37 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian sastra yang menganalisis data berupa dokumen dengan objek kajian folklor di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten ini mempunyai selogan
“Projotamansari” singkatan dari singkatan dari produktif, profesional, ijo royo-royo, tertib, aman, sehat, dan asri. Daerah ini juga terkenal sebagai kota perjuangan sekaligus awal perjuangan sejarah di Yogyakarta.
Penelitian ini dilakukan bertempat di Kabupaten Bantul. Folklor dalam penelitian ini berasal dari ucapan masyarakat dari generasi ke generasi.
Karena folklor merupakan sastra lisan dan penyebarannya pun secara lisan. Kelemahan penyebaran secara lisan yakni isi dari folklor mempunyai beberapa versi. Folklor di Kabupaten Bantul ini bersumber dari juru kunci dan orang benar-benar paham tentang folklor di daerah itu.
Setiap folklor yang diungkapkan pasti ada penambahan dan pengurangan karena daya tangkap yang informan miliki berbeda-beda. Namun, untuk mendapatkan data tetap dicari yang menginformasikan cerita dengan valid.
Hasil penelitian melalui wawancara kepada informan untuk memperoleh informasi tentang sejumlah folklor yang ada di Kabupaten Bantul. Folklore di Kabupaten Bantul memang hampir sama dengan daerah lain. Namun, isi folklor itu tentunya berbeda, beberapa cerita berhubungan dengan laut selatan. Hal tersebut menjadi ciri khas karena kawasan Bantul merupakan daerah yang terletak didekat Pantai Selatan.
Penyebarannya pun sama-sama hanya dari mulut ke mulut masyarakat setepat. Setiap folklor mempunyai nilai-nilai kehidupan tersendiri, bisa dilihat dari perilaku tokoh dan gambaran kisah di dalam masing-masing ceritanya.
Sikap hormat, rasa cinta dan mempunyai sikap apresiasi kepada leluhur dapat diperoleh dari mengetahui kisah-kisah dalam folklor. Sebab di dalam folklor para leluhur atau nenek moyang mewariskan banyak hal mengenai nilai-nilai kehidupan seperti kebijaksanaan, kerendahan hati, kerja keras dan lain-lain selain itu ada berbagai wujud budaya berupa ide- ide, aktivitas maupuan hasil dari setiap folklor. Nilai yang ada dalam folklor ini sering kali digunakan orang tua untuk menjadi bahan cerita kepada anak cucu sebagai penghibur atau cerminan kehidupan. Hal ini sebagai salah satu cara pembekalan pendidikan karakter, moral sekaligus pembentukan watak dan sifat seseorang.
Folklor Kabupaten Bantul yang diperoleh dari penelitian ini terdiri dari Asal Usul Bukit Panguk, Legenda Gua Payaman, Sendang Nggembel, Asal Usul Bakda Mangiran, Kisah Ratu Malang dan Asal Usul Pantai Pandan Simo. Folklor tersebut dikaji khusus pada aspek wujud budaya yang terdiri dari kompleksitas ide, kompleksitas akivitas kompleksitas hasil, dan nilai pendidikan karakternya dengan menggunakan pendekatan antropologi sastra, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah dalam pembelajaran sastra di SMA maupun SMP.
1. Kompleksitas Ide dalam Folklor di Kabupaten Bantul
Kompleksitas ide ini berasal dari kognitif individu manusia, ide ini berupa rancangan yang sudah tersusun dalam pikiran manusia untuk melakukan sesuatu. Wujud budaya kompleksitas ide dalam penelitian ini dibagi menjadi enam bagian yakni (1) kompleksitas ide manusia dengan Tuhan yakni berhubungan dengan keagamaan ataupun kepercayaan, (2) kompleksitas manusia tentang kehidupan manusia seperti takdir, sikap manusia, baik dan buruk dalam kehidupan, dan suatu hal yang tidak abadi dalam kehidupan, (3) Kompleksitas ide tentang hakikat karya manusia seperti kesenian, materi kedudukan, keahlian, hasil cipta, karya untuk nafkah hidup dsb, (4) Kompleksitas Ide tentang ruang dan waktu seperti
masa depan, masa kini dan masa lalu, dan (5) Kompleksitas Ide manusia dengan sesamanya seperti, makhluk lain, harmoni dengan lingkungan, kedudukan atau pangkat dan solidaritas. Berdasarkan data temuan kompleksitas ide dalam folklor di Kabupaten Bantul di bawah ini akan dibahas secara rinci deskripsi kompleksitas ide dalam folkor di Kabupaten Bantul. Berikut presentase data temuan wujud kebudayaan yang terdapat dalam folklor di Kabupaten Bantul, rumus yang dipergunakan adalah:
∑ ∑
Tabel 4.3. Persentase Kompleksitas Ide dalam Folklor di Kabupaten Bantul
Wujud Kebudayaan
Aspek Wujud kebudayaan
Jumlah Persentase
% Kompleksitas
Ide
HH (Hakikat Hidup) 21 36,21%
HK (Hakikat Karya) 6 10,35%
HMRK (Hakikat Manusia dengan Ruang dan Waktu
12 20,68%
HMS (Manusia dengan Sesama)
8 13,79%
HMT (Manusia dengan Tuhan)
11 18,97%
Total 58 100 %
Berdasarkan klasifikasi kompleksitas ide di atas dinyatakan bahwa kompleksitas ide yang terdapat dalam foklor di Kabupaten Bantul ini secara rinci akan dideskripsikan sebagai berikut.
a. Kompleksitas Ide Manusia dengan Tuhan
Hakikat manusia dengan Tuhan adalah sebuah hakikat yang berasal dari kepercayaan masing-masing manusia. Kepercayaan yang dimulai dan dianut dari nenek moyang seperti dinamisme, animisme sampai kelima agama islam, budha, kristen, katolik dan hindu. Di bawah ini deskripsi dari temuan data yang menunjukkan kompleksitas ide hakikat manusia dengan Tuhan.
Pada waktu Raden Patah memohon kepada ayahandanya ingin membuat masjid dilingkungan Keraton Majapahit.
Selain itu ia juga menginginkan agar ayahanda berganti keyakinan (agama) menjadi agama islam (LGP. KI. HMT : 3)
Bagian cerita di atas tampak adanya sebuah keinginan diungkapkan oleh Raden Patah agar ayahnya memeluk agama islam. Ia menginginkan mengawali hal tersebut dengan membangun sebuah masjid sebagai tempat beribadah umat islam.
Hal ini menjelaskan bahwa di dalam folklor Legenda Gua Payaman terdapat kompleksitas ide hakikat manusia dengan Tuhan.
Akan tetapi, Raden Patah tidak sabar ingin segera mewujudkan cita-citanya yaitu mengislamkan masyarakat tanah Jawa (LGP. KI. HMT : 3)
Pada bagian cerita di atas menggambarkan tentang wujud budaya kompleksitas ide hakikat manusia kepada Tuhan. Raden Patah dengan keinginan dan tekadnya ingin dengan segera mewujudkan cita-cita yang sudah dia pikirkan yaitu mengislamkan seluruh masyarakat di tanah Jawa. Keinginan ini sebagai ide yang berasal dari pandangan Raden Patah bahwa agama yang dia percaya harus dianut oleh seluruh masyarakatnya. Hal ini sebagai bukti kedekatannya kepada Tuhan.
"bu, karena doa dan keinginanku sudah terkabul. Maka aku ingin mengadakan slametan, syukuran sembari berdoa di makam Ki Ageng Mangiran. Aku akan mengundang banyak orang, mengadakan sholawat juga" ujar Lurah Atmorejo penuh semangat (AUBM. KI. HMT: 29)
Kalimat di atas menunjukkan pandangan mensyukuri sebuah nikmat yang diberikan. Lurah Atmorejo berdoa dimakam Ki Ageng Mangiran, cara tersebut masih digunakan orang-orang terdahulu untuk berdoa karena memang kepercayaan pada leluhur masih kental, kepercayaan ini biasanya disebut dengan dinamisme.
Kepercayaan orang-orang terdahulu memang sangat kental dengan
adat istiadat yang ada di sekitar mereka. Kegiatan tersebut sebagai bukti kompleksitas ide hakikat manusia dengan kepercayaannya.
b. Kompleksitas Ide Manusia tentang Kehidupan
Hakikat hidup manusia merupakan dasar menjalani kehidupan berupa memaknai kehidupan mempercayai takdir maupun menjalani takdir, menyikap segala hal yang tentang kehidupan yang berhubungan diri manusia itu sendiri. Hakikat hidup manusia juga berhubungan dengan pandangan negatif maupun positif. Pandangan hidup yang baik akan menimbulkan sifat positif dalam diri manusia. Begitupula sebaliknya pandangan yang negatif akan mendatangkan sifat negatif dalam diri seseorang.
Manfaat mempunyai pandangan poitif dalam setiap hal akan memberikan ketenangan dalam hidup dan menghindarakan dari rasa stres. Berikut kutipan-kutipan yang menunjukkan hakikat hidup manusia.
Setelah mendengar Lugender mampu naik ke atas bukit ia langsung bertapa untuk mendapatkan petunjuk agar dipertemukan dengan Lugender, setelah bertapa ia dianjurkan untuk membasuh muka agar terlihat segar dan tampak muda. Di tepi bukit itu Dewi Dinar sangat bingung mencari air untuk membasuh mukanya, sembari menyusuri pinggiran bukit ia menemukan sebuah tanaman serut akhirnya ia mencabut tanaman tersebut dan ternyata mengeluarkan air jernih yang bernama pancuran manik (AUBP. KI. HH : 1)
Bagian cerita di atas mengindikasikan adanya pandangan ketika mendapatkan petunjuk tentang sesuatu yang diinginkan.
