• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.6 Kendala yang dialami peneliti

Dalam melakukan kegiatan digitalisasi dan pembangunan protype repositori peneliti ada mengalami kendala. Kendala tersebut diantaranya adalah :

1. Dalam melakukan proses digitalisasi peneliti mengalami kendala pada sarana dan prasarana yang terbatas dan sederhana sehingga hasil yang dihasilkan masih dalam bentuk sederhana.

2. Kendala yang dihadapi pada proses digitalisasi adalah dibutuhkan waktu yang lama dan jaringan internet untuk mengupload kembali local content yang didapat. Apabila local content tersebut banyak yang diupload pastinya membutuhkan waktu yang lama karena SDM kurang.

3. Dalam pembangunan repositori kendala yang dihadapi adalah kurang stabilnya jaringan internet dalam proses mengunduh sistem mvn package yang bertujuan melengkapi proses instalasi.

4. Hal yang sering dihadapi peneliti adalah sering terjadinya error dan kesalahan ketika system tersebut dijalankan. Sehingga membutuhkan waktu kembali untuk memperbaikinya.

Dari kendala diatas ada hambatan yang dialami peneliti yakni masih banyaknya masyarakat Karo tentunya belum mengerti tentang pentingnya local content dan cara menjangkaunya. Sehingga baik peneliti maupun pengguna ataupun pihak KKPD Karo harus juga melakukan kegiatan sosialisasi baik ke sekolah-sekolah ataupun ke kampung atau di di daerah Berastagi sendiri agar kesadaran dalam menjaga budaya Karo ini tetap ada dan juga dapat digunakan oleh generasi mendatang, khususnya generasi muda.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berpatokan dan fokus pada implementasi yakni proses digitalisasi dan pembangunan protype repositori pada Kantor Kearsipan, Perpustakaan, dan Dokumentasi Kab.Karo. Sehingga peneliti dapat menarik kesimpulan tentang proses digitalisasi dan proses pembangunan repositori.

1. Proses digitalisasi yang dilakukan oleh peneliti adalah memilih local content, kemudian peneliti melakukan pemotretan dengan menggunakan kamera digital Canon Dslr dengan resolusi 300 dpi dan memiliki bit sebesar 24 bit. Proses editing yang dilakukan adalah membuat header, footer, dan watermark dengan tujuan agar pihak lain tidak dapat melakukan copy paste terhadap local content tersebut.

2. Proses uploading, terlebih dahulu dilakukan dengan membangun terlebih dahulu website yakni repositori yang bertujuan sebagai wadah untuk mengakses local content tersebut. Repositori yang dipilih adalah repositori aplikasi Dspace.

3. Dalam melakukan kegiatan digitalisasi dan pembangunan repositori peneliti, peneliti mengalami kendala yakni sarana dan prasarana yang sederhana, waktu, SDM dan sistem yang sering mengalami kerusakan ketika dijalankan.

5.2 Saran

Dari pembahasan dan penelitian, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :

1. KKPD Karo sebaiknya lebih memperhatikan kembali local content Karo sebagai pengetahuan asli tentang Karo. KKPD seharusnya membuat kebijakan pelestarian agar ada standar yang dilakukan dalam proses melakukan kegiatan pelestarian.

2. KKPD Karo juga disarankan untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi baik ke sekolah-sekolah, ke kampung-kampung maupun di Berastagi sendiri penting menjaga budaya Karo.

3. Pihak KKPD Karo untuk mendapatkan lebih banyak local content ataupun naskah Karo tentang Karo disarankan juga untuk meningkatkan dan menambah kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait seperti pemerintah, perpustakaan baik perpustakaan daerah maupun perpustakaan perguruan tinggi, maupun orang tua ataupun sesepuh Karo.

4. KKPD Karo juga disarankan menambah SDM yang mengerti tentang pelestarian dan mengerti tentang budaya Karo.

5. Untuk masyarakat Karo sendiri diharapkan juga lebih peduli terhadap budaya Karo itu sendiri, jangan lebih peduli masyarakat diluar Karo seperti orang luar negeri daripada masyarakat asli Karo sendiri.

6. Untuk saya sebagai peneliti untuk meningkatkan pengetahuan tentang pelestarian dan repositori.

DAFTAR PUSTAKA

Anita, Afriani. 2013. Sumber Data, Metode, dan Teknik Pengumpulan Data, Pengumpulan Data Kualitatif dan Skala Ukuran. Makalah untuk tugas mata kuliah Epidemiologi. Padang: Universitas Andalas.

Bpad Jogja .2014. Alih Media Bahan Pustaka.

http://www.bpadjogja.info/article/news/site/view/id/652/t/alih-media-digital-bahan-pustaka. (diakses 8 agustus 2016).

