Rumah Dharma - Hindu Indonesia
BAGI KEHIDUPAN DI JAMAN MODERN
Tehnik dalam buku ini bersifat universal,
sehingga dapat dipraktekkan secara bebas oleh semua
orang tanpa sama sekali perlu berpindah agama atau
keyakinan. Semua ras dan suku, semua agama dan
keyakinan, Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dsb-nya,
yang tidak beragama, yang atheist, dst-nya, semua bisa
mempraktekkan. Tidak perlu berpindah agama atau
keyakinan.
Sarvesham Shantir Bhavatu
TEHNIK SEDERHANA UNTUK
MENGALAMI PENCERAHAN [MOKSHA]
BAGI KEHIDUPAN DI JAMAN MODERN
Penulis :
I Nyoman Kurniawan
Diterbitkan oleh :
Rumah Dharma - Hindu Indonesia
Rahina Purwani Purnama Kartika [Purnama Kapat]
12 Oktober 2019
PENDAHULUAN
Salah satu ciri menonjol pada jaman modern ini adalah kehidupan manusia sangat kuat dicengkeram oleh uang. Jika hidup di jaman ini tanpa memiliki uang, ada kemungkinan manusia mengalami kesulitan bertahan hidup. Sehingga banyak manusia dari sejak kecil mendapat doktrin bahwa hal terpenting dalam hidup ini hanya untuk meraih kesuksesan duniawi [kaya, punya jabatan penting, terkenal, dsb-nya], serta memperoleh pendidikan hanya cara untuk meraih kesuksesan duniawi saja.
Sebagian besar manusia di jaman ini bahkan sangat meyakini, bahwa harus sukses secara duniawi dulu barulah kemudian bisa sukses secara spiritual. Keyakinan seperti itu adalah jebakan yang sangat memerangkap, terutama karena kesuksesan duniawi selalu dihantui oleh ketidakpuasaan, yaitu perasaan yang kurang, kurang dan selalu kurang. Hal itu seringkali berakhir sangat menyedihkan bagi perjalanan hidup dan sekaligus perjalanan Atma dalam samsara.
Banyak manusia yang bahkan sampai umur 50 tahun masih juga tidak mampu untuk mengelola pikiran, perasaan [emosi], keinginan, serta kebiasaan di dalam dirinya dengan baik. Terlebih lagi jika semasa hidupnya sama sekali tidak pernah tersentuh praktek spiritual yang mendalam. Sehingga akibatnya tidak saja hidupnya resah, gelisah, tidak bahagia, atau penuh masalah, tapi juga sekaligus ketika waktu akhir dijemput kematian dia jatuh [gagal] secara spiritual.
Semua mahluk hidup yang ada di planet bumi ini, dari tumbuhan, binatang, sampai manusia, memiliki satu insting dasar yang sama, yaitu bertahan hidup dan pertahanan diri.
Hal ini tercermin dari semua sisi kehidupan manusia yang sangat didominasi oleh dorongan bertahan hidup dan pertahanan diri, yang dikembangkan dalam berbagai ragam bentuk. Bentuknya saja berbeda, misalnya : pendidikan sekolah, meraih prestasi, pembangunan, kemajuan ekonomi, perdagangan, kemajuan teknologi, dsb-nya. Bahkan juga termasuk perang, persaingan antar agama, dsb-nya. Tapi pada inti dasarnya semua sama satu saja, yaitu dorongan insting bertahan hidup dan pertahanan diri.
Tidak berarti urusan bertahan hidup dan pertahanan diri itu salah. Sama sekali tidak. Kita semua manusia sangat memerlukannya dalam kehidupan. Hanya saja hal itu sangat standar dalam kehidupan di planet bumi ini, karena binatang juga sama melakukannya. Kita manusia memiliki kelebihan yang sangat penting dibanding binatang, yaitu kita dapat mengalami evolusi kesadaran, bahkan kita dapat mengalami pencerahan [Moksha]. Akan tetapi karena dorongan dasar bertahan hidup dan pertahanan diri amat sangat dalam mendominasi di dalam diri manusia, hal itu membuat manusia tidak dapat menyadari berkah tertinggi dalam eksistensinya sebagai manusia.
Jika dalam kehidupan kita hanya fokus pada dorongan sistem bertahan hidup dan pertahanan diri, maka binatang-pun juga melakukan hal yang sama. Bedanya hanya kita manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkannya
dalam berbagai ragam bentuk secara sangat luas. Tapi inti dasarnya sama.
Ada manusia mengumpulkan uang Rp. 50 trillyun, ada manusia menjadi presiden puluhan tahun, ada manusia terkenal di seluruh dunia, ada manusia menjadi orang paling berkuasa di dunia, ada pemuka agama yang berambisi agamanya menjadi nomer satu di dunia, dsb-nya, tapi insting dasar pendorongnya sama, yaitu insting bertahan hidup dan pertahanan diri. Bahkan binatang-pun juga melakukan hal yang sama.
Sejujurnya, seluas apapun manusia mengembangkan dorongan dasar bertahan hidup dan pertahanan diri, semua hal itu sama sekali tidak ada artinya. Dalam putaran waktu semuanya pasti hilang tanpa bekas sama sekali. Kehidupan ini hanyalah sebuah persinggahan yang sangat singkat di dunia ini. Semua hidup pasti akan berakhir pada kematian dan apapun semua bentuk kesuksesan duniawi pasti seluruhnya akan kita tinggalkan.
Berkah terindah dan tertinggi terlahir sebagai manusia adalah kita dapat mengalami evolusi kesadaran, bahkan kita dapat mengalami pencerahan [Moksha]. Mahluk hidup lain di planet bumi [tumbuhan, binatang] tidak dapat melakukannya, mereka hanya bisa terfokus pada dorongan bertahan hidup dan pertahanan diri.
Dari jaman ke jaman, sebagian manusia ada yang sudah mampu menyadari semua kebenaran ini, kemudian memilih untuk menapaki jalan yang berbeda. Karena mereka
menyadari, bahwa hal yang paling mulia, paling berharga, paling bercahaya dan paling tinggi dalam eksistensi sebagai manusia adalah jika bisa mengalami pencerahan [Moksha].
Agar kehidupan kita sebagai manusia menjadi sangat berharga dan tidak sia-sia, segera imbangi langkah membangun kesuksesan duniawi, dengan langkah-langkah untuk membangun kesuksesan secara spiritual. Sekaligus, inilah sebuah pilihan yang akan membuat kita mengalami evolusi kesadaran, membuat perjalanan hidup kita indah, bercahaya, selamat, serta perjalanan Atma dalam samsara bisa terangkat naik.
Buku dharma ini khususnya dibuat untuk sebagian manusia, yang karena terikat oleh kesibukan hidup di jaman modern ini, sehingga tidak memiliki berkah untuk dapat bertemu dan belajar dari seorang Guru spiritual dengan ajaran yang berkualitas, serta tidak memiliki berkah untuk tersentuh praktek spiritual yang mendalam.
Buku dharma ini berisi tehnik untuk membangun kesuksesan spiritual dalam hidup, yaitu tehnik sederhana untuk mengalami pencerahan [Moksha]. “Sederhana” tidak berarti mudah atau gampang untuk dipraktekkan. Sederhana berarti tehniknya yang sederhana. Tehniknya tidak banyak, tidak rumit, mudah dimengerti dan langsung bisa dipraktekkan.
Siapapun yang memiliki buku dharma ini berarti sudah memiliki tehnik, yang sangat diperlukan. Dimana tehnik dalam buku dharma ini jika tekun dipraktekkan sungguh-sungguh,
maka kita dapat membangun kesuksesan secara spiritual di dalam hidup ini, terutama untuk pencerahan [Moksha].
Tehnik dalam buku ini bersifat universal, sehingga dapat dipraktekkan secara bebas oleh semua orang tanpa sama sekali perlu berpindah agama atau keyakinan. Semua ras dan suku, semua agama dan keyakinan, Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dsb-nya, yang tidak beragama, yang atheist, dst-nya, semua bisa mempraktekkan. Tidak perlu berpindah agama atau keyakinan.
Ketekunan untuk membangun kesuksesan secara spiritual, memiliki 5 [lima] manfaat utama, yaitu :
1]. Membuat kita mengalami evolusi kesadaran, yang akan memberikan ketenangan, kejernihan, ketabahan, kedamaian dan keselamatan, jika misalnya ketika dalam kehidupan kita harus menghadapi masalah, kesulitan, musibah, atau kesengsaraan. Sehingga kita tidak akan tenggelam dalam kesengsaraan.
2]. Menghindarkan kita dari mengambil langkah atau respon yang salah di dalam menghadapi berbagai kejadian tidak menyenangkan, menyakitkan, atau tidak sesuai harapan dan keinginan, di dalam kehidupan. Karena langkah atau respon yang salah, kemudian dapat menjadi sebab bagi lebih banyak lagi datang masalah, kesulitan, musibah, atau kesengsaraan bagi perjalanan hidup kita.
3]. Mengundang datangnya keberuntungan dan keselamatan dalam hidup.
4]. Memberikan keselamatan bagi perjalanan Atma kita dalam samsara. Agar kita terhindar dari kemungkinan kesengsaraan sangat berat terjatuh ke alam-alam bawah atau terlahir kembali [reinkarnasi] menjadi binatang.
5]. Membuka lebar peluang bagi kita untuk mengalami pencerahan [Moksha]. Yang merupakan hal paling mulia, paling berharga, paling bercahaya dan paling tinggi dalam eksistensi kita sebagai manusia.
Hidup kita sebagai manusia akan sangat berharga dan bercahaya, jika langkah membangun kesuksesan duniawi juga kita imbangi dengan membangun kesuksesan spiritual. Itulah pilihan hidup yang paling indah.
Astungkara semoga buku dharma ini dapat menjadi panduan hidup sangat bermanfaat bagi banyak orang.
Selasa, 9 Oktober 2019 Penulis,
Pembahasan 1 :
KENYATAAN DIRI YANG SEJATI
Kenyataan sejati dari setiap manusia sesungguhnya adalah kesadaran alami, yang damai, jernih dan terang. Kita boleh menamainya dengan sebutan bebas apa saja, menyebutnya sebagai pencerahan, kesadaran Atma, Moksha, Jivan-Mukti, Nirvana, dsb-nya. Tapi maksudnya adalah hal yang satu itu saja, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang. Yang merupakan kenyataan diri sejati di dalam setiap manusia.Kesadaran alami yang damai, jernih dan terang [pencerahan, Moksha] ada di dalam diri kita dari sejak awal yang tidak berawal. Hanya saja kita tidak bisa menyadarinya [avidya], disebabkan karena MANAS [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan AHAMKARA [ego, ke-aku-an].
Kesadaran alami sepanjang waktu selalu ada di dalam diri kita dan tidak akan pernah hilang. Itu adalah kenyataan diri kita yang sejati. Laksana permata sangat berharga yang tersembunyi oleh selubung “tanah berlumpur” manas dan ahamkara. Permata itu selalu ada di dalam diri, hanya terselubung oleh “tanah berlumpur” manas dan ahamkara.
Manas dan ahamkara bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif, karena manas dan ahamkara memiliki fungsinya tersendiri yang sangat bermanfaat.
Sisi positif dari manas dan ahamkara, hal itu adalah sebuah sistem di dalam diri kita, yang memiliki tujuan dan manfaat untuk membantu kita bertahan hidup, pertahanan diri, serta terhindar dari bahaya di dunia ini. Tentu saja hal itu sangat bermanfaat dan kita sangat memerlukannya untuk menjalani kehidupan ini.
Sisi negatif dari manas dan ahamkara, sebagai sebuah sistem di dalam diri kita, memiliki “kebodohan”, yaitu hanya semata-mata fokus mendorong kita pada tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Manas dan ahamkara kurang mampu memahami hal lain diluar itu. Manas dan ahamkara hanya fokus mendorong kita pada tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Hal itulah yang menyebabkan kita sering tenggelam dalam ketidakpuasan, keserakahan, kemarahan, keresahan, kecemasan, penderitaan, kesengsaraan, dsb-nya. Jika kita tidak memiliki kecerdasan spiritual untuk mengelola manas dan ahamkara, maka hal itu dapat membuat perjalanan hidup kita masuk jurang dan sekaligus dapat membuat perjalanan Atma dalam samsara jatuh ke alam rendah. Itulah bentuk kebodohan dari manas dan ahamkara.
Perhatikan bagaimana dorongan manas dan ahamkara membuat kita memandang hidup ini terlalu serius. Lihat bagaimana kebanyakan manusia beranggapan, bahwa jika seseorang bisa mengumpulkan uang Rp. 50 trillyun, atau bisa menjadi presiden puluhan tahun, atau bisa terkenal di seluruh dunia, atau bisa menjadi orang yang paling berkuasa di dunia, dsb-nya, maka orang itu adalah orang hebat, atau tokoh besar. Pandangan seperti itu muncul karena manas dan ahamkara hanya mampu memahami tujuan bertahan hidup
dan pertahanan diri. Manas dan ahamkara kurang mampu memahami hal lain diluar itu. Padahal semua hal itu tidak ada artinya. Dalam putaran waktu semua hal seperti itu pasti hilang tanpa bekas sama sekali.
Buku dharma ini tidak sedang mengajak untuk tidak membangun kesuksesan duniawi, apalagi mengajak untuk tidak bekerja dan tidak mencari uang. Sama sekali tidak seperti itu. Urusan bertahan hidup adalah bagian dari kehidupan semua mahluk di planet bumi ini, termasuk bagi kita manusia. Dalam hidup ini kita semua manusia perlu bekerja dan mencari uang, agar kita dapat bertahan hidup dan menjalani hidup dengan baik. Bagus jika kita diberkahi dapat membangun kesuksesan duniawi.
Buku dharma ini adalah sebuah tuntunan untuk semua orang, agar dapat membangun kesuksesan spiritual. Agar kita dapat menjalani hidup dengan kecerdasan spiritual untuk mengelola dorongan manas dan ahamkara. Agar kita dapat secara cerdas mengelola dorongan sistem untuk bertahan hidup dan pertahanan diri.
Buku dharma ini adalah sebuah tuntunan untuk semua orang, agar dapat mengalami evolusi kesadaran, atau bahkan dapat mengalami pencerahan [Moksha].
Sesungguhnya dalam kehidupan ini terdapat sebentuk rahasia, yaitu bahwa bagaimana riak-riak gelombang perjalanan kehidupan kita, sesungguhnya juga sangat ditentukan oleh bagaimana kondisi diri kita sendiri di dalam.
Jika kita tidak berdaya dalam dorongan manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], yaitu di dalam diri kita didominasi oleh ketidakpuasan, keserakahan, kemarahan, keresahan, kecemasan, dsb-nya, maka secara alami di dalam diri kita menderita. Sekaligus hal itu bisa mengundang ketidakberuntungan dalam hidup. Serta bisa mendatangkan lebih banyak lagi masalah, konflik, kesulitan, kerumitan hidup, atau bahkan mendatangkan bahaya bagi kehidupan kita. Kita bisa tenggelam di dalam samudera kesengsaraan.
Sebaliknya jika kita memiliki kecerdasan spiritual untuk mengelola manas dan ahamkara, yaitu di dalam diri kita didominasi oleh keikhlasan, kebaikan hati, tidak pernah marah, rasa syukur, dsb-nya, maka secara alami di dalam diri kita akan damai dan bahagia. Sekaligus hal itu bisa mengundang banyak keberuntungan dalam hidup. Serta akan membuat hidup kita bisa lebih jarang didatangi masalah, konflik, kesulitan, kerumitan hidup, atau bahaya. Inilah yang dimaksud dengan kesuksesan spiritual. Sebuah pilihan hidup yang paling indah, yang akan membuat kita mengalami evolusi kesadaran, membuat perjalanan hidup kita indah, bercahaya, selamat, serta perjalanan Atma dalam samsara bisa terangkat naik.
Tugas spiritual kita kemudian, adalah untuk menyadari kembali keberadaan “permata sangat berharga” kesadaran alami di dalam diri kita, yang tersembunyi oleh selubung “tanah berlumpur” manas dan ahamkara. Dengan cara tekun terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”.
Tanpa membangun kesuksesan spiritual, tanpa menyadari tentang kenyataan diri kita yang sejati, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, maka semua hal dalam kehidupan kita bisa menjadi hal yang salah. Tidak punya uang resah, punya uang gelisah. Tidak punya rumah hidup jadi sulit, punya rumah hidup juga rumit. Miskin menderita, kaya juga tidak bahagia. Jika kita seperti itu, tidak mengenal diri kita sendiri, maka hidup kita akan sangat berpotensi masuk jurang kerumitan hidup, penderitaan dan kesengsaraan.
Dapat membangun kesuksesan spiritual, dapat menyadari tentang kenyataan diri kita yang sejati, hal itu laksana kompas penunjuk arah perjalanan hidup yang terang, yang membuat kita bisa lebih mudah menemukan arah perjalanan hidup yang indah dan bercahaya.
Pembahasan 2 :
EVOLUSI KESADARAN
Semua orang pasti bisa mengalami pencerahan [Moksha]. Terutama karena kesadaran alami yang merupakan kenyataan sejati diri kita, yang damai, jernih dan terang. Hal itu selalu ada di dalam diri kita dan tidak pernah hilang. Hanya saja kita belum dapat menyadarinya [avidya], terutama karena dorongan yang muncul dari manas dan ahamkara.
RINTANGAN PENCERAHAN [MOKSHA] : MANAS
DAN AHAMKARA
Manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an] bukanlah sesuatu yang negatif, karena manas dan ahamkara memiliki fungsi penting bagi kita di dalam menjalani kehidupan. Manas dan ahamkara tentunya memiliki sisi positif dan manfaat yang sangat banyak untuk membantu kita bertahan hidup, pertahanan diri dan menghindarkan diri kita dari bahaya di dunia ini.
Akan tetapi, manas dan ahamkara memiliki “kebodohan” tersendiri, yaitu semata-mata hanya fokus mendorong kita untuk tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Manas dan ahamkara kurang mampu memahami hal lain diluar itu. Manas dan ahamkara hanya bisa fokus mendorong
kita pada tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Hal itu seringkali kemudian berpotensi membuat hidup kita masuk jurang kerumitan hidup, penderitaan dan kesengsaraan. Itulah bentuk kebodohan dari manas dan ahamkara.
Disini kita tidak akan membahas sisi positif dan manfaat dari manas dan ahamkara. Yang akan kita bahas adalah bagaimana dorongan manas dan ahamkara justru menjadi rintangan bagi kita untuk tersadar terhadap suatu hal sangat indah di dalam diri kita. “Kebodohan” manas dan ahamkara menjadi rintangan bagi kita untuk bersentuhan dengan kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang. Bahkan seringkali membuat hidup kita jatuh ke dalam jurang kesengsaraan.
[1]. Dorongan manas dan ahamkara membuat kita memandang “diri saya” menjadi terlalu penting.
Dorongan manas dan ahamkara membuat kita memandang “diri saya”, yaitu berupa : logika saya, perasaan saya, kepentingan saya dan tubuh fisik saya, dsb-nya, menjadi terlalu penting. Dorongan seperti itu muncul sebagai bagian dari cara kerja sistem bertahan hidup dan pertahanan diri.
Ketika logika, perasaan, kepentingan dan tubuh fisik, yang sangat terbatas ini menjadi terlalu penting, itu adalah masalah kehidupan yang besar, karena pasti akan membuat kita tenggelam dalam kesengsaraan. Mengikuti dorongan itu akan menyebabkan kita tenggelam dalam ketidakpuasan, keserakahan, kemarahan, keresahan, kecemasan, penderitaan, kesengsaraan, dsb-nya. Tidak peduli seberapa keras kita
berusaha, kita tidak akan bisa menyadari kenyataan sejati diri kita. Kita tidak akan bisa mengalami pencerahan [Moksha].
Jika kita merenungkan seluruh alam semesta ini, galaksi bima sakti hanyalah sebuah titik debu yang sangat kecil. Di dalam titik debu yang amat sangat kecil tersebut, tata surya kita adalah titik yang jauh lebih sangat kecil lagi. Di dalam titik yang jauh lebih sangat kecil tersebut, planet bumi hanyalah sebuah titik yang jauh lebih super sangat kecil lagi. Di dalam titik yang jauh lebih super sangat kecil lagi tersebut, kita menganggap diri kita adalah “hal terbesar” [hal terpenting] di seluruh alam semesta ini.
[2]. Dorongan manas dan ahamkara membuat kita memiliki pertahanan diri yang terlalu kuat.
Perhatikan kapan saja ketika dari dalam diri kita muncul dorongan untuk melawan atau ingin terus mendapat, itu tidak lain adalah dorongan yang muncul dari manas dan ahamkara, sebagai bagian dari cara kerja sistem bertahan hidup dan pertahanan diri.
Kita didorong untuk melawan, kita didorong untuk mendapatkan. Bentuk nyatanya adalah munculnya dari dalam diri kita ketidakpuasan, keserakahan, mementingkan diri sendiri, kesengsaraan, kemarahan, sentimen, kebencian, keresahan, kecemasan, dsb-nya. Akibatnya hidup kita bisa berpotensi masuk jurang kesengsaraan berbahaya.
[3]. Dorongan manas dan ahamkara membuat kita memandang kehidupan di dunia ini terlalu serius.
Dorongan manas dan ahamkara membuat fokus hidup kita semata-mata hanya untuk berjuang sekuat tenaga dan bersaing demi prestasi, kekuasaan, kekayaan, jabatan, ketenaran, pujian, kekaguman, kehormatan, harga diri, gengsi, dsb-nya. Kita memandang hal seperti itu sebagai hal terpenting, terbesar dan terhebat dalam eksistensi kita sebagai manusia. Pandangan seperti itu muncul karena manas dan ahamkara hanya mampu memahami tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Manas dan ahamkara kurang mampu memahami hal lain diluar itu.
Banyak kita manusia tidak sadar bahwa dibandingkan umur alam semesta, semua hal-hal seperti itu hanya sesingkat kilatan cahaya petir di langit malam. Semua itu tidak ada artinya. Tapi banyak manusia menganggapnya sebagai hal terpenting dalam hidup. Kita menjadi berkejaran dan tidak bisa lebih santai dengan kehidupan. Kita memandang kehidupan di dunia ini terlalu serius.
Kita tidak mampu menyadari, bahwa hal yang paling mulia, paling berharga, paling bercahaya dan paling tinggi dalam eksistensi sebagai manusia adalah jika bisa mengalami pencerahan [Moksha].
[4]. Manas dan ahamkara hanya dapat memahami kita secara sangat terbatas, yaitu hanya di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik.
Manas dan ahamkara sebagai sebuah sistem, akan selalu berusaha membelenggu kita di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, terutama karena manas dan ahamkara hanya dapat memahami kita secara sangat terbatas di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Sehingga kapan saja kita akan bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik [kesadaran alami, pencerahan, Moksha], maka manas dan ahamkara akan memunculkan dorongan untuk melawan, atau ingin mendapatkan, karena manas dan ahamkara tidak memiliki kemampuan untuk dapat memahaminya.
Akibatnya dalam berbagai segi kehidupan kita selalu mendapat dorongan insting bertahan hidup dan pertahanan diri sebatas untuk pikiran, emosi dan tubuh fisik saja. Kita didorong untuk melawan, kita didorong untuk mendapatkan. Bentuk nyatanya adalah munculnya dari dalam diri kita ketidakpuasan, keserakahan, kemarahan, kebencian, keresahan, kecemasan, kesengsaraan, dsb-nya. Karena begitulah cara kerja sistem bertahan hidup dan pertahanan diri bagi pikiran, emosi dan tubuh fisik. Hal itulah yang membuat kita tidak mampu bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik [kesadaran alami, pencerahan, Moksha].
Tanpa kecerdasan spiritual untuk mengelola manas dan ahamkara, tanpa kecerdasan spiritual untuk mengelola
dorongan sistem alami untuk bertahan hidup dan pertahanan diri, dapat membuat perjalanan hidup kita berbahaya, bahkan masuk jurang kesengsaraan dan sekaligus dapat membuat perjalanan Atma dalam samsara jatuh ke alam rendah.
EVOLUSI KESADARAN
Kesadaran alami yang damai, jernih dan terang [pencerahan, Moksha] ada di dalam diri kita sepanjang waktu. Hanya saja karena dorongan dari manas dan ahamkara, kita tidak dapat menyadarinya [avidya].
Sejujurnya, jika kita hanya terfokus pada mengikuti dorongan manas dan ahamkara [dorongan untuk bertahan hidup dan pertahanan diri], maka kita mirip binatang predator yang setiap hari berburu makanan. Dalam berbagai sisi kehidupan kita selalu mencari dan mencari apa yang bisa kita dapat untuk “diri saya”. Tidak berarti hal itu salah. Tidak berarti manas dan ahamkara salah. Sama sekali tidak. Hanya saja, jika kita hanya terlalu terfokus mengikuti dorongan bertahan hidup dan pertahanan diri, hal itu berarti bahwa dalam evolusi kesadaran kita sudah mengalami suatu kemunduran. Tubuh fisik kita manusia, tapi di dalam diri kita mirip binatang predator yang setiap hari berburu makanan. Mencari. Menunggu. Apa sesuatu yang bisa kita dapat dalam hidup ini. Apa sesuatu yang bisa kita dapat dari orang lain.
Hal terpenting terlahir sebagai manusia, kita adalah satu-satunya mahluk hidup di planet bumi ini yang bisa memilih mau kita bawa kemana arah dari evolusi kesadaran
kita sendiri. Mahluk hidup lain di planet bumi tidak dapat melakukannya, mereka tidak dapat memilih. Karena alam membuat mereka hanya bisa terfokus pada mengikuti dorongan insting bertahan hidup dan pertahanan diri. Inilah hal terpenting sekaligus berkah terindah terlahir sebagai manusia, kita bisa sepenuhnya bebas memilih mau kita bawa kemana arah evolusi kesadaran kita.
Kita manusia bisa memilih :
[1]. Menjalani hidup dengan sangat mementingkan mengikuti dorongan manas dan ahamkara. Menomersatukan mengikuti dorongan sistem untuk bertahan hidup dan pertahanan diri, serta tidak mau mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Seperti yang dilakukan binatang. Untuk kemudian tenggelam di dalam lingkaran kesengsaraan. [2]. Mengalami evolusi kesadaran, dengan cara menjalani hidup dengan kecerdasan spiritual untuk mengelola dorongan manas dan ahamkara, untuk mengelola dorongan sistem untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Yaitu menyeimbangkan antara pelaksanaan urusan bertahan hidup dan mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”, secara bersama-sama. Untuk kemudian suatu saat di dalam perjalanan hidup kita, sesuatu akan mekar, sesuatu yang sangat indah.
[3]. Mengalami evolusi kesadaran tertinggi, dengan cara menjalani hidup dengan melampaui manas dan ahamkara, untuk kemudian mengalami pencerahan [Moksha].
Pembahasan 3 :
TEHNIK UNTUK MENGALAMI
PENCERAHAN [MOKSHA]
Hindari berusaha mengejar, atau berusaha “mencapai” pencerahan [Moksha]. Karena proses spiritual yang tepat bukanlah berusaha “mencapai” pencerahan. Tapi berusaha terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”.
BUKAN MENGEJAR / MENCAPAI PENCERAHAN
Mengapa kita tidak dapat berusaha untuk mengejar atau “mencapai” pencerahan [Moksha] ?
=== Pertama [1], Karena kita sama sekali tidak [belum] tahu seperti apa itu mengalami pencerahan [Moksha]. Kita tidak mungkin dapat mengejar atau mencapai sesuatu yang kita sama sekali tidak tahu. ===
Tidak ada seorangpun yang bisa menjelaskan kepada kita secara tepat apa itu pencerahan [Moksha]. Pada dasarnya mengalami pencerahan adalah sesuatu yang sangat pribadi, karena tidak bisa dijelaskan. Itu sebabnya setiap orang yang
sudah mengalaminya pasti akan diam. Karena penjelasan seperti apapun pasti akan salah. Bukan itu.
Kita mungkin bisa saja membuat sebuah konsep atau ide tentang seperti apa pencerahan [Moksha] itu, kemudian berusaha untuk mengejar, atau kita berusaha untuk mencapai, konsep atau ide kita tersebut. Sayangnya, konsep atau ide kita tersebut bukanlah pencerahan, karena itu hanyalah konsep atau ide kita sendiri yang sudah tentu bukanlah pencerahan.
Jika kita berusaha mengejar sesuatu, kita hanya bisa berusaha mengejar sesuatu yang kita sudah tahu. Kita tidak bisa membuat sebuah konsep atau ide, tentang sesuatu hal yang kita sama sekali tidak tahu. Sesungguhnya, konsep atau ide kita tersebut, muncul dari perpaduan antara kumpulan informasi terbatas yang pernah kita dapat dan logika sempit kita sendiri. Tidak bisa lebih dari itu.
Jadi, hindari memikirkan tentang mengejar atau mencapai pencerahan, karena kita tidak tahu apa yang hendak kita kejar atau capai. Kita hanya akan membodohi diri kita sendiri saja. Kita akan berputar-putar disitu saja, seperti seekor kucing yang berputar-putar berusaha mengejar ekornya sendiri. Kita hanya akan membuang banyak waktu dan tenaga, sekaligus tidak pernah sampai.
Tehnik untuk bisa mengalami pencerahan adalah, kita berusaha tekun terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”, sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang
sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian jika kondisinya tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha]. === Kedua [2], Karena kesadaran alami yang damai, jernih dan terang [kita boleh menamainya apa saja, pencerahan, kesadaran Atma, Moksha, Jivan-Mukti, Nirvana, dsb-nya] merupakan kenyataan diri sejati di dalam setiap manusia. Hal itu ada di dalam diri kita sepanjang waktu. Hanya kita belum menyadarinya saja. ===
Mengejar atau “mencapai” pencerahan, berarti ada jarak antara diri kita dan pencerahan [Moksha]. Itu sebabnya banyak orang bertanya, “berapa lama saya bisa mencapai pencerahan [Moksha] ?”. Pertanyaan yang jelas menunjukkan, seolah ada jarak antara diri kita dan pencerahan [Moksha]. Hal itu analoginya seperti kita pergi dari Denpasar ke Ubud, dimana ada jarak yang harus ditempuh dan ada waktu yang diperlukan untuk sampai di tujuan.
Tapi pencerahan tidak seperti itu. Analoginya sangat berbeda. Pencerahan seperti kita duduk di sebuah kursi dan bertanya, “berapa lama saya bisa mencapai kursi tersebut ?”. Kita sudah ada di kursi tersebut. Tentunya tidak ada jarak yang harus ditempuh dan tidak ada waktu yang diperlukan untuk sampai di kursi tersebut. Karena kita sudah ada disana.
Sejujurnya, untuk pencerahan [Moksha] kita tidak perlu melakukan apapun. Analoginya seperti kita duduk di kursi tadi. Kita sudah ada di kursi tersebut, jadi sesungguhnya kita tidak perlu melakukan apapun lagi. Akan tetapi, karena kita
belum dapat menyadarinya, maka ada tehnik-tehnik tertentu yang perlu kita lakukan untuk dapat menyadarinya.
Mengalami pencerahan [Moksha] bukan sebuah pencapaian, bukan sebuah penyelesaian dari suatu pekerjaan, bukan sebuah penciptaan, bukan sebuah puncak prestasi, dsb-nya, tapi hanya tersadar. Hanya tersadar tentang diri kita sendiri. Tersadar terhadap suatu hal sangat indah yang selalu ada di dalam diri kita sendiri. Disaat kita menyadarinya, itulah yang disebut mengalami pencerahan [Moksha].
Selama ini kita hanya tidak tahu [avidya]. Sepanjang hidup kita sama sekali tidak dapat menyadarinya. Tapi dengan mempraktekkan tehnik untuk mengalami pencerahan, kita dalam sebuah proses spiritual untuk menyadari kembali hal sangat indah yang selalu ada di dalam diri kita dari sejak awal yang tidak berawal. Tiba-tiba suatu saat kita menyadarinya, itulah mengalami pencerahan [Moksha]. Kita hanya tersadar.
Mengapa selama ini kita tidak dapat menyadarinya, mengapa kita merasa pencerahan [Moksha] adalah sesuatu yang sangat jauh, mengapa kita merasa pencerahan [Moksha] adalah sesuatu yang sangat sulit, karena kita memiliki kebiasaan untuk sangat menomersatukan dorongan yang sebagian besar hanya dibuat-buat oleh manas dan ahamkara, seperti perasaan, emosi, drama psikologi, tubuh fisik, intelek, logika, dsb-nya.
Untuk dapat menyadari kenyataan diri kita yang sejati, kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, kita hanya perlu merubah kebiasaan kita selama ini. Kita perlu memiliki
tekad untuk mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan” dan sekaligus memiliki keberanian untuk meninggalkan semua yang hanya dibuat-buat oleh manas dan ahamkara, seperti perasaan, emosi, drama psikologi, tubuh fisik, intelek, logika, dsb-nya. Tanpa kemauan untuk merubah kebiasaaan, kita pasti akan terus tenggelam di dalam kesengsaraan.
TEHNIK PENCERAHAN [MOKSHA] :
MEMPERTAHANKAN KONDISI YANG TEPAT
UNTUK MENGALAMI PENCERAHAN
Kita semua manusia, umumnya bisa menjadi seorang manusia dengan hati yang indah, yang baik hati, sabar, bersyukur, dsb-nya, ketika segala sesuatu di sekitar kita, semuanya sesuai dengan apa yang kita inginkan, ketika semua orang di sekitar kita bertindak dan berperilaku sesuai dengan apa yang kita inginkan. Disaat seperti itu, umumnya kita semua manusia bisa menjadi seorang manusia dengan hati yang indah.
Akan tetapi, ketika orang lain di sekitar kita bertindak dan berperilaku tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita akan berubah, kita tidak bisa lagi menjadi menjadi seorang manusia dengan hati yang indah.
Hal itu disebabkan oleh dorongan dari sebentuk sistem alami di dalam diri kita, yaitu manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an]. Sebentuk sistem alami
yang di dalam diri kita yang bermanfaat, serta bekerja sangat baik untuk tujuan bertahan hidup, pertahanan diri dan menghindarkan kita dari bahaya.
Akan tetapi, manas dan ahamkara memiliki “kebodohan” tersendiri, yaitu semata-mata hanya fokus untuk tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Untuk tujuan tersebut, manas dan ahamkara bisa mendorong kita tenggelam di dalam ketidakpuasan, keserakahan, kemarahan, kebencian, keresahan, kecemasan, kesengsaraan, dsb-nya, karena hal itu bagian dari sistem untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Hal itulah yang seringkali kemudian malah membuat hidup kita berpotensi masuk jurang kerumitan hidup, penderitaan dan kesengsaraan. Itulah bentuk kebodohan dari manas dan ahamkara.
Pada dasarnya, secara alami kita semua manusia memiliki hati yang indah, karena kesadaran alami merupakan kenyataan sejati diri kita. Tapi masalah utamanya adalah kita tidak mau berusaha membiasakan diri mempertahankan keindahan hati kita. Terkadang kita baik hati, terkadang kita sabar, terkadang kita penuh rasa syukur, tapi begitu sesuatu hal terjadi, kita tidak mau berusaha mempertahankan keindahan hati kita tersebut. Hal itu terjadi karena kita mengikuti dorongan dari manas dan ahamkara.
Sekuntum bunga yang mekar menyebarkan semerbak bau harum mewangi dan apapun yang terjadi bunga itu terus mempertahankan bau harum mewanginya. Entah ada orang yang memetiknya, entah ada binatang lewat yang menginjaknya, dsb-nya, bunga itu tidak pernah marah dan
protes, tapi dia tetap tekun menyebarkan semerbak bau harum mewanginya.
Tapi kita manusia tidak seperti itu. Ketika orang lain bertindak dan berperilaku tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita akan marah, atau protes, atau yang lainnya. Kita tidak mau mempertahankan keindahan hati kita. Itulah yang sering terjadi. Karena kita mengikuti dorongan dari manas dan ahamkara yang hanya dapat memahami kita secara sangat terbatas di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, sehingga kita gagal untuk bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha].
Sebagian manusia memandang proses spiritual seperti sebuah hiburan. Mengikuti pelatihan, mengikuti kursus, mengikuti retret, dsb-nya, atau bahkan berdebat disana sini tentang Tuhan, tentang Atma atau tidak ada Atma, tentang perbedaan Moksha dan Nirvana, dsb-nya, tapi tidak memiliki tekad dan keberanian untuk mempertahankan keindahan hatinya di dalam. Itu bukanlah proses spiritual, tapi hanya sebentuk hiburan saja. Proses spiritual yang sesungguhnya adalah kita memiliki tekad dan keberanian untuk mempertahankan keindahan hati kita di dalam.
Berusaha membiasakan diri untuk mempertahankan kondisi keindahan hati kita, itulah yang hendaknya tekun terus kita lakukan. Berusaha tekun terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”, itulah proses spiritual, itulah tehnik untuk dapat mengalami
pencerahan. Membiasakan diri terus-menerus tekun dan tulus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”, untuk mengembalikan tubuh, pikiran, perasaan dan energi di dalam diri kita pada keadaan alaminya yang sejati, kemudian bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita.
Kita tidak bisa berusaha mengejar atau mencapai pencerahan, karena itu sudah ada di dalam diri kita sepanjang waktu. Kita hanya perlu terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”, sambil dengan amat sangat sabar menunggu dan kemudian suatu saat pencerahan [Moksha] akan terjadi.
Ketika kita mengalami pencerahan [Moksha], hal itu merupakan kejadian yang lebih terang dari hari yang paling cerah. Sehingga mengalami pencerahan bukan merupakan suatu kejadian yang bisa kita lewatkan begitu saja. Mengalami pencerahan bukan sebuah kejadian kecil yang bisa kita lewatkan begitu saja. Ketika kita mengalami pencerahan [Moksha], kita pasti akan tahu.
Ketika sesuatu yang sangat indah terjadi di dalam diri kita, sesuatu yang demikian amat sangat indahnya, yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Itu sebabnya setiap orang yang sudah mengalaminya pasti diam. Karena penjelasan seperti apapun akan salah.
Inilah suatu bentuk keindahan dari alam semesta ini, yaitu entah kita mengetahui atau tidak mengetahui, entah kita menyadari atau tidak menyadari, tapi jika kita terus-menerus
tekun melakukan hal indah yang tepat, maka secara pasti hal yang sangat indah akan terjadi pada diri kita. Itulah sebentuk keindahan dari alam semesta ini.
Sesungguhnya, hal yang paling mulia, paling berharga, paling bercahaya dan paling tinggi dalam eksistensi sebagai manusia adalah jika bisa mengalami pencerahan [Moksha].
Pembahasan 4 :
TEHNIK SEDERHANA UNTUK
MENGALAMI PENCERAHAN
[MOKSHA]
Sebelum kita membahas topik utama dari buku ini, yaitu tehnik sederhana untuk pencerahan [Moksha], maka sebelumnya kita perlu merenungkan tentang 4 [empat] benih kesadaran alami.
Kesadaran alami memiliki banyak berbagai benih yang beragam. Akan tetapi dalam rangka kita mempelajari tehnik sederhana untuk pencerahan [Moksha], maka terlebih dahulu kita perlu hening sejenak untuk merenungkan tentang cukup hanya 4 [empat] saja dari benih-benih kesadaran alami, karena hal tersebut terkait erat dengan tehnik yang akan dibahas kemudian. Yaitu 4 [empat] benih sebagai berikut :
== Keikhlasan sempurna.
== Kebaikan dan kemurahhatian yang tulus. == Tidak pernah marah.
== Rasa syukur dan rasa terimakasih yang dalam.
Renungkan dengan baik tentang 4 [empat] hal dari benih-benih kesadaran alami tersebut.
MEMPERTAHANKAN KONDISI YANG TEPAT
UNTUK MENGALAMI PENCERAHAN
Tehnik ini merupakan suatu tehnik sederhana untuk pencerahan [Moksha]. Sederhana tidak berarti mudah atau gampang untuk dipraktekkan. Sederhana berarti tehniknya yang sederhana. Tehniknya tidak banyak, tidak rumit, mudah dimengerti dan langsung bisa dipraktekkan, sehingga tinggal kita tekun untuk melakukannya sepanjang waktu berbaur dengan kesibukan kehidupan sehari-hari.
Tehnik sederhana untuk pencerahan [Moksha], yaitu pilihlah salah satu dari 4 [empat] benih kesadaran alami tersebut, yang merupakan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Pilih yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita. Entah keikhlasan, kebaikan hati, tidak pernah marah, rasa syukur, hal itu terserah, pilihlah hanya salah satu saja sesuai pilihan kita.
Jangan meminta saran orang lain memilihnya untuk kita. Karena setiap orang memiliki kondisi dan latar belakang yang berbeda-beda. Setiap orang unik dan otentik. Hanya diri kita sendirilah yang paling tahu, pilihan mana yang paling cocok dan sesuai untuk diri kita.
Setelah menentukan pilihan, kemudian berusahalah dengan tekad dan sungguh-sungguh untuk terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan” tersebut setiap saat setiap waktu, sepanjang perjalanan hidup kita. Suatu perpaduan antara menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari dan terus-menerus
mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan” tersebut secara bersama-sama. Maka di dalam perjalanan hidup kita sesuatu akan mekar, sesuatu yang sangat indah.
Tidak usah banyak-banyak, cukup kita pilih hanya satu saja, entah keikhlasan, kebaikan hati, tidak pernah marah, rasa syukur, hal itu terserah, tapi berusahalah terus-menerus mempertahankannya setiap saat setiap waktu, sepanjang perjalanan hidup kita. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, tekunlah berusaha terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan” tersebut. Cukup hanya itu saja dan kita sudah mulai menapaki perjalanan spiritual yang dalam.
Hindari berusaha mengejar pencerahan, atau berusaha mencapai pencerahan, karena kita tidak akan pernah sampai kemana-mana. Kita tidak bisa berusaha mengejar atau mencapai pencerahan, karena itu sudah ada di dalam diri kita sepanjang waktu. Kita hanya perlu tekun terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”, yaitu salah satu dari 4 [empat] benih kesadaran alami pilihan kita sendiri.
Sebab utama kenapa banyak manusia merasakan ada jarak yang jauh antara dirinya dan pencerahan [Moksha], kenapa banyak manusia merasakan pencerahan sangat sulit, adalah karena kita TIDAK KONSISTEN. Kita tidak ada tekad dan kemauan untuk merubah kebiasaan mengikuti dorongan dari manas dan ahamkara. Kita tidak memiliki tekad dan keberanian untuk membiasakan diri mempertahankan
“kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan” secara konsisten dan terus-menerus. Akibatnya kita mudah tenggelam di dalam kesengsaraan.
Terkadang kita baik hati, terkadang kita sabar, terkadang kita penuh rasa syukur, tapi begitu dalam hidup terjadi hal yang tidak menyenangkan, menyakitkan, atau tidak sesuai harapan dan keinginan, kita tidak memiliki tekad dan keberanian untuk berusaha mempertahankan keindahan hati kita tersebut. Ketidakkonsistenan seperti itulah yang membuat kita merasa pencerahan [Moksha] seperti sangat jauh dan sangat sulit.
Proses spiritual yang tepat bukanlah berusaha mengejar atau “mencapai” pencerahan. Tapi berusaha tekun dan konsisten terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”, sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
Pembahasan 5 :
PENJELASAN PRAKTEK
=== KEIKHLASAN SEMPURNA
Jika kita merasa bahwa KEIKHLASAN SEMPURNA adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu KEIKHLASAN SEMPURNA, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan KEIKHLASAN SEMPURNA, setiap saat setiap waktu, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
=====================
Kehidupan ini seringkali membawa berbagai bentuk rasa sakit, kesedihan dan kesengsaraan ke dalam kehidupan kita. Sesungguhnya, saat-saat mengalami rasa sakit adalah saat-saat terbaik untuk membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara, yang menutupi “permata indah”
kesadaran alami di dalam diri kita. Caranya adalah dengan menerimanya dalam keikhlasan sempurna.
Hadapilah setiap rasa sakit yang diberikan kehidupan dengan keikhlasan sempurna. Laksana memurnikan emas melalui api, kesadaran kita dimurnikan melalui rasa sakit dan luka-luka perasaan, yang kita tanggapi dengan keikhlasan sempurna. Jika kita tekun dan tulus untuk menerima rasa sakit dan luka-luka perasaan, dengan keikhlasan sempurna, maka rasa sakit dan luka-luka perasaan akan sangat membersihkan belenggu manas dan ahamkara.
Jika kita melawan, ketika dari dalam diri kita muncul dorongan untuk melawan, itu muncul dari manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], sebuah sistem di dalam diri kita untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Tapi manas dan ahamkara hanya memahami kita secara sangat terbatas. Terbatas hanya di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, sehingga manas dan ahamkara selalu berusaha membelenggu kita di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Tapi jika kita ingin bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha], maka hendaknya kita berhenti melawan. Kita berusaha untuk terus-menerus menerima rasa sakit dan luka-luka perasaan dengan keikhlasan sempurna.
Sangat sedikit ada manusia yang menyadari bahwa ada rahasia berkah spiritual yang sangat indah di balik keikhlasan sempurna di dalam menerima setiap rasa sakit dan luka-luka perasaan dalam kehidupan. Itulah tehnik tersingkat dan
terpendek untuk membuat kita semakin dapat menyadari kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang.
Dengan keikhlasan sempurna untuk menerima rasa sakit dan luka-luka perasaan, itu bisa menjadi tehnik tersingkat dan terpendek untuk membuat kita semakin dapat melampaui manas dan ahamkara, semakin dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik. Begitu rasa sakit dan luka-luka perasaan dapat terus kita lewati lagi, lagi dan lagi, dengan keikhlasan sempurna, maka kita juga akan semakin bisa bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha].
Keikhlasan sempurna akan sangat berat dilakukan oleh manusia yang sangat kuat terbelenggu oleh manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], yang insting bertahan hidup dan pertahanan dirinya masih sangat kuat mendominasi. Orang seperti ini akan mudah masuk jurang kesengsaraan dan sulit naik kembali.
Sesungguhnya, kegagalan kita untuk mempraktekkan keikhlasan sempurna, tidak disebabkan oleh berapa besarnya kesalahan orang lain, tapi disebabkan oleh masih kuatnya kita tenggelam di dalam belenggu manas dan ahamkara. Kita masih terbelenggu di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Untuk dapat melampaui manas dan ahamkara, untuk dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, untuk dapat menyadari kembali kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, kita tidak punya pilihan
lain selain terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Dalam pilihan tehnik ini, yaitu terus-menerus secara konsisten menerima setiap rasa sakit dan luka-luka perasaan dengan keikhlasan sempurna, sepanjang perjalanan hidup kita, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten dalam mempertahankan KEIKHLASAN SEMPURNA, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Maka suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah sesuai, kita akan mengalami pencerahan [Moksha]. =====================
TEHNIK TAMBAHAN PENTING :
Jika kita memilih tehnik KEIKHLASAN SEMPURNA, maka maka lakukanlah tehnik tambahan penting hal ini :
[1]. Hindari untuk melakukan curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya. Karena hal itu berarti kita membuat rintangan baru yang besar, yang sekaligus akan membuat kita mengalami kemunduran dalam proses spiritual kita ini.
Curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya, adalah jebakan yang sangat memerangkap. Rasanya melegakan dan memuaskan, tapi di kedalaman hal itu akan tambah menyalakan kobaran api di dalam diri. Hal itu dapat membuat semua benih kesadaran alami di dalam diri kita layu dan mati, digantikan dengan kekuatan yang menyebut diri sebagai korban yang kuat sekali. Kekuatan ini tidak jauh-jauh dari topik : saya benar orang lain salah, saya baik dan orang lain jahat, dsb-nya. Seperti nyala api, jika diikuti terus-menerus, kekuatan berbahaya ini akan semakin membesar, bahkan bisa menjadi kobaran api yang sangat membakar. Orang yang sudah menjadi seperti ini, chakra anahata-nya akan sangat gelap. Ciri utamanya adalah memiliki kesulitan untuk mencintai.
[2]. Jika kita seorang pemula [baru mulai melakukan tehnik ini], setiap kita sudah melakukan suatu keikhlasan sempurna, kita ucapkan dalam hati doa :
“Semua mahluk yang menyakiti dan melukai, laksana permata berharga yang membuat saya bisa mengalami pencerahan. Oleh karena itu, ijinkan saya mengambil kekalahan ini dan memberikan kemenangan kepada orang lain sebagai berkah spiritual yang tertinggi”.
=== KEBAIKAN DAN
KEMURAHHATIAN YANG TULUS
Jika kita merasa bahwa KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
=====================
Di dalam diri kita terdapat manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], yang merupakan sebuah sistem yang baik, yang memiliki tujuan dan manfaat untuk membantu kita bertahan hidup dan pertahanan diri di dunia ini. Akan tetapi, manas dan ahamkara memiliki “sebentuk kebodohan” tersendiri, yaitu semata-mata hanya fokus untuk tujuan bertahan hidup dan pertahanan diri. Akibatnya, jika kita terlalu mengikuti dorongan dan insting
dari sistem ini, seringkali kemudian malah membuat hidup kita berpotensi masuk jurang kerumitan hidup, penderitaan dan kesengsaraan.
Di dalam diri kita juga terdapat kesadaran alami, yang merupakan kenyataan sejati diri kita, yang damai, jernih dan terang. Hal itu selalu ada di dalam diri kita dan tidak pernah hilang. Laksana permata sangat berharga yang tersembunyi oleh selubung “tanah berlumpur” manas dan ahamkara. Permata itu tidak pernah hilang, hanya tersembunyi oleh selubung “tanah berlumpur” manas dan ahamkara.
Kunci penting jika kita memilih tehnik KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS adalah, setiap kali kita melihat mahluk lain, berhenti berpikir “apa yang bisa saya dapat dari orang ini ?”. Hal itu muncul dari dorongan manas dan ahamkara, yang membuat kita memandang “diri saya” menjadi terlalu penting. Dalam berbagai sisi kehidupan kita selalu mencari apa yang bisa kita dapat untuk “diri saya”. Kita mirip binatang predator yang setiap hari berburu makanan. Mencari. Menunggu. Apa sesuatu yang bisa kita dapat dalam hidup ini. Apa sesuatu yang bisa kita dapat dari orang lain. Itu adalah awal mula dari berbagai macam kesengsaraan.
Oleh karena itu, berpikirlah sebaliknya. Setiap kali kita melihat mahluk lain, renungkan di dalam diri “apa yang bisa saya lakukan untuk orang ini ?”.
Jika kita memiliki tekad dan keberanian untuk secara terus-menerus konsisten mempertahankan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, setiap saat setiap waktu tidak
peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, maka hal itu secara alami dengan sendirinya akan membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara. Sehingga suatu saat, tanpa perlu berusaha terlalu keras, tiba-tiba sesuatu yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita.
Sebaliknya, jika kita tidak mau tekun membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara, melalui kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, maka “tanah berlumpur” manas dan ahamkara akan membuat kita dicengkeram kuat oleh ketidakbahagiaan dan kesengsaraan. Artinya, manusia yang jarang-jarang mau untuk melakukan kebaikan dan kemurahhatian yang tulus, hanya masalah waktu saja dia akan terbenam di dalam ketidakbahagiaan dan kesengsaraan.
Coba kita perhatikan orang-orang yang jarang-jarang mau melakukan kebaikan dan kemurahhatian yang tulus, hidupnya akan kering, banyak masalah dan pikirannya mudah gelisah. Pertanda lainnya, dia mudah curiga, mudah marah dan tersinggung, mudah putus asa, atau sulit tidur.
Sebaliknya coba kita perhatikan orang-orang baik hati yang tulus, yang suka menolong, yang suka melakukan pelayanan, yang murah hati, yang suka memberi, dsb-nya, dia pikirannya relatif tenang dan stabil. Dia lebih jarang marah, lebih jarang merasa takut, lebih jarang merasa kesepian, lebih jarang merasa resah dan gelisah.
Ketika kita ingin mendapatkan untuk “diri saya”, ketika dari dalam diri kita muncul dorongan untuk memikirkan atau mementingkan diri sendiri, itu muncul dari manas [pikiran,
perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], sebuah sistem di dalam diri kita untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Tapi manas dan ahamkara hanya memahami kita secara sangat terbatas. Terbatas hanya di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, sehingga manas dan ahamkara selalu berusaha membelenggu kita di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Tapi jika kita ingin bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha], maka hendaknya kita berhenti memikirkan atau mementingkan diri sendiri. Hendaknya kita berhenti ingin mendapatkan untuk “diri saya”. Kita berusaha terus-menerus konsisten mempertahankan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus memiliki ruas-ruas yang sangat luas dan beragam. Tidak hanya sebatas melakukan suatu pemberian uang, barang, makanan, benda, dsb-nya. Tapi juga memberikan pertolongan, memberikan pelayanan, memberikan kebahagiaan, dsb-nya. Semua hal itu juga merupakan praktek kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus.
Bahkan hal-hal kecil juga merupakan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus. Misalnya [contoh], jika di rumah ada piring kotor segeralah kita cuci bersih, kalau rumah sedang kotor ambil sapu dan pel lalu bersihkan. Itu kita lakukan dengan sikap penuh pelayanan, dengan suka-cita dan diam, tidak usah mengeluh siapa yang seharusnya punya tugas mencuci piring atau membersihkan rumah.
Tekun terus-menerus konsisten mempertahankan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, hal itu tidak hanya berguna bagi mahluk lain, tapi terutama sekali sangat berguna untuk diri kita sendiri. Karena hal itu sesungguhnya tidak hanya sebatas membantu, menolong, membahagiakan, atau menyelamatkan mahluk lain, tapi sekaligus juga akan membuat kita semakin bisa bersentuhan dengan bagian dari diri kita sendiri di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha].
Untuk dapat melampaui manas dan ahamkara, untuk dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, untuk dapat menyadari kembali kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, kita tidak punya pilihan lain selain terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Dalam pilihan tehnik ini, yaitu terus-menerus secara konsisten mempertahankan dan mempraktekkan kebaikan hati dan kemurahhatian yang tulus sepanjang perjalanan hidup kita, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat
sabar terus menunggu. Maka suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah sesuai, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
===================== TEHNIK TAMBAHAN PENTING :
Jika kita memilih tehnik KEBAIKAN HATI DAN KEMURAHHATIAN YANG TULUS, maka lakukanlah tehnik tambahan penting hal ini :
[1]. Setiap kita sudah melakukan suatu kebaikan, pemberian, pelayanan, dsb-nya, kita ucapkan dalam hati doa “semoga semua mahluk bahagia bebas derita” sebanyak 3 [tiga] kali. [2]. Setiap kita sudah melakukan suatu kebaikan, pemberian, pelayanan, dsb-nya, maka segera lepaskan [lupakan]. Karena kadang terjadi, segala kebaikan yang pernah kita lakukan cepat sekali dilupakan orang. Bahkan terkadang terjadi kita malah dijelek-jelekkan. Agar kebaikan yang pernah kita lakukan tidak kelak justru kemudian membakar membuat kita marah, maka lakukan kebaikan dan segera lepaskan [lupakan]. Hal ini juga sangat penting untuk menjaga ketulusan kita.
=== TIDAK PERNAH MARAH
Jika kita merasa bahwa TIDAK PERNAH MARAH adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu TIDAK PERNAH MARAH, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan TIDAK PERNAH MARAH, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
=====================
Kunci penting jika kita memilih tehnik TIDAK PERNAH MARAH adalah merubah kebiasaan kita mengkerangkakan pikiran ke dalam dualitas positif-negatif. Seperti baik-buruk, menyenangkan-tidak menyenangkan, salah-benar, suka-tidak suka, mengganggu-tidak mengganggu, dsb-nya. Tapi belajar untuk melihat dan menanggapi segala sesuatu sebagaimana adanya secara sangat polos [tanpa penilaian].
Kebiasaan kita umumnya :
Saya tidak suka jika jalan macet. Saya suka jika jalan lancar. Saya tidak suka jika melihat rumah berantakan. Saya suka jika melihat rumah rapi.
Saya tidak suka jika disediakan rujak bangkuang. Saya suka jika disediakan rujak mangga.
Pasangan kurang perhatian itu salah. Pasangan penuh perhatian itu benar.
Mertua cerewet itu salah. Mertua polos itu benar. Anak nakal itu salah. Anak penurut itu benar.
Jika tetangga memuji itu baik. Jika tetangga menghina itu buruk.
Saya tidak suka jika tetangga menghidupkan musik keras. Saya suka jika tetangga sepi.
Dalam berbagai segi kehidupan, kita memiliki suatu kebiasaan di dalam diri untuk mengkerangkakan pikiran ke dalam dualitas positif-negatif.
Jika kita dapat merubah kebiasaan di dalam diri kita tersebut, jika kita dapat berhenti mengkerangkakan pikiran kita ke dalam dualitas positif-negatif, jika kita dapat melihat dan menanggapi segala sesuatu sebagaimana adanya secara sangat polos [tanpa penilaian], sekaligus diam dan tersenyum, maka itu berarti 80% tugas kita untuk TIDAK PERNAH MARAH sudah selesai. Kita tinggal menyelesaikan sisanya yang lagi sebanyak 20% saja.