Maka hakikatnya yang ada pada diri manusia akan mencari berbagai macam cara untuk meraihnya. Seperti yang dilakukan oleh Dewi Dinar dalam keadaan kebingungan saat ingin bertemu dengan seseorang yang dia kagumi. Dewi Dinar bertapa untuk mengubah dirinya menjadi seseorang yang tampak kembali muda.
Hakikat menjadi lebih baik dari sebelumnya memang sudah
dimiliki orang setiap individu. Dewi Dinar mempercayai dengan mencari petunjuk yakni bertapa dapat memberikannya petunjuk karena Tuhan akan menolongnya.
"Sinuwun, sampai kapan akan duduk diam di sini? Tidak seharusnya seorang Sunan Amangkurat I menyimpan kharismanya di balai yang tertutup oleh benteng tebal begini. Mintalah aku melakukan sesuatu apapun itu untuk membuat Sinuwun kembali bersemangat" kata salah seorang selir Sunan Amangkurat I sambil menghaturkan sembah. Apapun?" tanya Sunan Amangkurat I. "ya, apapun asalkan Sinuwun tidak sedih lagi. Bagiku, kehendak dan keinginan Sinuwun bahkan lebih penting daripada kepentinganku" kata sang selir (KRM. KI. HH : 8)
Kalimat tersebut memaparkan bahwa hakikat manusia ketika melihat sebuah kesedihan menimpa seseorang yang mempunyai kedekatan dengannya pasti akan muncul rasa simpati untuk menghibur dan membantu. Hakikat manusia tersebut dapat juga dikatakan sebagai hakikat simpati manusia dengan sesamanya.
Hal itu muncul adanya hakikat manusia karen rasa iba terhadap sesamanya muncul. Dalam kutipan di atas seorang selir menginginkan suaminya (Sunan Amangkurat I) untuk kembali bahagia, dengan cara apapun dan akhirnya sang selir melaksanakan apa yang diminta oleh Amangkurat walaupun seuatu yang diminta sangat merugikan orang lain.
Seperti sudah direncanakan, kuburan-kuburan sudah digali sesuai jumlah orang yang mati. Namun Retno Gumilang tetap belum menyadari akan pembunuhan berantai yang menimpa suaminya. Di atas gundukan tanah kubur suaminya dia terus menangis. Matahari mulai merambat ke barat. Retno Gumilang oleh Sunan Amangkurat I dipapah menuju kereta dan dibawa ke istana (KRM. KI. HH : 9) Pada bagian cerita di atas terlihat adanya kompleksitas ide hakikat hidup manusia. Ditunjukkan dalam kutipan di atas Retno Gumilang sebagai istri yang ditinggalkan suaminya untuk selamanya merasa amat sangat kehilangan dan terpukul. Sampai
dia harus dipapah menuju istana menggunakan kereta. Hakikat mempunyai rasa cinta yang dimiliki oleh seorang manusia khususnya antara istri kepada suaminya begitupula sebaliknya.
Pada dasarnya rasa cinta dan kasih memang selalu ada dalam diri setiap individu karena manusia diciptakan untuk saling menyayangi. Seseorang yang sudah merasakan saling memiliki pada dasarnya akan sulit untuk dipisahkan. Hakikat mempunyai rasa kepemilikan yang tinggi sudah dimiliki Retno Gumilang kepada suaminya.
"Nyi, kekeringan sedang melanda desa, semua sawah mulai kekeringan, apa tidak lebih baik kita mengalirkan air dari sendang ini ke sawah-sawah warga?" tanya Kyai Jalumampamg (LSN. KI. HH : 20)
Kalimat di atas menjelaskan bahwa Kyai Jalumampang sebagai seorang pemimpin sedang mencari jalan keluar untuk permasalahan di daerahnya karena kekeringan. Sikap tanggungjawab sebagai pemimpin dan rasa ingin menolong ada dalam dirinya. Hal tersebut merupakan salah satu hakikat hidup manusia ketika melihat sekelilingnya membutuhkan bantuan terutama seorang pemimpin disuatu daerah. Ketika terjadi musibah pasti keinginan untuk membantu sesamanya akan muncul. Hakikat hidup kepedulian antar sesama seperti tolong menolong sesama harus dimiliki oleh seseorang.
"bapak selama ini sudah menjadi bekel yang baik dan tegas.
Bapak sudah berusaha sebaik mungkin, sudah berdoa.
Maka sekarang saatnya berpasrah" lanjut istri Bekel Atmorejo sambil menyodorkan ketela kepadanya (AUBM.
KI. HH : 29)
Setiap perjalanan kehidupan manusia pasti diiringi dengan doa dan usaha dalam setiap rangkaiannya. Dalam kutipan folklor di atas setelah Bekel Atmorejo sudah berusaha keras dalam kepemimpinannya beliau juga sudah berdoa yang dilakukan paling
terakhir adalah pasrah kepada Tuhan. Hal tersebut merupakan sebuah hakikat hidup manusia dalam segala urusan memang harus berjuang keras, berdoa dan berpasrah. Tanpa adanya usaha yang keras manusia tidak akan memahami artinya berjuang, tanpa berdoa dan berpasrah manusia tidak akan memahami pentingnya Tuhan.
c. Kompleksitas Ide tentang Hasil Karya Manusia
Hakikat karya dalam kompleksitas ide yakni pemikiran tentang seni yang masih ada diangan-angan manusia, menciptakan sesuatu yang berawal dari ide atau pikiran manusia sekaligus keahlian-keahlian khusus yang berasal dari pikiran manusia itu sendiri. Berikut data dalam folklor di Kabupaten Bantul yang termasuk kompleksitas ide hakikat karya.
"Tidak apa-apa Mbah. Saya titipkan tempat sakral ini pada Simbah. Bangunlah dan jaga tempat ini" kata Raden Mas Murtejo. Oleh karena banyak orang yang berdatangan, tempat bermeditasi ditambah lagi di sebelah barat Pandan Simo yang kemudian dinamai Pandan Payung (karena di sana ada pandan yang mirip payung) dan Pandan Sari (AUPPS. KI. HK : 17)
Kalimat di atas menggambarkan tentang pemikiran yang berasal dari ide Raden Mas Murtejo setelah ia melakukan meditasi lalu mendapatkan sebuah petunjuk yang dia simpulkan sendiri menghasilkan sebuah nama tempat yakni Pandan Sari hal tersebut merupakan karya. Tempat tersebut mempunyai filosofi karena banyak sekali tanaman pandan berbentuk melengkung mirip dengan payung. Hakikat penciptaan dari kutipan di atas menghasilkan sebuah karya. Hakikat karya ini berasal dari pikiran manusia itu sendiri. Karya tersebut berupa tempat wisata.
d. Komplesitas Ide Manusia tentang Ruang dan Waktu
Kajian kompleksitas ide yang berhubungan dengan ruang dan waktu dalam folklor di Kabupaten Bantul hal ini juga dilihat dari kehidupan setiap tokoh dalam cerita. Pandangan manusia dalam hal ini berorientasi pada masa depan, masa sekarang dan masa yang sudah lalu. Ketiga masa tersebut mempunyai kepentingan yakni masa depan sebagai tujuan, masa sekarang untuk berusaha dan masa lalu sebagai pembelajaran. Setiap masa mempunyai pembagiannya masing-masing untuk diusahakan segala sesuatunya. Karena setiap masa memiliki pembelajaran dalam kehidupan. Berikut temuan yang membuktikan adanya kompleksitas ide pandangan manusia dengan ruang dan waktu.
Zaman dahulu ketika ada keperluan (orang sakit dan mencari kebutuhan dan lain-lain) ke daerah seberang mereka melihat situasi dan kondisi dari atas dengan cara anguk-anguk (menengok ke bawah) (AUBP. KI. HMS.
HMRK : 2)
Kalimat di atas terdapat dalam folklor berjudul Asal Usul Bukit Panguk terlihat bahwa kutipan tersebut terjadi diwaktu lampau. Pandangan manusia dari kutipan tersebut bahwa zaman dahulu memang ada sebuah bukit yang digunakan sebagai tempat untuk melihat keadaan di daerah lain. Hal ini sebagai bukti tentang kepentingan bukit bagi manusia di masa lampau. Manfaat dari bukit tersebut tidak hanya dimasa lalu karena sampai sekarang bukit tersebut masih digunakan sebagai tempat wisata. Oleh sebab itu ini ada hubungannya dengan hakikat manusia dengan waktu yang mempunyai pembelajaran tentang pentingnya menjaga alam sekitar.
e. Kompleksitas Ide Manusia dengan Sesamanya
Kajian selanjutnya adalah kompleksitas ide tentang pandangan manusia dengan sesamanya seperti kepada sesama
manusia, serta makhluk hidup lainnya dan pernyataan rasa dengan alam atau makhluk hidup lainnya. Berikut ini deskripsi tentang kompleksitas ide seorang manusia dengan sesamanya di dalam folklor di Kabupaten Bantul.
Dalam waktu yang bersamaan Demak melalui pemikiran para wali yang dipercaya (Sunan Giri dan Sunan Kalijaga) membuat siasat perangnya agar tidak terjadi banyak korban jiwa. Sunan Giri menemui senopati Adipati Terung untuk bergabung ke Demak daripada terjadi perang saudara terus menerus. Sedangkan Sunan Kalijaga menemui adik ipar Mpu Sopa Anom untuk bergabung dengan Demak, melalui cara yang halus jangan sampai sang prabu mengetahuinya.