Dannie, Surya.2013. Pemberdayaan Local Content Dalam Membangun Digital Library & Repository Perguruan Tinggi. Laporan Workshop & Seminar Pemberdayaan Local Content Dalam Membangun Digital Library &

Repository Perguruan Tinggi, Perpustakaan Universitas Merdeka Malang.

Esti A, Zafirah. 2011. Pengelolaan Koleksi Local Content (Muatan Lokal):

Studi Kasus Koleksi Khusus Jakarta Di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Depok: FIB UI.

---. ---. Pembuatan Dokumen Elektronika/Digital.

http://lms.aau.ac.id/library/ebook/0429.%20KETRAMPILAN%20KEJU RUAN%20TEKNIK%20ELEKTRONIKA/files/res/downloads/downloa d_0065.pdf (diakses 10 Agustus 2016).

Handoyo, Eko. 2012. Pelestarian Bahan Pustaka. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Pola 300 Jam, Tanggal 10 Nopember s.d 21 Desember 2012, Universitas Negeri Semarang.

Kemendagri.2016. Adat dan Budaya. http://www.karokab.go.id/in/index.php/adat-dan-budaya/729-adat-dan-budaya.

Kemendagri.2016.Gambaran Umum.

http://www.karokab.go.id/in/index.php/gambaran-umum

Mustofa. 2015. Alih Media Dari Kaset Analog ke Dalam Bentuk Audio Digital Sebagai Strategi Preservasi. http://digilib.isi-ska.ac.id/?p=645.ISI:

Surakata. (diakses 10 Agustus 2016).

Nur Hasan dan Astutik Nur Qomariyah. 2012. Implementasi Perpustakaan Digital Di Institut Teknologi Sepuluh November : ITS Digital Repository https://www.academia.edu/3772075/IMPLEMENTASI_PERPUSTAKA

AN_DIGITAL_DI_INSTITUT_TEKNOLOGI_SEPULUH_NOPEMBE R_ITS_DIGITAL_REPOSITORY. (diakses 9 Agustus 2016).

Priyatna, Andri. 2008. Transformasi Digital Sebagai Proses Pelestarian Kandungan Informasi Intelektual. Depok: FIB UI.

Ricky, Yoseph Michael. 2012. Pengembangan Aplikasi Online Mobile Repositori.

Disampaikan pada Seminar Nasional Informatika 2012 (semnas IF 2012).

Yogyakarta: UPN

Siagian, Harly Christy M., 2009. Skripsi: Penerapan manajemen pengetahuan dalam pengolahan grey literature dan koleksi repository pada perpusakaan Universitas Sumatera Utara. Medan: Departemen Studi Ilmu Perpustakaan

&Informasi Fakultas Sastra Universitas SumateraUtara

Sudarsono, B. 2006. Antalogi Kepustakawanan Indonesia.Jakarta : Ikatan Pustakawan Indonesia.

Sutejo, Ardian Probo. 2012. Metadata dalam Definisi, Fungsi, dan Jenisnya.

http://ardian-p-s-fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-63139-Umum-Metadata%20dalam%20Definisi,%20Fungsi,%20dan%20Jenisnya.html(

diakses 9 Agustus 2016.)

Sutedjo,Mansur. 2014. Pengelolaan Repositori Perguruan Tinggi dan Pengembangan Repositori Karya Seni. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Local Content: Strategi Membangun Repositori Karya Seni, Yogyakarta, GKU FSR ISI.

Taslimah, 2012. Tesis: Analisis Manajemen Pembinaan Kemampuan Profesional Guru Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional Negeri 1 Demak. Semarang: Program Pascasarjana Undip.

Taslim.2014. Melestarikan Budaya Lokal sebagai aset kekayaan Nasional.http://pariwisata.rejanglebongkab.go.id/melestarikan-budaya-lokal-sebagai-aset-kekayaan-nasional/ (diakses 8 Agustus 2016).

Triwardani, Reny dan Christina Rochayanti, 2014. Implementasi Kebijakan Desa Budaya Dalam Upaya Pelestarian Budaya Lokal.Yogyakarta : Universitas Pembangunan Nasional Veteran.

Lampiran 1

Catatan Lapangan Hari/Tanggal : Tempat :

Waktu :

Kegiatan :

1. Apa yang melatarbelakangi Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kab.Karo (KKPD) Kab.Karo menyediakan koleksi berupa local content Karo?

2. Apa tujuan dan sasaran disediakan local content Karo tersebut?

3. Dalam hal local content mengenai kebudayaan Karo apakah menjadi sasaran utama KKPD Kab.Karo untuk mencarinya ?

4. Bagaimana pengadaan local content Karo?

5. Selain dari pengadaan, cara lain apa yang digunakan KKPD Kab.Karo dalam memperoleh local content mengenai kebudayaan Karo?

