BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.3 Risiko Kecelakaan Kerja pada Pengguna Scaffolding di
4.3.1 Kemungkinan
Tiga orang pekerja yang melakukan pemasangan bata di lantai 8 berada di ketinggian 27,2 m di atas tanah. Para pekerja berada di atas scaffolding yang banyak sudah bengkok dan berkarat tetapi tidak ada rasa takut ketika memanjat dan menuruni
scaffolding dan berpijakan dengan papan triplek. Batu bata yang berat dipasang satu per satu oleh para pekerja yang bekerja dengan sikap berdiri selama 3 jam. Batu bata dilumuri campuran semen dan pasir agar menempel satu dengan yang lainnya, tetapi tidak jarang juga batu bata tersebut terjatuh dan pecah sehingga banyak pecahan batu bata di sekitar pekerja berdiri.
Batu bata sering ditekan atau dipukul dengan ujung sekop semen untuk memastikan bahwa batu bata tersebut sudah menempel. Namun tidak jarang juga batu bata yang telah dipasang roboh karena tidak kuat dan banyak campuran semen dan pasir untuk menempelkan batu bata tersebut. Batu bata yang menumpuk di sekitar pekerja memiliki debu yang banyak terlebih ketika dihembus angin kencang. Para pekerja dalam memasang bata tidak memakai alat pelindung diri yang baik dan benar, seperti sepatu boot, topi pengaman yang kuat, masker, tali pengait tubuh, melainkan
para pekerja hanya memakai sepatu kain bahkan ada yang memakai sandal dan tidak memakai alas kaki dan topi kain biasa yang tidak dapat melindungi kepala ketika dari atas kejatuhan benda.
Dalam proses pemasangan bata yang dilakukan oleh pekerja ditemukan 11 risiko kecelakaan kerja, diantaranya :
1. Main frame scaffolding yang berkarat, berat dan bengkok 2. Memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame
3. Papan pijakan terbuat dari kayu triplek 4. Berada di ketinggian 27,2 m
5. Sikap kerja berdiri selama 3 jam 6. Batu bata yang berat
7. Banyak pecahan batu bata
8. Menekan atau memukul bata dengan ujung sekop semen 9. Material yang digunakan
10.Pasangan bata roboh 11.Tidak memakai APD
Tabel 4.1 Kemungkinan Risiko Kecelakaan Kerja pada Penguna Scaffolding saat Memasang Bata di Proyek Pembangunan Hotel Gatoto Subroto Medan Tahun 2012
No Lokasi Pekerja Kemungkinan
1. Lantai 8 Sangat mungkin untuk terjatuh dan tertimpa main frame,
terperosok, tergores, tergelincir, tertimpa bata dan merasa lelah. Mungkin untuk tertiban atau tertimpa bata dan benda jatuh atau kejatuhan material, tergores, tertumbuk atau terkena ujung sekop semen. Kurang mungkin untuk tersandung material
Kondisi main frame yang banyak sudah bengkok dan berkarat yang tersusun satu persatu dari 32 main frame hingga mencapai ketinggian 27,2 m atau lantai 8 dengan berat mencapai 480-640 kg sangat memungkinkan pekerja terjatuh dari lantai 8 kemudian tertimpa main frame-main frame tersebut terlebih ketika para pekerja sedang melakukan pemasangan bata di depan pembangunan hotel yang tepat berada di pinggir jalan yang ramai dengan kendaraan. Hal ini membuat psikis kejiwaan para pekerja terganggu dan tidak berkonsentrasi. Para pekerja yang memanjat dan menuruni scaffolding dari besi-besi pada main frame dapat mengurangi kekuatan
main frame sehingga sangat memungkinkan besi tersebut patah dan kaki terperosok dan tergores. Ketika memanjat scaffolding pekerja dapat mengurangi keseimbangan
scaffolding sehingga sangat memungkinkan scaffolding menjadi roboh dan menimpa pekerja. Ketika menuruni scaffolding pekerja tidak sepenuhnya dapat melihat kaki mereka berpijak di besi-besi main frame sehinggaa sangat memungkinkan kaki pekerja terperosok dan menyebabkan robohnya scaffolding tersebut. Papan triplek yang banyak digunakan para pekerja untuk berpijak di atas scaffolding sangat memungkinkan triplek patah dan pekerja terperosok dan terjatuh, karena kekuatan triplek yang digunakan tidak sebanding dengan beban pekerja sehingga tidak tepat digunakan untuk menopang pekerja yang berada di atas scaffolding dengan ketinggian 27,2 m.
