Jika kita merasa bahwa KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
=====================
Di dalam diri kita terdapat manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], yang merupakan sebuah sistem yang baik, yang memiliki tujuan dan manfaat untuk membantu kita bertahan hidup dan pertahanan diri di dunia ini. Akan tetapi, manas dan ahamkara memiliki “sebentuk kebodohan” tersendiri, yaitu semata-mata hanya fokus untuk tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Akibatnya, jika kita terlalu mengikuti dorongan dan insting
dari sistem ini, seringkali kemudian malah membuat hidup kita berpotensi masuk jurang kerumitan hidup, penderitaan dan kesengsaraan.
Di dalam diri kita juga terdapat kesadaran alami, yang merupakan kenyataan sejati diri kita, yang damai, jernih dan terang. Hal itu selalu ada di dalam diri kita dan tidak pernah hilang. Laksana permata sangat berharga yang tersembunyi oleh selubung “tanah berlumpur” manas dan ahamkara. Permata itu tidak pernah hilang, hanya tersembunyi oleh selubung “tanah berlumpur” manas dan ahamkara.
Kunci penting jika kita memilih tehnik KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS adalah, setiap kali kita melihat mahluk lain, berhenti berpikir “apa yang bisa saya dapat dari orang ini ?”. Hal itu muncul dari dorongan manas dan ahamkara, yang membuat kita memandang “diri saya” menjadi terlalu penting. Dalam berbagai sisi kehidupan kita selalu mencari apa yang bisa kita dapat untuk “diri saya”. Kita mirip binatang predator yang setiap hari berburu makanan. Mencari. Menunggu. Apa sesuatu yang bisa kita dapat dalam hidup ini. Apa sesuatu yang bisa kita dapat dari orang lain. Itu adalah awal mula dari berbagai macam kesengsaraan.
Oleh karena itu, berpikirlah sebaliknya. Setiap kali kita melihat mahluk lain, renungkan di dalam diri “apa yang bisa saya lakukan untuk orang ini ?”.
Jika kita memiliki tekad dan keberanian untuk secara terus-menerus konsisten mempertahankan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, setiap saat setiap waktu tidak
peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, maka hal itu secara alami dengan sendirinya akan membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara. Sehingga suatu saat, tanpa perlu berusaha terlalu keras, tiba-tiba sesuatu yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita.
Sebaliknya, jika kita tidak mau tekun membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara, melalui kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, maka “tanah berlumpur” manas dan ahamkara akan membuat kita dicengkeram kuat oleh ketidakbahagiaan dan kesengsaraan. Artinya, manusia yang jarang-jarang mau untuk melakukan kebaikan dan kemurahhatian yang tulus, hanya masalah waktu saja dia akan terbenam di dalam ketidakbahagiaan dan kesengsaraan.
Coba kita perhatikan orang-orang yang jarang-jarang mau melakukan kebaikan dan kemurahhatian yang tulus, hidupnya akan kering, banyak masalah dan pikirannya mudah gelisah. Pertanda lainnya, dia mudah curiga, mudah marah dan tersinggung, mudah putus asa, atau sulit tidur.
Sebaliknya coba kita perhatikan orang-orang baik hati yang tulus, yang suka menolong, yang suka melakukan pelayanan, yang murah hati, yang suka memberi, dsb-nya, dia pikirannya relatif tenang dan stabil. Dia lebih jarang marah, lebih jarang merasa takut, lebih jarang merasa kesepian, lebih jarang merasa resah dan gelisah.
Ketika kita ingin mendapatkan untuk “diri saya”, ketika dari dalam diri kita muncul dorongan untuk memikirkan atau mementingkan diri sendiri, itu muncul dari manas [pikiran,
perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], sebuah sistem di dalam diri kita untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Tapi manas dan ahamkara hanya memahami kita secara sangat terbatas. Terbatas hanya di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, sehingga manas dan ahamkara selalu berusaha membelenggu kita di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Tapi jika kita ingin bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha], maka hendaknya kita berhenti memikirkan atau mementingkan diri sendiri. Hendaknya kita berhenti ingin mendapatkan untuk “diri saya”. Kita berusaha terus-menerus konsisten mempertahankan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus memiliki ruas-ruas yang sangat luas dan beragam. Tidak hanya sebatas melakukan suatu pemberian uang, barang, makanan, benda, dsb-nya. Tapi juga memberikan pertolongan, memberikan pelayanan, memberikan kebahagiaan, dsb-nya. Semua hal itu juga merupakan praktek kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus.
