Mengapa Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh (PTJJ)?
KAJIAN LITERATUR DAN PEMBAHASAN 1. Konsep tentang Pendidikan Terbuka
4. Kendala Akses terhadap Layanan Pendidikan Reguler/Konvensional
dan Solusinya
Kendala akses terhadap layanan pendidikan reguler/konvensional tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju. Kendala akses inilah yang tampak menjadi pertimbangan utama, baik bagi masyarakat untuk mengikuti kegiatan pendidikan maupun bagi pemerintah atau swasta untuk mendirikan/menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh.
Berbagai aspek yang berkaitan dengan kendala akses terhadap layanan pendidikan adalah (a) keterbatasan waktu (karena harus bekerja), (b) kondisi geografis yang mencakup keadaan yang sulit (difficulties to reach), dan jarak yang jauh (distance), (c) pemukiman penduduk yang terpencar-pencar dan masinhg-masing jumlahnya relatif kecil (rarely dispersed population), (d) kondisi kemampuan financial (financial affordance), (e) kekurangberuntungan secara fisik (physically disadvantaged), dan (f) keterbatasan sarana transportasi (public transportation constraint) untuk menjangkau lembaga pendidikan reguler yang ada, serta (g) kendala dalam pencapaian pangkat puncak bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) (constraint in achieving the highest rank).
a. Kendala Waktu
Di negara-negara maju dan mungkin juga sudah mulai tampak menggejala di sebagian negara-negara berkembang bahwa para pekerja, yang memiliki motivasi yang tinggi untuk meningkatkan potensi diri secara berkelanjutan melalui pendidikan demi pengembangan karier secara optimal, menghadapi kendala waktu untuk mengikuti pendidikan pada lembaga pendidikan reguler/
konvensional yang ada. Sebagian besar waktu para pekerja digunakan untuk bekerja,
Rahmi Rivalina, Mengapa Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh (PTJJ)?
mulai dari pagi sampai dengan sore hari sehingga sangat sulit bagi mereka untuk dapat secara teratur mengikuti kegiatan perkuliahan yang ketat (rigid) yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan reguler. Oleh karena itu, para pekerja yang memiliki motivasi tinggi untuk melanjutkan pendidikannya membutuhkan jenis layanan pendidikan yang memberikan fleksibilitas dalam kegiatan belajar.
Dengan adanya fleksibilitas kegiatan belajar yang ditawarkan lembaga pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, maka peluang untuk melanjutkan pendidikan di kalangan para pekerja menjadi terbuka luas. Dengan demikian, para pekerja dapat memanfaatkan setiap waktu senggang yang mereka miliki untuk belajar, baik selama di tempat bekerja maupun di luar tempat kerja. Sedangkan untuk kepentingan kegiatan tutorial atau konsultasi dengan penasehat akademik, beberapa lembaga pendidikan pada umumnya menyediakan fasilitas yang memungkinkan terjadinya tutorial melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (e-tutorial atau e-discussion).
Beberapa lembaga pendidikan justru menyelenggarakan kegiatan tutorial tatap muka atau konsultasi akademik pada hari-hari libur tertentu sehingga memungkinkan para pekerja untuk mengikutinya.
b. Kondisi Geografis
Persebaran penduduk yang sangat berjauhan dengan jumlah populasi yang relatif kecil menjadi kendala bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan melalui lembaga pendidikan reguler yang ada.
Sebagai contoh misalnya di beberapa wilayah di Australia. Lokasi pemukiman penduduk sangat terpencar-pencar dengan jumlah populasi yang relatif kecil dan lokasinya saling berjauhan antara pemukiman yang satu dengan pemukiman lainnya. Sebagai dampaknya adalah bahwa masing-masing kelompok masyarakat membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk menjangkau lembaga pendidikan reguler yang ada.
