HASIL PENELITIAN
1. Kendala dalam pariwisata di Pulau Untung Jawa
81
Membahas mengenai kendala hampir semua informan mengatakan sarana transportasi menuju Pulau Untung Jawa adalah salah satu yang menjadi kendala dalam pariwisata Pulau Untung Jawa. Untuk menuju Pulau Untung Jawa, pengunjung diangkut dengan kapal-kapal kayu yang menggunakan mesin dari Tanjung Pasir sedangkan dari Muara Angke dan Ancol pengunjung diangkut dengan menggunakan kapal motor. Saat ini kapal yang mengangkut pengunjung kebanyakan milik nelayan yang bermukim di Pulau Untung Jawa. Berikut hasil wawancara dengan beberapa informan yaitu:
Pernyataan bpk Wingga sebagai I1 menyatakan bahwa:
“..kendala yang dihadapi Pariwisata Pulau Untung Jawa lebih kepada sarana
transportasi yaitu kapal penumpang. Karena kebanyakan pengunjung dari wilayah Tangerang ya.. Tanjung Pasir merupakan tempat berlabuhnya kapal menuju Pulau Untung Jawa. Namun kondisinya tidak begitu baik dibanding kapal kerapu dari dermaga Ancol ataupun Muara Angke , kapal di Tanjung
Pasir itu kan terbuat dari kayu jadi cepat sekali mengalami kerusakan”.
(Wawancara dilaksanakan di ruangan Wakil Lurah, 11 Mei 2011 pkl. 12.30).
Begitupun pernyataan bpk. Hidayat sebagai I3 bahwa:
”...kapal yang menjadi angkutan pengunjung ke Pulau Untung Jawa sekarang
lebih banyak menggunakan kapal fery untung jawa. Kapasitas kapal fery untung jawa lebih banyak menampung penumpang dibandingkan kapal nelayan yang biasanya disewakan. Namun untuk saat ini kami hanya memiliki 3 angkutan. Kapal nelayan sewaan hanya beroperasi pada saat musim liburan saja. Kapal-kapal penyebrangan seperti Kapal-kapal fery untung jawa ada setiap 2 jam sekali. Mulai beroperasi pkl. 11.00, 13.00 dan 15.00. setelah itu apabila tertinggal mau
tidak mau ya pengunjung harus bermalam di Pulau Untung Jawa..”.
(Wawancara dilakukan di kediaman bpk. Hidayat, 18 Mei 2011 pkl. 13.00).
Pernyataan hampir serupa diungkapkan I4 bpk. Atib bahwa yang menjadi kendala
dalam Pariwisata Pulau Untung Jawa yaitu sarana transportasi menuju Pulau. Setiap musim liburan banyak pengunjung yang berdatangan untuk berlibur tetapi tidak diimbangi dengan sarana transportasi yang memadai. Walaupun banyak kapal nelayan
82
yang digunakan untuk mengangkut pengunjung tetapi tidak semua dapat beroperasi dengan baik. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara sebagai berikut :
”...kendalanya ada pada kapalnya, angkutan fery kita hanya punya 3 armada
memang sih banyak kapal nelayan yang digunakan pada saat musim liburan tapi kan tidak semuanya beroperasi mengangkut pengunjung. Ada yang bisa
digunakan ada juga yang tidak”. (Wawancara dilakukan di kediaman bpk. Atib, 31 Mei 2011 pkl. 13.00)
Pernyataan yang diungkapkan bpk. Tjetje sebagai I5 mengatakan bahwa sarana
transportasi merupakan salah satu kendala untuk menuju Pulau Untung Jawa karena terbatasnya armada pengangkut untuk membawa pengunjung ke Pulau Untung Jawa. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara berikut :
”...kendala terdapat pada transportasi yang belum maksimal. Kapal angkutan menuju Pulau Untung Jawa tidak setiap jam ada. Walaupun ada kapal pemerintah seperti kapal kerapu yang bisa mengantarkan pengunjung tapi
armadanya masih terbatas”. (Wawancara dilakukan diruangan kerja Kasie Kepariwisataan Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, 8 Juni 2011 pkl. 10.30).