Karena Mpu Sopa Anom adalah kepercayaan sang prabu (LGP. KI. HMS : 3)
Kalimat di atas menggambarkan hakikat hubungan manusia kepada sesama harus saling berusaha menciptakan kedamaian.
Untuk mewujudkan kedamaiaan tersebut tentunya ada cara-cara tertentu. Seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga ketika membujuk senopati Adipati Terung untuk membantu menyudahi perang saudara yang terjadi saat itu. Penggunaan cara yang halus tanpa adanya kekerasan ini merupakan sebuah kunci atau hakikat sesama makhluk hidup untuk melakukan sesuatu. Begitupula sebaliknya dengan cara kekerasan orang lain akan sulit untuk menerima sesuatu yang kita inginkan.
Sampai sekarang pancuran air tersebut sudah didatangi beberapa orang yang konon katanya airnya lebih jernih dari air mineral kemasan. Selanjutnya nasib Gajah Seti sudah tertinggal di tengah jalan dan menyerah, tidak terdengar lagi (AUBP. KI. HMS : 2)
Kutipan di atas menunjukkan sebuah pemikiran tentang hasil alam yaitu sumber air yang ada di area bukit tersebut sangat jernih dibandingkan air mineral kemasan. Hal tersebut membuktikan bahwa kompleksitas ide hakikat seorang manusia dengan sesama ada dalam kutipan tersebut.
2. Kompleksitas Aktivitas dalam Folklor di Kabupaten Bantul Wujud budaya yang kedua yakni kompleksitas aktivitas tokoh maupuan penggambaran tokoh dalam folklor. Pada folklor di Kabupaten Bantul ditemukan data-data yang berhubungan dengan beberapa aktivitas seperti (1) kompleksitas aktivitas folklor yang berhubungan dengan kekerabatan, (2) kompleksitas aktivitas isi folklor dengan perekonomian, (3) kompleksitas Aktivitas Isi folklor dengan keestetikaannya atau perilaku keindahan sekitar, (4) kompleksitas aktivitas isi folklor dengan religi, (5) kompleksitas aktivitas isi folklor dalam somatis (berkaitan dengan fisik atau kebutuhan fisik berupa jasmani dan rohani), (6) kompleksitas aktivitas tokoh dengan politik.
Data mengenai kompleksitas aktivitas di atas akan diuraikan di bawah ini. Berikut presentase data temuan wujud kebudayaan yang terdapat dalam folklor di Kabupaten Bantul, rumus yang dipergunakan adalah:
∑
∑
Tabel 4.4. Persentase Kompleksitas Aktivitas dalam Folklor di Kabupaten Bantul
Wujud Kebudayaan
Aspek Wujud kebudayaan
Jumlah Persentase
% Kompleksitas
Aktivitas
KRB (Kekerabatan) 9 16,37%
EKN (Ekonomi) 7 12,73%
EST (Keestetikaan) 5 9,09%
RL (Religi) 16 29,09%
SOM (Somatis) 7 12,72%
POL (Politik) 11 20%
Total 55 100 %
Berdasarkan klasifikasi kompleksitas ide di atas dinyatakan bahwa kompleksitas aktivitas yang terdapat dalam foklor di Kabupaten Bantul ini secara rinci akan dideskripsikan sebagai berikut.
a. Kompleksitas Aktivitas Folklor yang Berhubungan dengan Kekerabatan
Kompleksitas aktivitas tokoh yang berhubungan dengan kekerabatan merupakan aktivitas yang biasa ada dilingkup masyarakat. Aktivitas tokoh dengan kekerabatan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam bermasyarakat. Kekerabatan ini merupakan hubungan antara dua manusia atau lebih. Data berikut yang menunjukkan bahwa di dalam folklor Kabupaten Bantul terdapat aktivitas kekerabatan.
Singha Wikrama melarikan diri dari Majapahit ke Kediri, bersama keluarga dan prajurit yang masih setia dalam pengungsian Singha Wikrama menyusun kekuatan (LGP.KA. KRB : 3)
Kutipan kompleksitas aktivitas berhubungan dengan kekerabatan di atas ditunjukkan oleh kesetiaan Singha Wikrama ketika melarikan diri dari Majapahit menuju Kediri tetap mengajak keluarga dan prajuritnya. Kekerabatan antar anggota keluarga dan prajuritnya menunjukkan aktivitas kekerabatan yang sangat erat.
Hal ini merupakan aktivitas yang perlu diteladani. Karena adanya kekerabatan akan menjaga kesatuan dari sistem kekeluargaan.
Alasan menetap di pengungsian jika pulang pasti akan diserang musuh, hal ini dilakukan untuk keselamatan keluarga (LGP. KA. KRB : 5)
Begitupun data di atas menjelaskan bahwa sebuah aktivitas kekerabatan yakni memikirkan keadaan sesama anggota keluarganya. Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarganya Singha Wikrama memutuskan untuk menetap di pengungsian.
Pengorbanan tersebut menjadi bukti sebuah aktivitas kekerabatan yang erat dimiliki oleh tokoh.
Setelah Mpu Shopa Anom menemukan tempat persinggahan di sekitar Gua Payaman ia menjemput istri
dan anak-anaknya agar mendapatkan tempat yang lebih aman dan nyaman (LGP. KA. KRB : 6)
Data di atas merupakan wujud kompleksitas aktivitas yang dilakukan oleh Mpu Shopa Anom sebagai bukti kuatnya kekerabatan antara dirinya dengan keluarganya, yakni ketika dirinya mencarikan sebuah tempat persinggahan yang aman dan nyaman untuk istri dan anak-anaknya. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa Mpu Sopha Anom tidak menginginkan suatu hal yang buruk terjadi pada keluarganya.
b. Kompleksitas Aktivitas Isi Folklor dengan Perekonomian Melalui folklor di Kabupaten Bantul ada beberapa data yang berhubungan dengan perekonomian. Aktivitas perekonomian ini memiliki tujuan untuk mencukupi kebutuhan dalam kehidupan manusia hal tersebut ditunjukkan dengan aktivitas seperti berdagang, berjualan menjadi nelayan dan lain sebagainya.
Memang banyak aktivitas ekonomi yang ada di lingkungan masyarakat. perekonomian yang baik akan membuat kehidupan masyarakatnya berkembang dengan baik. Apabila perekonomian dalam suatu daerah buruk maka akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di daerah tersebut. Berikut ini deskripsi data yang membuktikan tentang kompleksitas aktivitas isi folklor dengan perekonomian.
Disebuah desa yang sudah ada penghuninya bertanyalah ia kepada salah satu orang deres kelapa (penyadap kelapa) dan bahan dasar gula (badek) menggunakan bendo (alat untuk memotong) hasilnya di jual untuk kelangsungan hidup warga di sana (LGP. KA. EKN : 6)
Kutipan di atas menggambarkan tentang kehidupan perekonomian di sebuah desa salah seorang warganya sedang menyadap kelapa untuk dijual sebagai bahan dasar gula sumber
penghidupan mereka. Hal tersebut merupakan bukti bahwa untuk membangun perekonomian bisa dengan kegiatan jual beli.
Agaknya Pleret saat itu sudah berkembang menjadi wilayah yang maju. Pleret memiliki hubungan perdagangan yang luas. Mata uang Cina pun sudah digunakan sebagai alat tukar pada waktu itu (KRM. KA. EKN : 15)
Kegiatan perekonomian dengan jual beli juga terdapat dalam kutipan folklor yang berjudul Kisah Ratu Malang.
Penggambaran tentang kondisi wilayah Pleret saat itu sudah mempunyai hubungan perdagangan yang berkembang pesat, sekaligus uang China yang menjadi alat tukarnya. Deksripsi keadaan wilayah pleret saat itu menunjukkan bahwa perekonomian di sana waktu itu sudah sangat baik yang diperoleh dari perdagangan sekaligus sebagai wujud budaya kompleksitas aktivitas isi folklor dengan perekonomian.
Suara ombak yang memecah batu karang membangunkan para petani sirat atau pembuat garam untuk segera keluar dari gubuknya dan mulai melawan dinginnya angin laut.
Beberapa kapal nelayan dengan sampannya yang terbuat dari lesung tampak sedang merapat menuju daratan. Di saat musim ikan seperti ini warga desa banyak yang keluar untuk mencari ikan sejak malam hari. Bau amis ikan melengkapi suasana desa pesisiran. Para nelayan yang menepi di pantai paling barat Kabupaten BantuI ini tidak semuanya tinggal menetap di dusun. Banyak dari mereka adalah nelayan dari Iuar daerah dan kebetulan merapatkan kapal di sini. Para nelayan yang hanya berlabuh biasanya akan pulang tiga hari sekali. Meskipun begitu para nelayan yang sering mendarat di sini sudah sangat akrab dengan warga asli bahkan mereka juga membuat gubuk untuk sekedar beristirahat. Maka tak heran warga yang tinggal di pinggir pesisir laut selatan ini lebih banyak pria daripada wanitanya (AUPPS. KA. EKN : 16)
Kutipan data di atas menjelaskan tentang situasi pesisir, dengan bau amis dan ombaknya yang menjadi ciri khas. Sebagai orang pesisir kompleksitas aktivitas masyarakatnya memang tidak
jauh-jauh dari pembuat garam dan penangkap ikan. Oleh sebab itu, melimpahnya sumber daya alam di laut membuat mereka bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga mereka. Dari mencari ikan dan membuat garam mereka mendapatkan uang, hal tersebut mampu mereka gunakan untuk mempertahankan hidup.
