• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMUNCULAN GERAKAN PETANI DAN AKSI REKLAIM

Bab ini menjelaskan mengenai beberapa runtutan sejarah kemunculan gerakan petani hingga aksi reklaim lahan di OTL Sukamukti. Kisah perjuangan dimulai dengan pemaparan singkat mengenai sejarah perkebunan di Tatar Pasundan, lalu beralih pada sejarah lahan garapan masyarakat di OTL Sukamukti. Titik puncak cerita dalam bab ini adalah pada bagian sub bab munculnya gerakan perlawanan petani hingga pengorganisasian aksi reklaim. Pada bab ini pula akan dijelaskan secara lengkap kronologi kisah perebutan tanah antara masyarakat di OTL Sukamukti dengan pihak perkebunan PTPN VIII Dayeuh Manggung.

Sejarah Perkebunan di Tatar Pasundan

Berbicara mengenai penguasaan tanah di Jawa Barat tentunya tidak dapat dilepaskan dari masa pemerintahan Belanda. Saat itu Tatar Pasundan terutama antara Garut dan Tasikmalaya dimanfaatkan untuk areal perkebunan. Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam mengembangkan areal perkebunan di Garut adalah K.F. Holle.7

Pada tahun 1828, masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Penerapan Cultuurstelsel menjadikan tanaman teh sebagai salah satu komoditi yang harus ditanam rakyat. Dalam peraturan yang ditetapkan pemerintah kolonial berbunyi bahwa setiap desa harus menyediakan 1/5 tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor dan panennya dijual ke pemerintah dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Peraturan itu juga mewajibkan rakyat yang tidak punya lahan harus bekerja selama 75 hari dalam setahun. Dalam praktiknya, semua lahan harus ditanami dengan komoditas yang ditentukan oleh pemerintah dan mereka yang tidak punya lahan harus bekerja setahun penuh di perkebunan.

Sejarah mencatat perusahaan perkebunan milik negara yang berada di Jawa Barat dan Banten berasal dari perusahaan perkebunan milik pemerintah Belanda. Perusahaan perkebunan tersebut ketika penyerahan kedaulatan secara otomatis menjadi milik pemerintah Republik Indonesia, yang kemudian dikenal dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Lama. Antara tahun 1957 – 1960 dalam rangka nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan perkebunan eks milik swasta Belanda/Asing (antara lain : Inggris, Perancis dan Belgia) dibentuk PPN-Baru cabang Jawa Barat.

Kemudian, pada periode 1960–1963 terjadi penggabungan perusahaan dalam lingkup PPN-Lama dan PPN-Baru menjadi: PPN Kesatuan Jawa Barat I,

7

Karel Frederik Holle, lahir di Amsterdam pada tahun 1829 dan meninggal di Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1896. Dalam usia empat belas tahun, bersama kedua orang tuanya ia datang ke Hindia Belanda dan pada tahun 1846 menjadi pegawai kantor pemerintah. Pada tahun 1856 ia meninggalkan jabatan ini untuk mengelola perkebunan teh. Holle membuka perkebunan teh Waspada Garut dan menjadi administratur perkebunan tersebut sampai dengan meninggalnya.

PPN Kesatuan Jawa Barat II, PPN Kesatuan Jawa Barat III, PPN Kesatuan Jawa Barat IV dan PPN Kesatuan Jawa Barat V. Selanjutnya selama periode 1963 – 1968 diadakan reorganisasi dengan tujuan agar pengelolaan perkebunan lebih tepat guna, dibentuk PPN Aneka Tanaman VII, PPN Aneka Tanaman VIII, PPN Aneka Tanaman IX dan PPN Aneka Tanaman X, yang mengelola tanaman teh dan kina, serta PPN Aneka Tanaman XI dan PPN Aneka Tanaman XII yang mengelola tanaman karet. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan, pada periode 1968 – 1971, PPN yang ada di Jawa Barat diciutkan menjadi tiga Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) meliputi 68 kebun, yaitu :

a) PNP XI berkedudukan di Jakarta (24 perkebunan), meliputi perkebunan-perkebunan eks PPN Aneka Tanaman X, dan PPN Aneka Tanaman XI;

b) PNP XII berkedudukan di Bandung (24 perkebunan), meliputi beberapa perkebunan eks PPN Aneka Tanaman XI, PPN Aneka Tanaman XII, sebagian eks PPN Aneka Tanaman VII, dan PPN Aneka Tanaman VIII; c) PNP XIII berkedudukan di Bandung (20 perkebunan), meliputi

beberapa perkebunan eks PPN Aneka Tanaman XII, eks PPN Aneka Tanaman IX, dan PPN Aneka Tanaman X.