Jarak tempuh yang relatif jauh dari lokasi pemukiman masyarakat ke lokasi lembaga penyelenggara pendidikan reguler
mengakibatkan terjadinya kelelahan fisik terutama bagi anak-anak yang berusia 4-6 tahun. Untuk kepentingan pendidikan anak-anak ini, diselenggarakanlah pendidikan Sekolah Taman Kanak-Kanak Jarak Jauh (TK-JJ). Dalam penyelenggaraannya, orang dewasa yang ada bersama anak-anak menjadi wahana untuk difungsikan sebagai
“guru” melalui bimbingan yang dilakukan oleh lembaga penyelenggara pendidikan terbuka dan jarak jauh. Keterlaksanaan kegiatan pendidikan TKJJ ini mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, seperti: fax, telepon, radio komunikasi, televisi, komputer, dan internet.
Salah satu pertimbangan penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh di Thailand adalah dikarenakan kondisi geografis di mana sebagian masyarakat bermukim di tempat yang terpencil. Kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan di daerah terpencil ini tidak mungkin dilakukan oleh lembaga pendidikan regular (http://www.Distance learning gets closer in remote areas-Thailand
h
. Diakses tanggal 9 Desember 2010). Untuk dapat menjangkau masyarakat terpencil ini, lembaga pendidikan terbuka dan jarak jauh didukung oleh berbagai fasilitas/perangkat teknologi informasi komunikasi, seperti: video cameras, an editing system, computers and software technology as well as an internet connection dimungkinkan untuk membelajarkan masyarakat yang sekalipun secara geografis kondisinya terpencil (Sumber internet: ttp://www.apecdoc.org/
post/1/2421. Diakses tanggal 9 Desember 2010).
Tidak hanya Thailand, tetapi Indonesia juga menghadapi kendala yang sama dalam melayani kebutuhan pendidikan bagi anak-anak yang berada di berbagai daerah terpencil. Keterpencilan merupakan salah satu faktor yang juga menjadi pertimbangan dalam menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Sebagai contoh adalah SMP Terbuka yang diselenggarakan di berbagai daerah terpencil guna melayani kebutuhan anak-anak akan pendidikan SMP.
Keberadaan SMP Terbuka telah
memungkinkan anak-anak usia sekolah SMP dapat memenuhi kebutuhan mereka akan pendidikan.
c. Keterbatasan Kemampuan Finansial Orang Tua (Financial Affordance)
Kondisi kemampuan finansial orang tua yang terbatas atau pas-pasan untuk kepentingan hidup sehari-hari terpaksa tidak dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya akan layanan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan reguler. Akibatnya, sebagian anak terpaksa berhenti bersekolah sebelum berhasil menyelesaikan kegiatan pembelajaran pada satu satuan pendidikan. Kendala yang berupa keterbatasan kemampuan finansial orang tua untuk membiayai anak-anaknya menempuh pendidikan formal persekolahan cenderung pada umumnya ditemukan di kawasan negara-negara sedang berkembang.
Kendala keterbatasan kemampuan finansial yang dihadapi sebagian masyarakat untuk membelajarkan anak-anaknya dapat diatasi dengan adanya penyelenggaraan Sekolah Menengah Pertama Terbuka (SMP Terbuka) di seluruh Indonesia. Keberadaan SMP Terbuka sangat dirasakan manfaatnya karena para orang tua tetap terfasilitasi untuk menyekolahkan anak-anaknya tanpa harus terbebani dengan biaya pendidikan.
Orang tua tidak dipungut biaya apapun untuk menyekolahkan anak-anaknya selama belajar di SMP Terbuka karena penyelenggaraan pendidikan SMP Terbuka sepenuhnya menjadi tanggungan Pemerintah.
d. Kekurangberuntungan Fisik (Physically Disadvantaged)
Kondisi fisik yang kurang menguntungkan (physically disadvantaged) merupakan salah satu faktor atau kendala yang dihadapi sebagian anggota masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan.