Bahkan hal-hal kecil juga merupakan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus. Misalnya [contoh], jika di rumah ada piring kotor segeralah kita cuci bersih, kalau rumah sedang kotor ambil sapu dan pel lalu bersihkan. Itu kita lakukan dengan sikap penuh pelayanan, dengan suka-cita dan diam, tidak usah mengeluh siapa yang seharusnya punya tugas mencuci piring atau membersihkan rumah.
Tekun terus-menerus konsisten mempertahankan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, hal itu tidak hanya berguna bagi mahluk lain, tapi terutama sekali sangat berguna untuk diri kita sendiri. Karena hal itu sesungguhnya tidak hanya sebatas membantu, menolong, membahagiakan, atau menyelamatkan mahluk lain, tapi sekaligus juga akan membuat kita semakin bisa bersentuhan dengan bagian dari diri kita sendiri di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha].
Untuk dapat melampaui manas dan ahamkara, untuk dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, untuk dapat menyadari kembali kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, kita tidak punya pilihan lain selain terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Dalam pilihan tehnik ini, yaitu terus-menerus secara konsisten mempertahankan dan mempraktekkan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus sepanjang perjalanan hidup kita, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat
sabar terus menunggu. Maka suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah sesuai, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
===================== TEHNIK TAMBAHAN PENTING :
Jika kita memilih tehnik KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, maka lakukanlah tehnik tambahan penting hal ini :
[1]. Setiap kita sudah melakukan suatu kebaikan, pemberian, pelayanan, dsb-nya, kita ucapkan dalam hati doa “semoga semua mahluk bahagia bebas derita” sebanyak 3 [tiga] kali. [2]. Setiap kita sudah melakukan suatu kebaikan, pemberian, pelayanan, dsb-nya, maka segera lepaskan [lupakan]. Karena kadang terjadi, segala kebaikan yang pernah kita lakukan cepat sekali dilupakan orang. Bahkan terkadang terjadi kita malah dijelek-jelekkan. Agar kebaikan yang pernah kita lakukan tidak kelak justru kemudian membakar membuat kita marah, maka lakukan kebaikan dan segera lepaskan [lupakan]. Hal ini juga sangat penting untuk menjaga ketulusan kita.
=== TIDAK PERNAH MARAH
Jika kita merasa bahwa TIDAK PERNAH MARAH adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu TIDAK PERNAH MARAH, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan TIDAK PERNAH MARAH, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
=====================
Kunci penting jika kita memilih tehnik TIDAK PERNAH MARAH adalah merubah kebiasaan kita mengkerangkakan pikiran ke dalam dualitas positif-negatif. Seperti baik-buruk, menyenangkan-tidak menyenangkan, salah-benar, suka-tidak suka, mengganggu-tidak mengganggu, dsb-nya. Tapi belajar untuk melihat dan menanggapi segala sesuatu sebagaimana adanya secara sangat polos [tanpa penilaian].
Kebiasaan kita umumnya :
Saya tidak suka jika jalan macet. Saya suka jika jalan lancar. Saya tidak suka jika melihat rumah berantakan. Saya suka jika melihat rumah rapi.
Saya tidak suka jika disediakan rujak bangkuang. Saya suka jika disediakan rujak mangga.
Pasangan kurang perhatian itu salah. Pasangan penuh perhatian itu benar.
Mertua cerewet itu salah. Mertua polos itu benar. Anak nakal itu salah. Anak penurut itu benar.
Jika tetangga memuji itu baik. Jika tetangga menghina itu buruk.
Saya tidak suka jika tetangga menghidupkan musik keras. Saya suka jika tetangga sepi.
Dalam berbagai segi kehidupan, kita memiliki suatu kebiasaan di dalam diri untuk mengkerangkakan pikiran ke dalam dualitas positif-negatif.
Jika kita dapat merubah kebiasaan di dalam diri kita tersebut, jika kita dapat berhenti mengkerangkakan pikiran kita ke dalam dualitas positif-negatif, jika kita dapat melihat dan menanggapi segala sesuatu sebagaimana adanya secara sangat polos [tanpa penilaian], sekaligus diam dan tersenyum, maka itu berarti 80% tugas kita untuk TIDAK PERNAH MARAH sudah selesai. Kita tinggal menyelesaikan sisanya yang lagi sebanyak 20% saja.