Dalam pemasangan bata, pekerja bekerja dengan sikap berdiri kemudian membungkuk untuk mengambil bata dan berdiri kembali. Para pekerja bekerja berdiri selama 3 jam yang sangat memungkinkan pekerja mengalami kelelahan pada otot-otot skeletal, kenyerian pada pinggang dan ketegangan pada kaki dan betis. Batu bata
yang dipasang satu per satu direkatkan dengan campuran semen dan pasir sangat memungkinkan untuk roboh apabila campuran semen dan pasir tidak banyak diberikan untuk menempelkan batu bata sehingga tidak kuat.
Ketika akan memasang bata, ketiga pekerja harus mengangkat batu bata yang berat. Apabila tidak diangkat dengan benar memungkinkan batu bata tersebut terjatuh yang mengakibatkan pekerja tertimpa bata. Disekitar pekerja terlihat banyak pecahan batu bata yang berserakan karena terjatuhnya bata-bata tersebut. Para pekerja yang memakai sepatu kain, sandal dan tidak memakai alas kaki, memungkinkan terpijak pecahan-pecahan bata dan melukai kaki seperti luka gores. Ketiga pekerja terlihat menekan-nekan atau memukul-mukul bata dengan ujung sekop semen dengan tujuan untuk menguatkan bata-bata yang telah dipasang. Ketika menekan bata-bata tersebut, terlihat jari pekerja berada sangat dekat dengan bata, yang memungkinkan jari-jari pekerja tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
Batu bata yang akan dipasang menumpuk disekitar pekerja yang memiliki debu terlebih ketika dihembus angin. Para pekerja tidak menggunakan masker dan ini memungkinkan debu-debu bata tersebut terhirup oleh pekerja. Para pekerja juga tidak menggunakan topi pengaman yang kuat yang memungkinkan kejatuhan material dari atas. Dalam pemasangan bata, material yang digunakan umumnya diletakkan di bawah sekitar kaki pekerja. Material yang paling banyak digunakan adalah sekop semen yang selalu yang dipegang oleh pekerja. Sehingga material lain yang digunakan kurang memungkinkan untuk tersandung pekerja karena pekerja lebih banyak menggunakan sekop semen.
4.3.1.2 Pemelesteran
Tujuh pekerja yang melakukan pemelesteran berada di lantai yang berbeda-beda. Dua pekerja berada di lantai 2, dua pekerja berada di lantai 6, satu pekerja berada di lantai 7 dan dua pekerja berada di lantai 8. Sama halnya dengan pemasangan bata, pemelesteran juga menggunakan scaffolding. Main frame yang digunakan dalam pemelesteran juga dalam kondisi yang sama yaitu banyak yang sudah bengkok dan berkarat. Main frame-main frame tersebut disusun satu per satu hingga ada yang mencapai ketinggian 6,8 m ; 20,4 m ; 23,8 m dan 27,2 m. Para pekerja berada di ketinggian yang berbeda. Semakin tinggi lantainya maka main frame yang digunakan tentu semakin banyak. Para pekerja yang menggunakan
scaffolding untuk melakukan pemelesteran memanjat dan turun dari besi-besi pada
main frame.
Para pekerja mengambil campuran semen dengan sekop semen untuk menutupi batu-batu bata yang telah dipasang. Campuran semen terbuat dari semen, pasir dan air yang kemudian dicampur menjadi satu. Proses pencampuran dalam jumlah yang banyak biasanya dilakukan di dalam bangunan, kemudian para pekerja mengambil sedikit demi sedikit yang diletakkan ke dalam ember dan dibawa ke dekat para pekerja untuk memudahkan dalam pemelesteran. Tidak jarang jika campuran tersebut dirasa kurang, maka para pekerja mengambil semen dengan tangan dan menambahkannya ke dalam ember kemudian diaduk. Namun ada juga pekerja yang mengaduk campuran semen dan pasir di triplek yang dijadikan sebagai tempat pijakan. Ketika memplester, tidak jarang campuran semen tumpah dan jatuh ke
triplek tempat pijakan. Terlihat bahwa pada tangan dan kaki pekerja banyak menempel campuran semen.