Para penduduk Ngentak tidak lagi berprofesi sebagai petani sirat. Kebanyakan dari mereka beralih menjadi petani dan juga nelayan (AUPPS. KA. EKN : 17)
Kalimat di atas menggambarkan tentang beberapa profesi seperti petani ataupun nelayan. menjadi petani dan nelayan mennjukkan bahwa sumber daya alam yang melimpah di daerah Bantul saat itu. Sumber daya alam yang melimpah membuat daerah tersebut mempunyai pertumbuhan ekonomi yang baik. Sama halnya dengan beberapa kutipan-kutipan sebelumnya setiap profesi yang mereka tekuni merupakan sebagai salah satu usaha untuk mencukupi perekonomian dikeluarga masing-masing.
c. Kompleksitas Aktivitas Isi Folklor dengan Keestetikaannya Kajian berikut ini berisikan tentang aktivitas yang berkaitan dengan estetika sebuah aktivitas keindahan yang dilakukan manusia biasanya nilai keindahan tersebut diperoleh dari manusia dari mengamati atau merasakan sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Biasanya nilai estetika ini dapat berbentuk seni, keindahan alam maupun seni rupa yang berhubungan dengan kebudayaan tergantung bagaimana cara seorang individu menilainya. Berikut beberapa cuplikan data yang membuktikan adanya aktivitas estetika di dalam folklor di Kabupaten Bantul.
Sampailah di Bukit bebatuan bernama Selo, didapatinya sebuah gua yang terletak di tengah bukit, sebelah timur pegunungan, sebelah selatan bukit, sebelah barat jurang dan sungai tetapi tempatnya nyaman dan aman karena perjalanan sudah sampai diujung gua, keadaan aman (lalu
diambillah sebuah nama Polaman karena tempatnya nyaman jadilah nama Payaman) (LGP. KA. EST : 5)
Kalimat di atas merupakan salah satu data kompleksitas aktivitas isi folklor dengan estetika. Keindahan dalam kutipan di atas terletak pada gambaran keindahan alam yang ada di bukit Selo terdapat gua di tengah-tengah bukit, ada juga pegunungan di sebelah selatan bukit. Tempat yang sangat nyaman menandakan asri sekaligus keindahan alam tersebut.
Bertemulah ia dengan Ki Ageng Mangir. Bukit Beji tempatnya tinggi, angin semilir udara yang sangat sejuk sekaligus laut selatan yang bisa dilihat pada waktu itu (LGP. KA. EST : 5)
Keindahan alam juga ditunjukkan pada kutipan di atas Ki Ageng Mangir yang sedang melakukan perjalanan lalu berhenti di Bukit Beji, pesona keindahan dari Bukit tersebut dapat melihat pantai selatan dari ketinggian dengan angin semilir dan sejuk.
Sebelum hancur, Keraton Pleret merupakan istana megah berisikan lukisan, guci-guci dengan ukiran yang sangat unik, serta banyak permadani indah yang terhampar di keraton tersebut dan di pinggiran keraton dikelilingi parit luas. Namun sayang benteng tebal yang tahan terhadap serangan musuh itu tidak mampu meneduhkan orang-orang di dalamnya, meski tanaman tumbuh subur dan indah disana. (KRM. KA. EST : 8)
Kompleksitas aktivitas folklor yang menunjukkan estetika pada kutipan di atas dijelaskan pada keadaan keraton sebelum hancur. Kemegahan di dalamnya benda-benda seperti guci yang diukir dengan unik serta lukisan-lukisan yang mempunyai estetika kesenian tersendiri. Selain itu, ada permadani panjang yang terhampar menambah keindahan. Ditambah lagi ada parit yang mengelilingi keraton memberikan kesan megah dan kesejukan.
Adanya keindahan-keindahan tersebut pasti ada perawatan-
perawatan khusus untuk menjaga keindahannya hal tesebut sebagai bentuk aktivitas untuk memperoleh nilai estetik.
Saat itu matahari baru saja muncul dari balik bukit sebelah timur Laut Selatan. Lampu-lampu teplok masih menggantung di tembok-tembok rumah bambu yang berjajar di pinggir pantai (AUPPS. KA. EST : 16)
Kutipan di atas tampak kompleksitas aktivitas folklor Asal Usul Pantai Pandan Simo yang berhubungan dengan sebuah keindahan. Hal tersebut digambarkan adanya lampu teplok yang menggantung semakin indah dengan matahari yang terbit.
Beberapa estetika keindahan alam pada matahari terbit dan benda tradisional yakni teplok yang digunakan sebagai penerangan.
Adanya teplok pasti ada sebuah aktivitas pembuatan oleh manusia yang akhirnya memperoleh keindahan.
d. Kompleksitas Aktivitas Folklor Berkaitan dengan Religi
Kompleksitas aktivitas isi dalam folklor di Kabupaten Bantul yang berkaitan dengan religi merupakan aktivitas yang biasanya di lakukan oleh manusia dan berhubungan dengan kepercayaan individu dengan mitos, upacara ritual, berdoa kepada Tuhan, mengaji dan lain sebagainya. Aktivitas ini mempunyai tujuan untuk menyampaikan dan membuktikan rasa syukur maupun sebuah bukti ketaatan seorang hamba kepada Tuhan.
Deksripsi di bawah ini merupakan kutipan-kutipan folklor di Kabupaten Bantul tentang kompleksitas aktivitas yang berkaitan dengan religi.
Setelah bertapa disebuah gua kecil, ia tak kunjung mendapatkan kesaktian yang diinginkan (AUBP. KA. RL : 1)
Kalimat di atas menunjukkan kompleksitas aktivitas yang berhubungan dengan religi. Perilaku religi yang ada dalam kutipan tersebut yaitu kegiatan bertapa di sebuah gua kecil. Tujuan dari
bertapa ia lakukan untuk mendapatkan kesaktian. Kepercayaan tersebut tidak hanya dilakukan oleh orang-orang terdahulu, sampai saat ini masih ada orang yang mempercayai hal ini.
Setelah mendengar Lugender mampu naik ke atas bukit ia langsung bertapa untuk mendapatkan petunjuk agar dipertemukan dengan Lugender, setelah bertapa ia dianjurkan untuk membasuh muka agar terlihat segar dan tampak muda (AUBP. KA. RL : 1)
Kutipan di atas sama halnya dengan kutipan sebelumnya, yakni aktivitas religi dengan bertapa. Selain itu terdapat kepercayaan lain dengan sebuah air yang dapat membuat wajah tampak lebih muda. Beberapa hal tersebut memang menjadi keyakinan masing-masing individu yang masih terjadi dikalangan masyarakat.
Sesampainya di sana Mpu Sopha Anom menelusuri Bukit tersebut dan bertemulah dengan cantrik disekitar Gua Payaman (LGP. KA. RL : 5)
Selain kepercayaan pada benda pada kutipan di atas menunjukkan adanya cantrik atau orang sakti yang dipercaya mampu memberikan petunjuk pada Mpu Sopha Anom.
Kepercayaan pada orang-orang sakti yang mampu mengubah suatu keadaan atau memberikan petunjuk masih ada hingga saat ini. Hal tersebut sebagai warisan sekaligus budaya nenek moyang.
Untuk sementara waktu beristirahat di Tawangsari sampai sembuh lukanya, sambil mengaji dan terus berdoa agar diberi kesembuhan bersama Sunan Kalijaga (LGP. KA. RL : 6)
Pada kutipan di atas menunjukkan aktivitas mengaji dan berdoa sebagai kegiatan religi yang dilakukan oleh umat islam, dalam folklor Legenda Gua Payaman kegiatan tersebut dilakukan oleh Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai pemuka agama islam pada zaman dahulu dan dikenal sampai sekarang. Berdoa dan
mengaji sebagai bukti kepasrahan diri sekaligus bukti ketaatan pada Tuhan.
Bahkan dahulu Raden Mas Murtejo sebelum diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buana VII juga mendapatkan kesaktian setelah nenepi atau bersemedi di tempat tersebut. Kisah itu bermula saat Raden Mas Murtejo mempertebal ilmu kanuragannya dan mengasingkan diri di pesisir laut selatan (AUPPS. KA. RL : 16)
Kalimat di atas menceritakan tentang Raden Mas Murtejo yang sedang mencari kesaktian dengan cara bersemedi di sebuah tempat yang ia percaya mampu mempertebal ilmu kanuragaannya atau ilmu supranatural. Raden Mas Murtejo adalah seorang putra kesultanan yang melakukan aktivitas religi dengan mengasingkan diri di pantai pandan simo.
Selepas dari meditasi malam itu, Mbah Setro Karyo mengajak orang-orang pindah ke hutan kering kerontang seperti yang dimaksud oleh Nyai Roro Kidul. Pembukaan lahan dimulai dengan mengadakan tayuban terlebih dahulu sebagai syarat seperti yang diajukan Nyai Roro Kidul kepada Mbah Setro Karyo untuk keselamatan warganya.
Dengan cepat hutan itu menjadi sebuah wilayah yang makmur yang diberi nama Ngentak (AUPPS. KA. RL : 17) Pada kutipan di atas mendeskripsikan kompleksitas aktivitas religi dengan mengadakan tayuban. Acara tersebut merupakan sebuah kesenian Jawa yang mengandung keindahan sebagai syarat untuk menghubungkan antara warga dengan Nyai Roro Kidul bertujuan agar mendapatkan keselamatan dari segala macam bahaya. Nyai Roro Kidul dipercaya sebagai seseorang yang mempunyai kekuasaan sekaligus kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Selain itu, Nyai Roro Kidul dikenal sebagai penguasa laut selatan.
e. Kompleksitas Aktivitas Isi Folklor dalam Somatis (berkaitan dengan fisik)
Kompleksitas aktivitas tokoh dan penggambaran tokoh yang selanjutnya adalah aktivitas dalam folklor yang berkaitan dengan kebutuhan fisik (primer ataupun sekunder) seperti suatu yang dapat membuat seseorang menjadi cantik hal itu membutuhkan seperti berdandan atau merawat diri dengan baik dan lain sebagainya.