6. Bagaimana penyimpanan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh KKPD Kab.Karo untuk local content Karo ?

7. Dari segi penyimpanan kenapa di bedakan tempatnya ?

8. Bagaimana pengolahan local content Karo yang dilakukan oleh KKPD KabKaro?

9. Saat ini saya melihat local content Karo masih dalam belum tercetak, Apakah KKPD Kab.Karo berkeinginan untuk melakukan pelestarian dengan digitalisasi?

10. Apa tanggapan anda jika saya menjelaskan proses digitalisasi dan membangun repositori di KKPD Kab.Karo?

Lampiran 2

Dalam wawancara ini peneliti mewawancari terlebih dahulu dengan staf KKPD dengan inisial HG, karena Kepala KKPD Kab.Karo sedang menghadiri acara di kantor Bupati Karo.

Dalam melakukan wawancara antara peneliti dengan informan menggunakan bahasa Karo, sehingga peneliti mengubah bahasa tersebut ke bahasa Indonesia.

Wawancara dengan Hayani Febtriana br. Ginting, S.Sos. (Kamis, 05 Januari 2017)

Jabatan : Staf Kantor Kearsipan, Perpustakaan, dan Dokumentasi (KKPD) Kab. Karo

N

o. Pertanyaan Jawaban

1. Apa yang

melatarbelakangi Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kab.Karo

(KKPD) Kab.Karo

menyediakan koleksi berupa local content Karo?

Itu sejak tahun 2008 ketika ada mahasiswa baik dari Karo dan mahasiswa diluar sumatera mencari lebih dalam dengan budaya Karo. Dan juga ada peneliti ingin menggali lebih dalam tentang Karo. Mulai saat itulah kami berniat menyediakan local content Karo ini.

2. Apa tujuan dan sasaran disediakan local content Karo tersebut?

Pastinya untuk tujuan penelitian dan pendidikan baik masyarakat Karo ataupun diluar masyarakat Karo.

3. Dalam hal local

content mengenai

kebudayaan Karo apakah menjadi sasaran utama KKPD KabKaro untuk mencarinya ?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, untuk tujuan pendidikan dan penelitian. Seperti adek lah contohnya yang ingin meneliti tentang budaya Karo.

Kami pun ingin terus melengkapi local content tentang budaya Karo ini.

4. Bagaimana

pengadaan local content Karo?

Selama ini kami sumber local content sebagian besar dari sumbangan.

Jika ada buku tua tentang karo dulu di sumbangkan kesini. Dan memang gitu seharusnya. Tapi dua tahun belakangan ini kami sudah mulai membeli dan memesan. Dalam hal saya akui masyarakat Karo ekspetasi dan niat mereka untuk mencari tentang budaya

Karo masih sangat rendah, sehingga kami local content mengenai kebudayaanKaro?

Seperti yang saya bilang tadi dek, karena kesadaran akan budaya Karo kita rendah jadi kami hanya menunggu baik itu dari sumbangan ataupun pemberian dari orang Karo tua terdahulu.

Sumbangan dari Kantor Bupati seperti peraturan, dan kebijakan kami tunggu juga. perbaikan, karena awalnya dulu perbaikan lantai dan atap sehingga baik buku dan local content di pisahkan terlebih dahulu.

Setelah selesai baru disusun kembali.

Awalnya penyimpanan local content di samping rak karya sastra. Namun karena ketidakpedulian kita. Dipakai, kemudian dibawa pulang dan ngak pulang lagi. Di fotocopy kemudian dirobek, itulah dek ketidakpedulian kita tadi. Dari segi pemeliharaan masih dalam bentuk sederhana. Kami perbaiki bentuk fisiknya dan jika terjadi kerusakan berat maka kami musnahkan. Local content yang rusak dan dimakan rayap itu ada karena kami anggap itu kerusakan berat makanya kami musnahkan.

7. Dari segi

penyimpanan kenapa di bedakan tempatnya ?

Iya dek, dulukan tempatnya sejajar dengan karya sastra sehingga orang enak saja mengambilnya kemudian di bawa pulang, dan umumnya saudara yang melakukannya. Kemudian baru dibuat lemari khusus Local content dan tidak bisa dipinjamkan kembali.

8. Bagaimana

pengolahan local content Karo yang dilakukan oleh KKPD Kab.Karo?

Kalau dalam pengolahan kami samakan dengan buku yang lain. Kami katalog, klasifikasi dan kami sampul.

Selain masih dalam bentuk sederhana dek SDM kami juga kurang memilki

keterampilan dan sedikit kami cuman tamatan perpustakaan.

9. Saat ini saya melihat local content Karo masih dalam belum tercetak, Apakah KKPD Kab.Karo berkeinginan untuk melakukan pelestarian dengan digitalisasi?