Ada yang memplester dengan sikap berdiri sambil membungkuk dan ada yang jongkok yang keduanya dilakukan dengan berpijakan pada kayu ataupun triplek. Pemelesteran dilakukan selama 60 menit hingga 5 jam tergantung borongan yang ditugaskan kepada pekerja. Pemelesteran dilakukan sampai batu-batu bata yang telah dipasang tertutupi semua, yang tidak hanya dilakukan dibagian dinding luar saja tetapi juga dibagian dalam dan pinggir-pinggir jika memplester dibagian jendela. Beberapa pekerja ada yang menggunakan sepatu kain ketika memplester, namun ada juga yang tidak memakai alas kaki, sangat sedikit yang memakai topi. Masker yang digunakan juga kebanyakan adalah baju-baju yang dilipat kemudian diikatkan ke wajah yang dijadikan sebagai masker. Tali pengait tubuh untuk melindungi dan menarik tubuh ketika terjatuh dari lantai atas juga tidak digunakan. Para pekerja terlihat sangat menikmati pekerjaan walaupun sedang berada di ketinggian dan tidak menggunakan alat pelindung diri yang benar dan safety.
Dalam proses pemelesteran ditemukan ada 10 risiko kecelakaan kerja, diantaranya :
1. Main frame scaffolding yang bengkok, berat dan berkarat 2. Memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame
3. Papan pijakan terbuat dari kayu triplek 4. Berada di ketinggian 6,8 m – 27,2 m
5. Sikap kerja berdiri dan jongkok selama 60 menit – 5 jam
7. Sekop semen yang digunakan 8. Adukan semen
9. Batu bata yang telah dipasang 10.Tidak memakai APD
Tabel 4.2 Kemungkinan Risiko Kecelakaan Kerja pada Pengguna Scaffolding saat Memplester di Proyek Pembangunan Hotel Gatoto Subroto Medan Tahun 2012
No. Lokasi Pekerja Kemungkinan
1. Lantai 2 Sangat mungkin untuk terperosok dan terjatuh, terpeleset, tertimpa benda jatuh atau kejatuhan material.
Mungkin untuk terciprat dan terbentur. Kurang mungkin untuk terjatuh dan tertimpa main frame,
tergores dan tergelincir, merasa lelah, tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
2. Lantai 6 Sangat mungkin untuk terperosok dan terjatuh, terpleset.
Mungkin untuk terjatuh dan tertimpa main frame,
tergores dan tergelincir, terciprat, terbentur dan tertimpa benda jatuh atau kejatuhan material. Kurang mungkin
untuk merasa lelah dan tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
3. Lantai 7 Sangat mungkin untuk terjatuh dan tertimpa main frame,
tergores dan tergelincir, terperosok, terpleset. Mungkin
untuk terciprat, terbentur, tertimpa benda jatuh atau kejatuhan material. Kurang mungkin untuk merasa lelah dan tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
4. Lantai 8 Sangat mungkin untuk terjatuh dan tertimpa main frame,
tergores dan tergelincir, terperosok, terpleset dan merasa lelah. Mungkin untuk terciprat, terbentur dan tertimpa benda jatuh atau kejatuhan material. Kurang mungkin
untuk tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
Main frame yang bengkok dan berkarat yang tersusun satu per satu pada ketinggian yang berbeda dan berat yang berbeda tentu memiliki kemungkinan yang berbeda-beda pada pengguna scaffolding. Scaffolding yang digunakan di lantai 2 menggunakan 8 main frame yang mencapai ketinggian 6,8 m dan berat yang kurang lebih 120 – 160 kg kurang memungkinkan pekerja di lantai 2 terjatuh dan tertimpa
main frame. Scaffolding yang digunakan di lantai 6 menggunakan 24 main frame
yang mencapai ketinggian 20,4 m dan berat yang kurang lebih 360 – 480 kg memungkinkan pekerja di lantai 6 terjatuh dan tertimpa main frame. Scaffolding yang digunakan di lantai 7 menggunakan 28 main frame yang mencapai ketinggian 23,8 m dan berat yang kurang lebih 420 – 560 kg sangat memungkinkan pekerja di lantai 7 terjatuh dan tertimpa main frame. Begitu pula dengan scaffolding yang digunakan di lantai 8 yang menggunakan 32 main frame yang mencapai ketinggian 27,2 m dan berat yang kurang lebih 480 – 640 kg juga sangat memungkinkan pekerja di lantai 8 terjatuh dan tertimpa main frame. Semakin tinggi lantai pekerja bekerja maka main frame yang digunakan semakin banyak dan tentu saja semakin berat.