Sejak tahun 1971, PNP XI, PNP XII dan PNP XIII berubah status menjadi Perseroan Terbatas Perkebunan (Persero). Dalam rangka restrukturisasi BUMN Perkebunan mulai 1 April 1994 sampai dengan tanggal 10 Maret 1996, pengelolaan PT Perkebunan XI, PT Perkebunan XII, dan PT Perkebunan XIII digabungkan di bawah manajemen PTP Group Jabar. Selanjutnya sejak tanggal 11 Maret 1996, PT Perkebunan XI, PT Perkebunan XII, dan PT Perkebunan XIII dilebur menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

Perusahaan ini didirikan dengan maksud dan tujuan untuk menyelenggarakan usaha di bidang agro bisnis dan agro industri, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan barang dan/ atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, serta mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas. Kegiatan usaha perusahaan meliputi pembudidayaan tanaman, pengolahan/produksi, dan penjualan komoditi perkebunan Teh, Karet, Kelapa Sawit, Kina, dan Kakao.

Sejarah Lahan Garapan di Desa Sukamukti

Awal mula sejarah lahan garapan di Kecamatan Cilawu yang mencangkup tiga desa yaitu Desa Mekarmukti, Desa Sukamukti, dan Desa Dangiang merupakan lahan kehutanan. Dimulai sejak tahun 1940 masyarakat disana menggarap di lahan Pasiran Kimerak yag saat itu masih berupa hutan. Hingga akhirnya pada tahun 1974 datang perusahan perkebunan negara yang disebut PTPN VIII Dayeuh Manggung. PTPN VIII Dayeuh Manggung kala itu mengantongi Hak Guna Usaha (HGU) seluas 2000 ha termasuk lahan yang digarap masyarakat.

Masyarakat Sukamukti yang tidak mempunyai lahan karena diambil alih oleh pihak PTPN VIII akhirnya membabat hutan Gunung Cikuray untuk dijadikan areal bercocok tanam. Di tahun yang sama PTPN VIII memperluas areal perkebunannya dengan cara mengambil alih seluruh lahan yang pernah digarap masyarakat seluas 14 Ha. Akibat perebutan tanah masyarakat oleh pihak perkebunan tersebut banyak warga yang kehilangan mata pencaharian sebagai petani. Untuk bertahan hidup, tidak sedikit dari warga yang pergi keluar desa untuk berdagang golok di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Bogor dan lainnya. Namun sebagian masih tetap bertahan di desa bekerja menjadi buruh ataupun berjualan untuk menopang kehidupan keluarga.

Munculnya Gerakan Perlawanan Petani

Situasi krisis yang melanda perekonomian negeri ini sejak tahun 1997 ternyata berdampak baik kepada para petani kecil dan buruh tani khusunya di Jawa Barat. Gerakan-gerakan reformasi muncul di mana-mana oleh kalangan mahasiswa yang menuntut agar era pemerintahan Soeharto berakhir. Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998 dari tampuk kekuasaan presiden yang telah ia jabat selama kurang lebih 32 tahun. Mundurnya Soeharto dari jabatan presiden secara tak langsung mengubah tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang ada pada saat itu. Suasana otoriter dan represif kala pemerintahan Soeharto berangsur menjadi lebih demokratis dan transparan (Aji,2005).

Keruntuhan era Soeharto pun memberi pengaruh yang positif bagi kebebasan berbicara dan berpendapat bagi seluruh masyarakat khususnya kaum kecil (wong cilik). Selain itu masa reformasi tersebut juga menjadi ladang yang subur bagi sejumlah organisasi rakyat baik di tingkat lokal atau nasional untuk melancarkan sejumlah aksi tuntutan-tuntutan mereka kepada pemerintah8. Salah satu organisasi rakyat saat itu adalah SPP (Serikat Petani Pasundan) yang juga diresmikan pada awal-awal masa reformasi negeri ini.