Penemuan data di bawah ini yang mewakili bukti kompleksitas aktivitas dalam folklor.
Sepertinya hanya Retno Gumilang lah yang mampu membuatnya bersemangat lagi. Solah bawa yang begitu lembut, suaranya yang begitu merdu dan kecantikan parasnya yang tidak memiliki cela sedikit pun itu memaksa Sunan Amangkurat I berusaha melakukan apapun demi mendapatkannya (KRM. KA.
SOM : 8)
Kalimat di atas menggambarkan kompleksitas aktivitas somatis yang ditunjukkan oleh suara Retno Gumilang yang merdu, sekaligus kecantikannya. Kedua kebutuhan fisik tersebut pastilah terdapat beberapa usaha untuk membuat sesuatu yang ada pada dirinya menjadi lebih bagus dan terawat. Seperti suara yang merdu akan terus merdu dan menjadi lebih merdu jika dilatih.
Dewi dinar adalah salah satu perempuan yang suka bersolek, parasnya sangat cantik. Dia berasal dari pantai Selatan awalnya memang dia salah satu anggota bidadari laut Selatan, karena sifatnya yang sangat cerewet akhirnya dia dikeluarkan sebagai anggota bidadari (AUBP. KA. SOM : 1)
Kompleksitas aktivitas di atas dideskripsikan melalui tindakan bersolek yang bermanfaat untuk mempercantik diri. Pada kutipan folklor Asal Usul Bukit Panguk menceritakan bahwa Dewi Dinar adalah seorang bidadari yang cantik yang mempunyai hobi bersolek hal tersebut membuat kecantikannya sangat dikagumi.
Bangunlah! Tidak seharusnya paras cantikmu tertutup dukacita.
Aku pernah mendengar kau suka bersolek mengapa sekarang bermuram durja setiap harinya. (KRM. KA. SOM : 9)
Pada kutipan di atas menunjukkan aktivitas yang menunjukkan diri seorang wanita yaitu mempunyai paras cantik. Salah satu kegiatan yang harus dilakukan untuk mendapatkan kecantikan diri haruslah merawat diri seperti bersolek. Aktivitas bersolek sudah mewakili kompleksitas aktivitas dalam bidang somatis, karena hal tersebut sebagai aktivitas tokoh untuk memenuhi kebutuhannya.
Berbagai cara dilakukan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita bekel Atmorejo, mulai dari berobat ke tabib, datang ke paranormal, minum jamu-jamu namun tetap tidak mampu menyembuhkan penyakit bekel Atmorejo (AUBM. KA. SOM : 26)
Kalimat di atas mempunyai hubungan dengan somatis dengan adanya kebutuhan seorang manusia ketika sedang sakit pasti membutuhkan obat-obatan atau orang yang ahli menyembuhkan penyakitnya. Kompleksitas aktivitas pada perihal somatis ditunjukkan ketika bekel Atmorejo sakit dan tidak kunjung sembuh, segala upaya sudah dilakukan dari mencarikan obat tradisional, jamu dan tabib ataupun paranormal. Karena mencari obat merupakan kebutuhan setiap orang sakit.
f. Kompleksitas Aktivitas dengan Politik
Data yang dideskripsikan selanjutnya adalah kompleksitas aktivitas tokoh atau penggambaran ceritanya yang berkaitan dengan politik. Aktivitas politik ini merupakan sebuah kegiatan manusia yang terhubung dengan kekuasaan dalam masyarakat ataupun kebijakan- kebijakan yang ada dalam sebuah pemerintahan.
Karena kebijaksanaan sang prabu dalam pemerintahan, para pejabat kerajaan pun diperbolehkan memeluk agama Islam.
Akan tetapi, Raden Patah tidak sabar ingin segera mewujudkan cita-citanya yaitu mengislamkan masyarakat tanah Jawa. Beliau
telah diperingatkan para wali, jika ingin mengislamkannya seseorang jangan menggunakan kekerasan apalagi peperangan.
Namun, Raden Patah tetap pada kehendak hatinya. Keinginan Raden Patah untuk segera menguasai Majapahit ... (LGP. KA.
POL : 3)
Pada kutipan di atas menunjukkan aktivitas politik pada zaman kekuasaan Majapahit ketika ingin memberikan kebijakan tentang agama yang dipeluk oleh rakyatnya pengambilan keputusan dengan bijaksana sangatlah penting. Hal tersebut dilakukan oleh Sang Prabu sebagai pimpinan. Aktivitas dalam politik juga tidak baik jika menggunakan kekerasan, pada kalimat di atas para wali sebagai tokoh agama mengingatkan bahwa menggunakan kekerasan bukanlah suatu tindakan yang baik.
Setelah siap dengan bala tentaranya yang dipimpin R.Rana Wijaya, berangkatlah memberontak Kertabumi (LGP. KA. POL : 3)
Dalam waktu yang bersamaan, Demak melalui pemikiran para wali yang dipercaya (Sunan Giri dan Sunan Kalijaga) membuat siasat perangnya agar tidak terjadi banyak korban jiwa (LGP.
KA. POL :3)
Dua kutipan di atas tampak adanya sebuah kompleksitas aktivitas politik yang ditunjukkan siasat persiapan bala tentara untuk melakukan peperangan memberontak Kertabumi. Sama halnya dengan kutipan yang kedua membuat sebuah siasat peperangan untuk meminimalisir korban. Wujud kompleksitas aktivitas dalam bidang politik keduanya sama-sama mengatur segala sesuatu dalam sebuah peperangan.
3. Kompleksitas Hasil dalam Folklor di Kabupaten Bantul
Uraian dibawah ini menunjukkan data-data berupa kompleksitas hasil budaya. Hasil budaya di sini merupakan sesuatu yang sudah ada wujudnya. Hal tersebut mampu di lihat dan dirasakan oleh manusia, beberapa komponen yang dikaji dalam kompleksitas
hasil budaya pada penelitian ini meliputi, (1) kompleksitas hasil budaya bidang bahasa, (2) kompleksitas hasil budaya tentang pengetahuan, (3) kompleksitas hasil budaya berkaitan dengan religi, (4) kompleksitas hasil budaya bidang peralatan kehidupan manusia, (5) kompleksitas hasil budaya sistem kemasyarakatan. Berikut presentase data temuan wujud kebudayaan yang terdapat dalam folklor di Kabupaten Bantul, rumus yang dipergunakan adalah:
∑ ∑
Tabel 4.5. Persentase Kompleksitas Hasil dalam Folklor di Kabupaten Bantul
Wujud Kebudayaan
Aspek Wujud kebudayaan
Jumlah Persentase
% Kompleksitas
Hasil
PM (Peralatan Kehidupan Manusia)
9 23,08%
SK (Sistem Kemasyarakatan)
4 10,25%
SB (Sistem Bahasa) 18 46,15%
SP (Sistem Pengetahuan)
3 7,69%
SR (Sistem Religi) 5 12,83%
Total 39 100 %
Berdasarkan klasifikasi kompleksitas ide di atas dinyatakan bahwa kompleksitas hasil yang terdapat dalam foklor di Kabupaten Bantul ini secara rinci akan dideskripsikan sebagai berikut.
a. Kompleksitas Hasil Budaya Sistem Bahasa
Hasil budaya berbentuk bahasa dalam folklor di Kabupaten Bantul tidak hanya menggunakan satu bahasa. Bahasa yang digunakan kebanyakan yakni bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Arab. Kutipan di bawah ini yang menggunakan campuran bahasa lain.
... ada ada musafir yang bernama Gajah Seti, Dewi Dinar, dan Lugender. Di dalam islam mereka dianggap sebagai
“Wahyullah” (AUBP. KH. SB : 1)
Sistem bahasa yang digunakan pada kutipan di atas menggunakaan bahasa Arab yaitu Wahyullah yang mempunyai arti orang-orang hebat yang diciptakan Allah. Adanya Wahyullah karena Gajah Seti, Dewi Dinar dan Lugender dianggap menjadi seseorang yang kuat dan patuh pada Allah.
Suatu ketika ada sayembara barangsiapa bisa memegang atau menguasai Cupu Manik Asto Gino dari dua tokoh laki- laki yakni Lugender dan Gajah Seti sama-sama menaruh hati kepada Dewi Dinar (AUBP. KH. SB : 1)
Kompleksitas hasil budaya sistem bahasa selanjutnya penggunaan kalimat Cupu Manik Asto Gino maksud dari kalimat tersebut adalah sebuah Cupu yang berarti wadah, Manik Asto mempunyai arti mata tangan dan Gino mempunyai arti bermanfaat. Kutipan di atas menjelaskan adanya sebuah benda berharga yang dicari oleh banyak orang, benda tersebut berbentuk wadah sebesar tangan manusia yang mempunyai banyak manfaat untuk kehidupan bagi orang yang mampu mendapatkannya.