Informan 6 bpk. Budi menyatakan bahwa kapal menuju Pulau Untung Jawa dari
Dermaga Tanjung Pasir tidak sebagus kapal dari Dermaga Ancol ataupun Muara Angke. Hal tersebut dikemukan dalam wawancara berikut ini :”..kapal dari Tanjung Pasir itu
kan kapal kayu jadi mungkin tidak sebagus kapal dari Ancol. Wajar sih ya, kapal kayu dibandingkan kapal mesin ya lebih bagus kapal mesin lah.. coba dari tanjung pasir
juga pake kapal mesin hahaha..” (Wawancara dilakukan di dermaga, 12 Juni 2011 pkl. 11.00)
83
”...kapalnya gak semua sama. Ada yang bagus ada juga yang jelek, harusnya itu
kapalnya dibikin sama semua. Saya pernah naikin kapal yang kondisinya jelek, saya mana tahu kalo kapalnya bocor bukan bawah kapalnya sih tapi atap kapal yang bocor karena ujan. Dari pulau mah panas-panas aja eh sampe tengah laut malah ujan, terus atap kapalnya bocor, ujannya gede pastinya air ujannya netes-netes lah” (Wawancara dilakukan pada tanggal 12 Mei Juni pkl. 12.00).
Informan lain yaitu Laila I9 juga menyatakan bahwa :”..kekurangannya apa ya?? Kalo
kekurangan pasti ada ya.. apa ya??? Paling dari kapalnya. Kapalnya itu terlalu penuh sesak sama penumpang ”. (Wawancara dilakukan pada tanggal 12 Juni 2011 pkl. 14.00) Secara lebih sederhana dapat dilihat dalam matriks dibawah ini:
Matriks 5
Kelemahan: Kendala dalam Sarana Transportasi Informan Jawaban / Uraian
I1 Kendala terdapat pada sarana transportasi berupa kapal kayu menuju Pulau Untung Jawa yang mudah mengalami kerusakan.
I3 Kapal penumpang menuju Pulau Untung Jawa sangat terbatas. Kapal nelayan yang disewakan hanya beroperasi musim liburan. Jadwal keberangkatan kapal fery untung jawa mulai beroperasi pkl. 11.00, 13.00 dan 15.00.
I4 Kendala terdapat pada kapal angkutan fery yang terbatas dan kapal nelayan yang disewakan tidak semua bisa beroperasi.
I5 Kendala terdapat pada transportasi yang belum maksimal. Kapal angkutan menuju Pulau Untung Jawa tidak setiap jam ada. Walaupun ada kapal pemerintah seperti kapal kerapu yang bisa mengantarkan pengunjung tapi armadanya masih terbatas
I6 Kapal dari Dermaga Tanjung Pasir tidak sebagus kapal dari Dermaga Ancol dan Muara Angke.
I7 Kapalnya tidak semua memiliki kondisi yang sama. Ada kapal yang mengalami kerusakan pada atap yang bocor.
I9 Kendala terdapat pada kapal yang terlalu sesak dengan penumpang.
Membahas mengenai sarana transportasi memang menjadi kendala dalam pariwisata Pulau Untung Jawa. Untuk datang dan mengunjungi Pulau Untung Jawa, pengunjung
84
memang diharuskan menggunakan angkutan kapal untuk menyebrang dari daratan. Kondisi kapal dan jumlah angkutan kapal umum yang dimiliki Pulau Untung Jawa tidak begitu baik dan sangat terbatas. Dari total 48 unit Kapal Motor milik nelayan pinggir hanya sebagiannya yang mampu disewakan untuk membawa penumpang, selain memang digunakan untuk kepentingan mata pencaharian tetapi juga kondisi kapal yang kurang dari layak untuk mengangkut penumpang. Selain kapal sewaan juga ada Kapal Fery Untung Jawa. Walaupun, kapasitasnya lebih besar dalam mengangkut penumpang namun jumlah kapal tersebut sangat terbatas. Pulau Untung Jawa sendiri hanya memiliki 3 armada Kapal Fery Untung Jawa. Kapal Fery sendiri memiliki jadwal berlayar yaitu jam 11.00, 13.00 dan jam 15.00. Setiap kali perjalanan menggunakan Kapal Fery Untung Jawa, pengunjung dikenakan tariff Rp.10.000,-. Karena jumlahnya yang terbatas dan jadwal keberangkatan yang telah ditentukan, maka pengunjung harus tahu kapan harus mengakhiri kunjungan wisata di Pulau Untung Jawa. Kapal ini, tidak beroperasi mengangkut penumpang dari Pulau Untung Jawa lewat dari jam 17.00 sore yang apabila pengunjung tertinggal otomatis harus menyewa kapal nelayan milik penduduk setempat untuk menyebrang ke daratan. Berikut adalah tabel jumlah kapal nelayan di Pulau Untung Jawa.
