BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.4 Pembangunan Repositori Pelestarian Local Content
2.4.4 Pemeliharaan dalam Pengembangan Repositori
Repository institusi merupakan wadah yang baik dalam menyebarkanluaskan informasi yang terdapat dalam local content. Tentunya pasti ada kegiatan pemeliharaan yang dilakukan. Dalam hal keamanan jaringan akan membantu dalam hal-hal berikut ini :
Perencanaan tersebut akan membantu dalam hal-hal berikut ini:
a. Menentukan data atau informasi apa saja yang harus dilindungi.
b. Menentukan berapa besar biaya yang harus ditanamkan dalam melindunginya.
c. Menentukan siapa yang bertanggung jawab untuk menjalankan langkah-langkahyang diperlukan untuk melindungi bagian tersebut.
Berbeda hal menurut (Mansyur, sutedjo 2014) Gangguan dan serangan tersebut bila tidak diwaspadai akan merusak sistem repositori dan menjadikan data ‘corrupt’ atau migrasi ke tempat lain dan hal itu akan mengganggu kinerja Repositori Institusi.
Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan sebagai antisipasi terhadap gangguan sebagai berikut:
a. Melakukan backup data secara berkala dan rutin. Dengan demikian apabila terjadi kerusakan data maka bisa segera dilakukan perbaikan (misal, mengganti dengan data yang baru hasil scan).
b. Melakukan pembaharuan ‘patch security’ sistem operasi yang sedang digunakan.
c. Melakukan kegiatan pembersihan server secara berkala dan rutin untuk membersihkan dari virus maupun aplikasi penyusup seperti ‘trojan’.
d. Melakukan pengaturan atau konfigurasi sistem secara benar.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Secara sederhana metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan informasi dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Interpretasi penelitian kualitatif lebih banyak berupa gambar-gambar, kata-kata daripada angka. Sedangkan interpretasi analisis deskriptif adalah analisis yang digunakan secara terus menerus dan berkelanjutan sehingga peneliti mendapat pengetahuan tentang permasalahan, fenomena dan sosial. Sejalan dengan hal tersebut penelitian kualitatif menurut (Moleong, 2005 : 6) mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dengan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Sedangkan, metode analisis deskriptif menurut (Sugiono, 2008:105) mengatakan bahwa ”Metode Deskriptif Analisis merupakan metode penelitian dengan cara mengumpulkan data-data sesuai dengan yang sebenarnya kemudian
data-data tersebut disusun, diolah dan dianalisis untuk dapat memberikan gambaran mengenai masalah yang ada”.
Dengan mengkombinasikan dan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif diharapkan peneliti dapat membuat penjelasan yang sistematis, faktual mengenai permasalahan dan fenomena yang terjadi serta peneliti dapat memberikan gambaran baru dan ide baru bagi Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo untuk mempertahankan budaya lokal dalam hal ini local content Karo, sebagaimana penelitian kualitatif modern dapat memberikan hipotesis baru melalui pengumpulan data, melakukan proses dan implementasi terhadap permasalahan dan fenomena yang diteliti.
3.2 Proses, Objek dan Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti akan melakukan proses digitalisasi seperti scanning, editing, sedangkan dalam kegiatan uploading peneliti juga akan membangun contoh protoype Repositori sebagai wadah agar dapat diakses.
Objek penelitian yang diteliti oleh peneliti dalam penelitian ini adalah local content Karo diantaranya Adat Istiadat Karo, Sejarah Kebudayaan Karo, Alat-alat Musik Karo dan sebagainya. Sedangkan yang menjadi subjek penelitian adalah Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo sebagai pengelola koleksi local content Karo.
3.3 Pemilihan Informan
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti membutuhkan informasi yang akurat mengenai masalah yang diteliti. Dalam memperoleh informasi tentu
peneliti membutuhkan informan yang baik untuk mendukung pembuatan skripsi ini. Informan merupakan orang yang berada dibalik layar dalam melakukan proses penelitian. Menurut Moleong (2005 : 132) mengatakan bahwa informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi mengenai situasi atau kondisi dari latar penelitian.