Saat perjalanan menuju ke arah Barat, Sang Prabu Kertabumi merasa sangat sedih, melihat kerajaannya sudah hancur, dikejar-kejar musuh, dan melangkah tanpa tujuan yang pasti. Hanya kedua cantriknyalah yang bisa menghibur, sampun pinesti setiap kali menghibur selalu terucap kata itu. Dan akhirnya Sang Prabu Kertabumi nglegoke. Di tengah keterpurukan itu, Sang Prabu Kertabumi akhirnya mengganti nama menjadi Gusti Pinesti untuk nyamudono (menyamar) (LGP. KH. SB : 4)
Penggunaan bahasa Jawa juga digunakan pada kutipan di atas yaitu ada pada kalimat sampun pinesti yang mempunyai arti sudah takdir. Kalimat tersebut diungkapkan oleh pengawal dari Prabu Kertabumi ketika melihat kerajaannya hancur dan akhirnya merasa hidupnya tak punya tujuan. Pengawal yang setia menemani dan mendukung Sang Prabu juga menasihati dengan bahasa Jawa untuk Nglegokke yaitu mengikhlaskan.
“Punten dhalem sewu Sinuwun, ada apa datang keputren tengah malam begini?” tanya kepala keputren (KRM. KH.
SB : 11)
Cuplikan di atas menunjukkan penggunaan bahasa Jawa yang dikategorikan bahasa Jawa krama halus. Kalimat Punten dhalem sewu Sinuwun mempunyai makna mohon maaf dengan sangat hormat pada seorang pemimpin yang biasanya digunakan di ingkungan kerajaan.
Setelah saya bersemedi di bawah gerombolan pandan di ladang Simbah sana, saya didatangi seekor Simo putih dari arah tenggara sana (AUPPS. KH. SB : 17)
Kompleksitas hasil budaya sistem bahasa pada kutipan di atas juga menggunakan bahasa Jawa. Kalimat yang digunakan ada dalam kata Simo putih yang mempunyai arti macan atau biasanya orang mengetahuinya adalah harimau putih yang mempunyai kulit perpaduan antara putih dengan hitam.
Jika diizinkan batu nisan itu akan saya muliakan. Akan saya tata, bersihkan dan saya buatkan cungkup?" ujar Bekel Atmorejo (AUBM. KH. SB : 27)
Kata cungkup berasal dari bahasa Jawa yang mempunyai makna bangunan beratap untuk melindungi makam. Bangunan ini biasanya terbuat dari semen seperti rumah kecil yang menandakan bahwa di area tersebut adalah makam.
b. Kompleksitas Hasil Budaya Tentang Pengetahuan
Kajian kompleksitas kedua yang ada di dalam folklor Kabupaten Bantul yakni berupa sistem pengetahuan. Beberapa hal yang terkait seperti hal-hal yang sudah terlihat wujudnya seperti pengetahuan pengobatan tradisional atau kedokteran.
Gusti Pinekti juga ikut meloloskan diri dari peperangan, akan tetapi Gusti Pinekti terkena panah ketika mengendarai kudanya dengan kencang sampai desa Tawangsari jatuh tak sadarkan diri. Akhirnya ditolong oleh muridnya Sunan
Kalijaga, lalu dibawa ke padepokan untuk diobati menggunakan daun-daun tradisional (LGP. KH. SP : 6) Kompleksitas hasil budaya dalam sistem pengetahuan pada kutipan di atas ditunjukkan ketika Gusti Pinekti dalam keadaan sakit dan ditolong oleh muridnya. Hasil budaya pengetahuan pada kalimat di atas yakni penggunaan pengobatan tradisional dengan daun-daun untuk menyembuh luka yang terkena panah.
Tetapi anehnya tidak diketahui penyebab penyakitnya itu.
Berbagai cara dilakukan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita bekel Atmorejo, mulai dari berobat ke tabib, datang ke paranormal, minum jamu-jamu namun tetap tidak mampu menyembuhkan penyakit bekel Atmorejo (AUBM.
KH. SP : 26)
Wujud kompleksitas hasil budaya yang terdapat pada kalimat di atas ditunjukkan ketika segala usaha yang dilakukan untuk menyembuhkan bekel Atmorejo sudah dilakukan dengan beberapa cara seperti meminum jamu-jamuan sebagai salah satu pengetahuan tradisional yang digunakan orang terdahulu sebagai alternatif pengobatan.
c. Kompleksitas Hasil Budaya Bidang Religi
Wujud budaya kompleksitas hasil ketiga yaitu ada pada bidang religi. Ada beberapa data di bawah ini yang menunjukkan adanya hasil budaya di bidang religius. Hasil budaya religi tidak akan pernah lepas dari kehidupan bermasyarakat karena keduanya saling berkesinambungan. Berikut data-data yang ada dalam folklor Kabupaten Bantul.
Mereka percaya apapun yang mereka labuh akan membuat Nyai Roro Kidul memberikan kemudahan kepada para petani. Upacara tersebut dikenal dengan nama Mahesa Suro oleh warga karena diadakan di mongso kapapat (musim ke empat). Musim ke empat ditandai dengan munculnya bakal buah semua jenis buah-buahan, para nelayan meyakini di
musim ini semua jenis ikan sedang bermunculan juga (AUPPS. KH. SR : 18)
Masyarakat percaya dengan melakukan labuh akan membuat kehidupan mereka dalam mencari uang menjadi mudah.
Khususnya petani di daerah pesisir pantai Selatan, hasil budaya dalam bidang religi tersebut sekarang lebih dikenal dengan istilah mahesa Suro. Kepercayan yang mereka anut sampai sekarang sebagai bentuk rasa syukur masyarakat melarung beberapa hasil bumi yang ditujukan kepada Nyai Roro Kidul sebagai pengusa pantai Selatan.
Sebagai rasa syukur warga memberikan among-among atau peringatan ditemukannya sendang itu dengan mengadakan upacara Baritan. Dalam upacara para warga membawa persembahan berupa nasi, lauk-pauk, ketan, kolak dan apem sebagai ungkapan rasa syukurnya (LSN.KH. SR : 24) ...
Namun saat ini warga mulai kehilangan minat untuk mengikuti kegiatan Baritan sehingga para pengurus desa membuat acara Baritan menjadi lebih meriah dengan mengarak gunungan dan membagi-bagikan sega megana juga dawet kepada warga yang hadir. (LSN. KH. SR : 24) Kutipan di atas menunjukkan tentang wujud budaya kompleksitas hasil religi yang dilakukan masyarakat bersama pengurus desa di daerah Pajangan, Bantul mengadakan kegiatan Baritan yang berisikan pembagian gunungan makanan yang isinya berupa lauk pauk, ketan, kolak dan apem. Serta membagikan sega megana (nasi yang dicampur dengan sayur kubis) dawet yang sebelumnya diarak mengelilingi desa. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti syukur dan peringatan ditemukannya sendang nggembel sebagai sumber mata air di kawasan tersebut. Wujud budaya kompleksitas hasil religi terletak pada kegiatan Baritan yang dipercaya sebagai bukti rasa syukur masyarakat daerah Pajangan.
d. Kompleksitas Hasil Budaya Bidang Peralatan Kehidupan Manusia
Hasil budaya pada peralatan kehidupan manusia dalam folklor di Kabupaten Bantul mempunyai wujud sebagai peralatan- peralatan yang mendukung berlangsungnya kehidupan manusia.
Berikut data-data yang membuktikan adanya kompleksitas hasil penunjang kehidupan manusia.
Dahulu ketika masyarakat belum pulang saat maghrib tiba akan ada bunyi-bunyian kentongan untuk memberikan tanda bahwa hari sudah malam (AUBP. KH. PM : 2)
Kutipan di atas menunjukkan kompleksitas hasil budaya yang berkaitan dengan peralatan kehidupan manusia. Kentongan sebagai peralatan yang membantu masyarakat untuk menandakan bahwa hari sudah menjelang malam. Karena memang zaman dahulu tidak ada penerangan yang memadai. Jadi, warga harus pulang ke daerah masing-masing sebelum malam tiba.
Masyarakat hanya mengandalkan kentongan sebagai pengingat antar desa sekaligus sebagai hasil peralatan kehidupan manusia.
Lalu, Gusti Panekti pergi meninggalkan desa Tawangsari.
Dalam perjalanannya tidak ada yang menemani hanya kuda yang dikendarainya, naik gunung, turun jurang sampailah di tepi Kali Progo (LGP. KH. PM : 6)
Kompleksitas hasil budaya yang berhubungan dengan peralatan kehidupan pada cuplikan di atas ditunjukkan penggunaan alat transportasi kuda yang oleh Gusti Pinekti untuk melakukan perjalanan meninggalkan desa Tawangsari. Kuda tersebut sebagai kompleksitas hasil budaya bidang peralatan kehidupan manusia karena menunjang kehidupan Gusti Pinekti dalam cerita tersebut.
Jalumampang menebang pohon-pohon besar hanya dengan bendho (AUPPS. KH. PM : 20)
Kalimat di atas yang menunjukkan sebagai peralatan kehidupan manusia yaitu Bendho yang digunakan untuk menebang pohon. Bendho adalah alat berasal dari Jawa seperti golok. Namun, bendho lebih pendek bentuknya dibandingkan golok. Alat ini membantu Jalumampang untuk menunjang kehidupannya.
Namun sayang tidak ada sumber mata air yang dia temui lagi di dalam hutan itu. Tepaksa dia kembali di tempat mata air yang sudah ditemuinya tadi. Dia penuhi bambu yang sejak tadi dibawanya kesana-kemari itu (LSN. KH. PM : 20)
Penggunaan bambu sebagai tempat air karena keadaan zaman dahulu yang menuntut mereka untuk memaksimalkan benda-benda di sekitar secara maksimal. Bambu menjadi tempat air sebagai peralatan penunjang kehidupan manusia waktu itu.
Hal tersebut sebagai bukti kompleksitas hasil budaya bidang peralatan kehidupan manusia.
e. Kompleksitas Hasil Budaya Sistem Kemasyarakatan
Kompleksitas budaya dalam sistem kemasyarakatan merupakan sebuah hasil budaya yang mempunyai hubungan berkaitan dengan kekuasaan, sistem masyarakat maupun struktur organisasi dalam masyarakat. Selain itu, sistem kemasyarakatan juga terbentuk dari interaksi antar individu. Di bawah ini data yang menunjukkan kompleksitas hasil budaya berhubungan dengan sistem kemasyarakatan.
Setelah saya menghirup cahaya itu, saya merasa menjadi kuat dan saya merasa ilmu kanuragan saya sudah sempurna.
Hingga saya tidak khawatir lagi dengan takhta yang harus segera saya duduki" jawab Raden Mas Murtejo dengan muka serius (AUPPS. KH. SK : 17)
Sistem kemasyarakatan yang ditunjukkan kutipan di atas yaitu takhta yang memang sudah menjadi peraturan atau adat istiadat dalam sebuah pemerintahan di kerajaan pasti akan turun- temurun. Seorang raja atau pemimpin disebuah keraton jika mempunyai keturunan seorang anak laki-laki pasti takhta atau kedudukannya akan diturunkan kepada anak laki-lakinya. Hal tersebut dijelaskan oleh Raden Mas Murtejo sebagai putra mahkota yang sedang mencari keyakinan diri tentang kedudukan barunya.
Berangkatlah kemudian bekel Atmorejo bersama beberapa tetua Desa Mangiran seperti R.Marsakarna selaku menteri kasultanan, Bapak Sutadimeja seorang pemilik pabrik roti dizamannya, dua pengawal Bekel Atmorejo Bapak Kasim Setadi dan Mangun Semita serta diperkuat dengan Bapak Asisten Panji Gumulan. Setelah melakukan musyawarah, Wongsojenika selaku pemilik tanah kemudian menyetujui pembelian atas tanahnya, sekalipun tidak secara keseluruhan (AUBM. KH SK : 28)
Kutipan di atas menunjukkan kompleksitas hasil budaya sistem kemasyarakatan. Dilihat dari interaksi sosial antara beberapa tetua desa Mangiran, R.Marsakarna selaku menteri kasultanan, Bapak Sutadimeja seorang pemilik pabrik roti, dua pengawal Bekel Atmorejo Bapak Kasim Setadi dan Mangun Semita serta diperkuat dengan Bapak Asisten Panji Gumulan.
Mereka sedang melakukan musyawarah mengenai pembelian tanah. Hal tersebut sebagai bukti hasil budaya sistem kemasyarakatan yang di dalamnya berisikan musyawarah sekaligus interaksi sosial manusia.
Pemilihan lurah berjalan dengan penuh damai dan sukacita, hingga akhirnya Bekel Atmorejo berhasil terpilih kembali sebagai lurah dan anaknya Thole pun berhasil terpilih sebagai Lurah di Wonosari dengan gelar Ajudan Kontrolir (AUBM. KH. SK : 29)
Kalimat di atas merupakan bukti sebuah proses berjalannya sistem kemasyarakatan. Pemilihan lurah pada masa pemerintahan Bekel Atmorejo yang dilakukan secara demokrasi menunjukkan sistem kemasyarakatan yang berjalan dengan baik.
4. Nilai Pendidikan Karakter dalam Folklor di Kabupaten Bantul
Sastra lisan mempunyai fungsi utama memberikan pendidikan karakter berasal dari warisan luhur nenek moyang atau sejarah. Selain pendidikan diperoleh manfaat lainnya yaitu dapat menambah pengetahuan siswa, guru dan pembaca untuk meningkatkan kualitas diri. Folklor merupakan sastra lisan yang mempunyai banyak nilai pendidikan yang dapat digunakan sebagai penanaman karakter dalam diri pembaca. Hal tersebut digunakan untuk memberikan stimulus maupun memperbaiki karakter pembaca khususnya siswa.
Nilai pendidikan karakter yang ditemukan dalam folklor di Kabupaten Bantul ini yakni (1) rasa syukur, (2) kerja keras, (3) kebijaksanaan, (4) kendali diri, (5) kasih, (6) ketabahan, (7) keadilan, (8) sikap positif, (9) rendah hati dan (10) integritas. Nilai pendidikan karakter tersebut terlihat dari penggambaran cerita tokoh maupun karakter tokoh.
Uraian di bawah ini kutipan yang membuktikan adanya nilai pendidikan karakter dalam folklor di Kabupaten Bantul. Berikut presentase data temuan nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam folklor di Kabupaten Bantul, rumus yang dipergunakan adalah:
∑ ∑
Tabel 4.6. Persentase Nilai Pendidikan Karakter dalam Folklor di Kabupaten Bantul
Nilai Pendidikan Karakter
Aspek Nilai Pendidikan Karakter
Jumlah Persentase
% Nilai Pendidikan
Karakter
Rasa Syukur 12 8,45%
Kerja Keras 20 14,08%
Kebijaksanaan 12 8,45%
Kendali Diri 4 2,82%
Kasih 20 14,09%
Ketabahan 5 3,53%
Keadilan 9 6,33%
Sikap Positif 36 25,35%
Rendah Hati 13 9,15%
Integritas 11 7,75%
Total 142 100 %
Berdasarkan klasifikasi kompleksitas ide di atas dinyatakan bahwa kompleksitas ide yang terdapat dalam foklor di Kabupaten Bantul ini secara rinci akan dideskripsikan sebagai berikut.
1) Rasa Syukur
Rasa syukur adalah sebuah perasaan puas dari dalam diri manusia dengan apa yang diperolehnya dalam hal apapun. Hal ini sebagai perbuatan yang bertujuan untuk berterima kasih pada pencipta atas apa sudah didapatkan oleh masing-masing individu. Berikut kutipan-kutipan yang mengungkapan rasa syukur.
“aku sangat bersyukur, begitu baik Tuhan kepadaku membantuku dikala aku sangat gundah” ucap Dewi Dinar (AUBP, 2)
Ungkapan rasa syukur yang ada pada kutipan di atas ditunjukkan oleh kalimat yang diutarakan Dewi Dinar. Ia sangat merasakan nikmat yang diberikan kepadanya ketika sedang dalam keadaan gundah Tuhan begitu baiknya memberikan jalan keluar kepadanya. Hal ini dilakukan seorang hamba pada Tuhan ketika mendapatkan nikmat agar nikmat yang diperoleh tidak sia-sia dan terus bertambah. Hal tersebut dapat dijadian tauladan.
Dengan anggun Gusti Pembayun yang saat itu masih bernama Nyai Kasihan berjalan dari langgar yang berada di barat laut tempat Ki Ageng Mangir duduk bertapa sambil membawa sebuah piring yang terbuat dari gerabah untuk suaminya berisi nasi dengan gudeg manggar (bunga kelapa) serta beberapa lauk sederhana di atasnya (LSN, 21)
Kutipan kedua merupakan sebuah penggambaran sikap rasa syukur ketika Ki Ageng Mangir seorang pemimpin yang dikenal pada
zaman itu mau dan menerima apa adanya makanan yang disediakan istrinya walaupun hanya dengan gudeg manggar atau bunga kelapa serta lauk pauk. Keserdehanaan tersebut mencerimkan sebuah sikap syukur dengan apa yang ia miliki. Kesederhanaan ini merupakan suatu hal yang patut dicontoh karena mencerminkan sebuah sikap syukur.
Tanpa harus bermegah-megahan tetap bisa menikmati hidup.
Melihat sang istri bersama dua pengawalnya pulang membawa batu nisan yang diharapkan, bekel Atmorejo langsung memerintahkan kepada keluarganya untuk segera mengirimkan doa-doa kepada batu nisan tersebut dan memuliakannya (AUBM, 27)
Pada kalimat di atas menunjukkan sebuah sikap syukur yang dilakukan oleh bekel Atmorejo ketika istri dan pengawalnya mampu membawakan obat untuk penyakitnya yakni membawa batu nisan yang berasal dari Kaliprogo. Rasa syukur itu ia tunjukkan dengan berdoa dan memuliakan sesuai dengan kepercayaanya.
Suatu hari, ada seorang warga yang hendak meresmikan pernikahan anaknya. Untuk memeriahkan syukurannya, ia memanggil dalang lengkap dengan wiyaga/pengrawitnya.
Pementasan wayang semalam suntuk pun digelar. (AUPPS, 18) Cuplikan di atas merupakan sebuah gambaran sikap syukur yang dilakukan untuk mensyukuri nikmat karena ia sudah mampu menikahkan anaknya dan ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama yakni mengadakan acara pementasan wayang sekaligus sebagai acara syukuran. Sikap syukur dalam kutipan di atas memang ditunjukkan dalam bentuk perayaan. Namun, pada dasarnya memang perayaan tesebut mempunyai alasan untuk menunjukan sikap syukur.
2) Kerja Keras
Kerja keras merupakan kegiatan atau sikap mengupayakan sesuatu dengan usaha yang maksimal dan dilakukan menggunakan rasa ikhlas sekaligus tidak berhenti sebelum mendapatkan sesuatu yang
diinginkan. Kutipan-kutipan di bawah ini yang menunjukan ada nilai pendidikan karakter kerja keras.
Selanjutnya setelah Lugender beserta prajuritnya mencoba menancapkan tombak (pusaka) dari bukit dan akhirnya berhasil berkat kerja kerasnya bersama prajuritnya (AUBP, 1)
Kutipan cerita di atas menceritakan sikap kerja keras yang dilakukan Lugender ketika ingin menancapkan tombak untuk membuat jalan naik ke atas bukit. Ketika menancapkan tombak tersebut sangatlah tidak mudah dibutuhkan usaha yang keras dan kerjasama yang baik. Dapat dibuktikan usaha yang dilakukan Lugender dengan prajuritnya tidak sia-sia akhirnya mereka mampu membuka jalan walaupun harus melewati bukit yang tinggi.