Di satu sisi membawa „angin segar‟ reformasi di negeri ini, di sisi lain

situasi kritis yang melanda Ibu Kota saat itu juga berdampak buruk bagi

8

Organisasi rakyat khususnya kaum tani yang lahir pada era reformasi antara lain; Koalisi Tani Indonesia (KTI), Aliansi Petani Indonesia (API), Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI), Serikat Tani NAsional (STN), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Koalisi Rakyat Tani Indonesia (KRTI), dan berbagai serikat tani yang menggunakan nama kedaerahan seperti Serikat Petani Banten, Paguyuban Petani Caianjur, Aliansi Petani Yogyakarta, Serikat Tani Bengkulu , Forum Aktivis Tani Jawa Timur (FAKTA Jatim) dan sebagainya.

“Dulu sewaktu perkebunan masih aktif tahun 1997 lah,

sebelum lengser Pak Harto sebelum adanya kasus Trisakti itu, masyarakat di sini tuh urban. Mereka merantau ke kota-kota besar ada yang ke Bogor, yang ke Jakarta mana sajalah jualan golok kan mayoritas warga dari sini. Kalau yang masih di kampungnya, mereka berjualan kayu bakar atau daun tisuk

perekonomian bangsa ini khususnya di daerah perkotaan. Banyak pegawai swasta dan buruh-buruh di perkotaan terkena PHK karena perusahaannya terkena krisis. Keadaan diperparah dengan harga-harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi dan tidak sesuai dengan dengan pendapatan yang diperoleh. Akibatnya banyak masyarakat kecil yang tinggal di kota-kota besar memilih untuk pulang kampung. Hal serupa terjadi pada masyarakat di desa Sukamukti yang berdagang ke kota. Pada masa krisis saat itu, sebagian besar warga memilih untuk pulang kampung.

Situasi di desa Sukamukti saat itu pun bukan tanpa masalah, para warga yang akhirnya terpaksa pulang karena kerusuhan 1998 tersebut harus berpikir keras bagaimana untuk bertahan hidup karena pada saat itu mereka tidak mempunyai lahan. Situasi krisis dan dorongan kondisi sosial ekonomi yang rendah saat itu akhirnya mempengaruhi keberanian kalangan petani kecil dan buruh tani untuk membuka kembali kasus tanah perkebunan PTPN VIII Dayeuh Manggung. Keinginan itu diperkuat melalui pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh aktivis dari FPPMG dan YAPEMAS yang diikuti juga oleh para petani dari Mekarmukti dan beberapa dari Dangiang. Dari serangkaian diskusi dan investigasi tersebut diketahui bahwa HGU PTPN VIII Dayeuh Manggung (nomor 15/HGU/DA/72) yang berada di beberapa wilayah desa termasuk Sukamukti, Mekarmukti, dan Dangiang telah habis masa berlakunya sejak tahun 1997.

Pihak PTPN VIII pada awalnya memberikan ijin kepada para petani untuk menggarap lahan tidur dengan beberapa persyaratan. Petani penggarap diperbolehkan untuk sewa garap selama enam bulan dan diwajibkan untuk membayar sewa kepada pihak PTPTN VIII Dayeuh Manggung. Para petani yang saat itu membutuhkan tanah menyanggupi perjanjian tersebut dengan masa kontrak dari bulan Mei 1998 sampai dengan awal Juli 1999 selama satu tahun untuk 77 KK. Uang sewa yang ditetapkan oleh pihak perkebunan sebesar Rp 4000/KK.

Pada tanggal 29 Juni 1999, terjadi pembatalan perjanjian secara sepihak oleh pihak PTPN VIII. Saat itu masyarakat belum sempat memanen hasil kebunnya, namun pihak perkebunan menutup lahan tersebut dan menancapkan plang bahwa lahan tersebut tidak boleh digarap. Aksi pembatalan perjanjian secara sepihak inilah yang kemudian mengundang amarah warga terhadap pihak perkebunan. Aksi yang dilakukan oleh pihak perkebunan tersebut dinilai tidak hanya menodai perjanjian yang telah disepakati bersama, namun juga membuat masyarakat menderita karena pasalnya lahan tersebut setidaknya telah menjadi sumber penghasilan dan penghidupan bagi masyarakat.

