BAB II Pengaturan Pembiayaan Terhadap Kredit Usaha Mikro,
B. Kendala-Kendala Dalam Pemberdayaan Kredit Usaha
Dari informasi sektor perbankan, ditemukan beberapa permasalahan utama dalam penyaluran kredit UMKM selama ini. Walaupun sejak 10 tahun yang lalu Bank Indonesia mewajibkan perbankan menyalurkan kredit untuk UMKM, yakni kredit dengan batas maksimum di bawah Rp 5 milyar, minimum 20% dari total kredit, dalam kenyataannya porsi 20% itu tidak selalu tercapai setiap tahun, walaupun jumlah kredit yang tersalurkan ke UMKM cenderung meningkat terus. Keterbatasan menyediakan jaminan merupakan salah satu kendala UMKM di Indonesia. Masih terdapat beberapa kendala mendasar yang dihadapi seperti tingginya tingkat suku bunga kredit dari bank. Sebagai contoh, program KUR tingkat suku bunga dari 14% hingga 24%. Bandingkan dengan tingkat suku bunga di beberapa negara Asean, paling tinggi 6%. Apalagi bila dibandingkan dengan
71 Ibid.
CHINA suku bunga hanya 5%. Kemenkop dan UKM menghimbau agar bank menurunkan tingkat suku KUR sebesar 2%, berarti ditargetkan 12% dan hal tersebut diperkirakan masih tinggi. Dengan tingginya tingkat suku bunga maka beban biaya yang dipikul oleh UMKM semakin tinggi, dan harga jual pun semakin tinggi.72
Menurut beberapa pendapat, agar program KUR dapat diakses luas oleh pelaku UMKM, suku bunga kepada UMKM cukup 6% saja, seperti program kredit lainnya. Pelaku UMKM hanya membayar bunga 6% dan sisanya disubsidi oleh pemerintah untuk dibayarkan kepada bank pelaksana.73
Secara umum persoalan atau kendala-kendala UMKM disebabkan oleh:74
1. kurangnya kesesuaian antara dana yang tersedia yang dapat diakses oleh UMKM.
2. tidak adanya pendekatan yang sistematis dalam pendanaan UMKM.
3. biaya transaksi yang tinggi, yang disebabkan oleh prosedur kredit yang cukup rumit sehingga menyita banyak waktu sementara jumlah kredit yang diberikan kecil.
4. kurangnya akses ke sumber dana yang formal, baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai.
5. bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi.
72
Konsultan Pengembangan Sektor Riil dan UMKM (KPRSU). Kendala – Kendala UMKM
73 Ibid.
6. banyak UMKM yang belum bankable, baik disebabkan karena belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial.75
Sementara itu dari segi non finansial dapat disebabkan oleh:76
1. kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan.
2. kurangnya pengetahuan pemasaran yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UMKM mengenai pasar dan karena keterbatasan kemampuan UMKM untuk penyediaan akan produk/jasa yang sesuai dengan keinginan pasar.
3. keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
Presiden Direktur Pusat Pengembangan UMKM Kamar Dagang Indonesia, Ida Bagus Putu Sarga mengelompokkan persoalan UMKM tidak dapat berkembang karena:
1. Menyangkut kekurangan modal sebagai kendala sektor UMKM untuk maju. Terdapat beberapa faktor yang mendasar yang menyebabkan kurangnya daya serap UMKM terhadap ketersediaan kredit lunak yang disiapkan oleh perbankan, antara lain tidak tersedianya dana untuk pemenuhan persyaratan pengajuan kredit ke perbankan. Selain itu minimnya pengetahuan dalam penulisan proposal bisnis yang juga menghambat penyerapan kredit lunak yang disediakan oleh perbankan. Pengusaha masih sulit untuk mendapatkan modal kerja karena tidak memiliki agunan yang cukup.
75
Aswandi S, Kiprah UMKM di Tengah Krisis Ekonomi Diakses tanggal 12 September 2010.
76 Ibid.
2. Metode produksi yang masih tradisional dianggap melemahkan sektor UMKM untuk bersaing memasuki AFTA dan APEC. Sektor UMKM akan menghadapi tantangan yang semakin besar apabila tidak mencari jalan keluar terhadap persoalan produksi. Terlebih lagi hampir sebagian besar UMKM tidak memiliki sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk bisa mengakses pasar internasional. Umumnya UMKM bergantung pada perusahaan trading yang sekaligus berfungsi sebagai pedagang pengumpul dan meraup laba sebanyak-banyaknya dari selisih harga. Belum lagi lemahnya dasar hukum UMKM di Indonesia.