Tabel 4.2.3.2 Kapal Nelayan
85
No. Armada Jumlah Keterangan
1. Kapal Motor Diesel 27 unit Nelayan tengah 2. Kapal Motor TS 48 unit Nelayan pinggir
3. Kapal Fery 3 unit Kapal angkutan umum
(Sumber : LK Kelurahan Pulau Untung Jawa, 2011)
Berikut dibawah ini adalah gambar kondisi sarana transportasi:
Gambar 4.2.3.2a Sarana Transportasi
Gambar 4.2.3.2.b Dermaga Tanjung Pasir
Selain masalah transportasi, kendala juga dirasakan pada kebersihan Pulau Untung Jawa. Kebersihan merupakan hal utama yang harus terjaga dalam kegiatan pariwisata
86
karena kebersihan dapat mencerminkan keindahan dan menjadi faktor penentu bagi kunjungan wisatawan. Kebersihan di Pulau Untung Jawa dapat dikatakan terjaga dengan baik, namun persoalan sampah tetap saja menjadi kendalanya. Beberapa pernyataan di bawah ini menerangkan keadaan kebersihan di Pulau Untung Jawa.
Pernyataan I1 bpk Wingga sebagai berikut:
”...Kami cukup kesulitan menangani sampah karena kami tidak memiliki banyak
alat untuk mengolah sampah, biasanya sampah menumpuk pada saat musim liburan karena banyaknya pengunjung yang berdatangan, mereka suka sembarangan membuang sampah padahal kami sudah menyediakan tempat-tempat sampah disepanjang pinggir jalan. Apalagi waktu tahun baru kemarin, yang namanya sampah bekas terompet cukup banyak dan membuat kotor daerah
kami”. (Wawancara dilaksanakan di ruangan Wakil Lurah, 11 Mei 2011 pkl. 12.30).
Pernyataan lain menurut informan 3 yang berbeda dengan butir pertanyaan yang sama yaitu bpk Hidayat menyatakan bahwa :
”...menangani masalah pembuangan sampah di Pulau memerlukan tenaga
ekstra . Sampah bukan hanya sampah dari rumah tangga tapi juga dari laut, setelah dibersihkan tidak mungkin sampah ditumpuk diPulau kan....otomatis
sampah harus dibersihkan dan dibakar”. (Wawancara dilakukan di kediaman bpk. Hidayat, 18 Mei 2011 pkl. 13.00).
Pernyataan informan lain I2 bpk Badri mengakui bahwa kebersihan diPulau kebanyakan
karena sampah kiriman dari laut. Berikut pernyataan yang disampaikan yaitu:
”....kiriman sampah ke Pulau dari laut, karena Pulau Untung Jawa itu kan
dilewati 13 titik aliran sungai dari Jakarta untuk mengolahnya ada petugas kebersihan. Sampah-sampah itu dibersihkan tiap hari oleh petugas, setelah itu
dilakukan pembakaran sampah yang dilakukan di Pulau”. (Wawamcara dilakukan di ruangan Sekretaris Lurah, 25 Mei 2011 pkl. 12.30)
87
Hal serupa diperkuat oleh informan 5 bpk Tjetje menyatakan bahwa selain
transportasi, sampah juga merupakan salah satu kendala dalam pariwisata di Pulau Untung Jawa. Sampah kebanyakan datang dari laut karena daerah Kepulauan Seribu yang merupakan daerah aliran dari 13 titik sungai di Jakarta. Jadi, jika sampah meluap dari sungai maka sampah tersebut akan mengalir ke laut. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dibawah ini :
”...sampah merupakan salah satu kendala juga selain masalah transportasi.
Kebetulan daerah Kepulauan Seribu termasuk Pulau Untung Jawa merupakan daerah aliran dari 13 sungai di Jakarta jadi terkadang sampah-sampah adanya
dilaut. Hal itu yang terus dicarikan solusi oleh Pemerintah Daerah saat ini”.
(Wawancara dilakukan diruangan kerja Kasie Kepariwisataan Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, 8 Juni 2011 pkl. 10.30).
Informan lain yaitu bpk. Atib I4 menyatakan sebagai berikut :
”..selama ini kami cukup menjaga kebersihan di daerah kami, namanya tempat
wisata ya harus bersih kan neng.... kalo kotor siapa yang mau dateng kesini. Kebanyakan sampah tuh datengnya dari laut, mau ga mau ya harus tetep dibersihin. Pemerintahnya sendiri kurang ikut tanggung jawab neng, udah kita
yang bersihin kita juga yang angkut buat dibuang”. (Wawancara dilakukan di kediaman bpk. Atib, 31 Mei 2011 pkl. 12.30).
