طونم عيبلا نلأ يأ لوبقو باجيا نم عيبلا يف دبلا و ظفل نم هيلع لديامربتعاف يفخرما وهو ى ضرلاب
B. Bank Islam: Pengertian, Sejarah, Ciri, Produk, dan Permasalahannya
7. Kendala dan Prospek Perbankan Islam a. Kendala bank Islam
kewajiban. Oleh karena itu, setiap kontrak yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, maka prinsip keadilan sangat menentukan berlangsungnya kontrak tersebut.
Sebab keadilan tersebut mengandung makna yang multidimensional yang berintikan kebenaran.152
5) Asas Kejujuran dan Kebenaran (Ash-Shiddiq) Kejujuan adalah suatu nilai etika mendasar dalam Islam adalah nama lain dari kebenaran. Islam dengan tegas melarang kebohongan dan penipuan dalam bentuk apapun. Nilai kebohongan ini memberikan pengaruh pada pihak-pihak yang melakukan perjanjian untuk tidak berdusta.
7. Kendala dan Prospek Perbankan Islam
Itulah salah satu sebab lambannya pemahaman masyarakat terhadap sistem perbankan syariah, dan bahkan menyebabkan timbulnya persepsi-persepsi yang salah di kalangan masyarakat, termasuk kalangan perbankan, cendikiawan dan kalangan ulama Islam sendiri. Bila kinerja perbankan Syariah diukur berdasarkan parameter-parameter yang berlaku pada perbankan konvensional, maka mereka tidak merasa riskan untuk meninggalkan perbankan syariah dan memilih perbankan konvensional. Bahkan motivasi utama para nasabah penyimpan dana untuk memilih perbankan syariah pun sulit diketahui secara pasti.
Menurut Dawam Rahardjo, kelemahan Bank Syari’ah bisa dilihat dari tiga segi:
1) Besarnya keuntungan yang diterima nasabah atas tabungan mudlārabah dan deposito mudlārabah adalah tergantung dari tingkat keuntungan bank. Jika bank rugi, maka nasabah ikut menampung rugi. Jadi, uang nasabah ini menanggung resiko.
Pertanyaannya adalah siapa yang bersedia menaruh uangnya di Bank Syari’ah dengan kemungkinan menanggung rugi dan tidak pasti tingkat keuntungannya. Pada bank konvensional, dengan mengetahui tingkat bunga yang ditawarkan, calon nasabah bisa membanding-bandingkan dan akhirnya memilih salah satu di antara bank-bank yang menawarkan bunga terbaik. Terhadap bank
Syari’ah, seolah-olah calon depositor tidak punya alternatif dan menyerah kepada bank.153
2) Ketika bank syari’ah meminjamkan uangnya, sesuai dengan prinsip bagi hasil, baik hasil itu laba atau pun rugi, maka penerimaan keuntungan bank tergantung pada apakah debitur memperoleh keuntungan atau tidak.
Jika nasabah rugi, maka bank harus menanggung rugi. Jika nasabah melaporkan keuntungan yang kecil, atau rugi, maka keuntungan bank juga kecil atau merugi.
Karena itu, maka bank syari’ah harus hati-hati dalam memberikan kreditnya.
3) Kesulitan likuiditas. Bank konvensional, dalam menghadapi soal ini akan lari ke pasar uang. Namun bank syari’ah tidak bisa melakukannya, karena bank syari’ah tidak diperbolehkan untuk membayar bunga.
Demikian pula, jika kelebihan likuiditas, seperti halnya BMI pada awal berdirinya.
Kemana dana itu akan disimpan? Yang dilakukan BMI adalah menaruhnya ke dalam Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tindakan ini sebenarnya juga menyalahi prinsip syari’ah, sebab BMI tidak bisa menerima bunga.
Namun jika kebijaksanaan ini tidak ditempuh, maka dana pemegang saham yang disetor dan dana pihak ketiga belum punya pilihan lain, kecuali jika BI atau bank-bank lain memberikan fasilitas lain yang tidak
153M. Dawam Rahardjo, Islam dan Transformasi ..., 415-416.
bertentangan dengan prinsip syari’ah yang saat ini belum ada.154
Sementara, menurut Zainul Arifin, secara operasional perbankan syariah di Indonesia menghadapi kendala, di antaranya: kurangnya perangkat hukum; masalah sekuritisasi; dan masalah sumber daya insani. Penulis mengkategorikan kendala-kendala bank Syari’ah menjadi dua faktor, yaitu:
1) Faktor internal, berupa;
a) Masih minimnya sumber daya manusia (SDM) penyelenggaranya;
b) Permodalan.
c) Jumlah kantor cabang yang masih sedikit.
d) Keterbatasan likuiditas;
e) Birokrasi/manajemen perbankan Syari’ah yang masih terkesan berbelit-belit.