Dari fenomena ini ditunjukkan bahwa perlunya kajian secara komprehensif terhadap penyebab stagnasinya daya serap sektor riil dalam pelayanan kredit. Di samping itu, salah satu aspek lain dari segi perbankan yang menjadi perhatian adalah pengaruh kepastian hukum yang lebih dari sekedar penegakan hukum yang membuat pelaku sektor riil dan perbankan harus lebih berhati-hati sebagai dampak dari pemberantasan illegal transaction. Hal ini berdampak pada kekhawatiran perbankan untuk mengantisipasi jika terjadi kredit macet, khususnya kredit Usaha Mikro dan Kecil yang notabene dilaksanakan tanpa didukung oleh adanya agunan yang cukup sebagai jaminan kredit. Kurang jelasnya fungsi hukum sebagai landasan kerja bagi banker dalam mengatasi kredit macet di kemudian hari.77
Di samping itu, timbulnya permasalahan kredit UMKM selama ini perlu di inventarisasi sebagai masalah kredit macet UMKM, untuk dapat diberikan solusi pemecahannya dengan jalan terbaik. Dalam perkembangannya saat ini
ditunjukkan bahwa terdapat hal pokok yang belum tercipta secara ideal. Paket kebijakan pemerintah yang dituang di dalam Peraturan Bank Indonesia sebagai fasilitator ternyata belum mampu meyakinkan perbankan untuk lebih pro dalam realiasi kredit sektor UMKM. Turunnya BI rate untuk merangsang banker yang lebih memihak pada pelaku UMKM, ternyata belum mampu direalisasikan secara optimal. Di samping itu, sulitnya pelaku UMKM untuk menembus akses permohonan kredit pada bank juga sangat sulit karena terbentur dengan banyaknya ketentuan dan syarat yang harus dipenuhi pelaku UMKM. Dalam masa perkembangannya, memang sektor UMKM ini keberadaannya perlu mendapat perhatian khusus. Pola kemitraan dalam pembinaan usaha UMKM yang telah ada, perlu untuk dikembangkan sebagai bentuk konkret dan jaminan bagi perbankan dalam membantu pengembangan sektor UMKM.78
Kelemahan dalam pengelolaan Usaha Kecil berkaitan dengan faktor ekstern dan intern yakni meliputi:79
a. Tidak mengetahui secara tepat kebutuhan modal kerja karena tidak memiliki perencanaan kas yang baik.
b. Sering terjadi kesalahan manajemen dan ketidakpedulian pengelolaan terhadap prinsip-prinsip manajerial.
c. Sumber modal yang terbatas pada kemampuan pemilik. d. Tidak memiliki program pengendalian dalam memulai usaha.
e. Tidak pernah memiliki studi kelayakan, penelitian pasar dan analisis perputaran uang.
78
Ibid, hal 239. 79
BAB IV
PELAKSANAAN PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH
A. Ruang Lingkup Penyelesaian Kredit Bermasalah
Pada dasarnya setiap bank tidak terlepas dari munculnya peluang kredit bermasalah. Membahas mengenai kredit bermasalah, maka secara langsung bank dapat dikaitkan dengan adanya risiko yang terkandung di dalam setiap pemberian kredit tersebut. Kredit bermasalah merupakan salah satu penyebab kesulitan bank menyangkut tingkat kesehatan bank, sehingga sedini mungkin bank harus dapat mengantisipasi akan timbulnya risiko kredit bermasalah. Secara umum, kredit bermasalah disebabkan oleh dua hal, yaitu:80
1. Dari pihak perbankan, yakni masalah yang disebabkan oleh ketidaktelitian analisis terhadap kemampuan calon debitur, sehingga munculnya faktor kredit bermasalah tidak dapat diprediksi sebelumnya. Di samping itu, hal ini dapat pula terjadi karena adanya kolusi pihak analisis dengan debitur sehingga proses analisis yang dilakukan tidak objektif.