Peneliti memilih informan yang sesuai dan cocok dengan kriteria peneliti dan tentunya dapat membantu penyelesaian skripsi ini. Informan tersebut adalah :
1. Dalam konteks mengenai informasi tentang instansi dalam hal ini Kantor Kearsipan, Perpustakaan, dan Dokumentasi Kabupaten Karo.
Peneliti memilih informan yang dapat memberikan informasi mengenai Instansi tersebut meliputi : luas gedung, Hukum legal, jumlah staf, pengadaan yang dilakukan dan sebagainya yang terkait dengan hal instansi tersebut.
2. Dalam konteks mengenai objek dokumen local content Karo, peneliti memilih informan yang berkaitan dengan bagian pelayanan dan pelestarian.
3. Dalam hal proses scanning dan implementasi pembuatan repositori institusi, peneliti bekerjasama dengan ahli IT dalam proses pengerjaannya. Mulai dari tahap awal proses scanning hingga tahap akhir proses uploading ke repositori yang telah dibangun.
Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan peneliti, maka peneliti membutuhkan data dan informasi tentang koleksi local content yang terdapat di
Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo terkait local content tersebut yaitu : Reh Jorena Br. Purba (RP) sebagai Kepala Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kab. Karo, Hayani Febtriana br Ginting (HG) sebagai staf KKPD Kab.Karo. Sebenarnya peneliti ingin menambah informan yang mengetahui tentang local content Karo, namun di dalam KKPD Kab.Karo tidak banyak yang mengetahui tentang local content Karo tersebut, sehingga peneliti menetapkan hanya dua informan.
3.4 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 sampai bulan Desember 2016. Lokasi penelitian ini di Kantor Kearsipan, Perpustakaan, Dokumentasi Kabupaten Karo yang terletak di JLN. Pahlawan Komplek Gedung Nasional No.1 Kabanjahe Kabupaten Karo.
3.5 Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada implementasi yang bertujuan untuk pelestarian budaya lokal berupa local content Karo dengan beberapa subfokus lainnya antara lain :
a. Proses Digitalisasi seperti scanning, editing, dan uploading.
b. Proses pembangunan prototype repositori sebagai wadah akses local content tersebut.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Secara sederhana teknik pengumpulan data adalah teknik yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan. Dilansir dari situs
(ciputrauceo.net) mengatakan bahwa Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian..
Ada beberapa teknik dalam pengumpulan data : 1. Wawancara
Teknik pengumpulan data yang bersifat responsif dikarenakan terjadi interaksi antara peneliti dan informan.Tujuan dilakukan wawancara adalah untuk mendapat data yang akurat karena peneliti langsung mendapat data tersebut dari tangan pertama. Wawancara juga bersifat fleksibel karena peneliti telah mendapat gambaran apa yang akan ditanya kemudian dapat dikembangkan komunikasi terjadi saling dua arah. Dalam melakukan wawancara selain melakukan komunikasi dengan informan yang sesuai, peneliti juga akan menggunakan alat perekam atau catatan yang siapkan peneliti, jika informasi yang didapat dari informan banyak.
2. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang sering dilakukan dalam penelitian kualitatif. Dikutip dari sumber yang berjudul (Sumber Data, Metode Dan Teknik Pengumpulan Data, Pengumpulan Data Kualitatif Dan Skala Ukuran, 2013) mengatakan bahwa teknik observasi menggunakan teknik panca indera seperti penglihatan, penciuman, pendengaran sehingga dapat memberikan gambaran yang nyata karena berada dalam tempat tersebut. Observasi juga dapat
memberikan dampak yang baik kepada peneliti seperti mengurangi pertanyaan yang berlebihan akan suatu tempat tersebut.
3. Studi Dokumen
Teknik studi dokumen dilakukan peneliti dengancara mengulang dan mempelajari kembali literatur yang didapat oleh peneliti sebelumnya baik berbentuk tercetak maupun elektronik yang berkaitan dengan rumusan masalah yang diteliti.
