طونم عيبلا نلأ يأ لوبقو باجيا نم عيبلا يف دبلا و ظفل نم هيلع لديامربتعاف يفخرما وهو ى ضرلاب
B. Bank Islam: Pengertian, Sejarah, Ciri, Produk, dan Permasalahannya
1. Pengertian dan Sejarah Perkembangan Bank Islam
konvensional, maka sangat wajar jika dalam kebijakan umum operasionalnya mengikuti bank konvensional. Namun dalam kebijakan khusus seperti penerapan produk-produknya, tentu jauh berbeda dengan bank konvensional. Adapun kalau ada kekurangan, hal itu tidak lebih disebabkan karena bank Islam masih dalam proses menuju kesempurnaan.
B. Bank Islam: Pengertian, Sejarah, Ciri, Produk, dan
Bank Umum Syariah, Unit Usaha Syariah, dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).82
Karnaen Perwataatmada dan Muhammad Syafi’I Antonio, juga memberikan definisi bank Islam yaitu, bank yang beroprasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, yakni bank yang dalam beroprasinya mengikuti ketentuan-ketentuan Islam khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam. Dalam tatacara bermuamalah itu dijauhi praktik-praktik yang mengkhawatirkan mengandung unsur-unsur riba, untuk diisi dengan kegiatan dengan sistem bagi hasil.83
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah mendefinisikan Perbankan Syariah sebagai segala sesuatu yang menyangkut bank syariah dan unit usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Lebih lanjut dengan penerbitan undang-undang yang bersifat lex specialis ini diharapkan bank syariah mampu mewujudkan fungsinya sebagai salah satu penyokong perekonomian nasional.
Denan demikian, Bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Definis lain, bank Islam adalah bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Hadis. Yang dimaksud
82Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Gerup, 2009), 106.
83Karnaen Perwataatmaja dan Muhammad Syafi’I Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: Dhana Bhakti wakaf, 1992), 1-2.
dengan prinsip-prinsip syari’ah di sini adalah ketentuan-ketentuan syari’ah Islam khususnya yang menyangkut tata-cara bermuamalat secara Islam.
Dalam tata-cara bermuamalat itu dijauhi praktek-praktek yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba untuk diisi dengan kegiatan investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan.
Kemudian yang dimaksud bank yang dalam operasionalnya mengacu kepada al-Qur’an Hadis adalah bank yang operasionalnya mengikuti suruhan dan larangan yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadis. Di antara larangan tersebut adalah dengan menjauhi praktek-praktek yang mengandung unsur riba, sedangkan yang diikuti adalah praktek-praktek usaha yang dilakukan di zaman Rasulullah atau bentuk-bentuk usaha yang telah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang oleh beliau.84
Sementara M. Zuhri mengemukakan bahwa bank Islam adalah bank yang didirikan oleh kaum Muslimin yang tata cara bermu’amalahnya secara Islam, dengan ciri khas tanpa bunga atau sering disebut bank bagi hasil.85
Untuk menjamin operasi bank syari’ah tidak menyimpang dari tuntutan syari’ah, maka pada setiap bank Islam hanya diangkat manager dan pimpinan bank yang sedikit banyak menguasai prinsip muamalah Islam. Selain itu, di bank ini dibentuk Dewan Pengawas Syari’ah yang bertugas
84H. Karnaen Perwataatmaja dan H. M. Syafii Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1992), 1-2
85M. Zuhri, Riba dalam Al-Qur’an dan Masalah Perbankan (Jakarta: Rajawali Press, 1996), 155.