2. Dari pihak nasabah yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
a. Adanya unsur kesengajaan debitur yang tidak mau memenuhi kewajibannya kepada bank untuk membayar utang sehingga muncul kredit macet.
b. Adanya unsur tidak sengaja yang disebabkan debitur yang tidak mampu memenuhi kewajibannya akibat faktor eksternal seperti musibah (force mayor).
Pada dasarnya, munculnya kegagalan di dalam pengembalian kredit disebabkan oleh faktor ekstern dan intern bank itu sendiri. faktor-faktor tersebut antara lain:81
1. Self Dealing
Yakni dikarenakan pejabat bank dalam melakukan penilaian kredit yang tidak objektif, sehingga data yang diajukan tidak valid dengan tingkat objektifitas yang rendah.
2. Anxiety for income
Kredit dianggap sebagai pendapatan oleh debitur dan bahkan dianggap sebagai pendapatan yang harus dicari sebanyak-banyaknya. Jika anggapan debitur yang semacam ini ada dan mengabaikan kemampuan membayar (repayment capacity), maka kegagalan kredit akan semakin besar.
3. Compromise of Credit Principles
Yakni hal yang disebabkan oleh petugas bank yang menerima/melewati batas toleransi penyimpangan prinsip perkreditan. Hal ini tentu akan memperbesar ruang kompromi dalam bentuk risiko sehingga sangat berbahaya di kemudian hari.
4. Non Existance of Sounds Lending Policies
Penilaian kredit yang tidak didasarkan pada kebijakan kredit yang sehat, seperti adanya tingkat kejenuhan profil produk nasabah sehingga pengembalian kredit tersendat.
5. Incomplete Credit Information
81
Warman Djohan, Kredit Bank, Alternatif Pembiayaan dan Pengajuannya, (Jakarta : Mutiara Sumer Wijaya, 2000), hal. 57.
Dalam mengambil keputusan terhadap permohonan debitur seharusnya didasarkan pada prinsip 5 C’s analisis. Apabila keputusan yang diambil berdasarkan data yang tidak lengkap, maka hal ini akan semakin membuka peluang munculnya kredit bermasalah di kemudian hari.
6. Failfure Obtain Enforce Liquidation Agreement
Kegagalan dalam mendapatkan pelunasan kredit pada saat likuidasi juga merupakan kegagalan dalam persetujuan pemberian kredit. Hal tersebut terjadi karena kurang muatnya pengikatan barang jaminan yang diserahkan karena kurang memenuhi bukti kepemilikan dan kualitas jaminan itu sendiri.
7. Complacency
Membuat sesuatu menjadi mudah dalam analisis permohonan juga merupakan kegagalan dalam pemberian dan pengembalian fasilitas kredit.
8. Lack of Supervising
Kurangnya pengawasan juga merupakan penyebab kegagalan. Pengawasan pada waktu menganalisis, pencairan kredit dan pada waktu berjalannya kredit sehingga sedapat mungkin dapat diketahui gejala awal apabila suatu permasalahan itu muncul untuk kemudian secara dini dapat dicarikan terapi pemecahannya. 9. Technical Incompetence
Dilihat dari kemampuan teknis analisis dan pengurus bank dan apabila mereka tidak mempunyai kemampuan sebagaimana yang diisyaratkan, maka akan menyebabkan kegagalan dalam pemberian kredit.
10. Poor Selection of risk
Seluruh kemungkinan risiko kredit yang muncul harus dianalisis agar dapat diminimalisir.
11.Over Lending
Yakni sejumlah kredit yang diberikan melebihi jumlah yang dibutuhkan debitur, sehingga membuka peluang penggunaan kredit untuk tujuan lainnya. Apabila kredit digunakan untuk tujuan yang tidak direncanakan sebelumnya, maka akan muncul risiko kredit baru yang dapat menyebabkan kegagalan pemberian dan pengembalian kredit.
12. Competition
Berkaitan dengan persaingan antara bank dimana masing-masing bank berlomba untuk memberikan pelayanan dengan cepat dan mudah kepada calon debitur. Apabila dalam persaingan itu hal-hal prinsip persetujuan pemberian kredit dan pengelolaannya terabaikan, maka bank akan berhadapan dengan risiko kegagalan dalam pemberian kredit.
Penyelesaian kredit bermasalah merupakan upaya bank dalam pengawasan kinerja perusahaan debitur. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah debitur tidak sanggup lagi dalam memenuhi kewajibannya. Indikasi tersebut dapat dilihat dari usaha debitur yang mulai memburuk sehingga berpotensi menjadikan debitur tidak mampu lagi untuk membayar kewajiban yang telah disepakati.