3.7 Analisis Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis data kualitatif deskriptif dalam menganalisis data, dokumen, dan literatur yang telah dikumpulkan. Data yang diperoleh tersebut dipergunakan dan interpretasikan secara terus-menerus dalam melakukan penelitian mulai awal hingga akhir penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti berfokus pada permasalahan yang terdapat pada Kantor Kearsipan, Perpustakaan, dan Dokumentasi Kabupaten Karo mengenai pelestarian local content berbentuk tercetak.
Dalam bab berikutnya tentang pembahasan peneliti lebih berfokus pada implementasiannya tentang digitalisasi dan pembangunan protoype repositori institusi. Sehingga hasil dari observasi dan wawancara tidak banyak digunakan dalam penelitian ini karena peneliti lebih menekankan pada implementasiannya.
Sejalan hal tersebut menurut Subino Hadisubroto (2007:20) mengatakan bahwa…dalam analisis data kuantatif itu metodenya sudah jelas dan pasti.
Sedangkan dalam analisis data kualitatif metode seperti itu belum
tersedia.Penelitilah yang berkewajiban menciptakan sendiri.Dalam hal ini peneliti mencoba membangun prototype repositori sebagai wadah local content untuk diakses karena pada Kantor Kearsipan, Perpustakaan, dan Dokumentasi Kabupaten Karo belum memiliki repositori instusi.
Namun peneliti juga mengikuti aturan berupa langkah-langkah yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang dikutip oleh (Sugiono, 2008:21) diantaranya :
1. Reduksi Data
Reduksi data secara sederhana dapat diartikan sebagai filter data , artinya data yang dikumpulkan, diperoleh dan dicari baik bentuk tercetak dan elektronik dipilih, dirangkum kembali serta difokuskan berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
2. Penyajian Data
Setelah selesai di reduksi, kemudian tahap selanjutnya adalah mlakukan penyajian data. Dalam penyajian data umumnya dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori,flowchart dan bentuk penyajian lainnya. Namun karena pendekatan yang dilakukan peneliti kualitati deskriptif dan lebih menekankan pada implementasiannya, maka yang paling sering digunakan dalam penyajian data berbentuk teks dan bagan yang dilengkapi teks yang saling berhubungan.
3. Penarikan Kesimpulan
Setelah selesai mulai dari reduksi dan penyajian data kemudian dilakukan tahap ketiga yaitu tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan baru yang sebelumnya yang belum pernah ada. Temuan tersebut bisa berbentuk ide, konsep aplikatif yang dapat membantu menyelesaikan dan meringankan permasalahan yang ada.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian ini adalah peneliti berfokus pada implementasi pelestarian yakni pelestarian dalam bentuk digitalisasi. Peneliti akan memaparkan proses digitalisasi mulai dari scanning, editing dan uploading. Dalam kegiatan uploading peneliti akan membangun contoh protoype repository sebagai wadah untuk mengakses local content tersebut. Selain berfokus pada implementasiannya peneliti juga akan menguraikan data-data yang telah diperoleh peneliti melalui observasi, melihat, serta wawancara dengan informan dan dikaitkan dengan teori dari literatur baik cetak maupun elektronik yang berhubungan dan relevan dengan local content dan bentuk pelestariannya.
Dalam bab pembahasan ini peneliti akan menjelaskan beberapa bagian. Bagian pertama peneliti membahas tentang profil Kantor Kearsipan dan dokumentasi Kab.Karo meliputi gambaran umum, visi dan misi dan tugas pokok dan fungsi.
Bagian kedua tentang local content Karo mulai dari latar belakang hingga pelestarian yang telah dilakukan. Dan bagian ketiga tentang implementasi meliputi proses digitalisasi dan pembangunan protoype repository. Dalam proses pembangunan protoype repository peneliti bekerjasama dengan ahli IT dalam proses pembuatannya. Proses digitalisasi dan proses pembangunan protype repository dideskripsikan dalam bentuk teks dan gambar.