mengawasi operasional bank dari sudut syari’ahnya.86
Sebenarnya, jika ditelaah pada masa Nabi Muhammad saw. Maka aktifitas perbankan telah dimulai walaupun tidak dapat dikatakan sama persis seperti kegiatan perbankan masa kini. Ragam aktifitas mudlārabah telah dikenal sejak awal Islam, seperti aktifitas pengiriman uang sebagaimana kisah Ibn Abbas mengirim uang ke Kufah. Kisah Abdullah Ibn Zubair mengirim uang ke Iraq. Aktivitas pemakaian cek pernah dilakukan Umar yang mengimport barang dalam jumlah yang besar dari Mesir ke Madinah, dan untuk mempercepat distribusi barang-barang tersebut kepada penduduk Madinah, maka Umar mengeluarkan cek untuk penduduk Madinah.87
Sejarah perbankan Islam di dunia modern pada dasarnya secara teoritis muncul pada awal tahun 1940-an. Namun untuk mendirikan bank Islam belum terealisasi karena kondisi pada saat itu belum memungkinkan. Selain itu, belum adanya pemikiran tentang bank Islam yang meyakinkan. Menurut Abdullah Saeed, bank Islam dikenal secara luas di dunia Islam, maupun di Barat adalah pada pertengahan tahun 1970-an. Bank Islam, katanya, telah didirikan bank Islam tidak hanya di negara-negara yang mayoritas pemeluknya beragama Islam, seperti: Mesir, Yordania, Sudan, Bahrain, Kuwait,
86H. Karnaen Perwataatmaja dan H. M. Syafii Antonio, Bank Islam dari...,
87 Zainul Arifin, Memahami Bank Syari’ah: Peluang, Tantangan dan Prospek (Jakarta: Alvabet, 1999), 11.
Uni Emirat Arab, Tunisia, Mauritania dan Malaysia.
Bahkan juga di negara-negara yang minoritas muslimnya, seperti: di Inggris Raya, Denmark, dan Filipina.88
Perkembangan bank Islam modern diawali dengan berdirinya Mit Gramr Local Saving Bank di Mesir. Selain itu, pada tahun 1972, sistem bank tanpa riba diperkenalkan lagi di Mesir dengan berdirinya Nasser Social Bank.89 Perlu dicermati bahwa lahirnya gagasan tentang perlunya suatu lembaga keuangan alternatif yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariat Islam berawal dari pemikiran ulama dan pakar ekonomi Organisasi Konferensi Islam (OKI). OKI sendiri dibentuk di awal tahun 1970-an yang diprakarsai oleh Raja Faisal dari Arab Saudi, yang menyarankan tiap negara Islam agar mendirikan bank Islam. Dalam perkembangannya IDB membantu berbagai bank Islam di seluruh dunia. Hal ini dilakukan IDB untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan bagi negara-negara anggota dan masyarakat Islam secara umum.
Sementara untuk konteks Indonesia, ide pendirian bank Islam bermula dari lokakarya mengenai “Bunga Bank dan Perbankan” yang diselenggarakan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI) di Cisarua tanggal 18-20 Agustus 1990. Gagasan ini kemudian dipertegas lagi dalam musyawarah Nasional (MUNAS) IV MUI di Hotel Syahid Jaya,
88Abdullah Saeed, Islamic Banking and Ineterest (Leiden: E.J.
Brill, 1996), 1.
89Zainul Arifin, Memahami Bank Syari’ah...
Jakarta pada tanggal 22-25 Agustus 1990. Atas amanat MUNAS MUI inilah langkah pertama untuk mendirikan bank syari’ah di Indonesia dimulai.90
Dukungan umat Islam terhadap berdirinya BMI sangat antusias, hal ini dibuktikan dengan kerja keras tim MUI selama 1 tahun sejak gagasan berdirinya, BMI dapat dibentuk. Sehingga buah dari kerja keras tersebut terealisir dengan ditandatanganinya akta pendirian BMI di Hotel Sahid Jaya berdasarkan akte notaris No. 1 tanggal 1 November 1991 denagn izin Menteri Kehakiman No. C2-2413. HT01 tanggal 21 Maret 1992/Berita Negara RI tanggal 28 April 1992 No.34. Surat menteri Keuangan RI No.1223/MK.013/1991 tanggal 1 Mei 1992, BMI mulai beroperasi (soft opening). Pada tanggal 15 Mei 1992, dalam Grand Opening yang dilakukan dengan penandatanganan prasasti oleh wakil Presiden RI waktu itu Soedharmono, SH.91
Sejak tahun 1992, Indonesia telah memiliki BMI sebagai bank syari’ah pertama yang terus berkembang menjadi beberapa cabang di berbagai daerah Indonesia, kemudian disusul dengan berdirinya Bank Syari’ah Mandiri (BSM) sebagai bank syari’ah kedua. Selain yang disebut di atas, di Indonesia berkembang pula BPRS, seperti BPRS Amal Sejahtera, Dana Mardhātillah, Amanah Rabbāniyyah dan lain-lain.
90Sofyan Syafri Harahap, Akuntansi Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), 108.
91Ibid., 109.
2. Kedudukan Perbankan Syariah Pada Berbagai