Adapun identifikasi awal terhadap munculnya kredit bermasalah yang harus diperhatikan oleh perbankan adalah:82
1. Bahwa perbankan tidak boleh membiarkan atau menutup-nutupi adanya kredit bermasalah.
2. Bank harus mendeteksi sedini mungkin atas indikasi kredit bermasalah.
82
Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung : Citra Aditya Bhakti, 2006), hal. 551.
3. Bank tidak boleh melakukan penyelesaian kredit bermasalah dengan cara menambah plafond kredit.
4. Bank tidak boleh melakukan pengecualian dalam penyelesaian kredit bermasalah untuk semua debitur baik pelaku usaha besar ataupun kecil.
Berdasarkan ketentuan Pasal 10 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Kualitas Aktiva Bank Umum, maka kualitas kredit ditetapkan menurut faktor penilaian yang meliputi prospek usaha, kinerja (performance) debitur, dan kemampuan membayar. Dengan adanya ketiga faktor penilaian faktor tersebut, maka kualitas kredit dibagi menjadi:
1. Lancar (L), adalah pinjaman kredit dengan tingkat pembayaran tepat pada waktunya dan tidak ada tunggakan pokok dan bunga.
2. Dalam Perhatian Khusus (DPK) adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga sampai dengan 90 hari.
3. Kurang lancar (KL), adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang melampaui hari ke 91 sampai dengan hari ke 150.
4. Diragukan (D), adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang melampaui hari ke 151 sampai dengan 180.
5. Macet (M), adalah pinjaman kredit yang terdapat tunggakan pembayaran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui hari ke 180 sampai dengan 360.
Angka non performing loan (NPL) yang cenderung meningkat merupakan tantangan utama yang menjadi perhatian perbankan. Secara umum, faktor NPL ini memberikan efek yang negatif terhadap perekonomian secara makro, dimana bank
akan melakukan pengurangan terhadap ekspansi kredit dan juga meningkatkan biaya operasi moneter. Di samping itu, pengaruh peningkatan NPL ini juga akan mempengaruhi kinerja perbankan dalam pengambilan keputusan kreditnya karena akan berdampak pada status well performing bank itu sendiri. Hal ini yang menjadi kendala bagi ekspansi kredit, khususnya bank-bank BUMN yang notabene memiliki kegamangan dalam penyelesaian persepsi kredit bermasalah.83
Berbeda dengan bank swasta yang memiliki hak langsung dalam mengatasi kredit bermasalahnya, bank umum sedikit terkendala akibat mekanisme penyelesaian kredit macet yang belum jelas. Bank-bank swasta dapat segera bersih dari NPL hanya melalui korporasi, sedangkan bank BUMN perlu melalui mata rantai yang panjang, karena harus melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Dengan dasar itu, melihat perkembangan isu kredit pada bank BUMN saat ini yang dinilai sangat mengkhawatirkan, maka pemerintah pada 16 Oktober 2006 melalui Departemen Keuangan telah mengumumkan peraturan pelaksanaan penyelesaian non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah bank BUMN yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (selanjutnya disebut dengan PMK) No. 87/PMK.07/2006 tentang Pengurusan Piutang Perusahaan Negara/Daerah. PMK ini merupakan kelanjutan dari penertiban Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2006 sebagai pengganti PP Nomor 14 tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah. Secara umum, inti dari kedua aturan baru ini adalah penegasan kepada bank BUMN yang saat ini telah diberikan kewenangan utuh dalam mencarikan solusi pemecahan masalah kredit
83
Konsultan Pengembangan Sektor Riil dan UMKM (KPRSU), Mengatasi Kredit Bermasalah
macet secara independen tanpa terikat oleh pengaruh faktor lain. Melalui ketentuan ini akan diberikan kemudahan bagi bank BUMN dalam menangani kredit bermasalah yang akan dihapusbukukan dan tidak perlu diserahkan kepada Ditjen Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan.84
Dengan kebaikan ini, tentu saja memberikan gambaran bahwa bank BUMN telah memiliki kesamaan dengan bank swasta dan kewenangan untuk memberikan keringanan kepada debitur bermasalah. Keringanan kredit yang dimaksud bagi debitur yang kerap disebut juga dengan hair cut merupakan langkah yang biasa dilakukan oleh bank di seluruh dunia, terutama dalam penyelesaian kredit bermasalahnya. Pola restrukturisasi dengan metode keringanan ini merupakan satu bagian dari berbagai cara restrukturisasi dalam rangka penyelesaian NPL. Beberapa metode yang juga kerap digunakan dalam restrukturisasi NPL adalah rescheduling dan reconditioning utang85
84 Ibid.
. Namun dalam implementasi di lapangan terhadap kebijakan PMK No. 87/PMK.07/2006 dan PP No. 33 Tahun 2006 ini, bagi banker memunculkan pertanyaan baru. Keberadaan PP No. 33/2006 dan PMK No. 87/2006 pada kenyataannya masih menimbulkan praduga dan multi interpretasi yang berbeda antara bank dengan lembaga hukum yang ada. Keberatan terjadi apabila aturan baru ini akan dijadikan topeng bagi para debitur bermasalah untuk sekedar mendapatkan keringanan dari bank. Hal ini menjadi isu sentral mengingat bahwa posisi BUMN secara luas juga tidak dapat dilepaskan dari konteks politik, dimana hal yang dikhawatirkan bahwa keberadaan PP No. 33/2006 ini dijadikan oleh konglomerat besar yang
menunggak untuk mengurangi kewajiban bunga utang sehingga nilai dari prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik tidak diindahkan.86
Keluar pernyataan bahwa adanya aturan ini tidak menghilangkan delik korupsi bagi para debitur bermasalah maupun banker yang memberikan keringanan. Pernyataan ini tentu telah membawa kegamangan di kalangan banker bank BUMN. Satu hal yang perlu dimengerti, dengan keluarnya PP No. 33/2006 ini merupakan penegasan bahwa piutang BUMN saat ini bukan bagian dari piutang negara. Ketakutan tersebut bagi perbankan adalah munculnya persepsi bahwa kredit macet yang timbul di bank BUMN selama ini dianggap sebagai suatu tindakan pidana, padahal semua kredit selalu mengandung potensi kredit macet, sehingga kewenangan dalam haircut tersebut dibayangi oleh munculnya perkara di kemudian hari.87
Satu hal yang harus dipegang, bank BUMN juga tidak akan begitu saja memberikan keringanan kredit bermasalah kepada para debitur macetnya. Dengan demikian diharapkan adanya keharusan yang tegas untuk dapat membedakan antara debitur yang dapat diberikan keringanan dengan yang tidak. Untuk mengantisipasi penyelewengan ketentuan dalam hair cut, pemerintah dalam hal ini telah menyampaikan bahwa untuk menjamin asas good coorporate governance. Dalam pelaksanaan PP No. 33/2006 dan PMK No. 87/2006, BUMN akan membentuk Oversight Committee (OC) yang tugas utamanya adalah untuk mengawasi agar penyelesaian NPL benar-benar dilaksanakan sesuai dengan tata kelola yang baik. Tentunya keberadaan OC ini akan semakin memperkuat upaya penyelesaian NPL di Bank BUMN. Hanya saja keberadaan OC harus benar-benar
86
Rachmadi Usman. Op.cit, hal 251. 87
diatur mekanismenya agar tidak menjadi perpanjangan birokrasi penyelesaian NPL yang pada gilirannya akan menyebabkan hilangnya hakikat kesetaraan penyelesaian NPL dengan bank swasta.
Dalam ketentuan mengenai penyelesaian kredit bermasalah tersebut hendaknya diatur di dalam suatu Standard Operating Procedures (SOP) yang meliputi:88
1. Accountability
Yakni tolak ukur yang jelas, yang akan dijadikan acuan dalam mengukur kinerja penyelesaian piutang.
2. Transparancy
Yakni prinsip keterbukaan yang dilakukan dalam penyelesaian piutang. 3. Responsibility
Yakni memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam penyelesaian piutang.
4. Fairness
Yakni perlakuan yang adil.
Pemerintah memang mau tidak mau harus benar-benar percaya kepada tim manajemen yang telah ditunjuk apabila penunjukkannya telah mengacu pada asas profesionalisme dan integritas. Sejumlah langkah pemerintah di atas pada gilirannya akan mempercepat penyelesaian NPL bank BUMN sehingga akan mengoptimalkan fungsi intermediasi bank BUMN yang akan memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi perekonomian Indonesia. Jika kondisi ideal ini
88
dapat terwujud, maka akan berdampak pada kemudahan sektor UMKM untuk mengakses permodalan dalam upaya menggerakkan sektor riil.
Secara umum, penyebab terjadinya kredit bermasalah yang menjadi NPL bank, disebabkan oleh kondisi faktor ekonomi makro yang memburuk. Tingkat inflasi yang tinggi berdampak pada daya beli masyarakat yang menurun, sehingga arus perputaran uang di masyarakat sedikit terganggu. Hal ini tentu saja berimplikasi terhadap pendapatan dan kemampuan debitur dalam hal menyelesaikan kewajiban kreditnya ke bank.
Melihat perkembangan kondisi ini, Bank Indonesia kemudian mengeluarkan Peraturan terkait Kualitas Aktiva bank umum yang tertuang dalam PBI Nomor 7/2/2005 yang secara khusus mengatur tentang NPL perbankan. Dalam upaya penyelamatan dan penyelesaian kredit bermasalahnya, maka salah satu langkah yang ditempuh dan telah disepakati untuk diterapkan adalah melalui proses restrukturisasi kredit. Dalam Keppres RI Nomor 56 Tahun 2002 tentang Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan Menengah disebutkan bahwa:
Pasal 2 ayat (1): Restrukturisasi kredit usaha kecil dan menengah diberikan kepada perorangan atau badan usaha yang dikategorikan sebagai usaha kecil dan menengah yang mempunyai total kredit per tanggal 31 Desember 1997 dan/atau sisa utang pokok sampai dengan Rp. 5.000.000.000 (lima milyar rupiah) per debitur pada bank dan/atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional.
Restrukturisasi kredit pada dasarnya dilakukan sebagai upaya perbaikan yang dilakukan perbankan dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang
mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya. Adapun jenis-jenis dari restrukturisasi kredit adalah:89
1.Perubahan tingkat suku bunga
Perubahan tingkat suku bunga adalah perubahan/penurunan suku bunga menjadi lebih kecil dari sebelumnya untuk penggunaan suku bunga setelah restrukturisasi.
2.Pengurangan tunggakan bunga dan/atau denda
Pemberian keringanan tunggakan bunga dan/atau dengan maksimum hanya sebatas tunggakan bunga dan/atau denda yang belum dibayar. Pengurangan bunga tidak dapat dilakukan pada kredit yang direstrukturisasi dengan kategori Lancar (L), Dalam Perhatian Khusus (DPK), dan Kurang Lancar (KL), namun untuk kredit yang telah masuk Diragukan (D) dan Macet (M) memungkinkan untuk dilakukan pengurangan atas tunggakan bunga yang sesuai dengan kemampuan debitur.
3.Pengurangan tunggakan pokok kredit.
Berpedoman pada anggaran dasar bank. Ketentuan ini mensyaratkan dalam rangka restrukturisasi kredit yang mengatur tentang penghapusan secara mutlak (hapus tagih).
4.Perpanjangan jangka waktu kredit/penjadwalan kembali.
Perpanjangan jangka waktu kredit, disesuaikan dengan kemampuan debitur atau untuk kredit konsumtif disesuaikan dengan repayment capacity debitur tersebut. Penambahan fasilitas kredit/suplesi kredit.
Penambahan fasilitas kredit adalah pemberian tambahan fasilitas kredit baik direct maupun contingent, agar usaha debitur dapat beroperasi kembali sehingga dapat memenuhi kewajibannya kepada bank. Penambahan fasilitas kredit tidak diperkenankan untuk melunasi tunggakan pokok dan/atau bunga/denda dan ditatakerjakan dalam rekening terpisah. Penambahan fasilitas kredit/suplesi kredit dalam rangka restrukturisasi kredit harus didukung dengan agunan yang cukup. 6.Pengambilan asset debitur sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Pengertian asset debitur disini meliputi asset debitur baik yang dijaminkan maupun tidak dijaminkan atau yang dijaminkan kepada pihak ketiga. Pengelolaan dan/atau pengambilalihan asset debitur tersebut merupakan tindakan dalam rangka penyelamatan kredit secara aktif maupun pasif (pengawasan).
7.Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara bank pada perusahaan debitur yang merupakan perubahan objek perjanjian. Konversi kredit menjadi