4.2 Profil Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kab.Karo (KKPD)
4.2.1 Gambaran Umum KKPD Kab.Karo
Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo didirikan tahun 2008 dibawah naungan Pemda setelah keluarnya PP No. 41 tahun 2007.
Pada awalnya nama sebelum diubah menjadi Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi adalah Perpustakaan Daerah Kabupaten Karo dulunya di bawah naungan Pemda Kabupaten Karo (dibawah Kabag Orta), kemudian setelah itu dilimpahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Karo yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan (UPT). Seiring berjalannya waktu dengan keluarnya PP No.41 tahun 2007 kemudian diganti kembali menjadi nama Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo hingga saat ini.
Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo dikelola oleh berbagai macam SDM (Sumber Daya Manusia) dan berbagai macam latar pendidikan. Dari data yang diperoleh peneliti, SDM yang terdapat dalam instansi tersebut terdiri dari pejabat struktural dan pegawai honorer. Pejabat struktural dengan pangkat esselon III dan esselon Iv dan jumlah pegawai honorer saat ini sebanyak 6 orang.
Pada Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten karo memiliki jumlah judul sebanyak 5506 dan memiliki jumlah eksemplar sebanyak 10446, namun pada tahun 2015 Kantor Arsip, Perpustakaan dan dokumentasi Kabupaten Karo melakukan penghapusan judul buku sebanyak 400 judul. Untuk local content dalam bentuk tercetak , instansi tersebut
menyimpan dalam lemari khusus dan tidak untuk dipinjamkan, karena dari observasi awal jika dipinjamkan resiko hilang atau sebagian dari lembar tersebut hilang sangat besar.
Saat ini Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo belum melakukan digitalisasi dan pembangunan repositori sebagai wadah untuk mengakses local content Karo tersebut. Peneliti akan mencoba melakukan digitalisasi dan membangun contoh prototype Institusi untuk Kantor Arsip, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo.
4.2.2 Visi dan Misi KKPD Kab.Karo
Sebagai sebuah instansi, KKPD Karo memiliki visi dan misi sebagai pedoman untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan pengguna dan keinginan dari lembaga induknya. Adapun visi dan misi KKPD Kab.Karo adalah
Visi
“ Menjadikan Arsip Dan Perpustakaan Sebagai Sumber Informasi Dan Pendidikan”
Misi
1. Meningkatkan pelayanan perpustakaan umum, sekolah, khusus, perguruan tinggi.
2. Meningkatkan sistem pengelolaan dan penataan kearsipan dan perpustakaan.
3. Meningkatkan kemampuan teknis petugas aparatur di bidang perpustakaan dan kearsipan.
4. Meningkatkan minat dan budaya baca.
4.2.3 Tugas Pokok dan Fungsi KKPD Kab.Karo
KKPD Kab.Karo mempunyai tugas dalam menyelenggarakan perpustakaan dan kearsipan daerah. Dalam melaksanakan tugas tersebut Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi Kabupaten Karo sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Karo Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Organisasi Tata Kerja Lembaga Teknis Kabupaten Karo pada BAB X adalah sebagai berikut :
Tugas pokok KKPD Kab.Karo
Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang pengelolaan kearsipan daerah, perpustakaan dan dokumentasi yang bersifat spesifik.
Fungsi KKPD Kab.Karo
Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Kantor Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi menyelenggarakan fungsi :
a. Perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya.
b. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sesuai dengan lingkup tugasnya.
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pengelolaan Kearsipan, Perpustakaan dan Dokumentasi sesuai dengan lingkup tugasnya.
d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
4.3 Data tentang local content Karo saat ini di Karo
Hal yang melatarbelakangi tersedianya local content di KKPD kab.Karo dimulai sejak tahun 2008, ketika ada mahasiswa atau peneliti ingin meneliti lebih jauh mengenai Karo baik dari segi budaya, pejuang-pejuang, ataupun adat istiadat dengan tujuan pendidikan atau penelitian. Hal ini yang mendasari pihak perpustakaan Karo atau dinas pendidikan Kab.Karo ingin menyediakan local content tentang budaya Karo. Informasi tentang kajian ini diperoleh peneliti saat melakukan wawancara dengan salah satu staff perpustakaan.