Keduanya terkenal sebagai orang yang sakti. Pagi hari setibanya mereka di Alas Mentaok, Kyai Jalumampang langsung mulai membangun gubuk sebagai tempai tinggal. Kyai Jalumampang memotong beberapa pohon yang hampir mati. Pohon jati dan mahoni dipilih karena banyak tumbuh di hutan tersebut dan juga memiliki kualitas kayu yang kokoh untuk dijadikan sebagai saka (tiang) Kyai Jalumampang menebang pohon-pohon besar hanya dengan bendho (LSN, 20)
Sikap kerja keras kutipan di atas ditunjukkan oleh Kyai Jalumampang. Walaupun baru saja tiba di Alas Mentaok, kyai Jalumampang langsung segera membangun gubug untuk dijadikan tempat tinggal, untuk membuat gubug tersebut ia memotong pohon- pohon yang sudah hampir mati. Fisiknya yang seakan tidak memiliki rasa lelah, setelah sampai tidak banyak istirahat tetapi langsung membuat gubug. Hal tersebut menunjukkan sikap gigih atau pekerja keras yang dimiliki oleh tokoh.
Berbagai cara dilakukan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita bekel Atmorejo, mulai dari berobat ke tabib, datang ke paranormal, minum jamu-jamu namun tetap tidak mampu menyembuhkan penyakit bekel Atmorejo (AUBM, 26)
Kalimat di atas merupakan sikap kerja keras untuk sembuh dari penyakitnya. Ditunjukkan oleh usaha yang sudah dilakukan oleh bekel Atmorejo yaitu pergi berobat ke tabib, datang ke paranormal dan minum jamu-jamuan. Kepercayaan tersebut memang digunakan orang terdahulu untuk menyembuhkan penyakit, namun hanya beberapa orang yang masih melakukan hal itu sekarang.
3) Kebijaksanaan
Kebijaksanaan merupakan sebuah tindakan positif yang dilakukan manusia dengan dukungan akal baiknya sehingga mewujudkan keputusan yang arif dan adil. Berikut data-data yang membuktikan di dalam folklor di Kabupaten Bantul terdapat nilai-nilai kebijaksanaan.
Karena kebijaksanaan sang prabu dalam pemerintahan, para pejabat kerajaan pun diperbolehkan memeluk agama Islam (LGP, 3)
Kutipan di atas menunjukkan tentang sikap kebijaksanaan yang dimiliki oleh Sang Prabu. Sikap kebijaksanaannya tercermin dari keputusan yang diambilnya yakni memperbolehkan pejabat di kerajaannya memeluk agama islam. Karena memang untuk masalah kepercayaan berasal dari hati dan tidak dapat dipaksakan.
Meskipun terkenal sangat sakti dan memiliki jiwa pemberontak yang tinggi tapi Ki Ageng Mangir adalah sosok pemimpin yang bijaksana untuk rakyatnya (LSN, 21)
Kebijaksanaan juga ditunjukkan oleh Ki Ageng Mangir sebagai seorang pemimpin beliau. Sikap bijaksana merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Kebijaksanaannya mampu membuat rakyat mematuhi segala keputusan dan perintahnya.
Setelah melakukan musyawarah, Wongsojenika selaku pemilik tanah kemudian menyetujui pembelian atas tanahnya, sekalipun tidak secara keseluruhan (AUBM, 28)
Kutipan di atas merupakan kegiatan musyawarah yang dilakukan untuk menemukan titik temu dalam sebuah masalah yakni permasalahan pembelian tanah. Karena memang ketika menginginkan sesuatu yang berhubungan dengan orang lain, lebih baik diadakan sebuah musyawarah untuk mendapatkan sebuah titik temu. Hasil dari musyawarah dalam kutipan di atas memberikan keputusan yang bijak dan memberikan pelajaran kebijaksanaan untuk Wongsojenika dan si pembeli tanah.
4) Kendali diri
Karakter kendali diri adalah sikap manusia dalam mengontrol diri mereka dalam semua hal dari segi keinginan atau kebutuhan. Sikap ini dapat dimiliki oleh seorang manusia ketika dirinya menyadari sebab dan akibatnya. Sikap kendali diri di dalam folklor Kabupaten Bantul dapat dilihat dari data berikut.
Dengan mata terpejam dan tentu saja konsentrasi penuh seperti sedang bersemedi dia melihat penderitaan para petani yang sedang mengalami kekeringan di daerah kekuasaanya (LSN, 21) Kutipan di atas merupakan sikap kendali diri yang ditunjukkan oleh tokoh ketika melihat sesuatu yang tidak ia inginkan yakni melihat rakyatnya mengalami kekeringan. Melihat rakyat menderita karena mengalami bencana kekeringan, ia mencoba untuk mengendalikan pikiran dan diri dengan memejamkan mata sekaligus bersemedi untuk mencari jalan keluar. Ketika ia tidak mampu mengendalikan diri dengan baik maka keputusan yang ia ambil atau jalan keluar yang ia ambil tidak akan baik.
5) Kasih
Sikap kasih merupakan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan berasal dari perasaan manusia. Sikap kasih ini adalah memberikan sesuatu yang terbaik menurut diri setiap individu. Sebab dari rasa kasih yang ada dalam diri manusia pasti terdapat rasa kepemilikan dan
menyayangi. Sikap kasih ini bisa ditujukan untuk sesama makhluk hidup maupun kepada Tuhan. Berikut ini data yang menunjukkan sikap kasih dalam folklor di Kabupaten Bantul.
Setelah sembuh lukanya Gusti Pinekti minta izin pamit untuk meneruskan perjalanan mencari ayahandanya dan saudara- saudaranya (LGP, 6)
Kutipan cerita di atas menunjukkan sikap kasih yang dilakukan oleh Gusti Pinekti. Sikap kasih tersebut ia tunjukkan kepada keluarganya, walaupun masih dalam keadaan proses penyembuhan sakitnya Gusti Pinekti tetap memikirkan keadaan ayah dan saudaranya. Begitu besar keinginannya untuk segera sembuh dan melanjutkan pencarian ayah dan saudaranya.
"Bagaimana bisa aku makan enak Nyai! Sementara rakyatku sedang kesusahan. Padi yang sebentar lagi dipanen sudah rusak akibat kekeringan. Jangankan untuk makan, untuk minum saja mereka kesusahan. Apa yang bisa kulakukan untuk rakyatku?
aku merasa gagal menjadi pemimpin Nyai" ungkap Ki Ageng Mangir (LSN, 21)
Ungkapan di atas menunjukkan sikap kasih yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin kepada rakyatnya. Hal tersebut dibuktikan ketika Ki Ageng Mangir ikut merasakan kesedihan yang mendalam karena keadaan rakyatnya yang sedang dalam keadaan sulit air.
Kejadian tersebut sampai membuat Ki Ageng Mangir tidak enak makan. Sikap kasih yang dimiliki oleh Ki Ageng Mangir membuktikan bahwa di dalam dirinya mempunyai sikap-sikap positif lainnya.
"yang sabar mas, beristirahatlah dahulu. Mungkin kamu bisa lebih baik. Aku akan siapkan makanan dulu, agar nanti jika kamu sudah bangun kamu bisa segera makan," jawab sang istri (AUBM, 26)
Kutipan di atas menjelaskan tentang sikap kasih yang ditunjukkan antara seorang istri dengan suaminya. Sikap kasih berupa
perhatian kepada suaminya pada kalimat di atas bertujuan untuk menenangkan keadaan suaminya. Selain itu bukti kasih pada kalimat di atas dengan tindakan menyiapkan makanan untuk suaminya.
“bagaimana bisa aku menerima rangkaian melati dirambutku, sementara semerbak harum bunga kenanga masih menempel erat di hidungku? Bagaimana mungkin aku bisa tidur di ranjang mewah sementara kubur suamiku belum kering oleh matahari sedikitpun?” sambung Retno Gumilang (KRM. 10)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa rasa kasih yang dimiliki Retno Gumilang begitu dalam ketika suaminya meninggal ia merasa sedih hingga ia mengutarakan kesedihannya dengan melihat makam suaminya yang belum kering tapi ia sudah bisa tidur di tempat yang mewah. Bukan perasaan bahagia yang ia dapatkan malah sebaliknya.
Hal ini menunjukkan bahwa sikap Retno Gumilang begitu tulus dan baik hatinya kepada suaminya.
6) Ketabahan
Karakter ketabahan adalah sebuah sikap manusia yang berasal dari kekuatan hati seorang individu dalam menghadapi cobaan atau kesulitan. Sikap tabah ini diiringi oleh keikhlasan. Kutipan berikut yang menunjukkan ketabahan.
Dan akhirnya Sang Prabu Kertabumi nglegoke (ikhlas). Di tengah keterpurukan itu, Sang Prabu Kertabumi akhirnya mengganti nama menjadi Gusti Pinesti untuk nyamudono (menyamar) (LGP, 4)
Kutipan di atas menunjukkan sikap tabah Sang Prabu Kertabumi ketika menghadapi sebuah keterpurukan yang sedang dialaminya.
Perasaan ikhlas yang harus ia ciptakan dari dalam dirinya mengharuskan dirinya belajar tabah disertai berlapang dada menerima semua takdir. Bukti ketabahan itu akhirnya ia mengganti nama menjadi Gusti Pinekti sebagai nama samaran.