Sifat alami dari kehidupan adalah terus-menerus berputar dalam dualitas tanpa bisa dihentikan. Malam
menjadi siang, siang menjadi malam. Bunga menjadi sampah, sampah menjadi bunga. Ada saatnya hidup kita mudah, ada saatnya hidup kita susah. Ada saatnya kita merasa damai, ada saatnya kita mengalami bad mood. Orang yang mencaci hari ini, bisa memuji di hari lain. Orang yang memuji hari ini, bisa mencaci di hari yang lain. Orang yang membuat bahagia saat ini, bisa membuat sengsara di waktu yang lain. Orang yang membuat sengsara saat ini, bisa membuat bahagia di waktu yang lain. Sekarang tubuh kita sakit, nanti tubuh kita sehat. Sekarang tubuh kita lemas, nanti tubuh kita segar. Ada saatnya hidup bahagia, ada saatnya hidup sedih.
Tugas spiritual kita kemudian adalah tidak pernah marah ketika putaran kehidupan sedang dalam keadaan tidak menyenangkan, atau ketika putaran kehidupan sedang tidak sesuai harapan dan keinginan kita. Ingat bahwa semua itu hanyalah sifat alami dari kehidupan yang memang terus berputar dalam dualitas tanpa bisa dihentikan. Jika kita marah, kita pasti akan jatuh tenggelam dalam ketidakbahagiaan dan kesengsaraan. Jika kita tidak pernah marah, apalagi banyak diam dan tersenyum, hal itu akan sangat membersihkan belenggu manas dan ahamkara.
Disakiti, dicaci-maki, dilecehkan, dihina, dirugikan, ditipu, dimanfaatkan orang, dsb-nya, umumnya terasa tidak enak dan sakit. Demikian juga dengan keadaan yang tidak sesuai harapan dan keinginan kita, ini seharusnya begini, kamu seharusnya begitu, dsb-nya, umumnya terasa tidak enak dan sakit. Terutama bagi manusia yang sangat kuat terbelenggu oleh manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], yang insting bertahan hidup
dan pertahanan dirinya masih sangat kuat mendominasi, hal itu akan terasa amat sangat menyakitkan. Orang seperti ini akan mudah sekali marah.
Jika kita marah, ketika dari dalam diri kita muncul dorongan untuk marah, itu muncul dari manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], sebuah sistem di dalam diri kita untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Tapi manas dan ahamkara hanya memahami kita secara sangat terbatas. Terbatas hanya di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, sehingga manas dan ahamkara selalu berusaha membelenggu kita di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Tapi jika kita ingin bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha], maka hendaknya kita tidak pernah marah. Kita berusaha terus-menerus menerima setiap keadaan tidak menyenangkan, atau setiap kehidupan yang tidak sesuai harapan dan keinginan kita, dengan tidak pernah marah, tapi banyak diam dan tersenyum.
Terdapat suatu kisah orang suci sekaligus Guru spiritual besar di masa lampau. Dalam proses spiritual Beliau sebelum mengalami pencerahan, Beliau memilih tehnik ini. Beliau mengambil samaya [sumpah spiritual] untuk tidak pernah marah seumur hidupnya. Dengan menekuni tehnik ini, suatu ketika dalam perjalanan hidup-Nya, Beliau kemudian berhasil mengalami pencerahan [Moksha].
Tidak pernah marah, banyak diam dan tersenyum, itu adalah hadiah yang sangat indah bagi perjalanan hidup kita, bagi perjalanan Atma kita dalam samsara, serta sekaligus bagi
orang-orang di sekitar kita [karena kita akan menebarkan getaran energi yang positif bagi lingkungan].
Tidak pernah marah, banyak diam dan tersenyum, itu adalah sebuah tehnik untuk membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara, yang menutupi “permata indah” kesadaran alami di dalam diri kita. Begitu kita dapat konsisten terus-menerus mempertahankan tidak pernah marah, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, maka kita juga akan semakin bisa bersentuhan dengan bagian dari diri kita sendiri di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha].
Untuk dapat melampaui manas dan ahamkara, untuk dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, untuk dapat menyadari kembali kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, kita tidak punya pilihan lain selain terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Dalam pilihan tehnik ini, yaitu terus-menerus secara konsisten mempertahankan dan mempraktekkan tidak pernah marah sepanjang perjalanan hidup kita, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan TIDAK PERNAH MARAH, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Maka suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah sesuai, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
===================== TEHNIK TAMBAHAN PENTING :
Jika kita memilih tehnik TIDAK PERNAH MARAH, maka maka lakukanlah tehnik tambahan penting hal ini :
[1]. Hindari untuk melakukan curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya. Karena hal itu berarti kita membuat rintangan baru yang besar, yang sekaligus akan membuat kita mengalami kemunduran dalam proses spiritual kita ini.
Curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya, adalah jebakan yang sangat memerangkap. Rasanya melegakan dan memuaskan, tapi di kedalaman hal itu akan tambah menyalakan kobaran api di dalam diri. Hal itu dapat membuat semua benih kesadaran alami di dalam diri kita layu dan mati, digantikan dengan kekuatan yang menyebut diri sebagai korban yang kuat sekali. Kekuatan ini tidak jauh-jauh dari topik : saya benar orang lain salah, saya baik dan orang lain jahat, dsb-nya. Seperti nyala api, jika diikuti terus-menerus, kekuatan berbahaya ini akan semakin membesar, bahkan bisa menjadi kobaran api yang sangat membakar. Orang yang sudah menjadi seperti ini, chakra anahata-nya akan sangat gelap. Ciri utamanya adalah memiliki kesulitan untuk mencintai.
[2]. Jika kita seorang pemula [baru mulai melakukan tehnik ini], setiap kita sudah melakukan tidak pernah marah, kita ucapkan dalam hati doa :
“Semua mahluk yang menyakiti dan melukai, laksana permata berharga yang membuat saya bisa mengalami pencerahan. Oleh karena itu, ijinkan saya mengambil kekalahan ini dan memberikan kemenangan kepada orang lain sebagai berkah spiritual yang tertinggi”.
=== RASA SYUKUR DAN RASA
TERIMAKASIH YANG DALAM
Jika kita merasa bahwa RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
=====================
Jika kita memilih tehnik RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM, terdapat 3 [tiga] kunci penting yang perlu kita lakukan :
[1]. Menghentikan kebiasaan kita membanding-bandingkan dengan yang lebih baik. Berhenti membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain, berhenti membandingkan berkah kehidupan kita dengan berkah kehidupan orang lain, berhenti
membandingkan pasangan kita dengan orang lain, berhenti membandingkan anak kita dengan anak yang lain, berhenti membandingkan sepeda motor kita dengan kendaraan orang lain, dsb-nya. Selalu temukan sisi-sisi indah yang layak untuk disyukuri dari diri kita dan kehidupan kita.
[2]. Menghentikan lobha, yaitu menghentikan keserakahan dan ketidakpuasan. Belajar mengatakan ini sudah cukup. Sesulit apapun kehidupan kita, seperti apapun berkah yang diberikan kehidupan kepada kita, selalu pandang kehidupan dengan penuh rasa syukur dan rasa terimakasih yang dalam. Sesungguhnya hidup kita sudah dipenuhi keberuntungan : == Jika kita punya makanan untuk dimakan, punya pakaian yang layak untuk dikenakan, punya tempat berteduh, punya tempat untuk tidur yang nyaman, jika kita punya semua itu, kita sudah lebih kaya dari 75% manusia lainnya di planet bumi. == Jika saat ini kita dalam keadaan sehat, kita sudah lebih terberkahi dari berjuta-juta manusia lainnya di planet bumi yang saat ini dalam keadaan sakit.
== Jika minggu ini kita masih hidup, kita jauh lebih terberkahi dari jutaan manusia lainnya di planet bumi yang minggu ini tidak dapat bertahan hidup dan mati.
== Jika kita membaca buku ini, kita jauh lebih beruntung dari 3 [tiga] milyar manusia lainnya di planet bumi yang tidak bisa membaca dan yang matanya mengalami kebutaan.
Sesungguhnya dalam hidup ini, tersedia ribuan hal yang bisa bisa kita pandang dengan penuh rasa syukur dan rasa terimakasih yang dalam.
[3]. Berpikir positif. Fokus hanya melihat sisi positif dari segala sesuatu. Dalam berbagai segi kehidupan, selalu ada hal positif yang bisa kita syukuri :
== Bersyukur dan berterimakasih jika kita kaya, karena kita bisa berbagi kepada banyak orang.
== Bersyukur dan berterimakasih jika kita miskin, karena kita menjadi tidak sombong dan hidup sederhana [kesederhanaan membuat hidup tidak rumit].
== Bersyukur dan berterimakasih jika kita punya mobil, karena kita terhindar dari panas dan hujan.
== Bersyukur dan berterimakasih jika kita tidak punya kendaraan dan jalan kaki, karena kita terus olahraga dan menjadi sehat.
Sesungguhnya dalam berbagai segi kehidupan, selalu ada hal-hal positif yang bisa kita pandang dengan penuh rasa syukur dan rasa terimakasih yang dalam. Inilah yang perlu terus-menerus kita renungkan dan praktekkan.
Jika kita bisa melakukan 3 [tiga] kunci penting tersebut, maka melaksanakan tehnik rasa syukur dan rasa terimakasih yang dalam akan jauh lebih mudah.
Ketika kita ingin mendapatkan lebih, ketika dari dalam diri kita muncul dorongan ketidakpuasan dan keserakahan, itu muncul dari manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan