• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENJELASAN PRAKTEK

Dalam dokumen Rumah Dharma - Hindu Indonesia (Halaman 38-43)

=== KEIKHLASAN SEMPURNA

Jika kita merasa bahwa KEIKHLASAN SEMPURNA adalah benih kesadaran alami yang paling cocok dan sesuai dengan diri kita, maka tekunlah untuk terus-menerus tanpa henti mempertahankan cukup yang satu ini saja, yaitu KEIKHLASAN SEMPURNA, terus-menerus setiap saat setiap waktu, apapun yang terjadi, sepanjang perjalanan hidup kita.

Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten mempertahankan KEIKHLASAN SEMPURNA, setiap saat setiap waktu, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah tepat, kita akan mengalami pencerahan [Moksha].

=====================

Kehidupan ini seringkali membawa berbagai bentuk rasa sakit, kesedihan dan kesengsaraan ke dalam kehidupan kita. Sesungguhnya, saat-saat mengalami rasa sakit adalah saat-saat terbaik untuk membersihkan “tanah berlumpur” manas dan ahamkara, yang menutupi “permata indah”

kesadaran alami di dalam diri kita. Caranya adalah dengan menerimanya dalam keikhlasan sempurna.

Hadapilah setiap rasa sakit yang diberikan kehidupan dengan keikhlasan sempurna. Laksana memurnikan emas melalui api, kesadaran kita dimurnikan melalui rasa sakit dan luka-luka perasaan, yang kita tanggapi dengan keikhlasan sempurna. Jika kita tekun dan tulus untuk menerima rasa sakit dan luka-luka perasaan, dengan keikhlasan sempurna, maka rasa sakit dan luka-luka perasaan akan sangat membersihkan belenggu manas dan ahamkara.

Jika kita melawan, ketika dari dalam diri kita muncul dorongan untuk melawan, itu muncul dari manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], sebuah sistem di dalam diri kita untuk bertahan hidup dan pertahanan diri. Tapi manas dan ahamkara hanya memahami kita secara sangat terbatas. Terbatas hanya di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik, sehingga manas dan ahamkara selalu berusaha membelenggu kita di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Tapi jika kita ingin bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha], maka hendaknya kita berhenti melawan. Kita berusaha untuk terus-menerus menerima rasa sakit dan luka-luka perasaan dengan keikhlasan sempurna.

Sangat sedikit ada manusia yang menyadari bahwa ada rahasia berkah spiritual yang sangat indah di balik keikhlasan sempurna di dalam menerima setiap rasa sakit dan luka-luka perasaan dalam kehidupan. Itulah tehnik tersingkat dan

terpendek untuk membuat kita semakin dapat menyadari kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang.

Dengan keikhlasan sempurna untuk menerima rasa sakit dan luka-luka perasaan, itu bisa menjadi tehnik tersingkat dan terpendek untuk membuat kita semakin dapat melampaui manas dan ahamkara, semakin dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik. Begitu rasa sakit dan luka-luka perasaan dapat terus kita lewati lagi, lagi dan lagi, dengan keikhlasan sempurna, maka kita juga akan semakin bisa bersentuhan dengan diri kita di tingkatan yang melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, yaitu pencerahan [Moksha].

Keikhlasan sempurna akan sangat berat dilakukan oleh manusia yang sangat kuat terbelenggu oleh manas [pikiran, perasaan, intelek, logika] dan ahamkara [ego, ke-aku-an], yang insting bertahan hidup dan pertahanan dirinya masih sangat kuat mendominasi. Orang seperti ini akan mudah masuk jurang kesengsaraan dan sulit naik kembali.

Sesungguhnya, kegagalan kita untuk mempraktekkan keikhlasan sempurna, tidak disebabkan oleh berapa besarnya kesalahan orang lain, tapi disebabkan oleh masih kuatnya kita tenggelam di dalam belenggu manas dan ahamkara. Kita masih terbelenggu di tingkatan pikiran, emosi dan tubuh fisik. Untuk dapat melampaui manas dan ahamkara, untuk dapat melampaui pikiran, emosi dan tubuh fisik, untuk dapat menyadari kembali kenyataan sejati diri kita, yaitu kesadaran alami yang damai, jernih dan terang, kita tidak punya pilihan

lain selain terus-menerus mempertahankan “kondisi yang tepat untuk mengalami pencerahan”. Dalam pilihan tehnik ini, yaitu terus-menerus secara konsisten menerima setiap rasa sakit dan luka-luka perasaan dengan keikhlasan sempurna, sepanjang perjalanan hidup kita, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.

Suatu perpaduan antara menjalankan urusan mencari uang [bertahan hidup] dan menjalankan kesibukan kehidupan kita sehari-hari, sekaligus memiliki tekad dan keberanian untuk terus-menerus konsisten dalam mempertahankan KEIKHLASAN SEMPURNA, setiap saat setiap waktu, kapan saja dimana saja, tidak peduli apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Sambil dengan amat sangat sabar terus menunggu. Maka suatu saat, bunga yang sangat indah akan mekar di dalam diri kita. Kemudian suatu ketika jika kondisinya sudah sesuai, kita akan mengalami pencerahan [Moksha]. =====================

TEHNIK TAMBAHAN PENTING :

Jika kita memilih tehnik KEIKHLASAN SEMPURNA, maka maka lakukanlah tehnik tambahan penting hal ini :

[1]. Hindari untuk melakukan curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya. Karena hal itu berarti kita membuat rintangan baru yang besar, yang sekaligus akan membuat kita mengalami kemunduran dalam proses spiritual kita ini.

Curhat, apalagi mengeluh, protes, dan sejenisnya, adalah jebakan yang sangat memerangkap. Rasanya melegakan dan memuaskan, tapi di kedalaman hal itu akan tambah menyalakan kobaran api di dalam diri. Hal itu dapat membuat semua benih kesadaran alami di dalam diri kita layu dan mati, digantikan dengan kekuatan yang menyebut diri sebagai korban yang kuat sekali. Kekuatan ini tidak jauh-jauh dari topik : saya benar orang lain salah, saya baik dan orang lain jahat, dsb-nya. Seperti nyala api, jika diikuti terus-menerus, kekuatan berbahaya ini akan semakin membesar, bahkan bisa menjadi kobaran api yang sangat membakar. Orang yang sudah menjadi seperti ini, chakra anahata-nya akan sangat gelap. Ciri utamanya adalah memiliki kesulitan untuk mencintai.

[2]. Jika kita seorang pemula [baru mulai melakukan tehnik ini], setiap kita sudah melakukan suatu keikhlasan sempurna, kita ucapkan dalam hati doa :

“Semua mahluk yang menyakiti dan melukai, laksana permata berharga yang membuat saya bisa mengalami pencerahan. Oleh karena itu, ijinkan saya mengambil kekalahan ini dan memberikan kemenangan kepada orang lain sebagai berkah spiritual yang tertinggi”.

=== KEBAIKAN DAN

Dalam dokumen Rumah Dharma - Hindu Indonesia (Halaman 38-43)

Dokumen terkait