Para pekerja memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame tanpa ada rasa takut. Padahal besi-besi pada main frame berfungsi untuk menguatkan
scaffolding. Jika hal ini dilakukan pada pekerja di lantai 2 kurang memungkinkan pekerja untuk terperosok dan tergores karena scaffolding yang disusun masih dalam jumlah yang sedikit. Memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame di lantai 6 memungkinkan pekerja terperosok karena jumlah scaffolding yang disusun lebih banyak dan tinggi jika dibandingkan di lantai 2. Sementara memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame di lantai 7 dan 8 sangat memungkinkan pekerja terperosok dikarenakan keberadaan pekerja semakin tinggi dan scaffolding yang digunakan juga semakin banyak dan berat sehingga sangat mempengaruhi kekuatan main frame.
Papan triplek atau kayu yang digunakan pekerja untuk berpijak ketika memplester sangat memungkinkan triplek patah dan pekerja terjatuh, baik digunakan di lantai 2,
6, 7 maupun 8. Karena triplek yang tipis dengan berat tubuh pekerja tidak sebanding jika harus dijadikan pijakan terlebih pekerja bekerja dalam waktu yang lama.
Dalam melakukan pemelesteran, pekerja ada yang bekerja dengan sikap berdiri dan ada yang jongkok, tetapi pekerja tidak jarang juga sambil membungkuk. Sikap kerja berdiri dan jongkok ini dilakukan selama 60 menit hingga 5 jam. Pekerja yang hanya 60 menit bekerja dengan sikap berdiri kurang memungkinkan mengalami kelelahan, tetapi pekerja yang bekerja selama 5 jam sangat memungkinkan mengalami kelelahan pada otot-otot skeletal, kenyerian pada pinggang dan ketegangan pada kaki dan betis.
Beberapa pekerja mencampur semen, pasir dan air di papan triplek yang dijadikan sebagai tempat pijakan. Selain itu, pada saat memplester sering kali campuran semen tertumpah dan terjatuh ke papan triplek. Hal ini menyebabkan papan triplek menjadi licin sehingga sangat memungkinkan pekerja terpleset terlebih banyak pekerja hanya memakai sandal dan bahkan tidak memakai alas kaki. Batu-batu bata yang telah dipasang diplester dengan menggunakan campuran semen yang diambil sedikit demi sedikit dengan menggunakan sekop semen hingga batu-batu bata tersebut tertutup semuanya. Pekerja biasanya memegang sekop semen di tangan kanan dan ember kecil di tangan kiri sehingga kurang memungkinkan sekop semen tersebut menumbuk atau mengenai tangan pekerja. Posisi dinding yang berdiri tegak memungkinkan pekerja terciprat campuran semen yang khendak ditempelkan ke dinding. Selain itu ketika mencampur semen, air dan pasir, juga memungkinkan pekerja terciprat dikarenakan harus diaduk dengan kuat agar campuran tersebut merata. Batu-batu bata yang telah dipasang dan akan diplester tidak semuanya rata
tetapi ada yang membentuk lubang seperti jendela yang mengharuskan pekerja memplester hingga ke sudur-sudut dan pinggir-pinggir jendela. Hal ini memungkinkan pekerja terbentur ketika sedang memplester.