2) Faktor eksternal, berupa;
a) Persepsi dan kepercayaan masyarakat masih kurang, dan atau belum ada kesadaran masyarakat untuk menerapkan konsep-konsep syari’ah dalam kehidupan sehari-hari. Faktor ini disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang ekonomi Islam dan etika muamalat (bisnis) Islam.
b) Belum tersosialisasikannya konsep perbankan Syari’ah di kalangan umat Islam, sehingga bank Syari’ah kalah populer dibandingkan dengan bank konvensional;
154Ibid., 415-418.
c) Terkesan ekslusif; dan
d) Adanya sekelompok orang yang phobi terhadap konsep perbankan Islam.
Berkaitan dengan sosialisasi perbankan Syari’ah, di Jakarta saja yang masyarakatnya relatif lebih dekat dengan informasi ternyata hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Syari’ah Mandiri, bersama dengan lembaga Demografi Fakultas UI (LD-FEUI), bulan Juli-Agustus 1999 sebagai berikut: ”Yang pernah mendengar istilah Bank Syari’ah rata-rata 74 %, yang pernah mendengar istilah mudlārabah rata-rata 15 %, di antara yang pernah mendengar mudlārabah dan memahami maksud istilah itu rata-rata 14 %. Dengan demikian disimpulkan bahwa hanya 2,5 % masyarakat DKI Jakarta yang memahami istilah mudlārabah sebagai produk bank Syari’ah”.155
b. Prospek bank Islam
Bank Islam Indonesia merupakan salah satu aset umat Islam yang secara nyata dan simbolik harus dipertahankan sehingga langkah evaluatif kritis terhadap kekurangan dan keberhasilannya diharapkan mampu meningkatkan kinerja yang selama beberapa tahun mengalami peningkatan meskipun jauh dari harapan.
155Yuslam Fauzi, “Peranan, Peluang dan Tantangan Bank Syarî’ah Sebagai Salah Satu Lembaga Pemberdayaan Umat dalam Memasyarakatkan Ekonomi Syarî’ah”, Makalah dalam Seminar Nasional Ekonomi Islam dan Kongres KoKaSEI Se-Indonesia, di Semarang, 12 Mei 2000, 6.
Namun apabila manajemen bank tersebut mampu transparan dan sering mengadakan dialog dengan pihak-pihak yang lebih proporsional, keterbukaan peluang dan keterikatan kepada bank tersebut lebih terealisir.
Memang keterikatan sistem perbankan yang menyangkut sistem makro perbankan nasional, maka perbaikan dan revisi tidak mudah dilakukan. Hal ini menjadi keberatan masyarakat ketika bank Islam masih bertransaksi dengan bank konvensional.
Terlepas dari polemik di atas, bank Islam setidaknya telah menampakkan keunggulan komparatifnya yang tidak dimiliki bank lain.
Berlakunya bunga yang diterapkan bank-bank konvensional dalam memberikan kredit, secara kemanusiaan akan menekan dan memaksa para debitur untuk mengembalikan hutangnya, sementara bank Islam menggunakan transaksi bagi hasil yang dapat meringankan kreditur atau mitra kerjanya dalam menyelesaikan proyek yang digarapnya. Sebagian masyarakat Muslim sering dihadapkan pada masalah yang kadang membuat pengusaha lemah mengurungkan niatnya untuk berhubungan dengan BMI, agunan selalu dipersoalkan. Dalam hal ini Dirut BMI menegaskan bahwa agunan tidak mutlak, ada toleransi asalkan ada jaminan dari tokoh atau pemuka masyarakat. Adapun BMI menerapkan agunan itu hanyalah sebagai pengganti amanah yang dilimpahkan para investor. Perbedaannya dengan bank konvensional bahwa jaminan
merupakan jalan kedua yang siap disita jika jalan pertama (kewajiban cicilan sampai lunas) tidak bisa jalan.
Di samping itu, jumlah umat Islam yang mayoritas diharapkan dapat mendukung eksistensinya dan menjadi mitra bertransaksi yang dapat diandalkan, dukungan dapat diraih dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan meningkatkan kwalitas pelayanan yang propesional dan memuaskan, di samping dukungan dari lembaga keuangan Islam dunia, semisal IDB.