Sifat alami dari kehidupan adalah terus-menerus berputar dalam dualitas tanpa bisa dihentikan. Malam
menjadi siang, siang menjadi malam. Bunga menjadi sampah, sampah menjadi bunga. Ada saatnya hidup kita mudah, ada saatnya hidup kita susah. Ada saatnya kita merasa damai, ada saatnya kita mengalami bad mood. Orang yang mencaci hari ini, bisa memuji di hari lain. Orang yang memuji hari ini, bisa mencaci di hari yang lain. Orang yang membuat bahagia saat ini, bisa membuat sengsara di waktu yang lain. Orang yang membuat sengsara saat ini, bisa membuat bahagia di waktu yang lain. Sekarang tubuh kita sakit, nanti tubuh kita sehat. Sekarang tubuh kita lemas, nanti tubuh kita segar. Ada saatnya hidup bahagia, ada saatnya hidup sedih.
Tugas spiritual kita kemudian adalah tidak pernah marah ketika putaran kehidupan sedang dalam keadaan tidak menyenangkan, atau ketika putaran kehidupan sedang tidak sesuai harapan dan keinginan kita. Ingat bahwa semua itu hanyalah sifat alami dari kehidupan yang memang terus berputar dalam dualitas tanpa bisa dihentikan. Jika kita marah, kita pasti akan jatuh tenggelam dalam ketidakbahagiaan dan kesengsaraan. Jika kita tidak pernah marah, apalagi banyak diam dan tersenyum, hal itu akan sangat membersihkan belenggu manas dan ahamkara.
Disakiti, dicaci-maki, dilecehkan, dihina, dirugikan, ditipu, dimanfaatkan orang, dsb-nya, umumnya terasa tidak enak dan sakit. Demikian juga dengan keadaan yang tidak sesuai harapan dan keinginan kita, ini seharusnya begini, kamu seharusnya begitu, dsb-nya, umumnya terasa tidak enak dan sakit. Terutama bagi manusia yang sangat kuat terbelenggu oleh manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], yang insting bertahan hidup
dan pertahanan dirinya masih sangat kuat mendominasi, hal itu akan terasa amat sangat menyakitkan. Orang seperti ini akan mudah sekali marah.
Jika kita marah, ketika dari dalam diri kita muncul dorongan untuk marah, itu muncul dari manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], sebuah sistem di dalam diri kita untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Tapi manas dan ahamkara hanya memahami kita secara sangat terbatas. Terbatas hanya di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, sehingga manas dan ahamkara selalu berusaha membelenggu kita di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Tapi jika kita ingin bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha], maka hendaknya kita tidak pernah marah. Kita berusaha terus-menerus menerima setiap keadaan tidak menyenangkan, atau setiap kehidupan yang tidak sesuai harapan dan keinginan kita, dengan tidak pernah marah, tapi banyak diam dan tersenyum.
Terdapat suatu kisah orang suci sekaligus Guru spiritual besar di masa lampau. Dalam proses spiritual Beliau sebelum mengalami pencerahan, Beliau memilih tehnik ini. Beliau mengambil samaya [sumpah spiritual] untuk tidak pernah marah seumur hidupnya. Dengan menekuni tehnik ini, suatu ketika dalam perjalanan hidup-Nya, Beliau kemudian berhasil mengalami pencerahan [Moksha].
Tidak pernah marah, banyak diam dan tersenyum, itu adalah hadiah yang sangat indah bagi perjalanan hidup kita, bagi perjalanan Atma kita dalam samsara, serta sekaligus bagi
orang-orang di sekitar kita [karena kita akan menebarkan getaran energi yang positif bagi lingkungan].
Tidak pernah marah, banyak diam dan tersenyum, itu adalah sebuah tehnik untuk membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara, yang menutupi “permata indah” kesadaran alami di dalam diri kita. Begitu kita dapat konsisten terus-menerus mempertahankan tidak pernah marah, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, maka kita juga akan semakin bisa bersentuhan dengan bagian dari diri kita sendiri di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha].
Untuk dapat melampaui manas dan ahamkara, untuk dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, untuk dapat menyadari kembali kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, kita tidak punya pilihan lain selain terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Dalam pilihan tehnik ini, yaitu terus-menerus secara konsisten mempertahankan dan mempraktekkan tidak pernah marah sepanjang perjalanan hidup kita, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan TIDAK PERNAH MARAH, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.
Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Maka suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah sesuai, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
===================== TEHNIK TAMBAHAN PENTING :
Jika kita memilih tehnik TIDAK PERNAH MARAH, maka maka lakukanlah tehnik tambahan penting hal ini :
[1]. Hindari untuk melakukan curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya. Karena hal itu berarti kita membuat rintangan baru yang besar, yang sekaligus akan membuat kita mengalami kemunduran dalam proses spiritual kita ini.
Curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya, adalah jebakan yang sangat memerangkap. Rasanya melegakan dan memuaskan, tapi di kedalaman hal itu akan tambah menyalakan kobaran api di dalam diri. Hal itu dapat membuat semua benih kesadaran alami di dalam diri kita layu dan mati, digantikan dengan kekuatan yang menyebut diri sebagai korban yang kuat sekali. Kekuatan ini tidak jauh-jauh dari topik : saya benar orang lain salah, saya baik dan orang lain jahat, dsb-nya. Seperti nyala api, jika diikuti terus-menerus, kekuatan berbahaya ini akan semakin membesar, bahkan bisa menjadi kobaran api yang sangat membakar. Orang yang sudah menjadi seperti ini, chakra anahata-nya akan sangat gelap. Ciri utamanya adalah memiliki kesulitan untuk mencintai.
[2]. Jika kita seorang pemula [baru mulai melakukan tehnik ini], setiap kita sudah melakukan tidak pernah marah, kita ucapkan dalam hati doa :
“Semua mahluk yang menyakiti dan melukai, laksana permata berharga yang membuat saya bisa mengalami pencerahan. Oleh karena itu, ijinkan saya mengambil kekalahan ini dan memberikan kemenangan kepada orang lain sebagai berkah spiritual yang tertinggi”.
=== RASA SYUKUR DAN RASA
TERIMAKASIH YANG DALAM
Jika kita merasa bahwa RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.
Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM, setiap saat setiap waktu tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].
=====================
Jika kita memilih tehnik RASA SYUKUR DAN RASA TERIMAKASIH YANG DALAM, terdapat 3 [tiga] kunci penting yang perlu kita lakukan :
[1]. Menghentikan kebiasaan kita membanding-bandingkan dengan yang lebih baik. Berhenti membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain, berhenti membandingkan berkah kehidupan kita dengan berkah kehidupan orang lain, berhenti
membandingkan pasangan kita dengan orang lain, berhenti membandingkan anak kita dengan anak yang lain, berhenti membandingkan sepeda motor kita dengan kendaraan orang lain, dsb-nya. Selalu temukan sisi-sisi indah yang layak untuk disyukuri dari diri kita dan kehidupan kita.
[2]. Menghentikan lobha, yaitu menghentikan keserakahan dan ketidakpuasan. Belajar mengatakan ini sudah cukup. Sesulit apapun kehidupan kita, seperti apapun berkah yang diberikan kehidupan kepada kita, selalu pandang kehidupan dengan penuh rasa syukur dan rasa terimakasih yang dalam. Sesungguhnya hidup kita sudah dipenuhi keberuntungan : == Jika kita punya makanan untuk dimakan, punya pakaian yang layak untuk dikenakan, punya tempat berteduh, punya tempat untuk tidur yang nyaman, jika kita punya semua itu, kita sudah lebih kaya dari 75% manusia lainnya di planet bumi. == Jika saat ini kita dalam keadaan sehat, kita sudah lebih terberkahi dari berjuta-juta manusia lainnya di planet bumi yang saat ini dalam keadaan sakit.
== Jika minggu ini kita masih hidup, kita jauh lebih terberkahi dari jutaan manusia lainnya di planet bumi yang minggu ini tidak dapat bertahan hidup dan mati.
== Jika kita membaca buku ini, kita jauh lebih beruntung dari 3 [tiga] milyar manusia lainnya di planet bumi yang tidak bisa membaca dan yang matanya mengalami kebutaan.
Sesungguhnya dalam hidup ini, tersedia ribuan hal yang bisa bisa kita pandang dengan penuh rasa syukur dan rasa terimakasih yang dalam.