Para pekerja yang menggunakan baju yang dilipat sebagai masker masih sangat memungkinkan debu-debu semen terhirup oleh pekerja. Tumpahnya campuran semen sangat memungkinkan mengenai kaki pekerja dikarenakan pekerja hanya memakai sandal dan bahkan tidak memakai alas kaki, tetapi ada juga yang memakai sepatu kain. Para pekerja bekerja di ketinggian dengan menggunakan scaffolding,
tetapi pekerja tidak ada yang menggunakan body harness (tali pengait tubuh) sehingga sangat memungkinkan pekerja terjatuh saat bekerja khususnya yang berada di lantai 7 dan 8. Untuk melindungi kepala beberapa pekerja memakai topi kain dan beberapa pekerja tidak memakai topi. Hal ini tidak dapat melindungi kepala pekerja secara benar dan sangat memungkinkan pekerja kejatuhan benda-benda dari atas terutama untuk pekerja yang berada di lantai bawah.
4.3.1.3 Pengacian
Tujuh pekerja yang melakukan pengacian berada di lantai yang berbeda-beda. Satu pekerja di lantai 3, dua pekerja di lantai 6, dua pekerja di lantai 7 dan dua pekerja di lantai 8. Pengacian adalah proses penghalusan bata yang telah diplester. Dalam pengaciaan, pekerja juga menggunakan scaffolding yang disusun hingga mencapai ketinggian 10,2 m ; 20,4 m ; 23,8 m dan 27,2 m di atas tanah. Kondisi main frame yang digunakan juga banyak yang sudah bengkok, berkarat dan berat. Semakin tinggi bangunan maka main frame yang digunakan juga semakin banyak. Para pekerja yang melakukan pengacian juga melakukan hal yang sama yaitu memanjat
dan turun dari besi-besi pada main frame. Tidak berbeda dengan para pekerja yang melakukan pemasangan bata dan pemelesteran, pada proses pengerjaan pengacian juga digunakan papan triplek dan kayu sebagai tempat pijakan pekerja. Prinsip kerja pengacian tidak jauh berbeda dengan pemelesteran, hanya campuran semen yang digunakan yang berbeda. Pada pengacian hanya menggunakan campuran antara semen dan air sedangkan pada pemelesteran menggunakan semen, pasir dan air. Alat-alat yang digunakan dalam pengacian juga hampir sama dengan pemelesteran seperti sekop semen.
Kebanyakan para pekerja mengaci dengan sikap berdiri dan jongkok selama 90 menit, 2 jam dan bahkan hingga 6 jam. Dalam mengaci dinding yang sudah diplester, seringkali campuran semen tumpah dan terjatuh ke papan triplek tempat pijakan pekerja. Selain itu ada juga yang mencampur semen dan air di papan triplek namun ada juga yang mencampur di ember kecil. Para pekerja dalam melakukan pengacian juga tidak memakai alat pelindung diri yang benar. Pekerja hanya memakai sepatu dan ada yang memakai sandal, memakai topi kain dan ada juga yang tidak memakai topi, memakai masker adan ada yang tidak memakai masker, tidak ada yang memakai tali pengait tubuh.
Dalam proses pengacian ditemukan 9 risiko kecelakaan kerja, diantaranya : 1. Main frame yang berat, bengkok dan berkarat
2. Memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame
3. Papan pijakan yang terbuat dari kayu atau triplek 4. Berada di ketinggian 10,2 m – 27,2 m
6. Papan pijakan licin karena banyak campuran semen yang tumpah 7. Sekop semen yang digunakan
8. Adukan semen 9. Tidak memakai APD
Tabel 4.3 Kemungkinan Risiko Kecelakaan Kerja pada Pengguna Scaffolding saat Mengaci di Proyek Pembangunan Hotel Gatoto Subroto Medan Tahun 2012
No. Lokasi Pekerja Kemungkinan
1. Lantai 3 Sangat mungkin untuk terperosok dan terjatuh, merasa lelah dan terpleset. Mungkin untuk terciprat adukan semen. Kurang mungkin untuk terjatuh dan tertimpa main frame, tergores dan tergelincir, terjatuh, tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
2. Lantai 6 Sangat mungkin untuk terperosok dan terjatuh, terpleset. Mungkin untuk terjatuh dan tertimpa main frame, tergores dan tergelincir, merasa lelah, terciprat adukan semen, tertimpa benda jatuh atau kejatuhan material. Kurang mungkin untuk tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
3. Lantai 7 Sangat mungkin untuk terjatuh atau tertimpa main frame, tergores dan tergelincir, terperosok, terpleset.
Mungkin untuk merasa lelah, terciprat dan tertimpa benda jatuh atau kejatuhan material. Kurang mungkin untuk tertumbuk atau terkena ujung sekop semen.
4. Lantai 8 Sangat mungkin untuk terjatuh atau tertimpa main frame, tergores dan tergelincir, terperosok, terpleset.
Mungkin untuk merasa lelah, terciprat dan tertimpa benda jatuh atau kejatuhan material. Kurang mungkin untuk terkena ujung sekop semen.
Proses pengacian juga menggunakan scaffolding yang tersusun dari main frame-main frame. Proses pengacian dilakukan di ketinggian 10,2 m – 27,2 m. Main frame yang bengkok dan berkarat tersusun satu per satu hingga menjulang ke atas. Proses pengacian yang dilakukan di lantai 3 menggunakan 12 main frame yang disusun hingga ketinggian 10,2 m dengan berat yang mencapai kurang lebih 180 –
240 kg kurang memungkinkan pekerja terjatuh dari lantai 3 dan tertimpa main frame.
Pengacian yang dilakukan di lantai 6 menggunakan 24 main frame yang disusun hingga ketinggian 20,4 m dengan berat kurang lebih 360 – 480 kg memungkinkan pekerja terjatuh dari lantai 6 dan tertimpa main frame. Pengacian yang dilakukan di lantai 7 menggunakan 28 main frame yang disusun hingga ketinggian 23,8 m dengan berat kurang lebih 420 – 560 kg sangat memungkinkan pekerja terjatuh dari lantai 7 dan tertimpa main frame. Scaffolding yang digunakan di lantai 8 untuk pengacian menggunakan 32 main frame hingga ketinggian 27,2 m dengan berat kurang lebih 480 – 640 kg sangat memungkinkan pekerja terjatuh dari lantai 8 dan tertimpa main frame.
Besi-besi pada main frame yang digunakan para pekerja untuk memanjat dan turun scaffolding dapat mempengaruhi kekuatan main frame dan tidak menutup kemungkinan besi-besi tersebut dapat patah. Pekerja yang memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame di lantai 3 kurang memungkinkan pekerja terperosok karena jumlah main frame yang digunakan masih dalam jumlah yang sedikit. Jika memanjat dan turun dari besi-besi pada main frame di lantai 6 memungkinkan pekerja terperosok dan tergores karena jumlah main frame yang digunakan lebih banyak. Jika hal tersebut dilakukan di lantai 7 dan 8 sangat memungkinkan pekerja terperosok karena keberadaan pekerja yang semakin tinggi yang membutuhkan main frame yang jauh lebih banyak. Triplek yang tipis yang digunakan sebagai pijakan dan penopang pekerja selama mengaci sangat memungkinkan triplek patah sehingga pekerja yang sedang berpijak di atasnya terjatuh. Namun ada juga pekerja yang menggunakan kayu-kayu balok untuk dijadikan pijakan ketika sedang berada di atas
scaffolding. Kayu-kayu balok yang digunakan pekerja sangat memungkinkan pekerja terjatuh. Hal ini dikarenakan kayu-kayu balok yang digunakan pekerja disusun berdekatan sebanyak 2 atau 3 kayu dapat bergeser sehingga kaki pekerja dapat terperosok ke bawah dan pekerja pun terjatuh. Pengacian yang dilakukan dengan berdiri dan jongkok selama 90 menit dan 2 jam memungkinkan pekerja mengalami kelelahan otot terlebih jika sikap kerja tersebut dilakukan hingga 6 jam yang sangat memungkinkan pekerja mengalami kelelahan otot-otot skeletal, kenyerian pada pinggang dan ketegangan pada kaki dan betis.
Dalam proses pengacian lebih banyak menggunaan campuran air dan semen. Para pekerja mengaci dinding yang telah diplester sebelumnya agar dinding menjadi lebih halus. Posisi dinding yang berdiri tegak menyulitkan pekerja untuk menempelkan campuran semen ke dinding karena menyebabkan banyak semen yang tumpah dan terjatuh ke papan triplek. Hal ini sangat memungkinkan pekerja terpleset