihkan dan corak nagari kemudian diselaraskan dengan kepentingan-kepentingan rezim Orde Baru, akibatnya banyak kelembagaan adat nagari yang dihapuskan dan diganti dengan kelembagaan negara untuk memperkuat dominasi rezim. Nagari sebagai kesatuan masyarakat adat terpecah menjadi beberapa desa. Terdapat 543 desa pada saat pembentukannya di Sumatera Barat, jauh lebih besar dari jumlah nagari yang awalnya sebanyak 300-an kenagarian.18 Secara kultural, perubahan dari
18 Astuti, N. B., Kolopaking, L. M., & Pandjaitan, N. K. (2009). Dilema dalam Transformasi Desa ke Nagari: Studi Kasus di Kenagarian IV Koto Palembayan, Provinsi Sumatera Barat. Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia , 3 (2), 3
pemerintahan nagari ke pemerintahan desa di Sumatera Barat menimbulkan beberapa implikasi. Pertama, kepemimpinan formal terendah telah bergeser dari kepemimpinan kolektif tali tigo sapilin dan tungku tigo sajarangan kepada kepala desa yang sebenarnya cukup legitimed dihadapan warga. Kedua, desanisasi telah merusak adat dan menghilangkan identitas anak nagari dan melunturkan ikatan genealogi.19
Penerapan sistem pemerintahan desa diberlakukan dalam masyarakat minangkabau membuat keberadaan pemegang adat dan penghulu dalam mengontrol adat menjadi berkurang karena diambil alih oleh negara.20 Muncul organisasi yang dibentuk oleh rezim Orde Baru untuk mengontrol adat yaitu Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) bertujuan untuk melestarikan adat, tradisi dan budaya minangkabau serta mengklaim dirinya sebagai wakil masyarakat minangkabau, dalam praktik LKAAM cenderung µEHUDNDUNHDWDV¶NDUHQDVHODOXGLSLPSLQROHK3DUWDL*RONDUVHEDJDLSHQJXDVDPDVD
itu.21 Lembaga-lembaga adat lain yang dibentuk oleh rezim Orde Baru adalah organisasi perempuan (Bundo Kanduang), Cendekiawan (Cadiak Pandai), pegawai negeri, pemuda, wartawan, organisasi perantau dan preman. Bundo Kanduang misalnya, bukan sekedar bertujuan untuk mengkontrol kaum perempuan dalam adat tetapi juga punya tujuan politis, yakni untuk mendorong legitimasi rezim berkuasa.
19 Biezeveld, R. (2010). Ragam Peran Adat di Sumatra Barat. In J. S. Davidson, D. Henley, & S.
Moniaga, Adat Dalam Politik Indonesia (pp. 221-244). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
20 Loc.Cit. Hlm 245
21 Isra, S. (2014). Political and Legal Transformations of an Indonesian Polity: The Nagari from Colonization to Decentralization. Bulletin of Indonesian Economic Studies , 3 (50), 493-495.
Bundo Kanduang seolah dibuat menjadi representasi keseluruhan perempuan minangkabau, ketuanya adalah pengurus dan anggota DPRD Fraksi Golkar.22
Melemahnya peranan tokoh adat asli minangkabau untuk mengkontrol masyarakat adat akibat desanisasi pada masa Orde Baru,23 dibuktikan dengan terpinggirkannya peranan Ninik mamak sebagai keterwakilan adat oleh Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN) yang merupakan organisasi bentukan rezim berkuasa masa itu, dengan demikian demokrasi adat yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat adat asli minangkabau, diambil alih oleh Negara. Orde Baru mencoba menselaraskan seluruh lembaga-lembaga adat agar sesuai dengan kepentingan rezim, penetrasi yang dilakukan oleh Orde Baru dengan kebijakan UU No. 5/1979 tersebut telah membuat nilai adat minangkabau bergeser dan kehilangan legitimasi dalam masyarakat, nilai adat yang asli mulai berubah penetrasi Orde Bary membuat filosofi egalitarianisme yang selama ini dianggap sebagai dasar kebudayaan minangkabau tidak terimplementasikan secara utuh, ada yang melecehkan nilai adat, mensejajarkann adat dan ada pula yang menyanjungnya secara konseptual tapi melecehkan secara operasional.24
4.1.5. Nagari Pariangan masa Reformasi
Proses transformasi kelembagaan menjadi sangat mungkin terjadi di negara dunia ketiga yang pluralitas dan multikulturnya semakin tinggi. Antar negara dan daerah harus selalu melakukan sinkronisasi untuk mendapatkan posisi
22 Ibid.
23 Vel, J., & Bedner, A. (2015). Decentralisation and Village Governance in Indonesia: The Return to the Nagari and the 2014 Village Law. The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law , 47 (3), 493-507.
24 Jamie S. Davidson, D. H. (2010). Adat dalam politik Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
yang legitimate sebagai kelembagaan politik.25 Setelah runtuhnya rezim sentralistik Orde Baru, terdapat dua model struktur yang telah berlaku yaitu berdasarkan Perda Provinsi Sumatera Barat No. 9/2000 Juncto UU No. 22/1999 dan struktur yang berdasarkan Perda No. 2/2007 Juncto No. 32/2004. Keduanya lahir karena spirit budaya dan menonjolkan identitas keminangkabauan, identitas keminangkabauan itu secara substantif menegakkan identitas adat dengan memperkuat peranan Ninik mamak yang sudah hancur dan mengembangkan identitas falsafah adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah.26 Namun dua semangat yang substantif itu tidak juga tercermin dalam struktur yang dilahirkan, peranan Ninik mamak masih saja termajinalkan seperti periode Orde Baru begitu juga falsafah adat yang didengungkan. Keputusan peraturan kembali ke Nagari hanya prosedural saja, tidak menghilangkan kelembagaan-kelembagaan yang dibentuk pada rezim Orde Baru, dampaknya terjadi dualisme kelembagaan nagari yakni, Wali Nagari sebagai pemimpin administrasi dan KAN sebagai pemimpin dan keterwakilan adat minangkabau.
Gesekan di tingkat lokal di minangkabau era reformasi lebih terlihat seperti respon terhadap kondisi politik di tingkatan nasional, semisal bagaimana masyarakat di nagari tampak sangat antusias dengan rencana diberlakukannya kembali adat nagari yang bagi sebagian banyak mereka juga berarti kembalinya originalitas hukum adat dan maksimalisasi usaha penegakan syariat. Antusiasme
25 Yasril, Y. (2007). Model Pemerintahan Nagari Yang Partisipatif dalam Masyarakat Minangkabau. DEMOKRASI , 214.
26 Vel, J., & Bedner, A. (2015). Decentralisation and Village Governance in Indonesia: The Return to the Nagari and the 2014 Village Law. The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law , 47 (3), 493-507.
ini muncul bukan dari romantisisme belaka, tapi juga kepentingan ekonomi politik yang mereka anggap sangat mungkin apabila fungsi kelembagaan nagari dipulihkan dan keputusan-keputusan lokal bisa dikendalikan lagi oleh ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai.
4.2. Ragam Peran Kelembagaan dan Adat Nagari Pariangan
Pada masa sistem pemerintahan nagari sebelum kolonial, kehidupan sosial dan politik nagari khususnya nagari pariangan di dominasi oleh pemimpin informal yang disebut ninik mamak, alim ulama dan cadiak pandai serta angku palo sebagai kelembagaan yang membantu unsur adat tersebut.27 Sebagaimana tergambar pada bagan dibawah ini;