Pernyataan informan lain yaitu bpk. Budi sebagai I6 menyatakan yang tidak jauh beda,
dengan pernyataan informan sebelumnya, berikut pernyataan yang disampaikan:
”...Pulaunya mah cukup bersih, tapi lautnya yang banyak sampah. Tadi juga pas
berangkat sampahnya pada ngambang di laut”. (Wawancara dilakukan pada tanggal 12 Juni 2011 pkl. 11.00).
88
”...Pantainya cukup bersih, sampah ada sih tapi paling sampah kecil aja kaya bekas botol minuman, bekas bungkus makanan tapi kalo di sepanjang jalan di
Pulau Untung Jawa sih bersih kayanya neng...”. (Wawancara dilakukan tanggal 12 Juni 2011 pkl 14.30)
Secara lebih sederhana dapat dilihat pada matriks dibawah ini:
Matriks 6
Kelemahan: Kendala dalam Kebersihan
Informan Jawaban / Uraian
I1 Sampah cukup sulit diatasi karena kendala dalam peralatan teknis pengolah sampah. Sampah banyak pada musim liburan yang ditimbulkan dari pembuangan sampah sembarangan yang dilakukan oleh pengunjung.
I3 Penanganan dan pembuangan sampah memerlukan tenaga ekstra. Sampah harus dibakar bukan ditumpuk diPulau.
I2 Kiriman sampah ke Pulau dari laut karena Pulau Untung Jawa dilewati 13 titik aliran sungai dari Jakarta. Sampah-sampah itu dibersihkan tiap hari oleh petugas, setelah itu dilakukan pembakaran sampah yang dilakukan di Pulau
I5 Sampah menjadi kendala selain masalah transportasi. Pulau Untung Jawa merupakan daerah aliran dari 13 sungai di Jakarta jadi terkadang sampah-sampah mengalir dilaut.
I4 Masyarakat cukup menjaga kebersihan di Pulau namun, pemerintah kurang ikut tanggung jawab.
I6 Pulau cukup bersih, sampah banyak mengalir dilaut. I10 Pantai cukup bersih, hanya terdapat sampah-sampah kecil.
Pulau Untung Jawa, belum lama ini meraih juara Nasional Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tingkat Nasional untuk kebersihan lingkungan. Namun, sampah nampaknya tetap menjadi kendala dalam pariwisatanya. Sampah bukan hanya dari sampah rumah tangga, melainkan juga sampah aliran dari laut. Menurut pengakuan
89
informan, Kepulauan Seribu merupakan daerah aliran dari 13 sungai di Jakarta yang apabila sungai tersebut meluap banyak sampai yang mengalir ke laut di perairan Kepulauan Seribu termasuk ke Pulau Untung Jawa. Sampah tidak hanya berasal dari sampah rumah tangga masyarakat dan juga dari perilaku pengunjung yang kurang menjaga kebersihan Pulau Untung Jawa. Berikut ini adalah gambar sampah yang menumpuk tepian pantai hutan bakau.
Gambar 4.2.3.3
Sampah di tepi hutan mangrove
Terlihat dalam gambar sampah berupa kertas-kertas dan plastik bekas makanan. Dalam hal ini tenaga kebersihan dari Kelurahan Pulau Untung Jawa sudah cukup menjaga kebersihan Pulau, dengan adanya tempat pembuangan sampah di sepanjang jalan diPulau Untung Jawa selain itu untuk mengolah sampah yang telah diangkut oleh petugas kebersihan sampah-sampah tersebut kemudian dibakar melalui alat pembakaran sampah yang dilakukan di Pulau, namun masih terdapat kendala dalam peralatan teknisnya. Di dalam laporan bulanan Kelurahan Pulau Untung Jawa yang ditujukan untuk Camat Kepulaua Seribu Selatan, mesin Irigasi Pembuangan Air Limbah tidak berfungsi / rusak berat. sehingga limbah sulit untuk ditangani. Kendala lain juga terdapat pada perawatan sarana dan fasilitas penunjang serta minimya atraksi hiburan
90
yang disajikan sebgaimana yang diungkapakan oleh Informan 5 yaitu bpk Tjetje bahwa : “belum ada event yang mampu menarik pengunjung misalkan atraksi budaya masyarakat yang disajikan, selain itu juga kayanya kurangnya perawatan fasilitas yang
telah diberikan oleh pemerintah seperti taman bermain”. (Wawancara dilakukan diruangan kerja Kasie Kepariwisataan Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, 8 Juni 2011 pkl. 10.30).