Masyarakat yang tertindas oleh dominasi pihak perkebunan yang juga disokong oleh pemerintah dan militer, mau tidak mau akhirnya bergerak untuk melawan kondisi tersebut. Setidaknya, aksi perlawanan masyarakat telah

“Sesudah terjadi reformasi tuh pada pulang itu masyarakat semuanya ke rumah. Kan yang namanya terjadi krisis moneter, rakyat Indonesia ini jangankan untuk membeli golok, untuk sesuap nasi saja tuh di kota

ini susah. Akhirnya pada diam semua dikampung.”-

dilakukan sejak tahun 1998 hingga awal tahun 2000, atau dapat dikatakan juga bahwa aksi masyarakat telah terjadi bahkan sebelum SPP dan OTL Sukamukti ini dideklarasikan pada tahun 2000 dan 2001. Seperti yang juga dijelaskan oleh AS:

Rasa takut dan tekanan yang dialami masyarakat tersebut namun lambat laun berubah menjdi semangat untuk menumpas bentuk „kolonialisme baru‟ yang terjadi di desa Sukamukti. Masyarakat yang pada awalnya tidak menyadari penindasan yang dilakukan oleh pihak perkebunan, mulai menyadari akibat dari aksi perlawanan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh desa.

Petani dan mereka yang memperjuangkan agraria memang kerap diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), berangkat dari organsiasi

underbow PKI yakni Barisan Tani Indonesia (BTI) yang menggaungkan secara

Kalau waktu itu saya bisa dibilang angkatan kedua. Awal mulanya yang memimpin gerakan di desa ini kan Abah Iri dan Abah Ganda. Waktu itu saya bukan tokoh bahkan saya hanya sebatas ikut-ikutan karena saat itu ada tokoh lama seperti abah Ganda dan abah Iri, juga belum ada OTL atau SPP. Tiba-tiba saat itu masyarakat merasa tertekan dengan ancaman ancaman militer, TNI, polisi, ah camat juga ikutan- ikutan waktu itu dan kepala desa juga tidak mendukung, tidak ada dukungan untuk gerakan rakyat. Mereka semua itu (muspika, TNI, kepala desa, camat) tergabung dengan perkebunan waktu tokohnya Mang Iri. Saya saat itu cuma ikut-ikutan, menggarap lahan aja engga. Mengapa saat itu saya hanya ikut-ikutan karena saat itu saya tidak paham persis lah apa itu peran fungsi tanah, apalagi mengenai Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Masyarakat yang sedang membabat di lokasi didatangi preman, polisi terus kabur, babat lagi datang lagi polisi kabur lagi, begitu seterusnya. Melihat masyarakat yang seperti tidak ada rasa ketenangan, saat itu lah rasa pertanggungjawaban saya muncul walaupun saya tetap belum mengerti apa itu tentang reforma agraria.” (Bapak AS-50 tahun)

“Hingga suatu saat pernah sampai ada yang tanamannya (masyarakat) dibakar oleh preman perkebunan. Ketika saya dan istri saya cari kayu bakar ke lokasi di lokasi sudah berkumpul polisi, koramil, camat dan tokoh, tokoh yang anti petani tentunya. Rasa tanggung jawab saya muncul terhadap masyarakat disini ketika mendengar kata-kata dari orang koramil yang mengatakan bahwa bila ada gerakan- gerakan seperti itu adalah PKI. Masyarakat disebut PKI lah, pemberontak yang disebut anti pembangunan segala macam, pokonya masyarakat yang menggarap di lahan tidur adalah PKI baru. Dari situ saya mulai berani bicara

dan menjelskan siapa penjahat dibalik PKI sebenarnya”

vokal tentang land reform. Hingga saat ini tidak jarang masih muncul stigma negatif yang ditujukan pada aktor atau siapapun yang terlibat dengan pembaharuan agraria. Terlebih pada tahun-tahun awal pasca-reformasi, seperti telah disebutkan sebelumnya tindakan otoriter dan represif orde baru memang

telah berhasil menciptakan „pemikiran‟ baru masyarakat dengan ideologi „anti-

kiri‟. Namun hal tersebut juga yang akhirnya membangkitkan aksi perlawanan masyarakat di desa Sukamukti, khusnya para tokoh-tokoh desa. Dengan paham yang menjunjung tinggi keadilan dan ketentraman bagi para petani dan desanya sendiri, beberapa tokoh masyarakat mulai melakukan aksi pembabatan lanjutan (setelah sebelumnya sempat terhenti akibat tekanan pihak perkebunan) namun kali ini dengan jumlah yang lebih banyak dan dengan semangat yang berbeda. Karena secara hukum dan legalitas, masyarakat juga menganggap tindakan mereka tidak salah karena HGU perkebunan telah habis pada tahun 1997.

