% Nilai Pendidikan
4) Kendali diri
Karakter kendali diri adalah sikap manusia dalam mengontrol diri mereka dalam semua hal dari segi keinginan atau kebutuhan. Sikap ini dapat dimiliki oleh seorang manusia ketika dirinya menyadari sebab dan akibatnya. Sikap kendali diri di dalam folklor Kabupaten Bantul dapat dilihat dari data berikut.
Dengan mata terpejam dan tentu saja konsentrasi penuh seperti sedang bersemedi dia melihat penderitaan para petani yang sedang mengalami kekeringan di daerah kekuasaanya (LSN, 21) Kutipan di atas merupakan sikap kendali diri yang ditunjukkan oleh tokoh ketika melihat sesuatu yang tidak ia inginkan yakni melihat rakyatnya mengalami kekeringan. Melihat rakyat menderita karena mengalami bencana kekeringan, ia mencoba untuk mengendalikan pikiran dan diri dengan memejamkan mata sekaligus bersemedi untuk mencari jalan keluar. Ketika ia tidak mampu mengendalikan diri dengan baik maka keputusan yang ia ambil atau jalan keluar yang ia ambil tidak akan baik.
5) Kasih
Sikap kasih merupakan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan berasal dari perasaan manusia. Sikap kasih ini adalah memberikan sesuatu yang terbaik menurut diri setiap individu. Sebab dari rasa kasih yang ada dalam diri manusia pasti terdapat rasa kepemilikan dan
menyayangi. Sikap kasih ini bisa ditujukan untuk sesama makhluk hidup maupun kepada Tuhan. Berikut ini data yang menunjukkan sikap kasih dalam folklor di Kabupaten Bantul.
Setelah sembuh lukanya Gusti Pinekti minta izin pamit untuk meneruskan perjalanan mencari ayahandanya dan saudara-saudaranya (LGP, 6)
Kutipan cerita di atas menunjukkan sikap kasih yang dilakukan oleh Gusti Pinekti. Sikap kasih tersebut ia tunjukkan kepada keluarganya, walaupun masih dalam keadaan proses penyembuhan sakitnya Gusti Pinekti tetap memikirkan keadaan ayah dan saudaranya. Begitu besar keinginannya untuk segera sembuh dan melanjutkan pencarian ayah dan saudaranya.
"Bagaimana bisa aku makan enak Nyai! Sementara rakyatku sedang kesusahan. Padi yang sebentar lagi dipanen sudah rusak akibat kekeringan. Jangankan untuk makan, untuk minum saja mereka kesusahan. Apa yang bisa kulakukan untuk rakyatku?
aku merasa gagal menjadi pemimpin Nyai" ungkap Ki Ageng Mangir (LSN, 21)
Ungkapan di atas menunjukkan sikap kasih yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin kepada rakyatnya. Hal tersebut dibuktikan ketika Ki Ageng Mangir ikut merasakan kesedihan yang mendalam karena keadaan rakyatnya yang sedang dalam keadaan sulit air.
Kejadian tersebut sampai membuat Ki Ageng Mangir tidak enak makan. Sikap kasih yang dimiliki oleh Ki Ageng Mangir membuktikan bahwa di dalam dirinya mempunyai sikap-sikap positif lainnya.
"yang sabar mas, beristirahatlah dahulu. Mungkin kamu bisa lebih baik. Aku akan siapkan makanan dulu, agar nanti jika kamu sudah bangun kamu bisa segera makan," jawab sang istri (AUBM, 26)
Kutipan di atas menjelaskan tentang sikap kasih yang ditunjukkan antara seorang istri dengan suaminya. Sikap kasih berupa
perhatian kepada suaminya pada kalimat di atas bertujuan untuk menenangkan keadaan suaminya. Selain itu bukti kasih pada kalimat di atas dengan tindakan menyiapkan makanan untuk suaminya.