Dikarenakan kondisi fisik yang kurang menguntungkan atau cacat fisik (physical disadvantaged) mengakibatkan mobilitas terbatas termasuk untuk mengikuti kegiatan atau program pendidikan yang
diselenggarakan oleh lembaga pendidikan reguler yang pada umumnya berada di daerah perkotaan. Di kalangan negara-negara maju, kebutuhan akan layanan pendidikan bagi anggota masyarakat yang mengalami cacat fisik mendapat perhatian yang serius melalui penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Pelayanan pendidikan bagi para penyandang cacat fisik ini semakin lebih lebih dipermudah melalui dukungan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
e. Keterbatasan Transportasi Publik (Public Transportation Constraint)
Keberadaan lembaga pendidikan tinggi reguler di wilayah Pulau Jawa memang sudah menjangkau tingkat kabupaten/kota. Namun yang menjadi pertanyaan adalah
“Bagaimana ketersediaan sarana transportasi publik terutama bagi anggota masyarakat yang berada di luar kota untuk dapat secara teratur mengikuti kegiatan perkuliahan pada pendidikan tinggi reguler?
Manakala ketersediaan sarana transportasi publik, baik dalam arti jumlah, frekuensi, maupun waktu operasionalisasinya masih dirasakan sebagai suatu kendala di wilayah Pulau Jawa, terlebih-lebih lagi tentunya bagi masyarakat yang berada di luar Pulau Jawa. Dewasa ini, anggota masyarakat memang sangat terbantu dengan adanya tawaran fasilitas kredit pengadaan kendaraan bermotor roda dua oleh berbagai perusahaan sehingga kendala ketersediaan sarana transportasi publik telah dapat teratasi. Dengan demikian, sebagian anggota masyarakat telah terfasilitasi untuk mengikuti layanan pendidikan yang ditawarkan pendidikan tinggi reguler.
Bagi anggota masyarakat yang berada di luar Pulau Jawa, keberadaan pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh telah memfasilitasi mereka untuk dapat menikmati kebutuhan akan layanan pendidikan tinggi.
Keberadaan Universitas Terbuka (UT) telah memungkinkan banyak anggota masyarakat terutama yang jauh dari ibukota kabupaten/
kota dapat menikmati layanan pendidikan tinggi.
Rahmi Rivalina, Mengapa Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh (PTJJ)?
f. Keterbatasan dalam Pengembangan Karier Pekerja atau Pencapaian Pangkat Puncak bagi Pegawai Negeri Sipil (Constraint in Achieving the Highest Rank)
Para pekerja yang termotivasi untuk dapat secara terus-menerus meningkatkan kapabilitas dirinya mengalami kendala kalau harus mengikuti pendidikan lanjutan di perguruan tinggi reguler/konvensional. Pada umumnya, perguruan tinggi reguler menyelenggarakan kegiatan pendidikan pada waktu yang bersamaan dengan jam kerja para pekerja. Memang beberapa perguruan tinggi telah mencoba membuka kelas eksekutif di sore hari (setelah pekerja selesai bekerja) sampai dengan malam hari.
Peluang yang demikian ini pada umumnya hanya terbatas dinikmati oleh pekerja yang telah mapan khidupannya. Sedangkan para pekerja yang tidak memungkinkan menjangkau kelas eksekutif, tentunya mereka tetap dapat melanjutkan pendidikannya melalui perguruan tinggi yang menyelenggarakan program perkuliahan yang bersifat fleksibel. Fleksibilitas kegiatan pembelajaran pada umumnya diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menerapkan prinsip-prinsip pendidikan terbuka dan jarak jauh.
Sedangkan bagi para pegawai negeri sipil (PNS), ada peraturan pemerintah yang menentukan jenjang pangkat tertinggi yang boleh dicapai sesuai dengan tingkat pendidikan tertentu. Keterbatasan yang demikian ini justru menjadi motivasi yang tinggi bagi PNS untuk melanjutkan pendidikan. Misalnya, seorang PNS yang diterima sebagai PNS dengan latar belakang pendidikan Sekolah Menengah, maka jenjang pangkat tertinggi yang memungkinkan dicapainya adalah terbatas sebagai Penata Muda Tk. I dengan golongan ruang III/b.
Apabila PNS ini melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan Sarjana (S-1) selama kurun waktu 5-6 tahun, maka yang bersangkutan berpeluang untuk mencapai pangkat puncak sebagai Penata Tk. I
dengan golongan ruang III/d. Artinya, ada peluang untuk 2 kali naik pangkat yang dapat diraih.