Iya itu harapan kami semua, bukan hanya local content saja namun koleksi buku yang lain juga agar bisa diakses orang juga. Pada tahun 2017 ini mulailah kami mulai untuk sistem terautomasi.

Kami harapkan juga supaya perpustakaan ini lebih besar.

10. Apa tanggapan anda jika saya menjelaskan proses digitalisasi dan membangun repositori di KKPD Kab.Karo?

Baik dan bagus sekali dek, dari hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian bisa menjadi kontribusi dan masukan yang baik kepada kami KKPD Karo khususnya.

Lampiran 3

Wawancara dengan Dra. Reh Jorena Br. Purba (RP) (Jumat, 06 Januari 2017)

Jabatan : Kepala Kantor Kearsipan, Perpustakaan, dan Dokumentasi (KKPD) Kab. Karo

menyediakan koleksi berupa local content Karo?

Banyak mahasiswa baik dari Karo dan mahasiswa diluar sumatera. Ada kemarin mahasiswa dari UNDIP kalau ngak salah mencari tentang budaya karo tentang ornamen-ornamen Karo dari situlah kami ingin menyediakan local content Karo.

2. Apa tujuan dan sasaran disediakan local content Karotersebut?

Tujuan penelitian dan pendidikan.

Bisa juga sebagai bahan refrensi.

3. Bagaimana

pengadaan local content Karo?

Kebanyakan dari sumbangan dek.

Selain dari sumbangan dek kami juga sekarang pihak KKPD sudah mulai membeli buku tentang budaya Karo Lebih baik memang orang Karo sendiri atau melestarikan local content Karo ataupun bahan pustaka tercetak lainnya bu ?

Pihak KKPD Karo belum ada memiliki kebijakan dan standar dalam hal pelestarian. Pemerintah Kab.Karo juga belum ada mengeluarkan SOP tentang pelestarian untuk KKPD Karo sendiri.

Untuk pelestarian kami bekerja menggunakan pedoman berdasarkan hasil kerja SDM yang memiliki kompetensi dalam hal pelestarian dan pengolahan.

Disini ada tiga tamatan dari jurusan Perpustakaan.

5. Apakah pihak KKPD Karo mengalami kendala jika tidak memiliki kebijakan

Pastinya mengalami kendala, khususnya dalam bidang SDM. Seperti yang saya katakan sebelumnya SDM yang

pelestarian. dari jurusan Perpustakaan sangat sedikit sehingga banyak pegawai lain belum mengerti sehingga diajari terlebih dahulu.

6. SDM di KKPD Karo sendiri menurut sudah memadai atau belum bu?

Menurut saya belum, masih perlu ditambah SDM yang memilki kompeten dan sesuai dengan bidangnya. Perlu juga diadakan sosialisasi dan perlu juga mahasiswa perpustakaan yang ingin magang disini. Kami sangat senang menerimanya.

7. Apa hambatan yang dialami pihak KKPD Karo sendiri baik dalam pelestarian ataupun dalam pengembangan SDM bu ?

Anggaran dan SDM nya nakku (Panggilan dalam bahasa Karo) Karena

jika Pemerintah Kab.Karo

mengalokasikan dana yang besar tentunya pasti lebih efektif. Karena untuk pengadaan misalnya membutuhkan dana yang besar, membeli peralatan yang cendrung relatif mahal dan pelatihan dan pengembangan SDM. Dan yang terakhir sosialisasi ke Sekolah-sekolah, ke Kampung-kampung maupun didaerah Berastagi itu sendiri.

8. Mengapa koleksi local content tidak dimasukkan kedalam koleksi deposit bu?

Karena disatukan semua divisinya nakku, misalnya untuk bagian Perpustakaan di satukan dalam otomasi dan pelayanan. Untuk koleksi local content kami masukkan ke dalam divisi dokumentasi.

9. Saat ini saya melihat local content Karo masih dalam belum tercetak, Apakah KKPD Kab.Karo berkeinginan untuk melakukan pelestarian dengan digitalisasi?

Mulai tahun 2017 Pemerintah Kab.Karo sudah mulai melakukan sistem perpustakaan Karo secara terautomasi.

Keinginan KKPD Karo sendiri untuk mendigitalisasikan bukan hanya local content Karo tapi juga bahan pustaka lainnya.

10. Apa tanggapan anda jika saya menjelaskan proses digitalisasi dan membangun repositori di KKPD Kab.Karo?

Mantap nakku, tujuan kami pelestarian dalam bentuk digital dan dapat diakses oleh masyarakat Karo tentunya.

Lampiran 4 Local content.

1. Ornamen Karo

2. Agama Karo

3. Aksara Suku Karo

4. Arah mata angin Karo

5. Budaya Karo

6. Fisik Karo

7. Orang Karo Tempo Dulu

8. Pedah Karo

9. Pesta Adat Karo

10. Tari-tari Karo

11. Wari-wari Karo