Seiring dengan waktu, masyarakat semakin terang-terangan dan masif

melakukan aksi „pembabatan‟ tanaman teh di kawasan eks-HGU desa Sukamukti. Walaupun sempat terus menerus ditekan baik oleh pihak perkebunan, preman hingga TNI dan Polri, masyarakat justru semakin kompak dan memiliki cara tersendiri dalam menghindari kontak dengan pihak-pihak tersebut.

Pengorganisasian Aksi Reklaim

Awal mula pembukaan lahan di desa Sukamukti dipimpin oleh beberapa tokoh lokal seperti GN, AM, IR, dan SE. Mereka adalah pelopor utama pergerakan di desa tersebut. Aksi dilancarkan pada malam hari di wilayah perkebunan PTPN VIII. Mereka berangkat setelah magrib dan baru kembali pagi hari setelah membabat habis pohon teh. Aksi pertama di malam itu diikuti oleh sekitar 50 orang dengan membabat habis kurang lebih 1000 pohon teh. Malam berikutnya massa petani yang turut membabat pohon teh bertambah menjadi 70 orang dan membabat sekitar 5000 pohon teh. Pada malam ketujuh bergabung 10 orang yang meminta untuk membuka lahan di blok Kiara Lawang. Bersama dengan 10 orang tambahan ini ratusan warga akhirnya membabat sekitar 10.000

“Soal kontrak perkebunan juga saya mengerti, kontrak

perkebunan ini telah habis (HGU-nya), kalau memang perkebunan masih memerlukan ya bawa saja tanamannya cabutin. Setelah itu tidak ada keputusan tapi TNI bilang jangan ada yang menggarap dulu tapi waktu itu saya

bilang „Garap! tidak ada yang boleh melarang, bila camat melarang juga usir!‟. Pada awalnya saya sempet

membabat (kebun teh) sendiri, tapi suatu hari saat saya sedang membabat datang kakak ipar saya yang ikut ngebabat. Pertama satu orang, lalu dua orang, besoknya enam, besoknya lagi sepuluh, tiga puluh sampai pada

pohon teh di blok Ciledug yang kemudian digarap oleh petani. Blok yang berhasil direbut antara lain Blok Kiara Lawang, Blok Batu Sirep, Blok Ciledug, Blok Legog Haji dan Blok Hantap.

Lebih lanjut, dalam kaitannya dengan pengorganisasian aksi reklaim, masyarakat memang kerap melakukan musyawarah secara rutin yang tujuannya adalah untuk membahas pembagian tanah hingga strategi perlawanan yang dilakukan. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa masyarakat semakin solid dan kokoh setelah tergabung secara kolektif dalam melakukan klaim tanah eks- HGU di desa Sukamukti. Terlebih pasca bergabung dengan OTL-SPP, masyarakat desa Sukamukti semakin mampu bangkit dari penindasan untuk melawan pihak yang dianggap merugikan mereka. Kisah perkenalan masyarakat Sukamukti dengan SPP dijelaskan oleh penuturan Bapak UO sebagai berikut:

Aksi masyarakat memang semakin besar waktu tahun 2000. Pokonya waktu itu siapa yang butuh lahan garapan boleh ikut. Tapi dalam aksi juga tidak selalu lancar. Harus „ucing-

ucingan‟ sama pihak sana, harus harus siap berangkat mau siang atau malem. Sampe ada orang yang tugasnya ngecek dari kayu (pohon) gimana kondisi di lokasi. Tapi pernah ada

kejadian kita „saling serang‟ sama orang-orang sana,

masyarakat sampe bawa golok, „gaet‟ dan sejenisnya,

akhirnya orang-orang perkebunan sama preman-premannya kabur. Walaupun ada mandornya yang ketangkep sama

masyarakat, tapi masyarakat ga sakpe „ngehakimin‟ sendiri,

masyarakat langsung ngehubungin polisi, dan syukur alhamdulillah dari kejadian itu ga ada korban baik dari pihak

perkebunan ataupun masyarakat” (Bapak IR-60 Tahun)