Selanjutnya, jika seandainya dari segi usia, PNS ini masih mempunyai masa kerja 4 tahun lagi setelah mencapai pangkat Penata Muda (III/d) sebelum purna tugas (pensiun), maka yang bersangkutan masih memiliki peluang untuk mendapatkan kenaikan pangkat pengabdian yaitu menjadi Pembina dengan golongan ruang IV/a.
Kenaikan pangkat ini membawa konsekuensi logis pada meningkatnya besaran gaji pokok yang akan diterima. Demikian juga halnya dengan seorang PNS yang diterima sebagai PNS dengan latar belakang pendidikan Sarjana (S-1).
Apabila seorang PNS dengan latar belakang pendidikan S-1, selama bekerja sebagai PNS telah menggunakan sebagian dari waktunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan pasca sarjana (S-2), maka yang bersangkutan akan berpeluang untuk mencapai pangkat puncak yang lebih tinggi. Peluang lebih lanjut yang juga terbuka adalah pencapaian pangkat setingkat lebih tinggi (pangkat pengabdian) sewaktu PNS yang bersangkutan memasuki masa purna tugas (pensiun).
Peran pendidikan terbuka dan jarak jauh yang tersedia pada jenjang pendidikan tinggi (untuk program sarjana dan pasca sarjana) akan sangat dirasakan manfaatnya dan tentunya juga akan sangat dibutuhkan para PNS. Dalam kaitan ini, yang perlu menjadi perhatian adalah jenis program studi yang ditawarkan, hendaknya yang sesuai dengan kebutuhan para birokrat dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya. Yang kemungkinan menjadi permasalahan atau kendala bagi PNS adalah kemampuan finansialnya. Tentunya kendala yang demikian akan dapat teratasi apabila dapat diupayakan beasiswa yang ditawarkan secara kompetetif kepada para PNS.
Daftar Pustaka
Brogan, Pat. (1999). Using The Web for Interactive Teaching and Learning: The Imperative for The New Millenium. A White paper. Macromedia’s Interactive Learning Division.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Haryono, Anung, dkk. (2004). Teknologi Komunikasi Pendidikan: Pengertian dan Penerapannya di Indonesia. Jakarta: Pusat Teknologi Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Honeyman dan Miller (1993). “Agriculture Distance Education: A Valid Alternative for Higher Education?”, Proceedings of the National Agricultural Education Research Meeting67-73. Sumber internet:
http://en.wikipedia.org/wiki/Distance_education (diakses tanggal 8 Desember 2010).
Holmberg, B. (2005). The Evolution, Principles and Practices of Distance Education. Bibliotheks-und Infromationssystem der Universitat Oldenburg, p.13. Sumber internet: http://en.wikipedia.org/
wiki/Distance_education (diakses tanggal 8 Desember 2010).
Keegan, D. (1990). The Foundations of Distance Education. Second Revised Edition. London and New York: Routledge.
Matthews, D. (1999). The Origins of Distance Education and Its Use in the United States. The Journal (54-64) dalam Toni C. Aronovits dengan artikel “Distance Learning” melalui website:
http://www.gsu.edu/mstswh/courses/it7000/papers/distance7.htm.
McCall, Joseph (2004). Distance Learning. Sumber internet: http://www.gsu.edu/mstswh/courses/
it7000/ papers/distance3.htm (Diakses Mei 2005).
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan tidak terbatas hanya melalui lembaga pendidikan reguler tetapi telah dimungkinkan juga melalui lembaga pendidikan terbuka dan jarak jauh. Berbagai kendala yang dimiliki oleh lembaga pendidikan reguler/konvensional, dapat diatasi melalui penyelenggraan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Berkaitan erat dengan hal ini, Indonesia telah merintis penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh sejak tahun 1950-an dalam bentuk pendidikan korespondensi.