HG : ” adanya local content Karo karena ada mahasiswa atau peneliti datang baik dari dalam Karo sendiri ataupun dari luar sumatera seperti Jawa. Makanya pihak perpustakaan menyediakan local content tersebut.
Pernyataan ini diperkuat oleh informan RP yang mengatakan :
RP : ” iya, banyak memang mahasiswa diluar sumatera atau didalam sumatera memiliki minat yang tinggi untuk meneliti budaya kita (budaya Karo).
Dari kutipan wawancara diatas peneliti menginterpretasikan bahwa masih banyak mahasiswa baik didalam sumatera maupun diluar sumatera ingin meneliti lebih jauh tentang budaya Karo. Sesuai juga dengan Undang-Undang no.43 tahun 2007 pasal 8 tentang Perpustakaan yang menyatakan bahwa:
”Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasarkan kekhasan daerah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kebudayaan daerah diwilayahnya”. Dengan adanya disediakan local content tersebut diharapkan masyarakat Karo khususnya dapat mengenal budaya mereka sendiri.
Dari segi ruangan untuk local content Karo telah mengalami beberapa perubahan. Sebelum rampung menjadi perpustakaan semua koleksi ada di kantor bupati Karo, setelah selesai koleksi-koleksi buku tersebut di pindahkan ke perpustakaan tersebut dengan ruangan khusus sastra. Namun karena sering di pakai oleh pihak tidak bertanggung jawab sehingga ruangan untuk local content Karo dibuat tempat khusus dan tidak bisa dipinjamkan. Dalam ruangan tersebut local content Karo yang dimuat adalah tentang budaya Karo seperti adat istiadat, gambar orang Karo tempo dulu, terombo dan sebagainya yang bertemakan tentang Karo. Berikut hasil wawancara dengan informan HG yang mengatakan:
HG: ” ada perbedaan ruangan yang kami buat untuk koleksi local content ini. Kami meletakkan local content tersebut dengan tujuan agar memudahkan mencari koleksi tentang budaya Karo.
Dalam hal pengadaan local content Karo, sebagian besar local content Karo diperoleh dari sumbangan dari beberapa peneliti dan penulis tentang budaya Karo. Namun beberapa tahun belakangan ini KKPD Karo sudah mulai membeli beberapa eksemplar baik dari penerbit atau penulis. Pengadaan untuk local content Karo sendiri mengalami beberapa kendala selain termasuk kategori langka dan anggaran juga tidak banyak dialokasikan, SDM juga merupakan faktor penting dalam hal ini. SDM, baik pustakawan ataupun staff KKPD Karo kurang memiliki kemampuan dan minat yang tinggi untuk menambah ketersediaan koleksi local content Karo tersebut. Selain SDM yang kurang mumpuni masyarakat Karo juga kurang memiliki keprihatinan dalam hal menjaga budaya Karo. Sehingga yang terjadi KKPD Kab.Karo bersifat menunggu koleksi tersebut datang atau menuggu diberikan oleh dinas pendidikan Karo yang berisi terbitan pemerintah yang merupakan salah satu satu dari metode pengadaan yaitu sumbangan.
4.4 Data tentang pelestarian Local Content Karo saat ini di Karo
Pengertian sederhana dari pelestarian adalah agar suatu bahan pustaka dapat digunakan secara terus menerus oleh generasi berbeda. Sejalan dengan hal tersebut menurut Mustofa dalam artikelnya berjudul “Pelestarian Bahan Pustaka Digital” menjelaskan bahwa Preservasi adalah semua kegiatan yang bertujuan memperpanjang umur bahan pustaka dan informasi yang ada di dalamnya.
Upaya pelestarian yang dilakukan oleh KKPD Karo masih sangat sederhana dan manual. Bukan hanya untuk koleksi local content saja namun
untuk semua koleksi buku yang terdapat dalam perpustakaan Karo. Terlihat dari wawancara peneliti dengan informan HG.