“Sebelumnya kami sangat takut dengan tekanan-tekanan dari pihak kepolisian (yang merupakan suruhan perkebunan). Akhirnya kita cari informasi siapa yang bisa mendampingi kita

ya istilahnya menjadi pengacara yang gratis yang “lillahita‟ala” untuk mensukseskan perjuangan masyarakat disini. Kebetulan ada yang namanya Pak AL, yang merupakan saudaranya Pak GN dan Pak IR, beliau mengatakan bahwasanya jikalau ingin memperjuangkan tanah perkebunan sudah saja datang ke daerah Garut Selatan, disana ada yang bernama Pak AD.Pak IR, Pak GN dan Pak AM lalu datang kesana mencari informasi. Akhirnya didapat informasi jika ingin memperjuangkan tanah datang saja ke Garut ke FPPMG karena ada yang namanya Pak Agustiana dengan teman-temannya. Lalu mereka datang kesana dan

ternyata disambut baik, diberi motivasi „kalau kamu butuh tanah babat aja!‟ seperti itu kira-kira. Dimulai dari sana datanglah pendampingan-pendampingan, pendidikan masalah pertanahan, pendidikan masalah keberanian agar kita tidak takut karena ini sudah reformasi artinya kita sudah bebas dari belenggu

Perjuangan terus menerus dilakukan baik melalui jalur formal seperti mendatangi BPN Kanwil Jawa Barat di Bandung untuk menyampaikan masalah lahan garapan mereka dan menolak perpanjangan HGU PTPN Nusantara VIII hingga perundingan dengan pihak perkebunan. Secara lengkap kronologis kasus tanah di desa Sukamukti tertera pada Tabel 6.

Tabel 6 Kronologis kasus tanah di Desa Sukamukti

Waktu Peristiwa

1940 Masyarakat menggarap tanah yang pada saat itu dikelola oleh Kehutanan

1974 HGU dimiliki PTPN Nusantara VIII

1974-1997 PTPN Nusantara VIII juga menggarap lahan yang dikelola masyarakat

1997 HGU PTPN Nusantara VIII berakhir

1998

Pihak PTPN Nusantara VIII memberikan ijin kepada petani untuk menggarap lahan tidur dengan sewa garap selama 6 bulan dan diwajibkan untuk membayar sewa kepada pihak PTPN Nusantara VIII

29 Juni 1998

PTPN Nusantara VIII membatalkan perjanjian tersebut secara sepihakdengan menutup lahan tersebut dan menancapkan tapal batas bahwa lahan tersebut tidak boleh digarap

13 Juli 1999 Masyarakat Sukamukti bersama dengan Mahasiswa melakukan pertemuan dengan beberapa aparat militer dari koramil setempat 14 Juli 1999

Masyarakat di Desa Sukamukti mendapat panggilan dari koramil yang tujuannya untuk segera membuat proposal permohonan penggarapan

29 Januari 2000

Petani penggarap diserbu oleh preman yang dikondisikan oleh pihak PTPN Nusantara VIII

19 Juli 2000 Petani penggarap mendatangi DPR/MPR

3-5 Oktober 2000

Pihak Dalmas Polres Garut mendatangi petani penggarap untuk melakukan pengamanan, karena petani tetap bersikeras untuk menggarap lahan tersebut. Petani penggarap karena kesal terhadap Dalmas Polres Garut, dengan cara dialog dan adu argumentasi yang panjang berhasil mengusir Dalmas Polres Garut

Ikhtisar

Perjuangan petani di OTL Sukamukti untuk mendapatkan lahan dimulai sejak awal tahun 1998 tepatnya berkenaan dengan runtuhnya rezim pemerintahan orde baru pimpinan Soeharto. Warga Sukamukti yang dahulunya merantau ke kota berjualan golok akhirnya kembali ke desa akibat sulitnya perekonomian kala itu. Di desa mereka berfikir cara untuk bertahan hidup, jalan satu-satunya kala itu adalah dengan menggarap kembali lahan perkebunan yang sempat diambil oleh pihak perkebunan. Situasi memanas ketika semakin banyak warga yang membutuhkan lahan akhirnya membuka lahan cadangan perkebunan. Pihak perkebunan memandang aksi tersebut sebagai aksi penjarahan dan perusakan perkebunan yang dilakukan oleh petani. Pihak perkebunan akhirnya melaporkan kejadian tersebut pada pihak kepolisian. Saat itu warga terus melakukan

Dokumen terkait