Ada berbagai faktor yang digunakan sebagai pertimbangan dalam memilih atau menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh, yaitu (a) keterbatasan waktu (karena harus bekerja), (b) kondisi geografis yang mencakup keadaan yang sulit (difficult to reach), dan jarak yang jauh (distance), (c) pemukiman penduduk yang terpencar dalam jumlah yang relatif kecil (rarely dispersed population), (d) kondisi kemampuan finansial (financial affordance), (e) kekurangberuntungan secara fisik (physically disadvantaged), (f) keterbatasan
sarana transportasi publik (public transportation constraint) untuk menjangkau lembaga pendidikan reguler yang ada, dan (g) kendala dalam pengembangan karier pekerja atau pencapaian pangkat puncak bagi Pegawai Negeri Sipil (constraint in achieving the highest rank).
Saran
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, akses terhadap layanan pendidikan hendaknya semakin lebih mudah sehingga membuka peluang yang lebih luas kepada berbagai lapisan anggota masyarakat di manapun mereka berada untuk dapat menikmati pendidikan (demokratisasi pendidikan). Sekalipun demikian, satu hal yang harus tetap diperhatikan dan dijaga adalah jaminan kualitas pendidikan yang ditawarkan.
Tidak hanya aspek kualitas yang harus diperhatikan dan dijaga oleh pihak pengelola pendidikan terbuka dan jarak jauh tetapi juga keterjangkauan finansial masyarakat pada umumnya untuk mendapatkan layanan pendidikan, baik pada jenjang pendidikan dasar dan menenegah maupun pendidikan tinggi.
Rahmi Rivalina, Mengapa Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh (PTJJ)?
Miarso, Yusufhadi. (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Sumber internet: http://
blog.unsri.ac.id/JohanUnbara/welcome/sistem-pendidikan-jarak-jauh/mrdetail/16093. Jakarta:
Prenada Media. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
Morpeth, R. (2004). “What is Distance Learning?” dalam Sudirman Siahaan dan WBP Simanjuntak, Studi tentang Pengelolaan Sekolah Menengah Umum Terbuka (SMU Terbuka)” yang dipublikasikan Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh Volume 5 No. 1, Pondok Cabe: Universitas Terbuka.
Purwanto, dkk. (2009). 30 Tahun Kiprah Pustekkom dalam Pendidikan. Ciputat-Tangerang Selatan:
Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional.
SEAMOLEC. (2005). Annual Report SEAMEO SEAMOLEC (July 2004-June 2005). Jakarta: SEAMEO Regional Open Learning Center (SEAMOLEC).
Siahaan, Sudirman. (2005). “Model Tutorial Yang Dikembangkan di Sekolah Menengah Pertama Terbuka (SMP Terbuka)” dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi November 2005 Tahun Ke-11, No. 057. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan-Departemen Pendidikan Nasional.
Siahaan, Sudirman. (2007). “Media Pembelajaran: Pemahaman dan Pemanfaatannya dalam Kegiatan Pembelajaran”, artikel dalam Jurnal TEKNODIK NO.: 20/XI/TEKNODIK/APRIL/2007. Jakarta:
Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan-Departemen Pendidikan Nasional.
The British Council. (2002). The Education Virtual Campus-British Education. Sumber dari website:
http://www.britishcouncil.org.disted.htm (Diakses tanggal 10 Maret 2003).
UNESCO. (1979). Terminology of Adult Education. Paris: Ibebada, dikutip dari Desmond, Keegan.
Foundations of Distance Education, 2nd Edition, Routledge, London and New York, 1990. United Kingdom.
Website: http://en.wikipedia. org/wiki/FernUniversit%C3%A4t_in_Hagen. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
Website: http://www.zinghealth-au.com.au/paramedic-distance-learning-in-australia/s203051Australian Health - paramedic distance learning in Australia. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
Website: http://psychology.wikia.com/wiki/Distance_learning. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
Website: http://www.learn4good.com/distance_learn/distance_learn_canada.htm. Diakses tanggal 9 Desember 2010 diakses.
Website: http://www.apecdoc.org/post/1/2421. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
Website: http://www.Distance learning gets closer in remote areas-Thailand. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
Website:http://www.boardguess.com/%20universitiesdeemed-universities/distance-learning-universities/ distance-learning-universities-in-india-8224.htm. Diakses tanggal 9 Desember 2010.
uuuuuuuuuuuuuuu