HG : “ Jika ada buku yang rusak kami hanya sebatas memperbaiki bentuk fisiknya saja, jika kerusakan buku tersebut sudah berat maka kami musnahkan.
Selain upaya pelestarian yang masih sangat sederhana dan manual, kebijakan pelestarian baik local content maupun bahan pustaka yang sesuai standar belum ada di KKPD Karo itu sendiri. Hal ini dapat mendatangkan merugikan karena tidak ada panduan ataupun pedoman sebagai dasar untuk melakukan pelaksanaan kegiatan pelestarian. Dibuat suatu kebijakan adalah untuk ada hal yang dicapai oleh suatu organisasi dalam hal ini perpustakaan untuk memelihara kandungan pengetahuan murni dari suatu koleksi.
Sejalan dengan hal tersebut menurut Triwardani, 2014 dimuat dalam jurnal “Implementasi kebijakan desa dalam upaya pelestarian budaya lokal”
mengatakan bahwa Status desa budaya juga mengandung makna penguatan regulasi dan penyusunan pondasi kebijakan yang mempermudah dan menjamin pelaku-pelaku di bidang kebudayaan dalam melestarikan dan mengembangkan potensi budaya lokal sehingga menumbuhkembangkan ketahanan budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya soal kebijakan yang harus dibuat sebagai dasar kegiatan pelaksaannya namun juga SDMnya juga harus disosialisasikan dan sarana dan prasarananya harus juga dilengkapi. Seperti dikutip oleh
Rochayanti & Triwardani, 2013 mengatakan bahwa “Sejumlah kendala masih ditemukan dalam melaksanakan pelestarian budaya lokal melalui desa budaya seperti persoalan sumberdaya manusia, kelembagaan dan sarana pra-sarana.
Implikasinya, desa budaya sebagai wahana pelestarian budaya lokal masih belum berjalan optimal”.
Jika diteliti lebih luas, terdapat kelemahan-kelemahan dalam pelestarian yang dilakukan oleh pihak KKPD Kab.Karo sendiri. Selain tidak adanya kebijakan pelestarian sebagai dasar pedoman, kelemahan lainnya adalah SDM yang kurang mumpuni serta sarana dan prasarana juga kurang memadai. Dalam hal inilah saya coba memberikan kontribusi berupa penjelasan dengan deskripsi pelestarian berupa digitalisasi yakni mengubah dari format tercetak ke digital.
Dijelaskan dalam sub bab berikutnya.
4.5 Kegiatan Implementasi
Dalam kegiatan implementasi ini peneliti akan menjelaskan kegiatan pelestarian yakni proses digitalisasi meliputi kegiatan scanning, editing dan proses uploading. Dalam kegiatan uploading peneliti akan menjelaskan proses pembangunan protype repositori. Dalam melakukan kegiatan digitalisasi yakni proses scanning peneliti mengalami kendala dalam hal perangkat keras karena KKPD belum memiliki mesin scanning sehingga peneliti menggunakan kamera digital Canon dslr. Dalam pembuatan protype repository peneliti bekerjasama dengan ahli IT.
Sebelum melakukan proses ini peneliti bertanya dahulu kepada pihak KKPD Karo, terlihat dari hasil wawancara seperti berikut dengan informan HG, yang mengatakan :
HG : “Kegiatan digitalisasi merupakan tujuan dari KKPD Karo dalam hal melestarikan kebudayaan Karo. Sehingga kegiatan ini sangat baik untuk dilakukan.
Hal ini juga di perkuat oleh kepala perpustakaan KKPD Karo yang mengatakan : RP : Selain tujuan utama kami adalah untuk pelestarian dengan digitalisasi juga adalah membuat sistem tersebut secara online agar dapat diakses diluar dari masyarakat Karo.
Dari pernyataan diatas peneliti dapat menginterpretasikan bahwa
Dari pernyataan diatas peneliti dapat menginterpretasikan bahwa