“bagaimana bisa aku menerima rangkaian melati dirambutku, sementara semerbak harum bunga kenanga masih menempel erat di hidungku? Bagaimana mungkin aku bisa tidur di ranjang mewah sementara kubur suamiku belum kering oleh matahari sedikitpun?” sambung Retno Gumilang (KRM. 10)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa rasa kasih yang dimiliki Retno Gumilang begitu dalam ketika suaminya meninggal ia merasa sedih hingga ia mengutarakan kesedihannya dengan melihat makam suaminya yang belum kering tapi ia sudah bisa tidur di tempat yang mewah. Bukan perasaan bahagia yang ia dapatkan malah sebaliknya.
Hal ini menunjukkan bahwa sikap Retno Gumilang begitu tulus dan baik hatinya kepada suaminya.
6) Ketabahan
Karakter ketabahan adalah sebuah sikap manusia yang berasal dari kekuatan hati seorang individu dalam menghadapi cobaan atau kesulitan. Sikap tabah ini diiringi oleh keikhlasan. Kutipan berikut yang menunjukkan ketabahan.
Dan akhirnya Sang Prabu Kertabumi nglegoke (ikhlas). Di tengah keterpurukan itu, Sang Prabu Kertabumi akhirnya mengganti nama menjadi Gusti Pinesti untuk nyamudono (menyamar) (LGP, 4)
Kutipan di atas menunjukkan sikap tabah Sang Prabu Kertabumi ketika menghadapi sebuah keterpurukan yang sedang dialaminya.
Perasaan ikhlas yang harus ia ciptakan dari dalam dirinya mengharuskan dirinya belajar tabah disertai berlapang dada menerima semua takdir. Bukti ketabahan itu akhirnya ia mengganti nama menjadi Gusti Pinekti sebagai nama samaran.
"yang sabar mas, beristirahatlah dahulu. Mungkin kamu bisa lebih baik. Aku akan siapkan makanan dulu, agar nanti jika kamu sudah bangun kamu bisa segera makan," jawab sang istri (AUBM, 26)
Sikap tabah pada kutipan di atas diungkapkan istri bekel Atmorejo yang berusaha membuat suaminya tenang dan terus bersabar dengan penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Selain itu, istri dari bekel Atmorejo mencoba memperlakukan suaminya dengan baik seperti menyiapkan makanan agar suaminya bisa lebih sabar dan tabah.
7) Keadilan
Sikap adil dalam penelitian ini lebih banyak berkaitan dengan sesama manusia, walaupun memang ada wujud keadilan seorang hamba dengan Tuhan ataupun urusan duniawi. Perlakuan adil yakni seimbangnya antara hak dan kewajiban seseorang. Keadilan juga mempunyai makna bahwa menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kapasitasnya menggunakan tindakan yang subjektif. Seperti data berikut ini yang membuktikan bahwa sikap keadilan ada di dalam folklor Kabupaten Bantul.
Namun, karena keduanya merupakan orang yang bijak dan sesuai dengan wahyu yang baru saja didapatkan melalui Kyai Juwo maka keduanya sepakat membagi sendang tersebut menjadi 2 bagian (LSN, 23)
...
Sesampainya di tengah sendang Ki Ageng Mangir menancapkan patok sebagai tanda pembagian wilayah. Sebelah selatan menjadi bagian milik Mangir dan bagian utara menjadi milik Mataram (LSN, 24)
Kutipan di atas merupakan sikap adil yang ditunjukkan oleh Kyai Jalumampang dengan Ki Ageng Mangir. Keduanya sama-sama merasa menemukan mata air yang bernama Sendang Nggembel.
Namun, karena mereka mempunyai jiwa yang besar dan menyadari
bahwa keadilan itu lebih penting untuk kepentingan rakyatnya.
Akhirnya keduanya saling setuju untuk membagi sendang tersebut menjadi dua bagian agar semua masyarakat di daerah tersebut tidak mengalami kekeringan lagi.